
Kepala Lisa sakit. Bukan dalam artian yang sebenarnya, hanya saja, denyutan itu dihasilkan dari pertemuannya dengan Heksa dan pembicaraan absurd mereka kemarin. Bukannya mendapatkan hari baik dan percakapan santai, mereka malah bertengkar disepanjang jalan dari mulai pembahasan awal hingga pertengkaran random yang entah dari mana asal usulnya. Lelaki itu sangat tidak ingin kalah, bahkan hanya dari perdebatan konyol saja. Sedangkan Lisa sebagai seorang yang keras kepala, tentu saja tidak akan mengalah begitu saja sampai dia puas akan rasa kemenangan untuk menjatuhkan Heksa dari tempatnya berada.
Bertemu dengan Heksa di hari acak yang sebenarnya merupakan hari dimana dia melabelinya sebagai hari yang baik karena lepas dari tekanan stress sang Kakak dan pekerjaan dalam seminggu, malah menjadi semakin menambah beban pikirannya saja.
Bagi Lisa, Heksa sungguh adalah orang yang sakit untuk di ajak dalam perdebatan aneh yang tidak ada habisnya. Dalam pemikiran ini, tiba-tiba saja Lisa tersadar bahwa ada satu orang lain yang dia kenali sebagai dopplegangger Heksa tentang sifat dan perilaku aneh yang bisa dia samakan. Tentu saja, satu dan tidak lain adalah Noren seorang.
Dia menyadari bahwa Noren juga sama-sama tidak bisa mengalah dalam banyak kesempatan mereka untuk beradu argument dalam hal konyol yang Lisa ataupun Noren tidak sengaja sebutkan pada tiap kesempatan. Ah, bahkan mungkin Noren bisa lebih parah dari Heksa sendiri jika Lisa boleh jujur.
Memikirkan dua orang yang bisa dibilang sebelas-dua belas tentang ego tinggi pemenang perdebatan konyol, Lisa menatap layar ponselnya yang terang hampir menyakitkan mata karena dia baru saja selesai menonton thriller drama di ponselnya. Kegelapan yang dipantulkan oleh tayangan itu, membuat Lisa harus menaikkan kecerahan layarnya agar dia bisa melihat dan menikmati tontonan dengan baik. Sekarang, setelah dia menekan push notifikasi aplikasi perpesanan dengan tanpa sadar, dia meringis karena keputusan itu. Layar putih terang menyakiti matanya sehingga dia harus menyipitkan mata diantara buram bulir air yang menghalangi agar matanya bisa menyesuaikan pandangan dengan lebih baik.
Orang gila:
Lisa, sibuk?
Itu adalah pesan yang masuk dari Noren secara tiba-tiba.Lisa mengernyit melihat dua kata yang muncul di layarnya. Untuk apa Noren bertanya tentang kesibukannya? Jelas-jelas ini adalah hari minggu dimana dia sedang bersantai dan tidak sedang berada dalam gangguan apapun. Dan dalam hal menjauhi gangguan apapun, Lisa membuat ekspresi malas dan memilih untuk mengabaikan pesan dari oknum yang dia yakin sebentar lagi akan membuat ulah.
Seperti kebiasaan yang tiba-tiba saja terjadi, ponsel Lisa berdering dengan satu nama yang sama muncul di layar. Caller id yang bergetar dengan tampilan ikon telepon yang melompat-lompat membuat Lisa mengerang.
“Aduh, ini orang ngapain, sih, gangguin gueeeee” rengeknya sebal. Membanting wajahnya ke atas kasur, tangannya yang lain memukul-mukul bagian ranjang yang luas disebelahnya. “Masih pagi juga, Ish! malesin banget”
Merasa tidak terlalu berguna untuk hanya memarahi benda persegi itu dan dering yang semakin terdengar menganggu, Lisa memutuskan untuk mengangkat panggilan.
Dia baru saja akan mengomeli sang penelpon sebelum satu suara yang sudah dia hapal luar kepala dari seberapa sering lelaki itu menganggunya sudah lebih dulu menyapa telinga dengan keriangan yang membuat telinganya memberi respon sengatan dengung.
“Selamat pagi jodohnya aku yang cantik. Pesannya cuma dibaca aja, nih?”
Lisa tidak tahu apa yang membuat lelaki itu semakin hari semakin percaya diri. Tetapi, Lisa sudah terlalu terbiasa dengan keanehan dan kegigihan tiada tara dari Noren sehingga dia mengabaikannya begitu saja. Memilih untuk mengubah posisi dari tengkurap menjadi menatap langit-langit, Lisa menghembuskan napas keras sebelum dia membalas dengan suara yang tidak terlalu antusias.
Tentu saja siapa yang tidak? Dia hanya merasa sebal dengan Heksa kemarin dan sekarang seseorang yang lebih membuat kepala sakit kembali menganggu kebebasannya dan pagi santainya yang nyaman. Oh, tentu. Inilah seseorang itu, teman barunya yang masih saja hari demi hari menjadi seonggok benalu yang menyerap energi baik dan positifnya sehingga yang dia tinggalkan adalah sesuatu hal yang harus bisa Lisa tangani dengan caranya sendiri.
“Duh, Kak. Ngapain lo nelpon sepagi ini? Kalau nggak penting, gue matiin, ya? Sekalian gue blokir beneran ini nomor lo karena udah ganggu acara nonton pagi gue yang nyaman”
“Aduh, makin hari makin galak. Padahal kemarin habis baikan sama Sinar. Seharusnya aku di kasih hadiah nggak, sih, ini?”
Lisa berdecih ketika Noren terdengar sangat senang menggoda di seberang sana. Kekehan tau lelaki itu membuatnya sedikit jengkel, tetapi ada benarnya juga. Selama Sinar uring-uringan, Noren selalu menenangkannya dengan berbagai cara. Jauh di dalam hati, sedikitnya Lisa berterimakasih karena usaha Noren di waktu-waktu itu. Meski banyak acara menggoda yang tidak perlu, Lisa bisa mengabaikannya dan fokus pada ketenangan kecil yang diberikan.
Tetapi jujur, dia tidak ingin meninggikan ego Noren yang pasti akan membuat lelaki freak itu besar kepala. Jadi, dia akan menelannya begitu saja. Anggap saja Noren hanya mengatakan omong kosong dan Lisa lebih percaya bahwa dia yang menenangkan dirinya sendiri kala itu. Pujian untuk Noren tidak berarti baik, Jadi, dia tidak akan memuaskan apapun yang Noren harapkan dari itu.
“Hadiah apaan, sih, Kak? lagian lo nggak ngapa-ngapain juga. Orang Kak Sinar balik jadi Kakak gue yang biasanya karena dirinya sendiri, bukan karena lo. Jadi, diem, nggak ada hadiah buat lo”
“Yah, padahal aku udah berharap dapat hadiah manis dari Lisa. Sekedar makasih aja gitu udah seneng banget aku, loh, Dek. apalagi kalau di kasih senyum sama peluk, kan lebih bagus itu”
Memukul kepalanya dengan keras, Lisa lupa bagaimana akhir-akhir ini, Noren berubah menjadi lebih menjengkelkan dan membuatnya agak geli. Meskipun Lisa mendaftarkannya sebagai guyonan konyol Noren dalam membawa percakapan di antara mereka berdua, tetap saja rasa untuk mengacak wajah aneh lelaki yang lebih tua itu sangat menggebu-gebu sehingga Lisa merasa tangannya gatal jika tidak melakukannya.
“Diem, lo. Geli gue” Bentaknya cepat. Melompat duduk dari posisi, dia mencoba mencari kenyamanan yang lain “Lagian sorry, ya. Sampai kapanpun nggak ada ceritanya gue ngasih pelukan buat lo. Ogah banget!” Dan ini adalah ucapan seorang Nalisa yang sangat dan teramat jujur yang dia lontarkan pada Noren.
Tentu saja, meskipun sudah berstatus teman, Lisa tidak akan mau menyentuh Noren dengan cara yang seperti itu. Karena tahapan dan posisi Noren sangat jauh berbeda dari teman-temannya dan bahkan sahabatnya yang lain. Pun, dia hanya pernah memeluk Alpino saja dalam lingkar persahabatannya di luar refleks perayaan kegembiraan bersama anak-anak yang lain.
“Pasti akan ada saatnya, kok, Lisa” Suara Noren terdengar agak lebih kecil, tetapi tegas. Lisa baru saja ingin menyembur protes aneh, tetapi sudah lebih dulu diputus oleh Noren dalam ucapan yang membuat Lisa tidak terkesan.
“Lagipula, aku nggak dapat hadiah juga nggak apa-apa, kok. Ya, walaupun sedih sih, sedikit.. nggak, banyak, sih sejujurnya, dek” Noren mengoceh cepat, lalu melanjutkan. “Tapi tenang aja. Karena kamu belum bisa kasih hadiah manis yang aku mau, aku yang bakalan kasih hadiah buat kamu hari ini!” Keriangan yang diserukan dalam niat licik, ada di belakang nada suara.
Aneh. Noren aneh. Anak lelaki aneh yang sialnya hadir di dalam hidupnya, berteman dengan Kakaknya, mengatakan bahwa dia jatuh cinta padanya, mencoba menariknya dalam perjodohan paksa hingga berakhir hanya menjadi temannya saja yang telah Lisa restui. Oh, Lisa hampir penasaran, mengapa di dalam hidupnya yang aman damai sentosa harus dirusak dengan kehadiran orang aneh yang membuat Lisa hanya ingin merobek rambutnya begitu saja?
Lucu bagaimana semesta bekerja.
“Apaan hadiah-hadiahan? Kak, lo jangan aneh-aneh. Udah cukup lo bikin gue tenar di kantor gue, ya, sampai lo jadi ikon Sugar Daddy anak satu kantor. Nggak usah gila lagi, lo!”
Lisa tiba-tiba menampar bibirnya. Sial, dia sudah mengatakan hal yang salah karena Noren-, tentu saja akan bereaksi seperti ini;
“Oh, jadi aku udah jadi lambang Sugar Daddy disana? Aduh, nggak tau mau bangga atau malu. Soalnya aku kan cuma mau jadi punyanya Nalisa doang?”
“Diem lo, Kak. Sumpah. Mending lo diem, anjir. Omongan lo bikin gue merinding!”
Dia tidak berbohong. Karena memang, ucapan Noren membuatnya merinding sekujur tubuh. Geli sekali! Lelaki itu terdengar seperti om-om tua mesum saat kata-kata itu terlontar dari bibirnya. Abai pada reaksi yang Lisa beri, Noren tertawa di seberang panggilan. Terdengar sangat bersenang-senang seorang diri.
Memang, julukan orang gila sungguh cocok untuk menggambarkan seorang Noren. Bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk setiap hari secara keseluruhan. Karena Noren selalu tahu bagaimana cara tertawa di tempat-tempat yang seharusnya bukan untuk ditertawakan seriang itu.
“Yah, seharusnya di apresiasi, dong” Noren dengan dramanya, berulah kembali. Tetapi hanya untuk sesaat ketika lelaki itu kembali melanjutkan. “Tapi beneran, Lisa. Aku mau kasih hadiah buat kamu. Yah, nggak cuma kamu, tapi buat kakak kamu juga? Eh, kenapa jadi nanyain. Pokoknya, aku mau kasih hadiah buat kamu sama Sinar juga dalam rangka Sinar udah baik-baik aja dan kamu yang udah lebih tenang dan bahagia. Gimana, keren nggak calon imammu ini nanti, Lisa?”
Lisa mencoba menenangkan diri. Tentu saja, siapa yang tidak terganggu dengan kalimat di bagian akhir? Rasa-rasanya, keinginan untuk mencakar Noren semakin membara dan dia siap untuk melempar apapun ke wajah lelaki itu agar setidaknya, berhenti untuk melontarkan kata-kata aneh yang membuatnya geli dan sesegera mungkin ingin mencuci pendengarannya karena telah mendengar kalimat kotor yang tidak perlu.
“Gue nggak mau kesel karena ucapan terakhir lo, Kak, jadi, coba besok-besok buang kata yang nggak perlu keluar dari mulut lo, ya?” Lisa berucap dengan tenang, tetapi tatapannya sudah jatuh pada Ola yang tergantung pasrah di tempatnya. Siap untuk menerima santap pukulan lain karena kebodohan yang Noren sebabkan. “Tapi, sumpah. Ngapain lo ngasih hadiah dalam rangka begituan? Gue sama Kak Sinar nggak perlu dikasih hadiah begituan dari lo. Lagian nggak penting juga hadiah dari lo. Paling yang aneh-aneh bakalan lo lakuin”
“Aduh, padahal hadiahnya manis dan bisa mendekatkan dua buah hubungan yang sedang berusaha terjalin. Niat aku baik tau, dek” Noren bersuara. Diseberang, terdengar bebunyian aneh dan beberapa denting yang sepertinya kunci sedang beradu satu sama lain.
“Dan, tenang aja. Nggak bakalan ada yang aneh-aneh. Aku cuma lagi mau ngajakin kamu, Sinar sama calonnya Sinar buat jalan ke salah satu festival yang lagi di adain di pinggir kota daerah timur. Sekalian, ada event comifuro yang mungkin bisa bikin Sinar semakin semangat lagi.” Ada jeda dalam ucapannya, Lisa sekarang bisa mendengar bahwa Noren sedang bersiap untuk menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan.
“Yah, Double date gitu intinya. Bagus, kan, hadiahnya?”
Itu adalah apa yang dikemukakan Noren terakhir, membuat Lisa yang bersemangat mendengar festival dan event Jejepangan dalam satu suara yang sama, berakhir dengan senyum tipis tak terkesan. Tapi, yah, tentu saja. Dia bisa mencoret itu dari kepala dan pendengarannya. Lagi-lagi, sudah biasa.
“Bukan Double Date. Tolong diubah namanya jadi acara bahagiain Kak Sinar dan acara jalan-jalan membasmi kerinduan gue terhadap Jepang, ya, Kak. tolong banget gue, nih”
Dalam satu bantingan pintu mobil yang halus, Lisa tahu bahwa Noren sudah siap untuk berkendara ke tempat dimana dia berada sekarang.
“Nggak. Pokoknya tetap Double Date” suara santai nan gigih terdengar dari panggilan yang terasa lebih jauh. “Udah, ya, tunggu di rumah. Kamu siap-siap, nggak usah dandan yang cantik karena kamu udah cantik banget di mata aku. Dan tentu aja aku nggak mau kamu diambil sama orang lain. Jadi, yang seperlunya aja, ya? Kabarin Sinar juga, jangan lupa, oke? Lima belas sampai dua puluh menit lagi aku sampai kalau nggak macet. Bye, sayangnya aku~”
Dengan itu, panggilan terputus dan lemparan ponsel yang refleks adalah apa yang dilakukan oleh Lisa selanjutnya. Dia menangkupkan kedua tangan di wajahnya dan tiba-tiba teriakan menggema memenuhi ruang kamarnya bak kesetanan
Bukannya apa, dia hanya frustasi dengan bagaimana Noren tidak pernah bosan melemparkan omong kosong yang membuat Lisa geli setengah mati. Dia merinding sampai ke ubun-ubun. Pertanyaan cepat yang sama selalu dia lontarkan ketika Noren mulai menggila seperti itu.
Ola, adalah apa yang sekarang sudah berada dalam cengkeraman mautnya. Sudah menjadi samsak empuk ketika dia meneriakkan kata-kata yang harus dia keluarkan. Umpatan atas nama Noren, selalu melukis setiap satu hitungan pukulan pada tubuh beruang malang itu.
“Sabar, Lisa. Lo nggak boleh makin stress sama kelakuan Kak Noren yang makin menjadi-jadi tiap harinya. Lo lebih waras dari Kak Noren. Jadi, lo abaikan aja semua ucapan gilanya dia kayak biasanya. Lo udah terbiasa. Inget, lo udah terbiasa. Jadi, nggak ada kegilaan ini lagi, oke? Lo lebih pinter dari Kak Noren yang begonya minta ampun dan mirip monyet itu.”
Hembusan napas berat kembali dia keluarkan. Setelah itu, senyuman manis dia kerahkan pada dirinya sendiri untuk menghargai seberapa mampu dia bertahan dan menjalani hidup yang lucu ini setelah kehadiran Noren yang semakin hari semakin menarik Lisa untuk jatuh dalam kebodohan yang sama.
Nalisa bersumpah, seharusnya dia tidak jatuh pada kenyamanan dan keasyikan yang ditawarkan Noren pada malam hujan hari itu. Lisa seharusnya menendang Noren pergi daripada menawarkan pertemanan kepada Noren. Lihat saja sekarang, lelaki itu bahkan semakin semena-mena.
Tetapi, Lisa bisa bersumpah bahwa dia akan menunjuk dirinya sebagai orang aneh lainnya juga. Kenapa? Karena rasanya, dibeberapa titik dia merasa baik-baik saja dengan godaan Noren bahkan separah apapun itu, tetapi di titik yang lain, dia mempertanyakan kewarasannya dan kekuatan mentalnya karena tiba-tiba tidak tahan akan apapun kegilaan yang dilontarkan mulut buaya berbisa lelaki mengerikan itu. Seperti saat ini.
Sial, dia pasti sudah dihipnotis bahkan tanpa dia menyadarinya.
“Haduh, udahlah, daripada gue makin gila, lebih baik gue siap-siap” memegang kepalanya, Lisa berjalan menuju meja rias. Untungnya, dia sudah mandi satu jam yang lalu sebelum memutuskan untuk hanya menonton di layar kecil ponselnya.
“Yang penting hari ini, ke festival dan comifuro. Pokoknya fokus seneng-seneng dulu yang pasti!” Lisa menangguk, semangatnya tiba-tiba membara begitu saja seakan baru terbakar oleh api yang baru. “Kabarin Hala dulu biar bisa siap-siap!”
Nada sing as song yang menunjukkan kesenangan baru dari Lisa menggema di ruang kamarnya. Menggantikan kekesalan dan amarah kegilaan tidak lebih dari beberapa saat yang lalu. Mungkin, jika barang-barang di kamarnya bisa berbicara, mereka mungkin akan melantunkan kengerian yang sama dari seberapa cepat mood Lisa berubah.
......................
Tentu saja, Noren sepertinya terjebak beberapa kemacetan atau dia hanya mampir di suatu tempat dalam perjalanan entah untuk apa itu sebelum sampai ke kediaman Nalisa. Perempuan yang kini sudah siap dengan semangat yang membara di ruang tengah, mendandani kakaknya untuk juga ikut andil dalam persiapan acara jalan-jalannya, tiba-tiba di usik oleh bel yang berdering mengejutkan mereka. Itu adalah empat puluh menit yang lama dimana Noren berhasil sampai ke tempat tujuan lelaki itu.
Bersemangat, seolah-olah Noren tidak hanya menarik benang kekesalannya lebih dari setengah jam yang lalu, dia melompat dari acara menyisir rambut Sinar untuk menekan remote kontrol khusus utuk membuka gerbang secara otomatis dan membiarkan mobil Noren masuk ke pekarangan rumahnya. Menunggu di pintu, Sinar mengikuti dengan bingung di belakangnya.
“Siapa, dek?”
“Loh, kan gue udah bilang tadi, Kak.. lo lupa?” Lisa mengangkat alis, memberi ekspresi heran pada sang Kakak.
“Lo cuma bilang kita bakalan pergi ke event, terus dandanin gue karena mau ngajak Hala buat pergi juga? Gue kira cuma kita bertiga, atau lo mau ajak Alpino sekalian”
Lisa mengerjap. Ekspresi kakaknya benar-benar bingung. Ah, dia lupa bahwa dia tidak menyebutkan itu adalah ajakan Noren. Dan-, sebentar…
“Loh, Kak Noren nggak ada ngabarin Kakak?”
Setelah kata itu jatuh, Lisa bisa melihat ketegangan dari Sinar dalam reaksi yang tidak terkendali. Bingung, Lisa memegang lengan Kakaknya. Mencoba mencari tahu apa yang salah.
“Noren yang ngajak?” itu adalah apa yang Sinar tanyakan dalam seruan kecil keterkejutan.
“Iya, Kak. Gue kira dia udah ngomong sama lo?”
“Nggak. Nggak ada sama sekali” Sinar menjawab dengan cepat. Gelengan aneh lelaki itu berikan pada Lisa.
“Ih, aneh banget. Kenapa dia nggak ngabarin lo, ya, kak?” Lisa bertanya, bingung sendiri.
Mengabaikan hal-hal, Lisa memilih untuk mempersilahkan Noren masuk ke rumahnya dengan membukakan pintu untuk lelaki itu.
Senyuman hadir di wajah Noren yang terlihat sangat berseri-seri.
“Sudah siap buat jalan bareng?” adalah apa yang dia ucapkan begitu saja saat melangkah masuk melalui pintu.
“Udah, dong. Tapi Hala belum datang, nih, Kak” Lisa menjawab dengan semangat yang sama. Perasaan bingung dan campuraduk sebelumnya menguap begitu saja digantikan dengan antusiasme kegiatan yang akan datang.
“Oh, yaudah kalau gitu kita tunggu sebentar lagi sama-sama” Tawar Noren dengan tenang. Bibirnya membentuk lekuk yang lucu ketika dia mencari celah untuk mencubit pipi Lisa dengan gemas.
“Noren..”
Panggilan Sinar membuat pertikaian kecil antara Noren dan Lisa terhenti. Bingung dengan kegelisahan yang diberikan Kakaknya, Lisa mengernyit memperhatikan.
“Yo, Sinar. Apa kabar? Udah lama banget kayaknya gue nggak ketemu lo. Lo udah baik-baik aja, kan?”
Ada senyum yang tidak sampai mata pada reaksi yang diberikan Kakaknya. Agak aneh melihat renggang yang hadir seperti jurang di antara dua sahabat erat itu.
“Lo.. Serius? Kesini?” Kernyitan gigi yang saling membentur terdengar di ruang hampa. Semakin penasaran, Lisa mencoba menerka-nerka ada apa diantara mereka berdua.
Noren menghela napas dalam. Lelaki itu terlihat lebih tenang daripada Kakaknya.
“Lo kenapa masih tegang banget, sih, Nar? Kan kita udah bahas dari beberapa hari yang lalu. Udah di obrolin juga sama Mama lo, Kan? Serius, ini lo masih sebel sama gue?”
Tidak paham, Lisa mencoba mencari selidik, tetapi panggilan masuk dari Hala membuyarkannya. Keanehan terakhir yang Lisa lihat adalah, Noren yang merangkul Sinar dan menepuk bagian punggung lelaki itu dengan santai. Juga, beberapa bisikan yang tidak berhasil Lisa dengarkan sama sekali.
Aneh. Lisa bertanya. Sebenarnya, ini ada apa?
...🍁🍁...
...Date? Double Date? Nah...
.........
...🍁🍁🍁...
...PROMOSI NOVEL KARYA AS CEMPRENG...
...JUDUL: KENCAN KONTRAK...
nasib seorang gadis yang dijebak seorang model hingga dirinya harus berurusan dengan lelaki biadab . namanya lala clarissa berawal dari kecerobohannya salah mendamprat orang, ia harus berurusan panjang, menerima kenyataan bahwa dirinya menjadi objek pasar lelang dunia bawah. tidak sampai di situ, lala terjebak tidak bisa melepaskan diri dari jeratan inta ceo, demi melindungi keselamatan sang ayah dan berakhir pada sebuah perjanjian kontrak. ala tidak tahu bahwa ayahnya alen sergio adalah petarung hebat di dunia mafia dengan nama samaran algio. di tengah perjalanannya ia terjebak di dalam cinta tiga pemuda, dua diantaranya adalah seorang kakak dan adik dengan sifat yang sangat bertolak belakang.