Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Sudah Terbiasa; Bus, Halte dan Awal lain?



Terlepas dari kenyataan bahwa Noren mengatakan hal yang terlalu bodoh padanya, disinilah Lisa berada beberapa jam kemudian. Setelah melakukan percakapan yang sama sekali tidak berbobot dan lebih banyak menyebabkan kekonyolan hanya dari perspektif opini yang dimiliki oleh Noren, mereka tertidur, menyusul Sinar ke alam mimpi. Dengan Lisa nyaman dalam balutan selimut lembut di atas sofa empuk yang nyaman, Noren berbaring bersebelahan dengan Sinar. Plushie panda yang Lisa jatuhkan di beberapa kesempatan tak sadar menjadi alas bantal dadakan. Itu adalah tidur yang nyaman dan tak sadar sebelum akhirnya mereka dibangunkan oleh Sinar ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.


Terpaksa bukanlah hal yang mengejutkan lagi untuk Lisa, tetapi ikut dalam ajakan Noren dengan alasan yang konyol tentang rindu tanpa merasa terbebani adalah apa yang membuat dirinya terdengar lebih bukan dirinya. Tetapi ketika Noren kembali bertanya pada hitungan ke Sembilan (Lisa tidak menghitungnya, itu Sinar yang melakukannya)-, ada sesuatu yang membuatnya mengangguk dan mengiyakan ajakan lelaki itu. Bahkan perasaan tidak buruk tentang pergi keluar menghabiskan hari libur di weekdays karena tanggal merah adalah apa yang muncul di kepalanya. Jadi, setelah membereskan ruangan, dia bergegas membersihkan diri sebelum akhirnya melompat mengikuti langkah Noren keluar dari rumahnya.


Teriakan Sinar untuk berhati-hati dan ancaman Kakak lelakinya kepada sang sahabat untuk menjaga Lisa dalam jalan-jalan malam mereka adalah apa yang dapat Lisa tangkap sebelum pintu benar-benar tertutup. Lisa, dalam balutan hoodie hangat kesukaannya, mengangkat tudung jaketnya untuk menyebunyikan kepalanya. Perempuan itu bahkan mengikat tali tudung hoodienya di bawah dagu dengan kencang, membuat wajahnya membulat dengan lucu. Itu adalah apa yang dikomentari oleh Noren cepat-cepat ketika dia menangkap pipi yang menggembung. Lisa mengabaikannya dengan memutar bola mata dan kibasan tangan.


“Mau kemana?”


Itu suara Noren yang terdengar lucu ketika Lisa berjalan mendahului lelaki itu menuju mobil Noren yang terparkir di sisi jalan kompleks, bersebelahan dengan mobil milik kakaknya. Lisa mengernyit, berbalik untuk menghadapi Noren secara langsung. Wajah bingungnya membuat kebulatan yang ditampilkannya semakin membuat Noren meleleh di dalam.


“Katanya mau jalan? Ini mobil lo, kan?” suara Lisa sedikit bergema di pekarangan rumahnya. Sisi kompleks masih sepi, tidak terlihat tetangganya yang berlalu-lalang di sekitar padahal malam masih awal.


“Emang mau jalan” Noren tersenyum. Rambutnya bergerak dengan lucu terbawa angin. Merasa risiih sedikit, lelaki itu menyibakkannya kebelakang hany untuk anak rambut itu kembali menampar dahi dan sedikit bagian matanya. Dia mengaduh dalam ringisan sebelum berdehem. Lisa memperhatikan dengan tidak terkesan. “Tapi jalannya pake kaki. Namanya jalan-jalan, kan? kalau jalan pake apa?” lanjutnya setelah salah tingkah, agak malu.


“Emang mau jalan ke mana? Jalan Surga lagi?” Lisa bertanya. Kakinya sudah melangkah mendekati Noren yang masih belum bergerak dari tempatnya. “Gue udah sering kesana. Lagi nggak pengen jajan atau main disana. Kalau mau kesana, gue masuk lagi, nih. Lo aja”


“Enggak, bukan” Jelasnya langsung. Noren menggeleng dengan cepat sebelum memberikan kode pada Lisa untuk ikut dengannya melangkah. Mereka mulai berjalan ke jalanan kompleks di atas trotoar batu yang ukirannya sudah dihapal oleh mata dari seberapa sering dia melewatinya.


“Kemana, sih? gue nggak suka lo ngomong setengah-setengah, Kak. Kalau nggak ada tujuan nggak usah ngajak gue. Nanti gue capek sendiri, nggak ada seru-serunya” Dia mengomel lagi, menendang kerikil yang berpapasan dengan kakinya. Angin segar menerpa wajahnya yang tidak terlihat begitu senang dengan tiba-tiba, membuat Lisa hampir kelabakan.


“Hmm..” Noren bergumam sebentar, “Kalau aku ajak naik bus mau? Kita turun di setiap pemberhentian. Emang nggak ada tujuan yang pasti, tapi nanti kalau semisal terbersit ada sesuatu yang mau kamu atau kita lihat dan tuju, bisa aja, sih”


Wajahnya ia palingkan untuk melihat Lisa sepenuhnya. Bertanya dalam pandang penuh harap yang terpeta seperti buku yang terbuka, berharap Lisa menyetujui idenya dan tidak kembali berlari masuuk ke dalam rumahnya dan bersembunyi di kamar. Mereka juga baru saja berbelok ke jalan besar, halte sudah di depan mata dan Noren tidak bisa jika Lisa hanya menolaknya saat itu juga. Tapi tetap saja, dia bisa melakukan banyak hal yang terbesit di kepalanya jika opsi yang Lisa pilih tidak sesuai dengan kemauannya.


Noren menyeringai tanpa dia sadari dan itu membuat Lisa menampilan wajah jijik yang paham. Tangan Lisa menampar pipi Noren dalam gerakan yang tidak terlalu lembut dan tidak juga keras hanya untuk mengalihkan pandangan lelaki itu dari dirinya.


“Sumpah lo nggak jelas, Kak” Lisa menggerutu. Tangannya ia masukkan kembali ke saku hoodienya. Tetapi langkahnya tetap maju menuju halte sebagaimana pikirannya berbicara dengan autopilot. “Ada mobil tapi milih pake bus. Maunya apa, sih? apalagi nggak ada tujuan begitu. Sumpah, beneran aneh” bibirnya masih mengomel banyak hal yang bertolak belakang dengan tujuan kakinya sekarang.


Noren tersenyum lebar. Cekikikan ketika dia melangkah dengan lebar menyusul Lisa yang sudah beberapa langkah di depannya.


“Ya, ganti suasana? Lagian sebenarnya ada tujuan. Tapi nanti aja aku bilangnya”


“Dih, sok misterisus” celetuk perempuan itu dengan cepat. Noren mengangkat bahunya dengan senang hati, bersikap seolah-olah acuh tak acuh dengan apa yang dilontarkan Lisa, padahal hatinya bersorak tentang betapa imutnya perempuan itu.


“Nggak apa-apa, sebentar doang juga. Nanti bakalan aku kasih tau kalau busnya udah muncul”


Mereka sudah berdiri di halte. Ada beberapa orang yang berada di sana. Duduk hampir salig berjauhan dan ada yang memilih berdiri seolah-olah tidak ada kursi yang tersisa untuk menyamankan diri dari kelelahan. Begitupula dengan Nalisa dan Noren. Mereka berdiri di sisi kanan halte, bersebelahan dengan papan iklan yang bersinar dalam layar intercom. Lisa yang masih dengan tangan di dalam saku, melompat dari satu kaki ke kaki lainnya, bergumam melantunkan irama musik dalam gumaman yang terlintas di kepalanya. Noren yang mendengar, berusaha keras untuk tidak meraih tangan Lisa dan menggenggamnya. Dia sangat merindukan perempuan itu dan berada dalam jarak dekat dengan Lisa membuatnya gila dalam kebahgaiaan murni.


Tidak ada pembicaraan dalam acara menunggu bus. Lisa masih dengan gumaman lagunya yang meskipun sumbang masih tetaplah indah di telinga Noren, sedang lelaki itu sibuk dengan ponselnya dan tangannya yang ia paksa masuk ke dalam sakut jaketnya. Dia tidak ingin mengejutkan Lisa dengan menarik perempuan itu lebih dekat dengan dirinya, jadi dia menahan untuk waktu yang lebih baik. Lagipula malam ini Lisa sepenuhnya untuk dirinya dan mereka akan bersenang-senang.


Beberapa menit kemudian, Bus datang dengan suara mesin yang khas. Kepala Lisa terhentak dan perempuan itu segera melangkah ke depan. Noren yang terkesiap segera menarik lengan Lisa dengan cepat, menyebabkan keterkejutan dari perempuan itu.


“Ih, Kak. Apaan, sih? ini, lho, busnya udah dateng” Lisa menggerutu. Matanya menatap kesal pada Noren yang terkekeh. Tanpa bisa dicegah, lelaki itu mengangkat tangannya untuk mencubit pipi Lisa. Tingkat kegemasannya sudah di ujung batas dan Noren ingin sekali saja menguyel pipi perempuan itu.


“Dih, jangan sentuh-sentuh!” keluhnya dengan menepis tangan Noren. “Ayo naik busnya, itu mau pergi, tau! Katanya mau jalan-jalan pake bus?” Lagi, dia mencerca.


“Sabar dulu” Noren kembali menarik Lisa untuk kembali ke tempatnya semula. “Bukan yang itu, satu lagi” Jelasnya dengan senyuman di wajah, senang dengan kebingungan di wajah Lisa.


Kepalanya celingukan untuk mencari sosok bus yang akan meraka tumpangi. Ketika kepala bus muncul dalam kegelapan di bawah lampu jalan, senyuman Noren merekah dan dia dengan cepat menarik Lisa untuk berdiri lebih dekat ke sisi jalan.


“Ini dia” Bisiknya dengan suka cita. Lisa memeriksa apa yang beda dengan bus tadi, tetapi kemudian dia tersadar.


Itu adalah bus listrik yang pernah Sinar jelaskan padanya saat mereka pulang bersama. Itu adalh proyek yang dimana Kakaknya bekerjasama dengan Noren dalam fasilitas mesin dan sparepart. Logo bus yang mereka tumpangi saat itu adalah jelas kepemilikian Agiov Volks Grup. Tidak salah lagi.


Lisa berpikir dengan cepat, Noren pasti sedang berusaha menyombongkan diri, jadi dia menyuarakannya dengan keras.


“Mau nyombong, kan, lo, Kak” itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan cepat yang keluar dari bibir Lisa. Lelaki itu dengan cepat tertawa ketika dia membawa Lisa masuk, membayar bus dan memilihkan mereka tempat duduk. Itu posisi di tengah sebelah kiri, dengan Lisa yang ditempatkan di dekat kaca dan Noren mengurungnya di sebelah.


Ada beberapa orang yang berada di sana. Sekitar lima atau enam orang anak muda dan satu wanita dewasa dengan bayi. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, tidak memperdulikan dunia luar, dan sebagiannya lagi kehilangan jejak dalam kelelahan yang tersirat di wajah.


“Oh, kamu sadar ternyata” ucapnya dengan lemut, agak senang di dalam hati.


“Yaiyalah, orang ini juga proyek bareng kakak gue, ya masa gue nggak tau?”


“Jutek amat, dek. Kan aku cuma ngegodain kamu” Noren mendesis geli dengan ucapannya sendiri, sadar akan pergerakan Lisa yang akan melakukan hal brutal dengan tubuhnya, dia segera mengunci kedua tangan lisa yang sudah menyembul dari balik persembunyian.


“Nyebelin, lo. Gue turun aja, apa, ya?” Lisa mendengus, menarik tangannya dengan kasar dan memilih untuk melihat ke luar jendela bis. Fasilitas yang diberikan memang nyaman dan Lisa bisa melihat betapa wajarnya Sinar begitu berusaha dalam proyek ini. Dan mungkin, Noren juga begitu.


“Nggak bisa” Noren menyatakan tanpa jeda. “Lo tahanan gue sekarang” Nadanya berubah rendah, mencoba menakut-nakuti Lisa. Tetapi perempuan itu kembali mendorong wajah Noren dari pandangannya dan memberikan tatapan malas. Matanya mungkin sudah bisa dibilang lelah dengan bagaimana dia bereaksi hanya untuk Noren seorang.


“Terus, tujuan lo buat gue duduk di bus proyek lo dan kakak gue apaan?” Lisa bertanya tanpa niat yang layak. Dia hanya mengagumi bagaimana deru mesin terdengar lebih lembut dan kursi yang dia dudukkan membuatnya terbuai dalam kenyamanan. Noren terdengar menghela napas lembut mencoba menyamankan diri.


“Yah, bener, mau sombong” Noren tertawa dalam seringai lembutnya sebelum menambahkan, “Tapi kebanyakan pengen cerita tentang bus ini, sih. aku juga belum pernah bener-bener test drive personal tentang bus ini. Paling hanya beberapa yang aku cobain, selebihnya ya karyawan yang bertugas. Jadi, malam ini beneran pengen cobain hasil yang udah aku, Sinar dan orang-orang di perusahaan kami berdua secara personal. Kemarin sehabis pulang dari Finland sebenarnya pengen langsung nyobain sendiri, tapi karena aku kangen berat sama kamu, dek, aku jadi punya opsi lain buat nikmatin perjalanan percobaan ini”


Suaranya mendayu panjang lebar dalam intonasi bisikan yang rendah. Berusaha untuk tidak mengganggu beberapa orang yang berada di sekitar.


“Sia-sia banget, sih, kalau kata gue. Seharusnya lo cobain sendiri aja”


“Ya nggak sia-sia, dong. Ini kamu udah ada disini, jadi tahanan aku, di sebelah aku, dan nyobain naik bus proyek hasil dari aku dan Sinar. Jadi nggak sia-sia, yang ada aku malah beruntung, tau”


Lisa menegang sebelum menggelengkan kepalanya dalam sebuah kenyataan yang ada benarnya. Dia agak menyesali keputusannya untuk mendorong ego Noren naik.


“Gue cuma mau menghabiskan hari libur dengan lebih banyak kegiatan, Jangan terlalu pede, lo, gue iyain buat ikut sama lo, Kak” Sanggah Lisa. Berkilah adalah apa yang menjadi kemampuannya, tetapi untuk kali ini, dia menyatakan fakta yang ada.


“Iya, deh, suka-suka Lisa aja maunya gimana. Yang penting sekarang kamu udah sama aku dan nggak bisa kemana-mana selain sama aku”


“Dih? Siapa bilang?”


“Aku, kan, tadi?”


“Gue bisa pulang naik ojek?”


“Nggak boleh. Aku udah janji sama Sinar bakalan jagain kamu dan aku juga udah janji sama diri aku sendiri nggak bakalan biarin kamu pulang sendirian atau lepas dari aku malam ini. Pokoknya malam ini kamu punya aku, Nalisa”


Lisa mengerjap, terhenyak dengan ucapan Noren yang diserukan dengan tergesa-gesa dan kepastian dalam ketegasan pada wajahnya Matanya membulat sebelum dia sadar bahwa suara Noren terdengar lebih keras daripada yang seharusnya dan Lisa merasa merah mulai merambat ke wajahnya. Perasaan malu berdesir. Dengan cepat, dia menutup wajah serius Noren dengan kedua tangannya dan berbisik dalam ketegasan yang sama agar Noren diam.


Ada napas yang berhembus dengan lebih berat, menyingkirkan atmosfer tidak nyaman sebelum membaliknya menjadi sebuah keringanan yang menyebar di seluruh ruangan bus.


“Aku berhasil buat kerja sama dengan perusahaan Kwon tentang bus ini. Udah bisa memasarkan bus ini ke Korea Selatan. Makanya selama beberapa hari kebelakang aku absen banget dari coba hubungin kamu dan coba buat ketemu sama kamu. Aku lagi urus ini itu tentang kontrak kerjasama. Seharusnya itu berhenti di hari kelima, tapi Papa minta aku ketemu di Finland buat nemenin dia survey yang pada akhirnya cuma alasan buat ketemu sama aku dan jalan-jalan bareng”


Ada kekecewaan di wajahnya, cemberut besar yang munul ketika Lisa melirik Noren yang bercerita. Kedua alisnya terangkat aneh. Dia tidak mempertanyakan tentangj mengapa Noren terlihat sedh paadahal Papanya sedang meminta waktu anak lelakinya. Lisa hanya ingin bertanya kenapa Noren menceritakan hal yang tidak perlu padanya.


“Jadilah aku berangkat ke Finland. Padahal seharusnya aku bisa ketemu kamu lebih cepat” Tuturnya kemudian mengabaikan pandangan Lisa.


“Papa nggak peduli sama kerinduan aku sama kamu, dek. Padahal nggak ketemu sehari aja aku udah kangen berat sama kamu”


“TMI yang nggak perlu. Skip, mending diem” Lisa melambai malas di wajah Noren. Lelaki itu mendengus tawa geli. Dia membiarkan tangannya jatuh di paha, menyamakan gestur Lisa tangann Lisa.


“Nggak karena aku beneran sekangen itu sama kamu”


“Hmm, perberhentian selanjutnya kapan, ya?”


Mengalihkan pembicaraan, Lisa mencoba sibuk dengan ponselnya. Noren yang sadar, sudah terlalu terbiasa. Dia malah merasa menggebu untuk mencoba lebih dan lebih lagi mendorong semuanya pada Lisa.


“Sebentar lagi. lima menit atau tujuh menit lagi. Kenapa? Udah nggak sabar mau coba bus lainnya? Atau udah kepikiran mau nyari tumpangan pulang?” Noren agak was-was, tetapi dia menahan diri meskipun suaranya sudah berbeda.


“Dih, katanya tadi gue ngga bisa pulang kalau bukan sama lo? Gue pulang beneran ini, tau rasa lo” suara Lisa agak menggigit, tetapi dia cukup terhibur dengan melhat reaksi instan dari Noren.


“Ya nggak, lah. Nggak boleh” serunya cepat tanpa jeda.


“Yaudah kalau gitu. Gue tau kita mau ngapain selain turun naik bus sampe capek”


“Emang mau ngapain?”


Lisa menyeringai. Senyuman lebarnya sudah menguasa wajah cerianya. Tudung hoodie sudah ia lepas beberapa waktu lalu. Rambut lembutnya membelai sisi wajahnya, jatuh dengan godaan.


“Disana ada minimarket? Atau toko kecil sejenis alfaindo?” tanyanya cepat tanpa menjawab. Noren ditinggalkan dengan kebingungan akan pertanyaan.


“ya, ada. Pasti. Tapi harus jalan dulu. Bentar aku coba lihat, deh” dengan begitu, dia cepat dalam mencari pada ponselnya. Lisa mendengung, menunggu hasil pencarian Noren.


“Ada, nih”


“Semua pemberhentian?”


“Iya, ada. Deket. Yang paling jauh cuma sekitar 7 menit jalan kaki”


“Oke bagus kalau gitu!”


Lisa bersorak. Sudah membayangkan keseruan yang akan datang. Dia tidak akan menyia-nyiakan jalan-jalan malamnya dengan kekesalan dan ketidaknyamanan. Dia harus mencoba hal-hal baru meski bersama Noren yang terus menerus mencoba menggodanya. Jadi, dia akan masuk kedalam sebuah permainan dan memanjakan dirinya sendiri.


“Emang mau ngapain, sih, Lisa?”


“Nanti lo juga tau sendiri, kak” serunya dengan nada riang yang mendendangkan telinga dan hati NJoren.


Bus perlahan berhenti. Halte sudah di depan mata. Dan dengan Lisa yang melompat dari kursi, menarik tangannya untuk cepat keluar dari bus. Noren bisa apa untuk tidak jatuh cinta terllau dalam pada apapun kejutan yang Lisa berikan padanya?


Kegilaan kerja dan emosi yang membuatnya frustasi beberapa minggu belakangan, terasa seperti beban yang terhapus perlahan demi perlahan. Cekikikan halus khas jatuh cinta, adalah apa yang dia dendangkan ketika mereka terpapar angin segar malam hari lagi.


Dia jujur, akan menikmati hari ini dan mungkin, di ujung waktu, dia akan melancarkan apapun yang sudah dia persiapkan untuk Lisa. Menuju ke jenjang selanjutnya, dia akan menggapai hal itu secepatnya.


Di ujung hari ini.


Noren tidak akan melepaskan kesempatan yang datang.


...Sudah Terbiasa; Bus, Halte dan Awal lain?...


.........


...🍁🍁🍁...


Seharusnya bab "Sudah Terbiasa" Ini sudah selesai sampai di sini. tapi sekali lagi, NT hanya bisa 3k kata perchapter nggak seperti sebelumnya. Jadi, sampai ketemu di chapter selanjutnya, ya☺ akan semakin menuju ke konflik perlahan-lahan dan perjalanan masih sangat jauh. semoga masih ada yang mau stay dan mengikuti kisah Noren-Nalisa dan tokoh lainnya.


Terimakasih banyak🥳🥳🥳🥳


Terimakasih lagi sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya Kak Tyatul, nih! Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA TYATUL...


...JUDUL: MENJADI PELAYAN PRIBADI KEKASIHKU...


Viola Angelista adalah seorang gadis yatim pintu yang ditinggal orang tuanya dalam kecelakaan di usia 16 tahun. Viola merupakan gadis yang sangat cerdas di kampusnya, diusianya yang baru 21 tahun ia sudah lulus S1.


Memiliki paras cantik tak membuatnya sombong akan anugerah yang tuhan berikan. Hidupnya tambah bahagia dengan adanya sang kekasih yang sudah 2 tahun ini menemaninya. Namun, dalam satu malam kebahagiaannya hilang kalau mendapat kabar jika kekasihnya mengalami kecelakaan saat ingin ke apartemennya.


Galaksi Aryano adalah CEO Ryano Group . Galaksi memiliki pacar yang sangat ia cintai selama 2 tahun ini,dia adalah Viola. Memiliki wajah tampan membuatnya menjadi idola di kantor tapi tak ada yang mampu menggantikan sang pacar di hatinya.


Di malam itu ia akan memberikan kejutan untuk pacarnya, tapi nahasnya di malam itu juga Galaksi mengalami amnesia dan kkelumpuhan.



Selamat membaca🥰