Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Hati Yang Dingin; Noren dan Perasaanya



”Jadi, ada pembaharuan bagus untuk disampaikan pada konseling hari ini?”


”Saya kacau”


”Oh. Itu semakin memburuk, bukan?”


Ada tatapan yang menusuknya seperti sedang mengubek-ubek isi pikirannya tanpa izin. Noren membuang wajah, lebih memilih untuk fokus pada interior yang terlihat baru diperbaiki dinilai dari cat putih yang terlalu terang untuk kesukaannya. Dia tidak mengeluhkan hal itu, hanya saja banyak yang berubah saat dia datang lagi ke tempat ini, namun baunya sama.


Itu chamomile dan sedikit mint. Ada bau manis anggrek yang datang dari tumbuhan cantik berwarna ungu dengan dua bunga duduk di atas meja kerja pemilik ruangan. Terkadang, dengan bebauan campuran yang masuk ke dalam indera penciumannya dengan sangat menyengat dan terburu-buru, Noren tidak begitu menyukainya.


Tapi disinilah dia berada. Hampir sangat terbuka karena penjagaan pada dirinya telah diturunkan sedikit demi sedikit. Noren lupa sejak kapan dia berhasil melangkah ke ruangan yang awalnya sangat dibencinya ini.


Mungkin itu di sekitar belasan tahun usianya, atau mungkin di penghujung masa remajanya. Tapi yang dia ingat adalah, dia sudah tidak berada di tempat ini lagi sejak dia mengambil alih perusahaan pusat di negeri asalnya dilahirkan.


Lalu, kenapa akhirnya dia kembali lagi ke tempat ini? Setelah waktu-waktu manis untuk dirinya sendiri dan kepercayaan besar yang tidak pernah dia ragukan lagi pada dirinya sendiri?


”Giovano, jika anda tidak membicarakan segala yang mengganggu, saya tidak akan bisa membantu anda disini” sang pemilik ruangan bersuara lagi. Noren merasa dirinya hanya ingin pergi dari tempat itu.


Tanyakan pada kepala dan hati nuraninya lagi kenapa dia harus repot-repot untuk terbang dari Jakarta ke Kanada hanya untuk menginjakkan kaki di sebuah klinik praktek salah satu orang yang dikenalnya dengan sangat baik disana. Satu-satunya orang yang dia biarkan menelisik ke sisi tergelap dalam dirinya untuk waktu-waktu yang tidak dapat dia tangani dengan kepala jernih dan emosi yang stabil.


”Lihat Cameron, jika saya disini, berarti ada yang salah dengan saya. Saya sudah katakan saya kacau dan itu berakhir dengan sangat buruk. Hanya saja, saya tidak merasa sepenuhnya salah disini, saya pantas untuk melakukan hal buruk itu pada mereka” Noren menyembur dengan tegas. Tatapan matanya ia arahkan kembali ke pemilik ruangan yang hanya mengangkat kedua alisnya tidak terkesan.


”Anda tau bahwa saya tidak suka melakukan ini atau menjelaskan hal yang menjengkelkan. Hanya saja, saya melihatmu karena saya tahu bahwa saya melakukan kekacauan. Kali ini, saya tidak dapat menahannya seperti yang sudah-sudah. Ini terlalu berlebihan dan saya yakin saya melakukan hal yang benar kali ini” tambahnya lagi dengan nada yang lebih tajam.


”Tapi bagaimana anda berakhir disini jika anda mengatakan bahwa anda melakukan hal yang benar? Giovano, saya tahu bahwa anda sedang merasa bersalah, bukan? Kali ini, apa saja dan kepada siapa saja anda melakukan kekacauan itu?”


Inilah yang sebenarnya Noren hindari. Cameron selalu mendesaknya lagi. Terus menerus hanya untuk Noren menuturkan segalanya pada lelaki itu. Noren tahu bahwa meskipun dia dan Sinar sangat dekat satu sama lain untuk kebaikan mereka berdua, Cameron adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya bertekuk lutut dan bisa membelah semua hal yang ada pada Noren dalam satu tatapan mata yang tidak bersalah.


Ya, disinilah dia. Dengan Cameron sebagai psikiater pribadinya untuk menenangkannya dan membawanya ke jalan yang benar seperti yang seharusnya dokter mental itu lakukan. Noren dan Cameron adalah teman satu sekolah ketika dia dipaksa untuk menjalankan bisnis sejak dini oleh orang tuanya.


Sebagai anak yang dipaksa dengan tegas untuk mengemban banyak beban di masa depan dan orang-orang yang bergantung padanya agar bisnis tetap berjalan dengan baik demi nafkah yang sedang mereka cari dari hasil kerja mereka, Noren menjadi rusak.


Noren tidak ingin mengakui ini, tetapi sebagai manusia, Noren sadar dirinya rusak. Seperti robot yang kehilangan baut-baut disisi-sisinya, atau program yang terinfeksi virus sehingga menghancurkan apapun yang dimiliki oleh sistem. Noren mengakui bahwa dirinya tidak berfungsi dengan sangat baik. Itulah mengapa dia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya tetap lurus di jalan yang benar.


Bukankah Sinar pernah mengatakan bahwa dirinya aneh dan menakutkan? Bahwa dirinya bisa melakukan apapun meskipun itu pada akhirnya menyakiti banyak orang demi untuk kesuksesan yang dia capai setelahnya?


Ya. Itulah dia. Otaknya dan hatinya sudah sangat rusak sehingga dia bisa melakukan apapun yang buruk demi mencapai apa yang dia inginkan. Dia bisa melakukan apa saja demi keegoisannya, demi hatinya terpuaskan. Sisi buruk ini adalah apa yang memakan Noren dari dalam ke luar.


Terkadang, ketika dia tidak bisa mengendalikannya, semua hal disekitarnya berantakkan. Semua hal bagus yang dirinya bangun akan hancur begitu saja seperti bunga yang rusak ketika digenggam dengan sangat kuat.


Begitupula yang terjadi dengan hubungan persahabatannya dengan Sinar.


Bahkan, begitulah yang terjadi dengan hubungannya dengan Nalisa, cinta dalam hidupnya.


Monster hijau jelek yang Noren miliki dalam dirinya ini adalah apa yang membuatnya bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Sekarang dia mengakui bahwa, dia ada disini karena Nalisa. Karena perasaannya pada Nalisa. Karena rasa sakit hatinya pada perempuan itu yang sangat besar sehingga dia sangat marah.


Namun, Noren begitu mencintai Nalisa sehingga dia memutuskan untuk akhirnya menemui Cameron dan meminta konseling.


Dia benci untuk mengakui bahwa dia lemah dengan perasaannya pada perempuan itu. Dia lemah karena Nalisa berakhir membencinya, bahkan tidak ingin melihat wajahnya sama sekali. Noren sakit dengan semua itu. Dia hanya ingin Nalisa mencintainya seperti dia mencintai perempuan itu.


Demi Tuhan, dia sangat ingin menikah dan hidup bahagia dengan Nalisa, Bungsu Cakrawijaya itu.


Tapi karena perempuan itu menolaknya habis-habisan setelah apa yang dia coba lakukan pada perempuan itu selama tiga bulan lamanya, selama kesadaran dirinya dengan kepala dan hati yang bersih dan usaha yang mati-matian dia lakukan agar perempuan itu melihatnya, dia tetap gagal.


Inilah yang membuatnya melihat merah.


Noren sangat marah. Dia kesal dengan segala hal yang keluar dari jalur hidupnya yang sudah dia susun dengan sangat rapi itu.


”Anda terlihat sangat merah, Giovano. Keluarkan saja dan saya akan mendengarkan Anda dengan baik. Saya tidak akan menghakimi apapun tentang cerita Anda” dengan lembut, Cameron berkata. Dia mencoba membujuk Noren untuk berbicara dengannya secara benar.


”Sudah hampir dua bulan lamanya Saya melakukan itu. Monster jelek saya keluar dan mengambil alih segalanya. Saya sadar akan hal itu dan saya tidak ingin menekannya kembali. Karena saya merasa bahwa sifat buruk saya yang satu ini sangat membantu saya untuk melakukan hal yang memang harus saya lakukan”


Noren, bersandar di kursi lembut khusus pasien yang terlihat nyaman oleh mata, namun buruk untuk keselamatan punggungnya. Lelaki itu bernapas dengan gusar sebelum menutup erat kedua matanya. Berusaha untuk tenang.


”Anda harus mengganti kursi ini, Cameron. Ini membunuh saya. Tapi saya tidak akan berkomentar lebih jauh tentang hal yang tidak diperlukan”


Butuh waktu-waktu yang bagus dan tenang untuk mendengar Cameron terkekeh. Ada gerakan yang datang dari bagaimana lelaki dengan jas putih itu bergerak untuk duduk di kursi terdekat dengan posisi Noren saat ini.


”Noted, Sir. Giovano. Sekarang, saya akan mengomentari tentang bagaimana Anda merasa monster Anda sangat membantu Anda dalam dua bulan terakhir”


Noren tidak ingin membuka matanya, jadi dia menggeser tangannya untuk terlipat di depan dadanya, mencari posisi ternyaman meskipun dia sangat gelisah dimana-mana.


”Apa yang monster Anda lakukan pada Anda selama itu?”


Cameron bertanya lagi. Kali ini Noren yakin bahwa ada pulpen dan notebook yang lelaki itu pegang di kedua tangannya.


”Saya bertengkar hebat dengan sahabat saya. Sekarang, dia bahkan tidak menganggap saya ada” Noren menjelaskan dengan napasnya yang tebal.


”Dan bagaimana itu terjadi?” Cameron bertanya lagi. Selalu mendesak pertanyaan hingga Noren berhasil menjawab apapun itu.


”Saya mencintai adiknya”


”Oh?”


”Setelah mencintai adiknya, saya berhasil menentukan tujuan hidup saya. Saya merasa hidup saya sangat sempurna jika saya berakhir memilikinya disisi saya. Demi Tuhan saya sangat mencintai perempuan itu sehingga rasanya sakit sekali disini.” Tanpa sadar, Noren meremas bagian tubuhnya dimana jantungnya berada. Itu berdenyut dengan sengatan yang salah. Salah satu yang Noren sadari apa nama untuk sengatan itu sendiri.


”Itu sangat manis dari Anda. Lalu apa yang membuat monster itu memegang kendali diri Anda, Giovano?”


Ada gesekan pulpen dan kertas. Cameron menuliskan risetnya lagi. Noren mereka tidak nyaman dengan itu, tetapi untuk kali ini, dia membiarkannya. Noren fokus dengan bagaimana jantungnya berdetak dibawah telapak tangannya. Terkadang, itu menenangkannya seperti jimat keberuntungan.


”Perempuan itu menolakku. Dia tidak mencintaiku” Tuturnya dengan nada jengkel yang Noren kenali dengan sangat baik. Banyak waktu dimana dia memilikinya sehingga tidak ada kejutan nada itu berasal dari pita suaranya sendiri.


”Ah. I See..”


Suara Cameron ternyata lebih menjengkelkan dari apapun. Noren merasa ingin memukul wajah lelaki berkacamata itu seperti bagaimana dia menghancurkan samsak tinjunya beberapa waktu lalu sebelum dia menginjakkan kakinya di tempat ini.


”Saya sudah melakukan banyak hal untuk menarik perhatiannya. Tetapi apa yang saya lakukan tidak pernah berhasil untuk membuatnya mencintaiku kembali. Saya tidak bisa untuk membiakannya terlepas dari tangan Saya. Hell, saya tidak akan pernah membiarkannya menjauh dari saya. Saya akan mendapatkannya bagaimanapun juga. Dia adalah cinta pertama saya dan dia juga akan menjadi Cinta terakhir saya dan itu adalah mutlak. Dia milik saya seutuhnya. Tidak ada yang bisa memilikinya selain saya sampai kapanpun”


”There, there. Monster anda menguasai lagi, Sir. Calm down. Breath in and breath out. You hear me?”


Cameron menepuk tangannya lembut, menentukan tempo yang pas agar Noren bisa mengikuti suaranya untuk menstabilkan pernapasannya.


Sayangnya, Noren begitu dikuasai dengan kemarahannya. Dia tidak bisa mendengarkan perintah dari Cameron atau bahkan aba-abanya untuk tenang. Yang bisa Noren dengar saat ini adalah detakan jantungnya yang kembali melaju dengan rasa sakit yang sangat dia hapal di luar kepala.


”Hanya saja perempuan itu sangat menjengkelkan. Dia menolak saya dan memberi saya tatapan seolah-olah saya adalah makhluk paling hina di muka bumi. Tapi saya sangat mencintainya sehingga tidak ada satupun yang dapat menghentikan saya. Bahkan orang yang saya cintai sekalipun. Saya akan mendapatkannya meskipun dia menolak seribu kali. Saya pasti akan mendapatkannya”


Noren membuka matanya. Napasnya menderu dari adrenalin yang ia miliki. Dia tidak peduli akan di cap seperti apa dia oleh Cameron, toh lelaki itu juga sudah mengetahui sisi gelap dan gilanya. Menambah satu ini dalam daftar hitamnya sama sekali bukan sesuatu yang salah sama sekali. Ketika Noren melihat Cameron, lelaki itu tampak sangat tidak puas dengan apapun yang ia katakan.


”Your monster is going crazy, sir. Is this what you like? Do you really want to do that crazy thing? Thats not Love, buddy. Thats a freaking obsession”


Cameron memarahinya, tetapi nadanya masih sangat stabil. Noren tidak tahu bagaimana lelaki itu bisa mengendalikan dirinya, tetapi pada akhirnya Noren juga tidak peduli apapun lagi.


Rencananya akan terus berlanjut. Dia memiliki satu minggu lagi sebelum hari pernikahannya tiba. Oh hell, memikirkan hal itu, ada buncahan kesenangan yang tiba-tiba menyebar di dalam dadanya. Dia tiba-tiba merasa sangat ringan dan bahagia. Senyumnya merekah, kali ini dia bangkit dengan kecepatan yang membuat Cameron sedikit terkejut.


”Why you smiling like that?”


“Why? You find me scary now? Ayolah Cameron, anda sudah melihat banyak keburukan saya. Kenapa anda merasa takut dengan saya sekarang?” Kali ini Noren berdiri. Membersihkan pakaiannya yang terlihat kusut.


”I did not” Cameron menghela napas. Dia merasa bahwa Noren saat ini belum bisa dikendalikan dengan baik. Lelaki itu hanya terlalu fokus pada rasa sakitnya. Kepalanya belum bersih dan Cameron merasa sedikit kasihan pada Noren.


”But, Anda tahu bahwa apapun yang anda lakukan sekarang, Anda akan menyesalinya dikemudian hari dengan sangat buruk, bukan? Giovano, saya sedang berusaha untuk menyelamatkan Anda sekarang. Berhentilah mengikuti sisi buruk anda. Thats not the right thing to do, sir”


“I don’t care less. If I have her, my monster will go. Im good now, Cameron. Anda hanya harus memberikan selamat kepada saya karena sebentar lagi adalah hari pernikahan saya”


Noren yang bersemangat, segera bergerak menuju koper kecilnya di sudut ruangan. Ada kotak beludru biru navy yang merupakan undangan pernikahannya. Dengan segera, lelaki itu memberikannya kepada Cameron sebagai bukti bahwa dia mengundang lelaki itu.


”A Wedding Party?” Suara Cameron kecil, tidak percaya. “Anda melakukannya hingga sejauh ini... Giovano. Aren’t you afraid of the consequences?”


”At first, i do. That’s why I bother to fly here to meet you. It just a little, you know? Saya merasa sedikit resah sehingga saya datang hari ini. Namun, saya rasa, apa yang saya lakukan kali ini adalah langkah yang benar. Saya memang ragu saat pertamakali membuka suara padamu. But now, i don’t care about everything or a lil sting in my heart anymore. I want her, so I will have her”


Dengan suara final. Noren mengangguk. Senyumannya semakin melebar melihat bagaimana wajah Cameron yang jatuh. Lelaki itu tahu bahwa Cameron atau siapapun di dunia ini akan menentangnya. Tetapi ini adalah Langkah yang dia pilih. Dan Noren tidak akan mundur dari itu.


”Bless us, Cameron. I wanna see you at my Wedding party. Please consider to come and attend my grateful moment in my life. See you again buddy. Terimakasih sudah menerima saya hari ini”


Dan begitulah, dengan dada yang membusung dan perasaan buruknya enyah, Noren segera mengambil penerbangan kembali ke Jakarta. Dia harus bersiap untuk acara pernikahannya sesegera mungkin.


..........


Noren sekarang berada di Royal Ritzz Carlton Hotel. Dimana acaranya dan Nalisa akan di langsungkan akhir minggu ini. Matanya yang gelap saat ini tengah memindai pelataran. Menunggu sesuatu untuk muncul dalam jarak edarnya.


Noren sendiri saat ini tengah duduk di sebuah taman kecil di pekarangan hotel. Ia menghembuskan asap rokoknya yang tebal di udara malam yang dingin. Juke di tangannya ia genggam erat, tidak terlepas barang sedetik pun.


”Hmm.. masih lama, ya?”


Noren berbisik pada gelapnya malam. Ada sedikit bintang di angkasa, tetapi yang lainnya tidak mau menampakkan diri dan memilih untuk berlindung di balik awan gelap yang tebal.


Hujan turun beberapa jam yang lalu. Mungkin itu juga yang membuat bintang masih diselimuti kegelapan. Dingin yang menyengat kulit bahkan tidak terasa oleh Noren barang sedikitpun. Beruntungnya, kursi taman tidak terlalu basah ketika dia duduk saat ini. Tempat yang strategis untuknya memantau keadaan tanpa terlihat. Noren merasa, dia menyukai ini lebih dari ruang pengap Cameron beberapa waktu yang lalu.


”Oh?”


Noren menghembuskan asap yang ia hisap dari juke nya lagi. Kali ini lebih tebal dari sebelumnya. Matanya berbinar ketika melihat iring-iringan mobil yang dikenalnya masuk ke dalam pekarangan hotel. Noren berdiri, menunggu orang-orang yang keluar dari mobil itu dengan kesabaran yang tipis.


Samar-samar, dia bisa mendengar raungan marah dari seseorang yang saat ini sedang mengamuk kepada orang tuanya. Kakaknya disampingnya, hanya bisa terdiam dan memegangi sang adik dengan sabar. Noren tertawa kecil. Sinar pasti tidak bisa membantah apapun yang ayahnya titahkan saat ini.


Terkadang, Noren sangat suka dengan bagaimana Sinar bisa menjadi anak yang sangat penurut dibading dengan adiknya sendiri. Sehingga dulu, Noren seringkali mengerjai Sinar yang berhubungan dengan Huston agar sahabatnya itu mau mendengarkan perintahnya.


Namun beberapa waktu yang lalu, Sinar mulai menjadi pemberontak sehingga Noren agak tidak senang dengan itu. Tapi sekarang, Sinar bahkan tidak bisa membantu adiknya sama sekali. Tatapan Sinar bahkan jatuh pada kehampaan belaka. Noren sedikit terhibur, tetapi dia menyangkal bagaimana jantungnya berdenyut merasakan sedikit rasa iba.


Itu tidak benar. Demi rencananya berjalan dengan mulus, Noren harus melakukan ini.


Dan melihat bagaimana Lisa yang hancur dengan wajah sembabnya, Noren bersumpah bahwa dia akan menjadi sosok yang akan menghangatkan perempuan itu. Dia akan meminta maaf dan bertanggungjawab akan semua luka yang ia torehkan pada Lisa.


Tapi nanti, setelah perempuan itu menjadi miliknya sampai hidupnya berakhir.


”Lisa mau pulang!” Perempuan itu berteriak lagi, tetapi dihentikan dengan suara Huston yang keras dan tegas. Timbre dalam dari perintah pria paruh baya itu mampu membuat Lisa terdiam seketika.


”Jangan membuat keributan, Nalisa!”


”Tapi, Pa-,”


Kita sudah disini, sayang. Ayo sekarang masuk, oke? Mama tau Lisa pasti sudah capek, kan? Ayo kita istirahat, ya cantiknya Mama?”


Noren memperhatikan bagaimana Sherely membimbing anak perempuannya dengan lembut. Wajah keibuan yang terlihat sangat mampu memomong anaknya itu membuat Noren sedikit tersenyum. Nalisa sama cantiknya dengan sang Ibu dan Noren berharap, suatu saat nanti jika Nalisa dan Noren memiliki buah hati yang mungil dan cantik, Nalisa akan terlihat seperti seorang ibu yang baik dan penuh kasih.


”Ma, Lisa mau pulang.. tolong..”


”Lisa-,”


”Tante, Lisanya biar Hala sama Jihan aja, ya, yang antar ke kamar? Janji deh nggak macam-macam. Boleh?”


Noren mengamati bagaimana teman-teman Nalisa mencoba untuk menenangkan pujaan hatinya. Tentu saja mereka disini. Noren sudah melakukan semua hal agar rombongan kecil pujaan hatinya bisa menemari Lisa sampai akad mereka berlangsung. Teman-temannya mempunyai peran penting untuk itu dan Noren akan mempercayai mereka semua.


”Iya tante, nanti Al, Heksa sama Fajri juga yang jagain. Tante sama Om boleh istirahat duluan aja engga apa-apa. Kalau tante sama Om takut, Bang Sinar bakalan sama kita juga, kok. Nggak apa-apa, kan?”


Noren menghela napas ketika melihat salah satu sahabat kecilnya Nalisa mencoba untuk bernegosiasi dengan Sherely dan Huston. Dia tau itu adalah Alpino. Salah satu orang yang harus dirinya waspadai. Noren ingat bagaimana harinya ketika Alpino masuk kedalam kencan kecilnya dengan Nalisa. Itu agak menjengkelkan karena perhatian Nalisa selalu saja jatuh kepada lelaki itu.


Tapi, yah. Sekarang tidak ada yang bisa menghentikan Noren dan acara pernikahan ini sehingga dia tidak perlu repot peduli pada orang lain. Sebentar lagi adalah harinya dengan perempuan yang dia cintai dan sudah cukup itu saja untuk ia pikirkan.


Akhirnya, setelah Lisa berhasil untuk masuk ke dalam hotel dan digiring oleh teman-temannya menuju kamar milik perempuan itu sendiri, Noren kembali duduk menikmati heningnya malam dan kegelapan yang entah kenapa sangat menenangkan.


Asap mengebul lagi dari isapan juke-nya.


”Gue sudah ngambil langkah yang benar. Nalisa.. lo harus sadar seberapa banyak yang gue lakuin buat lo. Gue segila ini semua gara-gara lo. Jadi, kalau ada yang boleh disalahkan. Itu adalah diri lo sendiri”


"Maaf gue ngelakuin ini semua karena hati gue udah punya lo seutuhnya. maafin gue kalau gue nggak mau orang lain ngerebut lo dari gue"


”Tidur nyenyak, Mi Amor"


...🍁...


...Hati Yang Dingin; Noren dan Perasaanya...


.........


...🍁🍁🍁...