
Lisa memperhatikan ketika Hala menatapnya dengan kedua alis yang terangkat. Wajahnya seperti ingin menunjukkan keterkejutan yang coba dia telan setelah pemahaman datang secepat kilat tentang mengapa hal itu bisa terjadi. Untuk sepersekian detik ekspresinya berubah menjadi lebih aneh untuk menggoda Lisa secara terang-terangan.
Bibir perempuan itu membentuk lingkaran sempurna seperti menyuarakan ‘Oh’ pemahaman sebelum tergantikan dengan seringaian tipis yang tahu. Untuk beberapa waktu yang membuat Lisa terkejut kemudian, perempuan itu sudah berada di sisinya dan menyikut pinggangnya dengan kekerasan sempurna sehingga denyutan rasa sakit menyambar secepat kilat di sisi tubuh, membuat Lisa mengerang dan kembali terpental di atas ranjangnya.
Sementara Lisa meringis, Hala sudah cekikikan di sebelahnya dengan kaki terangkat sempurna, saling menyilang dan menekuk dengan wajah yang dia tangkupkan di antara kedua telapak tangannya. Reaksi dimana Lisa sudah paham bahwa anak itu tengah berusaha mengorek informasi darinya lebih detail mengenai keberadaan hadiah dari seseorang yang dijodohkan untuknya secara sepihak.
“Lo kalau penasaran nggak usah pakai kekerasan bisa nggak, La?”
Dari pada meneriaki sahabatnya yang terlalu kelewat antusias, Lisa memilih untuk hanya menenangkan diri sembari mengusap pinggangnya yang masih berdenyut, meski lemah. Dia duduk kembali hanya untuk meluruskan postur tubuhnya menghadap ke arah boneka beruang yang enggan ia sentuh setelah mendapatkannya. Boneka itu masih duduk manis dan tersenyum padanya saat kakinya menapak lantai dingin yang tiba-tiba membuatnya merinding.
“Nggak bisa, soalnya gue antusias banget” Hala menyeringai dengan senang. Suaranya terdengar riang menuntut pengertian. “Bukannya gue kaget kalau Kak Noren ngasih hadiah buat lo, sih, Lis. Udah sering. Setiap hari malah. Tapi kenapa kok hadiah yang ini kayaknya spesifik banget, deh” Dia memuntahkan sesuatu yang tidak ingin di dengar Lisa karena perut Lisa rasanya sudah berputar di dalam dengan perasaan campuraduk yang tidak mengenakkan.
“Spesifik apaan?” Lisa menjawab ngeri. “Cuma boneka ginian doang, La”
Lisa sudah memikirkan ini. Dia tidak ingin hal-hal seperti itu diperjelas ketika dia berusaha untuk menyangkal. Ada perasaan seperti dia sama sekali tidak ingin memikirkan bagian mana yang terlalu spesifik meski hal itu terpampang nyata dan jelas adanya. Dia sudah merasa aneh sebelumnya, tidak ingin hal ini menyeret keanehan lebih jauh lagi.
“Aduh, gimana, ya, cara gue bilangnya?” Hala terlihat berpikir sejenak. Tatapannya jatuh di atas langit-langit kamar dengan jari telunjuk yang berada tepat di bawah bibirnya. “Ini, tuh, kayak sesuatu yang spesial, deh”
“Ngaco, lo”
Lisa melempar bantal ke wajah Hala dengan tidak terlalu menggunakan tenaga. Dia hanya tidak ingin kembali memikirkan bagaimana Noren memberikan boneka itu sebelumnya. Itu hanya boneka yang tidak begitu dia butuhkan karena dia sudah memiliki banyak di rumahnya. Bahkan, beruang bukan salah satu yang dia gemari karena rasanya terlalu umum menurut kesukaannya.
“Serius!”
Suara Hala memecah keheningan kamar, membuat kucingnya mengeong dengan tidak senang sebelum berbalik untuk mencari posisi tidur lain dengan boneka penguin mini milik Lisa masih ada di gigitannya. Hala meringis, dengan cepat dan penuh kasih sayang menepuk punggung kucingnya untuk menenangkan anak berbulunya itu meski sama sekali tidak dibutuhkan.
Dalam berbagai hal yang cepat sekali terjadi, Lisa masih memperhatikan.
“Lo pasti nyadar apa yang spesifik dari hadiah yang ini” Hala melanjutkan sebelum menunjuk boneka itu dengan jarinya dari tempatnya berada. “Lihat, tuh” ada poin yang ingin Hala tunjukkan dengan jelas dimana Lisa sudah memahami hal itu tanpa perlu orang lain tegaskan.
“Bonekanya ada dandelionnya. Kesukaan lo, tuh”
Dan begitu, Hala menunjukkannya dengan terang-terangan. Pernyataan yang diperjelas oleh orang lain membuat kesadaran dan tingkat kepekaannya semakin tinggi. Entah kenapa, dia merasa agak kesal. Bukan dengan Hala, tetapi kepada orang yang memberikan boneka itu padanya.
Jujur, kenapa, sih?
“Iya gue tau, nggak usah diperjelas bisa nggak, sih?”
Matanya yang melotot sebal mengarah pada Hala yang tersenyum seperti dia bisa merobek wajahnya. Lisa menggeleng untuk membuang emosi-emosi aneh yang tiba-tiba muncul sebelum akhirnya mendengus, tidak tertarik.
“Iya, makannya, Nalisaa!” Nada panjang rengekan yang gemas di akhir kata membuat telinga Lisa berdengung. “Ini tuh, spesial. Karena kayak yang gue bilang sebelumnya, gue bahkan belum pernah lihat ini boneka di mana-mana. Aduh, gue aja sampai nggak berani sentuh bonekanya, takut rusak ditangan gue”
Lisa memperhatikan bagaimana kedua tangan Hala terangkat di tengah-tengah mereka untuk membuat pergerakan aneh dari jemarinya. Wajah Hala terlihat begitu cerah dan bersemangat seolah lelah dan kegusaran yang terjadi pertamakali adalah tidak nyata adanya.
“Berlebihan banget, lo” Lisa menahan dirinya untuk melempar bantal yang sekarang berada di pangnkuannya. “Lagian,” dia melanjutkan. “Mungkin lo aja yang nggak pernah survey berbagai macam bentuk boneka. Orang dianya beli di Mall bareng gue, kok. Nggak usah berusaha ngasih ide-ide aneh di kepala gue, La”
“Hah, sumpah?” Hala terdengar terkejut. “Gue penasaran, ih. Coba gue cek, deh”
Lisa membiarkan Hala membuat kegaduhan dengan ponselnya sendiri. Beranjak dari posisinya, dia dengan tanpa sadar berjalan untuk mendekati boneka tersebut. Matanya menatap nyalang pada senyuman boneka beruang putih yang terlihat tulus dan corak dari bunga dandelion cantik yang sebenarnya membuat Lisa suka. Tapi sayangnya, rasa kesal lebih mendominasi. Dan mungkin kebingungan aneh juga ikut menyertai.
“Lo aneh. Males gue sama lo”
Lisa berbisik sebelum memukul kepala boneka itu. Bahannya lembut, sama seperti pertamakali dia memegangnya sebelum dia meletakkan jauh di tempat dimana tidak akan bisa mengganggunya. Sayangnya, diletakkan dimanapun tetap saja, kehadiran boneka itu mau tak mau menarik atensinya seberapa keraspun dia mencoba. Padahal, kehadiran tamu tak bernyawa itu belum genap tiga hari dari pertamakali diberikan.
Lisa berbalik untuk melihat Hala yang sedang sangat fokus pada layar ponselnya. Masih berusaha untuk mencari hal yang menurut Lisa sendiri, sudah sangat jelas adanya. Meskipun, hati kecilnya berbisik bahwa dia juga belum pernah melihat boneka itu sama sekali sebelumnya.
“Gue mau ke belakang dulu, lo jangan tidur duluan” Pamitnya kemudian meninggalkan Hala yang mengangguk dan dengan satu tangan melambai pemahaman padanya, seperti sedang mengusir.
...…....
Ketika Lisa selesai dengan kegiatan menggsok giginya dan mengambil beberapa botol air mineral dari kulkas di dapurnya sebelum pada akhirnya kembali ke kamar tidur, matanya pertama kali melihat Hala yang sudah berbaring dengan posisi yang sama seperti sebelum dia melompat untuk menyadari keberadaan boneka tersebut. Matanya sudah menatap langit-langit kamar Lisa, mengabaikan tampilan kartun yang memang di hidupkan untuk menemani suasana hening saja.
Perempuan itu, dengan kepala yang hanya menyembul dari selimut tebal, menyaksikan bagaimana Lisa meletakkan barang yang dibawanya ke atas nakas. Dia menyadari gelas susu Hala sudah kosong, begitu juga dengan buah strawberry yang hanya tinggal pangkal daun yang disisihkan jauh dari beberapa buah segar disana. Lisa menggeleng geli, dia bahkan tidak sampai sepuluh menit meninggalkan sahabatnya itu, tetapi semua hal yang Lisa siapkan untuknya secara spesifik sudah tidak bisa ditemukan lagi keberadaannya.
“Udah rebahan aja, lo. Udah nemu toko apa yang jual tuh boneka?”
Dari pertanyaan ini hadir, Lisa tidak menginginkan apa yang dipancarkan oleh wajah Hala. Perempuan itu terlihat bersemangat. Anehnya itu tidak ditunjukkan oleh pergerakan tubuhnya, hanya kepalanya saja yang menoleh secara penuh untuk memperhatikan Lisa. Tapi itu disuarakan dengan cekikikan malu-malu yang sadar, godaan yang penuh dari seringaian di wajah perempuan itu. Banyak yang membuat Lisa merinding dari tingkah aneh yang diberikan.
“Sumpah, lo udah kayak setan aja kalau begitu, La. Merinding gue” Lisa mengeluh dengan apatis.
“hehe” Hala tertawa lagi. Namun tawanya kali ini lebih lembut dan tidak cocok dengan godaan yang hadir di wajahnya dan mata yang berbinar itu. “Lo beruntung banget, sih, Nalisa” suaranya kemudian setenang dan selembut helaan napasnya. Wajahnya yang mengekspresikan godaan berangsur-angsur kembali menjadi lebih normal dan tenang.
“Beruntung? Gue?”
Lisa menunjuk dirinya ditengah-tengah dimana dia akan mengikuti jejak sahabatnya untuk masuk ke dalam selimut. Mengabaikan kebingungan yang tiba-tiba, dia memilih untuk segera bergelung dalam selimut dan mendengarkan apapun yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu.
Hala agak berbeda malam ini. Dia banyak menunjukkan sesuatu yang membuat Lisa sepenuhnya penasaran, namun tidak bisa dia tempatkan apa-apa untuk menjawab apapun yang sedang terjadi.
Lisa melirik untuk menemukan Hala yang mengangguk, kali ini dia berbalik untuk menghadap Lisa sepenuhnya, masih dengan hanya kepala yang muncul dari balik selimut. Lisa bisa membayangkan pergerakkan tangan Hala yang memeluk dirinya sendiri dari balik selimut tebal yang tak bisa dilihat oleh mata.
“Gue udah cari toko mana yang jual boneka kayak yang Kak Noren kasih ke, lo. Tapi nggak ada yang spesifik sama, bahkan beda banget.”
Hala menarik senyumannya untuk membentuk garis aneh bibirnya yang membuat Lisa semakin kesal karena banyaknya jeda dalam percakapan. Memahami bagaimana ekspresi jengah Lisa yang tiba-tiba, Hala kembali melanjutkan ucapannya dengan tergesa-gesa.
“Tapi tadi, pas gue mau close tab pencarian gue, gue ngeliat satu yang sama persis kayak boneka itu. Rupanya, itu boneka nggak dijual bebas, itu boneka yang dibuat berdasarkan request pelanggan. Di tokonya juga bilang mereka buka request boneka. Nggak harus beli banyak, tapi bisa beli satu dengan syarat minimal ukuran boneka”
“Dan lo tau? Mereka nggak bakalan buat replika boneka request-an pelanggan itu. Jadi, setiap boneka yang di request pelanggan, Cuma ada 1 di dunia”
Lisa terdiam. Napasnya tertahan sejenak ketika Hala menutur sebuah fakta. Jantungnya berdetak cepat dan dia tiba-tiba mulas.
“Lo bilang kalau Kak Noren belinya di Mall, kan? Ini Mall mana yang lo datangin bareng dia?”
Dalam pertanyaan yang tiba-tiba, Lisa menjawab dengan refleks yang sangat cepat, “Square City Mall” bersamaan dengan napas yang dia lepaskan, ada pahit di lidahnya dan keinginan untuk mengembalikan boneka itu kepada pemiliknya sebenarnya pada saat itu juga.
“Nah bener berarti” Hala cekikikan. Dia meraih ponselnya yang berada disebelah kepalanya sebelum menunjukan satu akun sosial media yang mengupload gambar boneka itu di akun mereka. “Ini salah satu brand toko boneka yang buka request. Mereka juga buka di Square City Mall. Lihat, ini boneka yang sama kayak yang duduk di belakang pintu lo itu, kan?”
Mata Lisa memicing, dia meraih dengan cepat ponsel Hala dan memperhatikan. Dalam setiap keengganan yang ingin dia percayai, boneka yang di unggah di akun sosial media itu benar adalah boneka yang sama dengan yang diberikan Noren padanya. Mulutnya terbuka tidak percaya ketika fakta itu dibuktikan secara nyata.
“Gila” Lisa berbisik tanpa sadar. “Beneran udah gila”
“Emang.” Sahut Hala kemudian. “Padahal request satu boneka minimal yang dikasih sama tokonya aja udah keluar duit banyak. Ngeri gue kalau ngeliat boneka yang dia kasih ke lo, Lis. Boneka sebesar itu, budgetnya pasti lebih-lebih.” Tawanya kemudian, menyembunyikan bagaimana dia sedang menghitung berapa banyak uang yang dikeluarkan Noren hanya untuk memberikan sahabatnya itu sesuatu. “Dedikasinya Kak Noren buat bikin lo jatuh hati, udah another level, kayaknya”
“DIH!”
Lisa melempar ponsel Hala dengan tiba-tiba, membuat perempuan itu memekik dan menangkap ponselnya dengan raut wajah terkejut yang kahwatir. Matanya yang bulat semakin membulat lebar hampir sebesar piring ketika dia menatap Lisa dengan horror.
“Kaget boleh, tapi jangan barang gue juga yang mau lo jadiin korban!”
“Ya, Maaf. Habisnya, lo ngomong malesin banget, sumpah”
Dia mengeluh. Membiarkan Hala menjauh dari tubuhnya yang tertimpa karena perempuan itu menyelamatkan ponselnya yang refleks Lisa lempar. Untungnya, ponsel itu tidak berhasil mencapai bagian lantai karena Hala dengan refleks supernya yang entah dari mana berhasil menyelamatkan benda kotak yang hampir jarang lepas dari tangannya.
“Tapi, kan, gue bilang fakta” Hala mencibir. Mengusap ponselnya seperti yang dia lakukan dengan anak berbulunya sebelum meletakkan benda itu jauh dari jangkauan Lisa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi.
“Ya tetap aja. Lo malesin”
Lisa mengelak, meskipun dia tahu bahwa Hala sama sekali tidak bersalah disini.
“Udah, deh. Lebih baik tidur aja sekarang. Gue males ngomongin yang beginian. Capek. Kepala gue bisa pecah kalau mau diterusin. Nggak suka!”
Dengan gerutuan, Lisa memilih kembali menyamankan dirinya di balik selimut. Dia akan tidur. Dia tidak akan memperdulikan hal-hal seperti ini. Tidak ada waktu dan tidak begitu penting untuk memikirkan kenyataan yang sebenarnya dari bagaimana Noren memesan boneka itu jauh-jauh hari secara spesifik hanya untuknya. Lisa tidak peduli karena bukan dia yang meminta Noren untuk melakukan hal itu padanya. Toh, Lisa tidak memilki rasa yang sama pada Noren. Jadi, sebesar apapun Noren melakukan sesuatu, dan sededikasi apapun itu, Lisa yakin dan tidak takut dengan dirinya sendiri dan perasaannya.
Dia yakin, dia tidak akan luluh dan jatuh hati pada Noren. Karena bagaimanapun, perasaannya tidak bergetar seperti itu pada lelaki yang muncul tiba-tiba dalam hidupnya belum lama ini.
“Yaudah, deh”
Hala kembali bersuara. Kali ini perempuan itu beranjak dari posisinya untuk turun dari ranjang mereka. Dia berjalan dengan langkah lambat menuju kamar mandi setelah mengambil tas untuk peralatan menginapnya. Lisa memperhatikan perempuan itu menghilang di balik pintu kamar mandi untuk beberapa waktu.
Lisa ditinggalkan dengan pemikirannya yang melanglang buana. Dia tiba-tiba memikirkan banyak hal yang diberikan Noren padanya. Bagaimana lelaki itu selalu mendapatkan apa yang dia sukai dan bagaimana selalu ada hadiah untuknya setiap hari tanpa bosan. Laki-laki itu juga beberapa kali menyempatkan datang untuk menjemputnya dan bahkan melompat ke acara makan bersama dengan kelompoknya. Bagi Lisa, Noren sama sekali terlalu memaksakan dirinya.
Masuk ke dalam sesuatu yang bukan ranah Noren hanya untuk mengambil hati Lisa, menurutnya itu bukanlah salah satu cara yang bagus. Tidak ada yang bisa dipaksakan, tetapi Noren mengambil langkah itu tanpa memikirkan ketidaknyamanan yang didapat dari orang-orang disekitarnya. Terlebih untuk Lisa sendiri.
Karena dia, sama sekali tidak nyaman.
Dengan segala hadiah dan kehadirannya yang selalu mencoba untuk memanjakan Lisa tentang apa yang Lisa sukai, itu tidak membuat Lisa jatuh hati padanya. Sama sekali.
“Tapi gue ngeliat Kak Noren tuh, lucu banget, loh”
Lisa terperanjat ketika suara Hala kembali masuk kedalam pendengarannya. Dia yakin dia hanya berpikir sebentar, tidak sampai lima menit. Tetapi kenapa Hala bisa tiba-tiba sudah berada di meja riasnya dengan tempat cream skincare milik Lisa yang sudah terbuka dan siap untuk dipakai.
Lisa mendengus. Entah Lisa yang berpikir terlalu dalam atau hawa keberadaan Hala sama sekali tidak dapat dirasakan ketika perempuan itu berada di sekitar.
“Lo liat lucunya dari mana, sih? Mata Lo kayaknya perlu di periksa, deh.” Lisa mencibir sebelum dia berbalik untuk menghadap Hala yang kini sedang menerapkan cream pada wajahnya. Hala tersenyum dari pantulan cermin.
“Maksud gue, Kak Noren itu kayak Pinguin Gentoo jantan dalam musim kawin”
“Hah?!”
Shock. Lisa tanpa sadar memekik. Dia sudah mendudukkan dirinya dengan wajah tidak percaya pada sahabatnya yang sedang tertawa sangat lepas sekali.
“Wajah, lo, anjir” Hala menutup wajahnya, punggungnya terguncang akibat suara tawa. “Lucu banget” Tawanya semakin keras. Lisa, dengan wajahnya yang malas dan bibirnya yang ditarik menjadi satu garis tipis bisa melihat bagaimana perempuan itu menutup wajahnya yang sudah memerah karena geli.
“Maksud lo apaaan, sih?” Dia menggeram, menuntut tanya.
“Gue nggak maksud yang aneh-aneh. Percaya sama gue” Suara tawa Hala sudah mereda, tetapi gemetar bahunya belum juga surut. Dia menghela napas setelah beberapa waktu sebelum senyum lucu hadir di wajahnya.
“Maksud gue,” Dia memulai sembari mengusap permukaan wajahnya yang sudah terolesi krim untuk meratakan gel itu kembali di seluruh kulitnya. “Lo pernah baca nggak,sih? gimana penguin di musim kawin?”
Hala memperhatikan ketika wajah masam Lisa terpantul dari cermin. Tidak ingin membuat sahabatnya semakin kesal dengannya, Hala melanjutkan ucapannya saat dia menutup wadah cream yang telah selesai dia gunakan.
“Pinguin Gentoo jantan di musim kawin selalu ngasih hadiah untuk betina yang dia taksir dan inginkan dalam hidupnya. Pinguin itu bakalan nyari batu-batu cantik untuk membuat calon pasangannya tertarik dan percaya sama dia. Itu bukan sembarang batu, tapi penguin itu bakalan nyari batu yang paling halus dan paling sempurna”
Hala tesenyum ketika menjelaskan. Dia beranjak untuk mengistirahatkan dirinya setelah selesai dengan ritual malamnya.
“Pinguin Gentoo jantan nunjukkin kalau dia benar-benar melakukan yang terbaik untuk pasangan yang dia cintai. Dia nggak bakalan mau ngasih hal-hal yang nggak sempurna buat pasangannya nanti. Nggak cuma itu, hadiah-hadiah yang mereka kasih itu nunjukkin seberapa besar cintanya dan usahanya untuk pasangannya dan calon keluarganya kelak mengingat bahwa batu-batu hadiah itu bakalan dijadiin sarang buat mereka”
Ada kekehan lembut sebelum Lisa merasakan pergerakan kasur, dimana Hala kembali menyusup di bawah selimut dimana dia pertamakali memilih posisi dan pada akhirnya menyembulkan kepalanya lagi tepat di sebelah Lisa. Masih dengan cengiran yang tidak lepas dari wajahnya yang sudah terlihat mengantuk.
Lisa diam sejenak sebelum dia memutar mata pada pernyataan Hala. Itu masuk ke telinga kirinya dan keluar dari telinga kanannya. Tidak benar-benar dia tinggalkan dan pikirkan di kepala karena dia yakin, Hala hanya mencoba mencari kata bualan yang mencairkan hatinya.
Tentu saja itu tidak berlaku.
“Nunjukkin rasa cinta nggak cuma dari hadiah aja, ya. Jujur, gue nggak nyaman tentang seberapa banyak hadiah yang dia kasih ke gue. Dan lagi, gue sama dia itu manusia. Bukan penguin. Nggak usah ngomongin hal yang aneh, deh, La”
Hala diam. Mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia lebih memilih untuk mematikan siaran televisi yang lebih terasa mengganggu dari pada menenangkan.
“Tapi dia sempatin waktu buat jemput dan jalan sama, lo? Itu kan bukan cuma hadiah yang mau dia kasih ke, lo. Tapi kehadiran juga”
“Tapi gue nggak butuh sama hadirnya dia di hidup gue” Lisa mendesah. “Gue nggak suka sama Kak Noren, La. Sepanjang dia hadir dan terus berusaha buat nunjukkin diri di depan gue, gue nggak nyaman” jujurnya.
Tentu saja. Meskipun dari seberapa banyak usaha yang Noren lakukan untuknya, Lisa tidak bisa menerimanya. Dia tidak merasa nyaman, seolah-olah pergerakkanya sedang dibatasi. Dia tidak suka, pun, tidak mungkin dia bisa jatuh hati begitu saja. Karena setiap munculnya Noren di sisinya, dia tidak bisa merasa bahwa dia bernapas dengan baik.
Noren hanya orang asing, yang mengacaukan hidup tenangnya.
Jika saja Noren muncul sebagai seseorang yang hanya ingin berteman dengannya, mungkin dia bisa menerima Noren dengan tangan terbuka.
Jika saja.
Ruangan hening. Hala sepertinya tidak berusaha untuk mengatakan sesuatu lagi. Namun ketika Lisa melirik ke arah perempuan itu, matanya masih terbuka dengan lebar. Masih menatap langit-langit kamarnya yang terang benderang. Menghela napas kasar, Lisa bergerak untuk mematikan lampu kamarnya dan menghidupkan lampu kecil yang memunculkan galaxy dan langit berbintang yang menyebar di kamarnya. Membuat ruangan gelap itu menjadi sedikit lebih cerah dengan bintik-bintik putih dan kuning yang menyapa. Mata Hala bebinar suka, sesuatu yang Lisa selalu pastikan ketika Hala menginap di kamarnya.
Ketika dia puas, Lisa kembali untuk merebahkan dirinya. Tidur malam ini sepertinya lebih nyenyak ketika dia merasa bahwa dia sedang tidak sendirian.
...…....
“Lo pernah jatuh cinta, nggak, sih, La?”
Itu di suatu jam di tengah antara pukul sebelas dan dua belas tengah malam ketika Lisa tiba-tiba tidak bisa menghentikan bibirnya dari berucap.
“Tiba-tiba?”
Hala berbisik tanpa menoleh padanya. Untuk keterkejutan Lisa, ternyata sahabatnya itu masih belum terlelap. Mereka mungkin punya banyak pikiran yang sedang mereka hadapi sebagai pribadi.
“Iya” tegasnya sendiri, masih dengan suara berbisik yang lembut.
Hala sepertinya sedang memikirkan sesuatu, dia tidak bermain-main kali ini. Tidak lagi berusaha mengelak dan menjabarkan pertanyaan lain. Dia hanya diam untuk beberapa saat yang sedikit lebih lama dari yang diperkirakan sebelum dia menghela napas lembut yang lain.
“Nggak deh kayaknya” Dia berbisik, agak lebih rendah seperti menyimpan setitik kebohongan lain yang tidak bisa Lisa pastikan itu nyata atau tidak, atau dia hanya setengah mengantuk. “Gue fokus nyari uang buat kuliah adek gue, Lis. Mana bisa gue jatuh cinta sama orang kalau tujuan utama gue bukan buat perasaan gue sendiri?”
Lisa mengerjap. Dia sedikit terkejut mendengar penuturan baru dari Hala.
“Loh? Bukannya yang biayain kuliahnya Asa itu orangtua, lo, ya?”
Hala sedikit terkejut, kelabakan ketika Lisa menuturkan pernyataan. Ada kernyitan bingung di wajah Lisa meski terendam dalam cahaya remang-remang bintang.
“Eh, maksud gue, biaya jajan adek gue. Gue fokus buat manjain adek gue disana. Ringanin beban orang tua gue juga. Biasalah, perasaan kakak yang pengen manjain adeknya gimana. Lo coba deh tanya sama Kak Sinar gimana rasanya”
Meski agak aneh, Lisa mengabaikannya. Mengingat bagaimana Sinar selalu memanjakkannya juga dengan banyak hal. Lisa bisa mengerti, dengan bagaimana kakaknya menjaganya dan apapun yang dia mau selalu dirututi oleh sang kakak. Apapun yang dia inginkan selalu mampu dia dapatkan hanya dari tatapan mata berbintangnya kepada sang kakak.
“Oh, gitu, ya. Paham, sih, gue” Lisa bergumam. Sebelum melanjutkan pertanyaannya dengan hal lain. “Tapi lo beneran nggak pernah gitu suka sama seseorang?” Lisa melempar pertanyaan lagi. Dia mencoba untuk mencari sesuatu yang akan dengan jujur Hala katakan padanya.
“Kalau suka, sih, anak-anak gue di Korea banyak yang gue sukai” Hala tertawa, bercanda dengan nada yang sedikit menyebalkan. Lisa mendengus. Dia baru saja ingin mengucap kata sebelum sahabatnya itu buka suara lagi. “Kalau suka yang beneran, gue nggak tau. Lagian, emang ada yang suka sama gue? Gue nggak pernah perhatian soalnya”
“Lo mau gue bogem atau gue lempar dari lantai atas, La? Omongan lo beneran bikin gue kesal” Lisa menahan emosinya. Ini sudah tengah malam, dia tidak ingin membuat lebih banyak keributan. “Kalau Kak Sinar denger, dia makin gila kayaknya, ya” Lisa menggeleng dengan tidak percaya.
“ih, emang kenapa, sih. tuh, bawa-bawa Kak Sinar lagi. Malesin”
“Kalau ini bukan tengah malam, udah berantem kita sekarang, La” Lisa mendesah, tidak puas dengan kurangnya adegan melukai sahabatnya secara fisik agar perempuan itu menjadi lebih sadar diri.
“Tapi gue tau,sih. Lo lebih perhatian sama Heksa soalnya. Perhatian lo ke dia penuh banget. Gue dulu bahkan sempat ngira kalian pacaran. Tapi waktu gue perhatiin lagi sampai sekarang, gue jadi sadar kalau Lo sama Heksa itu cocoknya jadi emak sama anak. Dia beneran kayak anak lo, sumpah”
Ada tawa yang hadir. Cekikikan yang diberikan Hala padanya. Lisa menunggu agar perempuan itu mengatakan sesuatu, tapi yang dia dapat hanyalah helaan napasnya yang mereda setelah tawa yang dia keluarkan.
“Lagian, lo coba perhatiin yang lain, deh, La. Ada orang yang bener-bener sayang sama lo. Yang benar-benar suka sama lo tapi lo malah nggak bisa ngeliat itu ada disekitar lo dan hadir dekat dengan lo. Semoga lo cepat sadar, ya, La”
Dia sebenarnya tidak ingin memaksa sahabatnya agar melihat kakaknya sendiri. Tapi, dia hanya mencoba sedikit dorongan agar dia tidak merasa frustasi tentang bagaimana kakaknya yang jungkir balik untuk Hala dan sahabatnya itu yang hanya terfokus pada kehidupan Heksa. Sahabatnya itu perlu untuk melihat orang lain juga, bukan hanya sebagai pengasuh lelaki yang sudah bisa berdiri dengan kakinya sendiri dan tidak butuh perhatian 24/7 dari Hala yang merupakan sahabat dekat perempuan itu.
Lisa menunggu gerutuan Hala atas ucapannya. Dia tetap menunggu, tetapi itu tidak hadir. DIa mengira Hala hanya tertidur, dari bagaimana ketika dia melirik, sahabatnya itu sudah memejamkan mata dengan napas yang naik turun dengan tenang.
Lisa baru saja ingin menutup matanya juga, mengikuti sahabatnya ke alam mimpi sebelum pada akhirnya Hala membuka suaranya untuk bertanya.
“Kalau lo? Pernah jatuh cinta, nggak?”
Itu seperti serangan balik. Tapi Lisa sedikit bersemangat untuk bercerita.
“Selama ini, gue belum pernah ngerasa bener-bener jatuh cinta sama seseorang. Mungkin karena hidup gue dilengkapi sama kalian, sama Alpino juga. Hidup gue cuma berputar sama orang-orang yang udah bikin gue nyaman dan dekat sama gue. Yang jagain gue dan ada buat gue selama gue butuh. Jadi, gue selalu mikir kalau gue nggak butuh siapa-siapa di dalam hidup gue selain kalian. Dan terlebih lagi Alpino dan Kakak gue yang sudah lama ada buat gue”
Lisa bernapas tenang. Dia memikirkan bagaimana hidupnya sudah sempurna dengan cara yang baik.
“Tapi gue juga nggak menutup kemungkinan bahwa gue pengen jatuh cinta sama orang lain. Gue pengen punya perasaan dan kisah romansa remaja yang kayak di drama atau di novel-novel yang gue baca.” Dia tertawa dengan manis, sedikit malu karena dia terdengar seperti anak usia belasan tahun.
“Kayak yang lo tau, meski gue kedengaran childish banget, tapi gue pengen ngerasain itu dan sampai sekarang, gue belum nemu cerita itu di dalam hidup gue” paparnya kemudian.
“Gue yakin seratus persen gue belum pernah jatuh cinta. Tapi kalau suka atau kagum sama orang lain, gue pernah” Lisa tersenyum, membayangkan satu orang yang dulu ada di sisinya untuk tahun-tahun yang singkat.
“Oh, dia, ya?” Hala berkomentar.
“Iya. Kakak kelas gue yang di Jepang itu. Kak Nikimura Satou. Gue dulu kagum banget sama dia waktu ngeliat dia latihan basket di taman rumah. Pertemuan kita ya, biasa-biasa aja soalnya dia notice gue dan ternyata kenal sama Kak Sinar.”
Hala mendengarkan dengan senang. Dia sudah tahu cerita ini dari bagaimana Lisa memberitahukannya ketika mereka hanya berkabar dari panggilan telpon larut malam dan video-call yang tidak bertahan dengan lama.
“Cinta sama kagum, beda jauh, kan? Jadi, setiap kali gue bareng kak Satou, yang gue rasain ke dia pure kekaguman semata. Dia orangnya ganteng banget. Gue nggak bohong. Dia juga baik sama gue. Dia pintar foto, dia juga pintar basket. Anaknya rajin dan gue yakin dia bisa jadi panutan terbaik buat gue selama gue sekolah di sana”
“Awalnya gue kira gue beneran jatuh cinta sama dia. Tapi ternyata, waktu kak Satou nembak gue, gue nggak ngerasain apa-apa selain kekaguman semata. Gue nggak suka dia dengan cara dia suka sama gue”
Ingatan Lisa menjelajah ke waktu-waktu ketika dia bercerita. Bayangan lelaki itu hadir di benaknya dengan cara yang baik dan hangat. Jantungnya tidak berdebar dengan cara seperti rindu, dia hanya suka dengan bagaimana cara dia mengingat ingatan baik selama masa sekolahnya di Negara yang membuatnya selalu rindu rumah tempat dia di besarkan.
“Sayangnya, karena kak Satou patah hati, dia jadi jauhin gue gitu aja. Gue rasanya kehilangan kakak kedua gue. Mau sedih, tapi gue juga ngerasa nggak enak”
Hala mengangguk. Dia bisa merasakan dari pergerakkan selimut yang mereka bagi.
“Ya, jadi, gue belum ketemu sama pangeran kuda putih gue”
Lisa terkekeh. Harapannya masih membuncah tinggi sebelum kembali di jatuhkan dengan kehadiran sosok yang mereka bicarakan beberapa waktu lalu.
“Tentang Kak Noren,” Dia berbisik. Tidak yakin untuk mengatakan apa. “Gue yakin, dia bukan pangeran kuda putih gue, La” dan kemudian, ucapan itu terucap bagai seluncuran yang halus. Begitu licin sehingga tidak ada batasan yang mengganjal.
Karena itu adalah kejujurannya semata.
“Tapi ada yang gue bingungin soal dia”
Hala bergerak, penasaran ketika Lisa kembali bersuara dan membicarakan tentang Noren. Tangannya menunjuk ke arah boneka beruang putih. Hala menarik diri sejenak, mengambang untuk mengikuti arah jari Lisa sebelum pemahaman muncul dan dia berbaring lagi dalam kenyamanannya.
“Apa?”
“Gue kayaknya belum pernah sama sekali bilang ke dia kalau gue suka atau terobsesi sama dandelion. Gue udah tanya sama Kak Sinar Juga apa dia yang ngasih tau ke Kak Noren. Tapi Kak Sinar bilang dia nggak ngasih tau. Dia malah bilang kalau gue yang ngomong langsung sama Kak Noren”
“Hm?”
“Kalau boneka yang dia kasih ini emang beneran boneka yang dia request, berarti dia tau dong kesukaan gue secara spesifik. Tapi sekali lagi, gue nggak pernah inget pernah ngasih tau ke dia, tuh?”
Hala mengerjap, sedikit tertarik ketika rasa kantuk hampir terbasuh sempurna dari matanya.
“Lupa kali lo? Lo pernah ketemu nggak, sih, sebelumnya sama Kak Noren?”
Lisa berpikir sejenak. Tapi nyatanya tidak ada yang bisa dia ingat untuk kesukaannya, jadi dia menggeleng.
“Kayaknya gue ketemu kak Noren waktu dikenalin sebagai calon suami gue, deh, sama Kak Sinar”
…. Iya, kan?
.........
...🍁...
...White Bear Dandelion Doll dan Pembicaraan Tengah Malam Part.2 - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo ada rekomendasi novel keren novel keren karya kak Ummi Asya, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA UMMI ASYA...
...JUDUL : AKULAH MALAIKAT PENOLONGMU...
Alisa adalah gadis biasa yang berwajah jelek dan cacat. Dia juga mempunyai saudara kembar bernama Alena yang rupa dan wataknya berbeda dengan Alisa. Karena suatu kejadian sewaktu masih kecil, wajah Alisa jadi cacat dan jelek. Semua teman kampusnya tidak ada yang mau berteman dengannya, namun Alisa selalu percaya diri meski berwajah jelek, meski perlakuan ibunya selalu berbeda jauh padanya di banding kembarannya yang berwajah cantik. Apakah Alisa bisa merubah dirinya menjadi cantik, setelah dia bertemu dengan Richard sang bintang kampus? Bagaimanakah jadinya jika Alisa benar-benar berubah jadi cantik
Selamat membaca🥰