Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Keputusan Sinar; Reaksi



Seharusnya dia sudah berada di rumah untuk beristirahat setelah menyegarkan diri. Menghilangkan jenuh dan penat setelah bekerja dengan berendam air hangat bersama harum bathbomb aromaterapi kesukaannya seraya menikmati hidup sembari meregangkan otot-otot dan sendi lelahnya terdengar seperti suara surga yang mengajak dalam tarikan maghnet berupa buaian kenyamanan.


Agaknya, Sinar menyesal tidak mendengarkan ajakan Wildan beberapa waktu yang lalu, bahkan tidak ada lewat dari sepuluh menit lelaki yang lebih tua itu mengajaknya untuk pulang dan beristirahat. Tetapi dia yang keras kepala begitu ingin tinggal untuk meredakan pusing yang mengambil alih sedikit demi sedikit kewarasanya yang hampir tak tertolong. Namun nyatanya, tinggal sedikit lebih lama dalam pembahasan yang juga berupa momok hati yang berat adalah jalan yang salah dia pilih. Begitupula jika dia tahu bahwa Mamanya akan menelpon, dia tidak akan berada di ruangan kantornya dengan interior yang sudah dia hapal luar kepala dari seberapa banyak waktu dia habiskan disana.


Saling bersitatap dengan Wildan yang khawatir akan reaksi yang dia beri pada sang Mama dalam intonasi terkejut yang tidak percaya, Sinar memberikan Wildan isyarat bahwa setelah sambungan telpon selesai, mereka bisa segera pulang. Dia harus menuntaskan pembicaraan yang sama sekali tidak nyaman di telinganya dan mengganggu perasaanya sehingga dia hanya ingin segera menenangkan diri barang sejenak.


Dia butuh mencerna secara perlahan-lahan agar tidak melakukan hal bodoh yang sembrono. Seperti menyusul Noren dan melakukan baku hantam karena tidak membicarkan hal-hal yang tentu saja menyangkut keluarga dan bahkan adik kesayangannya dalam hal yang tidak bisa dibilang sebagai permasalahan kecil.


Memijat pelipisnya dan jatuh kembali di kursi putar kebesarannya, Noren memejam matanya erat-erat sembari menetralkan laju aluran pernapasannya. Menenangkan diri untuk mendengar penuturan Mamanya lebih baik dan dengan kepala yang lebih dingin.


“Ma, Mama serius bakalan datang ke sini besok?” Sinar bertanya dengan hati-hati, menunnggu jawaban yang akan di berikan oleh wanita yang berada di ujung sambungan.


“Ya iya, Sayang. Mama sama Papa lagi siap-siap. Sekalian mau ketemu sama Lisa. Udah berapa lama, ya, nggak pulang ke sana dan jengukin Lisa. Mama jadinya kangen juga sama anak perempuan Mama satu-satunya”


Ah, nada kasih sayang tulus yang menetes dari dengung suara indah Mamanya itu membuatnya sedikit cemburu. Rasa sakit karena harapan untuk mendapatkan sedikit saja perhatian yang selalu tertuju pada sang adik harus ia tahan mentah-mentah karena itu bukanlah waktu yang cocok untuk merasakan patah hati dan emosi ketidakadilan yang selalu ditelannya bak pil pahit di tiap langkah kehidupannya.


Sinar selalu paham bahwa kasih sayang yang diberikan oleh orang tua mereka selalu berbeda porsi daripada apa yang seharusnya. Sinar, sebagai seorang anak laki-laki pertama adalah sosok yang harus kuat memikul beban dan tanggung jawab keluarga sehingga didikannya lebih keras dari pada yang dia harapkan. Tuntutan harapan yang Papa dan Mamanya bangun padanya terlalu tinggi sehingga kasih sayang yang pantas untuk dia dapatkan hanyalah berbagai macam pendidikan yang dijejalkan padanya dan jalan hidup yang telah ditetapkan langsung oleh kedua orang tuanya. Bahkan, untuk meminta satu peluk hangat tanpa embel-embel bahwa dia sudah berusaha dengan keras dalam pembelajaran ini dan itu pun, sulit sekali untuk dia terima.


Mengesampingkan permasalahan hidupnya dalam rasa kalut pemberian kasih sayang, dia jujur bahwa rasa lega membasuh dirinya seperti air terjun mengguyur tubuh tanpa perantara ketika dia tahu bahwa adik perempuannya disayang sedemikian rupa. Meskipun beberapa waktu terdapat cekcok yang lagi-lagi tentang permasalahan bisnis dan Sinar harus melangkah untuk tetap memberikan kebebasan kehidupan pilihan adiknya-, Mama dan Papanya cepat menyerah untuk memaksa Lisa mengambil kursi kepemimpinan dan perusahaan yang lagi dan lagi tentu saja, tumpukan beban harapan dan tuntutan bertambah dua kali lipat di pundaknya.


Biarlah-, pikirnya. Dia sudah tenggelam dengan permasalahan yang sama. Menambah satu beban lagi tidak akan menjadi hal yang terlalu membuatnya terkejut dan kelabakan. Dia bisa menangani segalanya meskipun Mama dan Papanya terkadang meremehkannya karena kegagalan Eval-nya pada perusahaan inti di Jepang waktu itu ketika dia masih dua tingkat di atas posisi sebagai pemula bisnis dimana dia tentu saja masih kewalahan. Kesalahan itu akan selalu terus dipermasalahkan dan diungkit jika dia melakukan hal-hal yang memicu kesalahan yang sama atau bahkan berbeda sama sekali.


Tapi ternyata dia salah dalam hal ini. Membebaskan adiknya dalam memilih jalan hidup yang Nalisa inginkan adalah satu dari kebebasan kasih sayang berbayar yang ternyata orangtuanya sudah putuskan sejak jauh hari. Sinar juga tidak begitu yakin, tetapi kemungkinan terbesar masih ada mengingat bagaimana Papa dan Mamanya menangani kasus Noren pada saat ini. Jika saja Noren tidak masuk dan lebih dulu meminta adiknya dalam ikatan perasaan yang dikemukakan tanpa malu-malu dan ketegasan nyata tersorot di kedua matanya yang memercik api, mungkin saja orang tuanya punya rencana lain terkait hal yang sama tentang jalan pernikahan adiknya.


Lagipula jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa menyetujui perihal pernikahan Nalisa semudah itu tanpa sosok wajib dalam pembahasan penting di dalamnya?


Ah, dalam kesadaran yang baru saja menghantam, Sinar juga mengingat bagaimana dia berusaha di jodohkan dengan beberapa perempuan yang dipilihkan sang Mama tanpa pernah dia sadari. Jebakan makan malam bersama dengan perempuan ini dan itu adalah satu hal yang baru saja Sinar pahami bahwa dia sedang di jebak dalam sebuah ikatan perjodohan bisnis. Dan tentang bagaimana Mamanya selalu meminta segera dua anak laki-laki darinya sebagai calon penerus cabang perusahaan mereka.


Sinar rasanya ingin menghantam kepalanya ke atas meja kerjanya saat ini juga.


“Ma, kenapa nggak bilang ke Sinar kalau bakalan ada pertemuan lagi tentang diskusi pernikahannya Lisa?” Sinar mencoba untuk tenang dari gejolak batinnya beberapa saat yang lalu.


“Lho? Mama kira kamu udah setuju duluan? soalnya Noren yang tiba-tiba minta diskusi lagi bareng keluarganya. Kamu, kan, dekat sama Noren dan tahu. Kenapa malah tanya sama Mama? Seharusnya Mama yang tanya ke kamu kenapa nggak datang lagi buat diskusi bareng Noren. Mama kira kamu barengan ke sininya”


Memang satu-satunya orang yang harus Sinar habisi saat ini adalah Noren seorang. Dia sama sekali tidak membahas hal ini padanya dan mengambil langkahnya sendiri. Benar. Noren adalah orang yang licik dan Sinar tidak menyangka bahwa sahabatnya itu akan mengambil langkah nekat secepat ini. Apakah ini memang yang diinginkan oleh adiknya? Apa Noren sengaja meminta bertemu lagi untuk mengungkapkan bahwa Lisa sudah menyetujui pernikahan dan jatuh cinta pada Noren setelah semua yang sahabatnya itu lakukan untuk Lisa?


Sinar tidak yakin. Karena sang adik sama sekali belum bercerita padanya dan terakhir yang dia tahu bahwa Lisa menganggap Noren sebagai temannya seorang saat dia mengundang Noren bermain game beberapa hari yang lalu.


Apakah benar sudah berubah secepat itu? Atau ini sungguh hanyalah akal-akalan licik lelaki Giovano itu?


Jika iya, sahabatnya itu sungguh merupakan seorang sialan besar.


“Nggak, Ma. Noren bahka nggak bilang ke aku kalau bakalan ada diskusi dua keluarga lagi” dia menjawab dengan bibirnya yang terkautup. Bisikan kekesalan coba ia pendam sedemikian rupa.


“Aduh, mungkin Nak Noren sangat bersemangat sehingga lupa buat ngabarin kamu” Wanita itu cekikikan seolah-olah sedang menceritakan hal yang lucu padanya. “Soalnya kemarin datang Nak Noren sumringah banget, loh, Sinar. Nak Noren bilang dia siap untuk pernikahan diadakan secepatnya. Nak Noren bahkan minta pertengahan bulan depan buat segera di gelar acaranya, lho”


Lagi-lagi ibunya tertawa dengan sangat gembira. Sinar sampai tidak tahu harus mengatakan apa karena dia merasa begitu ingin menghancurkan wajah Noren sekarang juga. Jadi, yang bisa dia lakukan sekarang adalah mengeluarkan buku catatan kecilnya dan meremat kertas satu-persatu dengan sebanyak mungkin kekuatan yang bisa dia lepaskan.


“Dan Mama setuju dengan itu? Emangnya Mama udah tanya sama Noren soal keputusan Lisa gimana?” dia menyerbu tanya lagi, berusaha lebih mendesak Mamanya untuk menjawab.


“Yah, Nak Noren nggak ada ngomongin itu secara spesifik, sih. Tapi tetap aja. Kalau Nak Noren sudah bilang tentang pernikahan yang bakalan cepat digelar, itu berarti Lisa juga pasti sudah setuju, kan?”


Sinar hampir bisa merasakan dirinya menghantam keseluruhan wajah ke atas meja kayu dengan keras. Wildan di sofa dalam jarak yang lumayan jauh, menatapnya dengan pandangan prihatin yang sangat jelas.


“Mama seharusnya tanya ke Lisa. Anak Mama itu Lisa, yang akan nikah juga Lisa, bukan Mama atau bukan cuma Noren seorang. Lagian, inget nggak perjanjian awal gimana? Harus Lisa suka dan cinta juga sama Noren, kan? Mama bilang mau lihat Noren berusaha buat dapatin hati Lisa baru bisa setuju, Kan? tapi sekarang gimana? Kok udah beda aja jalan ceritanya?”


Sinar tidak peduli apa yang dia muntahkan lewat kata dalam banyak pertanyaan. Mamanya sama sekali sedang tidak berada di dalam pikiran waras dan pemikiran yang bagus. Ini pasti dikarenakan wanita itu sangat senang dengan penyatuan dua perusahaan dalam satu ikatan keluarga yang sama dalam waktu dekat jika pernikahan ini berhasil dilangsungkan.


“Tapi Nak Noren kan udah berusaha” balas Mamanya dengan suara yang sudah sangat yakin.


“Mama tau darimana emangnya?” hampir frustasi, Sinar menahan pekikan dalam tanya. “Orang Sinar aja belum ngobrol banyak sama Lisa, belum lihat perkembangan bagus mereka gimana. Mama juga pindahin Sinar ke sini selain alasan buat jagain Lisa, Sinar dipake buat lihat perkembangnan hubungan Noren sama Lisa, kan, Ma? Kenapa Mama nggak tanya Sinar aja dulu yang lebih tahu daripada cuma sekadar ucapan?”


“Kamu kok yang malah ngomel-ngomel, sih?”


Sinar terdiam ketika sang Mama mulai menunjukan intonasi nada tidak suka. Ada geraman dari sambungan telpon di ujung sana dan Sinar yakin dia sudah menyenggol ego sang Mama.


“Kamu ini cemburu, ya, sama adik kamu yang mau nikah lebih dulu dari pada kamu? Cemburu karena kamu bakalan dilangkahin sama Lisa? Yaudah kalau gitu, kamu aja yang cepetan nikah duluan sama siapa itu pacar kamu atau sama perempuan pilihan kamu yang sampai sekarang mama nggak tau apa-apa sama sekali. Nikah aja duluan dan kasih mama dua cucu laki-laki. Kalau emang kamu sanggup, Mama nggak akan secepat ini kasih restu buat pernikahan Nak Noren sama Lisa. Kamu mau? Bisa?”


“Ma..”


Jika Sinar bisa berteriak, dia akan melakukannya saat ini juga. Kepalanya yang sudah pusing semakin di buat berdenyut dengan cemoohan sang Mama yang menghujaninya bak hujan asam. Menggerogoti jantungnya yang sudah terasa diremas dengan sangat kencang. Tapi tentu saja dia tidak bisa berlama-lama berada di fase yang sudah seringkali dia mampu tangani dengan baik dan saat inipun dia harus bisa menanganinya dengan cepat dan meminimalkan kerusakan apapun yang akan menimpa dirinya sendiri. Untuk saat ini, dia akan memprioritaskan permasalahan adiknya terlebih dahulu.


“Nggak bisa, kan? yaudah kalau gitu biarin adik kamu nikah duluan. ini, lho, udah ada yang ngelamar. Udah ada yang siap lahir batin kenapa harus ditolak? Lagian kamu juga sudah kenal Noren. Dia juga sahabat kamu. Seharusnya kamu lebih percaya, dong sama dia. Kenapa malah kamu yang ngomelin Mama sebegininya?”


Justru itu. Karena dia tahu Noren dan mengenal lelaki itu dengan lebih baik, dia tahu bahwa ada hal yang sedang tidak beres terjadi. Noren telah melakukan hal yang tidak Sinar sukai dan Sinar bisa merasakan itu sampai ke deras aliran darahnya.


“Pokoknya Mama sama Papa mau kesana. Mau temu kangen anak perempuan Mama dan mau diskusiin tentang pernikahan anak perempuan Mama satu-satunya”


“Jangan kesini dulu” Sinar dengan cepat meminta, dia harus mengurus beberapa hal terlebih dahulu, berurusan dengan Noren dan berbicara serius dengan adiknya terlebih dahulu. Orang tuanya tidak perlu datang di waktu seperti ini karena segalannya akan lebih buruk jika mereka ikut campur dalam permasalahan yang dimana Lisa sama sekali tidak tahu sedang terjadi.


“Pokoknya Mama sama Papa jangan kesini dulu. Sinar mohon”


“Kenapa, sih, kok nggak dibolehin?”


“Pokokya jangan, ya, Ma. Nanti kalau menurut aku Mama sama Papa sudah boleh kesini, aku bakalan kabarin. Aku janji”


Sinar ingin menyerah dan pasrah dengan semuanya, tetapi keinginan untuk ribut dengan Noren masih membabi buta di dalam dirinya. Kesadaran posisinya sebagai seorang Kakak tiba-tiba muncul jauh ke permukaan sehingga membuatnya sangat khawatir dan ingin segera pulang untuk melihat kondisi sang adik saat ini.


Sinar tahu dia yang membawa Noren pada Lisa dalam hal ini pertama kali. Dia tahu bahwa dia ikut andil dalam diskusi awal mengenai perasaan Noren dan keinginan untuk segera mempersunting Lisa secepatnya. Tetapi pada waktu itu, Sinar setuju karena Noren tidak memaksakan kehendaknya seorang diri dan berjanji bahwa dia akan membuktikan cintanya bisa meluluhkan dan membuat Lisa setuju dan rela dengan kesadaran penuh untuk menikah dengan Noren.


Sinar juga sudah berjanji pada Lisa bahwa dia bebas membiarkan adiknya memutuskan apakah dia akan suka kembali pada Noren dengan perasaan yang layak atau memutuskan untuk berhenti. Dia hanya berpegang teguh pada itu sejak awal. Dan saat ini, Noren menghancurkan segala bentuk keyakinan yang dia bangun tentang adiknya pada sahabatnya itu.


“Ma-,”


“Udah, ya, Mama tutup telponnya”


Suara dengung tanda panggilan telah berakhir memekak telinga. Kali in, lelaki itu tidak menahan diri untuk menghantamkan wajahnya ke meja kerjanya. Namun tentu saja, entah sudah berapa lama Wildan berada di dekatnya, tangan lelaki itu menahan benturan atara wajahnya dan meja kerjanya terjadi. Sinar merengek ketika wajahnya sepenuhnya tenggelam dalam kulit semi kasar milik Wildan.


“Kebiasaan jelek” Wildan berkomentar. Tangan bebas lainnya Wildan layangkan untuk menepuk punggung Sinar untuk memberi kekuatan. Sinar diam sejenak, menahan diri agar emosinya yang berkecamuk reda perlahan di dalam sana. “Kalau udah enakan kita langsung pulang, dek. istirahat aja, jangan dipikirin apa-apa yang tadi”


Tentu saja Wildan paham dengan apa yang terjadi. Dia ada disana ketika Sinar dipindahkan ke Indonesia, ketika Sinar dan Noren sedang beradu argumen tentang pernikahan ini dan itu, Wildan ada disana ketika Sinar mengomel dan tanpa sadar memuntahkan beberapa fakta penting saat lelaki yang lebih muda mengajaknya minum-minum. Jadi, tidak ada rahasia Cakrawijaya yang tidak dia ketahui. Namun tidak akan ikut campur tentang hal yang bukan ranahnya, tentu saja.


“Mau langsung balik sekarang aja. Gue pengen cepat-cepat keluar dari sini. Stress gue kalau sedetik lagi masih ada di ruangan ini”


Itulah putusan Sinar ketika dia dengan lunglai mengangkat tubuhnya dan berjalan meninggalkan Wildan di belakangnya dalam gerakan yang tergesa-gesa. Wildan mengikuti dari belakang.


......................


Sinar memilih untuk duduk di sofa dan merebahkan diri disana tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Dia sudah tidak memiliki banyak tenaga dari apa yang dia habiskan dalam emosi yang tidak bisa dia pilah dan pisahkan dari jeratan benang ruwet yang menyakitkan mata para perfeksionis. Menutup matanya, dia berusaha untuk mengontrol diri dalam ruang kepalanya. Tidak peduli apakah dia berbau tidak sedap atau kaus kakinya naik ke atas sofa. Dia sedang butuh ketenangan untuk saat ini saja.


“Lho, udah pulang, Kak?”


Suara adiknya sedikit mengejutkannya. Sinar mengintip dari balik lengan yang ia lemparkan di atas matanya untuk melihat sang adik yang sudah rapi dengan pakaian yang terlihat seperti dia ssedan akan pergi berjalan-jalan. Penasaran, dia menjawab pertanyaan Lisa dengan pertanyaan lain.


“Mau kemana lo, dek?”


“Mau main, lah! Lihat gue udah cantik gini”


Lisa memutar badannya agar Sinar melihat bahwa dia berdandan untuk acara pergi mainnya. Terkekeh dengan energi yang tercipta dari sang adik, satu benang ruwet mulai tertarik keluar merapikan dirinya sendiri.


“Iya,deh, cantik. Adek gue kan emang paling top” dia menggoda sedikit, suka dengan rekasi malu-malu yang ditutupi dengan kesombongan kepercayaan diri lain dari sang adik. “Tapi lo mau main kemana jam segini? Sama siapa?”


“Dih padahal biasanya juga nggak nanyain gue mau kemana” Nalisa mencibir. Dia bergegas menuju dapur untuk menarik satu susu vanilla full creamnya yang Sinar tahu tinggal setengah dan tersimpan di dalam kulkas dengan rapi.


“Tapi karena lo bertanya, gue dengan senang hati bakalan jawab” Suaranya agak cadel ketika dia berbicara sembari mengemut sedotan. “Gue mau main sama Alpino!” satu seruan kebahagiaan muncul dan adiknya seperti terlihat sangat berbunga-bunga. Kesenangan memancar dan Sinar hanya bisa menggeleng melihat betapa riangnya sang adik saat perempuan itu melompat-lompat dalam energi layaknya seekor kelinci bahagia.


“Oh, udah nggak marahan lagi?”


“Nggak marahan! Gue sama Al baik-baik aja, kok!” Sanggahnya cepat. Tatapan tajamnya kembali untuk mengintimidasi Sinar. Namun, ketika dia ingin mengomel lebih banyak lagi, suara klakson motor menggema dan ponsel Lisa berdering tanda pesan masuk. Raut wajah sumringah kembali menguasai.


“Fajri udah sampai! Gue duluan, ya, Kak! kalau mau makan ada di dapur. Gue sama Hala tadi masak bareng”


Ada tawa dan kedipan mata. Jika saja Sinar sedang dalam keadaan baik, dia pasti sedang tersipu dan ikut bersemangat sekarang.


“Loh? Dijemput Fajri? Katanya mau main sama Al?” rasa penasaran mengambilnya lebih baik dari fokus yang masih tersisa.


“Al masih di tempat kerja, jadi yang jemput Fajri. Udah ya, kak, kasihan Fajri nungguin di depan”


Lisa mengemas diri dengan cepat. Disela-sela pikiran Sinar yang berawan, dia menghentikan Lisa dengan pertanyaan yang bahkan dia tidak sadar telah kemukakakan.


“Dek. lo sama Noren gimana?”


Alis terangkat, tanda bertanya ditawarkan Lisa padanya.


“Hubungan lo? Perasaan lo sama Noren? Semuanya.. gimana?”


Itu diam yang cukup lama sebelum adiknya melambai dengan santai di depan wajah. Raut wajahnya terlihat seperti kejengkelan main-main sebelum gelengan dan tawa aneh dia keluarkan dengan tanpa kecanggungan yang nyata. Kesannya sudah jelas, Lisa bersungguh-sungguh untuk jawaban selanjutnya.


“Baik. Gue sama Kak Noren sama seperti apa yang gue bilang sebelumya”


Lisa memakai Helm dengan cepat, memilih mengefisienkan diri.


“*****Temen***** dan nggak lebih. nggak bakalan lebih dari itu”


Acungan jempol dia berikan pada Sinar sebelum lambaian menjadi akhir pembicaraan.


“Gue sama Kak Noren murni cuma temen doang. Jadi jangan nanya yang aneh-aneh lagi. Udah, ya, gue mau berangkat, Bye Kak! Jangan lupa mandi! Lo bau!”


Cekikikan Lisa adalah apa yang dia dengar sebelum suara motor menenggelamkannya. Ada beberapa waktu dengung suara motor masih terdengar sebelum perlahan menghilang. Sinar menutup kedua matanya dengan lengannya lagi.


Berarti dugaannya benar adanya,


Noren dan kelicikannya dengan tekad yang sekeras baja. Sinar harus berbicara dengan lelaki itu secepatnya. Dengan kata dan bahkan mungkin, tinjuan yang lebih berguna.


.........


...🍁...


...Keputusan Sinar; Reaksi...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA INGFLORA...


...JUDUL: JUNIOR CEO AND BODYGUARD MEI...


Pertemuan pertama, ia di cela tapi pertemuan kedua... ia di cari. Maysaroh Safir, anak seorang pedagang lontong sayur keliling. Tanpa sengaja, gerobak ayahnya menyenggol mobil mewah seorang CEO muda. Saat bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan pemuda itu, ia menyelamatkan nyawanya. Pemuda itu kemudian mencari dan menjadikannya bodyguard. Petualangan pun di mulai hingga tanpa di sadari tumbuh bunga - bunga cinta di antara mereka.