Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Rencana Noren; Pertemuan Rahasia Keluarga



Jika saja Lisa tidak bermain sulit untuk digapai, segala hal tidak akan terjadi serumit ini. Sinar tahu segila apa dia, bahkan keluarganya pun paham bahwa dia mampu melakukan apa saja yang dia inginkan seluas apapun hambatan itu menerpanya. Ini adalah efek didikan keras yang terus menerus membelenggu dirinya sehingga apapun yang dia inginkan selalu terpendam jauh di dalam dirinya, terlalu ditekan dari tahun ke tahun sehingga seiring pertumbuhan usia, diusianya yang sekarang, dia jauh lebih mampu untuk memuntahkan semua hal yang tidak pernah mampu digapainya sejak dulu. Layaknya sebuah bom, sekarang keputusan besar dan kegilaan berada di tangannya tanpa bisa diganggu gugat oleh siapapun. Termasuk orang yang dicintainya sendiri.


Kabar itu datang di sore hari dari Maminya. Dia baru saja menyelesaikan pengecekan dokumen dan evaluasi kinerja karyawan yang rutin dilakukan setiap akhir bulan dengan ditemani oleh Nabila dan juga Chandra ketika telpon itu masuk secara pribadi. Sumringah, dia mendapatkan kabar baik bahwa pertemuan itu disetujui oleh Mr. dan Mrs. Cakrawijaya yang diadakan dua hari dari sekarang.


Noren tidak masalah ketika dia harus terbang ke Negara Sakura demi menemui kedua orang yang sudah pernah dia temui sebelumya perihal meminta izin pertamakali tentang perasaanya untuk Lisa. Dan dia juga tidak keberatan untuk terbang lagi sekarang. Menyerahkan tugas memesan tiket penerbangan untuk tanggal yang sudah ditentukan kepada Chandra, Noren bersiap untuk dirinya sendiri.


“Lo hari minggu ini pergi kemana, sih, Ren? bukannya seharusnya nggak ada sched buat lo sebulanan ini?”


Pertanyaan yang Sinar lontarkan ketika mereka bertemu dalam janji makan siang bersama membuat Noren terdiam sejenak. Bibirnya tertarik membentuk seringai suka ketika tatapannya jatuh pada wajah Sinar yang berkerut penasaran sembari mengunyah makan siangnya. Sahabatnya itu terlihat sangat polos dan Noren yakin, itu akan hilang dalam beberapa hari kedepan setelah pertemuannya dengan kedua orang tua Sinar, lelaki itu pasti akan membuat ulah dengan keputusan yang dia ambil ini.


“Tau banget lo tentang sched gue emang? Lo mau gantiin job Nabila jadi sekre gue?” tanyanya balik dengan nada acuh tak acuh. Mengaduk makanannya, Noren tahu Sinar akan terpancing dengan jawaban yang dia berikan.


“Dih, nggak gitu juga, Ren. Males banget gue jadi babu lo” Sembur Sinar tidak dengan nada yang tajam yang tidak mengacu pertengkaran konyol. “Tapi kemarin waktu gue nanyain Nabila tentang kapan lo balik Indo sehabis tanda tangan kontrak dengan Mr.Kwon yang ternyata lo malah ngacir ke Finland, katanya lo nggak punya jadwal perjalanan luar negeri lagi setelah itu selama sebulan atau dua bulanan”


“Tapi ternyata lo besok mau berangkat perjalanan lagi? Emang bisnis apaan lagi yang mau lo gaet ke perusahaan, Ren? Nggak bilang-bilang gue, lo?”


“Bukan perjalanan bisnis, kok” bantah Noren cepat. Dia mengangguk dalam kunyahan, senang dengan topik pembicaraan dimana Sinar terlihat sangat clueless. Kepalanya menyeru dengan banyak seruan yang membuatnya tergelitik. Sinar akan meledak jika lelaki itu tahu apa rencananya. Tapi biarlah dulu, dia sedang tidak ingin memancing keributan. Lebih baik sahabatnya itu tahu dengan caranya sendiri dan dia akan melihat lebih jauh nanti kedepannya. Rencananya harus lebih cepat untuk ditangani sendiri dan bahkan Sinar pun tidak bisa untuk menghalanginya sama sekali.


Tidak ketika dia sudah sampai sejauh ini.


“Terus?”


“Lebih sedikit lo tau lebih baik” sanggahnya lagi. Berdiri, Noren memutuskan untuk selesai dengan acara makan siangnya. “Gue mau persiapan dulu. Nggak lama juga gue pergi. Jangan sok posesif ke gue gitu dong, bro. Gue, ‘kan naksirnya sama adek lo, bukan sama lo” Noren tidak bisa menghentikan dirinya dari terkikik geli ketika melihat wajah horor Sinar dengan kedua pipi menggembung akibat kunyahan makannnya tak terselesaikan.


“DIH?!” Sembur sahabatnya cepat.


“Stress lo. Siapa juga yang posesif ke, lo? Selera gue juga bukan lo?”


“Bagus deh kalau gitu. Kan nggak tega gue kalau adek lo harus saingan sama lo”


Mengusili Sinar adalah bagian dari kesenangannya. Jadi, ketika Noren melihat bagaimana Sinar sudah siap sedia akan memporak-porandakan makanannya hanya untuk melemparkannya tepat ke wajah Noren seorang, dia memilih untuk menarik bekas tempat makannya dan mundur menjauh dari amukan. Melihat Sinar yang sudah mengacungkan dua jari tengah kepadanya dan dengan teriakan;


“Gue masih normal, brengsek! Enyah lo dari muka gue!”


Membuat Noren tahu bahwa gen Cakrawijaya tidak jatuh begitu jauh. Karena reaksi yang diberikan Sinar juga Lisa, adalah sama adanya. Kedua kakak beradik itu berbagi sel otak yang sama dan itulah yang membuat Noren sudah terlalu terbiasa dengan bagaimana Lisa berperilaku padanya. Sinar sudah menjadi ujiannya bertahun-tahun dan dia sudah kebal dengan reaksi apa yang timbul pertamakali. Prediksinya akan selalu benar jika itu menyangkut keluarga unik Cakrawijaya.


Jadi, sebelum dia berbalik, Noren melemparkan satu jari tengah yang sama untuk Sinar yang sekarang sudah tertawa terbahak-bahak sehingga menarik atensi sebagian karyawan yang ikut makan di cafeteria yang sama dengan mereka. Menggeleng. Itu adalah hal yang sudah biasa sehingga Noren bahkan sudah masa bodoh dengan citra yang sahabatnya itu bangun. Selama Noren tidak terlibat dan masih menjadi panutan terbaik para karyawan miliknya, dia tidak peduli dengan milik sahabatnya itu. Lagian, jika sang empu tidak peduli, kenapa dia harus?


Melompati waktu, malam ketika dia berkemas, Sinar berkunjung ke apartemennya. Itu adalah hal yang tidak biasa bahwa sahabatnya itu berkunjung tanpa memberinya kabar terlebih dahulu. Itu adalah rutinitas mereka untuk memberitahu satu sama lain tentang kedatangan mereka. Sedekat apapun mereka, rasanya Sinar maupun Noren harus memberikan komunikasi atau setidaknya pesan yang meskipun tidak terbaca duduk di dalam kotak aplikasi perpesanannya agar mereka aware tentang kehadiran satu sama lain.


Mereka memang dekat, tetapi mereka lebih sering bertemu ketika keduanya memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan di Negara yang sama dan memutuskan untuk bekerjasama dan membentuk aliansi. Sejak mereka berteman, itu adalah tahun-tahun yang sangat singkat sebelum mereka terbagi di dua Negara yang berbeda, bahkan dua benua yang berbeda sehingga untuk bertemupun tidak bisa direalisasikan dalam waktu yang dekat. Untuk komunikasi itu bahkan bisa dihitung dengan jari.


Itulah kenapa, di antara Noren dan Sinar, meskipun mereka sudah mengetahui keburukan sifat masing-masing dan berbagi beban yang sama sebagai seorang anak yang tumbuh dalam desakan orangtua pebisnis dan garis kehidupan yang telah di tetapkan oleh kedua orang tua mereka, masih ada jarak hormat yang mereka terapkan. Hal-hal kecil yang dicontohkan dalam komunikasi tentang kehadiran ini adalah salah satunya.


Berbaring di ranjang empuk berukuran king-size milik Noren, dengan kepala menghadap ke langit-langit ruangan kamar namun tergantung di ujung sisi ranjang, Sinar mengeluh tentang Wildan yang terus menerus menggodanya tentang perasaannya yang belum ada perubahan sama sekali hingga keluhan tentang bagaimana Hala tidak menghubunginya dalam beberapa waktu terakhir sebelum berbalik lagi untuk mengoceh tentang bagaimana Wildan tidak hanya mencoba untuk mencari pacar di usianya yang sudah memasuki kepala tiga dan bukannya menceramahinya tentang hanya mencari orang lain dan mengembangkan perasaan baru.


Noren acuh mendengarkan keluhan yang tidak perlu selagi sibuk dengan ponselnya, bertukar pesan dengan Maminya terkait urusan pertemuan yang akan di adakan besok serta tentang penerbangannya dimana dia akan berangkat pagi-pagi sekali. Papa dan Maminya yang berada di Eropa, sudah mendarat dengan lancar di Jepang dan mereka sedang beristirahat untuk menghilangkan sedikit jet-lag. Keduanya sama sekali tidak melakukan perjalanan jauh dalam beberapa tahun terakhir (Kecuali sang Papa) dan itu adalah satu dimana mereka harus terbang ke Asia hanya untuk memenuhi permintaan dari putra pertama mereka. Noren tidak bisa untuk tidak lebih senang daripada hal yang lain.


Beruntung baginya, Papanya bersemangat tentang menjalin hubungan bisnis yang lebih erat dengan perusahaan Cakrawijaya sehingga pria paruh baya itu tidak mengeluh tentang permintaan putranya. Itu jauh lebih mudah seperti apa yang dia pikirkan. Mungkin, jika saja Lisa bukan merupakan anak pebisnis yang layak atau bahkan bukan sama sekali, dia akan melakukan hal ekstra untuk mendapatkan persetujuan kedua orang tuanya, terlebih pada Papanya. Tentu saja itu tidak akan menghalanginya untuk berbuat nekat dan lebih jauh. Namun beruntungnya dia, untuk kali ini dia tidak harus melakukan hal yang lebih merepotkan dari apapun.


“Ren, lo denger nggak, sih?”


“Gue nggak denger pun gue bisa tau apa yang lo keluhin dari tadi, Nar”


Memutar bola mata malas, Noren meletakkan ponselnya di atas meja dekat dengan koleksinya yang sekarang tersembunyi oleh kayu yang sudah di desainnya dengan sengaja dan sebaik mungkin untuk menyamarkan benda kepemilikan khususnya. Setelah disembunyikan, itu akan terlihat hanya seperti meja kerja biasa, dengan seperangkat PC dan kursi gaming yang sekarang dia duduki dengan nyaman. Berputar dari posisinya, dia memutuskan untuk kembali fokus pada sahabatnya yang sekarang sedang mengeluhkan persoalan asmara yang lagi dan lagi.


Bukannya Noren tidak. Hanya saja, jalannya sekarang lebih jauh dan sedikit lebih jauh kedepan. Sehingga sebentar lagi dia akan mendapatkan cintanya dengan cara yang lebih cepat daripada apapun yang bisa Sinar bayangkan.


Yah, bukannya Sinar akan membayangkannya, Sinar akan menghajarnya tanpa basa-basi.


“Dih, sok banget” Sinar mengomel. Dia berbalik untuk menyamakan dirinya. “Emang apa yang gue omongin dari tadi?”’


“Lo, tuh..” Noren mendengus, memijat pelipisnya karena Sinar terkadang bisa menjadi duri dalam daging dan dia tidak terlalu suka bagaimana itu bekerja. “Lo tau nggak, sih? setiap yang keluar dari mulut lo kalau lo sedang dalam mode curhat, tuh, lain dan nggak bukan ya tentang sahabatnya Lisa. Siapa, tuh, Nala? Cala?”


“Hala, bodoh”


“Nah, itu” Noren menyeringai, reaksi Sinar sungguh mengingatkannya dengan Nalisa.


Ah, tentang hal itu, tentu saja Noren masih berhubungan dengan Lisa. Setelah pernyataan ajakan Nikah nya di tolak oleh perempuan itu sehingga Noren nekat melakukan hal yang akan dia lakukan sekarang, Lisa menjadi semakin sering membalas pesannya dan bertengkar konyol dengannya. Perempuan itu jauh lebih terbuka dengannya dan mudah untuk tertawa ketika Noren iseng melakukan panggilan video beberapa waktu lalu.


Penolakan adalah yang terburuk, tetapi benih dari penolakan itu adalah sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang lebih baik dimana segalanya akan berpihak padanya. Tidak apa-apa, Lisa hanya harus melihat monster apa yang bisa mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih tidak terduga, hal yang lebih besar yang bisa menjerat perempuan itu dalam kekangannya. Dalam jaring beracun penuh dengan seluruh hati yang ia letakkan hanya untuk perempuan itu seorang.


“Nggak seru banget cerita sama lo, njir”


“Yang nyuruh lo cerita juga ngga ada, ya, Nar. Sadar diri” Noren menembak dalam setiap kata yang berupa fakta. Sinar berdecih, kalah. “Lagian, lo dari dulu gitu gitu mulu. Nggak ngambil langkah yang bener, seakan lo nggak serius sama perasaan lo ke dia. Gimana dia bisa tau?” mengambil peran sebagai sahabat yang baik untuk sebentar, dia mencoba menutur opini.


“Gue serius sama dia!” tidak terima dengan tuduhan, Sinar melompat dari posisi rebahannya. “Gue udah coba yang terbaik buat approach dia, buat ngelihatin ke dia kalau gue punya rasa. Dan, tebak? Semua orang tau kalau gue suka sama dia, tapi kenapa cuma dia yang nggak tau?”


Berdiri, Noren memilih untuk melakukan sesuatu yang lain. Tidak ingin berurusan dengan Sinar yang sedang whinny. Dumbbell di lemari penyimpanan sudut adalah apa yang menjadi tujuannya sekarang.


“Ya berarti cuma dua alasan, sih, Nar”


“Apa?”


Mengangkat beban seberat 6,5 kg, dia membagi fokus pada sahabatnya. Seringaian terpatri di wajahnya dengan licik.


“Antara usaha lo yang emang beneran kurang sampai dia ngiranya lo baik ke dia karena dia sahabatnya Lisa, atau bisa jadi pesona lo kurang karena lo bukan tipenya dia”


“Bukan yang kedua pasti!” Sinar bersikukuh, meskipun wajahnya sekarang sudah merah entah karena emosi ketidaksukaan atau merasa sadar diri.


“Ya kalau nggak, berarti dia sudah suka sama orang lain, sih, menurut gue. Yang pasti lebih baik dari lo, Nar”


“Sialan lo!”


Satu bantal yang biasa menjadi teman tidurnya melayang tepat ke wajahnya. Noren yang tanpa persiapan karena fokusnya terbagi, tidak sempat untuk mengelak sehingga bantal itu tepat telak menghantam wajahnya. Beruntungnya, Dumbbell masih di posisi rendah untuk terjatuh dan menghancurkan sesuatu, kakinya yang berharga berhasil berada jauh dari jangkauan beban berat.


“Brengsek! Ini kalau kena, udah hilang satu kayaknya kaki gue, njing!”


Merasa tidak bersalah, Sinar mengangkat kedua bahunya acuh. Memilih untuk sibuk menghidupkan televisi di ruangan itu. Memilih untuk tidak mengangkat hal yang akan memicu pertarungan fisik antara dua sahabat itu. Noren menghela napas berat, mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum memutuskan untuk kembali menyimpan peralatan olahraga miliknya. Berbahaya jika Sinar masih berada di sekitar dan mencoba menarik pertarungan denganya.


“Oke, gue anggap ini sebagai balasan dari lo dan lo nggak boleh marah untuk apa yang bakalan terjadi kedepan. Lo udah bayar biaya DP emosi dengan yang satu ini, ya, Nar”


“Hah?”


Noren menyeringai, memilih kembali duduk di kursi gamingnya yang nyaman.


“Pokoknya, ya, gitu” dia melambai, abai pada reaksi bodoh Sinar. “Sekarang, coba bilang sama gue kenapa lo datang ke sini tanpa peringatan lebih dulu ke gue kayak biasanya?”


Sinar diam sejenak. Dia menekan beberapa angka di remot kontrol sebelum menghela napas ringan. Ada gumaman sejenak sebelum dia menggeleng dengan agak aneh.


“Cuma, gimana, ya” mencari kosa kata yang cocok, Sinar terlihat berpikir sejenak. “Insting gue yang nyuruh, sih. Aneh sebenernya. Gue kayak harus menghentikan lo buat pergi besok..” Ada jeda sejenak, “Ya, pokoknya gitu lah. Rasanya gue harus berhentiin lo buat pergi. Aneh..”


Mengernyitkan hidung, Sinar terlihat santai ketika dia menemukan saluran film yang cocok. Noren membeku di posisi. Sadar dengan apa yang Sinar kemukakan. Agak takjub seberapa kuat insting lelaki itu mengenai adik perempuannya.


“Udah, ah, mungkin cuma perasaan gue aja. Hati-hati lo besok perginya. Sekarang, mari nonton bola dulu, boss”


Noren tersenyum kecil. Mengamati sahabatnya yang kini mencuri camilan dari kulkas mininya dan menyamankan diri di tengah kasur seperti pemilik ruangan yang sebenarnya, Noren bertanya-tanya seberapa besar amarah Sinar yang akan terjadi ketika lelaki itu tahu semuanya. Dan, pertanyaan selajutnya yang muncul adalah, tangan mana yang akan Noren rasakan untuk tinjuan pertamakali yang akan menyapa wajahnya.


...….....


Menempuh perjalanan udara bukanlah lagi suatu hal baru yang dia rasakan. Namun untuk perjalanan kali ini adalah apa yang membuat Noren merasa sangat bersemangat. Senyumnya tidak pernah pudar. Dia tidak bisa menahan cekikikan geli yang terus menerus menggelitiknya. Untungnya, perjalannya sama sekali tidak terganggu dan dia puas dengan sebagian besar perjalanan.


Menilik dari balik kacamata hitamnya, dia baru saja berganti pakaian di sebuah hotel untuk memperbaiki penampilannya untuk pertemuan yang di adakan di sebuah restoran ternama dekat dengan kediaman Cakrawijaya. Pemilihan tempat itupun sebagian besar diserahkan kepada keluarga mereka sehingga Noren dan kedua orang tuanya siap untuk datang dimanapun itu dipilihkan.


Pakaian yang membalut tubuhnya sekarang adalah pakaian formal dengan jas abu yang di cocokkan dengan dasi hitam dan kemeja putih. Celana bahan yang melekat cocok di kakinya lebih rapi dari apapun yang dia harapkan. Pantofel yang bersih cukup untuk menunjukkan kesan bahwa dia serius engan pertemuan yang diadakan. Rambutnya pun cukup bersahabat dengan dirinya dan tidak terlalu bawel untuk disibakkan dalam pameran dahi yang tidak terlalu mencolok. Noren juga mengerahkan dirinya untuk merias wajah, dalam sapuan yang tipis, dia siap untuk menunjukkan diri lagi di hadapan calon keluarga keduanya.


Keluarga kedua, dalam artian, calon mertuanya.


“Oh, sayang, sudah sampai?”


Itu adalah sapaan dari Maminya ketika mereka berpapasan di luar restoran keluarga dengan private room yang telah dipilih. Noren tersenyum, memeluk Maminya sebentar dengan tepukan lembut di punggung sebagai salam pertemuan. Ia melihat pada Papanya dan mengangguk dalam kode yang keduanya saling memahami.


Noren dan Papanya bukanlah ayah dan anak yang baik dan terlalu cocok. Banyak yang yang berbeda dalam jalur yang tertutup oleh mata orang-orang luar. Tetapi untuk kali ini saja, di jalan yang bersinggungan, Noren akan berpegang pada Ayahnya.


“Kalau begitu, lebih baik kita segera masuk. Tidak baik membiarkan orang lain menunggu lama” Papanya berdehem, mengingatkan ibu dan anak untuk tidak banyak menghabiskan waktu berbincang. “Noren, kamu bawa sesuatu untuk keluarga Cakrawijaya?”


“Sudah, Pa. Noren nggak bakalan bodoh untuk datang dengan tangan kosong. Lagipula pembicaraan ini tentang masa depan Noren dan anak perempuan mereka”


Itulah yang dia pastikan. Beberapa bingkisan bermerek sudah berada di dalam paperbag yang dia bawa. Menunjukkan pada Papanya yang puas, pria paruh baya itu mengangguk dan mereka segera melangkah untuk masuk ke dalam ruangan.


Memperkenalkan diri pada staff yang melayani, mereka segera di bawa menuju ruangan atas nama Cakrawijaya. Itu adalah lorong panjang sebelum mereka menaiki dua lantai menggunakan lift dan kemudian berbelok di sebelah kanan sebelum akhirnya berada di ruangan yang tepat.


Menyeringai dalam kegugupan yang terhalang dengan keyakinan dan ketegasan dalam diri, Noren berdiri paling depan. Membuka pintu geser di depannya dalam gerakan lambat yang berbanding terbalik dengan detakan jantungnya seperti pacuan lari kuda, dia dihadapkan dengan ruangan mewah khas modern Jepang dengan kedua orang dewasa yang sudah menantikan kehadiran mereka. Pandangan di latih ke arah pintu sehingga pada akhirnya senyuman merekah di wajah mereka dalam hitungan waktu yang sama.


“Selamat pagi, Mr. dan Mrs. Cakrawijaya, maaf membuat anda berdua menunggu terlalu lama untuk kedatangan kami sekeluarga”


Pasangan Cakrawijaya itu tertawa untuk aksen bahasa Jepang formal nan fasih yang Noren keluarkan sebelum leguhan kegemasan hadir dalam gema suara kesenangan dan keramahan bagai kedua lengan terbuka dalam sambutan sukarela yang tulus.


“Oh, Nak Noren” Mrs. Cakrawijaya berdiri, menyambutnya dengan sukacita yang terpeta di wajah cantik wanita berumur itu. “Jangan terlalu formal begitu, kita sudah sepakat dalam pertemuan sebelumnya, kan? seharusnya kau panggil apa wanita cantik ini?” senyuman jahil yang tahu di suguhkan ketika wanita itu menghampirinya. Noren tertawa.


“Oh, apa yang harus aku katakan” Dia bergumam dengan konyol sebelum melebarkan tangannya untuk menyambut pelukan dari wanita itu sebelum kembali memanggil dalam dialog indah kata yang terlantun dari bibirnya,


“Senang bertemu denganmu lagi, Ma”


“Dan apa kau sebut pria tua ini?”


Noren tertawa keras, kali ini kesenangannya tidak coba ia sembunyikan dalam topengnya lagi.


“Oh, berhentilah menyebut diri sendiri tua, Pa!”


Dia sudah bilang, kan?


Keluarga Cakrawijaya adalah keluarga keduanya, calon mertuanya.


Sinar dan bahkan tentu saja, Nalisa harus siap dengan hal ini cepat atau lambat.


Namun untuk kasus ini, sepertinya mereka harus mengambil langkah yang lebih cepat untuk mulai membiasakan diri karena pernikahan, pasti akan segera digelar.


.........


...🍁...


...Rencana Noren; Pertemuan Rahasia Keluarga...


.........


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


...PROMOSI NOVEL KARYA EMY...


...JUDUL: KEMBALI CANTIK SI GADIS CACAT...


Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat sebagian wajahnya terluka. Semenjak saat itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.


Namun diam - diam ada pria yang selalu membantu Alice. Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya? Apakah pria itu akan menampakkan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?