Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Double Date? Hala Si Obat Nyamuk Part. 2



Bukannya Lisa yakin bahwa dia tidak akan bertemu siapapun yang dia kenal ketika dia menginjakkan kakinya di festival kota yang sangat ramai, bahkan mungkin bisa saja setengah warga kota sedang berada di tempat mereka sekarang. Belum lagi, Lisa tahu bahwa terkadang dunia ini adalah tempat yang sempit sehingga tidak bisa dipungkiri untuk menabrak beberapa orang yang berada di wilayah yang sama dalam garis edarnya dan beberapa wajah familiar yang dia kenal. Namun, Lisa tidak pernah berpikir bahwa dari semua orang, Jelita adalah yang muncul di hadapan mereka begitu saja dengan sangat halus.


Hari Jum’at yang lalu, mereka baru saja berhasil mendiskusikan acara jalan-jalan yang dikemukakan langsung oleh Jelita karena Elena mengeluh mereka sudah terlalu banyak diberatkan dengan beban kerja beberapa minggu terakhir. Sebagai Ketua Divisi yang ramah dan disayangi, Jelita mengusulkan untuk menghibur rekan kerja dan anak didiknya dimana perayaan kecil-kecilan itu jatuh pada minggu depan.


Padahal, setelah itu mereka melemparkan salam penutup dan janji bertemu lagi di hari Senin. Meskipun itu tidak diperlukan karena mereka memang wajib untuk kembali bekerja, Lisa tidak menyangka bahwa dia akan benar-benar bertemu dengan Kadiv-nya secepat ini. Tentunya, agak asing bertemu dan melihat Jelita di hari libur yang santai. Tetapi, segalanya berada dalam lingkup positif yang bakan Lisa sambut dengan perasaan yang ceria.


“Wah, nggak nyangka, ya, Miss, kita ketemu disini” Lisa melompat dari kursinya. Mengangguk kecil sebagi salam dan berseri melihat senyum lebar yang hadir di wajah cantik kepala divisinya itu.


“Iya, Lisa. Tadi waktu saya lihat kalian, saya kira saya salah orang. Tapi, waktu nggak sengaja ngelihat Mas Sinar, saya yakin saya nggak salah. Jadi, saya samperin kalian buat nyapa” Jelita tersenyum. Lisa dapat melihat wanita itu menoleh pada Kakaknya yang tiba-tiba berdiri untuk memberikan salam sopan santun padanya.


“Halo, Jelita. Nggak nyangka bisa ketemu, ya. Mana langsung ngenalin saya gitu aja” Sinar tertawa kikuk ketika dia berusaha untuk berbaur santai dengan Jelita. Wanita yang menawarkan tangannya untuk digenggam dalam satu sapa salam, segera Sinar raih dan guncang dengan lembut.


Lisa bisa melihat mata Jelita melengkung dengan cantik. Menarik bibirnya dalam satu garis senyum yang tahu, dia melirik pada Hala yang mengerjap di posisinya, berdiri bersebelahan dengan Sinar dengan raut wajah polos dan senyuman kecil. Kali ini rasanya, kepala Lisa sudah membetuk banyak skenario aneh dimana Jelita akan mengambil posisi Hala di sebelah Kakaknya jika saja ada satu orang diantara mereka yang mengajak Jelita untuk bergabung.


“Ah, iya, Mas. Saya nggak tau juga, rupanya mudah familiar sama wajah Mas Sinar” Satu tawa lembut yang ceria jatuh dari bibir Jelita. Sinar yang sudah menarik tangannya kembali ke posisinya semula, memberikan tawa atas respon.


“Wah, kalau begitu wajah saya pasaran banget, ya” Sinar melempar celetuk. Lisa cekikikan di tempatnya. Kakaknya terlihat sangat asing dan lucu. Masih persis sama seperti bagaimana pertemuan mereka di rumah penjualan Madevision saat itu.


“Oh, bukan gitu maksudnya, mas Sinar” Jelita agak kelabakan. Lisa mengangkat kedua alisnya, merasa tertarik ketika dia melihat wajah tersipu Kepala Divisinya. Rona wajah yang memulas kedua pipinya yang kencang membuatnya terlihat sangat jelas sekali sedang kasmaran.


“Ah, nggak apa-apa, kok. Saya cuma bercanda aja, ini”


Lisa merasakan Noren menyenggol lengannya. Ketika dia menoleh untuk bertanya apa maksud lelaki itu, tetapi yang Lisa dapat hanyalah tanda tanya dan kebingungan. Lisa berpikir, ah, benar juga. Noren tidak tahu menahu tentang Jelita dan bagaimana wanita itu menaruh rasa suka pada Kakaknya. Cekikikan, Lisa memilih menggeleng untuk mengerjai Noren. Biarlah lelaki itu terlihat tidak pada tempatnya karena tidak mengetahui apa-apa. Dia suka jika Noren terlihat agak bodoh dalam situasi ini. Setidaknya bagi Lisa, dia bersenang-senang di atas kebodohan Noren.


“Miss Jelita cantik banget hari ini!” Suara Hala masuk dalam percakapan. Lisa memperhatikan bagaimana wanita itu agak terkejut melihat kehadiran Hala. Lisa membatin dengan cepat, ah, tentu saja. Pastilah dimata Jelita sebagai wanita yang sedang jatuh cinta, Hala adalah sosok transparan. Belum lagi dengan kenyataan bahwa Jelita melihat bagaimana Kakaknya dan Hala berpelukan saat itu pastilah Jelita menjadikan Hala sebagai musuh tersirat.


Padahal, Lisa tahu bagaimana Hala dan Jelita tidak pernah ada dalam goresan konflik sedikit apapun itu. Hala bahkan lebih sering bergaul dengan Jelita di beberapa kesempatan sebelum Lisa menjadi dekat dengan wanita yang dikaguminya itu. Namun sekarang, roda sepertinya telah berputar dan kehadiran Hala menjadi semacam ancaman bagi Jelita.


Tapi, Hei! Jelita adalah orang yang baru masuk kedalam lingkar kehidupan Kakaknya, sedangkan Hala sudah lebih lama mencuri hati Sinar. Bahkan, Kakaknya itu sudah jungkir balik untuk sahabatnya. Menggigit bibirnya untuk tidak merasa kalut yang aneh dimana seharusnya Lisa menghentikan hal ini sesegera mungkin, dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk melihat sejauh mana Jelita akan melangkah. Dia ingin tahu bagaimana idolanya menangani hal tentang perasaan.


Dan tentu saja, dia ingin melihat bagaimana reaksi Sinar dan juga Hala. Terutama, sahabatnya itu yang sama sekali tidak menunjukkan respon pada hati yang Kakaknya serahkan mentah-mentah di atas piring emas untuknya.


Tapi apapun itu, Lisa mengabaikan hal-hal yang tidak perlu. Dia tidak memiliki hak untuk terjun lebih jauh dalam urusan asmara mereka bertiga. Jadi sekarang, kepala Lisa hanya berputar tentang bagaimana dia menikmati hari ini dengan semangat dan keceriaan yang membara sehingga satu orangpun tidak akan ada yang bisa mengganggunya.


“Oh, Hala disini? Aduh, maaf, ya. Saya baru sadar” Jelita meringis. Hala yang terkikik geli melambaikan tangannya pada perempuan itu.


“Nggak apa-apa, Miss. Saya juga daritadi nggak banyak ngomong soalnya lagi mengagumi kecantikannya, Miss, sih”


Tipikal Hala yang suka memuji, perempuan itu terlihat begitu berbinar-binar ketika mengagumi tampilan Jelita yang sekarang semakin tersipu. Lisa bisa melihat bagaimana wanita itu mencuri lirik pada Kakaknya yang tidak sadar. Oke, Lisa mungkin tidak yakin apa yang akan terjadi kedepannya.


“Jangan terlalu berlebihan, Hala” Tegur Jelita dengan halus.


Hala menggeleng cepat, lebih kuat dari yang seharusnya sehingga membuat helai rambutnya bergoyang dengan lucu.


“Nggak gitu, loh, Miss. Saya beneran!” Gigih, Hala terdengar tidak mau kalah sebelum dia menyadari sesuatu. “Oh? Miss sendirian disini?” pertanyaan cepat yang membuat Jelita agak terlempar sedikit. Dia tersenyum dengan lebar sebelum mengangguk kecil.


“Iya, sendirian. Soalnya nggak ada yang mau temenin hari ini. Pada ada acara sendiri-sendiri. Ya udah, saya jalan aja karena mau datang ke acara comifuro di gedung sebelah”


“Loh? Suka Jejepangan juga, ya, Jelita?”


Tidak disangka, Sinar menambahkan. Refleks, mungkin. Mengetahui bahwa dia kelepasan, lelaki itu segera meminta maaf dengan malu-malu. Lisa yang melihatnya menggeleng dengan penuh perhatian. Agaknya, bisa melihat kemana ini berlanjut. Tapi, dia hanya menerka. Pasalnya, Kakaknya terlalu banyak kejutan di dalam otaknya yang abu-abu itu.


“Eh.. itu, biasa aja, sih sebenarnya, Mas. Saya kesini soalnya mau nyari beberapa titipan punya adik saya yang tinggal di kota lain dan belum bisa datang karena ada tes sekolanya” Balas Jelita, ekspresinya terlihat malu-malu dan lebih perhatian. “Dia sudah merengek sama saya buat titip ini itu. Bahkan sudah bikin list buat saya bisa beliin beberapa buat dia” lanjutnya dengan percaya diri seolah-olah sedang menunjukkan karisma sebagai seorang kakak yang menyayangi adiknya.


“Oh, ya?” Sinar tidak mampu menutup dirinya untuk tidak bertanya. Jelita terlihat sangat dan terlalu menikmati percakapan dan kedekatan itu.


“Iya, Mas” Jelita menjawab lagi, tegas dan tanpa jeda. “Mas Sinar suka acara Jepang juga?”


Sinar tersenyum lagi. Mengangguk kecil namun penuh kejujuran. “Sebenarnya dulu saya juga biasa aja. Tapi karena lama di Jepang jadi saya udah familiar sama acara begituan dan semakin lama jadi semakin kecanduan juga sama event-event ginian. Bahkan, saya sampai punya koleksi action figur di rumah sana dan jadi ngikutin banyak series komik sama anime”


“Wah, persis sama adik saya juga, dong, Mas”


“Oh gitu? Emangnya adiknya kamu ngikutin apa pertama kali? Sekarang lagi senang apa dia?”


Entah siapa yang memulai kemudian, seperti gerakan yang halus, Jelita sudah bergabung bersama mereka. Duduk di salah satu kursi yang bersebelahan dengan Sinar. Mereka mengobrol panjang lebar, tertawa seolah-olah kelucuan tidak ingin di bagi pada beberapa orang yang berada di sana. Lisa, yang tidak sadar bahwa di beberapa titik Jelita menyapa Noren dan lelaki itu yang hanya mempersilahkan Jelita-, ikut megobrol di sana sini tetapi lebih memilih untuk menawarkan dan menanyakan menu makanan, bertanya padanya dan bahkan pada Hala yang lebih banyak diam dan memilih sibuk pada menu dan juga pertanyaan Noren.


“Lo kenapa diem, La?” Lisa bertanya pada kesempatan di mana Noren sibuk dengan ponselnya dan Hala yang sedang menulis menu milik mereka di atas kertas yang sudah disiapkan. Sejak salah satu pelayan berpakaian maid tadi datang, Lisa memilih untuk membiarkan mereka mencatat sendiri pesanan sebelum kembali memanggil. Pasalnya, mereka agak lama untuk memutuskan menu dan ditambah dari seberapa seru Jelita dan Sinar sedang berbincang.


“Hm?” Hala bergumam, mengangkat tatapannya untuk memenuhi wajah Lisa yang bertanya. Cemberut dengan bingung, Hala menegakkan tubuhnya dan memberi ekspresi aneh yang bahkan tidak seperti dibuat-buat. “Diem gimana? Orang dari tadi gue nimbrung obrolan lo sama Kak Noren, kok?” jawab Hala dengan gestur yang bahkan terlihat sangat santai seolah-olah dia tidak mengalami satu hal pun yang mengaggu sejak awal.


“Bukan itu maksud gue” Lisa berdecak. Menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Hala untuk berbisik, perempuan itu menarik sedikit lengan baju Hala untuk menemui bibirnya di telinga sahabatnya. “Lo keliatan lebih diem aja. Nggak heboh kayak tadi. Sebel, ya, kakak gue lagi seru seruan sama Miss Jelita?” Menggoda, dia mengangkat kedua alisnya dan seringaian muncul ketika dia melepaskan tarikan dari pakaian Hala.


Hala, memberikan tatapan aneh yang seperti tidak habis pikir, bahkan bisa diartikan bahwa dia sedang menahan suatu umpatan untuk mengatai Lisa bodoh dengan pertanyaan yang dilontarkan, dia melengos. Perempuan dengan mata bulat itu dengan gemas menjentik dahi Lisa yang dibalas dengan suara mengaduh tertahan.


“Kok gue dipukul, sih, La!” gerutu Lisa dengan tidak terima.


”Ya mau gimana, soalnya lo pertanyaannya apa banget, sumpah” Menggerutu, Hala mendorong dirinya untuk duduk dengan lebih santai. Tentu saja, Lisa aga iritasi melihat ketenangan yang Hala berikan di luar dari bagaimana dia memperlakukan Lisa yang membuatnya agak jengah. Perempuan itu tentu sadar diri bahwa setiap kali dia menggoda Hala tentang kakaknya, sahabatnya itu pasti merespon dengan reaksi yang sama berulang kali.


“Biarin, dong Miss Jelita sama Kak Sinar ngobrol” Hala berbisik, seakan tidak ingin mengganggu gelembung keseruan dua orang dewasa yang sekarang sedang membahas tentang salah satu karakter bernama Loid dan bagaimana Jelita merespon dengan dia juga menonton dan jatuh cinta pada karakter lucu bernama Anya. “Lagi seru itu, mereka. Kak Sinar juga udah semangat lagi. Kayak disiram bensin ke api tau nggak, sih, Lis? Langsung kebakar gitu, membara!” Dan seperti biasanya, Hala akan menemukan satu kata yang bisa dia akhiri dengan cekikikan geli yang menggemaskan.


Lisa menggeleng, ikut cekikikan ketika Hala mencoba untuk mengikuti gerakan Sinar yang tengah menjelaskan tentang sesuatu dengan tangannya dan ekspresinya sedemikian rupa.


“Gila, lo, La” Lisa mencemooh ketika dia berhasil menghentikan cekikikannya yang membuat perutnya sakit.


“Oh, lo lupa kalau gue udah gila dari awal? Gue kasihan deh sama lo, soalnya lo harus stuck terus sama gue sampe nanti-nanti. Nggak ada tanggal kadaluarsanya, sih, kalau gue liat-liat” Hala mencibir. Senyum perempuan itu merekah dengan lebar. “Selamat datang di tutorial menjadi badut dan orang gila ala Hala Ssaem~”


Hala mengaduh. Mengusap lengannya untuk menghilangkan nyeri akibat pukulan, dia melompat dengan agak terkejut ketika pelayan datang kembali hasil panggilan dari Noren yang sepertinya sudah tidak sabar untuk menyantap camilan pengganjal perut sebelum mereka berkeliaran lagi di area festival dan comifuro nanti.


Menyerahkan menu, Hala meminta maaf pada Noren karena terlalu lama memilih dan menulis menu sehingga membuat Lelaki itu kelaparan. Ketika Noren ingin menjawab, Lisa sesegera mungkin mencubit lelaki itu karena yakin Noren juga akan melempar goda untuk menakuti sahabatnya. Meskipun Hala paham tentang itu dan tidak mudah ciut pada godaan untuk membuatnya takut, tetap saja Lisa tidak ingin Noren membuat drama buruk yang aneh lagi.


Tapi, alih-alih Lisa yang mengambil balik bayolan percakapan lagi, itu Sinar yang menginterupsi dengan hal yang membuat Lisa sedikitnya terkejut.


“Eh, dek, ini Jelita nggak apa-apa, ya, ikut kita main bareng?”


Lisa yang gelagapan, merespon dengan anggukan dan jempol yang refleks. Dan setelah dia mendapatkan seruan positif dari Sinar dan penuturan terimakasih dari Jelita, dia merasakan sesuatu yang berputar aneh di perutnya.


“Haduh, Lisa…”


Suara Noren yang dalam mengejutkannya dan juga Hala. Kedua perempuan itu seketika menaruh perhatian pada satu-satunya pencetus ide jalan-jalan ini.


“Loh, kenapa, sih?” Lisa menyembur, cemberut datang di wajahnya karena dia sudah tahu apa yang akan Noren kemukakan.


“Ini, sih, namanya bukan Double Date, dong. Gagal rencananya aku, nih”


Noren menggeleng seolah-olah menuturkan kesedihan. Lisa melotot, sudah tahu. Sedangkan Hala tertawa, seolah paham dengan maksud yang dituturkan Sinar.


“Tetep Double Date, dong, Kak” ucapnya dengan nada gemuruh senang yang licik. Di saat ini, Lisa sangat ingin mengambil satu fakta yang membuatnya tidak begitu suka. “Soalnya, kan, udah ada dua pasangan. Lisa sama Kak Noren. Miss Jelita sama Kak Sinar!”


Pada tahap ini, Lisa akan percaya jika perasaan Kakaknya benar hanyalah bertepuk sebelah tangan.


Lisa bahkan tidak peduli dengan pasangan pertama yang disebutkan oleh Hala, dia mengabaikannya dengan keras. Tentu saja. Menghela napas dalam, Lisa memilih untuk bersandar di kursinya. Sedang Hala mempermainkan salah satu gantungan boneka yang Sinar menangkan di permainan lempar ban tadi.


“Tapi lo sebenarnya juga seneng sama Jejepangan, kan, La? Lo nggak sabar mau ke event, kan?”


--atau mungkin, Lisa hanya tidak bisa membaca sahabatnya secara keseluruhan?


“Ya emangnya apa hubungannya event comifuro, suka Jejepangan sama Double Date, sih, Kak Noren” Hala merengek, sebelum melanjutkan. “Aneh banget emang kalian berdua. Please, jangan bikin cocokologi abstrak, dong!”


Lisa, diam-diam melirik ke arah Noren yang memiliki senyum lebar di wajahnya seolah dia tahu dan sedang menjebak Hala. Entah ke dalam jaring yang mana, Lisa tidak bisa menebaknya.


......................


Seperti yang seharusnya, mereka mulai kembali menjelajahi arena permainan di festival yang sedang berlangsung. Mereka bahkan menghadiri salah satu acara short musical teather selama kurang lebih 20 menit sebelum langsung menuju ke tempat dimana tujuan akhir mereka berada. Sudah seperti seharusnya, gedung itu sangat ramai. Bahkan mulai dari luar gedung sudah terdapat banyak cosplayer yang di gandrungi dan diminati foto oleh para pengunjung. Komika yang menawarkan fanart dan mini komik atas beberapa anime yang mereka gemari terlihat sangat penuh dengan pembeli Bahkan, stan merch pun sudah memiliki pengunjung yang berdesakan.


Mereka berlima memasuki dengan hati-hati dan perlahan. Mengamati langkah sembari bersenang-senang dan mencuci mata dengan banyaknya seni serta standee dan papan khas yang menunjukkan karakter anime dari berbagai jenis genre, membuat suanasa terlihat lebih memanas dan menjadi tontonan yang memanjakan kesenangan.


Hala, berjalan perlahan di belakang dua pasangan yang terlihat terlalu tenggelam dalam keseruan mereka. Dia bisa melihat bagaimana Lisa sudah bercengkerama dan melontarkan beberapa kata gangguan untuk Noren yang dibalas lelaki itu dengan santai. Pertikaian kecil mereka terlihat lucu dari tempat Hala berada. Mereka pastilah sudah memiliki hubungan yang sangat dekat dan Hala senang bahwa Lisa tidak mengeluh tentang betapa frustasinya dia tentang Noren. Meskipun keluhan tetap ada, tetapi itu tidak seberat pertamakali lelaki itu berstatus sebagai calon suami Lisa. Yah, meskipun Hala tidak tahu bagaimana sekarang, tetapi rasanya melihat Lisa yang santai adalah apa yang membuat Hala juga menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Menoleh ke arah pasangan lain yang terjadi tidak lebih dari setengah jam yang lalu, Hala melebarkan senyuman sayangnya. Sejak tadi pagi, Sinar terlihat sangat kusut dan berjuang dengan dirinya sendiri. Lelaki itu bahkan mencoba menelan apapun kepahtian dari bagaimana hubungannya dan Noren belum sepenuhnya membaik. Tetapi saat ini ketika dia bertemu dengan Jelita, suasana hati lelaki itu jauh berbeda. Seolah-olah matahari pribadinya memunculkan diri begitu saja dan menyinari lelaki itu dengan lingkup kehangatan semangat baru yang di carinya.


Lega adalah apa yang Hala rasakan. Tidak melihat dan mengetahui Sinar murung lagi adalah apa yang dia butuhkan. Lelaki itu sudah terlalu banyak pikiran dan bahkan uring-uringan beberapa waktu. Sehingga ketika Hala ada disana, yang bisa dia lakukan hanya memegang tangan Sinar, atau hanya memeluk lelaki itu untuk sedikit tumpuan bahwa Sinar tidak sendiri dan Hala ada disana menjaganya. Itu baik, namun berbeda ketika dia bersama Jelita sekarang. Rasanya, segalanya sudah lebih baik dan Hala sangat bahagia jika dia boleh jujur.


Berhenti di tengah-tengah langkah. Hala mengerjap. Tubuh dua pasangan itu mulai memencar ketika melihat sesuatu yang menarik. Hala tertinggal di belakang. Dia berdiam diri agak lama sebelum berdecih dengan geli.


Tidak. Dia tidak sedih karena ditinggal begitu saja. Sebenarnya, dia suka bagaimana dia pada akhirnya tidak hanya menjadi ekor dua pasang itu. Sekarang, ketika dia sendirian, dia akan mengeluarkan dirinya sendiri dan memanjakannya dengan membeli beberapa barang yang sudah dia incar sebelumnya.


“Ah… akhirnya gue bisa beli merch Uchiha family gue” Terkekeh geli seorang diri, Hala berbisik pada dirinya sendiri di lautan para pengunjung. “Maaf, ya, gue ngacir. Semoga Double Date-nya lancar! Fighting, guys!!” serunya dengan seringai lebar.


Setelah memastikan bahwa dua pasangan itu sudah menghilang di antara pengunjung, dia sesegera mungkin melipir ke beberapa stan yang dia minati.


“Heksa pasti gila kalau gue cerita gue kesini” Hala bergumam geli. “Gue bawain apa yaa buat Heksa..hmm”


Matanya melirik kesekitar. Perempuan itu hampir tercekik kegembiraan pribadi saat dia melihat cosplayer Demon Slayer yang berada di stan merch anime tersebut. Dengan tanpa basa-basi, perempuan itu berlari dengan antusias menghampiri tujuannya.


“Heksa pasti iri gue foto bareng Nezuko” gemas, dia segera mengeluarkan ponselnya. Tetapi kemudian, ketika dia melihat figur aksi karakter yang sama, ada keputusan pasti yang dia buat. “Heksa pasti seneng kalau gue bawain ini. Hehe”


Intinya saat ini, meski sendirian, Hala bersenang-senang.


Sementara itu di sisi lain, dalam kesadaran yang tiba-tiba, seseorang terlihat sangat panik.


...🍁...


...Double Date? Hala Si Obat Nyamuk Part. 2...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA INDAH WULANDARI...


...JUDUL: AKU MAFIA BUKAN BIDADARI...


Velia Selkova pergi ke negara lain untuk memulai hidup setelah dikhianati suaminya. Baru saja tiba ia mendapat musibah yang membuatnya terjun ke dunia Mafia. Karena sebuah perjanjian, Velia akhirnya menjadi Ketua dari Klan Red Dragon . Itu membuatnyamendapat kesempatan untuk mengungkap pelaku yang ingin membunuhnya. Setelah mengetahui semuanya ia ingin membalas dendam. Bukan hanya balas dendam yang berhasil namun ia juga menemukan cinta yang menyembuhkan luka lama.



Note:


Chapter besok masih seputar hubungan Hala dan Sinar, ya😊