Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tempat Pelarian; Intermezzo: Pertanyaan



Pertama kali rekasi yang diberikan hala adalah panik. Dia melihat kesana-kemari setelah panggilan singkat terputus dari balik kacamata bacanya. Perempuan itu baru saja selesai mengerjakan report dan bersiap untuk ke ruangan lain dan membantu team divisi media sosial ketika panggilan itu datang. Matanya mengerjap, jemarinya ia tekan ke pelipis untuk memberikan sedikit kesadaran diri. Dia tidak boleh panik meskipun pikirannya yang negatif berlarian ke sana kemari. Banyak pertanyaan yang berlalu-lalang, simpang siur dimana Hala rasanya ingin berteriak karena dia harus yakin bahwa Sinar baik-baik saja. Terkadang, terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk pekerjaannya dan mendapatkan panggilan panik yang tiba-tiba membuatnya linglung.


“La, lo nggak apa-apa?”


Perempuan itu tersentak ketika Noella menepuk bahunya. Ia menghela napas yang terlalu berlebihan ketika limbung ke atas meja dengan kedua tangan yang cepat menopang tubuhnya. Lagi, dia diam sejenak sebelum melepaskan kacamatanya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum memberikan cengiran polos pada Noella yang khawatir. Sudah cukup dengan kepanikan tiba-tiba yang menyerang, dia merasa bodoh. Meskipun internal kepala Hala sedang mendapat sedikit eror karena pikirannya yang berkeliaran dan jantungnya yang masih berdegub bingung, dia mencoba untuk tidak terlalu terbawa suasana. Sinar baik-baik saja. Lelaki itu bahkan bisa berbicara agak panjang lebar tentang menjemputnya di kantor dimana dia sekarang berada dalam lima belas menit kedepan.


“Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing doang, kok” Hala membalas ringan meski matanya mencari ponselnya yang sekarang berlayar gelap tergeletak dekat dengan tangannya.


“Lo sakit, La?” ada tangan yang menyerang dahinya, Hala tertawa dengan agak hambar seraya menyingkirkan tangan Noella dengan lembut.


“Nggak, kok” balasnya untuk menenangkan.


Tetapi dia tahu bahwa dia tidak akan berada di kantor dalam beberapa waktu kedepan karena dia harus menemui Sinar. Mungkin, ini ide yang bagus untuk membolos kerja. Setengah hari kerja mungkin baik-baik saja karena Sinar sungguh mendesaknya untuk selesai bekerja detik itu juga. Dari panggilan telepon yang mendesak, Sinar memastikan bahwa dia akan membawa Hala untuk pergi karena lelaki itu membutuhkannya. Entah apa yang terjadi, tetapi rasa khawatir Hala mengambil segala kewarasannya untuk tetap melanjutkan kerjaannya sama sekali.


Jadi, kali ini dia mencoba berbohong untuk menyelamatkan seseorang. Ya, dia akan mengambil ini dengan alasan bahwa dia menyelamatkan orang lain. Dia membolos dalam hal kebaikan. Hala meringis dengan pemikirannya sendiri. Padahal, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi sama sekali.


“Tapi kayaknya gue.. agak pusing.. demam?” bodoh rasanya berbohong untuk apa yang tidak sedang terjadi dengan fisiknya. Jari telunjuk dan tengahnya ia kaitkan bersama untuk mencegah kebohongannya menjadi nyata dan meminta maaf karena dia harus mengelabui Noella untuk ini. Dan mungkin ketika dia mengajukan izin ke Ivora, dia juga akan merasa sedikit bersalah. Yah, dia memang pintar berbohong untuk perasaannya, untuk dirinya sendiri, namun dia jarang berbohong perihal kondisi kesehatannya dalam bidang professional dan tentu saja, dia adalah anak baik-baik yang jarang membolos seorang diri.


“Loh? Serius? Istirahat lo, La. Lo mau gue antar ke ruang kesehatan atau gue antar pulang aja ke rumah lo? Biar lo bisa full istirahat? Nanti gue yang izinin ke Mbak Ivora, deh. Serius gue”


Noella menawarkan dengan sigap. Perempuan yang meskipun suka menjulid sana-sini, adalah salah satu yang paling khawatir dan perhatian jika ada yang sedang tidak sehat. Hala tersenyum agak simpatik pada apa yang terjadi dengannya. Dia menggeleng dengan cepat dan agak panik. Mencoba menenangkan diri, Hala menyambar tawa aneh.


“Gue bisa sendiri, serius. Kayaknya gue minta izin pulang aja, tapi gue bisa sendiri. Lo pasti sibuk banget. Emang lo udah nyerahin data konsumen dalam dua minggu ini dan udah siapin resume buat pengajuan lokasi market bulan depan?”


“Yaelah, kenapa diingetin, sih, La” Noella merespon dengan cemberutnya yang terpampang nyata “Kerjaan gue hari ini aja masih setengah gue kerjain. Udah yang bulan depan aja. Nggak asik lo, sumpah” Perempuan itu merengek.


“Ya udah, makanya lo fokus aja sama kerjaan lo. Gue bisa sendiri. Serius. Makasih banyak, ya, Noella” Memberikan senyuman prihatin yang coba dia perhalus pada rekan kerjanya. Dia menepuk bahu perempuan itu menguatkan. “Gue bisa sendiri, sumpah. Nanti kalau gue udah sampai rumah, gue kabarin lo. Janji” Hala mengangkat tangannya membentuk tanda perjanjian ketika Noella ingin berbicara lagi.


“Oke. Tapi janji hati-hati di jalan?”


“Yoi. Gue pasti pulang dengan selamat, kok”


“Baguslah kalau gitu”


Hala bergerak. Membereskan sedikit mejanya yang tersebar kertas dan pulpen. Post-it yang jatuh karena tidak terlalu rekat dan beberapa ada di bagian yang tidak seharusnya membuat perempuan itu sedikit lengah karena dia tidak sadar apa yang dia lakukan selama bekerja dan mengapa itu terlihat sangat berantakkan.


“Oh iya, Noella” Hala memanggil cepat ketika dia menyerahkan berkas Noella yang diletakkan di atas meja kerjanya sebelumya. Ada senyuman terimakasih sebelum Noella bertanya dengan gumaman kecil.


“Lihat Lisa, nggak?”


Ya, seharusnya ini adalah pertanyaan pertama dia tanyakan karena lima belas menit sudah berkurang jauh sekali. Ada hal yang harus dia tanyakan pada sahabatnya itu sebelum dia benar-benar membolos untuk hari itu.


“Di pantry, La. Tadi habis ketemu disana. Lagi buat popmie sama kopi kalau nggak salah. Soalnya anak penjualan baru selesai meeting selama empat jam. Agak gila gue lihat lihat Pak Leo minggu ini” Noella meringis, merendahkan suaranya karena dia tidak ingin ucapannya sengaja di dengar oleh orang lain yang tentu saja akan membuatnya terkena masalah.


“Oh, oke. Makasih informasinya, ya”


“Ya, hati-hati pokoknya!”


Hala mengangguk. Dia membiarkan Noella untuk pergi terlebih dahulu ke mejanya. Memakai hoodie yang ia sampirkan ke kursinya, dia mengambil tas milikya dan menyimpan ponsel di dalam saku hoodie. Bergegas untuk menemui Lisa dengan cepat sebelum Sinar memanggilnya dan mengatakan bahwa dia sudah berada di basement. Itu adalah hal terakhir yang Hala harapkan karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi sehinga dia agak kelabakan.


Berjalan menuju pantry, dia bisa melihat sahabatnya itu sedang menikmati makanannya dengan kopi dingin yang tergeletak agak jauh dari berkas yang dia bawa. Menggeleng dalam apresiasi, kerjaan Lisa pasti mengambil seluruh tenaganya, bahkan itu masih bersisa dan belum setengah hari berlalu. Sebagai seorang perfeksionis, Lisa pasti tidak bisa melepaskan pekerjaan yang belum selesai sama sekali. Meeting yang berjalan empat jam lamanya itu pasti membuat sahabatnya lapar. Padahal sebentar lagi adalah waktu istirahat makan siang. Hala harus memastikan Lisa untuk makanan yang lebih layak dari pada hanya mie sebagai pengganjal perut.


“Istirahat nanti, jangan skip makan nasi dengan alasan udah makan mie, ya, lo”


Dia bisa melihat sahabatnya tersentak dari sapaan yang tiba-tiba. Menyebut hal peringatannya sebagai sapaan pun tidak terlalu cocok mengingat dia pasti akan mengancam Lisa jika tahu perempuan itu tidak mengambil nasi untuk makan siang. Lisa yang terkejut, memukul Hala di lengan sebagai refleks.


“Jangan ngagetin gue. Untung nggak kesedak gue sama mie pedes” cemoohnya ketika perempuan itu mengambil es kopinya sebagai penetral tenggorokkannya setelah mie mejadi santapannya.


“Sorry” Hala terkekeh. Dia mengambil kursi untuk duduk bersebelahan dengan sang sahabat. “Tapi gue serius, lo jangan skip makan siang walaupun udah makan mie jam segini. Awas aja lo kalau gue denger lo nggak makan dengan benar, besok gue paksa lo ngabisin dua bungkus nasi padang sendirian”


“Dih, ancemannya kayak gue nggak bakalan bisa habisin aja” Lisa memutar bola matanya, tetapi ketika Hala menyikut perempuan itu, mereka berdua tertawa seolah baru saja menertawakan lelucon konyol.


“Tenang aja, gue makan nasi, kok, nanti. Kan barengan sama lo, gimana, sih?” Kembali pada popmie yang masih setia berada di tangannya, lisa membalik kertas lain di map berisi berkas miliknya dengan tangan yang lain. Perempuan itu masih ingin tenggelam pada pekerjaannya dan Hala tersenyum melihat seberapa besar dedikasi yang diberikan Lisa dalam apapun hal yang ia kerjakan.


“Sayang banget, Lis. Kayaknya gue nggak bisa makan bareng lo nanti. Makanya gue ngingetin supaya lo tetap makan” Hala menghela napasnya lembut. Tangannya yang sedari tadi mengecek ponsel untuk melihat waktu dan kabar apakah Sinar sudah di depan berganti untuk memijat pergelangan tangan terbuka milik Lisa dimana sahabatnya itu memakai baju berlengan pendek hari itu.


“Loh, kenapa?”


“Gue… Sakit?” nada Hala agak linglung sembari dia mengusul tanya pada dirinya sendiri. Dia mengerjap, mengangguk dengan cepat ketika Lisa mengalihkan semua fokus padanya. “Iya, gue sakit. Mau pulang hari ini. Makanya mau ngasih kabar ke lo dulu”


“Sumpah? Sakit apa lo, La? Perasaan tadi masih baik-baik aja, deh? Perlu gue anter?”


Ah, Hala lupa bahwa Lisa agak terlalu berlebihan dalam hal khawatir ketika dia mengatakan tentang kondisi kesehatannya. Hala menelan ludah, agak tidak enak telah membohongi sahabatnya itu. Tapi, Sinar sudah mengatakan bahwa Lisa tidak boleh tahu tentang apapun yang terjadi. Dan tentu saja, Ketika Sinar berucap dengan nada panik seperti sebelumnya, Hala menurut.


“Nggak parah, kok. Paling cuma pusing doang. Tapi gue tetep mau pulang. Takut gue tumbang disini kalau tambah parah” Hala terkekeh ringan , membuat kebohongan lainnya yang sudah pasti menyebabkan kekhawatiran sahabatnya semakin besar.


“Ya ampun. Ayo gue anter. Gue izin juga sama Miss Jelita” Lisa berdiri, cepat-cepat membereskan berkas miliknya dan sisa mie yang bahkan belum habis setengahnya. Hala menahan perempuan itu dengan cepat.


“Eh, nggak usah. Gue udah mesan ojol mobil” Hala berkilah. Dalam hati dia berharap bahwa Lisa tidak melihatnya di jemput oleh Sinar sebentar lagi. “Serius nggak usah, Lisa. Gue cuma mau nanya sesuatu sama lo sebelum gue balik. Udah, lo duduk aja. Habisin makanan lo. Sayang itu kalau dibuang” Tarikannya semakin kuat, sehingga Lisa yang sudah berdiri kembali duduk di tempatnya semula. Raut wajah khawatir membuat Hala merutuki dirinya dan dia menepuk dahi Lisa dengan ringan untuk membuat sahabatnya berhenti memberikan raut wajah seperti itu. Lisa mengaduh dengan cibiran di bibirnya.


“Jangan bikin gue ngerasa bersalah. Udah, duduk, gue baik-baik aja”


“Ya gimana nggak khawatir gue sama lo. Biasanya lo yang paling jarang sakit, bego. Kalau udah tiba-tiba sakit begini, bukannya ada sesuatu di diri lo?”


“Aduh, gue sakit mah normal, Lisa. Udah, nggak usah ngasih gue raut wajah begitu. Gue bakalan sembuh secepatnya. Gue janji” Hala menepuk lembut kedua pipi Lisa untuk membuat ekspresi perempuan itu kembali lebih baik. Lisa menghela napas kalah, membiarkan Hala tersenyum dengan ceria untuk orang yang mengaku bahwa dia sakit dan bisa tumbang kapan saja.


“Yaudah, cepetan lo mau tanya apaan. Keburu ojol lo dateng. Biar lo bisa cepat juga istirahatnya” Lisa mempunyai ekspresi paling serius di wajahnya dan Hala merasa agak aneh untuk bertanya tentang apa yang sangat ingin ditanyakannya. Tetapi, dia kembali memuntahkan kata karena kemungkinan besar Sinar sudah sampai di lampu merah depan. Dia harus bergegas.


Hala bertanya dengan hati-hati, tidak ingin membuat sahabatnya itu terkejut atau tersinggung dengan pertanyaannya. Jika saja ada permasalahan di antara mereka berdua, Hala mungkin harus bisa menempatkan diri di antara keduanya. Dia hanya takut jika Sinar mengajaknya mengobrol tentang permasalahannya dengan Lisa dan dia salah berbicara itu akan berbahaya untuk keseimbangan hubungan mereka bertiga. Dia tidak ingin terlibat masalah di antara kedua saudara dan dia malah menjadi bensin yang semakin memercik panas api membara yang ada di antara mereka berdua.


“Loh? Gue sama Kak Sinar baik-baik aja, kok. Ini malahan gue dibawain bekal kayak biasanya. Kenapa lo malah nanya begituan, La?”


Hala bisa menghela napas lega seperti segala kepanikannya yang hampir terlupakan di belakang layar mulai mereda sedikit lebih banyak. Sekarang dia tahu bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi di antara dua saudara itu. Semuanya baik-baik saja di antara mereka. Sinar pasti sedang mengalami sesuatu yang lain. Hala bersyukur bahwa dia tidak harus memilih sisi antara Lisa dan Sinar. Itu tidak akan menyenangkan untuk dia lalui sejujurnya.


“Serius kan baik-baik aja? Lo nggak kenapa-kenapa dan Kak Sinar juga aman aman aja?” tanyanya lagi untuk memastikan. Hala mengigit bibir bawahnya ketika kedua alis Lisa mengernyit dengan kernyitan dalam. Ugh, dia pasti terlihat begitu aneh dengan pertanyaan itu.


“Gue sama Kak Sinar nggak ada masalah apa-apa, Hala. Semuanya baik-baik aja. Sejauh gue ngabisin waktu sama Kakak gue semalam sampai pagi tadi, nggak ada yang salah sama sekali. Gue bahkan sarapan bareng sama dia” Lisa berusaha untuk mengingat apapun yang salah terjadi pagi tadi atau sebelumya, namun dia tidak menemukan sedikitpun kejanggalan di antara dia dan kakaknya.”Lo kenapa, sih? gue jadi khawatir?” dan tentu saja, Hala seharusnya tidak bertanya dua kali. Pertanyaan pertama saja sudah agak aneh.


Hala menggeleng cepat. Bersamaan dengan itu, ponselnya menyala untuk menampilkan notifikasi telpon. Hala dengan terkejut dan panik mencoba untuk menutup caller id dan segera melambai pamit pada Lisa. Perempuan itu dengan cepat bergegas keluar dari pantry dan mengangkat telpon. Tanpa menyampaikan kata untuk salam berpisah hari itu, Lisa ditinggalkan dengan begitu banyak pertanyaan dan kekhawatiran.


Setelah ditinggalkan, Lisa dengan cepat mengirim pesan untuk sang sahabat. Memberikan ucapan semoga lekas sembuh dan janji untuk mampir ketika pekerjannya sudah selesai sore nanti. Lisa memilih untuk menghabiskan mie-nya sebelum mengembang dan dingin.


“Hala kenapa, sih? tiba-tiba nanyain Kak Sinar?” gumamnya.


Dengan rasa penasaran yang menguasainya, ia putuskan untuk menghubungi kakaknya. Namun, lama dia menunggu, lelaki itu sama sekali tidak mengangkat panggilannya. Berdecak, dia memilih untuk mengirim pesan menanyakan kabar lelaki itu. Pertanyaan Hala membuatnya kepikiran. Biasanya, Hala tidak akan bertanya hal hal seperti itu jika Lisa tidak mengeluhkan apapun padanya. Namun, bisa jadi sang kakak juga sedang mengeluhkan sesuatu pada perempuan itu dan dia hanya dibiarkan dalam posisi ketidaktahuan.


Mengangkat kedua bahunya, Lisa kembali membolak-balikkan berkas kerjanya. Dia harus selesai mengurusi apapun yang ada di dalam report hasil meeting sebelum dia diharuskan kembali membuat resume dan portofolio terbaru dari barang yang sedang didiskusikan untuk diluncurkan musim berikutnya. Pak Leo sungguh membuat kepalanya sakit dari seberapa banyak lelaki itu menginginkan sesuatu yang lebih menarik minat konsumen bulan ini.


......................


“Lisa?”


Satu panggilan tiba-tiba dari suara yang sudah dikenalnya membuatnya tersedak. Sungguh tersedak dari seberapa cepat dia menelan mie yang bahkan belum sempat dirinya kunyah dengan benar. Terbatuk dan mencari minumannya, perempuan itu merasakan tepukan di punggungnya dengan gerakan yang agak panik dan permintaan maaf yang diutarakan dengan tergesa, agak terdengar seperti kejut penyesalan.


“Ah, Miss Jelita. Maaf, saya kaget. Nggak bakalan nyangka Miss datang dan manggil saya tiba-tiba begitu”


Lisa agak kikuk, malu karena melakukan kekonyolan. Tersedak dengan sangat tidak etis di depan orang yang dia kagumi adalah opsi terakhir yang ingin di lakukannya. Tapi disinilah dia, merasa ingin memukul dirinya sendiri. Tapi bagaimana itu semua adalah salahnya jika wanita itu datang tanpa suara dan hanya memanggilnya begitu saja ketika dia sedang fokus pada pekerjaannya? Dan juga makanannya jika dia menghitung tentang itu.


“Aduh, saya minta maaf tentang itu. Nggak maksud buat ngagetin kamu” Jelita meringis, senyuman permintaan maafnya membuat Lisa meleleh.


Jika bisa dikatakan, Wanita itu sangat cantik bahkan ketika dia tersenyum dalam ringisan seperti itu saja, Lisa tidak akan bisa untuk menahan kekesalan dalam dirinya. Ah, bahkan dia tidak bisa merasa kesal jika Wanita itu memarahinya tentang sesuatu, dia hanya akan termotivasi lebih jauh karena idolanya adalah yang terbaik dan dia akan menjadi panutan Lisa untuk hal-hal indah dan keren yang bisa dicontohkan oleh Jelita meski dia hanya diam di tempat dan tidak melakukan apapun. Wanita yang lebih tua darinya itu sungguh definisi dari apa yang Lisa inginkan menjadi sepertinya.


“Iya, nggak apa-apa Miss. Saya saja yang nggak fokus pada keadaan sekitar” Lisa melambai dengan ringan, berusaha untuk tidak membuat Jelita merasa bersalah. Itu bukanlah hal yang besar untuk merasa seperti itu. “Oh, iya. Ada apa, ya, Miss manggil saya? Apa meeting udah mau dimulai? Aduh, saya belum selesai baca dan bikin resume singkat, Miss..” Panik, Lisa bahkan belum membaca setengah dari berkas hasil rapat yang terbuka di atas meja.


“Oh, bukan” Jelita menggeleng cepat. Wanita itu duduk di sebelah Lisa, menggantikan posisi Hala sebelumya.


“itu, saya tadi lihat Hala dibawah. Dia pulang?”


Lisa mengerjap sebelum tersenyum sedikit sedih. “Hala sakit, Miss. Tadi baru aja izin sama Miss. Ivora. Dia udah di jemput sama ojol mobil pesanannya, makannya buru-buru gitu. Saya harap dia baik-baik saja, Miss. Hala jarang sakit, jadi saya agak nggak enak nggak bisa nganterin dia pulang hari ini”


“Loh? Dia pakai ojol mobil?” Jelita tiba-tiba bertanya dengan keterkejutan dan keanehan yang membuat Lisa memasang ekspresi serius.


“Loh? Emangnya nggak? Tadi dia bilang ke saya begitu, Miss..”


Jelita menggeleng. Agak serius dengan ucapannya selanjutnya.


“Tadi saya lihat dia di bawah, di jemput sama Mas Sinar..”


“Hah?!” terkejut bukanlah apa yang bisa disebutkan dengan sangat mudah kali ini. Lisa benar-benar merasa terlempar dari pernyataan yang Jelita berikan padanya.


“Iya. Saya serius” Jelita dengan mantap dan tegas menyatakan. Berbohong juga Lisa merasa itu tidak akan pernah dilakukan oleh Jelita hanya untuk menggodanya dan membuat gossip. Wanita itu tidak begitu picik dan Lisa yakin begitu.


“Tadi saya lihat Mas Sinar keluar buat nemuin Hala. Dan.. oh, iya Hala sama Mas Sinar ada hubungan apa, ya, Lisa?”


Lisa tidak dapat berkata-kata. Ada yang aneh. Mengapa Hala harus berbohong dan mengapa Sinar bahkan tidak membalas pesan dan mengangkat teleponnya? Mengapa Hala bertanya dengan aneh seperti itu dan tentu saja, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Jelita bahwa Sinar sebagai kakaknya sudah menaruh rasa selama bertahun-tahun dengan Hala sebagai sahabatnya, pada Jelita yang jelas-jelas memiliki perasaan untuk sang kakak dari apa yang dia pahami ketika mereka dipertemukan di rumah penjualan Madevision?


Apa yang harus Lisa kemukakan?


“Ah, kenapa, ya, Miss nanya begitu?”


Dan apapun yang diucapkan Jelita setelahnya, membuat Lisa ingin membenturkan kepalanya ke atas meja. Ada sesuatu. Dan itu sangat mencurigakan.


“Soalnya tadi saya lihat Mas Sinar peluk Hala. Erat banget kayak pasangan. Jadi, saya mau tanya apa mereka pacaran atau bagaimana.. soalnya.. saya ingin mengenal Mas Sinar lebih lanjut, Lisa…”


Ah. Lisa rasa dia bisa gila detik itu juga.


.........


...🍁...


...Tempat Pelarian; Intermezzo: Pertanyaan...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA OKTAVIA HAMDA ZAKHIA...


...JUDUL: DUDA CASANOVA TERJERAT CINTA GADIS BARBAR...


Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar - bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku. Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba - tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut. Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar - bar yang berhasil menjerat seorang duda Casanova. Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?