Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Perayaan Tahun Baru dan Harapan Kecil



“Kak, lo nggak kerja?”


Lisa bertanya dengan hati-hati keesokan harinya ketika dia mendapati Sinar sedang berada di dapur dengan secangkir kopi panas yang mengepul. Mata sang Kakak jatuh pada tab yang terbuka ditangannya. Terlihat begitu serius. Lisa sendiri seharusnya bekerja sekarang tapi, nyatanya sang Papa pagi-pagi sekali sudah menelponnya untuk mengatakan bahwa dia diistirahatkan di rumah sampai dengan pernikahannya selesai terlaksana.


Bukannya Lisa tidak menolak keras ketika Papanya menelpon dengan memerintah. Namun nyatanya, Papanya sama sekali tidak akan mendengarkan protesnya dan tetap mengancam akan membawa Lisa pulang ke Jepang agar Lisa bisa patuh dengan perintah sang Papa. Pria paruh baya itupun juga mengancam bahwa beliau akan memberhentikan Lisa dari pekerjaannya dengan mudah jika Lisa sama sekali tidak menurut.


Jadi, bisa apa dia jika tidak mendengarkan perintah sang Papa yang sudah mutlak? Sialnya, jatah cuti tahunannya yang dengan rela tidak dia pakai untuk liburannya hangus dengan tidak mengenakkan seperti ini. Tentu saja, sang Papa pasti memakai jatah cuti dari kantornya yang bisa dihitung selama kurang lebih lima minggu, atau kurang? Lisa bahkan tidak ingin menghitung lagi.


Adapun itu, Lisa yakin bahwa Papanya bisa saja meminta kepada Pak Leo untuk memberhentikan Lisa selama periode yang Papanya inginkan. Kekuasaan bermain di dalamnya, jadi siapa Lisa repot-repot berpikir panjang tentang masa cuti kerjanya yang akan terpakai lebih banyak daripada yang seharusnya?


Bukannya dia kapitalis atau membanggakan Papanya dengan hal-hal menggelikan seperti ini. Namun, dia disadarkan dengan nama belakang yang dia sandang. Cakrawijaya seharusnya tidak berat untuknya. Nyatanya, akses itu membuat Lisa agak terbebani.


“Ini gue lagi kerja, kok.”


Sinar melambai dari tempatnya. Menunjuk cangkir teh melati lain di seberang meja dan juga semangkuk bubur yang mengepul. Lisa baru sadar bahwa aromanya menggoda. Itu adalah bubur buatan sang Kakak yang dulu sewaktu kecil sangat dia sukai. Entah bagaimana, Sinar membuatnya dengan begitu baik hingga Lisa melemparkan tubuhnya dengan cepat untuk duduk di kursi makan miliknya.


“Kerja? Kenapa nggak ke kantor, Kak? Lo WFH? Tumben banget?” Bertanya dengan menggebu, Lisa memutuskan untuk meniup minuman panasnya terlebih dahulu. Takut-takut membakar lidahnya dengan buruk.


Sinar tersenyum, agak kikuk. Lelaki itu diam sejenak sebelum meletakkan cangkir kopi panasnya ke atas meja. Yakin bahwa tanpa ia sebutkan satu katapun, Lisa pasti sudah paham apa maksudnya.


“Ah..” Lisa mengangguk. Tiba-tiba selera makannya tak lagi sama. “Pasti Papa, ya..” Bibirnya mengerucut, hanya bisa pasrah dengan bagaimana keadaan bermain dengannya pada saat ini.


“Iya. Takut anak gadisnya kabur kata Papa” Sinar menambahkan dengan suara lembut. “Maaf, ya, Dek. Perintah Papa yang ini nggak bisa gue tolak..” Lanjutnya lagi dengan permintaan maaf yang tulus.


Lisa mengangguk. Mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa menang melawan Papanya ketika meminta untuk pergi bekerja. Jadi, apa yang bisa dia lakukan lagi? Papanya sekarang terasa sangat superior sekali. Sedangkan sang Mama tidak berbicara satu katapun dengan Lisa sejak kejadian semalam.


“Ya mau gimana lagi, Kak. Gue aja nggak bisa pertahanin argumen gue sama Papa buat biarin gue kerja.. nggak tau deh Papa nyogok Pak Leo segimananya. Gue udah nggak mau peduli lagi” Serunya dengan acuh tak acuh.


Meski ada cubitan di hatinya dan dia ingin menangis, tapi Lisa tidak bisa membiarkannya jatuh lagi. Dia harus kuat dan jernih untuk menghadapi permasalahannya. Untuk saat ini, setiap hal yang mengusik kepalanya disingkirkan dalam kegiatannya, mungkin dia bisa berpikir dengan lebih baik. (bohong. Lisa tahu itu).


Sinar tidak berkomentar apa-apa lagi. Sepertinya pekerjaannya mencuri semua atensi laki-laki itu. Pun, Lisa tetap memilih untuk mengunyah buburnya dengan lambat. Dia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Mungkin pergi ke gym untuk membuatnya tidak berpikir hal-hal buruk terdengar bagus juga. Atau dia akan menggelar karpet di ruangan santai untuk mulai melakukan yoga kembali.


Sebenarnya itu bukan sebuah hobi. Lisa melakukannya karena Jihan pada waktu itu menghadiahkan peralatan yoga di hari ulangtahunnya dan dengan bersemangat mengajari Lisa untuk melakukan peregangan tubuh. Senyum lebar Jihan saat itu melintas di wajah Lisa. Jadi, siapa Lisa yang akan membiarkan peralatan itu berdebu di dalam gudang penyimpanannya? (Bohong juga. Lisa hanya memakainya tiga kali dalam setahun. Dia mungkin mogok di beberapa kesempatan. Tapi Jihan tidak mengetahui hal itu, jadi dia sangat aman).


Mengunyah bubur yang lezat meskipun kadar laparnya berkurang drastis tidak terlalu buruk juga. Nyatanya, itu sudah setengah jalan ketika Sinar tiba-tiba meletakkan gadget-nya dengan perlahan. Itu mencuri perhatian Lisa ketika Kakaknya terlihat agak terlalu rumit untuk dia tafsirkan.


“Lo kenapa, Kak?”


“Eh..” Sinar berdehem sejenak. Ada senyum kecil di wajahnya, agak sedih namun seperti dia ingin untuk mengungkapkannya.


“Mungkin emang bukan waktu yang tepat buat ngobrolin ini karena lo pasti lagi sedih dan dalam suasana yang nggak terlalu baik juga. Tapi, kira-kira, gimana kalau kita adain acara kecil-kecilan buat malam tahun baru besok lusa?” Sinar berhati-hati dengan ucapannya seolah takut menyinggung adiknya secara tidak sengaja.


Ah. Lisa tersadar.


Ternyata lusa adalah malam tahun baru. Tahun baru berarti dia akan memasuki Bulan Januari. Dan .. pesta pernikahannya akan digelar di akhir bulan itu. Dia akan menikah tidak kurang dari tiga puluh hari lagi.


“Kalau emang lo nggak pengen, nggak apa-apa, dek. Gue nggak maksa. Maksud gue, daripada lo sedih terus, kenapa nggak coba buat bikin lo senang sebentar aja. Mungkin.. kalau vibesnya positif, mana tau ada jalan bagus buat lo kedepannya…” Sinar berbicara lagi. Kali ini agak kelabakan karena fokus lelaki itu ada pada Lisa sepenuhnya. Wajahnya berkerut. Tidak ingin menyakiti adiknya lebih dalam.


“Tahun baru, semangat baru.. yah seenggaknya lo nggak uring-uringan terus tiap hari, dek” Sinar mencoba untuk ceria. Tiba-tiba saja, mulut Lisa menjadi pahit.


Dia tau bahwa Kakaknya mencoba untuk sedikit menghibur dirinya. Tapi pada kenyataannya, untuk bersenang-senang saja dia sudah merasa lelah dan tidak berguna. Belum lagi memikirkan hari pernikahan yang akan dengan segera datang padanya. Dia membenci bagaimana pikirannya berputar hanya untuk mendapatkan jalan buntu.


“Kalau gue.. nggak mau.. gimana, Kak?” Lisa menjawab dengan lemah. Mengaduk buburnya yang tinggal sedikit. Agak terkejut karena dia yakin dia hanya makan beberapa suap dan bubur yang disediakan Sinar sebelumnya hampir satu mangkuk penuh.


“Ya nggak apa-apa” Sinar terdengar mengayomi. Dia bahkan memberikan senyuman pada Lisa.


Entah kenapa, Lisa menjadi agak kewalahan. Mungkin karena dia memiliki orang lain yang berada di dekatnya yang dimana paham dengan pilihan dari Lisa sendiri serta tidak mendorongnya terlalu jauh seperti satu orang tertentu.


Ah, ralat. Satu monster hijau jelek tertentu yang tidak ingin dia sebutkan namanya sama sekali.


“Makasih, Kak..”


“Jangan..” Sinar menimpali dengan cepat. “Lo nggak harus berterimakasih karena gue ngertiin pilihan lo. Itu bare minimum”


Terkadang, Lisa bisa melihat bagaimana Sinar sungguh pantas bermain dalam peran sebagai seorang Kakak. Itu cukup baik sebenarnya di beberapa kesempatan.


“Hmm..”


Sinar terlihat gelisah. Lisa mendapati dirinya memperhatikan ketika dia meminum dengan perlahan teh yang terasa sangat nikmat di tenggorokkannya. Kakaknya seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak yakin bagaimana dia harus mengungkapkannya. Merasa agak tidak senang dengan situasi, Lisa menegur dengan cepat.


“Shoot, Kak. Lo kalau mau ngomong sama gue, bilang aja. Gue nggak bakalan rusak cuma gara-gara beberapa kata yang mau lo bilang. Asalkan lo nggak nyebut nama orang brengsek itu atau ngasih kabar yang lebih buruk dari keadaan sekarang, gue nggak masalah”


Lisa geli melihat bagaimana Kakaknya terlihat sangat kikuk. Agak aneh mengingat bagaimana penampilannya yang tegas dan bijaksana sebelumnya. Tapi Lisa menikmati gerak-gerik Sinar lebih daripada yang bisa dia sebutkan.


“Gini.. mungkin agak nggak cocok waktunya. Gue juga sebenarnya nggak mungkin bakalan ngomongin ini di waktu keadaan lo lagi kayak gini, dek. Tapi.. kayaknya lo emang beneran harus tau..”


“Apa? Cepetan kasih tau gue!” Lisa membentak. Merasa gregetan dengan tingkah kakaknya yang seperti anak ayam.


Kemudian, ada senyum yang bersinar manis di wajah Kakaknya dan Lisa setidaknya sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


“Jadi.. gue mungkin.. atau nggak mungkin.. hm.. yah, gue.. lagi ngejalin komitmen sama Hala?”


Lisa berkedip. Sekali, dua kali.


Dia masih memproses sebelum akhirnya tersadar dengan apa yang disampaikan Sinar.


“LO JADIAN DENGAN HALA?!”


Ada satu gebrakan tidak terduga saat Lisa melompat. Yang bisa dia jejalkan kedalam otaknya adalah bagaimana wajah Sinar terlihat seperti orang sembelit bercampur dengan sedikit kebanggaan seperti orang gila. Tapi yang pasti, kabar ini bukanlah kabar yang Lisa harapkan dengar secepat ini terjadi.


...…....


“Bukan jadian, tapi komitmen. Seenggaknya dia tau perasaan gue dan dia nerima buat jaga perasaan gue. Jadi.. sejenis HTS?Hubungan tanpa status.. Pokoknya belum ada label, tapi kita saling menjaga perasaan satu sama lain.. yah, lo pasti tau maksudnya ‘kan, dek?”


Jadi hal itulah yang membuat Lisa saat ini setuju untuk berada di acara kecil-kecilan perayaan tahun baru. Sinar mengatakan bahwa mereka hanya akan memesan makanan dan minuman serta bermain kembang api kecil di halaman belakang rumah karena Sinar ingin mentraktir mereka makanan berat dan mahal untuk perayaan bahwa dia berhasil berkomitmen dengan Hala.


Lisa beberapa saat yang lalu berhasil untuk menampilkan tampang bahagianya dihadapan teman-teman terbaiknya. Tidak ingin mereka melihatnya dalam suasana hati yang buruk. Lisa juga sudah merecoki Hala sesaat sahabatnya itu muncul sebelum perempuan itu diseret oleh Sinar untuk mengobrol entah apa hingga pada akhirnya diintruksi oleh kehebohan Jihan dan Fajri, bahkan Alphino yang terkejut karena berita baru ini.


Kemudian ada Heksa yang terlihat sedikit aneh. Mungkin Lisa agak terlalu banyak membaca, namun lelaki itu agak lebih pendiam daripada biasanya. Entah bagaimana Lisa tiba-tiba bisa melihat kegelisahan yang muncul dalam perilaku tidak biasa Heksa. Mungkin karena dia juga merasakan vibes buruk karena kepalanya masih memikirkan tentang hari pernikahannya yang sedang menghitung mundur, jadi dia bisa melihat wajah-wajah suram yang setara dengan dirinya.


Dia baru saja ingin melangkah untuk mengobrol kecil dengan Heksa yang pendiam tetapi, satu tangan menariknya dengan lembut dan Lisa goyah. Benar-benar goyah hingga dirinya terkejut bahwa dia mudah jatuh dengan hanya satu tarikan kecil. Untungnya, orang yang menariknya bisa menangkapnya sebelum dia terpeleset dan punggungnya mencium tanah.


“Gue kaget, Al” Lisa menetralkan napasnya yang memburu. Meskipun dia mengalami masalah besar saat ini, dia bersumpah bahwa dia masih ingin hidup dan bernapas dengan baik.


“Lo kenapa muncul tiba-tiba gitu, sih? Kalau gue mati gara-gara percobaan pembunuhan lo gimana?!” Lisa membentak, agak terlalu kasar yang membuat Alpino terdiam.


Lisa tidak sadar. Dia hanya mengatakan itu untuk bahan bercandaan, tetapi ucapan itu mungkin menampar Alpino dengan seruan kasar dilihat dari bagaimana reaksi yang diberikan sahabat kesayangannya itu.


“M-maksud gue..” Lisa tergagap, lebih takut untuk menyakiti hati Alpino karena ucapan kerasnya.


“Maaf. Gue beneran minta maaf, Lis. Lain kali gue nggak bakalan ceroboh lagi. Gue tau lo lagi melamun sejak tadi.. seharusnya gue sadar kalau lo bisa celaka kalau gue tiba-tiba nyentuh lo gitu aja..”


Suara Alpino terdengar lembut. Tiba-tiba saja, Lisa ingin bersandar dan mendengarkan suara lelaki itu sampai dia tertidur.


“Nggak apa-apa, Al. gue yang salah terlalu sensitif. Nggak usah dipikirin, gue beneran lagi nggak awas aja tadi” Lisa menghela napas, menepuk bahu Alpino untuk mengatakan bahwa mereka saat ini baik-baik saja. Dia baik-baik saja.


“Um, kalau gitu, mau ngobrol sebentar disana? Mungkin kalau lo lagi nggak fokus kayak sekarang, mau ngobrol berdua aja?” Alpino menawarkan. Dan siapa Lisa untuk tidak setuju tawaran menggiurkan itu?


Jadi, Alpino menuntunya untuk duduk di salah satu bangku taman yang dia dapatkan dari furnitur keluaran terbaik perusahaan miliknya. Sudah ditaksirnya sejak proses pembuatan dilaksanakan dan Lisa berhasil mendapatkannya dengan harga yang cukup bagus dari diskon pegawai yang dimilikinya sebelum perabot ini habis terjual.


Tempat mereka duduk memang tidak terlalu jauh dari anak-anak yang berisik, tawa dari Kakaknya dan juga teman-temannya yang lain sama sekali tidak terdengar terlalu redup namun mereka penuh cahaya dan kegembiraan. Melihat hal itu, mau tidak mau Lisa merasakan tarikan di sudut bibirnya. Matanya menatap sayang pada tampilan kebahagiaan dari orang-orang yang sangat dia sayangi itu.


“Jadi, mau cerita ke gue apa yang terjadi sama mood lo sekarang? Asli, Lis, lo nggak cocok kalau udah pakai tampilan mendramatisir di wajah lo. Jelek tau”


Lisa tahu Alpino hanya sedang menggodanya untuk mencairkan suasana dan Lisa begitu menghargai kehati-hatian yang masih terpancar pada tutur kata sahabatnya. Lisa mendongak untuk menangkap wajah Alpino yang jelas-jelas berada dalam satu garis lurus dengan matanya.


Jujur, Lisa tidak bisa lebih bersyukur memiliki orang-orang yang sungguh peduli padanya. Mungkin, di kehidupan sebelumnya Lisa sudah menyelamatnya nyawa ratusan orang. Siapa yang tahu.


“Ya emang gue dasarnya jelek, Al. mau digimanain juga jelek. Lo jangan suka menghina gue, ya!” Lisa mencoba membawa suasana baik kembali. Tidak ingin Alpino lebih merasa khawatir dengan dirinya. Mencubit sisi paha Alpino, lelaki itu mengaduh dengan rintihan suara jelek yang membuat Lisa tidak bisa berhenti untuk tertawa kecil.


“Dih mulut lo jelek bener” Alpino mengomel. Lelaki itu kini memilih untuk memposisikan bahunya menempel dengan bahu Lisa, menawarkan kedekatan mereka untuk kenyamanan Lisa lebih jauh lagi.


Lisa paham, Alpino tahu bagaimana dirinya sekarang sedang jatuh dalam spiral frustasi yang gila. Bahkan dengan kenyataan mereka sedang merayakan malam tahun baru dan juga perayaan Kakaknya yang pada akhirnya berkomitmen dengan sahabatnya sendiri.


Seharusnya itu baik, tapi lagi-lagi Lisa menjadi agak biru, sedih karena kepalanya tidak bisa berhenti berpikir hal yang jelek. Padahal, dia sudah berusaha untuk pasrah dan lebih memilih vibes positif yang ditawarkan. Tapi pada kenyataannya, sulit untuk dia lakukan.


“Sahabat gue ini cantik banget. Jadi lo, setan apapun yang lagi bersemayam di dalam tubuhnya Lisa, mending keluar, gih, kalau nggak bisa ngehargai kecantikan sahabat gue ini” Lisa mengaduh ketika Alpino mencubiti pipinya, berusaha bermain-main dengan keadaan.


Tertawa lebih lanjut, entah kemana perginya kecemasan Lisa beberapa saat lalu. Alpino sungguh membawakannya sebuah kenyamanan yang dia cari. Berbeda daripada bagaimana dia berada bersama kakaknya, dengan Alpino rasanya dia bisa membagi bebannya secara merata tanpa lelaki itu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi secara keseluruhan.


“Apaan ‘sih, lo, Al! sakit, tau!” Lisa merintih, mencoba melepaskan jawilan Alpino yang sedang bermain-main.


“Nah gitu, dong, senyum! Masa anak cantik ngelewatin tahun barunya pake negatif energi gitu, sih? Kan nggak bagus! Tahun baru, semangat baru, energi baru, dong! Masa gitu aja nggak bisa. Cemen, lo!”


Lisa memutar matanya. Alpino terlihat sangat bahagia menggodanya. Benar, pesona lelaki itu yang sekarang lengket seperti dulu sebelum Noren masuk ke dalam kehidupan mereka muncul lagi. Lisa agak rindu dengan ini.


“Lo ‘tuh sebenarnya mau dengerin curhatan gue atau mau ngegodain gue mulu, sih, Al? tadi ngajakin gue kesini karena lo sadar gue lagi nggak baik-baik aja. Sekarang malah lo candain guenya.. dih” Lisa mengomel dengan tidak terlalu tajam. Alpino terkekeh dengan riang disampingnya.


Ada tarikan napas lembut dari Alpino sebelum Lisa sadar bahwa bahunya kini sudah diselimuti dengan lengan panjang Alpino yang bertengger padanya. Lisa diam-diam membiarkan dirinya jatuh kedalam rengkuhan sabahatnya yang hangat.


“Ya.. supaya lo nggak kepikiran banget, Lis. Supaya lo nggak terlalu mikirin hal buruk dan kemungkinan-kemungkinan yang nggak bakal ada habisnya kalau lo pikirin terus di dalam kepala kecil lo itu” Alpino menjentikkan kepalanya dengan kepala Lisa secara perlahan. Tidak ada rasa sakit, tapi itu mampu membuat senyuman Lisa semakin lebar.


“Jadi, lo mau cerita ke gue kenapa di malam yang berbahagia ini lo malah kelihatan sedih dan kayaknya bakalan berkamuflase jadi orang gila cepat atau lambat?”


“Dih, omongan lo dijaga, ya!” Lisa memutar matanya ketika melihat kedua alis Alpino naik turun, benar-benar berusaha untuk membuatnya rileks dari segala macam ketegangan yang berada di tubuhnya.


“Ya, ya, ya.. Jadi?”


Alpino berbalik untuk melihatnya dengan tulus. Menunggu Lisa untuk mulai bersuara ketika dia memasang telinga diam-diam. Dia menghargai ini. Jadi, Lisa menghela napas dalam sebelum membiarkan kepalanya jatuh di bahu Alpino dengan pandangannya mengarah pada anak-anak yang sedang berisik beberapa kaki di depan mereka.


“Gue beneran ngerasa bakalan gila tahun depan, Al. nggak tau, rasanya gue udah pasrah aja dengan jalan hidup gue. Tapi disatu sisi.. gue nggak mau nyerah..” Dia memulai. Kepalanya tiba-tiba saja diisi tentang bagaimana hidupnya akan terjadi beberapa waktu yang akan datang.


“Tapi.. kalaupun gue nggak mau nyerah juga, gue nggak tau harus gimana. Gue nggak punya banyak kuasa. Rasanya untuk ngelawan pun gue nggak ada kesempatan..”


“Bahkan dari awal aja, gue udah dipastikan buat kalah” dia menghela napas, kali ini menempelkan hidungnya di keliman baju Alpino dengan aroma manis yang dia hapal.


“Gue berjuang sendirian.. rasanya kayak nggak adil..”


Dia berbisik, memilih untuk menutup matanya erat-erat. Membiarkan bunyi petasan dan kembang api mulai berteriak di angkasa yang kosong. Beberapa menit lagi mungkin jam 12 malam. Beberapa detik lagi mungkin pergantian tahun. Dan jam Lisa mulai bergerak menghitung mundur sampai neraka menelannya utuh.


“Hei, siapa bilang?” Alpino berbisik padanya. Lisa mengangkat kepalanya untuk bersitatap dengan mata Alpino yang bulat dan cantik.


“Lo punya gue, Lis. Gue bakalan berjuang bareng lo” Alpino berbisik, tetapi Lisa memegangnya seperti janji.


“Apapun yang terjadi, lo nggak sendirian. Lo selalu bisa datang ke gue kapanpun lo mau. Lo bisa manfaatin gue sampai masalah lo beres. Gue bisa jamin, gue bakalan selalu ada buat lo bahkan ketika lo berbuat salah sekalipun. Gue rela buat jadi orang yang bantuin lo ngubur mayat yang udah lo bunuh kalau-kalau ini sampai kejadian”


Seringai Alpino terlihat berantakkan di wajahnya, tetapi Lisa mendapatinya begitu menawan. Dengan janji yang lelaki itu serahkan padanya, Lisa merasa bahwa dia memiliki segudang kekuatan di tangannya.


“Jadi, apa harapan lo buat tahun baru ini?”


Alpino mengarahkan wajahnya pada langit malam yang dihiasi berbagai warna dari bahan kimia cantik yang diledakkan di angkasa. Itu membelah kesunyian malam sehingga hanya terdengar suara ledakan di sana-sini yang menggemparkan namun disambut.


Lisa diam sejenak, sebelum mulai berbisik dalam satu bisikan kecil seperti doa.


“Gue harap, gue bisa bahagia dan punya kebebasan memilih jatuh cinta dengan orang yang tepat dalam hidup gue…


Dan gue harap… Alpino lebih bahagia daripada gue apapun yang terjadi”


Ada satu ledakan besar dari kembang api tercantik yang pernah dia lihat. Jam menunjukkan pukul 00.01 dini hari.


Januari baru, sedang menyambut Lisa dengan ejekan yang tertahan.


...🍁...


...Perayaan Tahun Baru dan Harapan Kecil...


.........


...🍁🍁🍁...