
Lisa berharap bahwa dia bisa kembali ke tiga hari yang hilang dimana dia hanya tidur dan tidak sadar dengan sekelilingnya. Kepalanya masih sakit, tulangnya masih retak di sana-sini dan perutnya masih lapar karena belum ada asupan yang masuk. Ditambah lagi, tenggorokkannya yang sakit dan jantungnya yang berdebar takut tidak karuan.
Dia hanya ingin tenang untuk sementara waktu. Hell, dia sedang sakit dan tidak berdaya! Tetapi mengapa yang terjadi sekarang adalah dia dihadapkan dengan wajah tegas kedua orangtuanya. Tidak, lebih tepatnya adalah wajah tanpa belas kasihan seorang kepala keluarga Cakrawijaya sedangkan sang Ibu masih dengan hormat dan manusiawi menaruh khawatir pada keadaan sang anak perempuan satu-satunya.
Lisa sebenarnya tidak berharap kedua orangtuanya akan datang secepat ini saat dirinya rentan dalam hal fisik dan psikis. Dia ingin marah, tetapi kali ini dia sudah kehabisan tenaga dan hanya ingin tidur saja sampai bulan ini berakhir, atau bahkan jika bisa, dia ingin tidur sampai Noren menyerah padanya tentang apapun yang berada di kepala sialan lelaki brengsek itu.
Nalisa bersumpah bahwa dia ingin memuntahkan apapun yang ada di lambungnya ketika matanya mencuri lirik ke arah kertas tak berbentuk yang tergeletak di lantai dekat dengan pintu kamarnya hasil dari Hala yang di dorong maju oleh Sherely yang tiba-tiba saja sudah mengambil posisi untuk menghampiri sang buah hati.
”Sayangnya Mama..” Sherely berkata dengan lembut dan hati-hati. Lisa ingin tertawa karena dia bisa melihat sedikit binar kekhawatiran di mata Ibunya sendiri. Entah itu dibuat-buat atau tulus, Lisa hanya tidak ingin keberadaan sosok ibunya disini sekarang.
Dia ingin semua orang enyah dari sisinya. Berkubang di dalam kegelapan seperti sebelumnya terasa lebih menarik daripada dengan ruangan yang diisi banyak orang dan terasa sangat pengap ini. Ditambah lagi tidak ada udara yang cocok untuk menggantikan bagaimana rasanya campuran di ruangan itu.
”Yaampun sayang, kamu panas sekali.. kenapa hanya dirawat di rumah? Ayo sekarang kita bawa kamu ke rumah sakit, ya?”
Ibunya, yang kali ini lebih panik dari sebelumnya sesegera mungkin menggeser duduk Alpino yang berada di sebelah Lisa sejak tadi, ingin menarik paksa anaknya untuk dibawa pergi dari ruang kecil kamarnya yang pengap.
”Ma, jangan maksa-,”
”Ma, Lisa pusing jangan di tarik-tarik!” Lisa berucap dengan suara yang lirih, agak keras tetapi terbata. Dia merasa kepalanya sangat sakit seperti dipukul oleh palu raksasa tepat dibelakang batok kepalanya.
Sherely terlihat begitu panik dan bingung. Wanita paruh baya itu segera melepaskan cengkeramannya pada bahu sang anak sebelum berbalik ke arah suaminya yang masih diam dan keras layaknya batu.
”Sayang, kita harus bawa Lisa ke rumah sakit Veannica secepatnya!” Sherely berkata dengan tegas. Dia memerintahkan suaminya layaknya seorang ibu yang sungguh khawatir dan cemas akan keadaan anak perempuannya.
Lisa membatin, ternyata ibunya masih memiliki rasa tulus pada dirinya. Namun, jauh di lubuk hatinya dia hanya ingin ibunya segera pergi saja. Terlebih sang ayah yang sama sekali tidak bersuara semenjak pria paruh baya itu menampar wajah Kakaknya tadi.
”Ma, Sinar sudah bawa Dokter Andes ke sini tiga hari lalu dan Lisa udah diberi pengecekan berkala. Lisa cuma perlu istirahat. Jangan terlalu dibesar-besarkan. Sebaiknya Mama sama Papa pulang aja dulu, ya?”
Sinar menyahut dari sudut ruangan, berdiri di sebelah Hala yang mengunci bibirnya rapat-rapat seolah menutup mata pada apa yang terjadi. Suara Sinar datar, layaknya sudah mengibarkan bendera putih tanda dia menyerah. Memar merah di pipi kanannya terasa menyengat dari bagaimana warna itu memancar di kulit pucatnya yang tak bersisa energi barang sedikitpun.
”Sekarang yang Nalisa butuhin cuma istirahat yang tenang dan makanan. Lisa belum makan dari tadi dan sekarang sebaiknya-,”
”Sinar, angkat adikmu ke mobil sekarang dan kita pergi ke rumah sakit. Tidak ada bantahan”
Lisa meringis. Ayahnya sungguh sedang tidak dalam mood untuk obrolan basa-basi lagi. Seolah-olah sekarang suara Kakaknya adalah angin lalu dan dia tidak akan mendengarkan siapapun lagi selain dari egonya yang tinggi.
”Sinar, dengar kata Papamu. Cepat bawa adikmu sekarang. Kalau ada apa-apa dengan Lisa, kamu yang Mama salahkan. Dengar?”
Rasanya menyengat ketika kedua orang tuanya yang sangat penyayang sebelumnya bisa berubah jauh seperti ini. Melihat bagaimana Kakaknya menyerah dengan apapun yang telah di lontarkan oleh kedua orang tuanya sungguh membuat Lisa kalah. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kepala kedua orang tua itu? Lisa menjadi sangat penasaran dengan apa yang Noren kerahkan untuk mencuci otak keluarga kesayangannya.
Sinar yang sudah tidak bisa melontarkan elakan apapun lagi, segera mendatangi Lisa. Dia membungkuk di depan sang adik dan menuturkan permintaan maaf tanpa suara. Wajah lelahnya merasa sangat bersalah dan memar merah besar yang berbentuk tangan gembil Ayah mereka menambah sengatan yang pasti dirasakan oleh sang kakak. Belum lagi bagaimana hatinya bekerja. Pasti ada goresan tajam yang tertoreh di sana dengan sangat dalam.
”Kak Sinar.. kenapa jadi gini, sih?” Lisa mendesis. Tangannya mencengkeram bahu sang kakak ketika Sinar berusaha untuk mengangkatnya dari atas kasur.
Mata Lisa yang kabur dan kembali berbayang karena gerakan yang tidak dikehendaki oleh tubuhnya sendiri bisa melihat bagaimana senyuman kecil sang kakak yang menawarkan sedikit rasa aman padanya. Meskipun Lisa sendiri tahu bahwa Kakaknya juga membutuhkan hal yang sama dengan dirinya.
”Pegang gue seerat mungkin ya, dek. Jangan dilepas, oke?”
Lagi, Sinar tetap memastikan bahwa Lisa aman di pegangannya. Lisa mengangguk, meyakinkan Kakaknya bahwa dia tidak akan jatuh karena dia percaya bahwa Sinar tidak akan pernah membiarkannya.
”Al, lo juga harus pulang terus langsung istirahat, ya? Jangan ikutin kita ke RS. Lo belum tidur dua hari ini. Kerjaan lo juga numpuk. Jangan sampai sakit juga, lo. Denger? Gue males ngurusin lo kalau lo ketularan sakit dari adek gue”
Sinar memberikan titah pada Alpino yang sudah berdiri. Yakin sekali bahwa dirinya pasti akan ikut mengantarkan Lisa ke rumah sakit bersama dengan mereka meskipun Alpino memilih akan mengendarai motornya sendiri dan mengiringi mereka dari belakang.
”Tapi Bang-,”
”Gue sekalian titip Hala, ya? Udah kalian langsung pulang aja”
Kalau sudah begini, Alpino tidak bisa berbuat semaunya lagi. Lisa bisa melihat bagaimana kedua bahu Alpino turun. Dia yakin sahabatnya itu sungguh sangat mengkhawatirkannya. Lisa agak menyesal dengan bagaimana Alpino terlihat. Ini juga kesalahannya karena memperlihatkan sisinya yang lemah ini kepada orang yang selalu menjaganya selain sang Kakak.
”Nggak apa-apa, Al. Gue pasti cepat sehat, kok. Lo bisa jenguk gue kalau lo udah seger. Mandi juga jangan lupa. Bau, lo” Lisa mendengus, mengernyitkan hidungnya dengan seikit energi yang dia punya guna untuk menghibur lelaki itu.
Benar saja, itu bekerja. Alpino terkekeh kecil meski tidak terlalu lepas. Dia mendengarkan Lisa dan pasti mempercayai apa yang dia katakan. Alpino selalu seperti itu dan itu adalah apa yang Lisa sukai dari bagaimana Alpino memegang semua kata-kata Lisa dengan sangat tepat.
”Oke. Cepat sehat, ya, Lisa. Inget, jangan banyak pikiran lo!”
Alpino bersikeras. Dan Lisa, jika bukan karena memikirkan bagaimana caranya membuat Noren enyah dari kehidupannya, dia juga tidak ingin memiliki pikiran yang membuatnya jatuh sakit seperti ini. Dia hampir gila.
Jika ini diteruskan dia tidak yakin bagaimana keadaan mentalnya dikemudian hari. Lisa ingin segera keluar dari apapun yang terjadi hari ini. Dia sangat merindukan hari-hari cerahnya dan tawa liar yang mampu dia keluarkan dengan berbagai oktaf suara yang melambangkan kepuasan hidup pilihannya.
.........
Rumah sakit bukanlah tempat yang paling Lisa inginkan untuk berada. Meskipun dia saat ini berada di dalam ruangan VVIP sekalipun, bau obat-obatan yang menyengat dan khas bukanlah apa yang dia sukai. Hidungnya agak sensitif untuk bebauan yang dia hindari. Tetapi apalah daya, saat ini adalah waktu dimana ketika Ayah atau Ibunya mengatan A, maka dia harus melakukan apa yang mereka inginkan.
Saat ini, Lisa sedang duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit yang tidak lebih empuk dari kasur kesayangannya di rumah tercinta miliknya. Matanya terlatih pada layar televisi besar di ruangan yang sedang menayangkan animasi dari The Boss Baby: Family Business, sedangkan tangannya sibuk menusuk-nusuk buah mangga di piring yang sudah di siapkan oleh Kakaknya beberapa waktu yang lalu.
Terhitung sudah dua hari Lisa berada di rumah sakit sesuai dengan permintaan ibunya yang sangat bersikeras. Hal yang dia lakukan setelah di turunkan di ranjang kamar ini adalah tidur. Seharian dia tidak ingin makan atau minum. Meskipun dibujuk oleh Sinar sekalipun, Lisa tetap tidak bergeming sehingga ibunya dengan berat hati (dan semena-mena) meminta untuk memasangkan infus pada Lisa sebagai ganti cairan yang masuk ke dalam tubuhnya.
Sekarang, setelah bergulat dengan keinginan untuk sembuh dan hanya sakit sampai hari kematiannya tiba, Sinar dan juga Alpino yang datang menjenguk berhasil untuk memaksanya berhenti dari kekeras kepalaannya. Jadi disinilah dia sekarang, dengan tubuh yang lebih segar dan panas yang sudah turun jauh dari beberapa waktu yang lalu.
Lisa hampir seratus persen sehat untuk saat ini.
Semua ini pun di bantu oleh ketidakhadiran ayahnya di ruangan dan Ibunya yang tidak bersuara sama sekali selain menangis sesegukan di beberapa kesempatan ketika melihat anaknya tidak ingin mendengarkan apa yang beliau minta untuk proses cepat recoverynya.
Namun untuk kali ini, Lisa menyerah. Gajah di dalam ruangan harus disingkirkan sesegera mungkin. Masalahnya, Lisa jengah dengan kehadiran Ibunya yang terus menerus seperti meminta untuk mengobrol sesuatu yang sangat pasti apa itu topik pembicaraannya.
”Mama pulang saja, Lisa mau tidur”
Bohong. Lisa tidak ingin menyingkirkan gajah di dalam ruangan jika itu adalah pembicaraan tentang Noren dan hari pernikahannya.
”Nak. Mama ingin bicara sama kamu. Kamu nggak mau kah dengerin Mama dulu?” Sherely berbicara dengan nada lembut untuk menggoyahkan hati keras Lisa yang sekarang sedang dalam mode berontak.
”Nggak. Lisa pusing. Mau istirahat” Itu disuarakan Lisa dengan final. Dia tidak ingin berdebat tentang permasalahan bodoh ini. Dia hanya ingin tidur dan mengenyahkan diri dari apapun omongan bodoh yang akan Ibunya cercakan padanya.
“Lisa ngantuk. Dah Mama” Meskipun Lisa tidak menyukai bau rumah sakit dan apapun yang menempel pada seisi ruangan itu, dia tetap menarik selimut lembut sampai menutupi kepalanya. Yang dia inginkan hanya ketenangan dari celotehan bodoh Sherely.
Namun bak buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Jika Huston adalah batu dan Lisa juga adalah batu, maka Sherely lebih keras dari batu manapun di dalam rumah tangga Cakrawijaya itu sendiri.
”Ahh.. padahal Mama mau kasih lihat undangan cantik ini ke kamu. Kamu belum lihat kan undangan nikahan kamu sama Nak Noren segimana bagusnya? Mama sampai terpesona tau, sayang.. emang seleranya nak Noren itu mahal sekali, ya.. jiwa seninya bagus banget, lho”
Suara Shereley begitu manis. Persis seperti lebah yang sedang menggoda bunga untuk meminta nektarnya sebagai penghasil madu. Lisa muak. Dia membenci nada apapun itu dari mulut ibunya.
Masalahnya, Lisa sudah melihat seperti apa undangan yang tertera namanya disana dengan ukiran sok elegan yang membuatnya muntah dipagi hari setelah dia berhasil mengetahui apa benda aneh yang terletak di atas nakas samping ranjang rawatnya. Sengaja diletakkan oleh Sherely disana agar Lisa dengan jelas dapat melihatnya ketika membuka mata pertamakali.
Itu adalah undangan berupa box beludru berwarna biru navy yang memang Lisa akui sangat cantik. Diatasnya dibubuhi inisial NN yang berupa Noren dan Nalisa dengan akrilik emas yang berliuk memanjakan mata. Jika itu bukan undangan miliknya, Lisa akui akan Lisa puji habis-habisan, namun karena itu adalah miliknya, Lisa bersumpah, dia tidak akan menyukainya bagaimanapun bentuk benda menjijikkan itu di matanya.
”Lihat lihat... di dalamnya ada kertas tanggal dan undangan terus ada akrilik tipisnya juga buat nama kalian disini. Cantik banget loh, sayang. Mama senang banget. Rasanya seperti anak Mama benar-benar dispesialkan oleh orang lain yang mampu buat kamu bahagia. Mama senang sekali...” Sherely bersenandung. Tampak lebih gembira dengan undangan di tangannya.
Lisa tidak peduli. Perempuan itu lebih memilih untuk berbalik memunggungi Ibunya yang heboh sendiri. Lisa tidak akan goyah pada apapun yang coba disampaikan oleh ibunya. Dia muak dengan percakapan sepihak yang tidak dia inginkan ini.
”Lihat, Nalisa sayang.. anak mama yang paling cantik.. ” ada jeda tarikan napas yang dibuat-buat.
Lisa hapal apa kalimat tambahan yang akan diucapkan oleh ibunya setelahnya. Ini seperti cerita di drama klasik yang ditontonnya dan dia sangat benci mendengar itu keluar dari mulut Ibunya yang sok manis itu.
Lisa meringis dalam hati. Rasanya menyedihkan tentang kenyataan dimana pada akhirnya dia akan melabeli ibunya seperti itu. Padahal, dia sayang menyayangi sang ibu sebelumnya. Bahkan, dia memuja ibunya dengan sungguh-sungguh dan menaruh kepercayaan besar kepada wanita paruh baya yang selalu cantik di mata Nalisa.
Namun sekarang, Lisa sudah tidak peduli lagi. Dia tidak bisa melihat kesukaan yang sama pada Ibunya seperti bagaimana dia sebelumnya.
”Sayang.. Mama tau pernikahan ini berat buat kamu..”
Nah. Ini dia. Sudah dimulai ucapan pembukaan yang tidak Lisa inginkan ini.
”Tapi percayalah, suatu hari nanti kamu pasti akan berterimakasih sama Mama. Mama yakin itu karena Mama tau kalau Nak Noren adalah sosok yang pantas buat kamu, sayang”
Ada suara grasak-grusuk dimana ibunya bergerak mendekat ke arahnya. Suara tarikan kursi yang agak terseret hingga akhirnya sang ibu sudah berada persis di belakangnya dan jarak antara mereka hanya sejengkal jauhnya. Lisa ingin melompat dari ranjang saat itu juga, namun jemari ibunya sudah lebih dulu menekan bahunya, menahannya untuk melarikan diri sejauh mungkin.
”Nak Noren itu baik. Sejauh yang Mama tau, dia adalah anak yang sangat ambisius dan menyayangi kedua orang tuanya. Nak Noren itu juga sudah mampu untuk membahagiakan kamu, sayang. Mama bahkan bisa lihat seberapa seriusnya Nak Noren sama kamu. Mama yakin bahwa mama benar memberikan anak kesayangan Mama ini pada orang kayak Noren”
Sherely mulai mendongeng dimana Lisa ingin sekali mengubur dirinya jauh dari situasi ini sekarang juga.
Ibunya mulai mengoceh tentang Noren ini, Noren itu, Noren begitu, Noren begitu, seolah tidak ada kejelekan yang nampak di depan mata ibunya. Iblis itu berhasil mencuci otak ibunya sedemikian rupa sehingga hanya kesempurnaan sang iblis lah yang ada di depan mata Ibunya saat ini.
”Mama bingung kenapa Lisa nggak mau sama Nak Noren, sayang? Kalau soal cinta, itu bisa datang karena terbiasa. Di coba aja dulu sama Nak Noren nya. Mama yakin kamu pasti bakalan nyaman sama dia seiring waktu. Coba deh kasih Nak Noren kesempatan sedikit aja, ya, sayang? Buka hati kamu sedikit aja buat Nak Noren, boleh?”
Lisa bisa merasakan Ibunya mengusap belakang kepalanya dari balik selimut yang untungnya tebal ini. Lisa merasa jantungnya bergejolak dengan tidak nyaman setiap kali jemari ibunya menyentuh kepalanya bersamaan dengan ucapan-ucapan tidak masuk akal yang Ibunya lontarkan.
Lisa ingin menangis. Meraung untuk mengatakan kepada ibunya bahwa Noren bukan orang yang seprerti ibunya katakan. Noren bukan orang yang pantas untuknya bagaimanapun dia membuka hati. Noren adalah orang yang selalu ingin mendapatkan apapun dengan cara busuknya sendiri, termasuk membuat orang lain stress dan hampir gila dalam situasi menyedihkan seperti ini.
”Nalisa sayang.. kamu tau ’kan kalau Mama dan Papa melakukan ini semua karena kami sayang sama kamu? Karena Mama dan Papa sayang sama Lisa jadi kami melakukan segala yang terbaik buat Lisa, ya? Lisa jangan ngerasa kalau Mama dan Papa ngasih Lisa ke orang yang nggak pantas menjadi pendamping hidup Lisa. Lisa harus yakin kalau orang tua selalu memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Paham, sayang?”
Sherely bersenandung. Suaranya masih lembut untuk menyingkirkan kegundahan hati Lisa yang rumit. Sebenarnya, Lisa yakin bahwa masih banyak yang Ibunya sembunyikan. Masih banyak yang Sherely tidak katakan padanya dengan gamblang.
Lisa selalu tau bahwa kedua orang tuanya adalah pebisnis yang selalu ingin berkembang pesat. Selalu merasa kurang disana dan disini meskipun mereka merintis dari nol dan tidak punya sama sekali. Dulu.. Lisa sangat membanggakan kedua orang tuanya yang tanpa lelah bekerja untuk bisa sampai di titik ini. Sayangnya sekarang mata Lisa terbuka dengan sangat lebar bahwa, kedua orang tuanya sudah mulai serakah.
Lisa tahu. Pernikahan antara dia dan Noren bukanlah terjadi hanya karena Noren mencintainya. Itu pastilah dilandasi dengan kerjasama bisnis dibelakangnya. Dia tidak yakin apakah Noren jujur tentang perasaannya pada Lisa. Tapi satu hal yang pasti, keserakahan manusia akan uang dan kasta bisa begitu sangat mengerikan.
Ada perasaan tenggelam di dalam hatinya. Jauh di lubuk terdalam jantungnya yang terasa diremas dengan sangat kuat oleh tangan besar transparan. Sejujurnya, melihat kedua orang tuanya seperti ini merupakan hal yang sangat menyedihkan. Lisa tidak menyangka bahwa ada saat dimana kedua orang tuanya akan jatuh juga kedalam perangkap kehebatan harta.
”Pokoknya sampai kapanpun Lisa nggak akan mau menikah. Apalagi sama Kak Noren. Lisa nggak mau nikah!”
Dia berteriak. Adrenalinya kembali lagi dan Lisa merasa dia harus melemparkan paksaan-paksaan bodoh ini keluar dari jalurnya.
”Noren gila itu bukan seperti yang Mama bilang! Dia orang jahat dan Lisa nggak mau Nikah sama orang jahat!” Lisa tidak peduli bahwa dia terlihat seperti anak yang sedang tantrum. Karena dia memiliki kehidupannya dan orang tuanya tidak boleh merenggutnya begitu saja dengan seenaknya.
”Sayang.. Mama nggak pernah ngajarin kamu nggak sopan begini, ya!” Sherely kembali membentak. TTatapanya bertemu dengan tatapan tajam Lisa yang tak tergoyahkan.
”Tapi Mama udah seenaknya sama aku! Ma, Lisa sudah besar! Lisa sudah punya hidup sendiri. Mama jangan seenaknya menentukan langkah hidup lisa. Apalagi pernikahan itu seumur hidup Ma! Lisa bakalan tersika kalau seumur hidup sama Kak Noren. Lisa nggak mau!”
Tanpa sadar, air matanya menetes lagi. Ada bayang-bayang yang sebenarnya tidak ingin dia bayangkan tentang hidupnya bersama Noren nanti. Dia tidak mengerti mengapa itu terlintas di kepalanya, tetapi rasanya terlihat sangat mengerikan dan sangat suram. Lisa tidak ingin kebahagiaan hidupnya di renggut paksa dengan seenaknya.
”Noren pasti bisa bimbing kamu lebih baik lagi dan menjaga kamu dengan benar. Semenjak Mama sudah memberi restu untuk kamu dan Noren, Mama yakin bahwa pilihan Mama benar dengan menerima Noren menjadi menantu Mama yang bisa mama percayakan untuk kamu”
Ada ketegasan liar dalam suara Sherely. Tatapan matanya terasa menghunus Lisa lebih dalam lagi sehingga dengan tiba-tiba membuatnya menciut.
”Mama cuma ingin lihat anak perempuan Mama satu-satunya bahagia, sayang. Kamu paham perasaan Mama, kan? Mama sayang Nalisa.. sayang sekali. Kamu satu-satunya permatanya Mama. Dan doa yang selalu Mama panjatkan untuk Nalisa adalah.. melihat Nalisa bahagia dengan orang yang pantas buat kamu, sayang. Kamu percaya Mama, kan?”
Lisa tidak percaya. Karena bukan Mamanya lah yang akan menjalani hidup bersama Noren. Itu adalah hidupnya yang dicuri.
Lisa tidak peduli selembut dan semanis dan semeyakinkan apapun ucapan Ibunya, dia tidak akan menyerahkan hidupnya begitu saja. Lisa bukanlah seseorang yang mudah menyerah. Dan dia pastikan dia memenangkan apapun yang mempertaruhkan hidupnya ini.
Lisa berjanji.
...🍁...
...Ibu dan Alasan Restu...
.........
...🍁🍁🍁...