Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tentang Rasa (Heksa Sight) : Emosi Yang Tidak Bisa Dijabarkan



Heksa tidak yakin berapa lama dia menatap layar komputer yang berisi data-data dan sistem yang masih belum mampu ia rampungkan sama sekali. Dia juga tidak tahu sudah berapa lama dia terjaga.


Beristirahat menjadi sesuatu yang sulit saat dirinya tidak bisa mengawang ke alam mimpi indah yang diinginkannya. Pun tentang itu, Heksa juga sudah lupa mimpi indah itu dapat didefinisikan seperti apa rupanya.


Empat kaleng kopi yang ia beli di supermarket terdekat dari kantor mengotori meja kerja miliknya. Heksa tidak tahu bagaimana dia tidak membuang kaleng-kaleng kosong itu kedalam tempat sampah terdekat yang hanya berjarak tujuh langkah dari biliknya. Tapi, dia mendapati dirinya tidak begitu peduli.


Lalu-lalang pekerja tetap disekitarnya bagai dengung lebah yang tak berarti-, bisikan aneh dan teguran yang datang berubah menjadi ucapan tumpul yang tidak mampu didefinisikan oleh otaknya yang kosong melompong.


Tidak ada yang salah, Heksa menawarkan keyakinan itu pada dirinya. Karena sebenarnya, memang tidak ada satupun hal yang salah dalam hidupnya. Semuanya berjalan dengan santai seperti bagaimana adanya rutinitas keseharian yang sebelumnya Heksa lakoni, tentu sangat dia hapal di luar kepala.


Namun, meskipun dia selalu mengatakan pada dirinya bahwa tidak ada yang berbeda, tidak ada yang berubah dan bahkan tidak ada hal yang menganggunya sama sekali, dia berbohong. Heksa tahu dia sedang membohongi dirinya. Karena pada kenyataanya, buminya telah bergeser ke selatan. Atau itu utara, atau agak ke barat daya.


Itu seperti dunianya terbelah menjadi dua bagian yang tidak sama besar. Gempa bumi yang menerjang layaknya pisau tajam yang memporak-porandakan dirinya terasa nyata adanya.


Heksa tidak ingin memikirkannya sama sekali. Tapi dia bisa merasakan bagaimana dunianya berputar terbalik ketika Hala menyatakan perasaan romantisnya pada lelaki itu. Semuanya berubah setelah Heksa tahu bahwa Hala mencintainya sebagai seorang lelaki.


Sahabatnya yang dia sayangi sampai mati menaruh rasa yang tidak bisa Heksa terima sampai kapanpun dalam hidupnya. Mungkin jika dia bisa melebih-lebihkan, perasaan Hala sangat tidak bisa Heksa terima sampai dia terkubur sejauh enam kaki di bawah permukaan tanah dan tidak bernapas lagi.


Cinta memang bukan hal yang buruk baginya. Dia seringkali melihat perasaan itu pada banyak orang disekitar. Tapi, Heksa tidak pernah memikirkan bahwa cinta itu ada untuknya dan berputar sangat dekat dengan dirinya.


Bukannya Heksa juga tidak bisa merasakan cinta. Banyak jenis cinta di dunia ini. Berjuta alasan ada dibaliknya. Semuanya valid. Perasaan setiap orang di dunia ini akan jenis cinta yang mereka bawa dihati mereka masing-masing adalah hak pribadi yang merasakannya. Mereka tidak buruk-, sama sekali tidak.


Tapi lagi-lagi, untuk Heksa itu tidak ada. Jangan salahkan dia. Heksa mencintai Hala dengan setiap serat keberadaan perempuan itu. Namun cinta yang dia bawa untuk sahabatnya dan pelindungnya sedari kecil bukanlah cinta romansa yang berlabuh dalah hubungan sepasang kekasih. Heksa sebenarnya juga tahu, bahwa cinta yang dia bawa untuk Hala bukan hanya sekadar persahabatan atau persaudaraan. Itu mengikat lebih kuat diantara mereka.


Tapi untuk mengatakan bahwa dia menginginkan Hala sebagai pendamping hidupnya dalam sebuah romansa seperti orangtuanya? Nah, Hell. Tentu tidak.


Heksa bukan pribadi yang menyukai hubungan romantis dengan cinta yang berdasar di hatinya. Cinta romansa baginya adalah belati berbilah tajam yang akan menyakiti dengan luka yang menganga.


Dia tidak tahu persis. Tapi mungkin hal ini dimulai ketika Ayah kandungnya yang brengsek itu menganiaya Ibu tercintanya. Terkadang, pria paruh baya itu akan dengan mudah meludahkan banyak kata kasar dan makian dibeberapa kesempatan.


Seringkali, orang gila itu main tangan pada ibunya dan juga Heksa sendiri. Beberapa waktu ketika Ayah monsternya mulai melayangkan pukulan bak kesetanan lagi, kata-kata tentang bagaimana dia menjadi gila dan melakukan hal laknat dikarenakan Ayahnya mencintai mereka terngiang di telinganya. Karena Ayahnya yang kasar itu mencintai Ibunya dan juga anak lelakinya yang payah.


Dia tidak mengerti bagaimana bisa seseorang mengatakan mereka mencintai dengan melakukan hal kasar yang menjijikkan. Sebenarnya, hal ini mampu menunjukkan seberapa lemah orang bodoh seperti Ayahnya bisa menjadi.


Lalu beberapa waktu kemudian, Heksa mendapati dirinya mati rasa. Hatinya tidak bisa merasakan atau bahkan, menolak untuk jatuh pada gagasan mencintai dan dicintai orang lain dalam konteks yang sama seperti orangtuanya yang aneh.


Cinta romansa yang mengarah pada hubungan jangka panjang dengan banyak sentuhan yang tidak begitu halus disana-sini sama sekali tidak bisa dia rasakan lagi. Itu adalah apa yang Heksa percayai selama dia tumbuh hingga dia menjejakki hidup di usianya yang sekarang berkepala dua.


Ah, konteks berpacaran..


Heksa sangat membencinya.


Bukan. Bukannya dia membenci orang-orang yang berpacaran. Dia tidak masalah tentang hal itu. Hanya saja, itu bukan untuknya. Dia tidak suka dengan gagasan dirinya berpacaran dengan seseorang atau terikat menjalin hubungan dengan orang tertentu.


Meskipun Ibunya pada akhirnya menceraikan Ayahnya yang brengsek dan jatuh cinta dengan lelaki lain yang sekarang menjadi Ayah tirinya, Heksa sudah terlampau mati rasa untuk melihat bagaimana sebuah hubungan yang mencakup dirinya akan terjalin.


Mungkin dia takut berubah menjadi monster mengerikan seperti Ayah kandungnya yang bodoh itu pada suatu waktu yang tidak diinginkannya? Mengingat bagaimana darah orang brengsek itu mengalir kuat dalam aliran darahnya dan tidak bisa dihilangkan bagaimanapun caranya. Bahkan dengan mati pun dia tidak akan bisa mengubah DNA yang dia miliki.


Tapi ketika dia memikirkannya, dia tidak bisa menempatkan satu di ujung jarinya. Mungkin bukan seperti itu ketakutannya? Mungkin dia memang hanya mati rasa untuk selamanya.


Memikirkan kembali, Ibu dan Ayah tirinya saat ini baik-baik saja. Mereka memang agak sering bertengkar, kemudian dengan cepat berbaikan. Namun dimata Heksa, semuanya terasa hambar dan palsu.


Ayah tirinya tidak buruk, Pria itu bahkan membiarkannya membeli sebuah rumah yang bersebelahan dengan Hala sebagai bentuk permintaannya sebelum dia masuk ke Sekolah Menengah Atas. Itu bagus, tapi terkadang Ayahnya itu pemarah dan pemaksa. Heksa sudah terbiasa dengan itu.


Sekarang, cinta yang dia pegang adalah kecintaannya pada mimpinya tentang pekerjaan impiannya. Dia jatuh cinta pada game bodoh ini yang dia mainkan suatu saat ketika sedang bersembunyi dari para pembully gila yang menargetkannya. Itu adalah sebuah arcade di salah satu gang kecil agak sepi. Dia lupa usia berapa dia saat itu, yang pasti, Ayahnya masih memukulinya dan pembully masih suka bermain-main dengan anak payah sepertinya.


Namun ada surga yang dibawa oleh game ini. Itu adalah Mario Kart. Saat itu, cukup sulit untuk dimainkan olehnya yang masih anak kecil berseragam Sekolah Dasar. Tapi itu bagus. Kemudian, dari sanalah dia menemukan game seru lainnya dan mulai bersenang-senang di dalamnya.


Itu adalah cinta pertamanya. Cinta yang dia pegang sebagai penyelamat masa kecilnya. Ketika dia mulai mendalami kecintaannya pada game, Heksa memiliki tujuan yang pasti. Menjadi pembuat game di perusahaan Jepang yang terkenal adalah apa yang dia pegang erat di dekat jantungnya. Jadi, semua rasa cintanya akan dia curahkan untuk satu impian indahnya itu.


Meskipun kehadiran Hala yang tiba tiba masuk dan menyelamatkannya beberapa waktu kemudian, disamping malaikat game yang dia temukan, Hala adalah hal permanen lain yang masuk kedalam definisi cintanya. Itu tidak bisa ditunjuk di satu tempat yang dia inginkan. Hala seperti penguasa hatinya, bebas bermain dan berkelana di dalam jantungnya. Itu bukan persaudaraan, itu juga bukan hanya persahabatan yang awalnya ditawarkan. Tapi tetap saja, Heksa tidak bisa menempatkan dimana Hala sebenarnya berada.


Dia juga akan bertengkar keras dengan gagasan menjalin hubungan asmara dengan Hala. Karena bukan disanalah perasaannya berasal. Dia tidak bisa melihat dirinya berpacaran dengan malaikat pelindungnya yang dia jaga dan dia bahagiakan mati-matian disisinya.


Hala seperti penyangga hidupnya, agak seperti pelengkap dalam rumah tempat dia ingin bernafas.Heksa membutuhkan Hala sebagai pendongkrak kehidupannya yang suram.


Seseorang yang menjadi miliknya dimana dia bisa menggantungkan hidupnya terus menerus seperti tali pegangan. Hala adalah salah satu alasannya untuk terus hidup dan berjuang melalui badai kehidupannya.


Hanya sekadar itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.


itulah kenapa emosinya tiba-tiba menjadi tidak stabil saat Hala mengungkapkan perasaan padanya. Itu bukan apa yang ada dalam skenario hidupnya. Hal inilah yang mungkin memicu kebakaran di hatinya sehingga Heksa tanpa sadar mengumpat dengan sangat marah.


Baginya, Hala menyerangnya dengan sesuatu seperti kibaran bendera perang yang akan meluluhlantakkan masa depan yang dengan bangga sudah dia rancang dan jalani sepenuh hati.


Mengingat kembali perasaannya pada hari itu, kobaran api di hatinya memuncak lagi. Tanpa sadar, dia mengerang frustasi saat mengacak rambutnya yang berminyak. Kepalanya hampir ia tabrakkan ke atas meja kerjanya sebelum sebuah kejut dari tepukan rekan kerjanya membuat Heksa kembali ke kenyataan.


“Heh, anak magang! Lo jangan kesurupan disini!”


Heksa mengerjap beberapa kali. Mendongak, dia mendapati salah satu seniornya yang menjadi mentornya sejak awal dia berhasil melakukan magang diperusahaannya yang sekarang ada didepannya.


“Eh, gue nggak kesurupan, kok Ko Feng” Heksa agak terkejut dengan suaranya yang serak. Dengan cepat, lelaki itu mulai menetralkan nada suara kodoknya yang aneh.


Orang yang dipanggil Ko Feng mengernyit. Lelaki muda yang berkebangsaan Chindo itu menatap Heksa dengan miris.


“Lo beneran kayak orang depresi tau nggak, Sa? Lo kalau ada stuck sama sistem baru jangan diem aja. Kabarin gue. Mana tau gue bisa bantu lo. Gini-gini gue masih mentor lo, Heksa” Ko Feng menepuk bahunya. Terlihat bersungguh-sungguh peduli.


“Makasih Ko Feng. Mungkin gue cuma kecapekan doang ini. Sistemnya nggak banyak masalah, tapi gue kadang masih lupa karena belum terbiasa dengan upgrade barunya” Heksa membela diri. Tidak ingin dirinya terlihat seperti orang suram yang menyedihkan lagi.


“Kalau gitu lo harus istirahat, Sa. Jangan ambil lembur terus. Sekarang udah jam Sembilan, udah waktunya pulang. Lembur lo jangan rajin-rajin banget, deh. Lo kira bonus lembur setengah dari gaji kita sehari? Rugi waktu rugi tenaga tau. Yang untung malah perusahaan” Ko Feng menyulut dengan omelan.


“Manalagi lo masih anak magang. Gaji lo aja belum full, Sa. Jangan mau jadi budak kapitalis, deh” tuturnya lagi.


Heksa tertawa dan segera mengangguk. Menemukan sedikit penghiburan dari mood nya yang mendung dan bergejolak aneh sejak hari itu.


“Iya, Ko. Makasih udah ingetin gue. Ini gue mau pulang aja. Ko Feng hati-hati di jalan, ya”


“Bareng aja, Sa. Gue tungguin sampai lo beneran pulang. Jangan cuma ngomong doang lo”


Heksa agak terkejut. “Nggak apa-apa, Ko. Gue beneran pulang kok ini. Gue beres-beres meja bentar. Meja gue berantakkan banget soalnya” jelasnya kemudian dengan cepat, menunjuk mmejanya yang benar berantakan.


“Udah, aman. Lo balik sama gue pokoknya. Perintah senior dan mentor lo jangan lo abaikan”


Melipat bibirnya dengan tampilan tidak enak, Heksa tetap menurut. Jadi, lelaki itu mulai membereskan biliknya dengan cekatan. Lima menit kemudian, dia berlari ke arah Ko Feng yang menunggu.


...****************...


Perjalanan menggunakan mobil dari kantor ke rumahnya tidak begitu lama. Jalanan sudah agak lega di malam hari, jadi tidak heran bahwa dia saat ini sudah sampai dalam waktu lima belas menit. Melambai sopan dan berterimakasih pada seniornya, Heksa berbalik untuk mulai memasuki rruma.


Menghela napas, dia membuka kunci pintu, merasakan kepalanya berdenyut sakit sekali. Jadi tanpa sadar, ketika dia menghidupkan lampu lorong kecil untuk menyinari ruang santai utama, bibirnya segera mengucap kata tanpa mampu dicegah oleh kepalanya terlebih dahulu.


“Kepala gue sakit banget, Hala.. bisa request peluk nggak malem ini?”


Itu jatuh dalam sebuah rengekan aneh biasa yang seringkali dia serukan ketika dia menginjakkan kaki ditempat yang sudah sangat familiar. Makanya, ketika dia mencium aroma yang juga sudah dikenali oleh seluruh panca indranya, kepalanya konslet dan tidak bisa berpikir. Kebiasaanya memukul lebih dulu seperti pemenang lomba lari.


“…Ah..”


Sebuah kesadaran mampir ketika dia tidak juga mendapati sahutan dari tuan rumah. Matanya berkelana kesekitar ruangan yang sama sekali tidak tersentuh berhari-hari. Perasaannya jadi masam ketika dia tahu dia tidak seharusnya berada di rumah ini.


Ini adalah rumah Hala. Yang mana memang dia terbiasa untuk menginap disini. Mungkin jika bisa dijabarkan, Heksa juga bisa dikatakan sebagai penghuni tetap rumah ini.


Menelan ludah, kepala Heksa semakin sakit. Mengerang tidak peduli, dia melemparkan tas kerjanya ke sofa yang dia tau persis dimana letaknya. Kakinya berjalan di atas lantai dingin yang menyengat dengan sembarangan. Meski begitu, langkah tanpa tujuan itu berhenti di sebuah kamar utama. Kamar Hala, atau dia bisa sebut sebagai Kamarnya juga.


Mulutnya pahit, dia seharusnya berbalik untuk pulang ke rumahnya yang sebenarnya, namun indranya seperti mati dan berkhianat saat tangannya membuka pintu kamar. Peringatan dikepalanya juga sudah mati ketika Heksa melemparkan tubuh lelahnya diatas kasur yang lagi-lagi terasa sangat dingin, menandakan bahwa kasur itu sudah lama tidak ditempati.


Heksa masih diam ditempat yang sangat familiar. Dia tidak bisa membuat dirinya bergerak untuk pulang, tubuhnya berat. Perasaan rindu yang dalam menyeruak, menyudutkan amarah dan kekecewaan yang seharusnya bisa lebih kuat dari yang lain karena kesalahan Hala.


Heksa mengeluh, mungkin karena dia sudah terlalu lelah sehinga saraf motoriknya tidak bisa bekerjasama dengan benar. Jadi dengan alasan itu, dia membiarkan tubuhnya melakukan apa yang mereka inginkan.


Kamar itu gelap, tapi Heksa masih tahu detail apa saja yang ada disana. Dengan matanya yang terpejam, hatinya terus bertanya-tanya tentang dimana keberadaan Hala sekarang. Dimana perempuan itu tidur, dimana dia membawa Pipang bersamanya-, kucing yang dia klaim adalah anaknya juga tidak bisa ditemukan di hari pertama ketika Heksa pulang setelah kegilaannya mereda, meskipun tidak sepenuhnya.


Hala hilang setelah hari itu. Tanpa kontak, tanpa kabar. Tapi, rumahnya tidak terkunci. Masih terbuka untuk Heksa, dinilai dari bagaimana kunci cadangan yang biasa masih terletak ditempat yang biasa dia letakkan.


Mungkin Hala sedang menyadarkan dirinya sendiri. Mungkin Hala sedang mencoba untuk mencari tahu bahwa perempuan itu salah. Mungkin Hala akan kembali setelah perempuan itu sadar dan malu dengan pernyataan hatinya yang tidak pantas itu.


Heksa tau, Hala akan kembali padanya cepat atau lambat.


Namun, ketika dia mulai mengecek ponselnya yang tidak tersentuh sejak tadi pagi di dalam saku jaketnya, ada perasaan jatuh yang buruk di hati Heksa sehingga lelaki itu tidak sadar bahwa dia sudah terduduk tegang di atas kasur dalam waktu sepersekian detik.


Itu adalah obrolan grup yang berisik. Membawa kabar yang membuat perut Heksa melilit dengan kesakitan yang aneh dan jantungnya berdebar tiga kali lebih cepat.


...----------------...


...[Keluarga Cemara]...


Nalisa Jpg:


Hala!


@Mamanya Pipang muncul lo


Muncul atau gue obrak-abrik rumah loooo


Mau gue tumpahin teh lo atau lo yang tumpahin duluan??


Ner bener ya nih anak


Jihan Archer:


Apa nih? Apa nih?


Ada teh baru kahh??


Pak Guru Fajri 2:


????


Apa nih?


Alpino Tsel baru:


Spill dong bundd @Mamanya Pipang


Gue bantu tag nih, Lis!


Lisa Jpg:


Tag aja biar anaknya muncul


Kaget banget gue dapat berita bukan dari orangnya langsung


Tuh anak emang bener-bener dah keterlaluan


Mamanya Pipang:


Hah? Pada kenapa dah ngetag gue woii


Baru nyampe kantor juga astaga


Lisa Jpg:


Lo bener-bener ya!


Mamanya Pipang:


Gue kenapa lagi, dah? Perasaan gue baik-baik aja??


Jihan Archer:


Bohong! Mana teh pagi guee


Alpino Tsel baru:


Justru karena masih pagi, tehnya jadi masih anget. Spill aja deh, La wkwkw


Mamanya Pipang:


Sumpah gue nggak paham. Emang ada apaan???


Lisa Jpg:


Bener bener lo ya. Nih gue spill aja sendiri


Mamanya Pipang:


Plss masih pagi jangan pada gilaa. Ini ada apa anjirr


Lisa Jpg:


Lo jadian sama Kak Sinar tapi nggak ngasih tau gue sebagai sahabat lo! Tega bener lo Laaa


Kakak gue ituu.


Takut kah dimintai pajak jadian??


Jihan Archer:


HAH?? SERIUS??!


Alpino Tsel baru:


Anjir seriusan??? Gila Hala lo udah jadian aja sama Bang Sinar


Gila, gue kaget beneran dah WKWKWK


Pak Guru Fajri 2:


@You


Waduh bos, udah jadian aja doi sama Bang Sinar. Tehnya beneran hangat ini mah


Mamanya Pipang:


GUE NGGAK JADIAN???


Lisa Jpg:


Bohong banget. Orang pacar lo sendiri yang bilang ke gue ya, pengkhianat >:(


Jihan Archer:


Dih, nggak boleh gitu ya Hala. Pacar lo sendiri udah confirm tuhh WKWKWKW


Akhirnya Hala nggak jomblo lagii jiakhss


Mamanya Pipang:


Sumpah..


Gue nggak jadian! Jangan ngadi ngadi loo


Gue cuma komitmen doang sama Kak Sinar, ya! Nggak jadiann!


Pak Guru Fajri 2:


Ralat, belum jadian hahaha


Alpino Tsel baru:


Wkwkwkw sama aja kali. Komitmen terus bentar lagi jadian.


Kaget bener gue pagi-pagi dapat info beginian


@You, gimana kabar lo pak? Sehat?


wkwk canda Heksaa


Mamanya Pipang:


Al shareloc, kita adu jotos ajalah sekarang…


Alpino Tsel baru:


*location


Noh


Mamanya Pipang:


Stresss


Lisa Jpg:


Serius lo, La. Gue sedih banget harus tau dari Kakak gue..


Mamanya Pipang:


Nggak gitu…


Lisa Jpg:


Yaudah pokoknya semuanya dateng ya malem tahun baru! Kak Sinar ngundang kalian semua buat rayain jadiannya Hala sama doi sekalian rayain tahun baru bareng. Jangan ada yang sampai nggak dateng, okee?


...----------------...


Heksa berhenti membaca ratusan pesan heboh di grupnya ketika dia sudah mendapatkan inti dari keseluruhan pembahasan. Mengernyit, Heksa tidak paham apa yang membuat jantungnya masih berdebar aneh. Kepalanya kembali berdenyut, ada perasaan aneh menyakitkan dimana rasanya dia ingin memuntahkan beberapa liter kopi yang dia konsumsi.


Hala menjalin komitmen dengan Sinar adalah hal terakhir yang ingin dia dengar. Bukannya bagaimana, dia tahu bahwa Sinar menyukai Hala. Hell, semua orang pasti tahu bagaimana perasaan Kakaknya Lisa itu. Heksa juga tidak melarang Hala untuk menjalin hubungan dengan orang lain yang dipilihnya.


Tapi yang membuat semuanya aneh dan tidak masuk akal adalah, Hala memiliki perasaan romantis padanya. Hala mencintainya, bukan Sinar. Heksa tau betul bahwa Hala tidak bercanda saat itu dan tentunya dia tahu itu nyata karena keadaan yang terjadi sekarang. Dari bagaimana hubungannya dan Hala rusak karena pernyataan cinta itu.


Bagaimana mungkin, dalam waktu yang bahkan tidak sampai satu minggu lamanya (kali ini dia sadar berapa lama dia menjadi gila dengan perasaan gloomy anehnya) Hala bisa menjalin komitmen dengan Sinar? Apakah perasaan perempuan itu mudah sekali untuk berubah?


Pemikiran buruk terus menerjangnya dari segala sisi. Jantungnya terasa diremas dengan tangan-tangan transparan yang aneh. Pahit dan asam adalah apa yang dia rasakan. Heksa dengan perasaan kalut yang menjijikkan, segera bangkit dari kasur Hala. Berlari dengan kecepatan super untuk pergi ke rumahnya sendiri.


Napasnya memburu ketika dia sudah berada di kediamannya sendiri. Dia memutuskan bahwa dia akan mandi. Dia akan membersihkan diri dari apapun perasaan kotor yang menyelimuti tubuhnya saat ini. Pikirannya pada Hala benar-benar membuatnya jijik dan kesal. Itu terasa hitam dan pekat sehingga Heksa ingin menggosok kulitnya sampai mentah dan memerah.


Heksa tidak mengharapkan perasaan ini, dia juga tidak mengharapkan informasi menjengkelkan yang sekarang menghantui kepalanya dan memukul jantungnya dengan kekuatan monster.


Apapun ini, Heksa merasa sangat kotor-,


Dan bahkan, hilang arah.


Dia merasa tersesat, anehnya dengan cara yang sangat buruk.


...🍁...


...Tentang Rasa (Heksa Sight) : Emosi Yang Tidak Bisa Dijabarkan...


.........


...🍁🍁🍁...


Tenang ajaa ini hanya filler sebagai pelengkap jalan cerita, chap selanjutnya masuk lagi ke tokoh utama kita🥰