Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tempat Pelarian Yang Dipaksakan



Ada secangkir air hangat yang berada di depannya. Hala menyadari dengan terlambat disela-sela pandangannya yang kabur dari air mata. Sesegukan masih terdengar dari bibirnya, meski telinganya tidak mendaftarkan seberapa menyedihkan hal itu terdengar.


Itu adalah waktu yang lumayan lama ketika dia tidak berusaha menenangkan diri. Kepalanya masih dipenuhi dengan kata-kata jelek, ingatan buruk yang membuatnya mual dan beberapa hal gila dimana dia menyalahkan dirinya sendiri akan kekacauan yang terjadi dalam kurun waktu yang begitu cepat.


Tangannya memeluk dirinya, berusaha untuk terlihat lebih kecil di pojok sofa lembut yang beraroma citrus, tersebar di seluruh ruangan seolah mencoba untuk menghangatkan hatinya yang luka. Baunya tidak terlalu familiar, tetapi mampu menurunkan kadar stress dan sesegukan lirih yang berangsur-angsur berubah menjadi gumaman sedak.


Hala menutup matanya erat, berusaha menetralkan tangisannya yang terdengar sangat bodoh. Samar-samar, dia bisa mendengar percakapan orang lain yang terdengar agak jauh.


“Maaf ya, Mas Wildan jadi harus pulang ke rumah mas jam segini” suaranya terdengar bersalah, namun tegas di saat yang bersamaan seolah-olah dia tidak memiliki pikiran lain untuk dirubah.


“Iya nggak apa-apa. Ini Mas juga udah kabarin orang rumah kalau Mas pulang” Ada suara gemerisik sepatu yang sedang dipakai dan pintu yang terbuka. “Jagain dia, ya. Jangan lo apa-apain, dek. Temenin dia juga, jangan terlalu dipaksa, oke?”


“Iya, Mas. Gue tau apa yang harus gue lakuin. Tapi makasih banyak, Mas. Lo juga hati-hati di jalan, ya” Balasan lembut dari suara yang sangat Hala kenali menyusup ke dalam telinganya yang berdengung.


“Oke, oke. Mas harap kalian bakalan baik-baik aja. Nanti hubungin Mas kalau butuh bantuan lainnya”


“Makasih, Mas Wildan”


Tidak ada suara lain setelah itu. Sepertinya orang yang tengah diberikan wejangan mengantar orang lain ke luar pintu. Selang beberapa menit kemudian, Hala mendengar lagi suara pintu tertutup dan langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


Hala berharap Sinar akan bertanya tentang apapun yang terjadi padanya. Hala ingat ketika dia melihat chat-roomnya dengan kakak sahabatnya itu yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama tidak bertukar kabar atau bahkan hanya bertemu. Karena, Hala yakin Sinar menghindarinya setelah penolakan gamblang yang dia berikan. Itu sudah agak lama, mungkin sekitar satu atau dua minggu lebih yang terlewat.


Dengan kepala dan otak bodohnya yang tidak bisa berpikir banyak karena kekacauan yang terjadi, dia dengan tidak sadar menelpon lelaki itu dengan sesegukan parah yang membuat Sinar terdengar sangat panik di ujung telepon.


Bahkan ketika Sinar menjemputnya segera, Hala dengan sukarela masuk dan mengikuti arahan Sinar yang khawatir tetapi juga dengan ajakan yang sangat lembut disuarakan lelaki itu.


Tentu saja, dengan itu dia yakin Sinar akan bertanya banyak hal karena tangisan dan kehancurannya. Semua orang akan bertanya sesegera mungkin dalam situasi ini, kan?


Nyatanya, Sinar hanya diam. Tidak mengeluarkan pertanyaan bahkan sampai Hala dibimbing untuk duduk di sofa yang dia yakin adalah milik lelaki itu. Sekarang, suara gemerisik orang lain duduk yang agak tenang terdengar di telinganya. Hala juga bisa merasakan hangat yang terpancar dari tubuh besar Sinar di sebelahnya.


Duduk di sofa yang sama dengan jarak yang terasa lebih jauh daripada yang seharusnya. Hala merasakan hatinya menghangat ketika merasa bagaimana lelaki itu masih menghormatinya dan juga menghormati jarak di antara mereka bahkan ketika Hala berada dalam situasi buruk yang memalukan.


“Gue tau lo punya banyak pertanyaan tentang gue sekarang, Kak” Karena Sinar tidak kunjung membuka suaranya untuk apapun itu, Hala memulai dengan suara yang lirih.


“Tanya aja.. gue yakin, di kondisi gue sekarang, meskipun gue malu banget kelihatan hancur di depan lo, gue bakalan jawab semua pertanyaan lo tanpa terkecuali..” ada suara jelek dari tarikan ingus setelah dia menyelesaikan ucapannya. Sudah cukup buruk citranya sekarang di depan Sinar sehingga dia membiarkan saja emosinya keluar dengan mentah.


Ada satu tarikan napas yang dalam dari Sinar. Hala masih tidak bisa menatap dengan lurus di mata lelaki itu. Yang sekarang dia lakukan adalah menenggelamkan dirinya lebih jauh ke sudut sofa dan menatap lantai dengan karpet bulu halus berwarna hitam yang dia yakin terasa sangat lembut menyelimuti lantai.


Anehnya, meskipun dia sudah mengatakan hal itu kepada Sinar untuk hanya terus bertanya tentang situasinya saat ini, lelaki itu malah bergerak untuk berlutut di atas karpet berbulu. Lututnya yang terbuka karena dia hanya mengenakan celana pendek rumahan yang Hala yakin bahwa dia tidak sempat untuk menggantinya setelah perempuan itu menelponnya pertamakali, menyentuh gumpalan bulu lembut di karpet dan bergerak sedikit demi sedikit untuk mendekatinya.


“Coba ini diminum dulu. Tenggorokan lo pasti sakit, dek” Sinar berujar dengan lembut dan hangat seraya membawa gelas berisi air hangat tersebut di depan wajah Hala. “Seenggaknya coba minum sedikit aja biar lo terhidrasi, ya?”


Hala ingin kembali menangis. Suara Sinar sangat lembut dan menenangkan. Matanya yang sedari tadi menghindari menatap lelaki itu, kini bergerak untuk melihat air minum yang disodorkan di depannya. Setelah itu, bergeser lagi untuk melihat dengan benar ekspresi dari Sinar.


Ada senyum lembut yang mengajak dengan halus dari postur yang diberikan sang lelaki. Kali itu, Hala menurut. Membiarkan Sinar membimbing air hangat tersebut menempel di bibirnya. Matanya masih terfokus pada Sinar. Ada kehalusan yang Hala tahu selalu berada di setiap ekspresi lelaki itu. Namun kali ini, dia bisa melihat beberapa perbedaan pada wajah Sinar.


Sinar masih sama seperti lelaki periang yang mendekatinya dengan tingkah konyol yang menawan dan juga senyuman hangat dengan dua lesung pipi di wajahnya. Tetapi setelah lama tidak bertemu, wajah itu terlihat lebih tirus dan ada lingkaran hitam yang menonjol di bawah kedua matanya.


namun, kelembutan yang lelaki itu bawa dalam setiap perilakunya yang manis masih ada disana. Begitu juga dengan tambahan kesedihan dan kekhawatiran dan juga luka.


“Anak pintar..” ada kekehan yang keluar dari bibir lelaki itu. Hala sedikit terkejut, bagaimana dia menyaksikan gelas yang ada di tangan Sinar telah terkuras semua isinya.


“Gimana perasaannya sekarang? Tenggorokkannya nggak sakit banget, kan?”


Hala terbatuk. Perasaannya membuncah lagi. Kali ini lebih sakit daripada yang sebelumnya. Banyak emosi yang mengalir keluar ketika Sinar mengabaikan apapun yang ia tanyakan sebelumnya dan lebih memilih untuk mengurusnya terlebih dahulu. Hala mendengar bagaimana seruan jelek sesegukannya. Dia juga sadar apa yang dia lakukan setelah tangisannya pecah kembali.


“H-hala..?”


Sinar tergagap ketika Hala menerobos memeluknya dengan tiba-tiba. Tubuh lelaki itu kaku sejenak. Kepalanya terasa sakit dan jantungnya berdebar dengan gila. Tetapi, dengan gerakan cepat kemudian ketika dia berhasil menguasai dirinya, bibirnya terangkat menjadi senyum simpul yang sedih sebelum kedua lengannya memilih untuk memeluk kembali perempuan kecil yang kini menangis dengan keras di dadanya dan mengirimkan banyak kata maaf yang teredam.


“Nggak apa-apa.. keluarin aja semuanya, Hala. Apapun masalah yang bikin lo sehancur ini sekarang, keluarin aja semuanya. Gue pengen lo lega..” dia berbisik. Diam-diam mengeratkan pelukannya pada perempuan yang sangat dia cintai itu.


‘Please, jangan minta maaf.. gue sakit lihat lo sehancur ini, Hala. Gue sakit banget..’ Hati Sinar berdenyut, berbisik lirih mengenai situasi yang terjadi saat ini.


Hala terisak, mencengkeram erat punggung Sinar saat satu tangan lelaki itu mengusap punggungnya dan satu lainnya mengelus kepalanya untuk menenangkannya.


Hala sudah gila. Dia yakin setan merasukinya ketika dia mulai menggumam hal-hal aneh. Menggumam banyak hal tentang rasa sakitnya beberapa waktu kebelakang yang membuatnya seperti gelembung yang penuh sesak dan kemudian meledak karena faktor paling menyakitkan hatinya menusuk untuk meledakkan gelembung rapuh itu.


“Sakit banget. Gue hancur banget, Kak. Gue tau kalau gue berlebihan sekarang. Tapi hati gue rasanya sakit.. gue udah nggak sanggup buat nahan lagi..” cercanya dengan suara yang tersendat-sendat.


“Gue udah coba bertahan dengan hal-hal yang bisa gue pegang. Seharusnya gue bisa nahan segalanya lebih baik lagi. Gue seharusnya nggak sebodoh itu untuk menghancurkan hal-hal yang penting bagi gue..”


“Tapi.. gue nggak kuat kalau hal itu yang dibahas saat gue berusaha ngelupain… hal menjijikkan itu dalam hidup gue. Gue nggak bisa nggak hancur waktu orang sialan itu datang dan seenaknya numpahin sampah ke gue seolah-olah itu adalah hal paling wajar di muka bumi ini” Hala tertawa, hampir terlihat sangat gila dengan ujaran histerisnya.


“Gue capek, Kak. Gue udah berusaha buat nggak mikirin hal itu lagi. Gue udah berusaha buat yakinin kalau.. kalau..” Dia terdiam sejenak. Tau bahwa tidak seharusnya dia mengumbar aib ibunya sendiri. Kepalanya bertarung dengan hatinya apakah dia harus mengatakan ini pada Sinar atau menyimpannya.


Namun, Hala sudah cukup muak dengan hal-hal menjijikkan itu.


“Keluarga gue hancur, Kak.”


Ya, hatinya kalah. Namun tidak benar-benar kalah saat dia menggigit bibirnya keras-keras untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Menarik napas, dia menutup matanya dan bersandar lebih jauh di dalam dekapan Sinar untuk meminta kekuatan.


“Gue udah berusaha meyakinkan diri kalau keluarga gue baik-baik aja. Kalau Mama sama Papa baik-baik aja. Tapi beberapa waktu terakhir ini. Mereka buat gue muak. Muak dengan segalanya. Gue udah capek dengan hal-hal menjijikkan yang mereka kasih lihat ke gue..”


“Kak.. gue manusia juga punya batas buat nahan diri gue sendiri”


Hala membuka memutuskan untuk memfokuskan dirinya mendengar debaran jantung Sinar dan berusaha menetralkan dirinya dengan mengikuti gerakan napas Sinar secara tidak sadar setelah hatinya terasa begitu sakit.


“Akhir-akhir ini gue rasanya hampir gila..” Hala melanjutkan dengan agak tenang ketika dia merasakan bibir Sinar menyikat kepalanya dengan tenang dan polos. Agak tidak yakin karena Hala merasa bahwa Sinar menarik diri terlalu cepat.


“Kerjaan gue banyak banget.. gue kelimpungan beberapa waktu ini. Target untuk tim pemasaran mulai naik lebih tinggi dari sebelumnya dan tim gue keteteran dengan banyak permintaan dan harapan yang tinggi dari atasan. Belum lagi mau masuk akhir tahun.. segalanya jadi makin ribet dan gue pusing banget..” Hala mulai menuturkan dengan perlahan. Air mata meluncur bebas satu persatu membasahi kaus yang dikenakan Sinar.


“Belum lagi, Pipang sakit. Gue khawatir banget sama kucing gue, kak. Walaupun sekarang dia sudah baik-baik aja dan sudah aktif. Tapi itu cukup buat ngebuat gue ketakutan setengah mati karena cuma dia yang gue punya dan dia adalah anak kesayangan gue”


Sinar mendengarkan kekehan Hala yang terdengar begitu sedih, perempuan itu terdengar terlalu lelah dengan segala hal yang membebani hati dan pikirannya.


“Terus.. adik gue belum ada kabar lagi selama seminggu ini.. dan empat hari lalu gue dapat kabar dia baru keluar dari rumah sakit karena tipes” Kali ini, Hala mencengkeram erat tangannya untuk menguatkan diri dari menangis sesegukan lagi.


“Dan tadi siang, gue dapat kabar menjijikkan dari orang yang nggak pengen gue temui. Itu yang bikin gue kesetanan sampai gue ngehancurin apa yang jadi tali penyelamat terakhir gue..”


Sinar memegang Hala dengan lembut dan tegas ketika kata-kata terakhir jatuh dari bibir perempuan itu. Dia mendekap Hala lebih dekat dengan dirinya untuk memberikan kehangatan lebih dan keyakinan bahwa ada seseorang yang mendukungnya dan berada di sisinya saat ini. Bahwa Hala tidak sendirian.


“Kak..” Hala mendongak untuk melihat Sinar yang kali ini fokus padanya secara keseluruhan. “Sebenarnya gue ngerasa kesepian. Meskipun gue punya Pipang.. meskipun gue punya sahabat-sahabat yang hebat.. dan meskipun gue punya Heksa..” Dia terdiam lagi kali ini. Pandangannya semakin jauh saat dia berbicara.


“Gue masih ngerasa nggak ada yang sayang sama gue seperti yang gue mau”


“Hala..”


“Lo tau nggak, sih, Kak? Gue ngehancurin rumah gue sendiri”


“Maksudnya?” Sinar bertanya dengan was-was. Pemikiran konyolnya adalah Hala sungguh menghancurkan rumahnya sendiri. Dia meringis, merasa sangat bodoh di kesempatan ini.


“Gue tadi confess ke Heksa kalau gue cinta sama dia”


“Ah..”


Hati Sinar berdenyut, retak di dalam yang dimana Sinar bisa mendengar retakan itu sendiri. Lelaki itu sudah berusaha move on hampir sebulanan ini, menjauh dari perempuan itu untuk menenangkan diri. Tetapi tetap saja, dia tidak bisa menyingkirkan perempuan yang sekarang berada di dalam dekapannya. Orang yang juga sudah menghancurkan hatinya. Orang yang menghancurkan rumah impiannya bersama perempuan itu.


“Gue ngelakuin itu karena gue stress banget, Kak, gue tiba-tiba pengen disayang. Pengen banget ngerasa dicintai balik sama orang yang gue cintai. Gue pengen punya dukungan penuh dari satu orang yang special buat gue”


"...Nyatanya, gue ngehancurin hubungan gue dan Heksa”


Sinar terkejut, menatap Hala dengan tidak percaya. Bibirnya terbuka ingin mengucapkan kata dan pertanyaan, tetapi dia yakin bahwa itu tidak pantas untuk ia kemukakan di situasi saat ini.


Namun dia tidak bisa berbohong. Hatinya tengah membuncah harap yang seharusnya tidak boleh dia kembangkan. Nyatanya, bunga harapan itu tumbuh dan titik senang yang jahat muncul disana tanpa bisa dihentikan begitu saja.


“Heksa nolak gue, kak. Dan sekarang dia nggak mau ngelihat gue lagi” tatapan Hala kosong, namun dia tertawa dengan hambar. “Bahkan kayaknya, dia jijik banget sama gue..”


“Jangan berasumsi sendiri, Hala. Emang kalau lagi berantakkan, hal-hal negatif yang bakalan nguasain kepala dan hati lo” Sinar menjabarkan dengan tenang. Meskipun dia tahu bahwa ada dua sisi yang kini sedang berebut untuk menguasai dirinya.


“Tapi gue serius, Kak” Kali ini, Hala melepaskan pelukannya pada Sinar. Perempuan itu mulai mundur dan mengusap wajahnya yang sudah bengkak. Dia mengambil jarak dengan lelaki itu yang kini sudah kehilangan kehangatan yang dia rasakan beberapa saat sebelumnya.


“Dia udah kecewa banget sama gue. Gue tau Heksa gimana soalnya”


“Mungkin aja dia cuma kaget. Dek. Mungkin dia butuh ruang untuk berpikir”


Sinar menuturkan dengan ringan. Dia bergerak dengan cepat ketika sadar Hala mengamati gelas yang sudah kosong di atas meja. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Sinar bergerak untuk menuju dapur mengambil air dingin dari kulkas. Dia melakukan hal itu dalam waktu yang sangat singkat.


“Enggak. Gue seratus persen yakin Heksa nggak bakalan mau temenan sama gue lagi. Dia jijik, Kak, sama gue”


Mata perempuan itu mengamati gelas yang tengah diisi air dingin oleh Sinar. Tangannya kemudian terulur untuk menerima gelas tersebut dengan lemah. Perempuan itu sepertinya sudah di tahap mulai tenang dan mengakui kekalahan dan kelelahannya.


Menyesap dengan pelan, Sinar memperhatikan perempuan itu dengan sayang. Dia sudah lama tidak melihat Hala. Bahkan sudah lama tidak bisa menyalurkan perasaannya yang gila untuk perempuan itu. Sinar sangat merindukan Hala. Dan sekarang, dia mengambil waktu untuk mengamati perempuan yang tengah hancur mentalnya itu.


Meski begitu, perempuan yang dia cintai masih terlihat luar biasa di matanya.


Walaupun jujur, dia ikut sakit ketika melihat seseorang seceria pujaan hatinya itu hancur berkeping-keping di depan matanya, Sinar lega bahwa dia adalah orang yang dipilih Hala untuk berada di dalam masa sulit perempuan itu.


“Dan ini bikin gue sadar..”


Sinar tersentak ketika Hala kembali membuka suara. Perempuan itu terdengar sangat lelah dan bersalah.


“Gue juga udah jahat banget sama lo, ya, Kak..” dia mendesis, tatapannya sendu pada gelas di tangannya.


“Jangan dipikirin.. perihal gue suka sama lo itu ya masalah gue. Nggak usah dipikirin bagian itu”


Bohong. Sinar sangat menginginkan Hala dalam hidupnya. Dia merana setelah penolakan yang Hala berikan padanya dan bahkan dia tahu bahwa dia senang dengan kenyataan bahwa Heksa menolak pernyataan cinta Hala.


Dia juga adalah orang jahat. Orang jahat karena sebuah perasaan yang tidak bisa hilang begitu saja.


“Gue minta maaf banget sama lo, Kak. Gue udah nolak lo.. bahkan gue juga nggak pernah coba ngehubungin lo buat mastiin kabar lo gimana setelah waktu itu.. dan sekarang tiba-tiba gue minta lo ada disisi gue waktu gue lagi hancur banget kayak gini” Hala mengangkat kepalanya untuk menatap Sinar.


“Sumpah, gue malu banget kak.. emang udah kesetanan gue kayaknya”


Sinar tidak bisa bereaksi, dia hanya diam. Jika dia membuka suara, lelaki itu tahu bahwa yang keluar adalah hal yang paling gila yang coba dia hentikan sebisa mungkin.


Hala merebahkan dirinya di bahu sofa. Kepalanya dia tengadahkan ke langit-langit ruangan sementara kakinya mulai ia turunkan untuk merasakan kelembutan karpet bulu yang memanggil. Jemarinya mengusap telinganya setelah menyelipkan rambut yang berantakkan dan kusut ke belakang anggota tubuh bertulang lunak itu.


“Lo tau nggak, sih, Kak?” Dia memulai lagi ketika Sinar bergeser untuk benar-benar menghadapi Hala. Dia tidak peduli ketika dia merasakan basah di bagian dadanya karena air mata Hala yang merembes dibajunya sejak tadi.


“Setelah hari-hari buruk yang gue alami beberapa waktu ini.. setelah banyak hal yang bikin gue ngerasa hampa dan stress di waktu yang bersamaan… gue cuma pengen dicintai, Kak. Gue pengen disayang.. gue pengen ada orang yang jadi punya gue, yang bisa ada buat gue dan bisa jadi tameng buat gue”


“Awalnya gue pikir Heksa adalah orang yang jadi role itu. Tapi nyatanya, sebagai sahabat dekat aja nggak cukup buat gue. Gue pengen lebih, perasaan pengen memiliki gue disaat gue jatuh bener-bener kuat. Tapi ternyata, Heksa nggak bisa memenuhi apa yang gue pengen.. apa yang lagi gue butuhin”


Sinar menangkap tatapan mata Hala yang terlihat kalah. Tarikan napasnya saja terdengar begitu sedih.


“Ya.. mau gimana lagi. Hidup kadang emang nggak pernah sesuai dengan apa yang gue mau. Kayaknya habis ini, gue bakalan benahi pikiran gue sendiri dan harus yakinin kalau gue cukup sendirian. Gue cukup jadi apa adanya kayak sekarang. Gue bakalan yakinin kalau gue cuma kesetanan sesaat aja. Habis itu, gue bakalan bisa balik kayak dulu lagi”


Kali ini, senyumannya mulai terlihat tulus.


“Jadi Hala yang biasa lagi. Jadi Hala yang kuat!” kekehan lucu perempuan itu keluarkan. Berusaha menutup luka kebelakang seolah-olah hal-hal buruk tidak pernah terjadi.


Tapi, Sinar membenci itu. Dia tidak bisa begitu saja melihat Hala memaksakan dirinya setelah Sinar melihat keaslian perempuan itu di depan matanya. Dia tidak ingin melihat fasad bahagia Hala namun jauh di dalamnya, perempuan itu hancur seperti kepingan kaca yang berantakkan menyebar di lantai setelah menghantam benda keras itu.


Jadi mungkin dia akan melakukan hal jahat yang akan menyakiti dirinya sendiri lebih jauh lagi.


Sinar tau dia bodoh, dia akan hancur pada titik yang lebih dalam. Namun, dia yakin bahwa, meskipun dia hancur, dia hancur dengan pilihannya sendiri.


“Kalau gitu..” dia memulai. Tangannya menyentuh jemari Hala dengan lembut.


“Mau coba jalin komitmen sama gue?”


Sinar tidak menunggu. Lelaki itu hanya membiarkan instingnya mengambil alih. Hal yang ia ingat setelahnya adalah, bagaimana rasa bibir Hala di bibirnya yang begitu jelas.


Sinar tahu dia hanya akan menyakiti dirinya lebih jauh. Dia tahu bahwa dia akan hancur dikemudian hari. Tetapi, Hala pantas dengan resiko yang akan Sinar tanggung sendiri dengan hidupnya.


...🍁...


...Tempat Pelarian Yang Dipaksakan - End...


.........


...🍁🍁🍁...


Sinar-Hala berlayar lebih dulu dibanding dengan pemeran utama kita🥲


Tapi tenang aja, chap selanjutnya kita akan masuk ke permasalahan Lisa dan Noren lagi!


Kali ini mulai terbuka sedikit-demi-sedikit permasalahan yang akan muncul~


Buat temen-temen readers yang sudah membaca, terimakasih banyak ya!!