
Lisa akan mengakui bahwa apa yang sedang dia lakukan saat ini sebenarnya sangat sulit. Dia tidak terbiasa dengan apa yang dia lakukan. Menyimpan emosinya yang terkadang selalu mengambil alih kewarasannya adalah satu dari sekian hal yang membuatnya terlalu cepat lelah karena dia adalah tipe yang tidak memendam dan lebih suka mengeluarkan kekesalannya detik itu juga sebelum menghilang di telan udara yang melingkupinya.
Nalisa hanyalah seseorang anak perempuan yang terlalu suka jujur untuk dirinya sendiri. Dia melangkah dengan percaya diri melalui apa yang dia yakini tentang dirinya. Dia seorang perempuan yang mempunyai kesadaran diri penuh, tetapi agak tidak memungkinkan untuk menutup emosinya dengan rapat ketika dia hanya ingin memperlihatkan pada dunia bahwa dia adalah sosok perempuan seperti yang dia inginkan, seperti apa adanya dirinya.
Jadi, ketika biasanya dia ingin meledakkan emosi, dia tidak menahan diri. Namun sayangnya, untuk kesukaannya dan rencana yang sebenarnya tidak dia susun secara matang namun sepertinya hanya dengan cara inilah satu-satunya akan berhasil, Lisa berusaha untuk menahan segenap emosi yang seharusnya dia ledakkan untuk satu orang lelaki menjengkelkan yang selalu saja berhasil menarik tali emosi itu dari dirinya.
Beberapa kali, Noren membuatnya ingin melayangkan kekerasan pada lelaki itu, tapi tentu saja, mengingat bahwa dia seharusnya bekerjasama dengan perasaannya dan berhenti untuk tidak membuang-buang banyak energi, dia memaksakan diri untuk membawa emosi jeleknya jatuh ke dasar yang seharusnya mampu untuk menahan mereka dalam beberapa waktu yang bijaksana.
Tentu saja, manusia tidak akan berubah hanya dalam semalam. Lisa tidak akan terbiasa dengan hal-hal seperti menyerah pada dirinya sendiri untuk menyatu dan membaur dengan Noren alih-alih berusaha untuk bertolak belakang dan mendorong lelaki itu menjauh dari hidupnya.
Tapi dia tahu, dia tidak akan memiliki kemajuan jika dia hanya bertengkar dengan Noren sepanjang hari. Dia harus terbiasa dengan hal seperti ini cepat atau lambat. Dia harus melepas tali yang semerawut antara dia dan emosinya untuk Noren. Dengan helaan napas yang dalam dan berat, dia bisa mengatakan bahwa mungkin dia bisa melakukan ini dengan baik.
Hanya mungkin, bayangkan saja bahwa Noren adalah salah satu dari kolega sekolah yang sama, yang juga sering menggodanya hanya untuk bermain-main dan mencari perhatiannya untuk memuaskan rasa senang dan kejenakaan tanpa makna yang dalam dalam setiap candaan yang dilemparkan.
Ya, dia bisa saja seperti itu. Dia hanya harus mejadi sosok Nalisa yang tidak bertopeng dan perlahan-lahan bisa menerima Noren sebagai seseorang yang embel-embelnya tidak begitu berat dan mengacaukan hidupnya di masa depan.
Tentu saja, pemikiran seperti itu adalah yang termudah, namun untuk prosesnya, Lisa rasa jalannya akan berbatu dari seberapa gigih Noren dalam hal menggoda dan mengerjai dirinya untuk melihat reaksi yang memuaskan lelaki itu.
Terbukti dari beberapa kali Lisa kelepasan untuk menganiaya Noren seperti mencubitinya atau menyikutnya, dan yang paling keras yang pernah dia lakukan adalah ketika menginjak kaki Noren dengan seluruh rasa kesal yang belum tersalurkan sepenuhnya. Namun menurutnya itu sudah cukup untuk mengingatkan lelaki itu untu tidak menyentuhnya secara sembarangan.
Lisa sebenarnya agak merasa aneh ketika Noren membelikan mereka tiket di ruangan Gold Class dengan tontonan yang mungkin tidak perlu menggunakan studio yang berlebihan seperti itu. Lisa juga akan nyaman jika berada di studio regular untuk tontonan mereka kali ini. Dia hanya merasa tidak pada tempatnya. Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa dia sangat menikmati waktu bersantainya yang dengan jujur akan dia katakan bahwa itu menyenangkan untuk melepas penatnya di hari ini.
Film itu bercerita tentang coming of age seorang anak perempuan asia yang penurut, namun ketika masa pubertasnya datang, dia dibimbangkan dengan keinginannya untuk hidup bebas seperti remaja pada umumnya di usia mereka. Lisa sendiri, meski dia mengingat umurnya sudah tidak lagi dihitung dalam belasan tahun, tapi dia masih ikut senang dengan tontonan yang membuatnya kembali mengingat masa remajanya yang tidak begitu buruk juga untuk dia lalui kembali.
“Jadi, gimana filmnya? Bagus?”
Lisa menoleh ke arah Noren ketika dia menyuapkan satu sendok es krim Gelato dengan rasa Choco Oreo dan Milo. Campuran kesukaannya yang dia segera pesan tanpa melihat varian rasa lain saat kaki mereka sudah melangkah tepat di depan etalase es krim yang jika dilihat saja, sangat membuatnya tergiur.
Setelah acara menonton yang sedikitnya membuat Lisa rileks, sebenarnya Lisa ingin segera menyuruh Noren untuk membawanya pulang. Dia menolak tawaran makan malam karena perutnya masih penuh dengan popcorn dan campuran cola, namun dia masih merasa ingin meletakkan sesuatu di dalam mulutnya. Dan begitulah, ketika dia melihat logo Gelato yang mencolok di sisi kanan jalan, dia segera meminta Noren untuk berhenti dan singgah di sana. Noren, tanpa dua kali diberitahu, segera membelokkan mobil untuk menuruti keinginannya.
“Lumayan, sih. Gue seneng sama penggambaran Asia-nya, cocok banget soalnya” Lisa bergumam dengan perasaan yang ringan sebelum menambahkan, “Panda merahnya juga lucu banget”
Dia bisa melihat bagaimana Noren tersenyum atas jawabannya. Yakin, Lisa merasa bahwa Noren saat ini merasa lega bahwa sekali lagi, dia bisa mendapatkan reaksi positif yang diberikan Lisa dari apa yang dia berikan pada hari ini.
“Bagus deh kalau gitu” Noren bersenandung. Dia ikut mengumpulkan es krim di atas sendok kayunya sebelum satu suapan ia beri untuk dirinya. Tidak ada ekspresi yang serius, dia hanya terlihat begitu bersemangat saja. Dia bahkan bisa dibilang terlihat berseri-seri saat ini.
Lisa diam, mengamati bagaimana Noren yang masih berkutat dengan es krim cokelat vanilla nya yang terlihat sangat biasa. Kepala lelaki itu terlihat mengangguk beberapa kali sebelum terangkat dalam satu pandangan lurus tepat pada bola mata Lisa yang memperhatikannya. Itu membuat Lisa lengah sejenak sebelum bergumam dan menjauhkan pandangannya ke arah lain.
“Kenapa?” itu satu pertanyaan yang adil. Lisa mendengus saat yakin Noren pasti tidak akan melepaskan hal ini begitu saja. “Ada yang salah, Lisa?” dia memanggil kembali dengan pertanyaan.
“Nggak” Sahut Lisa dengan cepat sebelum kepalanya mulai merangkai kata untuk dilemparkan oleh Lidahnya dalam sepersekian detik untuk menyelamatkan sedikit kecanggungan aneh dari sisi Lisa sendiri. “Kalau menurut lo, filmnya gimana?” cercanya kemudian dengan pertanyaan yang dikembalikan.
Ada senyuman yang tenang dan ragu di wajah Noren sebelum dia menjawab dengan penuh percaya diri.
“Kalau menurut aku, sih, selama kamu suka dan enjoy nontonnya, ya filmnya berarti bagus bagus aja” ada seringaian yang terdengar dari suaranya. Lisa menahan diri untuk tidak mendengus.
“Ah, lo bukannya nonton malah ngeliatin gue mulu dari awal film”
Ya, Lisa mengungkapkan fakta dimana dia tahu sesuatu yang dilakukan Noren selama menonton film adalah menjatuhkan seluruh fokus ada pada Lisa. Awalnya dia agak risih dengan gerakan itu, tapi Lisa mengabaikannya dengan keras karena dia ingin benar-benar menikmati waktu menonton filmnya ketika dia sudah masuk jauh ke dalam cerita yang disajikan.
“Nggak usah coba-coba cari alasan deh, lo, Kak. Jangan kira gue nggak tau, ya?” Lisa mencemooh kembali, tapi tidak dengan suara yang menggigit. Dia hanya menyampaikan fakta yang ada. Dapat dilihat, Noren meringis, tetapi dia tidak begitu menyesal dari apa yang dia tampilkan di wajahnya. Bahkan hampir tidak ada penyesalan ketika dia sudah tertangkap basah.
“Yah, mau gimana lagi, sih” Tanpa ragu, dia hanya menyuarakan apa yang sekarang sedang berada di otaknya seolah-olah dia tidak peduli dengan tanggapan Lisa. “Soalnya aku lebih suka pemandangan di sebelah aku dari pada filmnya kalau boleh jujur” Ada suara kekehan yang manis dikeluarkan. Lisa merespon dengan bibir yang ditarik menjadi garis tipis tanpa mencoba untuk melemparkan es krim miliknya tepat pada wajah yang sama sekali tidak menunjukkan apapun selain kesenangan semata.
“Ini gue kalau nggak tahan tahan dari tadi mungkin udah cakarin wajah lo, Kak. Yakin gue seratus persen” Lisa mendesis sebelum tersadar bahwa dia tidak boleh menghabiskan tenaganya untuk hal yang tidak berguna. Jadi, tanpa menunggu celotehan dari Noren sebagai balasan, Lisa melanjutkan dengan penuh percaya diri yang seringkali dia tampilkan di depan teman-temannya tanpa berusaha untuk menutupi apapun.
“Yah, gue tau gue emang menawan. Nggak usah diumbar-umbar gitu juga, dong, ah” lanjutnya dan dengan tanpa menunggu langsung kembali memenuhi mulutnya dengn satu suapan es krim dingin yang langsung meleleh di lidahnya. Dia mengerang dengan senang hati karena perasaan panas di dadanya sudah dilelehkan hanya dengan sesuap es krim.
“Emang kamu tuh ajaib banget, Lisa” Noren menawarkan kekaguman lain. Masih memperhatikan.
“Oh, tentu dong..” Dan Lisa tentu saja tidak tanggung-tanggung untuk menjawab tanpa berusaha menghentikan Noren dari apapun bualan dan hal-hal cheesy yang coba dia utarakan tanpa beban itu.
Dia tahu Noren menatapnya dengan aneh, tapi dia tidak akan perduli dengan apa yang Noren pikirkan selama dia bisa menikmati ini semua dengan santai dan sesuai rencana dadakannya.
“Oh” Ada bisikan yang lembut keluar dari bibir Noren sebelum suara berdehem lebih terdengar di bawah alunan musik yang mendayu syahdu. “Jujur banget aku penasaran kenapa kamu bisa tiba-tiba lembut ke aku, Dek. Tapi aku nggak bakalan nanyain hal itu ke kamu.” Seringaian yang penuh dengan kelicikan gila yang anehnya cocok dengan wajahnya yang penuh dengan misteri aneh muncul kembali dalam satu tatapan Lisa.
“Karena kalau kamu kayak gini terus, akunya jadi lebih senang” lanjutnya kemudian. Lisa merinding dalam satu kedipan mata yang tanpa sengaja ritmenya cocok dengan kilatan ngeri dan keraguan aneh yang tiba-tiba.
“Aku bakalan milih percaya kalau hari ini hari keberuntungan aku bisa jalan sama kamu tanpa pemaksaan yang harus aku lakukan”
Oke, jadi Noren sungguh tahu bahwa dia melakukan paksaan dan ancaman secara gamblang kepada Lisa. Bukankah ini bisa masuk ke dalam kasus tindak kriminal?
Namun alih-alih mencibir, Lisa masih berusaha untuk mendengarkan.
“Sabar, Lisa” Ingatnya lagi dalam hati kemudian.
“Buat menguji peruntungan aku, gimana kalau besok kita makan siang bareng? Mau?”
Lisa mengerjap ketika Noren menatapnya dengan tatapan dalam penuh tantangan yang tergambar dengan jelas di wajahnya. Di satu sisi itu terukir bahwa dia yakin Lisa akan menerimanya tanpa banyak keluhan seperti acara menonton mereka hari ini. Dan di satu sisi yang lain, yang anehnya tergambar sempurna dan membuat satu ekspresi aneh yang begitu cocok, dia yakin Lisa akan menolak seperti waktu-waktu sebeumnya dengan mentah-mentah dan menampilkan wajah jutek dan galak.
Lisa mengeluh dalam hati dengan tiba-tiba. Mengapa lelaki ini bisa tau bagaimana dia harus menarik sesuatu dari Lisa dengan satu tujuan yang pasti?
Lisa mengepalkan tangannya sedikit sebelum memberikan senyuman untuk menyambut tantangan terbuka dari Noren, yang sebenarnya dia tahu baha yang menang disini dalam segala aspek adalah lelaki itu sendiri.
Tapi tenang saja, dipenghujung hari, Lisa akan benar-benar berhasil bebas dari lelaki itu hingga akhir waktu kehidupannya.
“Boleh” Lagi, dia tersenyum setelah menjawab.
“Huh?” Noren lengah sesaat. Wajahnya agak bingung sebelum satu senyuman besar terpatri di wajahnya yang membuat Lisa tiba-tiba saja takut. Dia bertanya-tanya bagaimana Noren bisa menghasilkan banyak ekspresi yang begitu gamblang di hadapannya dalam beberapa waktu terakhir di bandingkan dengan sapaan kaku aneh saat pertamakali mereka bertemu.
Sejujurnya, jika Lisa bisa jabarkan dan pedulikan, Noren sudah banyak berubah. Dalam hal ini, adalah bagaimana dia lebih menunjukkan sifatnya yang licik dan pemaksa secara benar-benar terbuka.
“Wah!” Dia berseru dengan riang. “Satu lagi ajakan kencan yang disetujui langsung tanpa perlu banyak usaha” Lanjutnya ketika dia menyamankan dirinya di bahu kursi.
“Terserah lo mau bilang apa, tapi menurut gue itu cuma makan siang biasa dan bukan kencan” Lisa menambahkan dengan santai. Dia mengaduk es krimnya yang tinggal setengah dan membuat kedua rasa yang sudah cair menjadi satu. “Lagian siapa yang bakalan nolak makanan gratis, kan? ya, pasti bukan gue” dia mengangguk, senang dengan ucapannya meskipun ada perasaan mulas di perutnya.
“Tapi menurut aku, itu kencan. Siapa tau dari sana nanti kita makin dekat dan bisa bahas tentang hubungan kita secepatnya..”
Ups. Satu kata yang seharusnya tidak di ucapkan Noren dengan keras pada saat itu. Tapi nyatanya, Noren sama sekali tidak terpengaruh dengan bagaimana tubuh Lisa menegang karena terkejut dan wajahnya yang mengernyit dalam, tidak suka.
“Lo dibaikin sekali makin melunjak, ya, anjir” Lisa melotot, kehilangan bagaimana dia berusaha menekan emosinya. Matanya menatap nyalang pada Noren ketika dia meremas sisi meja untuk tetap menjadi tenang. Napasnya bergemuruh dengan kekesalan yang nyata sebelum dia melanjutkan dengan suara gigi terkatup. “Tempatnya lo yang pilih, besok gue bawa Hala buat makan siang bareng” Suara Lisa kecut ketika dia kehilangan nafsu pada es krim yang seharusnya dia bisa habiskan detik itu juga.
“Setau aku, kencan itu cuma berdua, sih, seharusnya. Kayak kita ini sekarang, kan?”
Lisa mengintip saat Noren mengangkat cup eskrimnya untuk menunjukkan situasi mereka sekarang. Lisa meraung dalam hati, dia sudah tidak suka dengan percakapan ini dan dia ingin langsung pulang. Lisa tau, emosi ini harus dilampiaskan pada apa dan siapa.
“Nggak usah ngomong yang aneh-aneh atau gue nggak bakalan berbaik hati kayak gini lagi ke, lo, Kak. Pokoknya besok gue bawa Hala. Kalau nggak gue nggak jadi nge-iyain ajakan makan siang bareng lo” Lisa bersenandung. Dia menekan dirinya dengan sangat baik. Yakin ketika berada di dalam kamarnya, dia akan meraung seperti orang gila dengan leluasa.
“Oke” satu helaan napas tiba-tiba Noren berikan ketika dia terdengar seperti telah menyerah. “Kalau Lisa maunya gitu, Aku bisa apa, kan?”
Oh, seharusnya Lisa tahu dengan pasti, lelaki itu punya seribu cara licik yang akan dia lakukan dan kata menyerah tidak pernah ada di dalam kamusnya sama sekali.
“Bagus”
Serunya seraya mengangguk dan menghilangkan percakapan terakhir apapun yang membuatnya ingin menghajar sesuatu saat itu juga.
Ah, tentu saja, siasat ini perlu banyak proses. Lisa mengingatkan dirinya sendiri. Nikmati saja prosesnya. Dia pasti akan menang di suatu titik dalam perjalanan meruntuhkan kegigihan seorang Noren Agustion Giovano itu.
............
“Oke, sekarang gue tau apa yang bisa bikin keberadaan lo berguna disini”
Lisa berbisik ke arah boneka beruang yang masih tersenyum menatapnya dengan raut bahagia dan binar mata yang berkilau ketika dia mengangkatnya dengan satu tangan, mensejajarkan boneka itu tepat di depan wajahnya yang kini menampilkan seringai horror untuk menakuti benda tak bernyawa itu.
“Mulai sekarang nama lo Ola, alias Orang Gila, Alias Noren gila. Dan, selamat karena lo sekarang sudah berubah haluan menjadi samsak emosi gue”
Tawanya bergema di ruangan kamar yang sepi dan masih gelap. Dengan seringaian lebar dan mata yang tajam, Lisa mengambil sebuah tali tambang yang sudah dia siapkan dan mengikat leher boneka itu dengan cekatan.
“Selamat bergabung di neraka, Ola” Lanjutnya dengan suara rendah. “Kapanpun pemilik asli lo bikin gue gila, gue bakalan datang ke lo dan bikin lo sama gilanya sama gue”
“Selamat bekerjasama dengan gue, buddy. Mohon bantuannya, ya?”
Jika Noren sudah gila dari awal, Lisa adalah orang gila lainnya yang akan mengimbangi ketidakwarasan Noren. Mereka adalah lawan yang seimbang dan tidak ada yang bisa berkomentar salah tentang itu.
.........
...🍁...
...If You Cant Fight Him, Join Him Part.3 - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
Enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Ingflora, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA INGFLORA...
...JUDUL: JUNIOR CEO AND BODYGUARD MEI...
Pertemuan pertama, ia di cela tapi pertemuan kedua ... ia di cari. Maysaroh Safir, anak seorang pedagang lontong sayur keliling. Tanpa sengaja, gerobak ayahnya menyenggol mobil mewah seorang CEO muda. Saat bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan pemuda itu, ia menyelamatkan nyawanya. Pemuda itu kemudian mencari dan menjadikannya bodyguard. Petualangan pun di mulai hingga tanpa di sadari tumbuh bunga-bunga cinta di antara mereka.
Selamat membaca🥰