
Heksa memilih untuk mengantongi ponselnya ke saku jaket. Sekarang dirinya hanya tinggal menunggu saja. Dia akan masuk ketika dia sudah merasa lelah. Tetapi membayangkan dirinya terlelap disebelah Fajri saja tidak sanggup. Dia tidak ingin memperlihatkan bahwa dia berantakkan di depan teman-temannya.
Jadi mungkin, dia akan menunggu matahari terbit disini dan beristirahat setelah sarapan. Mungkin sepuluh menit memejamkan mata adalah waktu yang bagus untuk nanti. Dia tidak peduli dengan pesta pernikahan. Yang Heksa pedulikan saat ini adalah membenarkan hubungannya dan Hala yang telah rusak.
Heksa sedang tidak ingin melakukan apapun selain berbicara dengan Hala. dia bersandar di pagar pembatas. Menumpukan dirinya sepenuhnya pada tiang besi berulir tumbuhan menjalan cantik yang sedang berbunga. Ada beberapa lampu hias di kanan dan kiri serta kursi dan meja yang di atapi dengan design yang mewah.
Tatapan matanya melayang ke angkasa. Disana bintang-bintang duduk dengan cantik bersamaan dengan purnama yang bulat sempurna. Heksa sudah lupa berapa lama dia tidak menikmati waktu seperti ini dengan alam. Rasanya berbeda dan ada kerinduan yang jauh dari lubuk hatinya memintanya untuk meluangkan waktu beristirahat dan menyatu dengan alam kembali.
Heksa tidak sadar sudah berapa lama dia melamun disana tetapi, ketika ada suara langkah kaki yang memasuki indera pendengarannya, refleks Heksa yang tangkas membawa tubuhnya untuk langsung berbalik. Disana, dengan piyama merah muda bermotif kucing hitam gembul yang familiar dimana sering digunakan oleh perempuan itu saat mereka tidur bersama di kamar mereka yang nyaman, Hala muncul dengan ekspresi yang tidak bisa Heksa baca dengan benar.
Heksa, dengan senyum sumringahnya memperhatikan Hala dengan benar. Betapa dia sangat merindukan perempuan yang sekarang berdiri jauh di depannya. Mata masih terlatih pada bidang lain daripada dirinya, tetapi Heksa tidak memusingkan itu semua. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berada di sisi Hala seperti ini.
Oh, apakah rambut perempuan itu dipotong lebih pendek daripada sebelumnya? Terlihat dari bagaimana cepolan yang dia buat terlihat lebih rendah dan banyak anak rambut mencuat dari berbagai sisi. Itu agak menggemaskan dimata Heksa yang berbinar.
”Hala, lo akhirnya datang juga” Suaranya berwarna. Heksa tidak bisa mendefinisikan bagaimana dia merasa sangat bahagia.
”Apa yang mau lo bicarain, Heksa? Bukannya lo udah nggak mau ketemu gue, ya?” Suara Hala kecil, terdengar sangat tidak yakin.
”Apa yang lo bicarain? Sejak kapan, sih, gue nggak mau ketemu sama lo? Lo nggak ada disisi gue sebentar aja gue udah ngerasa kecarian, tau. Jangan bercanda, deh, La” Heksa berseru dengan riang. Langkah kakinya membawa dirinya lebih dekat pada Hala.
Hala terlihat tersentak. Matanya kini beralih menatap Heksa dengan tidak percaya. Perawakannya terlihat dibuat lebih kecil seperti mencoba untuk menyelamatkan dirinya pada posisi bertahan. Heksa merasa agak miris dengan reaksi, tetapi dia tidak peduli dan dia harus membuat obrolan mereka hari ini bisa membuat Hala kembali ke sisinya lagi.
”Lo kemarin nyuruh gue buat jauh-jauh dari lo karena lo jijik sama gue, kan, Sa? Lo jijik sama perasaan gue ke lo. Apalagi yang lo buat sekarang, Heksa? Gue udah menjauh kayak yang lo minta. Kenapa sekarang lo mau gue ke sini buat ngobrol sama lo lagi?”
Tatapan mata Hala tegas. Ada banyak rasa sakit disana ketika Heksa memegangnya. Rasanya, Heksa tersentak. Kesakitan muncul dimana-mana membuatnya sesak. Heksa ingat kembali bagaimana dia di hari itu. Begitu marah ketika Hala mengatakan perasaan romantisnya padanya.
Tapi apa yang bisa dia lakukan? Ketika kehilangan Hala memiliki dampak yang begitu besar pada hidupnya, apa yang bisa dia lakukan? Heksa tidak akan membiarkan Hala pergi lagi dari hidupnya. Cukup sekali ini dia merasakan neraka kehidupan. Dia ingin hala kembali padanya. Dia ingin Hala disisinya lagi bagaimanapun caranya.
”Apasih yang lo bilang, La? Nggak ada gue ngomong kayak gitu ke lo. Waktu itu gue cuma emosi sesaat. Gue minta maaf karena udah ngebentak lo dan udah nyakitin lo waktu itu. Sekarang, gue udah waras lagi, La. Gue udah sadar gue buat kesalahan sama lo.. Sumpah, ya, Hala.. gue kangen banget sama lo. Hidup gue rusak selama lo nggak ada disisi gue lagi. Gue bingung, La”
Dia mencurahkan segalanya. Membuat Perempuan itu tahu bagaimana perasaannya yang sesunggunghnya. Jika bisa mengemis, dia akan melakukannya agar Hala Kembali padanya. Apapun itu akan dia lakukan agar Hala kembali.
”Heksa, lo jangan gini. Jangan bilang kalau lo kangen sama gue lagi. Lo jahat banget, Heksa. Lo tau nggak kalau lo begini, gue yang makin sakit” Suara Hala bergetar. Perempuan itu berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya pada Heksa.
Heksa selalu tahu bahwa Hala, jauh dari bagaimana dia terlihat di luar. Perempuan itu memang adalah sosok yang ceria dan pembuat onar di antara teman-temannya. Terlalu kuat untuk menerjang badai sendirian. Tetapi, Hala sama saja dengan anak perempuan kebanyakan. Hala itu cengeng. Dia akan mudah menangis untuk sesuatu yang tidak perlu ditangisi. Biasanya, ketika dia menangis, dia membuat rekayasa agar tidak terlihat bahwa dia menangisi kehidupannya.
Ketika Hala menangis, itu pastilah dengan alasan dia menonton dokumenter sedih, film atau drama yang menyedihkan, atau hanya menonton video tentang orang-orang yang sedang kesulitan atau bahkan dengan menonton video kucing terlantar dengan hidup penuh perjuangan. Itu adalah kamuflase yang biasa digunakan perempuan itu. Heksa menghapalnya di luar kepala.
”Hala, lo jangan nangis..” Suaranya kecil, berusaha menenangkan.
”Gue nggak nangis! Lo jangan ngubah subjek pembicaraan! Sumpah Heksa, lo buat gue stress kalau lo gini ke gue”
“Lo juga buat gue stress kalau lo pergi dari gue, nggak mau deket deket gue lagi tapi lo masih perhatian sama gue, Hala. Lo masih mau ngurusin hidup gue meskipun lo mencoba buat ngejauh dari gue”
“Nggak. Gue nggak peduli lagi sama lo” Hala membuang muka. Dia berjalan menjauh dari Heksa, mengambil langkah dan tempat dengan jarak yang tidak bisa digapai oleh panjang tangan Heksa sendiri agar Heksa tidak akan bisa melakukan apapun padanya secara tiba-tiba.
”Lo nggak bisa bohongin, gue, La. Lo ‘kan, yang nyiapin setelan gue buat acara pernikahannya Lisa? Dengan itu aja lo udah buktiin ke gue kalau sebenernya lo masih care sama gue, Hala. gue tau lo”
”Kalau lo tau gue kenapa lo masih nyakitin gue, Heksa? Gue rasa lo tau kenapa gue kayak gini ke elo. Jangan mencoba buat image lo kelihatan lebih sakit dari gue” Hala berseru. Perempuan itu menumpahkan emosinya terlihat dari bagaimana merahnya wajahnya. Matanya sudah sembab. Ada air mata yang dengan cepat dia hapus selama Heksa tidak melihat.
”Hala, gue beneran sakit” Dia menghela napas. Pelan-pelan berbicara agar Hala tidak melarikan diri darinya. Langkahnya mantap dan tegas dimana dia berdiri. Sekarang Hala berada di dekat tiang pagar pembatas dan Heksa berdiri di tengah jalan keluar satu-satunya.
”Hidup gue beneran hancur, La. Gue beneran nggak tau arah setelah lo nggak ada lagi di sisi gue. Lo tau? Sekarang gue udah tidur di kamar gue sendiri lagi. Gelap, La. Lo tau gue nggak suka gelap kayak gitu.
Gue mau kita kayak dulu lagi. Lo balik sama gue, ya, La? Lo pulang ke rumah. Please, pulang ke rumah sama gue, ya?” Dia meminta. Heksa tidak peduli apa yang dia lakukan adalah mengemis pada perempuan yang sedang goyah itu.
”Heksa.. sumpah.. kenapa lo jahat sama gue, Sa? Gue udah bilang kalau gue suka sama lo. Kalau gue sayang sama lo dan perasaan gue nggak pernah berubah sedikitpun ke elo. Tapi lo nolak gue, Sa. Lo bilang lo kecewa dengan perasaan gue.
Dengan penolakan lo yang kasar itu aja udah buat gue sadar diri buat jauhin lo, Sa. Gue belum bisa move on kalau lo tau. Dan sekarang lo bilang hidup lo hancur gara-gara gue dan minta gue buat pulang sama lo lagi? Lo nggak mikir gue gimana, Sa? Lo nggak nempatin diri lo di kaki gue?”
Suara Hala serak. Jeritan yang hanya keluar dengan oktaf kecil itu dihiasi dengan sesegukan yang membuat hati Heksa tercubit. Dia tidak bisa melihat Hala menangis dengan seleluasa itu di depannya tanpa embel-embel bahwa dia sedang menonton atau melihat sesuatu yang menyedihkan. Sekarang, tampilan wajah Hala yang menangis adalah nyata di kedua bola matanya.
Hati kecil Heksa terusik. Dia tidak ingin melihat Hala menangis. Dia seharusnya ada di sisi Hala untuk menenangkan perempuan itu. Untuk membisikkan kata-kata lucu menghibur agar perempuannya tidak menangis lagi. Rasanya, hatinya ikut sakit melihat bagaimana reaksi Hala yang mentah dan terbuka.
”Lo jahat, Heksa. Gue nggak pernah nyangka lo bakalan begini tapi lo nyakitin gue, Sa. Gue tau gue salah udah suka sama lo. Udah sayang sama lo dengan berlebihan. Tapi ini nggak bisa dikendaliin, Sa. Nggak bisa. Gue cinta sama lo dan lo dengan santainya minta gue ada disisi lo lagi setelah lo nolak gue dengan keji. Kemana hati lo, Heksa” lagi. Rengekan Hala membuat sesuatu bergejolak di hatinya. Dia benci bagaimana situasi berjalan saat ini.
Tapi satu yang pasti, dia tidak bisa membalas perasaan romantis Hala padanya.
Itu adalah apa yang sedang dia hindari saat ini. Dan sampai selamanya. Dia hanya tidak bisa melakukannya.
”Hala..”
Heksa bergerak untuk menggenggam kedua tangan perempuan itu. Jemari Hala dingin. Ada gemetar yang kuat dari isak tangisnya dan juga emosinya. Heksa menggigit bibir bawahnya. Dia benci bagaimana percakapan ini berjalan. Tetapi dia putus asa. Sangat putus asa untuk membawa pulang Hala ke sisinya lagi.
“Gue rindu kita yang dulu, Hala. Gue kangen kita yang dulu. Sama-sama terus. Ngobrol bareng, main bareng sampai ngasuh Pipang bareng-bareng. Gue kangen lo yang selalu ada buat gue. Gue kangen masakan lo, gue kangen advice lo ke gue. Gue kangen lo yang bisa jagain gue waktu gue lagi di titik terendah gue. Gue kangen segalanya tentang elo, Hala..”
”Lo tau? Gue bingung waktu lo nggak ada di rumah malam itu. Gue bingung waktu anak-anak bilang lo udah jalin komitmen sama Bang Sinar. Gue bingung lo yang nggak pulang-pulang setelah hari itu, La. Gue sadar gue marah besar sama lo, tapi lo nggak bisa tinggalin gue gini aja, dong, La. Lo pasti tau kalau keberadaan lo yang buat gue bertahan sampai saat ini. Gue hidup buat lo, Hala. Gue hidup gara-gara lo yang selalu ada di sisi gue”
Heksa berusaha lagi. Tangannya beralih untuk mengusap helaian rambut dari pandangan mata berair Hala. Heksa tahu bahwa Hala sekarang sedang menatapnya dengan tidak percaya. Tahu bahwa perempuan itu akan marah padanya. Tapi Heksa tidak bisa melepaskan Hala. Jemarinya ia bawa untuk mencengkeram erat pergelangan tangan perempuan itu.
”Lo egois, Heksa. Lo brengsek! Lo mikirin gue, nggak, sih? Yang ada di otak lo itu Cuma lo doang. Lo beneran butuh gue buat hidup karena apa? Karena gue yang ngasuh lo kayak anak bayi perlu diemong? Gue bukan pengasuh, lo, brengsek!”
”katain gue sepuas yang lo mau, Hala. Asalkan lo bisa balik lagi ke gue, gue nggak masalah”
”Lo bukan Heksa yang gue kenal. Lepasin gue!”
Heksa panik Ketika Hala mencoba untuk menjauh. Perempuan itu berontak, berusaha lepas dari cengkeramannya.
”Hala-,”
”Diem, lo! Lepasin gue!”
”Kalau gitu ayo pacaran!”
Heksa terengah-engah. Dia tahu dia berteriak sekarang. Dia tahu dibelakangnya ada beberapa kamar yang diisi oleh teman-temannya. Sekarang dia tidak peduli. Selama Hala akan kembali padanya, itu adalah apa yang akan dia fokuskan. Dia tidak bisa kehilangan ini.
”...Apa?”
Suara Hala kecil, bergetar. Mata yang menyimpan banyak hal yang sekarang hanya diisi dengan rasa sakit dan air mata menatapnya dengan setengah kekosongan dan ketidakpercayaan. Heksa merasa mual. Dia sebenarnya tidak berniat mengatakan hal itu. Tetapi jika berpacaran dengan Hala adalah apa yang perempuan itu inginkan, maka Heksa akan mengabulkannya.
”Ayo pacaran sama gue, Hala” Heksa mengulangi. Kali ini dengan lebih jelas agar perempuan itu bisa mengetahui apa niatnya. Senyuman dia berikan untuk menenangkan Hala yang terdiam di posisinya, masih tidak percaya.
”Kalau itu yang bisa buat lo balik lagi ke sisi gue, gue bakalan ngabulin apa yang hati lo pengen. Gue bisa pura-pura jatuh cinta sama lo. Gue bisa pura-pura kalau kita menjalin hubungan asmara. Gue bisa pura-pura asal lo nggak menghilang dari gue lagi. Apapun bakalan gue lakuin agar gue nggak kehilangan lo lagi. Sekarang, ayo pacaran. Gue bisa jadi pacar yang baik buat lo, Hala. gue janji”
Heksa melanjutkan. Kali ini dia yakin bahwa Hala akan menyetujuinya. Hala mencintainya, kan? Maka ketika orang mencintai sesuatu, pasti mereka akan menerima apapun yang diinginkan oleh orang tersebut?
Heksa akan mengabulkan apapun untuk Hala. dia akan melakukannya.
Tapi apa yang tidak Heksa sadari adalah, bagaimana Hala pada akhirnya dengan kecepatan yang tidak mampu di prediksi olehnya, melepas cengkeraman kuat Heksa dan menamparnya dengan amarah yang terpancar dari kedua mata bulat itu.
”Bajingan”
Bisikan Hala menjadi sesuatu yang menyayat hati Heksa. Lelaki itu tidak peduli dengan bagaimana pipinya terasa sangat sakit dan berdebar akibat pertemuan telapak tangan dengan kekuatan keras itu. Yang dia peduli adalah bagaimana Hala yang berusaha untuk pergi dari sisinya.
Jadi dengan panik, dia meraba untuk menggapai tangan Hala, menahan agar perempuan itu tetap disana bersamanya.
”Hala-,”
”Lo lagi nggak waras, Heksa. Gue nggak mau ketemu sama lo dan hati lo yang busuk itu. Sekarang, lepasin gue atau gue nggak bakalan segan-segan buat mukulin lo”
Cih. Memukulinya dengan ekspresi sakit seperti itu? Heksa tidak peduli. Dia akan terus mempertahankan Hala disisinya.
”Lepas- hmph!”
Heksa, dengan tidak berpikir panjang, menarik Hala dengan kekuatannya yang tersisa untuk menghubungkan bibir mereka.
Bukankah ini yang pasangan perlukan? Sebuah ci*uman untuk mengikat hubungan mereka?
Heksa tidak peduli bagaimana Hala berontak di pegangannya. Yang dia pedulikan sekarang di antara ci*uman mereka adalah, bahwa Hala tidak akan pernah pergi lagi darinya. Hala ada disini, kembali padanya seperti sedia kala. Heksa berjanji bahwa dia melakukan hal yang seharusnya dia lakukan.
Tapi apa yang tidak dapat dia prediksi adalah, bagaimana suara tajam Lisa menghancurkan segalanya.
”Anjing! Apa yang lo berdua lakuin Brengsek?!!”
Hala mendorongnya dengan kuat akibat refleks panik tubuhnya. Wajah horor Hala adalah apa yang pertamakali Heksa lihat sebelum dia benar menghadapi Lisa dan kemarahan yang memancar dengan luar biasa dalam tatapan yang kuat itu.
”Lo berdua, Anjing!! Bangsat, gue nggak tau gue temenan sama pengkhianat!! Sialan!”
Lagi, amarah Lisa memuncak. Telinga Heksa mendaftarkan suara panik Hala yang mencoba untuk menenangkan Lisa dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Heksa, yang sudah dimakan oleh kegelapan ego dirinya yang muncul setelah tangki kesabarannya hancur, tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang adalah bagaimana dia menggenggam tangan Hala dalam genggaman besi.
...🍁...
...Konfrontasi; Hasil Reaksi Heksa 2/2...
.........
...🍁🍁🍁...