Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Sudah Terbiasa; Kebersamaan dan Ajakan ; Rindu



Ruangan yang selalu diam dari teriakan dan hentakkan kaki, khidmat dalam acara penayangan marathon berbagai macam film meskipun itu adalah sesi film horror, kini sudah berganti dengan riuh suara teriakan dan lolongan hanya dari dua orang dewasa bak anak kecil yang bermain dengan emosi penuh dan berbagai umpatan yang menyerang keseluruhan ruangan, memantul di sisi-sisi dinding seolah mereka lupa akan kehadiran manusia lain di sekitar. Waktu yang berputar seolah-olah hanyalah angka tidak penting yang mereka lewatkan. Sibuk dengan gerakan kesana-kemari tanpa lelah dan puas. Ada keseruan dari adrenalin yang terlihat meskipun jika mereka memandang dari mata Lisa yang tanpa menggunakan kacamata VR, mereka adalah seonggok orang tak waras yang berkeliaran dan meraba-raba ruangan kosong dengan controller di tangan mereka.


Disuatu waktu, Lisa yang lelah mengunyah makanan miliknya bersiap untuk pergi ke kamarnya. Dia bosan dengan keseruan yang hanya dilakukan dua lelaki dewasa yang bertingkah agak bodoh di matanya. Niatnya ingin menonton dalam ruang kamarnya dimana itu adalah pilihan terakhirnya saat itu. Namun tanpa disangka, Noren lebih dulu menyadari pergerakannya. Dia tidak paham bagaimana lelaki itu bisa sadar bahwa Lisa hendak membuka kenop pintu dan mencegahnya dengan cepat.


Game berhenti untuk beberapa saat ketika Sinar kehilangan Noren dalam permainan virtualnya. Awalnya lelaki itu mengeluh tentang mengapa Noren tiba-tiba saja berhenti ketika mereka sedang berada di suatu tempat dimana misi mereka hampir terselesaikan dengan sempurna. Tetapi ketika sang kakak mengetahui bahwa Lisa akan memilih pergi dari ruangan, lelaki itu dengan cepat meyakinkan Lisa untuk bergabung dengan mereka.


Ada keluhan di sana-sini ketika Lisa menolak dan Sinar yang menyeretnya ke tengah ruangan, bersebelahan dengan Noren. Sinar benar-benar meyakinkannya untuk bergabung. Seringaian sombong yang lelaki itu perlihatkan adalah apa yang Lisa yakin bahwa kakaknya akan mengagungkan seluruh kepiawaiannya dalam permainan itu.


“Bilang aja lo nggak berani lawan gue, kan?” itu adalah apa yang Sinar elukan padanya. Lelaki itu paham bagaimana menarik sumbu yang benar.


“Aku juga nggak begitu mahir main game ini, Lis. Nggak apa-apa, nanti kita bisa jadi noob berdua. Aku yang bakalan ngelindungi kamu dari musuh!” Noren menambahkan dengan cekikikan. Dia benar-benar sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menggoda Lisa di tiap waktu.


“Dih, gue bisa main! Gue nggak perlu dilindungi! Sini, mana controllernya, gue join!”


Dan dengan itu, mereka bermain tanpa kenal waktu. Lisa bahkan sudah terlalu larut dalam permainan sehingga mereka membentuk satu tim yang baik. Meskipun kebanyakan Sinar adalah yang memimpin dengan Alpino yang berusaha untuk mencoba menyelamatkan Lisa dan bungsu Cakrawijaya dengan hasrat menggebu-gebu dan ceroboh berusaha untuk menyeimbangkan diri antara menyingkirkan Noren dan menghancurkan kawanan musuh. Itu adalah permainan yang menyebabkan polusi suara lebih banyak ketika Lisa menjerit dan kedua lelaki lainnya yang heboh di sana-sini.


Keluar masuk dalam permainan, mereka bahkan dengan autopilot menyemil makanan sembari bermain. Terkadang Lisa merengek karena dia tidak bisa menggunakan senjata dengan baik dan tersesat karena tidak bisa membaca peta hingga Noren yang selalu mencoba untuk menarik emosi Lisa lebih jauh karena daripada menjadi penyelamatnya bahkan di dalam game, lelaki itu lebih cocok untuk disebut sebagai pengganggu.


Ada sekitar satu jam lebih ketika mereka memasuki misi yang lebih sulit dan Lisa mengeluh terus menerus bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan permainan karena itu terlalu sulit untuknya. Dia merengek dan mengatakan bahwa dia tidak akan bermain lagi. Jadi, Sinar menyerah, membiarkan Lisa melakukan apa yang dia mau. Tetapi Noren lebih cepat dari sebelumnya, menyarankan permainan lain yang lebih mudah untuk Lisa mainkan.


Itu adalah permainan memukul kotak sesuai dengan alunan musik yang dipilih. Beat Saber, Lisa membaca dengan keras nama permainan yang terasa familiar di telinganya. Noren mengatakan bahwa itu adalah permaianan yang lebih simpel, dan Lisa setuju dengan cepat. Memilih musik yang ia inginkan, perempuan itu mudah hanyut dalam permainan. Dia bahkan tertawa di satu titik ketidak dia berhasil menyelesaikan satu level sebelum melompat ke level selanjutnya.


Noren dan Sinar memperhatikan dengan tawa dan tatapan sayang. Sesekali mereka berganti untuk mencoba permainan. Dan kemudian, setelah merasa terlalu bosan dan lelah, mereka berhenti.


“Capek banget, padahal mau nonton” Lisa menggerutu ketika dia duduk kembali di sofa, menyebar tubuhnya untuk menguasai tempat lembut itu.


Sinar yang sedang membereskan peralatan dan menyimpannya di box yang sudah dia ambil di beberapa kesempatan saat dia sedang tidak bermain, mengolok adiknya dengan menunjukkan betapa bersemangatnya perempuan itu ketika bermain bersama mereka. Itulah yang menyebabkan perempuan itu cepat lelah.


Noren, yang mengambil duduk di depan Lisa, persis seperti bagaimana mereka dulu menonton Disney bersama pertama kali, menarik salah satu air yang tidak begitu dingin lagi. Hanya basah yang tertinggal di bawahnya menyebabkan noda pada meja.


“Lho, emang awalnya mau nonton apa?” tanyanya ketika dia berhasil menenangkan diri dan mendinginkan tenggorokkannya. Itu agak sakit ketika dia baru sadar bahwa dia mengeuarkan banyak tenaga untuk berteriak dan tertawa dalam permainan yang ternyata menghabiskan lebih dari enam jam ketika dia mengecek waktu.


“Dr. Strange 2. Udah bilang sama Kak Sinar dari semalem tapi dia yang malah ngerusak acara nonton gue” Lisa mengeluh tanpa memberikan jeda setelah pertanyaan.


“Dih, padahal lo juga ikut main dari tadi? Masih aja ngamuk soal acara nonton” Sinar mencibir. Bibirnya bergerak maju untuk mengejek.


“Tapi tetep aja rencara libur gue jadi rusak? Lo penyebabnya, Kak. gue masih kesel sama lo. Lihat aja nanti pembalasan dendam gue gimana!”


“Apaan balas dendam, udah lo lakuin tuh dengan ngosongin dompet gue. Habisin itu makanan, nggak?! Tanggung jawan sama yang lo beli”


“Diiihhhh! Bakalan gue habisin, ya! Lo nggak bakalan gue bagi, Kak! semuanya punya gue!” Lisa beranjak duduk dari posisi berbaringnya. Mode pertengkaran kakak beradik saat ini sedang aktif-aktifnya.


“Habisin aja, habisinnn! Sok kuat habisin segitu banyak makanan”


“Ohhhh! Liat aja lo, kak. Bener-bener, ya. Ngga bakalan gue biarin lo nyentuh makanan gue sama sekali”


“Tapi itu duit gue?”


Sinar berdiri menjulang dari posisinya. Tangannya disimpan di kedua pinggangnya berusaha untuk terlihat lebih kokoh dan berkuasa. Lisa tidak mau kalah, dia juga ikut berdiri dan berkacak pinggang, meniru gerakan Sinar.


“Tapi tadi lo nyuruh gue tanggung jawab? Ini makanan gue?”


“Kalau gitu balikin duit gue?”


Noren yang sejak tadi terhibur melihat pertengkaran yang tidak begitu berarti di antara kedua kakak beradik itu hanya menggeleng. Lelaki itu mengambil kardus nugget dan menggigitnya dengan ekspresi menelaah rasa sebelum menyerukan fakta yang membuat Sinar tertawa terbahak-bahak.


“Ribut aja terus berdua, yang ngeluarin duit pada akhirnya ya, gue”


Lisa terkejut, melotot pada sang kakak sebelum membuat gerakan menyikut kakaknya dengan decihan. Perempuan itu kembali merebahkan dirinya di atas sofa. Awas pada kakaknya yang berjalan menuju ke arahnya dan Noren yang masih santai mengunyah nugget.


“Tadi lo sekongkol sama gue buat porotin Kak Sinar, kenapa malah lo yang bayarin nih makanan, sih?” Lisa mengomel, tetapi dia tetap mengambil paha ayam terdekat yang terlihat menggoda. Noren mengangkat bahunya sedikit acuh, bersandar pada sofa dan meluruskan kakinya yang terasa kesemutan.


“Bucin sama lo, tuh, Dek” celetuk Sinar lagi. Lelaki itu sepertinya tak lelah untuk menggoda sang adik. Lisa memutar matanya malas.


“Diem, lo, Kak”


“Udah, ah. Nggak capek kalian berdua ribut terus? Mending kita nonton aja yang Lisa mau nonton. Biar sama-sama istirahat juga Gimana?”


Noren melirik ke arah Lisa untuk meminta pendapat dan persetujuan. Mengabaikan Sinar yang berada lebih dekat dengan lelaki itu.


“Mau!!” Semangat Lisa kembali membara. Perempuan itu bahkan tidak sadar bahwa dia masih mengunyah sehingga suaranya terdengar teredam dan agak cadel.


Noren terkekeh, begitu sayang dan rindu dengan apa yang disajikan di depan matanya. Delapan hari begitu menyiksa, tetapi melihat Lisa tepat di depan matanya dengan sangat menggemaskan seperti itu membuatnya tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi, beban di bahunya perlahan-lahan menguap.


“Heh, habisin makanan di mulut dulu, Lisa” Sinar memperingati. Dia baru saja ingin menyerahkan tisu pada adiknya tetapi dihentikan oleh kegesitan Noren terlebih dahulu. Sahabatnya itu bahkan memegangn gelas air untuk Lisa ketika perempuan itu agak tersedak disela-sela kunyahannya.


Ada senyum kecil yang ditorehkan sulung Cakrawijaya ketika melihat bagaimana perlakuan Noren pada adiknya. Lelaki itu terlihat sangat manis dalam banyak perhatian yang nyata. Tetapi dia tidak akan melupakan kelicikan yang tak terduga datang dari orang yang sama. Dia akan melihat kedepannya, berjaga-jaga dengan awas apa yang akan dilakukan Noren terhadap adiknya. Dia tau bagaimana perangai Noren dalam memperjuangkan sesuatu. Harapannya adalah satu, tidak ada hal yang harus dipertengkarkan di antara keduanya.


Semoga saja.


“Udah” Lisa berseru ketika dia berhasil menyelesaikan apapun masalahnya. Wajahnya bersinar lagi dengan sangat suka sebelum meraih remot dan membuka Netflix untuk mencari film yang ingin di tontonnya.


Tetapi sayangnya, dia tidak menemukan film Dr.Strange 2 di sana. Alisnya mengernyit bingung. Dia memang tidak melihat jadwal release film yang digandrungi dan baru tiga minggu yang lalu tayang perdana di bioskop. Lisa mengira bahwa Netflix akan segera menayangkannya. Rasa penasaran yang tinggi membuat Lisa sesegera mungkin meraih ponselnya. Mengecek jadwal tayang film yang tidak sempat ia tonton di bioskop.


Jika boleh jujur, dia ingin pergi menonton bioskop bersama dengan Alpino. Tetapi lelaki itu tidak bisa diganggu dalam waktu yang tidak bisa di tentukan. Pekerjaan Alpino semakin banyak dari hari ke hari, sehingga Lisa harus puas hanya dengan menonton dari rumah saja. Tetapi bahkan, dia dikejutkan dengan film yang masih belum bisa rilis di dalam layanan streaming tersebut.


“Gimana? Mana filmnya?”


Noren bertanya, sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengintip ponsel Lisa yang sudah tergeletak tak berdaya di atas kedua kakinya yang bersilang. Ekspresi Lisa perlahan-lahan menjadi muram.


“Belum ada di Netflix” Lisa menggumam dengan sebal. Dia melempar ponselnya ke ujung sofa sebelum membanting dirinya sendiri untuk meringkuk di atas bahan lembut itu. “IH GUE SEBEL???” jeritnya kemudian teredam di atas kulit sofa.


“Tuh, kan, emang bener gue yang pake ruangan ini buat main duluan” Sinar mencibir, tertawa melihat bagaiumana wajah kesal adiknya karena tidak jadi menonton.


“Kak Sinar lo jangan mulai menyulut api emosi gue, ya?!” Dengusnya. Bantal sofa yang berada di kakinya dan menjadi bahakn hentakkan dan tendangan Lisa kini sudah berganti fungsi untuk menghempas di wajah sang Kakak. Sinar hampir tersedak makanannya ketika bantal itu melayang tepat lurus di wajahnya.


“Sukurin!” Lisa mengejek.


“Lo-“


“Aduh, mending lo diem deh, Sinar. Gue capek dengerin lo bikin masalah mulu. Nggak usah godain Lisa terus, kasihan adek lo” Noren angkat suara, tatapannya melayang dengan tajam pada Sinar seolah-olah dia tengah menantang sahabatnya untuk duel karena terus menerus berusaha merusak mood Lisa.


“Bau bucin lo, Ren. Sumpah” Gerutu Sinar. Lelaki itu memilih mundur sejenak sebelum berguling di atas sisa karpet yang berhasil dia amankan.


“Emang” Noren mengaku tanpa malu-malu. Tidak peduli dengan omelan yang dia dapatkan dari Lisa, dia tidak akan menyembunyikannya. Toh, Lisa juga sudah mengetahuinya. Jadi, apa masalahnya untuk menjadi lebih terang-terangan tentang perasaannya?


“Anggap gue nggak denger” Lisa memutar bola matanya malas. Telinganya sudah terbiasa dengan pengakuan Noren sehingga dia tidak terkejut lagi dengan hal-hal seperti itu.


“Padahal emang sengaja biar kamu denger, Lisa”


“Gue nggak butuh??” Lisa mengelak cepat. Mendorong satu jari telunjuk di bibir Noren dan mendorong lelaki itu dengan kekuatan yang tidak dia tahan. Noren tertawa, agak terkejut tetapi Lisa bisa melihat bagaimana lelaki itu menyeringai dengan sangat lebar setelahnya.


“Gemes”


“Sumpah, lo makin ngeri aja. Tambah gila emang” Lisa menggerutu di bawaj napasnya. Dengan cepat dia menarik beberapa jarak yang jauh agar Noren tidak kembali melontarkan hal-hal aneh lagi yang membuatnya mual. Di satu sisi,


“Ini mau nonton, nggak, sih? gue nggak mau, ya, jadi obat nyamuk disini. Cepetan, Lisa. Pilih filmnya sebelum gue ketiduran” Sinar mengomel agak terdengar berbisik. Lelaki itu sudah menutup mata dan terlentang dalam posisinya. Stik kentang mencuat dari ujung bibirnya dan kunyahan halus degan suara sedang makan yang dibuat-buat terdengar setelahnya. Lisa menatapnya tidak terkesan.


“Ini mau nonton. Gue mau pilih yang lain” Memilih untuk mengabaikan beberapa kata yang bisa menimbulkan ketidak-akura diantara keduanya lagi, Lisa mengalah untuk memilih film yang menurutnya cocok untuk meningkatkan moodnya kembali.


Dia memilih Harry Potter untuk kesukaannya dan Sinar langsung mengerang dengan cepat ketika dia melilhat film yang terpilih.


“Duh, sumpah! Lo nggak ada bosen bosennya apa nonton yang ini?”


“Diem” Lisa melotot pada sang kakak. “Ini film gue, acara gue. Jadi jangan ada yang gangguin gue selama film berlangsung”


Sinar mengerang. Dia tidak menyuarakan hal lain, tetapi tubuh yang berguling dan meringkuk di sekitar plushie penguin milik Lisa menandakan bahwa dia lebih memilih tidur daripada menonton.


“Termasuk lo” Lisa memperingati. Perempuan itu menunjuk Noren dengan penuh penekanan pada ujung jarinya. “Jangan coba buat ngusik ketenangan acara nonton gue” Matanya menyipit. Dia bersungguh-sungguh.


Noren mendengus geli. Mengangkat kedua tangannya dalam pose menyerah untuk memberikan keyakinan pada Lisa bahwa dia turut pada perintah. Lisa mendengus, mengambil bentuk penyerahan dari Noren padanya meskipun dia tahu bahwa lelaki itu akan mengganggunya dengan cara apapun.


...…....


Tentu saja, Noren tidak mengganggunya dengan suara. Tetapi lelaki itu mengganggunya dengan lirikan mata dan pergerakkan yang sedikit mengganggu Lisa. Dia bukannya tidak merasa senang dengan bagaimana dia tidak perlu berusaha meraih makanan dan minuman untuk dirinya sendiri ketika dia sedang fokus pada tontonan tetapi mulutnya ingin mengunyah. Noren ada di sana untuk meraih apapun yang dia coba raih dan memudahkan segala akses ke makanan untuk Lisa.


Itu bagus, untuk sedikitnya. Tetapi, dia merasa jengkel dengan bagaimana itu berlangsung. Rasanya agak risih dengan pelayanan bak ratu ini. Dia memang suka dilayani, tetapi entah mengapa dengan Noren itu hanya mengiritasinya karena hal-hal itu terlalu berlebihan dan terkesan intim. Noren juga terkadang membenarkan posisi duduknya agar dia bisa menarik selimut Lisa menutupi kulit yang terbuka yang bisa Noren raih. Mencoba untuk membuatnya lebih hangat dalam suhu ruangan yang rendah.


Baik. Hal itu juga sebenarnya mengganggu Lisa lebih dari apapun. Dan jangan lupakan bahwa lelaki itu sama sekali tidak fokus pada film yang berlangsung. Tatapan mata Noren jatuh padanya setiap waktu. Lelaki itu bahkan tidak malu untuk menunjukkan bahwa dia sedang menatap. Lisa mendengus ketika Noren tersenyum padanya sebelum memberi isyarat bahawa dia harus menaikkan lagi selimut hingga ke bahunya agar dia tetap terjaga dalam hangat.


Sinar sudah terlelap di awal-awal film bermain. Jadi, Lisa semakin merasa bahwa dia hanya ditinggalkan berdua saja dengan Noren. Itulah mengapa apapun yang lelaki itu berikan perhatian berlebih padanya sungguh terasa. Perlakuan Noren membuat kulitnya menyengat. Benar, dia sudah terbiasa dengan Noren, tetapi dia tidak terbiasa dengan perhatian yang berlebihan setelah selama seminggu hilang begitu saja.


“Oke, cukup”


Lisa angkat suara. Itu bahkan bergema di ruangan yang lebih sepi dari sebelumnya. Noren mengangkat alisnya penasaran.


“Lo bisa nggak, sih, nikmatin aja filmnya? Kan udah gue bilang jangan ganggu gue?”


“Aku nggak ganggu?” Berpura-pura lugu, Noren menatapnya layaknya anak kecil yang polos. Meskipun Lisa tahu serigala sedang bersembunyi di baliknya.


“Dih geli banget” tanggapnya cepat. “Serius, Kak. Lo nggak mau nonton filmnya, apa? Jangan ngeliatin gue terus kayak gitu. Gue terganggu banget” keluhnya kemudian. Suaranya tidak begitu ketus, tetapi penuh harapan agar Noren mengerti bagaimana dengan kata-kata di larang mengganggu yang telah dia kumandangkan tidak lama sebelumnya.


Noren diam sejenak sebelum tersenyum. Itu terpantul dalam bayangan cahaya yang bersumber dari televisi yang menyala dan film yang berbaik.


“Aduh, terganggu, ya?” Noren berbisik, tetapi tidak lebih kecil dari apa yang disebut sebagai bisikan.


“Gimana ya, Lisa? Aku kangen kamu soalnya. kangen banget” ucapnya dengan penuh percaya diri. Tulus dalam rasa.


Lisa mengerjap penuh kejutan. Tiba-tiba tubuhnya merasa merinding seperti tersengat listrik. Dia baru saja ingin berkomentar ketika Noren kembali berucap,


“Karena aku kangen, aku liatin kamu. Aku perhatiin kamu. Dan karena aku kangen, kamu harus mau aku ajak untuk keluar nanti malam”


“Hah?”


“Habis makan malam, kita kencan berdua. Aku nggak terima penolakan” Ada gelengan tegas dari Noren seolah-olah dia sedang mentitahkan perintah atas dasar kekuasaannya.


Rahang Lisa jatuh dalam ketidakpercayaan. Wajahnya membentuk ekspresi aneh.


“Seharusnya gue nggak lupa seberapa gilanya lo, Kak.” Dengusnya. “Emang lo siapa yang bisa ngatur gue harus ikut sama lo? Gue nggak mau??”


Noren berdecak. Dia menghambil gelas terdekat. Mengisinya dengan soda dalam jumlah sedikit dan mengaduknya seperti halnya dia mengaduk wine mahal. Lisa memperhatikan dengan tidak terkesan. Lisa baru saja ingin mengomentari gelagat anehnya Noren sebelum dia dibungkam dengan pertanyaan lain yang membuatnya ingin menyadarkan Noren dari banyak imajinasi tidak waras di dalam kepala anehnya itu.


“Emang kamu nggak kangen aku?”


Oh, andai saja Noren tahu bahwa Lisa berpesta ketika dia tidak ada disekitar perempuan itu.


.........


...🍁...


...Sudah Terbiasa; Kebersamaan dan Ajakan ; Rindu...


.........


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya Mom Al, nih! Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA MOM AL...


...JUDUL: HASRAT SEPUPU ( Penghianatan )...


Sifat iri dan dendam adalah sifat yang harus di hilangkan, sebab bisa jadi akan membawa Boomerang untuk kehidupan kita nanti nya. Seorang gadis cantik yang sangat iri dengan kehidupan kakak sepupunya tega mencelakai sang kakak supaya bisa menikah dengan calon suami kakak nya itu.


"Aku akan menggantikan nya menikah dengan Leon," ucap gadis itu licik "Tapi aku tidak mencintaimu !!" bentak Leon marah dengan menatap tajam gadis tersebut. Meskipun Leon menolak untuk menikah dengan gadis yang tidak ia cintai, namun seluruh keluarga mendukung ide konyol gadis yang ingin menggantikan kakak nya itu karena ingin menyelamatkan nama baik keluarga mereka.


Apa yang akan terjadi selanjutnya ? Apakah rumah tangga Leon dan gadis itu akan berjalan mulus ?



Selamat membaca 🥰