Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Daun Terakhir Yang Telah Gugur: Tak Bisa Lebih Dari



Berkebalikan dari apa yang mereka perkirakan setelah kegiatan makan siang, saat ini Alpino dan Lisa berakhir di taman belakang dengan sarung tangan dan topi yang melekat di tubuh mereka masing-masing. Mereka saat ini tengah membersihkan halaman belakang yang sudah seperti semak. Lisa yang bersikeras agar mereka cepat membersihkan sehingga dia bisa merawat ikan koi yang sudah perempuan itu namakan dengan nama lucu asing yang tiba-tiba terucap dari bibir perempuan itu.


Bubble.


Mulai dari sekarang, Lisa menyebut ikan itu dengan nama Bubble. Alpino bertanya dengan aneh kenapa Lisa tiba-tiba menyebutnya seperti itu, tetapi alasan perempuan itu hanya sederhana, karena ikan itu menyebabkan gelembung ketika dia membuka dan menutup mulutnya di permukaan air. Meskipun tidak begitu sering, tetapi ketika Bubble bergerak, ada beberapa percikan air disekitar yang membentuk gelembung. Entah itu hanya karena efek yang disebabkan oleh lumut tebal atau apa, tetapi Alpino juga tidak bisa berkomentar tentang penamaan ikan secara tiba-tiba itu.


Mereka memang sudah bertemu dan berkenalan dengan Pak *****. Pun, peralatan dan barang yang menempel di tubuh mereka sendiri adalah pemberian dari Pak ***** yang dengan senang hati. Begitu juga dengan satu labi-labi kecil dan satu anakan ikan koi tiga warna yang sudah Lisa tempatkan di sudut yang tak tersentuh agar setelah halaman dan kolam dibersihkan, dia bisa menempatkan mereka dengan nyaman di tempat dan lingkungan baru yang lebih bersih. Sebagai teman untuk Bubble katanya.


Itu sudah sekitar pukul empat sore, tidak begitu terik. Awan seperti membantu kegiatan mereka agar tidak tersengat matahari dan memberikan kesejukan. Lisa sangat bersemangat. Dia bahkan sudah berganti pakaian dengan kaos dan celana training yang Alpino simpan di dalam mobilnya. Bahkan, dia sempat lupa sudah berapa lama baju itu berada di sana karena dia tidak terlalu sering menggunakan mobilnya dan hanya temannya saja yang menjaga mobil itu.


Tapi, untuk kali ini sepertinya itu berguna. Jadi, tidak masalah. Selama bisa digunakan dan Lisa bisa memakainya dengan nyaman, segala hal terasa baik-baik saja.


Alpino duduk di teras, bersebelahan dengan minuman dingin yang dia siapkan untuk meredakan dahaga mereka berdua. Dia masih memperhatikan bagaimana Lisa lah yang hampir menuntaskan 70% pengerjaan pembersihan halaman. Perempuan itu bahkan tidak menyadari bahwa dia berhasil membersihkan rumput liar dari satu sudut ke sudut lainnya. Hanya gumaman dan senandungan yang perempuan itu elukan, dia menghilang dalam dunianya sendiri.


“Lisa, udahan dulu. Minum dulu, sini!” Tidak tega, Alpino memanggil.


“Ini bentar lagi selesai. Tinggal yang sebelah sini aja, Al. terus bisa bersihin kolam deh. Tapi nanti lo yang bersihin lumutnya, ya? Gue mau main sama Bubble sama yang lain, hehe”


Mungkin kebahagiaan yang berturut-turut membuat perempuan itu kelebihan energi. Alpino mengingat bagaimana Lisa yang sebelumya bahkan tidak ingin beranjak dari kasur dan harus menyebabkan drama di pagi hari. Mungkin jika Lisa tadi pagi bertemu dengan Lisa sore hari, Lisa pagi tidak akan percaya bahwa dia bisa sampai seperti itu.


“Yaudah kalau gitu, ini gue yang istirahat bentar, ya. Lo jangan dipaksain. Kalau capek, sini, duduk bareng gue”


“Iyaa, bawel! Ini gue lagi semangat banget, tau!”


“Dih, nanti kalau ngeluh sakit pinggang sama pegel gue nggak tanggung jawab, ya!”


“Gue nggak denger. Pokoknya kalau gue kenapa-kenapa semuanya diserahkan ke lo, Al. Gue capek, lo yang jadi tukang pijet gue”


“Terserah Ratu aja, deh”


Alpino mengejek ketika Lisa menodongkan celurit dari tempatnya dan membuat gesture membelah leher. Tidak peduli, Alpino kembali menggoda dengan menggoyangkan gelas plastik es di tangannya untuk menggoda perempuan itu. Tetapi sepertinya Lisa sama sekali tidak tergoda. Dia hanya berbalik dan mulai menyiangi rumput-rumput liar yang berserak di sekelilingnya.


Alpino memperhatikan selama beberapa saat. Ada kurang lebih hampir sepuluh menit ketika Lelaki itu menyerah dan mulai bergerak kembali untuk membantu perempuan itu. Lisa masih tersenyum ketika mengetahui Alpino sudah berada di dekatnya. Dia mulai menggoda lagi dengan pertanyaan seperti apakah energi Alpino sudah kembali terisi dan kembali mengejek dengan embel-embel lemah dan tulang jompo.


Alpino mengalah pada godaan. Dia kembali menyiangi rumput bersebelahan dengan sahabatnya. Cuaca kembali menjadi lebih sejuk dengan semilir angin yang membuai dengan lebih kuat kali ini. Seperti meggoda dalam satu dan banyak hal lain cara untuk hanya duduk dan berbicara entah apa daripada melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Tetapi mereka lebih kuat dan berhasil membersihkan keseluruhan dalam waktu yang lumayan lebih cepat dari yang diperkirakan. Sekarang, hanya tugas Alpino untuk membersihkan kolam.


“Al” Lisa memanggil ketika dia yang seharusnya beristirahat malah kembali mendekati Alpino yang sedang berkutat dengan penangkapan ikan koi dan ikan Guppy kecil dengan jarring yang telah disediakan oleh Pak ***** sebelumnya. Bergumam, Alpino hanya melirik ke arah sang perempuan yang duduk tanpa kata di atas tanah tanpa terganggu kotor.


“Duduk di tempat yang bersih, Lisa” tuturnya dengan nada sedikit menyuruh.


“Nggak mau, mau ngelihat kolamnya dibersihin”


“Ngeyel banget sih, Lisa. Nanti lo gatel-gatel itu. Udah, sana aja, ini gue bersihin sebentar doang, kok”


“Nggak gatel. Ini gue mau ngelihat. Pelit banget, Alpino. Gue aduin Tante Adel ntar”


“Mama pasti juga bakalan ngomong yang sama kayak gue, Lis. Sanaan, dah”


“Nggak mau”


“Hadeh, biasaan”


Kalah dalam argumen, Alpino membiarkan. Namun, dia segera beranjak untuk mengambil salah satu karung yang belum dipakai untuk mengumpulkan rumput.


“Awas, Duduk diatas sini aja”


Lisa, dengan senang hati menjatuhkan dirinya kembali di atas karung yang Alpino letakkan. Masih dekat dengan keberadaan lelaki itu dan Lisa bisa melihat bagaimana kegiatan Alpino untuk membersihkan kolam kumuh itu. Tersenyum, Lisa tidak bisa menahan diri untuk terkekeh dengan perlakuan manis yang selalu Alpino berikan padanya.


“Al, gue jadi penasaran” tiba-tiba dia bersuara. Alpino hanya bergumam untuk mendengarkan. “Gue yakin lo pasti memperlakukan Kina kayak gini juga, kan? pantes banget Kina deket sama lo. Awas, ya, baper anak orang lo tanggung jawab, lho!”


Perasaan.


Alpino terkejut dengan pernyataann. Dia mengernyit, menghentikan kegiatan membersihkannya dan melihat Lisa dengan tatapan yang menyatakan kata; sumpah lo ngomong begini ke gue? Nggak salah?


Namun Lisa tidak bisa menangkapnya dengan benar, sehingga perempuan itu tetap pada pendiriannya untuk menggoda Alpino dengan salah satu alis dinaik-turunkan dalam tampilan wajah aneh yang membuat Alpino ingin mengutuk dalam hati.


“Lo kalau ngomong coba di filter dulu itu, Lis. Jangan ngeracau kayak orang lagi mabuk. Padahal cuma minum es gula batu doang”


“Gue nggak mabuk!” Amukan Lisa membuat Alpino tumbang sedikit. Dia bergeser ketika perempuan itu mencubiti pinggangnya dengan beberapa cubitan yang meyengat. “Kan gue bener. Lo, tuh, sadar nggak, sih kalau perlakuan lo bisa bikin cewek-cewek salah paham? Pantes aja banyak yang ngejar lo, ya, dari dulu. Gue sekarang nggak bertanya-tanya lagi”


“Kayaknya karena gue ganteng doang, nggak, sih?”


“Al, tolong, ya, ini bukan ajang pengakuan kepercayaan diri. Nggak usah digituin wajah lo, geli gue”


Lisa tertawa geli saat Alpino menunjukkan beberapa wajah aneh. Apalagi ketika lelaki itu berpose dengan topi yang diturunkan ke bawah dan bibir bawah yang digigit terlalu berlebihan. Lelaki itu sendiri paham dengan pose menggelikannya, tetapi dia tidak terlalu peduli.


“Yah, padahal gue ganteng”


“Diem, lo”


“Tapi, Lis. Gue mau menyanggah pendapat lo tentang gue yang berpotensi bikin anak orang baper”


“Kata-kata lo, Al. geli banget” Lisa sadar bahwa dia banyak tertawa hari ini, tetapi dia abai dengan hal lain karena dia puas dengan bagaimana kenyamanan dan kebahagiaan beputar disekelilingnya.


“Serius”


Alpino tersenyum. Perasaannya agak bergemuruh sebelum dia kembali fokus pada apa yang dia lakukan. Tidak ingin mengambil perasaan lebih dalam, tetapi hari ini, dia sudah menentukan sesuatu dimana dia akan memilih untuk langkahnya selanjutnya.


Iya atau tidak.


Tetap maju dalam batas tertentu atau berhenti dan mengambil arah lain.


Pilihannya hanya ada satu diantara keduanya. Dan hari ini, adalah hari eksekusi untuk dirinya.


“Kalau misalnya gue bisa bikin anak orang baper, kenapa lo nggak baper sama gue?”


Satu tembakan dia keluarkan. Lisa mengerjap, sedikit terkejut.


Jeda terasa lebih mati daripada sebelumnya. Tetapi dalam beberapa saat dimana Alpino berusaha untuk menulikan pendengarannya, Lisa sudah terkikik dengan geli di tempatnya. Alpino tidak bisa memilih apakah dia lega atau hancur di dalam sana.


“Ya enggak, lah. Lo, kan, sahabat gue, Al. Gue udah Liat lo luar dalam”


“Dih, ambigu banget ucapan, lo”


Lisa melotot karena terkejut. Angin disekeliling entah kenapa terasa semakin menusuk. Bubble melompat dari ember kecil yang tidak mampu menampungnya dengan lama. Alpino segera tersentak dan mencoba mengambil ikan itu kembali untuk diamankan. Sayup-sayup dia mendengar lagi tawa Lisa yang seperti tersendat.


“Kayaknya yang bikin lebih aneh tuh, lo, deh, Al” Cemberutnya kemudian.


Alpino memutar mayanya. Beralih fokus kembali dalam membersihkan kolam ikan kecil itu. Dalam titik ini, dia tidak begitu peduli dengan basah celananya atau penampilannya lagi. Dia hanya ingin ini selesai dan beristirahat dengan tenang.


“Yaudah, iya, gue minta maaf, deh”


“Hmm.. Dimaafkan nggak, ya?” Lisa mencoba untuk bercanda lagi. Tapi kali ini Alpino mengabaikannya dengan cepat. Dia harus menyelesaikan apapun ini agar dia bisa berbicara lebih baik lagi dengan Lisa. Tapi, dalam beberapa waktu berjalan, hal-hal mulai membuatnya gila.


Lisa menggeleng. Dengan sangat pasti. Tidak ada keragu-ragua di wajahya. Dia bahkan terlihat sangat mantap dalam pilihannya saat dia tersenyum dan menyuarakan; yup, dengan sangat keras. Itu bergema di telinga Alpino seperti teriakan yang menyayat seluruh organ tubuhnya.


“Yah, kalau begitu lo ngelewatin emas berlian, dong, Lis. Kapan lagi lo ketemu gue yang, udah ganteng, lucu, pinter, baik hati, dan manis ini, kan? gue udah paket lengkap lho, kok masih di abaikan gini, sih?”


Sakit.


Jadi ini yang namanya bentuk penolakan?


Alpino menertawai dirinya sendiri. Dia hampir oleng pada tenaganya. Rasanya kakinya bergetar dan dia tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia hampir menyiram dirinya sendiri ketika membuka keran air yang menyebabkan air menyemprot kemana-mana dan tidak terkendali. Lisa harus meneriakinya terlebih dahulu agar gerakannya untuk menutup keran air lebih cepat dari seekor kura-kura.


Matanya panas. Tapi dia tidak bisa untuk menangis.


Dia hanya, tidak boleh.


“Al, serius” Lisa kembali berbicara ketika keadaan mulai lebih tenang dari sebelumnya. Alpino merasa tubuhnya menggigil. Angin menyengat dengan lebih bersemangat. Dia mendudukkan dirinya dan membiarkan air mengisi kolam yang sudah dibilas.


“Kalau gue boleh jujur, sebenernya lo tuh idaman seluruh cewek di muka bumi ini, sih. kategori paling best buat dijadiin calon suami dan calon mantu oleh para ibu di sekitar” Ada tawa kecil yang dikeluarkan, tetapi pembicaraan kali ini lebih serius daripada apapun yang bisa Alpino kategorikan dalam pembicaraan mereka.


“Bener kata lo. Gue nggak bakalan menyangkal semua ucapan ngaco lo tadi. Fakta yang nggak bisa diubah dari lo yang seharusnya nggak gue ungkapin karena ini bisa membuat ego lo nembus di atas angka seratus” Ada tawa lagi. Dan Alpino merasa kakinya mati rasa. Dia membiarkan kepalanya dan telinganya yang hanya bekerja, tidak memperbolehkan hatinya untuk ikut andil.


“Lo ganteng, pinter, lucu, manis, gentle, perlakukan lo tuh sweet banget asli. Gue selama jadi sahabat lo ngerasa di treat sebagai seorang cewek yang dihargai banget sama lo. Lo bisa ngelawak, bisa bikin nyaman juga, pekerja keras, lagi. Lo bisa bahagiain orang-orang disekitar lo. Yah, meskipun kadang lo bawel dan nyebelin, tapi gue selalu kagum dengan kepribadian lo, Al.”


Ada senyum yang dia torehkan. Ada hancur yang tak bisa ia letakkan dalam kata.


“Gue juga kalau bukan sahabat lo mungkin gue duluan yang bakalan confess ke lo” Lisa tertawa dalam kata. Alpino membayangkan apa yang Lisa katakan padanya. Apakah memang seharusnya mereka tidak bersahabat? Apakah seharusnya lebih baik seperti itu jika dia dan Lisa bisa bersatu?


“Yah, tapi gimana, ya, sayang banget. Lo, tuh sama gue udah cocoknya sebagai sahabat doang, Al. Mungkin lebih ke keluarga? Aduh, tapi kalau nanti lo ada yang punya gue juga bakalan potek sih, Al. Gue bakalan cemburu parah kalau lo udah punya gandengan”


“Dih, kalo cemburuan ya ngapain jadiin gue sahabat? Jadiin pacar dong biar ga cemburuan dan potek”


Lisa tertawa. Dia tidak bisa berhenti tertawa sejak awal. Perempuan itu memukul bahu Alpino dengan keras dan lelaki itu tidak lagi berusaha untuk menghindar. Hatinya sedang hancur sehancur-hancurnya. Lucu bagaimana keadaan bisa berbalik sebegitu cepat.


Tapi tentu saja, dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Semuanya sudah selesai dan dia tahu pada akhirnya langkah apa yang akan dia ambil.


Berhenti dan membuka cerita lain di jalan yang lain. Pada akhirnya dia tidak bisa terus maju dalam batasan yang disukainya. Dia sudah kalah telak.


“Ya cemburuan dan poteknya kan karena gaada lagi sahabat kayak lo. Kalau lo udah punya pawang gue nggak bisa nempel sama lo. Kalau gue pacarin lo, aduh, gue nggak bisa bayangin, Al. lo bener-bener punya tittle sebagai sahabat terbaik gue”


“Aduh, gue jadi sedih. Masa sama lo cuma jadi best-friend-zone doang”


Alpino tidak tau. Apakah suaranya seperti orang yang sedang patah hati atau masihlah bergurau dan bercanda seperti biasanya dengan Lisa.


“Nggak usah mendramatisir, deh. Nggak usah ngegodain gue. Mentang-mentang gue muji lo setinggi langit tadi, jadi lo mau ngegodain gue, kan? dih”


Wajah Lisa benar-benar terlihat santai seolah-olah tidak ada beban apapun atau perasaan apapun yang mengganjal pada dirinya. Perempuan itu terlihat sama seperti baisanya. Pembicaraan yang hanya terdengar random dan tak berbobot. Pembicaraan antar sahabat tanpa melibatkan perasaan.


Ini titik kesadaran. Alpino sudah membuka matanya dengan lebar. Dia tahu kemana ini sudah terselesaikan.


“Bercanda, Ratu. Ah elah” Alpino melambai di depan wajah cemberut Lisa biasa. Lelaki itu bangkit ketika dia berhasil memenuhi isi kolam. “Lis, tolong bawa anak-anak lo sini, deh. Gue mau masukin ini mereka. Udah selesai, udah bersih kolamnya”


“Okay! Bentar”


Perempuan itu melompat dengan bersemangat. Dia mengngkat kotak berisi labi-labi dan anakan ikan koi. Bubble sudah di tangan Alpino dan dia menunggu agar Lisa bisa mengambil alih meletakkan mereka di dalam kolam itu dengan tangannya sendiri.


Lisa begitu bersemangat. Perempuan itu berbicara dengan ikan-ikan dan labi-labi dengan nada yang manis bak berbicara dengan anak kecil. Alpino menawarkan senyum sayang. Retakkan miliknya semakin tak berbentuk di dalam.


Mereka kini berjongkok di depan kolam dengan Lisa yang menaburkan makanan sedangkan Alpino menata teratai di sekitarnya. Dia juga memasukkan beberapa batu bersih berwarna-warni ke dasar kolam dengan lebih lembut agar ikan-ikannya tidak begitu stress.


“Jadi, hubungan lo sama Bang Noren udah deket banget, ya? Lo nggak ngambekkan dan emosian lagi kalau ada dia?”


Alpino sudah menahan sejak tadi untuk membicarakan hal ini. Tetapi dia tidak ingin merusak kesenangan Lisa, jadi, dia menahan untuk akhir hari. Namun karena Lisa sudah membawa pembicaraan tentang perasaan dan penolakan, dia hanya ingin mengangkatnya keluar. Agar perasaan dan rasa penasarannya bisa menjadi lebih lega dari sebelumya.


“Dih, ngapain bawa bawa nama Kak Noren, sih? Al, lo ngerusak hari santai gue tanpa dia” Tatapan Lisa begitu sinis padanya seperti ingin membunuh. Alpino terkekeh tawa.


“Tapi kemarin lo yang ngajak dia ke acaranya Fajri, kan? Dan Hala juga bilang kalau lo sama bang Noren udah jadi couple goals versi anak MDM”


Dia mencoba menggoda, Menyikut sisi lengan Lisa, membuat perempuan itu dengan cepat berdiri menginjak kaki Alpino dengan kekuatan yang nyata. Lelaki itu mengaduh, tumbang di tempat dan hampir berguling di dekat genangan lumpur dan lumut.


“Kok ngamuk, sih, Lis? Gue kan cuma nanya?”


“Lo bukan nanya, tapi mancing emosi gue, Al. Udah, ah, gue mau kedalam, mau istirahat”


“Aduh, mulai deh. Tuh anak kalau energinya habis udah jadi uring-uringan, ngambekkan dan sensitif banget”


Dengan cepat Alpino menyusul Lisa ke dalam. Dia sudah merasa sakit kepala ketika melihat bercak tanah dan lumpur hasil derap langkah kaki Lisa masuk ke dalam ruangan.


...……...


...🍁...


...Daun Terakhir Yang Telah Gugur: Tak Bisa Lebih Dari...


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Oh iya ada rekomendasi lagi novel keren karya kak Lichalika, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA LICHALIKA...


...JUDUL: BU GURU AKU PADAMU!...


Aldo Alexander seorang siswa kelas 12 SMA, jatuh cinta kepada gurunya sendiri Vega Aprillia guru Fisika. Sosok Aldo yang tampan dan sedikit jail, membuat Aldo dikenal sebagai siswa yang somplak diantara teman-temannya.


Vega Aprillia adalah guru Fisika yang baru di sekolah Aldo. Aldo sangat membenci pelajaran Fisika, setiap Vega datang ke kelasnya, Aldo selalu membuat kegaduhan, sehingga membuat Vega dibuat pusing bukan kepalang, namun siapa sangka Aldo justru jatuh cinta kepada guru Fisikanya itu.


Apakah Vega akan menerima cinta dari sang murid? Mengingat Vega telah memiliki tunangan?



Selamat membaca🥰