
Mungkin Lisa hanya berpikir terlalu berlebihan, atau mungkin, tidak ada hal yang berarti dan perlu dipikirkan antara hubungan Kakaknya dan Noren. Sepertinya segalanya baik-baik saja ketika dia memilih meninggalkan ruangan untuk mengangkat panggilan dari Hala yang mengatakan bahwa perempuan itu sudah berada di perjalanan untuk datang kekediamannya. Kakaknya dan Noren mengobrol seperti mereka yang biasanya ketika Lisa memasuki ruang tengahnya.
Menunggu Hala tiba tidak begitu lama hingga dia harus menyiapkan minuman dan memaksa dirinya untuk berbasa-basi di antara dua orang lelaki dewasa itu. Lisa hanya perlu tujuh menit mondar-mandir di lorong antara dapur dan ruangan dimana kakaknya dan Noren berada sebelum Hala muncul dengan ketukan brutal di pintu rumahnya. Senyuman cerah hadir dengan berbinar-binar diwajah Lisa dengan semangat yang membara.
Tentu saja, tidak ada sapaan berlama-lama, Noren dan Sinar keluar dengan tampilan yang sudah siap seratus persen. Bahkan, Sinar sudah mendapatkan tas kecilnya dan segera mungkin menyapa Hala ketika lelaki itu mendaratkan matanya pada perempuan itu. Seolah-olah menghindari berada di tempat yang sama berlama-lama dengan Noren, lelaki itu menarik Hala untuk memilih duduk di kursi belakang berdua dengannya alih-alih Lisa sendiri.
Entah itu adalah strategi licik Kakaknya untuk membiarkan dia duduk bersebelahan dengan Noren yang mengemudi atau apa, Lisa akan membiarkan Sinar kali ini. Karena, tentu saja sesuai yang Noren katakana padanya, ini adalah acara untuk membangkitkan semangat Kakaknya dan membantu hubungan dua orang itu berkembang. Mengabaikan bagaimana Noren juga mengaitkan hubungannya dengan lelaki itu, Lisa akan berpura-pura tidak paham dan mengatakan bahwa mereka akan pergi jalan-jalan sebagai dua teman yang menikmati hari libur yang sama.
Perjalanan cukup lama karena kemacetan yang terjadi di beberapa titik tidak membuat Lisa bosan dan lelah untuk menunggu. Jika saja dia hanya berdua dengan Noren, sudah dipastikan mobil itu berisi dengan cekcok mereka yang tidak ada habis-habisnya atau bahkan lebih parah lagi, Noren yang menggodanya habis-habisan dan mengambil pick-up line yang menggelikan. Sekarang, dia hanya harus terjebak beberapa menit lebih lama dengan dua orang lainnya, yaitu kakaknya dan juga sahabatnya.
Sinar, syukurnya lelaki itu terlihat lebih banyak berbicara daripada sebelumnya dia hanya bersama Noren. Meskipun disepanjang percakapan, Noren juga ikut menimpali beberapa kata, tetapi sebagian besar hanya diabaikan oleh Sinar secara halus atau Sinar hanya memberikan senyuman kecil pada percakapan. Jika Lisa mengira itu aneh, dia hanya mengabaikan. Mungkin, mereka hanya sedang ngambek satu sama lain dan Noren yang memulai. Lisa bisa mengasumsikan begitu karena Noren yang sedang mengemudi, terlihat lebih santai daripada Sinar sendiri. Mengingat bahwa kakaknya juga sering memberikan kartu merajuk pada Lisa, ya, pasti mereka hanya terlibat pertikaian kecil yang tidak penting.
Lagipula, berhenti membaca hal-hal terkait lebih jauh! Mereka hanya harus bersenang-senang saat ini dan mengabaikan yang tidak perlu. Lisa akan memanjakan dirinya pada festival dan berfoto dengan para cosplayer keren yang hadir di comifuro. Dan siapa tau, dia akan memborong beberapa merch karakter keren yang dijajakan disana. Oh, dan beberapa novel dan komik fiksi. Dia tidak sabar untuk segera melompat pada keseruan yang ditawarkan itu.
“Rame banget.. mana panas lagi.. Ini beneran mau main disini?”
Sinar adalah orang yang pertamakali mengeluh ketika turun dari mobil. Mengernyit, Lisa segera menghampiri kakaknya dan meletakkan telapak tangannya di dahi sang kakak. Sinar menatap dengan kebingungan dari kedua matanya yang memancar.
“Lo beneran ngomong begini? Sakit lo, Kak? padahal biasanya langsung heboh kalau mau dibawa ke acara Jejepangan? Salah makan apa, sih, Lo?”
Sinar mengerjap, cengengesan setelahnya saat dia menepis tangan Lisa dengan lembut.
“Biarin aja, dek. Dia soalnya masih sebel sama aku” Noren menimpali tiba-tiba. Dengan penuturan santai dan satu rangkulan bahu pada Kakaknya yang hanya berdecih. “Udah, nggak usah jadi bayi yang suka ngambek. Lo udah gue kasih kesempatan buat pendekatan lebih banyak, nih buat calon lo. Mending dinikmati aja, Nar. Siapa tau nanti sore kalian udah jadian aja”
Penuturan Noren membuat Lisa dan tentu saja, Hala memberikan dua reaksi yang berbeda. Lisa dengan cekikikannya yang tahu dan bersiap untuk menggoda kakaknya yang pasti memerah digoda di depan umum dan dengan tambatan hatinya yang berada dekat dengannya, dan Hala yang mengerjap dengan kebingungan yang murni polos di kedua matanya.
“Aduh. Gue lupa kalau Kak Sinar yang lagi mode malu-malu kucing bisa jadi kayak gini” Cekikikan, Lisa menyikut kakaknya yang sudah berusaha keluar dari tangan Noren di tubuhnya.
“Dih, jangan aneh-aneh. Gue nggak gitu” bibirnya mengerucut sebal, persisi seperti anak kecil tetapi kali ini lebih tegas. “Lo juga, jangan sembarangan. Udah, jangan pegang-pegang gue” titahnya pada Noren seperti siap untuk bertengkar kapan saja. Sedikit terlalu berlebihan.
“Jangan gitu, nanti di akhir hari, lo pasti berterimakasih sama gue, Nar” tepukan diberi Noren kembali dan Sinar mengelak dengan cepat. Lelaki itu pergi lebih dekat dengan Hala, mencoba untuk menjauh dari sosok yang sangat ingin dia lempar keluar dari pandangannya.
“Seolah-olah” itu adalah bisikan kecil yang Lisa dengar dari gerutuan Kakaknya. Lucu. Lisa menemukan itu pada Kakaknya dengan geli.
Noren mengangkat bahu dan Lisa langsung berusaha untuk menyelamatkan diri ketika Noren berusaha untuk meraih dirinya. Tertawa, Lisa memassang seringai kemenangan ketika Noren tidak berhasil menjalankan rencana picik di kepala lelaki itu.
“Lisa, kita lagi Double date ini. Kok yang dibolehin mesra-mesraan cuma Sinar doang? Aku nggak boleh sekedar jagain dan dekat dengan kamu, gitu?” Wajahnya memelas seperti anak anjing yang tersasar. Agak menggelikan sebenarnya jika Lisa boleh jujur.
“Apaan, sih? Kan gue udah bilang nggak ada Double Date gituan, jadi nggak usah ada yang aneh-ane, ya, Kak Noren. Kegilaan lo bisa tolong di kontrol dulu, nggak, sih?” Tertawa dengan sarkas yang menyenangkan, Lisa melompat untuk berjalan lebih dulu. Orang-orang ramai d festival dan Lisa semakin menjadi lebih bersemangat.
Hal yang terakhir ia dengar ketika perempuan itu setengah berlari ke pintu masuk festival adalah suara Kakaknya yang memperingati Noren dengan agresi tenang yang dipaksakan.
“Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan sama adek gue. Berani lo ganggu dan nyentuh adek gue berlebihan, gue bakal pastiin lo nyesel, Ren”
Lisa tidak begitu mendengar, itu adalah beberapa suara yang disamarkan para pengunjung festival. Sehingga, dia tidak tahu bahwa percakapan itu berlanjut untuk beberapa waktu.
“Yaelah, Nar. Lo masih aja salty. Seharusnya lo dengerin dan resapi bener-bener kata Mama lo. Ingat juga obrolan kita. Jangan gitu, lah. Gue sahabat lo, Kan?”
Ada hembusan napas berat yang dipaksakan, tetapi senyum hadir seolah-olah dia memutuskan untuk menyerah pada perdebatan kali ini. Tidak ingin segalanya menjadi lebih buruk.
“Oke..” Jeda, “Oke, baik. Ya, kita sahabat. Ya udah, sana, jaga adek gue.. jangan aneh-aneh. Gue mohon”
“Nah, gitu, dong. Nggak bakalan aneh-aneh, gue. Kita kan bareng jalan berempat. Ya kali, namanya juga Double Date” Tawa Noren menggema, “Yaudah, ayo. Lisa sendirian itu. Yuk, Hala, diajak Sinarnya jalan, ya” tawarnya dengan senyuman lebar sebelum lelaki itu kembali berlari kecil dan menggapai Lisa yang sudah menunggu jauh di depan gerbang penyambutan.
“Gue nggak tau ada apa, dan gue rasa hubungan lo sama Noren lagi di tahap perbaikan. Tapi sekarang, ayo nikmati dulu harinya, ya, Kak? Lisa lagi seneng banget itu. Dan seenggaknya, kakak juga harus senang-senang karena nanti bisa manjain mata di acara comifuro, Kan?”
Menoleh pada Hala yang tersenyum dan menguatkannya, Sinar menarik senyuman sayang yang coba dia kerahkan dengan tulus. Satu tekanan pada telapak tangannya dari bagaimana Hala menggenggam untuk memberi kekuatan, Sinar mungkin bisa membiarkan dirinya bersenang-senang hari ini.
Mungkin saja.
......................
Festival di Pagi menjelang siang hari jauh berbeda dari kunjungan pada malam hari. Mungkin di malam hari lebih terasa menyenangkan dan indah dengan lampu-lampu gantung warna-warni dan keindahan cahaya yang sedemikian rupa dipentaskan. Namun, mengunjungi festival di jam awal dengan matahari yang berpendar cerah dan terang memiliki sensasi yang lain. Lisa ingat bahwa di Jepang seringkali diadakan festival seperti ini, khususnya acara yang dibuat oleh anak-anak sekolah yang diusung dengan niat yang sedemikian rupa.
Disini, dia bersenang-senang. Mereka memainkan banyak permainan. Persis seperti di taman bermain, tetapi lebih banyak stan permainan dan makanan disana-sini dan juga beberapa pertunjukkan di adakan di sebuah stadion yang disewa. Lisa pertamakali, tanpa sadar mengajak Noren untuk bermain di arena lempar balon air yang menarik minatnya pertamakali. Perempuan itu sesegera mungkin memakaikan Noren jas hujan dan mendorong lelaki itu untuk berdiri di depan papan target.
Dengan semangat yang membara, Lisa melempar balon air yang sudah disiapkan. Tertawa ketika Noren panik untuk menghindar kesana-kemari. Benar, tujuan Lisa adalah untuk membalas dendam kekesalan pada lelaki itu dan berharap dapat mengusir setan yang ada di tubuh Noren. Jadi, dia bersenang-senang dengan segenap jiwa dan ragaya. Di beberapa titik, Lisa mengajak Sinar untuk ikut melempar, tetapi dalam dua lemparan, Sinar sudah ditarik untuk bergabung dengan Noren dan membiarkan Hala bergabung dalam acara lemparan bom balon air.
Acara kedua adalah mencicipi makanan yang tersaji di sana seharga tidak lebih dari duapuluh ribu. Lisa menarik Noren untuk mencoba salah satu yang menjajakan cokelat apel manis dan beberapa manisan lain sedangkan Lisa mendorong kakaknya untuk pergi mencari makanan yang lain berdua dengan Hala dan berjanji bertemu di area permainan lempar ban.
“Kira-kira kalau beli ini dua, bisa di diskon engga, ya, Kak? kan kalau beli satu nggak mungkin bisa dibagi empat. Pengen dua aja biar lebih enak baginya” Lisa bertanya ketika dia melihat penjual tengah melumeri apel dengan cokelat cair yang siap untuk dibaluri dengan berbagai macam topping lucu.
“Aduh, nggak tau juga, dek. Kamu, sih, yang bikin challenge nggak boleh lebih dari dua puluh ribu. Sekarang bingung sendiri jadinya, kan?” Noren yang gemas, dengan tanpa sadar memindahkan beberapa anak rambut dari tepi mata Lisa karena angin yang berhembus nakal. Lisa, yang tengah mengunyah permen buah strawberry mengabaikan pergerakan itu.
“Ya, kan biar lebih seru” sungutnya sebal, tetapi kemudian, dengan bersemangat dia memanggil ibu penjual dalam suara yang dimanis-maniskan. “Bu, kalau saya ambil dua, boleh engga bayarnya duapuluh ribu aja? Nggak apa-apa yang satu kecil aja. Soalnya apelnya keliatan enak banget, tapi saya cuma punya uang segini..”
Mengerjap, Noren merasa takjub dengan bagaimana Lisa mencoba untuk menawar diskon pada sang pejual. Ibu-ibu itu terlihat mengamati Lisa dengan bagaimana matanya menyipit. Noren berdegup, wanita itu pasti juga akan mengamatinya dan membuatnya menjadi lelaki yang kotor karena tidak memperlakukan perempuan yang jelas-jelas datang bersamanya dengan lebih baik.
Panik, Noren segera menarik Lisa mendekat dan melambaikan tangannya dengan cepat pada sang ibu.
“Eh, nggak, nggak, bu. Jangan. Pacar saya emang suka gitu.. Maaf, ya. Saya jadinya beli dua aja. Topingnya disamain, ya, bu”
Tentu saja, refleks yang dia keluarkan dengan panik membuat Lisa melotot padanya. Perempuan itu pasti menggerutu karena Noren telah merusak rencananya.
“Aduh, kalian gemes banget, ya. Neng, pinter banget ngode pacarnya buat nambah satu manisan lagi” ibu penjual itu tertawa dengan geli. Lisa hampir saja ingin memprotes ketika Noren mencubit sisinya dengan pelan, memberikan kode. Lisa berdecih sesegera mungkin dan memilih untuk menjauh dari lelaki itu.
“Ah, bukan gitu.. bu” Lisa membalas. Menahan sebal karena Noren lagi-lagi membuatnya mempermalukan diri. Seharusnya, Lisa bisa dengan santai menawar dan mendapatkan harga diskon yang dia mau.
Lalu, apa pula itu? Pacar? Aduh, sudahlah. Tidak akan ada habisnya jika dia memperdebatkan hal ini sekarang juga.
“Nggak apa-apa, Neng. Saya juga pernah muda. Ini karena neng sama pacarnya gemesin, saya bonusin strawberrynya, ya”
Mengerjap mendengar betapa cerianya sang penjual, Lisa menutup bibirnya rapat-rapat. Oke, jika membiarkan ibu penjual itu menyebut mereka sebagai pasangan kekasih dan berakhir dengan mereka mendapatkan bonus setangkai cokelat berisi tiga buah strawberry-, Lisa akan dengan senang hati melepaskannya begitu saja.
Dia bisa melihat bagaimaa Noren meliriknya dengan alis yang terangkat, membuang wajah, Lisa memilih untuk menginjak kaki Noren yang terdekat dengannya dengan sengaja. Membiarkan Noren mengeluh dalam bisikan yang coba ia telan kembali, kepuasan hadir dengan cepat di dalam diri Lisa.
“Makasih banyak, ya, bu” adalah apa yang Lisa serukan ketika camilan sudah berada di tangannya.
“Iya, sayang. Kalian langgeng terus, ya. Bahagia terus berdua!” Lisa ingin mengeluh dengan seruan itu, menarik Noren menjauh agar lelaki itu tidak membalas denegan aneh-aneh, tetapi Lisa kalah cepat dari suara Noren yang melengking dengan ceria untuk membalas apapun yang penjual itu katakan.
“Makasih doanya, bu! Kita janji bakalan bahagia terus berdua!”
“Diem!” Lisa membentak. Mendorong Noren dengan tidak senang ke sisi lain saat mereka sudah berada lebih jauh dari tempat sebelumnya.
“Aduh, kenapa dorong-dorong, sih, dek. bahaya, loh” Santai seperti tidak ada yang salah, reaksi Noren membuat Lisa sungguh ingin membanting wajah lelaki itu ke mana saja yang bertekstur keras.
“Lo jangan aneh-aneh, deh, Kak. Serius, jangan rusak hari yang baik ini, dong. Terus, jangan bilang gitu lagi. Nanti gue ngamuk sama lo, mau?”
“Yaudah, nggak lagi, deh” Balasnya tanpa niat, kemudian di lanjutkan dengan tatapan rubahnya yang menyimpan kelicikan aneh disana. “Tapi seharusnya kamu berterimakasih, loh. Anggap aja yang tadi itu biaya buat nggak ngebeberin ke Sinar sama Hala kalau kamu gagal di challenge yang kamu buat sendiri”
“Hah?”
“Iya, kan? itu totalnya udah tiga puluh dua ribu, loh. Sadar?”
Lisa membulatkan matanya, sadar.
“Jadi, lo ngancem gue?”
“Nggak ngancem, loh. Kan udah kejadian tadi” Noren terkekeh senang. Dia menarik pergelangan tangan Lisa dengan lembut setelahnya. “Udah, yuk. Daripada ngambek nggak jelas mending temuin Kakak kamu. Mereka udah nunggu disana, tuh”
Lisa mengikuti kode yang telah diberikan oleh Noren. Benar saja, Sinar tengah mengobrol dengan Hala disana dan tertawa dengan menggemaskan. Tiba-tiba, senyum hadir di wajah Lisa dan dia merasa bersemangat kembali.
“Yuk!” Serunya cepat. “Tapi lo serius jangan bilang mereka kalau gue kalah challenge, ya?!”
“Mouth sealed for you, Love”
“Laf lof laf lof. Ayo Kak, Cepetan!”
Merasa bersenang-senang dengan kehangatan yang hadir dan membuncah di dadanya, Noren segera mengejar Lisa yang sudah berlarian menuju tujuan mereka.
Permainan lempar ban adalah permainan yang berhadiah beberapa makanan ringan dan minuman hingga boneka lucu dan beberapa figur aksi yang diletakkan dalam posisi paling sulit utuk diterka dan dijatuhi oleh ban. Sinar dan Noren, tentu saja berlomba-lomba untuk mendapatkan barang tersebut. Mereka menghabiskan beberapa puluh ribu yang sangat tidak layak untuk barang yang mereka dapatkan. Tidak sama sekali berhasil membuat figur aksi itu pulang kepelukan mereka berdua.
Kesenangan mereka tidak sampai disitu saja. Setelah menghabiskan uang yang berharga dan jatuh pada kelicikan permainan yang dijajakan, mereka mengambil permainan adu kekuatan tinju. Bersorak dengan suara yang tidak terlalu indah di dengar mata, Noren dan Sinar menggila pada permainan itu untuk mendapatkan skor yang lebih tinggi. Anehnya, itu berakhir dengan skor seri yang diulang dalam dua kali tinjuan hingga mereka menyerah karena merah merekah telah mengambil tempat di kepalan tangan masing-masing.
Permaian balap mobil juga adalah apa yang mereka coba. Bertarung satu demi satu untuk mendapatkan kemenangan, membiarkan mobil mereka menabrak hingga menimbulkan guncangan keras yang mengkhawatirkan, tidak ada satupun yang berusaha untuk mengalah.
Lisa dan Hala memilih untuk mundur ketika daya mobil mereka habis dalam satu putaran karena berkali-kali terkena tabrakan. Saat ini, mereka membiarkan para lelaki yang menguasai arena permainan. Tampak lebih tidak sadar dengan dunia dan memilih pada agresi untuk kemenangan dan tentu saja, keinginan terkuat untuk mengalahkan satu sama lain lebih sangat besar terasa.
Itu berlangsung seperti selamanya saat mereka diberhentikan secara paksa oleh petugas karena menyebabkan tontonan dan sedikit keributan di sana-sini. Dengan perasaan malu yang menghampiri dua lelaki dewasa itu, Lisa dan Hala memutuskan untuk membawa mereka ke salah satu stan yang menawarkan tema café maid dan beberapa cosplay kucing dan kelinci lucu dari perempuan muda yang menarik mata.
Itu adalah salah satu yang banyak dikunjungi. Lisa menggoda kakaknya agar tidak terbuai dengan apa yang ditawarkan oleh café dan kakaknya membalas balik padanya agar tidak jelalatan pada beberapa lelaki yang juga ikut andil dengan kostum butler yang sangat cocok dan beberapa adalah tipe yang disukai Lisa saat perempuan itu membaca komik online yang disukainya.
Disatu titik, Kakak adik itu bertengkar tentang cemoohoan masing-masing. Dan di beberapa yang lain Lisa hanya harus menenangkan diri agar tidak kelepasan untuk mengomeli dan menggertak Noren karena melemparkan komentar tentang bagaimana Lisa pasti terlihat lucu jika memakai telinga dan sarung tangan kelinci yang ditawarkan di etalase café, sedangkan tanpa diduga kemudian, Noren melempar tutur pada Hala yang pasti akan terlihat cocok pada telinga kucing hitam yang mewah.
“Mending lo pesen duluan daripada mulut lo ngomong yang ane-aneh, ya, njing”
Sinar memukul menu pada wajah Noren dengan pukulan yang tak tertahan. Noren mengaduh saat dia menarik buku menu dari wajahnya. Mencibir, lelaki itu berdecih dari bagaimana Sinar membuang wajah seolah-olah dia tidak sedang menempatkan dirinya untuk melindung adik dan calon pasangannya dari omongan Noren yang bisa menyebabkan ambigu.
Padahal, Noren tidak memikirkan hal aneh sama sekali. Dia hanya menghargai kelucuan yang mungkin akan bisa ditampilkan hanya dari memakai bando dan sarung tangan hewan lucu berbulu. Apa yang salah dari itu?
“Dih, pasti pikiran lo aneh-aneh, ya, Nar? Gue bersih, loh, padahal” Godanya dengan cepat. Noren bisa melihat bagaimana Sinar melotot pada jalur pandangnya.”Bersihin otak lo. Ketauan banget kotornya”
“Anjing, padahal lo yang ngomong aneh-aneh?!”
Kali ini, Sinar menatap matanya, seolah-olah mereka kembali ke pertengkaran sahabat mereka yang seperti biasanya. Menyeringai senang, dia suka bagaimana bina menekan tombol pada diri sahabatnya itu.
Noren baru saja ingin membalas, tetapi sebuah suara perempuan menghentikannya tiba-tiba.
“Loh, Lisa? Mas Sinar?”
“Miss Jelita?!”
Teriakan terkejut Lisa dan Hala, jelas bahwa ini adalah pertemuan yang tidak terduga sama sekali.
...🍁...
...Double Date. Hala Si Obat Nyamuk....
.........
...🍁🍁🍁...
...PROMOSI NOVEL KARYA KAI_SORA...
...JUDUL: SEKRETARISKU CANDUKU...
Ada yang suka baca cerita penuh misteri berlandaskan keluarga dan percintaan? ditambah bumbu cogan bertajuk CEO dingin nan rupawan terpikat seorang Sekretaris cantik jelita serta memiliki segudang rahasia? haduh, kalau gitu cocok banget kalian baca cerita di bawah ini! yuk mampir, yaaa🥰
Note:
Beberapa Chapter ke depan akan lebih menjurus pada interaksi hubungan Hala dan Sinar, ya, guys☺ Karena kisah mereka menyangkut tokoh utama, Nalisa-Noren. Jadi, masalah mereka lebih dulu di angkat dalam cerita ini sebelum benar-benar mengguyur badai konflik dalam kehidupan Nalisa🥰
Free to Skip, kok. Nanti kalau udah nyeritain Nalisa POV bakalan aku infoin lagi🧡
Selamat membaca🧡