
Hari ini adalah hari yang cerah dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan kulit. Matahari tidak menyengat seperti di musim kemarau. Nalisa, setelah dia berhasil keluar dari rumah sakit setelah lebih dari seminggu lamanya, memilih untuk pergi ke taman yang ada di sekitar rumahnya. Tempat yang biasa dia kunjungi untuk setidaknya bersantai dan bermain dengan circle kecilnya ketika mereka sedang tidak tahu tempat manalagi yang bisa mereka kunjungi untuk sekedar melepas rasa bosan.
Tentu saja, mendapatkan akses untuk sekadar hanya pergi ke tempat yang tidak sampai tujuh menit berjalan kaki tidaklah mudah. Nalisa harus memohon kepada kedua orangtuanya untuk membiarkan dirinya setidaknya menghirup udara di luar rumahnya karena dia ingin menyegarkan diri dari penat dan lelah tentang kekalutan hidupnya akhir-akhir ini.
Awalnya, Lisa tidak yakin jika Ayah dan Ibunya akan mengizinkannya untuk hanya berdiri di halaman rumah kecilnya saja. Karena setelah keluar dari rumah sakit dan memastikan bahwa dirinya sudah sehat dan sempurna, tidak ada kendala apapun lagi baik dari kepalanya yang berdenyut atau sendi-sendinya yang terasa hampir lepas, Ibu dan Ayahnya masih bersikeras untuk berada disekelilingnya seolah tidak lelah untuk mengingatkan Lisa tentang apa yang akan terjadi dalam hidupnya dalam kurun waktu dua minggu lagi.
Itu melelahkan untuk dipikirkan. Lisa sudah muak berada dalam fase merenung dan berkubang dengan emosinya yang berkobar layaknya api yang menyala jika semua yang dia katakan, dia keluhkan dan dia perjuangkan di depan kedua orang tuanya sama sekali tidak diperhatikan dan diabaikan layaknya dia tidak diperbolehkan ikut andil dalam jalan hidupnya sendiri, Nalisa berhenti tantrum seperti bayi.
Dia lelah. Dia sudah cukup berkubang dalam kekesalannya sehingga energi negatif membayanginya seperti portal kabut gelap yang menenggelamkannya. Dia tidak ingin duduk dalam emosi dan tangisan yang tidak berguna dan tidak dapat merubah apapun. Nalisa juga sudah tidak tahan lagi dengan ocehan ibunya setiap kali dia memuji Noren di depan Lisa dan menceritakan banyak hal tentang indahnya pernikahan yang sempurna seolah memastikan anak perempuannya pasti akan menjalani hal yang sama dengan semua omong kosongnya.
Lisa sudah melewati fase mengerikan itu. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah bangkit dan mencari jalan keluar. Maka dari itu, di suatu pagi setelah sarapan bersama dengan keluarga lengkapnya yang terasa seperti melewati satu rintangan terbesar dari seberapa sulit dia menelan makanan (karena makan dengan orang tuanya saat ini sangat canggung dan sangat tidak direkomendasikan)-, dengan keberanian yang sudah tersusun penuh percaya diri, Lisa memohon agar dirinya dibebaskan untuk pergi keluar rumah.
Awalnya Lisa memohon pada sang Ayah agar dia diperbolehkan bermain di taman kota. Dia rindu suasana kafe dengan Vanilla Lotus Ice Cream Cake yang sering dibelikan oleh Alpino ketika mereka memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama sepulang kerja.
Atau jika diperbolehkan, dia ingin mendatangi Madevision untuk bertemu dengan Hala yang sedang turun ke lapangan. Terakhir kali Lisa berbicara dengan Hala, perempuan itu mengeluh karena merindukan Lisa di kantor. Bosan katanya karena tidak ada yang bisa menemaninya makan siang karena anak pemasaran sedang dalam kesibukan yang luar biasa di awal tahun ini.
Lisa juga sebenarnya rindu dengan suasana kantor. Teman-temannya yang meski tidak begitu dekat seperti bagaimana Hala dan anak pemasaran lainnya bersatu tetap membuat rasa penasaran bagi Lisa. Apakah dengan kosongnya kehadiran Lisa selama ini mereka merindukan Lisa? Apakah kinerja Lisa masih dibutuhkan disana? Lisa juga tidak enak bahwa pekerjaannya akan dibebankan pada teman-teman divisinya. Belum lagi, dia penasaran bagaimana keadaan Miss Jelita.
Ah, memikirkan kebahagiaan kecilnya di kantor dan bagaimana dia pada akhirnya bisa menemukan kenyamanan pada orang yang dia kagumi.. sekarang semuanya hancur lebur dan hilang begitu saja karena ulah Noren yang sudah memporak-porandakkannya bak angin ****** beliung yang merugikan.
Tapi sayangnya, Ayahnya menentang keras tentang keinginannya untuk pergi jauh dari rumah. Alasannya sangat klasik dan masih sama. Pria paruh baya itu takut jika Lisa kabur atau melakukan hal-hal bodoh yang tidak dikehendaki dan merugikan. Jadi, Lisa menerima penolakan pada awalnya. Namun, Lisa bukan bocah lima tahun yang akan menurut dan mendengarkan bentakkan perintah sang Ayah.
Lisa adalah seorang dewasa muda yang bisa mencari celah untuk tetap menegakkan apa yang dia butuhkan. Toh ini juga baik untuk kesehatan mental dan fisiknya juga,kan? Jadilah pada akhirnya, ketika dia bersikeras dalam argumen permohonan untuk tetap diizinkan keluar dengan berbai banyaknya alasan yang dia lontarkan, suara bantuan dari Sinar adalah apa yang membuat Ayahnya akhirnya memperbolehkannya menginjakkan kaki di tempat ini sekarang.
Asal Sinar juga pergi.
Yah tentu saja. Dia sudah tahu bahwa bodyguardnya sekarang adalah kakaknya sendiri. Tapi tidak masalah. Sinar berada di pihaknya saat ini dan itu saja adalah apa yang Lisa butuhkan. Toh kakaknya juga tidak akan membuatnya tidak nyaman.
Sinar pasti paham apa yang Lisa butuhkan sekarang karena, lihat saja, Sang Kakak tidak benar-benar persis berada di sampingnya seperti anjing penjaga. Melainkan Sinar saat ini duduk di sebuah paviliun kecil dengan mata fokus pada tabletnya dan kaca mata bacanya. Entah melakukan apa. Namun yang pasti tidak jauh-jauh dari pekerjaan.
Lisa bersyukur bahwa Sinar bisa menghargai keinginan Lisa. Mungkin ini juga adalah salah satu bentuk tanggung jawab dari apa yang juga merupakan campur tangan Sinar sejak awal. Tapi sudahlah, ini semua sudah terjadi dan Lisa tidak ingin lagi berkubang di dalam lubang yang sama untuk ke seratus kalinya. Air matanya sangat berharga dan juga psikisnya adalah apa yang harus ia perhatikan lebih dulu.
Sekarang, Lisa hanya harus mencari cara agar hidupnya tidak semenyedihkan ini lagi. Dia yakin dia adalah orang yang cukup baik dengan ide dan kecerdasan. Lisa percaya kepalanya mampu untuk membuat banyak ketidakmungkinan menjadi suatu kemungkinan yang pasti.
Pasti ada hal yang bisa dilakukan. Pasti.
”Nalisaa!!! Gue kangen lo!!”
Satu pelukan besar menyergap Lisa tanpa aba-aba. Lisa yang seharusnya sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi masih belum bisa bersiap dengan serangan ini. Dia lupa bahwa kali ini, Jihan akan menemaninya untuk memberikannya beberapa saran dan membuanya membuka mata untuk hal-hal yang tidak dapat dia pecahkan sendiri.
”Jihan! Ahh Gue kangen juga sama lo. Udah lama banget kita nggak ketemu! Lo bahkan nggak pernah jenguk gue waktu di rumah sakit!” Lisa mencibir. Meskipun begitu, dia menepuk punggung kecil Jihan dan menggoyangkan perempuan itu ke kanan dan ke kiri dengan kegemasan yang selalu dia punya untuk Jihan seorang.
”Asli gue minta maaf banget, ya, Lisa. Turnamen awal tahun selalu tiba-tiba. Sumpah, gue nggak enak banget waktu tau dari anak-anak kalau lo masuk rumah sakit. Gue kira lo bakalan dirrawat di rumah doang. Parah banget apa sakitnya?”
Cemberut khawatir dari Jihan membuat hati Lisa melunak. Dia dengan gemas mencubit kedua pipi Jihan yang meringis kesakitan. Anak itu, meskipun merupakan seorang atlet, sisi gemas dan lembut ini adalah apa yang Lisa sukai dari sosok seorang Jihan. Kepolosan yang lucu dan mampu tegas di saat yang besamaan. Lisa lupa sudah berapa lama dia tidak ditinggal hanya berduaan saja dengan Jihan.
”Nggak apa-apa, Ji. Gue juga kalau nggak diseret sama Mama gue ke RS udah pasti Cuma rawat jalan di rumah doang. Biasa, orang tua gue kalau panikan selalu berlebihan memang. Lo tau sendiri, kan?”
Nalisa membawa Jihan duduk di ayunan bundar yang ada di taman tersebut. Diselimuti dengan dua pohon rindang di kanan dan dikiri membuat kesejukan yang mereka rasakan bertambah. Dia senang dengan bagaimana suasana hari ini. Rasanya, ada dukungan dari alam untuk sekadar memanjakan kewaraasannya yang hilang beberapa waktu yang lalu.
”Iya, sih. Paham gue. Tapi lo beneran udah nggak apa-apa? Lo udah sehat, kan ya? Gue takut lo tumbang lagi. Sumpah, ngeliat lo ambruk di lantai kamar lo bikin gue jantungan, tau! Jangan gitu lagi, ya, Lisa?” Jihan memohon. Lisa bahkan sempat lupa bahwa disana juga ada Jihan yang melihatnya di titik yang paling rendah. Betapa memalukannya..
”Gue nggak janji. Tapi, Ji. Gue juga nggak mau tau ada di posisi begitu. Gue aja nggak pernah pingsan seumur hidup gue. Baru kemarin gue ngalamin hal kayak gitu. Nggak enak. Pokoknya jangan coba-coba deh” Nalisa bergidik, mengingat kembali bagaimana rasa aneh saat itu.
”Memang nggak enak. Makanya gue takut setengah mati waktu liat lo begitu. Lo pokoknya jangan ada banyak pikiran lagi, deh, Lis. Jangan dipikirin yang nggak perlu dipikirin” Jihan bersikeras. Tatapannya yang tegas membuat Lisa tersenyum. Dia mengangguk dengan cepat.
”Gue mah nggak pernah punya banyak pikiran. Ya lo tau sendiri, kan, kenapa gue jadi begitu?” Ada suara derit gigi yang bertemu. Lisa tidak ingin membayangkan kembali ke hari itu namun rasanya, dia tidak bisa melupakan bagaimana meluapnya kebenciannya pada Noren saat lelaki itu membentaknya dengan paksaan yang tidak masuk akal.
”Iya gue paham. Udah, gue nggak mau bahas tentang Kak Noren di depan lo. Pokoknya sekarang topik pembicaraan kita tentang lo, tentang kesehatan lo, tentang apapun yang lo mau tanyakan ke gue kayak yang lo bilang di chat kita”
Inilah apa yang Lisa sukai dari Jihan. Perempuan itu selalu tau batas meskipun terkadang ada beberapa hal yang harus dijelaskan terlebih dahulu. Itulah mengapa Lisa membeberkan beberapa hal penting dalam komunikasi online antara dirinya dan Jihan sehingga perempuan itu tau ada batas yang harus dia jaga dan hargai. Apa yang Jihan lakukan sekarang sudah cukup untuk membuat Lisa berterimakasih pada perempuan itu.
”Kalau gue mau bahas pertanyaan yang nggak masuk akal sekalipun, lo masih tetap mau jawab ’kan, Ji? Soalnya gue butuh penyegaran. Otak gue rasanya mampet setelah nggak dipakai berabad-abad” Lisa terkikik ketika Jihan memukul pahanya dengan gemas karena ucapannya.
”Kebanyakan kalau abad, mah, Lisa. Boleh. Tanyain apa aja ke gue. Tapi yang masuk akal, ya? Gue kayaknya kalau ditanya yang diluar akal sehat dan nalar manusia biasa juga nggak bakalan sanggup deh jawabnya” Senyuman Jihan terlihat sangat manis dibawah bayangan rimbun dedaunan. Lisa merasa aman hanya dengan melihat seberapa tulus sahabatnya padanya.
Nalisa mengambil waktu yang layak untuk bertanya. Dia memilah-milah pertanyaan di dalam kepalanya dimana dia harus memulai. Sepeda gunung yang Jihan kendarai terparkir aman di dekat sebuah pohon pendek berbatang lebar. Pantas saja Lisa tidak menyadari kedatangan Jihan karena perempuan itu tidak datang dengan sesuatu yang berisik dari mesin kendaraan.
Kakaknya masih santai di paviliun. Sama sekali tidak menatapnya untuk memastikan dia tidak mencoba hal yang aneh. Sinar menepati janjinya dengan memberi Lisa ruang dan jarak. Itu saja sudah cukup bagi Lisa untuk tetap menaruh kepercayaan yang besar pada Kakaknya setelah apa yang lelaki itu lakukan. Syukurnya, Lisa sudah memaafkan lelaki itu dengan tanpa ada sedikit gelap pun yang tertinggal di atas namanya di dalam hati Lisa.
”Ji.” dia memulai.
”Hum?”
”Kalau misalnya, nih. Pertanyaan retoris. Kalau misalnya lo lagi menghadapi suatu masalah antara hidup dan mati dimana lo harus mengambil keputusan besar, lo bakalan ngambil sesuatu yang risky untuk diri lo sendiri atau untuk orang lain disekitar lo?” Lisa tau pertanyaannya terlalu samar. Tapi dia sedang menguji air terhadap jawaban Jihan sebelum percaya bahwa dia bisa masuk kedalam inti pembicaraan.
”Maksudnya?”
”Istilah mudahnya, kalau lo ada dalam masalah besar. Lo lebih milih untuk kabur dan menyelamatkan diri lo dengan merugikan orang lain dan berpotensi suatu saat akan timbul masalah yang lebih besar lagi atau.. lo milih buat mengakhiri hidup lo agar semua permasalahan itu berhenti di lo dan lo bisa tenang setelahnya?”
Lisa tahu pertanyaannya agak bodoh dan terlalu transparan. Tapi ini Jihan. Jihan dengan pikirannya yang selalu positf dan lugu, tidak akan mampu membaca pikiran Lisa dengan jauh dan tepat. Tidak seperti Hala atau Alpino. Jika Lisa membahas ini dengan kedua orang itu, sudah pasti Lisa akan mendapatkan interogasi panjang dan kekhawatiran kedua orang yang terlalu mampu membacanya seperti buku terbuka.
Pikiran Alpino dan Hala tidak sebersih Jihan. Meskipun Lisa juga tidak yakin kebersihan pikiran Jihan sampai pada aspek apa dan sejauh apa, namun Lisa bisa memastikan bahwa pertanyaannya bagi Jihan adalah harmless.
”Kalau bahas tentang kematian, jujur, gue nggak bakalan bisa buat mikirin itu. Rasanya aspek kematian mengerikan bagi gue yang masih pengen hidup. Sekalipun gue mengalami masalah berat dalam hidup gue, gue tetap bakalan milih untuk hidup dan berjuang, sih, Lis. Gue belum mau mati. Selama gue masih bernapas, gue yakin, masalah apapun itu bisa gue hadapi dan lalui”
Jawabannya mantap. Lisa merasakan sedikit denyut cubitan di hatinya. Jihan sama sekali tidak pantas untuknya menjawab pertanyaan yang buruk ini dengan seberapa baik tutur katanya ia berikan pada Lisa.
”Tapi kalau kabur juga menurut gue nggak bakalan menyelesaikan masalah, sih. Kayaknya malah makin memperparah keadaan? Gue juga pasti bakalan dibayangi sama permasalahan itu terus kalau milih opsi ini. Rasanya ngeri banget ngga, sih, kalau di teror terus? Kayak, hidup pun nggak tenang. Yang ada mental gue hancur duluan kali, ya”
Yah. Lisa juga tahu akan konsekuensi ini. Sebenarnya, dia hanya ingin mendengar dari orang lain saja untuk memperkuat poin pikirannya disini.
”Jadi? Menurut lo apa yang bakalan lo lakuin kalau masalahnya belum hilang dan nggak bisa hilang sama sekali kecuali lo pasrah kehidupan lo di renggut dan lo nggak bisa bahagia setiap lo bangun di pagi hari atau bernapas sekalipun?” Desak Lisa lagi. Lisa ingin jawaban dan dia tidak puas dengan apa yang dia dapat sejauh ini.
”Kenapa harus pasrah? Kan ada opsi lain selain mati atau kabur. Atau apapun yang lo bilang tadi? Banyak jalan keluar untuk satu permasalahan kalau lo benar-benar bisa ngelihat dari berbagai arah, Nalisa. Menurut gue, ya, pasti bakalan ada satu atau dua jalan lain yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah kalau emang bener pilihan terakhir adalah menyerah”
”Contohnya?” Lisa mengangkat alis, kali ini ada sesuatu yang menarik dari ucapan Jihan.
”Gertakan?”
Jihan terdiam sejenak.
”Gue pernah nonton sama Fajri Movie ke 2 Detective Conan: The Fourteenth Target yang ceritain tentang kenapa Kogoro nembak kaki Istrinya waktu disandera sama penjahat. Itu karena penjahat itu menggertak Kogoro dengan alibi akan membunuh istirnya yang notabenenya adalah orang yang dia cintai ’kan? Yang dimana penjahat itu yakin kalau dengan gertakan itu, Kogoro nggak bakalan bisa ngelakuin apa-apa selain menyerah”
Jelasnya panjang lebar.
”Tapi sayangnya Kogoro pinter karena dia nembak sandera di tempat yang nggak terlalu berbahaya atau fatal biar sanderanya tetap selamat tapi malah jadi burden buat si penjahat. Kalau udah begitu, mau nggak mau penjahatnya ngelepasin sandera yang terluka dong? Yah pokoknya gitu. Ceritanya bagus dan lo harus nonton, Lisa. Rekomended pokoknya!”
Dengan wajah tidak bersalah, Jihan yang berbinar-binar malah merekomendasikan tontonan pada Lisa. Terkadang Lisa sendiri merasa gemas dengan jalan pikiran Jihan yang ini.
”Masalahnya, Ji. Gue bukannya minta rekomendasi film. Tapi jawaban atas pertanyaan gue. Sekarang, inti dari pembicaraan lo apa, deh?”
Jihan terlihat tersipu. Dia tahu dia terlalu terbawa suasana karena jawabannya yang sudah keluar jalur. Tapi bagi Lisa sepertinya Jihan puas dengan apa yang dia kemukakan dan tidak ingin menarik apapun yang sudah dia tuturkan dengan suara yang ceria itu.
”Yah jadi kebawa deh, hehe. Maaf” Dia cekikikan dengan lucu. Untung saja ini Jihan, jadi Lisa bisa memaafkannya secepat kilat.
”Yah menurut gue, sih. Kalau kita dalam keadaan terdesak di suatu permasalahan berat yang kayak lo bilang tadi, daripada menyerah dan pasrah akan keadaan buruk di depan mata, kenapa kita nggak jadi penjahatnya dan buat gertakan yang bikin semua orang pada heboh dan bersalah? Mungkin dengan menyandera sesuatu yang penting bagi orang lain atau apalah” Tuturnya sejelas mungkin.
”Ya maksud gue, tuh. Selalu ada kemungkinan dalam ketidakmungkinan, kan? Tapi ini balik ke lo nya lagi, sih. Atau ke orang yang punya masalah itu sendiri untuk berpikir lebih kritis dan hati-hati kedepannya. Soalnya, lebih baik dirundingkan secara kekeluargaan dan kepala dingin serta ada penengah yang berpikiran luas dan tidak berat di satu sisi. Mungkin itu bakalan lebih bagus dalam membantu pemecahan masalah?”
Lisa berkedip. Jihan sungguh bagus dalam kata-kata tanpa berusaha. Ini hampir saja membuat Lisa terbuai dan mengungkapkan segala permasalahannya pada perempuan itu.
Tapi jika memikirkan lagi apa yang dikatakan oleh Jihan tadi...
”Gertakan, ya?” bisiknya pelan.
”Lo pasti nggak dengerin ucapan gue selanjutnya ’kan, Lisa? Padahal itu referensi yang lebih baik dipakai oleh orang normal biasanya, lho. Soalnya lebih nggak drama daripada gertakan. Toh kalau gertakan itu pasti adaaa aja celahnya untuk digagalin. Kecuali orangnya nekat, sih..”
”Oh.” Lagi, Lisa berbisik. Sesuatu muncul dengan tiba-tiba dikepalanya seperti angin ribut.
”Nekat, ya?” kemudian, seringaian muncul di wajahnya. Kepalanya mulai disinari dengan matahari yang cerah dan langit bersih di dalam kepalanya, menggantikan awan kelabu suram yang masih setia mengepul beberapa waktu sebelumnya.
Dia pasti sudah mendapatkan satu hal yang bisa dia lakukan.
”Jihan, lo jenius!”
Dengan tiba-tiba, Lisa mengguncang tubuh Jihan keras. Perempuan yang tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan itu terhuyung dengan tidak mengerti apa yang tengah di hype kan oleh Nalisa. Yang bisa Jihan lakukan adalah mengangguk dan tertawa mengikuti perubahan emosi sahabatnya. Itu aneh, namun Jihan bisa mengimbanginya dalam waktu sepersekian detik.
”Gue beruntung banget bisa punya sahabat sekeren elo, Ji!”
Satu peukan besar ia berikan pada Jihan dengan tenaga yang terlalu berlebih. Jihan menjerit di dalam kungkungan Lisa sehingga membuat ayunan bulat itu bergerak dengan tidak stabil. Mereka berdua tertawa dengan keras, ketakutan karena yakin akan jatuh di beberapa kesempatan karena gerakan brutal mereka yang kemudian di susul seruan terimakasih dan cekikikan karena kedatangan Sinar yang membantu mereka layaknya pahlawan kesiangan.
Dengan muka masam yang khawatir, Sinar bertanya. ”Kalian ngapain, sih? Kalau jatuh gimana? Bahaya tau. Lain kali jangan aneh-aneh di atas benda yang bergerak, ya!” tuturnya seperti memarahi balita.
”Maaf ya Kak Sinar. Kita cuma refleks doang tadi, jadi lupa tempat” Jihan cekikikan. Ada sedikit binar bersalah dimatanya, tapi segera ditepis dengan Lisa yang langsung kembali memeluk Jihan dengan erat sampai kedua pipi mereka menempel.
”Gapapa Kak. Kan ada lo yang bantu kita, hehe. Gue seneng ada Jihan di sini!”
Lisa dapat melihat dari air muka kakaknya yang terlihat lebih rileks daripada beberapa waktu belakangan ini. Lisa tahu apa alasannya. Pasti karena melihat bagaimana adiknya lebih lepas dan segar setelah badai menerpa.
”Oh iya Kak, gue boleh ngga main ke Jalan Surga sama Jihan? Sumpah, gue nggak bakalan kabur kok! Sama Jihan doang. Janji!”
Tanpa keraguan sedikitpun, Lisa tahu bahwa Kakaknya pasti akan memperbolehkan.
”Jangan lama-lama, ya?”
Dan dengan itu, Lisa segera menyeret Jihan untuk bersenang-senang di Jalan Surga.
...🍁...
...Kembalinya Nalisa; (Nalisa dan Rencana Gilanya)...
.........
...🍁🍁🍁...