Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Plain Milo V.S Daging Panggang Bumbu Part.1



“Bang Noren, ini gue ambil dagingnya lagi, ya. Butuh saosnya juga nggak biar sekalian?”


“Iya, Jri, tambah lagi aja. Bawa yang agak banyak, ya! Sama sekalian itu tambahin saos Barbeque sama chili-nya. Disini sudah habis soalnya”


“Bang Noren, Ayamnya gimana? Panggangin ayamnya dong, ini gue udah siap sedia sama seledri gue, tinggal masuk ke dalam mulut aja, nih!”


“Sabar, Sa. Ini anak-anak lagi pada mau daging kenapa lo malah minta ayam? Jobdesk gue cuma perdagingan sapi disini, kalau mau ayam sama Sinar, tuh, mintanya”


“Oh iya, lupa gue. Bang Sinar, ayam gue mana? Ini temennya udah siap buat gue kunyah, nih. Dia minta ditemenin sama si ayam”


“Panggang sendiri bisa, nggak, sih, lo, Sa? Gue aja belum makan ayam gue dari tadi”


“Dih, pelit bener. Kayak yang enak aja lo manggang ayam, Bang”


“Ah elah, bacot lo, Sa. Sini bantuin gue kecilin apinya, nanti bisa gosong ini ayamnya. Alpino, lo udah bawain gue margarin yang gue minta tolong tadi, nggak?”


“Udah, bang, disebelah kanan lo. Ini gue mau ambil es, ada yang mau titip nggak?”


“Gue titip Jasmine tea-nya aja deh, Al. Tapi es nya nggak usah banyak-banyak, setengah aja, ya”


“Noted, Bang Noren. Ini ada lagi, nggak? Woi, jawab gue dulu! kenapa pada ngunyah semua, sih, anjir”


Lisa tertawa melihat Alpino yang kelimpungan sendiri menawarkan bantuan di antara riuh dan ricuhnya suasana yang terjadi tidak lebih dari setengah jam yang lalu. Para anak lelaki sibuk mondar-mandir untuk mengambil makanan mentah yang siap untuk di panggang di atas kompor dengan nyala api sedang-, hampir besar untuk memanggang dedagingan yang mereka kumpulkan sejak awal acara makan mereka.


Untuk hal-hal yang membuat Lisa terkejut adalah, betapa akrab dan nyamannya suasana yang terjalin begitu cepat hanya seolah dari kedipan mata saja. Dimana rasanya, mereka bahkan tidak terlihat canggung sama sekali saat ini. Berbaur dengan gerutuan dan sahutan masing-masing serta tawa yang sesekali terlepas tanpa sengaja ketika menyaksikan dan mengalami hal-hal yang lucu dengan tiba-tiba.


Lisa tidak akan menepis fakta bahwa sebelumnya sangat canggung ketika Noren hadir sebelum Lisa bahkan sempat mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia mengundang Noren dalam acara makan bersama mereka ini. Untuk sepuluh menit yang menegangkan dan membuat Lisa berkeringat dingin, hanya ada sebuah lemparan kata aneh dan tidak terbiasa yang melingkupi atmosfer di antara mereka semua.


Itu adalah waktu canggung yang lebih lama dari Lisa perkirakan. Apalagi ketika Noren mengambil duduk disebelahnya, tepat diantara dia dan Alpino dengan senyumannya yang bisa dibilang, dan tentu saja mengejutkan Lisa menjadi senyuman menyiratkan sapaan paling ramah yang bisa dibuat oleh lelaki itu dengan tampilan yang lebih tulus dan ceria. Jika Lisa bisa menjabarkannya dengan baik, Noren terlihat lebih bersemangat dan bahagia daripada apa yang telah dia pelajari dari waktu-waktu sebelumnya mereka bersama.


Dan lagi, hal yang membuatnya membuka kedua matanya lebar -lebar sebagai penilaian tak kasat mata secara tidak begitu sempurna adalah sikap yang di bawa Noren hari ini sangat bertentangan dengan yang biasa lelaki itu tunjukkan. Noren terlihat lebih kooperatif daripada biasanya seolah-olah dia menurunkan ego dan kesombongannya ke taraf yang lebih rendah. Mungkin, kegilaannya juga dia turunkan tingkatannya dari tangga tertinggi dirinya.


Dia terlihat lebih membumi dan begitu membaur dengan kelompoknya malam ini, seolah dia tahu bahwa dia pasti bisa diterima dengan baik disana dengan niatan memang benar ingin mengenal dekat dan akrab dengan anak-anak kelompok kecil kesayangan Lisa.


Pikiran Lisa tentu saja melayang memikirkan bahwa Noren memiliki rencana lain untuk memerasnya lewat teman-temannya, atau apapun itu. Yang pasti, dia harus lebih waspada daripada sebelum-sebelumnya dan dia pastikan dia melakukan itu. Tentu saja setelah malam ini berakhir. Dia akan membiarkan dirinya dan Noren untuk bersenang-senang barang sejenak. Lagi pula, lelaki itu adalah tamunya yang dirinya sendiri undang. Lisa akan memberikan kelonggaran apapun untuk lelaki itu khususnya pada malam hari ini.


Dengan hal-hal yang Noren telah lakukan pada malam hari ini, itupula yang membuat teman-temannya, khususnya pada anak laki-laki telah menerimanya dengan tangan lebar begitu cepat untuk merangkul Noren masuk dalam percakapan dan kegiatan yang mereka lakukan untuk acara itu. Fajri, yang merasa lebih nyaman daripada waktu pertamakali mengenal Noren, anehnya tidak terganggu ketika dia hanya menjelaskan kepada lelaki itu tentang mengapa mereka mengadakan pertemuan ini dan apa yang menjadikan Fajri sebagai tokoh utama untuk acara perkumpulan ini.


Seingat Lisa, pembicaraan itu meluas ketika mereka membicarakan hal-hal tentang olahraga dan pencapaian hingga pembicaraan tentang apapun yang bisa mereka ungkit sebelum pada akhirnya mereka memutuskan untuk memulai acara makan-makan mereka dengan menyeret Sinar dan Noren sebagai chef khusus untuk memastikan skill masak siapa yang paling hebat dari kedua lelaki itu.


Para lelaki dengan sifat kompetitif mereka yang mendasar, akhirnya dengan senang hati menyentujui tantangan dan hal itulah yang membawa mereka hingga ke babak ini. Noren dengan panggangan perdagingan sapi yang dia khususkan untuk dia tangani, dengan Sinar yang mengambil daging ayam untuk dia olah dan pannggang sendiri. Meninggalkan anak lelaki lainnya untuk mengambilkan bahan-bahan yang diperlukan dan juga mempersiapkan mulut dan perut mereka untuk terisi. Sedangkan para perempuan, hanya duduk dan memilih menyiapkan rebusan tomyum mereka dengan berbagai bakso dan dumplings juga jejamuran yang menggugah selera.


Syukurlah, Lisa diam-diam mengelus dadanya sendiri untuk kelegaan yang dia lepaskan. Karena tentu saja, dia mungkin akan menjadi lebih gila lagi jika kecanggungan lebih menguasai seperti pertamakali Noren datang dan memperkenalkan dirinya berbulan-bulan yang lalu. Tentu saja itu kacau, tapi sepertinya sekarang lelaki itu sudah mempelajari pelajarannya dan Lisa berterimakasih karena itu membantunya dengan sangat baik tanpa lelaki itu sendiri sadari.


“Nalisa,”


Mengatakan dia terkejut, adalah hal yang sangat remeh. Lisa, dengan tubuh yang hampir melompat dari tempatnya duduk dan gelas yang hampir jatuh dari tangannya dikejutkan oleh suara Alpino yang tiba-tiba. Lelaki itu, dengan reflesk yang ceat segera menangkap tangan Lisa yang memegang gelas dan tangan lainnya menahan bahu Lisa dari guncangan apapun yang dia sebabkan. Wajahnya menunjukkan kekhawatian yang nyata, Lisa menahan napas dari apapun yang terjadi dengan secepat kilat dalam prosesnya.


“Oi, Oi, tenang. Aduh, kenapa kaget banget gitu sih? Padahal gue manggil doang. Fokus, Lisa” Suara Alpino yang gelisah adalah apa yang Lisa dengan pertama kali. Dia, dengan tatapan yang bodoh menatap pada sahabatnya dengan dua atau tiga kerjapan mata sebelum dia berhasil memproses lebih banyak tentang keadaannya sekang.


“Lo nggak apa-apa, kan? Kenapa kaget banget, dah? Gue padahal manggil nggak pake teriak, juga. Lo mikirin apa, sih?”


“Ini gue nggak sih yang harusnya ngomel karena lo ngagetin gue? Serasa mau pisah ini raga sama jiwa gue, tau!”


Lisa dapat melihat bagaimana Alpino memutar bola matanya malas. Cengkeraman tangannya yang bersarang di bahu Lisa dengan lembut dia lepaskan bersamaan dengan gelas yang berada di tangan perempuan itu telah berpindah tempat ke tangannya sendiri.


“Gue nggak ada niat ngagetin, lo. Siapa yang nyuruh lo bengong begitu disini? Kesambet baru tau rasa, lo”


“Doa lo jelek banget, sumpah” Lisa memberikan cubitan tepat di paha Alpino yang bisa dia jangkau. Lelaki itu beberikan cekikikan puas sebelum menjauh agar dirinya tidak merasakan sengatan dari cubitan yang Lisa beri selalu tidak main-main.


“Lagian..” Dia menghela napas dengan ringan, menenangkan diri sebelum akhirnya mengguncang gelas milik Lisa ditangannya, menerka isinya sebelum melihat ke dalam isi gelas tersebut. “Jangan bengong aja, Lisa. Itu makananya di makan coba, jangan sia-siain traktirannya Fajri selama tiga jam ini. Penuhin itu perut lo biar lebih berisi” Omelnya seraya menunjuk ke perut kecil Lisa yang terbalut kemeja biru tua yang ia kenakan.


“Ini juga, air lo udah habis. Tadi gue nawarin ada yang mau isi ulang air apa nggak. Lo mau apa? Biar sekalian gue ambilin”


Lisa, yang cemberut ketika dia melingkarkan kedua tangannya di perut, mulai berpikir sejenak sebelum dia memilih minuman yang lebih manis untuk indera pengecapnya.


“Gue mau Milo, deh. Tapi yang manis, jangan yang plain. Lo tau, kan, yang bagian manis yang mana?”


Memberikan wajah sombong yang khas dengan tawanya, Alpino mengangkat kedua bahunya sebelum melambaikan tangan yang masih memegang gelas kosong sebagai pernyataan bahwa itu adalah hal yang mudah untuknya.


“Ya bisa dong, Jangan remehin gue” Serunya kemudian sebelum melanjutkan. “Kan di tempatnya ada tulisannya. Gue masih bisa baca dengan jelas, ya!. Udah, ah, lo lanjutin makan, gue mau ambil minum dulu, gue haus. Inget jangan bengong lo. Gue nggak bakalan tanggung jawab kalau lo kesurupan reog disini”


“Dih!” Lisa meringis ketika suara pekikannya lebih besar dari apa yang dia perkirakan. Beberapa orang di kelompok lain reflesk menatapnya, begitupula dengan kelompok kecilnya yang kini menghentikan kegiatan mereka sejenak. Lisa menutup bibirnya dengan tangannya, memperhatikan Alpino yang tertawa dengan puas dalam jarak yang sudah cukup jauh. Menikmati bagaimana dia menggoda Lisa dengan begitu sukses.


“Sumpah, ngeselin banget lo, Al!”


Gerutunya kemudian dalam suara napas dan bisikan kecil sebelum dia berbalik dan memilih untuk membantu teman-temannya mempersiapkan makanan. Dia mencuri dumpling keju yang telah di rebus sempurna di dalam kuah tomyum pedas yang memanjakan lidah.


“La, gue mau jamurnya dong! Jihan, ini mangkuk gue sama sendoknya, kan? gue minta sumpit, dong, buat celup-celup daging”


Lisa mulai menikmati ini, jadi, dia berusaha untuk tidak memikirkan apapun yang tidak perlu. Biarlah saat ini dia bersenang-senang dengan apa yang dihadirkan pada kenyamanan dan kehebohan malam ini, Lisa akan mengambil semua kesenangan yang menyapa dan membuainya. Terlebih, makanan adalah hal paling penting dalam aspek kebahagiaan hidup.


...….....


“Lisa, Aaa~”


Tanpa pikir panjang dan terlalu fokus dengan kegiatannya mencelupkan daging ke dalam kuah rebusan, Lisa membuka mulutnya lebar-lebar untuk membiarkan apapun masuk kedalamnya. Dia baru saja tersadar ketika merasakan gurihnya rasa daging matang yang khas dan panas ketika itu menyentuh lidahnya. Matanya terbelalak ketika dia melihat siapa sang pelaku yang tengah menyuapi makanan padanya. Dan tentu saja, itu adalah senyuman lebar Noren yang pertamakali dia sadari sebelum melihat keseluruhan raut wajah konyol yang lelaki itu tampilkan di depannya.


“Anak pinter. Makan yang banyak, ya. Enak nggak masakan aku? Itu aku celupin saos Korean barbeque sebelum dipangang. Gimana?”


“Ihh! Ngapain main suapin gue?! Jangan kepedean, ya, gue tadi lagi nggak sadar waktu lo nyodorin itu tiba-tiba di depan muka gue!”


Daripada hanya menjawab apapun yang lelaki itu lontarkan, rasa malu dan terkejut yang mekar di dada Lisa adalah apa yang menjadi fokus pertamanya. Wajahnya tiba-tiba saja memanas dari perlakuan yang Noren berikan karena rasanya, dia seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi makan oleh orangtuanya.


“Jangan ngomel gitu, tapi jawab dulu dong pertanyaan aku. Enak nggak rasa dagingnya?”


Lisa cemberut, ingin kembali memberikan sanggahan apapun yang terlintas dengan cepat di kepalanya, namun rasa daging yang lumer dengan baik di lidahnya adalah apa yang menjadi fokusnya sekarang. Benar, rasanya jauh lebih menyatu dengan bumbu yang menyeluruh daripada hanya dipanggang dengan tanpa bumbu dan mencelupkannya secara manual setelah matang di panggangan. Lisa menjilat bagian bibir bawahnya ketika dia berhasil menelan daging yang memanjakan lidahnya, Noren masih menunggunya dengan sabar untuk sebuah reaksi.


“Enak” dia menjawab cepat. Jemarinya masih sibuk dengan sumpit dan daging mentah yang terjepit di ujungnya. Siap untuk dia celupkan kembali kedalam rebusan kuah asin gurih yang telah dia pilih sebelumnya. .Wajah Noren terlihat sangat cerah hanya dari satu jawaban itu.


“Ya namanya daging sapi kalau dipanggang pasti enak. Semuanya gini juga rasanya cuma ditambah bumbu biasa doang sama beda cara pengolahan aja. Jangan keliatan bangga begitu banget, deh, Kak. Semua orang juga bisa bikinnya”


Tambahnya kemudian. Lisa tahu dia agak sarkas, tapi dengan pengetahuan bahwa Noren tidak akan terpengaruh dengan kata-katanya yang menusuk dari seberapa banyak yang ia lontarkan pada lelaki itu di waktu-waktu yang mereka habiskan bersama.


Noren diam sejenak sebelum dia mulai mengambil cara bagaimana lisa memperlakukannya. Lelaki itu bergumam dengan riag dan mengambil daging yang baru saja matang langsung dari panggangan, mengarahkannya pada Lisa dengan senyuman berbahaya yang dia miliki, menantang perempuan yang kini tahu jalan mana yang sedang ditempuh Noren untuk lelaki itu lakukan.


“Kayaknya lidah kamu lagi mati rasa, deh. Padahal yang aku masak rasanya beda dari kebanyakan orang, kok. Coba sini, buka mulutnya biar bisa rasain yang benar. Ayo! Sini buka mulutnya, Aaaa~”


“Dih, jauh-jauh dari gue, Kak!!”


Seringaian Noren berubah menjadi tawa yang puas ketika dia berusaha untuk menjepit Lisa dan membuat permepuan itu membuka mulutnya menerima satu suapan lagi darinya. Lisa mengelak dengan keras, berusaha untuk beridiri, tetapi Noren dengan cekatan menahan kedua kaki Lisa di kursinya dan menarik dagu perempuan itu untuk tidak mengelak dan mempersulit permainan mereka. Lisa terkejut, hampir menahan napas dari tenaga yang tiba-tiba sebelum pada akhirnya dia bisa merasakan lagi bagaimana daging yang renyah dan lembut dengan bumbu yang menyatu sempurna kembali meleleh di lidahnya. Dia terkesiap.


“Duh, gemes banget. Dagingnya dikunyah terus dirasain yang bener biar tau perbedaan rasanya, Lisa. Gimana? Udah bisa ngerasain perbedaannya?”


Lisa tidak tahu, apakah dia yang hanya sedang berimajinasi atau bagaimana, tapi Wajah Noren terlihat begitu dekat dengannya. Itu sangat dekat sehingga Lisa tidak tahu harus menahan napas di satu waktu yang sama dengan hanya mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Dia bisa merasakan kedua paha Noren yang kuat menekan kedua paha kecilnya untuk merapat sehingga tidak menyisakan ruang. Lisa merasa gila di dalam dan hanya ingin mendorong lelaki itu jauh-jauh dan mencakar wajahnya yang menyebalkan itu karena telah dengan berani menyentuh dan mendekatinya sedekat ini.


Dengan kegilaan dan kesadaran yang tiba-tiba, dia merasa ingin menganiaya lelaki itu sebagaimana mestinya dan meletakkannya tepat ditempat yang semestinnya. Dia baru saja menarik napas dan menelan daging kunyahannya dengan niat akan melakukan serangan sebelum kemudian menyaksikan bagaimana Noren menjauh darinya.


“Wah, emang nyari mati lo di depan gue, njing! Sini lo, gue yang sumpelin mulut lo pake resep daging gue!”


Itu kakaknya yang turun tangan dengan wajah yang tidak suka begitu kentara di hadirkannya. Dia menarik kerah kemeja Noren dengan kasar sebelum menyeret lelaki itu untuk kembali kepanggangan dan menyumpal mulut Noren dengan potongan daging ayam yang sudah dicelupkan ke bumbu cabe pedas sebegai cara untuk menyiksa Noren dengan benar. Lisa bisa mendengar kakaknya mengomel pada Noren seraya masih merangkul lelaki itu dan memberikannya ancaman-ancaman bersamaan dengan daging ayam yang hadir di depan mulutnya dalam waktu yang begitu berdekatan. Noren berusaha untuk melepaskan diri, namun Sinar terlihat lebih bersemangat untuk hanya memberi siksaan yang lebih banyak pada Noren tepat saat itu.


Lisa menghela napas lega. Dia bahkan, untuk beberapa saat melupakan kehadiran teman-temannya disana. Seolah-olah hanya dia dan Noren berdua saja dan saling melayangkan argument yang hanya mereka berdua bisa lemparkan satu sama lain dengan begitu unik. Ya tentu saja, Lisa mempelajarinya dalam waktu kebersamaannya dengan Noren beberapa waktu terakhir. Lagi-lagi, semua karena perasaannya yang sudah terbiasa dengan apa yang mereka bagikan berdua.


Itu adalah hubungan yang akur tidak akur, saling mempermalukan dan olok-olok disana-sini. Tapi emosi yang berputar, bukanlah emosi yang hanya membuatnya lelah satu sisi. Keringanan yang bagus juga turut hadir tanpa kata disana.


“Duh, gue kayak baru aja menyaksikan serial drama romantis versi live dari temen gue sendiri, nh, sumpah”


Lisa menoleh untuk menemukan Jihan, dengan capitan di tangannya menatapnya dengan seringai menggoda yang malu-malu. Hala disebelahnya ikut menyeringai untuk menggoda Lisa disatu waktu yang menjengkelkannya, cocok untuk membuat Lisa ingin mencekik perempuan itu dengan gemasan tingkat tinggi.


“Jihan, mending lo fokus sama makanan lo atau kita duel di sini sekarang juga” Dia menggerutu.


Membenarkan pakaiannya yang agak kusut. Untung saja dia memakai pakaian yang agak panjang dan lebih memilih celana jeans daripada rok tutu-nya yang sebelumnya dia pilih sebagai kandidat untuk outfitnya hari itu. Merasa sudah lebih lega daripada sebelumnya, Lisa kembali meraih sumpitnya, kali ini mengambil jamur dari dalam rebusan kuah pedas untuk kembali ia nikmati.


“Nah, siapa takut. Lo salah orang kalau mau ngajak duel, Lisa”


Tentu saja, Jihan tidak akan melepaskan percakapan mereka begitu saja. Lisa meringis. Dia mencuri pandang pada sosok Noren yang masih beradu argument dengan kakaknya yang kali ini tengah bersenang-senang disana. Adapun anak laki-laki lainnya, dengan membuang pikiran rasional mereka, ikut menganiaya Noren dengan suguhan makanan yang tak hentinya disodorkan pada lelaki itu. Lisa, tetawa dengan kepuasan yang aneh dan cekikikan yang lolos begitu saja. Dia menikmati apapun yang membuat Noren berada dalam kesengsaraan.


Hell, siapa suruh mengganggu dirinya dengan tidak sopan seperti itu? Dia memiliki seluruh orang disisinya saat ini dan Noren tidak akan bisa berkutik jika dia menyentuh Lisa dengan tingkat kesopanan yang rendah seperti adegan beberapa waktu yang lalu. Dia sedang mengambil konsekuensinya saat ini tanpa Lisa yang turun tangan untuk menyentuh barang seujung kukupun. Noren bisa habis ditangan kakaknya dan juga teman-teman terbaiknya.


Dia merasa sangat puas sekali.


“Aduh, maaf suhu, gue lupa kalau ada professional disini. Kalau gitu gue yang mundur, deh. Nggak berani gue. Nyerah, nih, nyerah!”


Ada tawa yang Lisa dengar keluar dari suaranya sendiri, bergabung dengan kedua temannya dan juga suara tawa Jihan yang lebih besar karena kepuasan.


“Gue maafin kali ini. Tapi kalau lo nantangin gue duel lagi, gue nggak bakalan terima langkah mundur dari pengecut kayak, lo”


“Aduh! La, tolongin gue, ini suhu-nya udah ngamuk!!”


“Hii, gue nggak ikut-ikutan, deh, nggak sanggup tangan letoy gue jadi tameng buat lo”


Lisa tertawa, membiarkan dirinya kembali larut dalam keseruan malam yang hangat ini. Dia mengesampingkan kejadian dimana dia hampir tidak berkutik ketika Noren menghimpitnya di depan banyak mata yang memandang. Menganggap itu tidak pernah terjadi, Lisa berharap bahwa disuatu waktu kedepan, dia akan lebih siap lagi dengan apapun yang akan Noren lakukan padanya. Dia tidak akan diam lagi seperti itu. Dia pastikan akan membalas Noren lebih banyak lagi dengan kesempatan yang hadir di masa depan.


Lisa, dengan tanpa sadar, matanya melirik ke arah Noren yang kali ini sudah dibebaskan dari kesengsaraannya. Wajah lelaki itu merah dan pipinya masih menggembung karena makanan yang disodorkan. Disebelahnya ada Alpino yang menyerahkan air minum padanya dengan tawa yang hadir dan ringisan yang tidak bisa disembunyikan oleh sahabatnya.


Mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh, Lisa kembali fokus dengan makanannya. Sebenarnya, diam-diam, dia tanpa sadar meraih daging olahan Noren yang telah diletakkan di piring yang terdekat dengannya. Mengambil bagian demi bagian dengan perlahan seolah-olah dia tengah mencuri makanan orang lain.


Itu bukan hal yang spesial. Lisa membatin. Dia hanya makan daging yang telah matang dan terbuka di atas meja untuk siapa saja santap. Jadi, terserah buatan siapa, dia hanya makan apa yang telah tersaji di depan matanya.


“Tapi beneran enak juga, sih…”


Dia bergumam rendah. Berharap tidak ada siapapun yang mendengarkan apa yang baru saja dia katakan hanya untuk di dengar oleh dirinya sendiri. Sebuah kejujuran yang tidak akan dia gosokkan di depan wajah Noren begitu saja.


Bukan tanpa alasan. Jika dia mengatakan itu dengan keras, dia merasa bahwa dia berada di posisi jauh di bawah Noren dengan kekalahan yang mutlak. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Noren dengan egonya yang tinggi tidak akan meninggalkan hal-hal berupa pujian seperti ini begitu saja.


Namun, jika Noren besar kepala ketika dia melihat Lisa memakan makanan yang dipanggang oleh lelaki itu dengan kedua tangannya sendiri, Lisa punya seribu kata sanggahan yang akan dia tembakkan untuk mengelak semua tuduhan yang akan Noren berikan padanya.


Tentu saja, Lisa selalu mempunyai banyak pemikiran cemerlang di dalam kepala kecilnya yang cerdas itu.


.........


^^^🍁^^^


...Plain Milo V.S Daging Panggang Bumbu - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Haii Haii! Hari ini lapak promonya hadir lagi loh! Kali ini cerita yang dari sinopsisnya aja udah keliatan keren dan bikin penasaran😆 hayoo, yang suka bacaan genre fantasi bisa langsung mampir ke lapaknya Kak Zahroni Nurhafid, ya!


Jangan lupa tinggalin jejak juga😊


Check this out~


...PROMO NOVEL KARYA ZAHRONI NURHAFID...


...JUDUL: TERLEMAH YANG TAK TERKALAHKAN...


Ditengah Dunia yang dipenuhi menusia berkekuatan dewa (Exceed), Dion terlahir sebagai manusia biasa tanpa kekuatan (Seed) dan menjadi rakyat biasa yang nilai kehidupannya tak lebih hanya sekedar kerikil di tepi jalan bagi dunia. Ia hanya berharap bisa terus menikmati hidup damainya melakukan hal konyol bersama sahabatnya Vista dan mengejar cintanya kepada Artia, mereka bertiga adalah sahabat sedari kecil. Namun kehidupannya mulai berubah sejak Dion mendapat peringatan dari dirinya sendiri yang berasal dari masa depan. "Apapun yang terjadi, Lindungilah, Artia." Fisik dibawah rata-rata dan Tanpa kekuatan, dengan tanggup jawab menyelamatkan Artia dari kematian ia Bangkit berkali2 dari kegagalan dan bergerak dengan memutar otak menjadikannya Seed pertama yang setara dengan Exceed kelas S. Bagaimana Cara manusia menang melawan kekuatan dewa?



Selamat membaca🥰