Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
If You Cant Fight Him, Join Him Part.2



Terkejut dan bingung adalah reaksi yang pertamakali dia ekspresikan. Matanya bahkan tidak lepas dari ponselnya, di bagian perpesanan untuk melihat kembali respon dari orang yang dia tuju apakah itu benar seperti apa yang pertamakali di bacanya ketika dia melihatnya.


Bukannya apa, dia merasa agak aneh saja. Dia masih berada di dalam mobilnya, bersenandung mengikuti salah satu lagu yang saat itu mengudara dari radio musik yang menemani perjalanannya setelah pulang dari kantor miliknya, meninggalkan pekerjaan yang sudah cukup untuk hari itu. Sebenarnya, Noren merasa sangat lelah. Berkebalikan dari apa yang biasanya dia lakukan setelah bekerja, beberapa waktu terakhir ini dia gunakan secara giat untuk meluluhkan calon pasangan masa depannya.


Hari ini, lebih spesifiknya ketika dia secara random mengecek film yang tayang di bioskop, dia mendapati satu movie keluaran Pixar Animation Studios, dengan poster sesosok panda merah besar yang terlihat mencolok. Membuat wajah aneh yang tidak begitu dia sadari, Noren mengangkat kedua bahunya sebelum secara sadar langsung memesan tiket untuk dua orang dan dengan lancar tanpa pikir panjang, memilih kursi yang cocok untuk dia dan Lisa duduki.


Lisa menyukai film seperti ini dari yang terakhir kali mereka menonton bersama tanpa direncanakan sebelumnya. Di hari itu juga adalah hari dimana Lisa mulai memberikannya dan membuka sedikit dari zona nyamannya yang membuat Noren merasa sangat senang. Jadi, meskipun hal ini bukan tontonan yang begitu Noren sukai, apasalahnya jika dia melakukannya untuk membuat Lisa senang dengan hanya menontonnya.


Noren tahu apa yang dia lakukan adalah impulsive karena Lisa akan menolaknya meskipun perempuan itu pasti akan tertarik dengan tawaran menonton movie yang menjadi bagian dari kesenangannya. Namun tentu saja, Noren mempunyai banyak ide untuk bisa menyeret Lisa memasuki bioskop dan memaksanya untuk pasti tetap akan menonton. Suka atau tidak suka perempuan itu, tiket itu pasti tidak akan terbuang dengan sia-sia. Dan untuk kesukaannya yang dia yakinkan dengan percaya diri, Lisa pasti pada akhirnya menikmatinya juga.


Noren sudah bersiap dengan tolakan dan bentakkan apapun ketika dia mengirim pesan pada Lisa. Tidak lupa dengan bagaimana dia menggoda perempuan itu terlebih dahulu. Jujur, dia ingin Lisa bersikap manis padanya lebih dari apapun dan menerima uluran tangannya yang memegang perasaannya yang sangat trasparan dan ia berikan secara cuma-cuma hanya untuk perempuan itu. Tapi Lisa yang marah adalah hal lain dari definisi gemas dan menyenangkan dimana reaksi yang diberikan perempuan itu sama sekali tidak bernilai harganya. Dia yakin, suatu hari nanti Lisa pasti luluh padanya dan akan bersikap manis seperti apa yang dia impikan, dan untuk sekarang, dia harus puas dengan reaksi lucu perempuan itu saat sedang meluapkan emosinya.


Noren tahu dia hanya jatuh cinta terlalu dalam dengan perempuan itu dan melihat segalanya dalam bentuk yang positif. Dia bahkan tidak masalah dengan gerakan bar-bar yang dilakukan Lisa ketika perempuan itu menarik rambutnya dan membuat kepalanya sakit bukan kepalang. Dia hanya membiarkan perempuan itu untuk bereaksi dan Noren akan merasa sangat senang untuk mendapatkan apapun yang bisa membuat perempuan itu tetap berada dalam radarnya.


Benar sekali. Orang-orang benar, karena cinta itu bodoh dan Noren tidak masalah jika dia terlihat bodoh di depan Lisa. Selagi dia menikmatinya, dia akan menerobos dinding apapun yang menghalanginya.


Tapi, hari ini, berkebalikan dari apapun yang dia percayai untuk mendapatkan balasan dari pesannya yang berupa amukan dan penolakan, dia malah dikejutkan dengan persetujuan yang langsung perempuan itu jawab atas ajakan yang dia pinta.


Noren bahkan harus mengerjap beberapa kali sebelum mencerahkan layar ponselnya dan mengecek apakah dia tidak salah baca. Tapi, meskipun dia mencubit dirinya sendiri dengan perasaan bingung dan kupu-kupu yang tiba-tiba bergejolak di dalam perutnya, isi pesan itu tetaplah sama adanya.


Noren menggigit bibir bawahnya dengan keras. Apakah waktunya Nalisa untuk luluh padanya sudah datang? Secepat ini terjadi?


Oh, well. Benar, dia sudah berusaha selama hampir dua bulan dalam pembelaannya. Itu bukan waktu yang cocok untuk mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan hasil dari jerih payahnya agar Lisa luluh padanya. Waktu yang telah dia tempun bukan berarti bisa dibilang lama juga, toh dia masih belum melancarkan aksi-aksi anehnya yang diluar pikiran warasnya untuk memaksa Lisa agar bisa bersamanya, jadi, untuk mengatakan dia berusaha dalam tempo lama itu sangat tidak cocok.


Waktu yang cepat, tidak. Waktu yang lama, juga bukan sama sekali.


Lalu, apa yang membuat Lisa akhirnya menerima ajakannya begitu saja pada hari ini?


Noren mengetukkan ponsel di dagunya beberapa kali yang tidak ingin dia hitung. Matanya menatap lurus ke arah jalan raya yang padat oleh kendaraan berlalu-lalang. Jantungnya berdetak dalam ritme yang sudah tidak begitu normal, pun tidak begitu gila. Dia hanya agak nervous.


Kepalanya penuh dengan tanda tanya yang aneh dan tidak menemukan jawaban pasti ketika ada ketukan dari kaca mobilnya. Terperanjat dengan tidak begitu etis, dia melihat Lisa yang sudah berada disisi mobilnya, menunjukkan bahwa dia sudah datang.


Noren dengan cepat meng-unlock pintu mobil dan membiarkan Lisa masuk kedalam zona nyamanya, Lagi-lagi mereka berbagi udara yang sama dalam jarak yang sangat dekat. Noren tersenyum tanpa bisa dia kendalikan.


Hari ini, ketika dia menatap, Lisa terlihat lebih segar dari biasanya. Tidak ada lekuk cemberut dari bibirnya, tidak ada kerutan dari kedua alis dan dahinya. Tidak ada mata yang menatapnya dengan tatapan tajam yang menghunus seperti belati. Yang ada di depanya sekarang adalah Lisa yang sedang merapikan anakan rambut yang jatuh disekitar wajahnya, dia mengambil kaca dari tas selempangnya untuk merapikan surai lembut yang sangat ingin Noren bantu dengan tangannya sediri dan menguji kelembutan langsung dari kulit tangannya.


Hari inipun, bukannya menyapa dengan teriakan kejengkelan seperti biasa, alih-alilh perempuan itu menatapnya dengan tatapan datar, namun matanya berkilat aneh dengan kilau yang cantik terpapar biasan sinar matahari sore. Noren sangat mengagumi apa yang tersaji di kedua matanya kali ini. Meskipun begitu, Noren tau, ada hal yang sedang Lisa coba untuk ia telan jauh di dalam dirinya.


Mungkin saja, Lisa hanya sedang mengendalikan dirinya saat ini untuk tidak melakukan hal yang biasa dia lakukan pada Noren sebelumnya. Oh, wow, satu lagi keajaiban di hari ini. Noren bahkan tidak ingat apa yang dia lakukan untuk mendapatkan hari baik seperti hari ini.


“Kenapa lo natapnya gitu banget? Gue aneh?”


Oh, ternyata suaranya masih setajam biasanya. Noren tertawa karena rasa keterkejutannya yang tiba-tiba.


“Ah, engga, kok” dia tersenyum, membenarkan posisi duduknya dan memastikan dirinya untuk menarik rahangnya, menutup mulutnya yang hanya akan terbuka untuk mengagumi Lisa dari tempatnya sekarang. “Kamu cantik banget hari ini. Ada sesuatu yang baik, ya, tadi?”


Noren menguji air, berusaha melihat apakah Nalisa akan menyemprotnya kembali seperti yang sudah-sudah ataukah dia lebih dalam mode kalem hari ini. Noren menyunggingkan senyuman ketika dia berbalik dengan penuh untuk menelusuri reaksi yang akan di berikan oleh sang perempuan.


“Kalau iya, kenapa? Mau tau, lo?” perempuan itu menjawab, meski agak sarkas dan ketus, tapi nadanya lebih lembut daripada yang biasanya. Dia tidak mendesis di akhir kata. Hanya sibuk untuk kembali memoles lipstiknya tanpa ingin menatap Noren barang sedetik.


Noren mengangkat satu alisnya, penasaran. Namun ketika dia akan bertanya lebih lanjut, Lisa kembali bersuara.


“Lagian, gue emang cantik dari lahir. Sudah bawaan” suaranya lugas sebelum dia akhirnya menatap Noren tepat di mata. Wajahnya tetap lurus, namun ada sedikit senyuman nakal di wajahnya dan Noren hampir lupa bagaimana caranya bernapas. “Ini kita nggak jalan dari tadi? Nanti macet terus telat nonton filmnya. Oh iya, emang mau nonton film apaan, sih? lo nggak ada bilang ke gue tadi”


Noren terperangah setelah kembali ingat bagaimana dia membutuhkan oksigen untuk tetap hidup. Dia menggelengkan kepalanya dengan perasaan geli karena kupu-kupu terus berterbangan di perutnya. Nalisa dan semua hal yang membuatnya merasa senang dari dalam. Anehnya, itu bahkan tidak dilakukan dengan penuh usaha dari perempuan itu.


Noren tidak tahu apa yang terjadi pada perubahan Lisa. Tapi tentu saja, dia sangat menikmati apa yang tersaji untuknya.


“Kamu bakalan tau kok nanti kalau sudah sampai. Ini ada yang mau dibeli dulu atau langsung aja kita pergi ke bioskopnya?”


Noren bertanya sembari menginjak pedal gasnya dengan lembut. Mobil sport limited edition keluaran dari perusahaannya, yang dia rancang pertamakali dengan nama Agiov X1 Ruby Type dengan body yang hampir menyerupai BMW M8 Gran Coupe, membelah jalanan padat dengan agak mencolok.


“Langsung aja, deh. Emang mau beli apaan? Kalau makan, kan, gue udah pesen ke lo tadi” Ujarnya ketika dia mencoba untuk menyamankan diri di kursinya. Noren mengangguk dengan senang hati.


Meskipun masih penasaran dengan apa yang membuat Lisa sampai jinak seperti ini, dia abaikan untuk percakapan lain waktu. Sekarang adalah saatnya menikmati hari ketika dia mengulurkan tangan untuk memperbesar volume radio mobilnya yang mengalunkan lagu Fallin All In You milik Shawn Mendes.


“Oke..” Setujunya kemudian.


...……...


Pada awalnya Lisa menatapnya dengan pandangan skeptis tentang pilihan film yang akan mereka tonton. Itu tidak terlihat menyebalkan seperti apa yang dia kejutkan, namun Lisa kemudian melambaikan tangannya ketika minat muncul secara perlahan padanya. Noren kira, Lisa akan senang dengan tontonan yang dia pilihkan khusus untuk perempuan itu, mengingat bahwa Noren tidak begitu tergiur dengan film animasi remaja. Namun apa yang tidak akan dia lakukan untuk seorang Lisa? Cinta dalam hidupnya. Jika Lisa mengatakan dan meminta apapun padanya, akan dia lakukan dengan senang hati.


Kecuali ketika perempuan itu menyuruhnya untuk menjauh dan menyerah. Untuk yang satu ini, dia tidak akan mendengarkannya dan jatuh pada mode tuli.


Dia memperhatikan ketika Lisa menatap lama poster dari film yang akan mereka tonton. Meskipun sepertinya dia tidak begitu tertarik pertamakali melihatnya, namun kesenangan berkilau di wajahnya dalam waktu sepersekian detik ketika dia melihat trailer dari film itu sendiri. Yah, Noren tidak akan mengatakan dia puas untuk reaksi, namun dia senang jika Lisa sudah mulai menikmati apa yang dia akan lakukan hari ini.


Ada cubitan di sisi pinggangnya yang sedikit menyengat ketika mereka memasuki ruangan studio dengan tipe Gold Class yang membuat Lisa seperti sedang berusaha untuk menganiaya Noren dengan brutal saat itu.


"Kenapa pesannya yang ini, sih?” Lisa mengomel dengan tiba-tiba. Matanya berkeliling pada studio yang masih terang benderang saat mereka memasuki ruangan. Noren menatapnya dengan bingung, merasa tidak begitu ada yang salah dengan pilihan tipe ruangan yang dia pesan.


"Ya nggak apa-apa, biar kamunya nyaman buat nonton, Lisa” Noren menawarkan senyuman untuk menenangkan perempuan yang agak merasa resah itu. Dia bahkan harus menarik tangan Lisa yang masih mencubitnya untuk dia genggam.


Ada keterkejutan yang ditawarkan oleh perempuan itu. Lisa biasanya tidak ingin di sentuh oleh Noren, begitupula pada saat ini. Pertamakali dia menggenggam tangan Lisa untuk menghentikan cubitan bertubi yang melukai sisi pinggangnya meskipun tidak benar-benar mengganggunya, Lisa langsung melompat terkejut dan berusaha untuk menarik tangannya dari tangan yang lain.


Iseng, Noren mengeratkan genggamannya dan berusaha untuk menarik Lisa berjalan menuju tempat yang dia pesan. Lisa mengerang, dia hampir meneriaki kata ketika Noren merasakan kakinya diinjak dengan ujung heels yang tajam. Dengan reaksi yang sangat sempurna karena rasa sakit lain yang menyengat menembus sepatu pantofelnya yang tebal, Noren refleks menjauhkan diri dari Lisa dan menarik kakinya yang terasa sakit. Dia terlihat seperti orang bodoh ketika Lisa hanya berjalan menjauh dan mencari kursi mereka seorang diri.


Noren memperhatikan pergerakan Lisa dengan dengusan kesal yang melintasi dirinya. Dia menghela napas lebih dalam, lebih lambat untuk kesabaran yang dia butuhkan. Dia mencoba memancing kupu-kupu yang sudah layu dan lelah setelah mengepak sebelumnya dari dalam perutnya. Dia tidak akan mengacaukan hari dimana Lisa tidak berteriak padanya dan malah langsung menghindarinya daripada mengomelinya ketika dia sudah melewati batas apapun yang perempuan itu tempatkan di antara mereka.


Diam-diam, Noren bersyukur bahwa ruangan masih sangat sepi disana. Dan dia juga tidak akan heran jika studio itu hanya diisi oleh beberapa orang saja karena kebanyakan akan memilih menonton di ruangan studio regular, menurutnya.


"Sakit, kan?” Lisa tiba-tiba bersura ketika dia terlihat sudah nyaman di kursinya dengan selimut yang menyelimuti kakinya secara keseluruhan. Ruangan belum begitu dingin, namun dia sepertinya sudah mendapatkan posisi yang menyenangkan untuk mulai menonton film yang masih lima belas menit lagi diputar.


"Kamu nginjeknya dengan penuh perasaan gitu, gimana nggak sakit kaki aku, Nalisa” Noren menjawab dengan sedikit gerutuan yang terdengar seperti anak yang merajuk. Dia tidak begitu sadar dengan nada suaranya ketika dia sendiri mencoba untuk menyelimuti sebagian tubuh bawahnya, menyalin apa yang Lisa lakukan.


Kali ini, Lisa lebih jinak yang benar-benar jinak meskipun ada ketegasan yang masih tergaris di antara mereka. Noren tersenyum kecil. Ini masihlah sebuah kemajuan, kan?


“Refleks. Habisnya kamu nyubit aku nggak tanggung-tanggung, Lisa” Noren menyandarkan tubuhnya. Matanya melirik sedikit ke arah layar yang masih menampilkan iklan.


"Siapa suruh mesannya di ruangan yang ini? Kenapa engga yang biasa aja? Toh, kan cuma nonton animasi remaja doang. Gue jadi ngerasa kayak salah tempat, tau nggak, sih?”


Bibirnya masih maju untuk mengutarakan keluhan. Matanya juga melirik kesana kemari untuk memastikan apakah ada orang lain yang akan bergabung dengan mereka. Tapi sayangnya, sejauh ini ruangan itu hanya ada mereka berdua.


“Kenapa harus salah tempat? Terserah dong mau pilih nonton di ruangan apa, nggak perlu tergantung dari film yang mau ditonton. Yang penting, kan, kenyamanannya buat nonton, kan? Toh, yang nikmatin ya juga kamu sendiri”


Noren, tiba-tiba merasa dia sedang menasehati seorang anak kecil. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum mengusap wajahnya dengan perasaan yang aneh.


"Anjir, gue mikir apa?” serunya dalam hati seraya memukul kepalanya sendiri secara imajiner.


“Iya, sih” Lisa menjawab dengan lembut. Matanya terpaku pada layar dan menikmati iklan-iklan yang ditayangkan. “Tapi kenapa ngajakin nonton Turning Red? Kan gue juga udah bilang gue juga suka film Aksi atau fantasi”


Noren mengembalikan dirinya dari trans apa saja yang membuatnya bertengkar di dalam kepalanya. Matanya jatuh pada Lisa yang sekarang meliriknya sehingga tatapan mereka menyatu dalam garis lurus yang sama.


“Ya, karena sebelumnya kita juga nonton film sejenis ini bareng, kan? Jadi, waktu ngeliat posternya aku cuma ngira kamunya bakalan suka nonton ini. Jadi, ya, gitu. Aku juga sudah bilang kalau aku milih sesuatu berdasarkan apa yang kamu sukai, kan, Dek?”


Noren baru saja menutup mulutnya dari seberapa banyak kata yang dia ucapkan ketika dia melihat ekspresi Lisa dengan kedua mata yang membulat dan tubuh yang merinding dengan kedua tangan bersilang untuk memeluk dirinya sendiri.


“Loh, kamu kenapa?”


Lisa terlihat menggelengkan kepalanya dengan kuat sebelum menoleh ke arah lain secepat yang dia bisa. Namun, Noren bisa mendaftarkan ekspresi apa yang tertera di wajah Lisa sebelum dia benar-benar bersembunyi dari Noren.


Itu adalah sebuah ekspresi geli dan campuran dari rasa jijik yang menjadi satu.


Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Lisa saat itu? Noren bertanya-tanya dengan bingung dan penasaran.


"Kamu nggak lagi sakit, kan, Dek?” tanyanya lagi untuk memastikan.


“Nggak kok, gue sehat” suaranya agak tipis. Noren sedikit terkejut ketika ada dua pasangan yang masuk untuk bergabung dengan mereka di kursi yang syukurnya berjauhan dari tempat mereka sekarang.


“Kamu serius?” Noren memaksa tanya lagi. Untuk sepersekian waktu, Lisa terlihat mengepalkan tangannya sebelum menatap langsung ke wajah Noren dan memberikannya senyum yang Noren tahu bahwa itu terpaksa daripada senyuman jengkel yang biasa dia berikan secara lugas untuknya.


“Gue nggak apa-apa beneran. Sekarang mana popcorn caramel gue sama cola-nya? Gue udah nunggu dari tadi tapi lo kayaknya nggak ada inisiatif mau beliin gue padahal udah gue minta sebelumya”


“Oh iya, aku lupa”


Noren terperanjat. Dia memberikan cengiran aneh pada Lisa sebelum mengambil remot service yang disediakan untuk memanggil staff, memesan makanan yang diminta dan berdoa semoga pesanannya cepat datang sebelum filmnya benar-benar dimulai dan Lisa yang mungkin akan kembali menjambaknya dengan temper emosi yang kembali naik.


“Popcorn caramel sama Cola aja? Nggak ada yang lain?”


“Itu aja, nanti kalau gue mau lagi, gue tinggal minta sama lo buat pesenin lagi”


“Oke, sayang”


Noren menunggu untuk kebrutalan yang terjadi. Dia sudah bersiap dengan memar baru yang akan di goreskan oleh Lisa padanya. Namun, untuk keterkejutanya, dia hanya di hadiahi dengusan tajam dan kedua tangan yang mengepal tidak di arahkan padanya. Lisa seperti sedang menahan diri dan Noren, dengan segala hal yang berlarian di dalam otak gilanya, tidak bisa untuk tidak memikirkan apapun yang mampu untuk dia lakukan.


Menggoda Lisa dalam kesempatan ini, apalagi yang akan dia lewatkan? Oh, ini pasti akan sangat menyenangkan. Dia tidak akan menyangka betapa bagusnya situasi pengujian airnya ini.


“Orang gila.”


Itu desisan yang didengar di telinganya sebelum dia memilih untuk fokus pada pesanan makananya dan tawa kecilnya yang seakan tidak bisa berhenti dalam beberapa waktu kedepan.


Kupu-kupu yang telah layu, kini kembali mengepakkan sayap indah di dalam perutnya yang terasa hangat.


.........


...🍁...


...If You Cant Fight Him, Join Him Part.2 - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Eveliniq, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA EVELINIQ...


...JUDUL: CINTA ONLINE...


Cantika gadis manis kuat, tegar tetapi rapuh dalam hidupnya sejak ia terlahir sudah bersahabat dengan airnata. Tetapi ia punya keyakinan kelak ia akan menemukan cinta dan kebahagiaannya, walau penuh lika liku kehidupan. Gavin cinta pertamanya, yang membuat hidupnya terasa indah, karena sesuatu hal harus berpisah dengan dirinya Pada akhirnya ia menemukan kebahagiaan lain melalui Cinta Online. Tetapi benarkah cinta online itu tulus, dan abadi atau semakin membuat hidup Cantika semakin kacau?? Atau akankah cinta pertamanya adalah cinta sejatinya? dan akan kembali dalam hidupnya?



Selamat membaca🥰