
Tidak masalah.
Nalisa mengatakan itu kepada dirinya sendiri sekuat yang dia bisa. Setidaknya, dia lepas dari pernikahan sialan yang akan membelenggu dirinya seumur hidup. Tidak masalah jika rencana yang sudah dia susun bisa berakhir seperti ini. Setidaknya, dia tidak kehilangan apapun didalam kehidupannya.
Secara fisik, itu hampir saja merenggut kaki kirinya utuh. Tetapi Nalisa bersyukur dalam kelegaan yang luar biasa bahwa kakinya hanya mengalami patah sementara. Dokter bilang bahwa itu akan sembuh dalam waktu 6 bulan atau bisa saja lebih dan dia harus mengikuti terapi jalan agar kakinya bisa berfungsi dengan normal kembali.
Baik. Itu sepadan dengan apa yang dia lakukan. Jadi, menurutnya, konsekuensi yang sekarang harus ditanganinya tidak begitu berat. Kakinya masih bisa diperbaiki. Hal ini yang membuat dirinya santai bukan kepalang. Dia tidak mati saja sudah sangat dia syukuri dengan panjatan doa terimakasih yang dirinya rapal lama sekali.
Sekarang dia sedang bersantai di ruangannya yang dingin. Ranjang rumah sakit VIP yang empuk dan lembut itu menopang dirinya untuk duduk bersandar agar tidak menyakiti kakinya yang di gips. Layar televisi lebar menampilkan acara variety show lucu sebagai bahan hiburan yang menyenangkan.
Dia sedang sendirian sekarang. Dengan tatakan makanan yang setengah habis tergeletak diatas nakas sebelah kiri. Sedangkan kedua tangannya menggenggam gelas teh tawar hangat yang dia minta kepada suster yang bertugas beberapa saat yang lalu.
Nalisa sebenarnya tahu bahwa keluarganya sedang berada di balik pintu. Perempuan itu mendengar tangisan ibunya yang terlalu menyakitkan, juga beberapa teman-temannya yang sepertinya sangat khawatir tentang keadaan dirinya yang dia tahu dari dokter bahwa dirinya baru sadarkan diri setelah semalaman terbaring di ranjang rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa dia belum bisa dijenguk untuk sementara waktu.
Bohong jika Nalisa bilang bahwa dia tidak khawatir tentang bagaimana keadaan orangtuanya setelah melihatnya tantrum seperti anak kecil sebelumnya. Dia bahkan meringis saat mengingat kembali bahwa dia telah bekata kasar kepada Ayahnya sebelum dia akhirnya melompat turun dari tempat yang sangat tinggi itu.
Tapi apapun konsekuensi dan reaksi yang dihasilkan oleh banyak orang disekitar, Nalisa merasa dirinya sukses untuk mulai menata ulang masa depannya yang baru. Nalisa sama sekali tidak menyesal. Tidak ada sedikitpun penyesalan yang menggerogoti dirinya meskipun ada luka yang harus dibayar untuk kebebasan ini. Nalisa sudah sangat bersemangat untuk hari yang akan datang. Dia bahkan sudah memikirkan akan kembali bekerja lagi setelah Noren melepasnya dengan suka rela setelah apa yang dia perbuat.
Nalisa yakin bahwa Noren akan menyerah untuk memilikinya. Dia telah membuat keributan besar yang akan menjadi headline di berbagai portal berita. Mungkin ini akan mempengaruhi kondisi perusahaan keluarganya juga karena ulah yang dia lakukan. Tetapi, setelah beberapa lama menyelam siaran televisi, anehnya Nalisa tidak menemukan apapun yang membahas tentang pernikahannya yang rusak.
Nalisa belum membuka ponselnya sampai hari ini karena dia tidak memegang benda elektronik itu. Mungkin ada di tangan teman-temannya atau bahkan keluarganya. Lisa ingat dia meletakkan benda pipih itu di kamar hotelnya sebelum acara pernikahan berlangsung. Mungkin di media sosial akan banyak bertebaran berita panas ini, tetapi entahlah. Bisa jadi, pihak Noren maupun Ayahnya dengan citra yang sedang dipertaruhkan disini segera mungkin menghandle berita-berita jahat di luar sana.
Noren pasti merasa malu oleh kegagalan yang disebabkan olehnya. Sehingga, dia tidak akan mungkin kembali untuk meletakkan tangannya di atas kehidupan Nalisa yang dia peroleh mati-matian dengan nyawanya. Juga, kerugian yang dia alami pasti besar nominalnya. Untuk memikirkan berapa nol di belakang angka itu, Nalisa bahkan tidak berani.
Itu adalah konsekuensi yang Noren dapat karena telah egois dan menghancurkan kehidupannya. Segalanya sepadan dan perempuan itu puas ketika membayangkan betapa stress-nya Noren menghadapi kegagalan tipu daya dan ego iblis itu sendiri.
Sekarang, Nalisa yakin bahwa dia bisa tenang. Badai yang menghantam telah berlalu. Bebannya terangkat secara keseluruhan tentang situasi akhir-akhir ini yang membuatnya gila. Jika Nalisa tidak kelelahan secara mental, dia yakin akan menangis haru dan melakukan selebrasi besar-besaran. Tetapi karena dia memiliki kondisi fisik yang akan dia ingat sebagai keberanian gilanya menantang maut demi kebebasan dari iblis yang luar biasa jahat, dia akan melakukan selebrasi dengan lebih damai.
Dia bisa berkarya lagi. Bisa membuat ide-ide baru yang lebih luar biasa sehingga dia bisa membanggakan dirinya suatu waktu nanti. Nalisa akan menjadi wanita yang sukses tanpa campur tangan keluarganya dan dia sangat tidak sabar untuk mewujudkan mimpinya.
Ah. Betapa indahnya kebebasan ini. Hatinya menjerit senang.
Namun, dia sendiripun sadar bahwa masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan dan beberapa hal yang tentunya harus dia tangani dengan mental yang lebih kuat lagi.
Jika Nalisa sombong dan mementingkan egonya, dia akan sangat puas melihat wajah sakit yang ditampilkan oleh kedua orang tuanya. Betapa bahagianya dia melihat wajah sengsara Ayah Ibunya yang sudah tergiur bujuk rayu setan bernama Noren itu.
Tetapi Nalisa tidak sama seperti Noren. Perempuan itu sebenarnya hanya ingin Ayah dan Ibunya mendengarkan keinginan dan tidak memaksakan apapun padanya. Nalisa hanya ingin Ayah dan Ibunya tahu bahwa Nalisa bisa memilih sendiri jalan kehidupannya. Bahwa Nalisa sendiri bisa membuat kedua orang tuanya bangga atas pencapaiannya. Dia adalah anak perempuan yang tidak ingin dikekang oleh apapun. Dia adalah anak yang bebas!
Meskipun memiliki kebebasan, Nalisa tidak pernah berulah apapun. Dia tidak pernah membuat kedua orangtuanya kecewa padanya. Nalisa bukan anak yang nakal, dia juga tidak pernah mencemari nama keluarga yang disandangnya sejak dia dilahirkan.
Dia sebenarnya sangat amat menyayangi keluarganya. Ayah dan Ibunya sebelumnya sama sekali tidak pernah memaksakan apapun padanya. Dia memiliki kebebasannya di tangan sendiri. Sehingga, kali ini Nalisa penasaran dengan apa yang membuat kedua orang tuanya bersikeras untuk memaksa anaknya sampai dengan sedemikian rupa.
Sebenarnya, uang sendiri bukan merupakan masalah untuk mereka. Apakah terjadi sesuatu di perusahaan kedua orang tuanya? Apakah perusahaan mereka akan bangkrut sehingga Ayah dan Ibunya bersikeras memaksanya agar bisa menikah dengan Noren? Mengingat bahwa kekayaan keluarga Giovano tidak lekang oleh waktu dan jika bisa dikiaskan, tidak akan ada habisnya.
Atau.. ada sesuatu yang sebenarnya Nalisa tidak tahu dan sedang terjadi di dalam keluarganya sendiri?
Tetapi, Kakaknya bahkan tidak terlihat stress selain karena kesalahan yang lelaki itu lakukan padanya. Meskipun Sinar bahkan tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi di perusahaan yang sedang dikelola oleh lelaki itu.
Tetapi apapun yang terjadi, Nalisa tidak akan goyah dengan perasaannya. Dia tahu bahwa keluarganya memulai dari nol hingga berada di atas puncak kesuksesan. Tetapi dengan kekuasaan yang Ayah Ibunya pegang sekarang, hidup Nalisa masihlah menjadi miliknya sendiri. Tidak ada yang boleh mengganggu gugat jalan cerita dan langkah kehidupannya.
Hidupnya adalah hak miliknya dan tidak ada yang boleh mengacaukan kepemilikkannya.
“Nalisa sayang..”
Dia tidak sadar sudah berapa lama berperang dengan pikirannya sehingga terkejut saat Ibunya memanggilnya dengan nada yang lirih. Ketika perempuan itu menoleh, Suster yang ia mintakan air teh hangat sebelumnya masuk bersama ibu dan kakaknya.
“Kak Nalisa, ini saya bawa Ibu sama Kakaknya, ya, buat temenin Kakak” Suara suster itu sangat lembut ketika dia menawarkan. Ada senyum keibuan yang terpatri di wajahnya sembari mengecek infus yang tersambung dengan punggung tangannya.
Nalisa mengangguk untuk menjawab, matanya beralih menatap Ibunya dengan wajah merah sembab yang kelelahan dan sangat berantakkan kini duduk disampingnya dan segera meraih tangannya dengan gemetar yang masih terasa kasar. Sedangkan Sinar berdiri di samping Sherely, wajahnya juga terlihat kelelahan dengan tatapan kelabu.
Sementara dia memperhatikan, di balik pintu ada Fajri dan Jihan yang penasaran dengan wajah khawatir mirip satu sama lain. Terlihat dari kaca kecil di tengah-tengah pintu yang buram. Dirinya sendiri juga melihat sosok Hala disana, tetapi dia segera membuang wajah, tidak peduli.
“Nah, Ibu. Nanti Kakak Nalisanya jangan di ajak ngobrol yang berat-berat dulu, ya. Pasien harus banyak istirahat. Untuk personil yang jenguk kali ini dibatasi dua orang saja, ya. Nanti bisa bergantian dengan tamu yang lain. Untuk obat tadi pagi dan sebelum makan sudah masuk melalui infus dan suntikkan ya. Untuk nanti malam akan diberikan sekitar jam 8 setelah makan. Kalau ada apa-apa boleh langsung tekan tombol layanan saja, ya, bu, Kak. Saya pamit dulu, Terimakasih”
Suster itu menuturkan dengan sangat sopan. Perempuan yang terlihat memasuki usia dua puluhan akhir itu membersihkan bekas makanannya sebelum keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan klik lembut. Begitu ditinggalkan, aura ruangan menjadi agak pengap. Nalisa agaknya belum siap untuk mendapatkan kunjungan di waktu-waktu seperti ini. Apalagi berhadapan dengan Ibu dan Kakak laki-lakinya sendiri.
Ruangan hening untuk beberapa saat. Nalisa yakin bahwa Kakaknya pasti sedang memikirkan kalimat apa untuk memarahinya yang sudah melakukan hal gila tanpa berkoordinasi dengan lelaki itu terlebih dahulu. Tetapi, jika Sinar ikut terseret dalam rencananya, lelaki itu pasti tidak akan memperbolehkannya melakukan apapun. Rencananya sudah pasti gagal. Jadi, dia merasa bersalah sudah meninggalkan kakaknya dibelakang. Belum lagi mengenai bagaimana Kakaknya telah di khianati oleh orang yang dia cintai. Nalisa tidak tega.
“Lisa ngantuk. Kalian keluar aja” Ucapnya pelan.
Sebenarnya dia belum ingin tidur. Tetapi dia tidak tahan dengan situasi yang sekarang. Ibunya tidak mengatakan apapun dan hanya terus menggenggam tangannya dengan kuat dan bergetar. Kakaknya juga belum mengatakan satu patah katapun dan keberadaan Ayahnya saja dia tidak tahu dimana. Mungkin pria tua itu memilih waktu dimana dia bisa memarahi Nalisa habis-habisan karena telah menjadi anak kurang ajar dan mempermalukan dirinya sampai titik darah penghabisan.
“Lo bisa nggak, sih?” Suara SInar keluar dengan lemah, tetapi nadanya dalam sarat akan peringatan. “Lo bisa nggak sih nggak usah ngelakuin hal yang bikin kita semua takut? Lo bisa nggak, sih, jangan bikin adegan yang bikin kita semua bakalan gila? Lo bisa nggak, sih, jangan mainin nyawa lo kayak begini? Lo tau kan seberapa sayangnya kita sama lo, Nalisa?”
Lagipula ini juga kesalahan Sinar! Kenapa dia yang sudah hancur harus dimarahi lagi?! Nalisa tau bahwa dia hanya memiliki satu nyawa. Dia tahu bahwa dia sedang menghadapi resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Tetapi kenapa dia tidak di dukung oleh orang terdekatnya sendiri? Oleh orang yang membuat hidupnya ikut rusak?
Nalisa ingin membenci kakaknya juga, tetapi dia tidak bisa. Tidak bisa ketika emosinya teredam oleh tangisan kejar yang disuarakan oleh Ibunya yang kini sedang terisak. Tidak bisa ketika Sinar sendiri menitikkan air mata dan jatuh terduduk di kedua lututnya yang menghantam keramik dengan keras, bergema di ruangan yang hanya diisi oleh keributan iklan di televisi.
“Gue takut lo mati, Nalisa. Gue takut kehilangan adek gue di depan mata gue sendiri. Gue takut banget bayangin lo, yang udah gue jaga mati-matian… hilang gitu aja, dek. Gue takut bayangin lo pergi. Gue takut,.. gue takut kehilangan lo. Jangan mati, dek. Jangan tinggalin gue..” Sinar sesegukan. Suaranya bergetar disetiap tarikan napasnya.
Jantung Nalisa tercubit. Dia tahu bahwa dia sudah melukai kakaknya dengan apapun yang telah dia perbuat. Tetapi, dia aman. Dia tidak mati. Yah, meskipun sebelumnya dia sudah pasrah jika dia mengalami luka hebat akibat benturan atau bahkan kehilangan nyawa sekalipun di titik terakhir, tetapi disinilah dia. Masih diberikan kehidupan, masiih bernapas dengan baik dan normal.
“Kak, jangan nangis. Gue sehat, kok, gue masih hidup” Nalisa meringis. Seharusnya bukan itu yang dia katakana untuk menenangkan Kakaknya dan juga Ibunya, tetapi untuk sekarang hanya itu yang bisa dia katakan. Dia tidak akan menarik atau menuturkan penyesalan atas perbuatannya. Karena jujur, Nalisa bangga dengan keberaniannya sendiri.
“Dek.. maafin gue.. maafin kakak lo yang nggak bisa apa-apa ini. Maafin gue.. gue nggak pantas buat jadi kakak lo tapi gue masih mau dapat kesempatan itu. Gue bakalan jagain lo lebih lagi dek. Jangan gini lagi. Gue sakit lihat lo begini, dek. Kalau lo beneran mati waktu itu, gue bakalan ikut loncat bareng lo”
“Kak, lo jangan bercanda sambil nangis gitu, deh. Nggak lucu” Nalisa tertawa. Meskipun dia sadar bahwa dia tidak seharusnya dan terasa aneh, tetapi dia tidak ingin adegan ini terus berlarut-larut.
“Dek-,”
“Kalau kakak ngomong lagi, minta maaf lagi, Nalisa nggak mau denger. Mending diem dan keluar sana” Dia mengatakan itu dengan nada konyol. Nalisa tidak sanggup lagi jika dia harus mendengar kesedihan dari kakaknya. Toh dirinya tidak sedih, dia malah bangga dengan apa yang telah dia lakukan. Jadi, Sinar seperti itu juga tidak bisa mengubah apapun.
Sekarang, Sinar diam. Selain isakannya yang coba untuk ditenangkan oleh lelaki itu, suara tangisan Sherely sejak tadi tidak berhenti sama sekali. Nalisa menghela napas, ibunya adalah satu yang sulit diberhetikan ketika menangis. Nalisa sempat melihat wanita itu menangis di beberapa kesempatan, tetapi tidak pernah lagi semenjak dia menginjak dewasa.
Kali ini, tidak seperti Sinar yang tidak ingin menunjukkan wajahnya dan terus menunduk, Sherely menatapnya terang-terangan. Wajah ibunya sangat berantakkan seperti tidak tidur sama sekali dan menangis semalam suntuk. Matanya bengkak dan menonjol dengan hampir lucu. Hidungnya merah dan kembang kempis, sedangkan wajahnya lembab karena air mata yang terus turun.
“Ma, sudah. Jangan nangis lagi. Nalisa nggak kenapa-kenapa, kok” Dia berbisik, mencoba untuk menenangkan.
“Nalisa..” Ibunya terisak, tersedu-sedu ketika tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah anak perempuan satu-satunya. “Maafin Mama sayang.. Mama nggak akan minta dan nyuruh-nyuruh Lisa lagi kayak gini. Mama takut, Nak. Mama takut kehilangan kamu..” Lagi, tangisan Ibunya semakin kencang bersamaan dengan cengkeramannya pada tangan Nalisa.
Sedikitnya, Nalisa merasa sedih melihat keadaan Sherely yang sangat hancur. Kali ini, untuk pertamakalinya setelah beberapa bulan terakhir, dia merasakan kasih sayang ibunya yang luar biasa besar padanya. Ibunya yang baik hati seperti sedia kala muncul kembali. Rasanya, dia rindu melihat Ibunya yang penuh dengan kasih sayang seperti ini.
“Mama salah, Nak. Mama salah udah maksa kamu. Maafin Mama sayang. Nggak lagi-lagi Mama ngelakuin apapun yang nggak kamu suka. Nak, Mama takut. Mama takut banget kalau Nalisa pergi dari Mama. Kamu anak perempuan Mama satu-satunya yang Mama lahirin sekuat tenaga. Jangan tinggalin Mama dengan cara begitu, ya, Nak. Tolong, Mama nggak mau anak mama pergi sebelum mama” Tangisannya semakin hancur. Nalisa menghela napas dalam, tidak sanggup untuk mendengar betapa menderitanya Ibunya sekarang.
Setidaknya, Ibunya telah sadar, kan? Namun, apa dia harus sampai begini agar Sherely bisa sadar kesalahannya? Kemarin-kemarin bagaimana? Apa yang salah? Dia tidak ingin memaafkan Ibunya karena Wanita tua itu juga yang mendorongnya sampai seperti ini. Kemarin, ketika dia memohon dan meminta kepada Wanita itu, kenapa tidak di gubris?
“Mama salah, sayang. Mama salah karena udah maksa Lisa. Mama salah karena Mama sok tau tentang kebahagiaan Lisa. Mama salah karena nggak mikirin perasaan anak Mama. Mama minta maaf. Mama sayang sekali sama kamu, nak. Tolong.. jangan pernah buat mama ketakutan seperti itu lagi, ya, Nak? Mama akan perbaiki sifat Mama yang salah ini.. Nalisa, mau kan maafin mama?”
Ibunya terus meratap meminta permohonan maaf darinya. Tangisannya semakin menjadi sehingga matanya yang sembab kini terlihat lebih merah dan bengkak daripada sebelumnya. Nalisa tidak sanggup melihat Ibunya sampai memohon pengampunan seperti itu.
Hatinya terlalu bersih untuk terus membenci ibunya. Setidaknya, bayangan betapa sulit sang Ibu melahirkan hingga membesarkannya sampai saat ini melintas di kepalanya. Dia masih memiliki perasaan sebagai seorang anak. Misinya juga sudah selesai dan berhasil meski meninggalkan bekas, tetapi dia masih bernapas dengan baik dan tidak kekurangan satu pun. Dia juga sudah membuat keluarganya dan orang itu jera. Dia tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
“Mama” Nalisa memulai. Kali ini, tangannya yang lain mengelus lembut cengkeraman Ibunya. Sherely masih menatapnya dengan pilu. Nalisa mengulum bibirnya ketika hatinya terasa terguncang sedikit.
“Iya sayang? Nalisa mau maafin mama, ya? Mama bakalan berubah, sayang. Mama bakalan selalu ada di pihak kamu.. tolong..”
“Mama jangan mohon-mohon gitu terus sama Lisa. Udah, ya, Ma. Nalisa udah maafin Mama sekarang. Tapi maaf, ya, Ma.. Mama udah paham, kan kenapa Nalisa sampai nekat begitu? Ma.. Nalisa tau mana yang baik dan benar buat Nalisa. Nalisa yang menjalankan hidup Nalisa. Kalau Nalisa bilang nggak mau, berarti ada yang salah, Ma. Mama seharusnya berpihak sama aku sejak awal.. Nalisa sedih Mama malah nyudutin Nalisa dan maksa Nalisa untuk ngelakuin hal yang nggak aku mau”
“Ma, Nalisa belum mau menikah. Umur Nalisa masih 23 tahun. Masih banyak yang mau Nalisa lakuin di hidup Nalisa. Nanti kalau sudah waktunya dan Nalisa sudah nemu orang yang tepat, pasti akan nikah juga, kok, Ma. Sekarang, Nalisa mau main-main dulu, Ma. Nikmatin hidup. Lagipula, Nalisa nggak cinta sama Kak Noren. Nalisa nggak ada perasaan sedikitpun sama dia.. bahkan untuk bertemanpun, Nalisa nggak bisa, Ma..”
Sudah, dia sudah menuturkan segalanya di kepala. Sebenarnya masih banyak, tetapi cukup untuk kali ini, ini saja yang dia katakan pada ibunya. Berharap bahwa Sherely sadar dan meresapi penuturannya. Dan itu bekerja. Sherely mengangguk memahami apa yang dia sampaikan. Ibunya segera memeluknya dan menciumi wajahnya dengan bibir yang bergetar dan basah, meratap kata maaf lebih banyak lagi dan kasih yang menghujani perasaannya.
Nalisa lega. Kali ini lebih lega daripada yang sebelumnya. Setidaknya hal lain sudah terselesaikan dengan baik.
“Iya sayang, iya. Maafin Mama, ya sayang. Mama sayang banget sama anak cantik mama.. sayang banget..”
Ada cekikikan yang Nalisa keluarkan dengan terkejut karena geli ketika Kakaknya ikut memeluknya dari sisi lain. Rasanya begitu hebat dan luar biasa ketika dicintai oleh keluarganya lagi dan lagi. Kali ini dengan rasa yang lebih besar dan penuh dengan pemahaman. Nalisa hanya ingin begini, keluarga disisinya, percaya dan mendukungnya secara utuh.
Tetapi, dia tau bahwa ada yang kurang.
“Papa.. dimana?”
Dia tahu ini bukan waktu yang baik untuk membunuh kegembiraan. Tetapi dia tidak bisa berhenti untuk merasa penasaran.
Ada senyum lembut yang hati-hati dalam ekpresi Sinar sebelum lelaki itu menjawab;
“Papa lagi ngurusin media.. sama denda dari pihak management hotel karena keributan yang .. uh, lo buat? Ya, semacam itu”
Ah.. seharusnya dia tahu bahwa ada hal-hal khusus yang seharusnya sedang dibersihkan. Dan ini juga jawaban pasti dari pertanyaannya tentang bagaimana tidak ada berita yang tersebar dan menghebohkan tentang acara pernikahannya yang hancur.
Ditengah elusan sayang Ibunya di kepalanya, wanita itu berucap dalam napas yang lembut.
“Papa khawatir sama kamu, sayang. Kamu harus lihat gimana pucatnya Papa ngurus semuanya buat kamu. Termasuk ngurusin segala pengobatan buat kamu. Kaki kamu masih bisa diselamatkan gara-gara Papa yang ribut di IGD minta pertolongan medis secepatnya”