
Lagu milik Chet Baker – You are mine, you! Mengalun begitu percaya diri di ruangan besar yang sunyi, berpenghuni hanya satu orang dan biasanya hampir tidak memiliki satu kebisingan apapun sebelum ini. Sepertinya, pemilik kediaman itu sedang terlalu senang untuk bermusik. Dinilai dari bagaimana lagu itu terus menerus diputar selama sepuluh menit penuh.
Tahun baru seperti memiliki semangat baru pada pribadi masing-masing orang. Begitupula dengan sosok Noren sang pemilik rumah yang sekarang sedang bersantai dengan anggur putih ditangannya. Duduk di balkon yang rindang dengan pemandangan di atas awan dari posisi penthouse yang dia tinggali, Noren bergumam mengikuti lirik lagu yang mengalun.
Matanya terpejam menikmati suasana dan juga lagu, memilih untuk terlarut dalam buaian musik yang sekarang berfokus pada indera pendengarannya. Jemarinya yang kosong bergerak-gerak mengikuti melodi, membentu gerakan menekan tuts piano seperti pianist handal.
Pagi masih buta, matahari masih tertinggal di balik awan gelap yang belum siap disinari oleh hangatnya mentari pagi. Kebanyakan orang lebih memilih untuk tenggelam dibalik selimut hangat mereka dan bergumul di atas kasur yang lembut, terbuai dalam indah mimpi yang menyambangi.
Meski begitu, Noren memiliki banyak energi untuk membuka matanya dan menikmati anggur putih yang manis dilidahnya ketika dia menyesap. Membiarkan hembusan angin yang lembab membawa embun pagi membuai wajah dan helaian rambutnya yang masih berantakkan, tidak peduli untuk merapikannya barang sedikit saja.
Suasana hatinya sedang sangat baik. Jantungnya masih berdebar dengan debaran yang bisa dia rasakan hingga ke telapak tangannya dengan telinganya yang juga mampu untuk merasakan hitungan detak itu berbunyi.
Tahu bahwa dia hanya tertidur selama tiga jam setelah pergantian tahun, energi yang ditimbulkan oleh tubuh dan semangat Noren mengabaikan kekurangan tidur tersebut. Siap menyambut hari baru ditahun yang juga baru.
Bibirnya tertarik menjadi seringai ketika alunan musik tersebut mencapai akhir, bersiap untuk memutar kembali lagu yang sama. Ketika nada pertama masuk dalam ketukan yang beriringan dengan goyangan cairan anggur di tangan kanannya, mata Noren terbuka secara perlahan.
Gelas anggur ia bawa menempel di bibirnya, meneguk isinya. Noren puas, diukur dari bagaimana lelaki itu menghela napas setelahnya.
Beberapa waktu yang lalu setelah malam itu adalah waktu yang panjang. Namun Noren menemukan dirinya tidak terusik. Noren seringkali memikirkan bahwa waktu berjalan dengan begitu lambat. Tapi saat ini, dia tidak pernah lebih dari puas ketika merasakan bahwa waktu melompat bagai tupai yang gesit. Begitu cepat berpindah dari hari ke hari.
Empat minggu lagi adalah acara pernikahannya dengan tambatan hati dan cinta pertamanya. Dia tidak pernah sebahagia ini untuk melewatkan hari lainnya yang dulu dia klaim dengan membosankan. Nyatanya sekarang, menghitung mundur sampai dengan waktu sakral impiannya mengundang reaksi adrenalin yang aneh pada dirinya. Noren tidak mengeluh karena pada kenyataannya dia sangat bersenang-senang.
Berdiri, Noren memilih untuk segera masuk ke dalam ruangan. Meletakkan gelas anggur yang kosong di westafel, dia pergi untuk bergegas membersihkan diri.
Bibirnya masih bergumam ceria, itu terasa lebih lebar ketika dia melihat pajangan koleksinya yang indah dan bersinar dari pantulan cahaya matahari yang saat ini telah bangun untuk menunjukkan keindahannya.
“Selamat pagi cantikku..”
Noren tersenyum secara kewalahan ketika dia menarik bagian kayu rak tertutup yang disengaja, membuat keindahan dari tampilan prakarya koleksinya muncul dengan begitu megah dan mewah di depan matanya.
Disana, boneka rubah kecil murahan terlihat begitu mewah di dalam kotak box yang penuh dan cantik. Dekorasi sedemikian rupa dengan lampu sorot yang cocok untuk menonjolkan sosok rubah yang menyeringai dan berwarna oranye cerah yang kemerah-merahan pada bagian bulunya.
Itu adalah hadiah yang diberikan Lisa ketika mereka bermain mesin capit pada waktu itu. Masih berada di sana seolah-olah boneka tersebut adalah barang langka dan mewah yang memilki nilai jual tinggi. Noren menatapnya puas setelah mengelus permukaan kotak kaca yang dingin. Disekelilingnya ada banyak pajangan dan hiasan yang terdiri dari dandelion kesukaan Lisa. Noren memang sudah gila, tapi dia gila karena cintanya pada Lisa.
Ada satu lagi yang tergeletak disisi rubah murahan yang disulap menjadi rubah langka yang mewah. Itu masih menjadi favorit Noren. Itu adalah pajangan yang berisi sosok patung Lisa yang memegang dandelion di tangannya, sedang ladang kecil dandelion dan sebuah pohon yang rindang memayungi mereka. Jika Noren menggoyangkan mereka, maka akan tercipta efek seperti bola sajlu, bedanya, serpihan itu bukan salju, melainkan benih dandelion yang cantik dan berkilau.
Cinta pertama dan debaran pertama yang dia rasakan untuk seorang Nalisa-, siapa yang akan menjadi istrinya di akhir bulan ini kelak.
“Masih cantik seperti biasanya” Noren bergumam, mengelus koleksi indahnya dengan sangat hati-hati.
“Hari ini aku kangen banget sama Lisa. Jadi, doain papa kalian ini untuk ketemu sama calon mama kalian, ya?” Dia terkekeh kemudian.
“Mama kalian itu sepertinya sangat shock karena Papa lamar dengan tiba-tiba sampai dia nggak mau ngangkat telpon atau balas pesan papa. Jadi, hari ini Papa akan datangin mama kalian buat lepas rindu”
Noren tertawa dengan sangat senang. Dia tidak memiliki masalah dengan kepalanya yang mengatakan bahwa dia sudah gila karena berbicara dengan benda mati. Tapi dia senang karena monolog kecilnya menambah bibit-bibit kepercayaan diri yang semakin penuh dari waktu ke waktu.
Sekarang, dia akan membersihkan diri untuk mengunjungi rumah Lisa. Meskipun perempuan itu sama sekali mengabaikannya setelah malam panjang bersama keluarga mereka-, Noren tidak berkecil hati. Reaksi Lisa sungguh sesuai apa yang dia bayangkan. Tetapi Noren menangkap hal itu adalah sebuah kelucuan kecil dari perempuan miliknya yang menggemaskan.
Jadi, Noren mengabaikan segala sesuatu yang menyatakan bahwa Nalisa menolaknya.
Karena penolakkan berarti dia harus maju dengan lebih keras lagi. Noren adalah orang yang tidak gampang putus asa di jalannya. Dia akan terus melangkah sampai apapun itu jatuh ketangannya dan dia bisa memilikinya sepenuh yang dia inginkan.
Noren akan selalu menjadi pemenang di akhir hari. Kebanggannya terlalu tinggi untuk hanya dipatahkan oleh reaksi Lisa yang tidak berkesan.
“You are mine, you~” Noren mulai bernyanyi ketika kakinya melangkah untuk menuju kamar mandi. Musik masih menyala, menaikkan perasaan gembiranya yang sudah setinggi langit cerah di pagi hari.
“You belong to me, you
I will never free you
You're here with me to stay”
Lagu Lo-fi itu mengiringi air shower yang membilas tubuh Noren. Bisikan yang Noren kemukakan untuk melanjutkan lirik lagu, menyatu dengan derasnya air hangat yang membuai kulit sensitifnya di pagi hari.
“You're mine, you
You are mine completely
Love me strong or sweetly
I need you night and day”
“I own you, Nalisa”
...….....
Jam menunjukkan angka 9.07 ketika Noren sampai di kediaman Lisa. Itu sepi, seolah para penghuni kompleks perumahan sedang berlibur bersama keluarga di daerah masing-masing. Atau, sama sekali menghabiskan waktu berlibur yang tersedia untuk hanya beristirahat di rumah mereka masing-masing. Memanfaatkan hari libur yang langka untuk hanya bermalas-malasan.
Noren dengan percaya diri memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Lisa. Turun untuk menekan bell yang terletak di sebelah gerbang putih dengan ukuran mewah, dengan percaya diri yakin bahwa dia akan dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk seperti waktu-waktu sebelumnya.
Menekan bel dengan sabar, Noren tetap menunggu. Pun, jika tidak ada yang ingin bergerak untuk mempersilahkannya masuk, dia bisa saja langsung menghubungi Huston untuk meminta anak perempuannya itu menyambutnya.
Beruntungnya, dia tidak harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan perhatian dari pemilik rumah. Noren mengangkat alisnya ketika Sinar yang menyambutnya di depan pintu. Masih dengan wajah bantalnya, sahabatnya yang sekarang masih memiliki hubungan dingin dengan dirinya menyipitkan mata dari sinar matahari yang menyorot matanya dengan tiba-tiba.
Noren tertawa di dalam, dia ingin sekali menggoda sahabatnya itu yang memiliki kebiasaan untuk terus tidur sepuasnya ketika mendapatkan hari libur. Yakin bahwa Sinar baru saja bangun.
“Pagi, tukang tidur. Cepat juga lo bangun buat nyambut gue, ya” Noren menyahut, tertawa ketika Sinar terlihat seperti rusa di lampu merah.
“Lo ngapain ke sini?” Sinar menggeram ketika kesadaran memukulnya.
Noren tersenyum, mengetuk besi pagar meminta untuk dibukakan.
“Bukan buat nemuin lo yang pasti” Noren menyahut, masih mengetuk pagar besi dengan ketukan ringan. “Bukain dong pagarnya, gue mau masuk. Penting soalnya” lanjutnya kemudian.
“Lo nggak boleh masuk. Pulang aja, gue muak lihat wajah lo” sarkasnya dengan cepat. Gerakan Sinar menyiratkan bahwa dia akan kembali masuk kedalam rumah.
“Gue bukan mau ngeliat wajah lo juga. Gue nggak peduli lo masih perang dingin sama gue atau apa. Gue udah ngabarin orang tua lo kalau hari ini gue mau datang buat lihat Lisa” Noren berbohong, tentu saja. Itu adalah trik sederhana untuk membodohi Sinar seperti biasanya.
“Kalau gue nggak dibolehin masuk, gue bisa aja nelpon Ayah lo buat minta izin lagi. Bilang kalau anak sulungnya nyusahin gue buat nemuin calon istri gue” Noren mengejek, memamerkan ponselnya untuk gertakan yang lebih nyata.
Noren bisa melihat bagaimana wajah Sinar mengeras. Kepalan tangannya berat dan menampilan urat-urat yang menandakan bahwa dia mengepal sekuat tenaga. Noren masih mengangkat kedua alisnya untuk tetap menyerang. Dibutuhkan beberapa detik lagi untuk Sinar akhirnya menyerah.
Menyeringai seperti kesetanan, Noren melangkahkan kakinya untuk bergerak ke pekarangan rumah Lisa. Meninggalkan Sinar dibelakang yang sedang berusaha untuk menetralkan emosi pagi harinya. Noren sedikit bersedih untuk sahabatnya karena memulai tahun baru dengan emosi sedemikian rupa.
“Dasar brengsek!”
Noren mendengar geraman Sinar, tapi dia tahu bahwa lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaannya. Sinar cukup bodoh dan lemah dalam situasi ini dan Noren senang dengan keadaannya.
“Oh? Kak Noren disini? Pagi banget?”
Itu adalah sambutan dari Jihan. Orang tak terduga yang dia ingin lihat di kediaman Lisa. Matanya mengerjap sejenak sebelum mendapatkan pengetahuan darimana asalnya perempuan itu hadir. Bukan hanya Jihan saja yang berada disana, melainkan anak-anak lain yang bergabung dalam kelompok kecil Lisa juga hadir. Tidak tertinggal Alpino yang menatapnya dengan bingung dan penasaran. Mereka pasti sedang mengadakan pesta tahun baru tadi malam.
“Pagi, Jihan” Noren tersenyum, menepuk bahu perempuan dengan mata sipit itu sebelum berlalu untuk melewatinya. Memilih mengikuti instingnya untuk melihat Lisa yang masih berbaring di pangkuan Alpino di sofa ruang santai.
“E-eh, ada lo bang Noren. Semalam kemana? Kok nggak dateng?”
Suara Alpino canggung, tapi pergerakannya hati-hati untuk tidak mengganggu Lisa yang masih tertidur. Ada ketidaksenangan dan gelombang kemarahan juga kecemburuan yang melanda Noren. Dia ingin marah karena kepunyaannya sedang bersama orang yang pasti menjadi kandidat kuat untuk merebut Lisa darinya. Tapi dia harus berasabar. Dia bukan orang yang gegabah, jadi Noren memilih untuk menenggelamkan perasaan jeleknya kebelakang.
“Oh semalam emang nggak bisa datang karena lagi ada acara dengan keluarga. Biasa” Noren tersenyum. Tentu saja dia berbohong. Tidak ada yang mengundangnya untuk pesta tahun baru dan dia tahu diri mengapa itu terjadi.
“Oh gitu ya.. padahal tadi malem seru banget loh, bang” Alpino menyahut lagi, berusaha untuk terdengar lebih baik dan akrab.
Noren bejongkok untuk melihat Lisa lebih dekat. Alpino tidak bergerak, seperti menahan diri. Noren senang dengan itu. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan anakan rambut Lisa yang menghalangi dari wajah polos tidurnya. Noren tersenyum dengan hati yang hangat.
“Eh tapi lo pasti udah tau ‘kan kalau Hala sama bang Sinar jadian, bang? Ya cuma memastikan aja lo nggak ketinggalan berita meskipun tadi malem lo nggak dateng” Alpino yang canggung ternyata bermulut besar ketika dia panik.
Noren terkejut. Berbalik untuk melihat Sinar yang masih berdiri di daun pintu untuk mengawasinya, Noren memberikan tampilan bertanya seperti, ‘sumpah? Jauh juga perkembangan lo yang cupu. Mau nyaingi langkah gue, ya?’-, yang dibalas Sinar dengan wajah datar dan kerasnya. Masih menatapnya seperti dia seorang hama di dalam ruangan.
Noren masa bodoh tentang itu dan kembali untuk memperhatikan cinta dalam hidupnya.
“Pasti, dong. Gue juga udah ucapin selamat buat Sinar. Gue sampai nggak yakin orang kayak dia berani maju” cercanya dengan sarkas.
“Hah? Maksud-“
“Jam berapa Lisa tidur tadi?”
Mengabaikan pertanyaan aneh dari Alpino, dia lebih memilih untuk fokus pada Lisa. Wajah polos yang cantik di hadapannya membuat Noren ingin sekali memberikan kecupan ringan di sana untuk membangunkan perempuannya.
“Nggak lama ‘kok. Sekitar jam 3-an udah tepar anaknya. Tadi sekitar jam 7 udah bangun, sih. Tapi tidur lagi habis sarapan sedikit” lagi, suara Alpino yang menjelaskan membuat Noren agak jengkel.
“Lisa kayaknya lagi sedih, jadi gue biarin dia pake paha gue jadi bantal. Padahal ‘kan paha gue keras kayak batu. Nih anak masih bisa tidur nyenyak gini.. heran gue” lalu ada tawa. Noren semakin kesal.
“Yaudah, sini biar gue bawa ke kamar, ya. Biar dia bangun nati nggak sakit lehernya” dengan keputusan final itu, Noren segera bergerak untuk mengangkat tubuh Nalisa yang masih belum sadar.
Namun, Lisa bangun secepat tangannya menyentuh bahu perempuan itu. Dengan mata yang masih mengantuk akibat kabut, Noren bisa melihat betapa terkejutnya Lisa ketika dia berhasil mendapatkan gambaran seberapa dekat wajah mereka. Lisa, dengan kecepatan bak cahaya meskipun dia belum sepenuhnya sadar, segera mendorong Noren dan melompat dari pangkuan Alpino. Wajahnya memerah, marah sudah jelas tertera.
“Lo mau ngapain gue brengsek?!”
Dia menjerit dengan suara yang begitu keras. Mengambil atensi setiap kepala di dalam rumah. Bahkan, Hala dan Fajri yang berada di ruangan berbedapun ikut tergopoh-gopoh menghampiri sumber suara.
“Sayang..” Noren berucap, Lisa terlihat siap untuk menerjangnya dengan hantaman bringas.
“Diem lo! Diem!” Lisa berteriak lagi. Anak perempuan lainnya dengan segera menghampiri Lisa. Alpino bahkan melompat dari tempat duduknya dengan segera.
“Lisa.. lo kenapa?”
“Lis, tenang dulu…”
Suara menenangkan dari teman-temannya yang panik tidak serta merta membuat Lisa tenang. Perempuan itu malah menyingkirkan tangan yang berusaha untuk memegangnya ditempat agar sadar dengan begitu kasar.
“Enyah lo dari hadapan gue! Gue udah muak sama lo! Gue nggak mau ngeliat muka lo! Pergi!”
Dengan satu hentakkan kaki, Noren ditinggalkan dengan terperangah saat Lisa berlari menuju lantai atas tempat dimana kamarnya berada. Matanya mengikuti punggung Lisa yang menghilang di balik pintu. Noren diam sejenak sebelum menghela napas berat. Dia seharusnya tahu bahwa pertemuannya dengan Lisa lagi akan begini adanya.
“Kak Noren… Lisa kenapa?” Hala dengan hati-hati bertanya, tetapi perempuan itu langsung ditarik oleh Sinar untuk menghindari percakapan yang tidak penting dengannya.
“Sudah gue bilang, mending lo pulang sekarang” suara dingin Sinar lagi-lagi mengetuk hati Noren yang sudah dingin.
Lelaki dengan ego setinggi langit itu memutar matanya, sebelum mendorong tubuh Sinar untuk menyingkir dari hadapannya.
“Lo nggak berhak nyuruh gue buat pergi dari sini. Gue sama Lisa bakalan nikah sebentar lagi, jadi gue nggak bakalan pulang sampai gue ngobrol sama Lisa hari ini tentang jadwal fitting baju kita”
Dengan satu decihan tak mengenakkan pada Sinar dan semua orang yang terkejut menyaksikan drama dipagi hari yang tidak perlu, Noren segera mungkin mengikuti jejak Lisa.
Samar-samar, Noren bisa mendengar Alpino menggumamkan sesuatu yang terdengar menyayat hati, tapi dia tidak peduli dengan orang yang tidak penting dalam hidupnya.
Jadi, Noren segera menaiki tangga dan mencari kamar Lisa. Mudah ditemukan dari bagaimana gantungan pintu yang dihias dengan lucu tergantung terbalik disana, hasil dari Lisa yang membanting pintu dengan keras.
Menetralkan emosinya yang sempat bergejolak, Noren menghela napas dalam. Berusaha untuk mendapatkan ketenangannya sebelum dia mulai angkat bicara untuk membujuk Lisa.
“Lisa.. aku tau kamu masih marah sama aku. Tapi tolong, bisa nggak kita ngobrol bareng sebentar aja, ya? Aku kangen kamu, sayang”
Suaranya dibuat semanis mungkin. Dia mendekat dan mengetuk pintu kamar Lisa dengan ketukan ringan. Berharap Lisa akan tergerak hatinya untuk mendengarkannya.
Tapi apa yang dia inginkan ternyata tidak semudah apa yang dia pikirkan. Lisa membanting sesuatu ke pintu kamar. Terdengar beberapa barang jatuh dan geraman marah berhasil Lisa sampaikan padanya.
“Gue bilang, enyah lo! Gue nggak mau ngeliat lo disini, ya, brengsek! Mending lo pergi!”
Mendengus, Noren tentu saja tidak akan mendengarkan apa yang Lisa inginkan jika lelaki itu harus hengkang dari rumah Lisa.
“Sayang.. jangan gitu, oke? Tenangin diri dulu, ya? Kita bisa bicara baik-baik? Ayo keluar dulu…” Dia berusaha lagi untuk meluluhkan hati Lisa. Tapi yang dia dapat hanyalah makian dan makin banyak teriakan yang tidak mengenakkan dari Lisa.
Sepertinya calon istrinya itu sedang dalam keadaan histeris dan terkejut. Noren harus mampu untuk menenangkan dirinya. Dia tidak bisa mengobrol dengan Lisa jika keadaannya seperti ini. Jadi, Noren berhenti berbicara sebentar. Takut-takut Lisa yang baru bangun dengan terkejut tadi akan terkena masalah. Belum lagi, pasti kepalanya akan sakit karena dia melompat begitu saja saat kesadaran menghampirinya.
“Gue bilang, pergi. Gue nggak bisa ngeliat lo tanpa rasa jijik!” Lisa meludah lagi. Noren masih diam.
Cukup lama untuk membuat Lisa tenang. Mungkin bukan waktu yang paling singkat namun juga bukan waktu yang paling lama. Perempuan itu masih marah. Tidak peduli seberapa banyak waktu yang Noren berikan pada Lisa, tidak akan ada kedamaian dari perempuan itu untuknya.
Sadar diri, dia tahu. Dia memaksa Lisa untuk menjadi miliknya. Tapi apalagi yang bisa dia lakukan? Dia mencintai perempuan itu sampai sulit untuk bernapas. Setidaknya, dia bisa mengambil Lisa untuk dirinya sendiri meskipun seegois kedengarannya, dia mendapatkan apa yang dia inginkan dalam hidupnya yang memang sudah rusak ini.
“Sayang..”
“DIEM!”
Noren menghela napas lagi dan lagi.
“Nalisa.. ayo bicara, ya?”
“GUE NGGAK MAU!”
Teriakannya semakin keras.
Hati Noren sakit mendengar betapa tidak inginnya Lisa bersama dengannya. Sudah berbagai cara dia lakukan untuk meluluhkan hati perempuan itu. Sudah cukup banyak tenaga dan usaha yang dia lakukan untuk mengatakan dan menunjukkan kepada Lisa betapa besar perasaan yang dia miliki untuk perempuan itu.
Sudah cukup banyak hal yang dia lakukan dan dia suguhkan untuk satu-satunya perempuan yang dia cintai. Namun apa yang dia dapatkan sekarang? Penolakan mentah-mentah dan diperlakukan seperti hama yang menjijikkan.
Sudah cukup. Noren marah.
Dia tidak senang dengan bagaimana Lisa memperlakukan dia. Hatinya menjadi dingin lagi dan dia menahan diri untuk tidak memukul pintu dengan segenap kekuatannya. Lisa akan semakin ketakutan jika dia melepaskan semua amarahnya pada perempuan itu.
Jadi dia diam sepersekian waktu. Memilih cara yang baik untuk memendam semua rasa sakit hatinya yang biru.
Butuh satu detik lagi dari usahanya untuk menelan semua emosi jeleknya yang sedang memakannya, Noren akhirnya berucap;
“Mau gimanapun lo nolak, lo tetap bakalan jadi milik gue dan pernikahan bakalan tetap berlangsung. Suka atau nggak, lo tetap akan jadi istri gue. Kepemilikan gue. Undangan akan gue sebar cepat atau lambat dan gue nggak peduli tentang apapun yang lo lakuin”
Menutup matanya dengan erat, Noren segera berbalik. Tidak ingin berlama-lama menunjukkan kekasarannya pada perempuan yang dia cintai.
“Gue tunggu lo di akad kita tangal 30 dan gue pastiin lo ada disana buat gue”
Dan dengan itu, Noren memilih untuk pulang.
...🍁...
...Kunjungan Noren...
.........
...🍁🍁🍁...