
“Kenapa lo ngeliatin gue mulu dari tadi, sih, Al?”
Itu adalah siang hari ketika Lisa baru saja selesai melakukan bersih-bersih rumah dan baru saja menjemur baju yang kemarin belum kering sepenuhnya karena hujan deras yang tiba-tiba menerjang. Sekitar jam dua siang, Alpino tiba-tiba saja mengiriminya pesan agar segera bersiap-siap tanpa konteks. Ketika Nalisa meminta jawaban kemana dia harus pergi untuk menemani sahabatnya itu, lelaki itu sudah berada di depan rumahnya dengan klakson yang dibunyikan berkali-kali, membuat Lisa kelabakan untuk segera berlari menghampiri lelaki itu.
Jujur saja, dia panik karena belum melakukan persiapan apapun. Tentu saja, dia baru saja mendapatkan pesan agar segera bersiap dan meminta jawaban akan pertanyaan ketika lima menit kemudian kehadiran Alpino tiba-tiba muncul dengan keributan yang akan menganggu tetangga disekitar dengan klakson motor besarnya. Lisa menyumpah serapah Alpino dengan dengungan kesal yang segera ditertawakan lelaki itu.
Nalisa tidak dibiarkan bersiap lebih lama, dia hanya mengenakan baju kebesaran dan celana legging hitam dengan sandal beruang berbulu yang norak. Rambutnya di sanggul menjadi ekor kelinci yang lucu dengan beberapa anakkan rambut mengular berantakkan di sekitarnya.
Mengabaikan protes, Alpino hanya memberikan jaket miliknya, mengatur rambut Nalisa menjadi lebih rapi dengan tawa khasnya yang jahil dan lucu sebelum mengangkat perempuan itu untuk naik di kursi belakang, mengabaikan rontaan berlebih dari Lisa sebelum pada akhirnya memasangkan helm agar perempuan itu menutup mulut yang sejak tadi terus mengumpatinya.
Sukses dengan penculikan yang sedemikian rupa simple dengan sedikit paksaan saat memaksa Nalisa untuk memeluk erat pinggangnya ketika motor melaju mendadak- yang dimana Alpino masih memperhatikan keselamatan perempuan itu-, membuat Alpino tertawa dengan bahagia.
Lelaki itu mengabaikan omelan Lisa dan rengekan sang sahabat sampai ia membawa mereka berdua ke sebuah barbershop yang hanya berjarak sepuluh menit dari perumahan yang ditinggali oleh Lisa. Dimana pada dasarnya Alpino juga tidak ingin membuat Lisa malu jika dia menculik perempuan itu dengan pakaian yang tidak begitu pantas dan disukai oleh Lisa sendiri.
“Pokoknya lo udah ganteng. Yakin sama gue kalau gaya potongan rambut yang gue pilih udah yang paling cakep!” Lisa kembali berucap dengan penuh percaya diri.
Saat ini, Lisa mengabaikan penuh bagaimana penampilannya. Perempuan itu hanya mendekap ponselnya dan juga jaket Alpino yang tersampir di tubuhnya, sedikit membuatnya lebih nyaman daripada hanya kaus panjang yang terasa lebih tipis di udara luar ruangan. Duduk di belakang Alpino yang tengah menyantai dengan abang-abang tukang cukur yang dengan cekatan berusaha merapikan rambut lelaki itu dengan sebagus mungkin sesuai dengan keinginan customer, Lisa masih merasa bingung kenapa sahabatnya itu membawanya dengan tiba-tiba dan memintanya untuk memilihkan potongan bagus untuk rambut lelaki itu.
Jujur saja, ini adalah kali pertama Alpino memintanya untuk menemaninya merapikan rambut apalagi untuk Lisa memilihkan potongan rambut lelaki itu sendiri. Sejak kecil, Lisa hanya akan merasa terkejut dan terpukau ketika Alpino datang dengan gaya rambut baru dan lebih rapih daripada sebelumnya ketika mereka bertemu dan bermain bersama. Jika diingat-ingat kembali, Lisa pernah meminta lelaki itu untuk mengajaknya ketika Alpino ingin memotong rambutnya suatu hari nanti.
Itu adalah permintaan yang sudah lama sekali. Mungkin ketika mereka naik kelas enam sekolah dasar. Lisa tidak pernah terpikir bahwa moment ini akan datang ketika usianya sudah memasuki angka duapuluhan. Mengingat kembali saat-saat itu, nostalgia membuat bibirnya mengangkat senyum kecil ketika nuansa kerinduan yang hangat masuk kedalam relung hatinya.
“Berhenti natap gue begitu, Al. serem banget. Udah gue bilang, yakin sama gue lo bakalan jadi semirip Kenny Austin. Serius nggak pake bohong!”
Lisa kembali memastikan bahwa pilihannya tidak akan mengecewakan Alpino. Masalahnya, Alpino tidak berusaha untuk menyembunyikan bahwa lelaki itu menatapnya sejak awal dia duduk disana. Sesekali, Lisa yang sudah mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya tetap saja masih sadar akan tatapan Alpino yang sama sekali tidak beranjak darinya. Lisa yakin, Alpino pasti sedang meremehkan pilihannya dan takut wajahnya akan berubah menjadi badut hanya dengan satu potongan rambut saja.
Tapi nyatanya, Alpjno hanya tersenyum dengan lebar. Hangat dan konyol yang menjadi satu dimana Lisa rindu melihat hal itu di wajah sahabatnya secara langsung. Diam-diam, dia menyesali hari-hari yang kosong ketika Alpino tidak ada disampingnya untuk menemaninya. Diam-diam juga, dia merasa penasaran apakah Kina yang sekarang tengah menggantikan tempatnya di sisi Alpino merasakan apa yang Lisa rasakan dalam bahagia dan kenyamanan yang selalu dibawakan Alpino dalam setiap keberadaannya.
“Kalau Kenny Austin denger lo ngomong gitu, nanti dia bakalan tersinggung kalau disamain sama gue, Lis”
Penuturan Alpino membuat abang tukang cukur tertawa kecil, dimana langsung disahuti oleh Alpino dengan bercandanya yang lain.
“Jangan gitu, Kak. Mana tau emang sebelas dua belas sama Kenny Austin. Soalnya kan saya yang rapikan rambut Kakak-nya”
“Aduh, Abangnya kenapa jadi ikut-ikutan, nih” Alpino tertawa dengan main-main. “Yaudah kalau gitu, Bang. Keluarin semua kemampuan Abang untuk buat saya semirip mungkin sama Kenny, ya! Kalau nggak nanti abangnya nggak mau saya bayar. Saya kabur aja atas dasar ketidakpuasan pelanggan”
“Siapa takut, Kak! Nanti kalau saya buat semirip mungkin, berarti harganya dua kali lipat dari harga normal, ya?”
“Wah, nggak bisa, nih. Pemerasan itu namanya!”
“Yaudah. Nanti saya bikin Kakaknya mirip Adipati Dolken aja kalau nggak mau”
“Lah, bang, makin ngaco lu”
Lisa tertawa keras. Tanpa sadar ikut dalam pembicaraan untuk mengolok-olok keduanya. Barbaershop yang luas dan memiliki tiga pelanggan selain mereka ikut menimbrung seolah-olah mereka membuka sebuah komunitas kecil yang sedang bersenang-senang.
Cukup lama untuk mendapatkan waktu untuk mereka berdua, ruangan agak sepi saat si ahli potong rambut mengambil sesuatu dari ruang belakang. Ini adalah kesempatan Lisa untuk berdiri dan mendekati tempat Alpino yang kini sedang menata rambutnya. Tinggal menunggu sentuhan akhir maka mereka akan selesai dengan acara potong memotong ini.
Jemari Lisa dengan gemas meraih rambut Alpino yang sudah lebih pendek daripada sebelumnya dan lebih rapi. Wajah lelaki itu juga terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Kantung mata yang sudah terlihat samar kini agak lebih baik daripada sebelumnya. Lisa senang dengan tampilan yang sekarang berada di depan matanya. Dia puas dengan gaya rambut yang dia pilih untuk Alpino.
“Tuh kan, apa gue bilang. Makin keren, kan lo jadinya” Senyumnya mengembang dengan tulus searah tatapan mata Alpino yang masih menatapnya penuh arti.
“Sebenarnya, sih, gue digimanain juga tetap keren, sih, Lis” lelaki itu mengusap dagunya seraya memperhatikan bayangannya di depan kaca. Terlihat lebih rapi dari yang dia harapkan dan lelaki itupun cukup puas dengan gaya barunya.
“Dih, baru sekali aja dipuji langsung besar kepala, lo” memutar matanya, Lisa menoyor kepala Alpino dengan main-main, membuat lelaki itu menjerit seperti anak perempuan sebelum terkikik tidak tahu malu.
“Ya, gimana ya.. emang fakta dilapangannya gitu, sih” Alpino bergumam. Terlihat diam sejenak sebelum matanya kini beralih kembali pada perawakan Nalisa disebelahnya.
Mereka berdua melakukan kontes tatap menatap. Dimana Alpino memperhatikan Lisa secara langsung sedangkan Lisa menatap tampilan mereka berdua, terlebih pada postur Alpino yang kali ini terasa jauh meskipun mereka hanya berjarak satu jengkal dari satu sama lain.
“Lo kenapa tiba-tiba pengen potong rambut, sih, Al? mana sampai ngajakin gue gini. Biasanya juga lo tiba-tiba nongol dengan gaya baru di depan gue” Kali ini, dia menyuarakan rasa penasarannya. Memilih untuk berjalan kembali ke belakang takut-takut abang tukang cukur yang menangani Alpino kembali ke tempat mereka berdua.
Ada hening yang cukup panjang sehingga Lisa ingin bertanya lagi untuk memastikan apakan Alpino mendengarnya atau tidak. Namun, ketika dia hendak mengeluarkan satu kata lain, Alpino menghela napas dengan lembut. Tatapannya kembali pada kedua tangannya yang bertaut di antara pahanya.
“Ya gimana, ya.. selain karena gue banyak kerjaan dan kalau rambut gue gondrong gue jadi rishi, gitu.. tapi..” Lelaki itu mendongak kembali, kali ini melemparkan tatapan yang sulit di baca oleh Lisa dari tampilan kaca yang memantulkan bayangan.
“Tapi?”
Lisa membeo, menantikan pernyataan lebih jauh ketika tukang cukur datang dengan tiba-tiba untuk merapikan sentuhan akhir seninya di kepala Alpino.
“Hm.. apa, ya..” Alpino menyeringai konyol, membuat suasana sebelumnya yang terasa terlalu serius mencair dengan cepat menjadi lawakannya yang khas. Lisa menggerutu, memilih untuk memainkan ponselnya dan tidak terlalu memikirkan keseriusan Alpino sebelumnya.
Semua berjalan dengan lancar hingga Alpino membayar hasil potongan rambutnya. Melakukan beberapa guyonan konyol pada si tukang cukur dan tidak lupa untuk memberikan tips dengan nominal besar yang membuat sang tukang cukur berbinar dan mengucap rasa terimakasih secara berlebihan.
Alpino kembali berbicara ketika ia hendak memasangkan Lisa helm. Bermain di kaitan sekitar dagu, ia berhenti sejenak.
“Lo tau nggak kenapa orang biasanya potong rambut?”
Lisa mengerjap, “Tiba-tiba?”
“Hm.. memang biasanya karena apa yang gue bilang sebelumnya tadi, sih. Tapi ada juga yang potong rambut karena lagi stress…?” dia terlihat bertanya di akhir, membuat Lisa mengerutkan dahinya.
“Lo lagi stress, Al?”
Alpino tertawa dan menggeleng dengan lembut. Satu klik, dia berhasil memasangkan helm dengan sempurna pada Lisa. Mengangkat Lisa dengan perlahan ke motornya sebelum ia sendiri memposisikan diri dengan mantap pada stang motor.
“Hmm.. nenek gue pernah bilang kalau kita potong rambut itu berarti.. melepaskan masa lalu dan melanjutkan hidup yang baru?” dia menghidupkan motornya sebelum melajukan kendaraannya.
“…Move on..”
“Hah? Apa lo bilang, Al?”
Lisa berseru, tidak mendengar apa yang Alpino katakana karena angin terdengar lebih keras di telinganya. Dia mendekat pada Alpino, memeluk tubuh sahabatnya itu dan meletakkan dagu di bahu Alpino guna bisa mendengar perkataan Alpino dengan jelas. Namun, lelaki yang tadinya berbicara banyak, kini hanya terdiam. Lisa melihat dari spion, wajah Alpino terlihat serius, agak aneh.
“Nggak ada” lanjutnya kemudian dengan suara keras.
“Nalisa, lo mau potong rambut nggak? Kali ini rekomendasi dari gue! Kita gantian, oke?!”
Itu satu teriakan dari Alpino ketika lelaki itu mengencangkan laju kendarannya. Lisa menjerit, mengeratkan pelukannya pada pinggang kecil dan bersandar pada punggung kokoh lelaki itu.
Lisa tidak bisa mendaftarkan apa yang terjadi setelahnya, ketika mereka berhenti di salon kecantikan dan Alpino mendorongnya ke satu kursi dimana hairstylist sudah siap dengan peralatannya dan bonus senyum di balik masker wajah kecil itu. Itu banyak percakapan, banyak bayolan aneh dari Alpino yang menggoda Lisa dan bahkan para haistylist muda disana.
Dua jam kemudian, dia melihat Alpino bergerak berdiri di sebelahnya dengan senyuman pepsodent lebarnya dan terlihat bangga dengan apa yang dipantulkan cermin di depannya. Lisa sendiri saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cermin besar itu. Dia tidak yakin bagaimana bereaksi.
“Cantik banget, lo, Lisa..”
Itu ucapan Alpino, penuh dengan binar mata sayang dan ketulusan dari suaranya yang rendah. Lisa menatap tampilannya dengan seksama. Rambutnya yang biasanya menyentuh pinggangnya dan selurus sapu lidi itu kini sudah tinggal seperempat di bawah bahu, masih lebih panjang daripada potongan pendek kebanyakan. Dan tentunya, dengan tambahan gelombang di ujung rambutnya dibuat sedemikian rupa hingga dirinya takjub sendiri.
“Anjing, gue salah. Gue nggak bisa kalau gini…”
Itu adalah bisikan yang membuat Lisa terkejut, agak bingung. Lambat dalam bereaksi, Alpino segera melarikan diri ke luar ruangan setelah berebut untuk mengucap beberapa kata pamitan yang tidak jelas.
“Alpino kenapa, sih, dari tadi?” Lisa menggerutu. “Makin kesini makin aneh banget tuh anak.. apa emang karena stress tekanan kerja, ya?” Dia hembuskan napasnya ketika mengingat hal itu. Alpino adalah pekerja keras.
“Yaudah, deh. Nanti gue traktir boba tuh anak” Kembali dengan riang, Lisa mengagumi pantulan wajahnya di cermin. Dia sangat senang dengan tampilan baru. Tidak menyangka bahwa dia dalam hidupnya akan mencoba gaya rambut seperti ini.
“Oke juga pilihan gayanya si Al…”
Masih mengagumi gaya rambut dan tampilan barunya. Dengan senang hati Lisa mengambil banyak gambar dengan gaya yang berbeda. Menganggumi dirinya sendiri yang terlihat lebih segar daripada yang bisa dia akui sebelumnya.
Baru saja perempuan itu mengagumi diri sendiri, ponselnya yang berada di tangan berdering menampilkan panggilan masuk dari satu orang yang sudah lama sekali tidak dia dengar kabarnya dari hanya bertukar kata lewat panggilan telpon. Dengan terkejut dan sedikit senang, Lisa segera menggeser tombol dial dan menempelkan ponselnya di telinga.
“Mama, apa kabar?”
...…….....
Nalisa tidak tahu dia harus berterimakasih atau apa kepada Alpino yang mengajaknya untuk merapikan penampilan siang hari tadi. Mungkin saja Alpino adalah cenayang karena ketika ibunya menelpon, wanita itu mengatakan bahwa dirinya dan Ayahnya sudah berada di Indonesia dan mengajak Lisa dan Sinar untuk bergabung di acara makan malam keluarga.
Itu adalah satu di bulan biru, alias adalah hal yang tidak mudah dia dapatkan untuk makan malam bersama dengan keluarga lengkapnya di tempat kelahirannya. Dia juga mengakui bahwa dia merindukan Ibu dan Ayahnya untuk hanya sekadar makan malam bersama. Dan kali ini, mereka akan melakukannya.
Nalisa merasa sangat senang. Dia sudah bersiap sejak satu jam lebih lamanya untuk menunggu kedatangan kakaknya yang menjemputnya. Ini juga merupakan pertemuannya dengan sang kakak setelah lama tidak bertemu padahal mereka masih berada di satu kota yang sama. Lisa akan mengomeli kakaknya sementara dia tidak sabar untuk bertemu kedua orang tuanya.
Saat itu sudah pukul tujuh lebih lima ketika suara mobil kakaknya sudah terdengar dari pekarangan. Lisa segera turun untuk melompati kakaknya yang baru saja membuka pintu gerbang. Lelaki itu, jika tidak memiliki refleks yang bagus, mereka berdua pasti sudah berguling di atas aspal karena Lisa benar-benar melompati Sinar seperti Singa yang menerjang mangsanya.
“Aduh, aduh.. lo jangan main lompat-lompat gitu ke gue, dek” Sinar menggerutu, tetapi tetap memeluk pinggang Lisa dengan erat. Takut-takut jika adiknya salah langkah dan terjatuh karena sang adik memakai heels yang tinggi.
“Salah lo, Kak! Kenapa lo nggak pulang ke sini, sih..? gue kangen ngomelin lo, tau!” Lisa menggoyangkan tubuh keduanya ke kanan dan ke kiri, membuat Sinar tertawa dengan gemas.
“Lo, tuh, kangen gue karena pengen ngomelin aja, ya?”
“Pengen ngebabuin juga, sih sebenernya. Gue pengen dibekalin sarapan lagi sama lo” Cemberut, Lisa melepaskan pelukannya dari sang kakak. Menampilkan wajah tersenyumnya yang selebar lima jari pada lelaki yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
“Dih, cari aja assis- lo ganti gaya rambut, dek?”
Sinar yang baru saja ingin menanggapi celotehan Lisa, terhenti dan memilih untuk mempertanyakan hal yang jelas-jelas berbeda di hadapannya itu. Matanya membulat tidak percaya ketika jarinya mulai menelusuri rambut adiknya yang sekarang sudah berbeda.
“Lo tau aja, sih, Kak. Padahal disini agak gelap, loh! Biasanya juga kalau cowok nggak bakalan peka sama gaya baru cewek, nggak, sih? Apa jangan-jangan lo bukan cowok, ya, Kak? Ngaku lo!”
“Sembarangan!”
“Aduh! Kenapa gue ditoyor, sih? Kepala gue asset, tau!” Nalisa menggerutu. Mundur dua langkah dari kakaknya yang dengan seenaknya memukul kepalanya. “Jangan sentuh rambut gue! Kalau di tangan lo nanti rusak! Gue mau kelihatan cantik di depan Mama sama Papa!”
“Iya deh, iya.. maaf. Makanya lo jangan sembarangan ngomong” Sinar meraih kepala adiknya dan mengusap kepala Lisa dengan lembut.
“Siapa yang nggak bakalan notis kalau lo ganti gaya rambut, sih, dek? Lo yang rambutnya biasanya kayak sapu lidi, lurus-lurus gitu sekarang udah ada gelombang kayak polisi tidur. Mana rambutnya nggak sepanjang dulu, lagi. Mata gue masih bagus, ya buat lihat perubahan yang menonjol”
Lisa tersipu. Senang dengan ucapan dan perlakukan Kakaknya yang manis. Dia terkekeh ketika menyadari SInar membandingkan rambutnya dengan benda-benda aneh seolah tidak ada pilihan kata lain yang bisa dia lontarkan.
“Tapi bagus, kan, Kak? Gue cantik, kan?” Memancing pujian, Lisa mendekat pada Sinar untuk mengibaskan rambut barunya. Sinar berdecih sebelum menepuk kepala Lisa dengan gemas.
“Adek gue emang selalu cantik. Jadi nggak usah haus pujian kalau sama gue, dek”
Mendengar penuturan blak-blakan dari sang Kakak, Lisa yang sedikit malu dengan lancarnya memukul dahi Sinar. Yang dipukul mengaduh dan melayangkan tatapan sengit pada sang pelaku.
“Barbar banget, lo. Kalau di puji tuh harusnya makasih. Bukannya main tangan”
“Diem, Kak” Malu, Lisa memilih untuk segera masuk ke dalam mobil milik Sinar. Duduk dengan nyaman di kursi mobil seraya memasang safetybelt dengan perlahan agar tidak membuat kekusutan di dress yang dia pakai malam itu.
Beberapa saat kemudian, setelah Sinar mengunci pagar rumah Lisa, lelaki itu segera masuk ke dalam mobil mengikuti pergerakan Lisa. Lelaki yang memakai jas berwarna biru gelap dengan setelan rapi dan lipatan dasi yang lebih pantas daripada yang sebelumnya mulai sibuk sendiri dengan kendarannya.
“Lo ide dari mana mau ubah gaya rambut, dek?”
Ketika mobil melaju di jalan raya, Sinar kembali bertanya padanya. Lisa yang baru saja mulai mencari lagu apa yang bagus untuk mengisi kekosongan di dalam mobil selama perjalanan mereka bergumam kecil sebelum pada akhirnya menemukan lagu milik Chris Andrian Yang dengan judul What I Think Of. Diam sejenak mendengar lantunan lagu menenangkan, membuatnya memikirkan ulang kejadian tadi siang.
“Sebenarnya tadi karena gue nemenin Alpino buat potong rambut. Terus, dia ngajak gue ganti gaya rambut juga. Ini yang milihin gaya rambut si Alpino, Kak” Lisa tidak tahu bagaimana dia tersenyum ketika memikirkan sahabatnya itu, sebelum dia mulai bersandar pada kursi dan memilih untuk bersenandung mengikuti lagu.
“Alpino juga bilang gue cantik. Jadi gue seneng hari ini. Apalagi mau ketemu Mama sama Papa.. Makan malam keluarga lengakap! Gue seneng banget, Kak..”
Ada seruan terkejut dari Sinar ketika mobil berbelok sedikit dari jalan. Lisa hampir menjerit, melotot pada kakaknya dengan tidak senang. Namun, ketika dia melihat keseriusan yang bersatu padu dengan kesedihan yang tidak bisa disembunyikan dari raut wajah kakaknya, dia memilih untuk diam.
Mengapa hari ini banyak sekali hal yang membuat dia merasa keanehan ada dimana-mana? Apa yang sedang salah disini?
Untuk beberapa saat, ketika Sinar terlihat sudah selesai dengan apapun yang ada di pikirannya itu, sang kakak melihat ke arahnya dengan seksama. Mereka sekarang berada di lampu merah yang panjang dan ramai. Berusaha untuk mengartikan apa yang ingin kakaknya sampaikan lewat tatapan yang diberikan, Lisa tidak dapat menangkap apa itu.
Terutama tidak ketika Kakaknya mulai menuturkan permintaan maaf.
“Maafin gue ya, dek. Gue minta maaf.. gue nggak bisa ngapa-ngapain.. gue nggak bisa..”
“Lo kenapa, sih, Kak? Kenapa minta maaf?”
Sinar menggeleng. Kemudian senyum sedih hadir di wajahnya. Telapak tangan Sinar kembali meraih kepala Lisa dengan lembut. Mengusap sayang dengan sepenuh hati seolah-olah hati Lisa ikut merasakan kesedihan yang dalam dari Kakaknya sendiri.
Lisa menelan, ada apa sebenarnya dengan semua ini?
...🍁...
...Tampilan Baru dan Undangan Makan Malam...
.........
...🍁🍁🍁...
hmmmm... 👀
...Gaya rambut Alpino - Kenny Austin...
...Gaya rambut Nalisa - Krystal Jung...
selamat membaca🥰