Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Hari Baik; Percakapan Santai Yang Tidak Terduga Part 1



Lisa tidak tahu persis apa yang harus dia katakan tentang beberapa hari kedepannya. Masih dalam dua hari berselang, Kakanya terlihat sangat murung. Lelaki itu bahkan tidak bercanda seperti dirinya yang biasa. Lisa sudah sering melempar tanya, bahkan menggodanya tentang betapa terlihat menyedihkannya sang sulung Cakrawijaya itu. Tetapi yang dibalas Sinar adalah dengan senyuman lelah yang tak sampai ke matanya dan menanggapi candaan hanya dengan usakan lembut dikepala Lisa sebelum lelaki itu kembali ke dalam ruang kamarnya yang terkunci.


Lisa bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Perempuan itu mengira bahwa Sinar hanyalah bertingkah seperti bayi besar karena suatu hal yang mengganggu kepalanya. Mungkin tentang pekerjaan dan eval yang harus sempurna untuk closing bulan ini. Mungkin juga tentang hubungannya dengan Hala seperti yang terjadi sebelumnya. Tapi sepertinya masalah kali ini terlihat lebih berat membebani kedua pundaknya.


Uring-uringan adalah apa yang Lisa rasakan dalam dua hari itu. Dia bahkan juga berubah menjadi sensitif karena Kakaknya yang tak juga menunjukkan keadaan baik-baik saja. Lelaki itu seperti menghadapi batu besar karena Lisa tidak pernah melihatnya jauh seperti apa yang dia rasakan sekarang.


Pekerjaan membuat Lisa juga stress. Terkadang, perhatiannya terbagi menjadi dua. Untuk kakaknya dan juga beberapa berkas yang harus dia siapkan resume nya. Belum lagi ketika dia harus meluncur ke lapangan untuk melakukan analisis sample furnitur baru yang akan mereka tambahkan dalam produk penjualan awal bulan. Sungguh melelahkan, tetapi yang membuatnya lebih tertekan adalah ketika dia menemui rumah yang gelap dan Kakaknya yang tidak kunjung keluar dari kamar. Sungguh membuatnya sakit kepala.


Dia ingin melakukan sesuatu untuk Kakaknya, tetapi dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Noren selalu mengatakan bahwa Sinar baik-baik saja dan lelaki itu akan pulih dalam hitungan waktu. Sulung Giovano itu menyuruhnya untuk tetap menunggu. Berjanji padanya bahwa Sinar hanya butuh waktu sejenak karena pekerjaan yang menguras tenaga. Noren bahkan berani bersumpah bahwa Sinar akan segera mengajak Lisa bersenang-senang setelah dia selesai.


Lisa cemberut memikirkannya, dia hanya berharap bahwa kakaknya baik baik saja dan tidak sedang berada dalam masalah. Dia sungguh berharap untuk bisa mempercayai Noren lebih banyak tentang hal ini. Butuh tiga hari lebih banyak yang terasa begitu lama untuk menunggu sang Kakak keluar dari kepompong anehnya, Lisa akhirnya bertemu dengan keceriaan sang kakak yang biasanya.


Lelaki dengan senyum manis lebar dan lesung pipi dalam itu tiba tiba saja berada di dapur dengan bau lezat masakan yang Lisa akui bahwa dia sangat menyukainya. Memakai celemek dan dengan tangan yang memegang spatula, Lisa segera berlari memeluk yang lebih tua.


Bukannya Lisa terlalu berlebihan dengan bagaimana dia menanggapi Sinar, tetapi dia sungguh belum pernah melihat Sinar dalam balutan kegelisahan dan kemuraman dalam tingkat hitungan hari. Seperti yang dia katakan, Kakaknya sudah pernah menjadi bayi besar yang harus dia tangani dalam permasalahan cintanya maupun sisi kekanakkannya, tetapi tidak pernah seperti yang saat ini. Untuk itulah, ketika dia melihat senyuman manis yang dia kenali, Lisa segera melompat untuk bersandar pada tubuh tegap sang Kakak yang terbentuk di bawah lipatan pakaian dan celemek rumahan yang sering Lisa pakai.


Semuanya baik-baik saja ketika Kakaknya mulai melempar lelucon aneh tentang mie yang sedang dia masak. Berkomentar tentang bentuk telur setengah matang dan filosofi anehnya tentang apakah lebah sedih ketika kerja keras mereka menghasilkan madu tiba-tiba saja dicuri oleh manusia yang menginginkan manfaat manis substansi itu saat sedang mengoleskan beberapa selai madu di atas roti gandum yang dia siapkan untuk camilan pengganjal perut di dalam kotak bekal makan siang Lisa.


Karena Kakaknya telah kembali seperti sedia kala, perasaan Lisa juga semakin terangkat menjadi lebih lega. Ketika mataharinya kembali, pantulan cahaya itu sangat menyengat sehingga membakar semangat Lisa untuk sisa hari itu. Dalam berbagai banyak canda tawa yang ia bagi di pagi hari bersama sang Kakak, Lisa berhasil menangani berbagai macam keluhan akan tanggung jawab pekerjaan berlebih yang sedang ia emban. Bersyukurnya, itu tidak dua kali lipat lebih banyak mulai hari ini karena dia tidak harus memikirkan masalah apapun yang terjadi pada Sinar.


Untuk itulah, senyumnya hari ini melekat seperti ditarik dan direkatkan oleh lem sehingga wajah lelahnya masih terlihat lebih ceria daripada sebagian karyawan lain di tempat kerjanya. Dan tentu saja, tanpa menggubris bagaimana Jelita selalu menempelinya lebih banyak akhir-akhir ini untuk menanyai tentang sang Kakak, Lisa tidak merasa aneh lagi tentang hal itu. Meskipun perasaannya meraung dalam rasa senang yang berlebih karena orang yang dikaguminya memiliki interaksi lebih banyak bersama dengannya akhir-akhir ini, hati kecilnya selalu memperjelas bahwa ketidakmungkinan antara Jelita dan Sinar sudah tercetak dalam untaian huruf kapital dan font terbesar yang terpampang nyata.


Rasa bersalah tentu saja ada, tetapi dia juga tidak bisa untuk mengabaikan Kepala Divisinya yang rupawan itu dalam banyak percakapan manis yang mereka berdua bagi. Setidaknya, Jelita tidak mendesaknya untuk mendekatkan mereka berdua. Bisa-bisa, Lisa akan menjadi lebih stress daripada apa yang seharusnya. Sebenarnya itu bukan menjadi permasalahan untuk Lisa seorang karena Jelita jelas memberikan sinyal bahwa dia hanya ingin mengenal Sinar secara lebih jauh dari hanya berbicara dengan Lisa saja dan tidak menunjukkan keharusan dan paksaan untuk Lisa melangkah lebih jauh mencomblangkan mereka berdua.


Menjauh dari hal-hal mengenai kisah cinta Kepala Divisinya, Kakaknya dan juga sahabatnya, Lisa memilih untuk fokus pada bagaimana janji dan sumpah Noren bekerja. Kakaknya mengajaknya untuk bermain game pada sisa hari setelah dia pulang kerja. Mengusulkan untuk mereka berdua mengambil makanan luar dan pergi piknik di malam hari di sekitar danau kecil yang banyak sekali di kunjungi keluarga. Mereka menggelar karpet bulu kecil di sekitar danau dan menikmati makanan cepat saji yang mereka beli di sepanjang perjalanan.


Lisa tidak ingin merusak suasana jika dia memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang apapun yang terjadi pada Sinar, untuk waktu ini, dia memilih mengabaikan pahit penasaran dan memilih untuk bersenang-senang.


Piknik mereka tidak lama di sekitar danau itu, memutuskan untuk memperpanjang malam, Sinar mengajaknya untuk berjalan-jalan ke sebuah pasar malam dan membelikannya banyak aksesoris lucu yang mereka temui. Tentu saja dengan diam-diam memilih yang lain untuk lelaki itu berikan pada Hala. Bukannya Lisa tidak tahu dan tidak menyadari hal itu, sang bungsu Cakrawijaya memilih diam dan mengamati dengan perasaan hangat bagaimana Kakaknya menyalurkan rasa kasih sayangnya untuk orang lain yang juga menempati hati lelaki itu.


“Kenapa senyum-senyum gitu, deh, Dek? gue ngeri liat lo, ih. Kesurupan lo?”


“Dih, kalau gue kesurupan gue nggak senyum-senyum dong kak, yang ada gue pasti meraung aing maung! Gitu”


“Bisa aja lo, kuntet”


“Apaan dah kuntet artinya, Kak?”


“Nggak tau, asal nyebut aja gue, mah”


“Dih, nggak jelas”


“Biarin. Yang penting gue seneng. Yaudah ayo kita ke stan mancing ikan. Gue mau coba nangkap ikan yang warna hijau belang oren”


“Emang ada ikan warna begitu? Setau gue gaada deh, Kak. Halu lo ya?”


“Ada, Dek. tuh, liat disana, abangnya lagi natain ikan ikannya”


“Itu mah mainan pancingan bocah, Kak Sinar!!!”


Tawa malam itu, adalah sesuatu yang membuat Lisa menghargai hubungan saudara yang mereka bagi berdua. Meskipun terkadang mereka sering bertengkar satu sama lain dan Kakaknya telah membawanya dalam lingkar perjodohan yang sedang berusaha semaksimal mungkin dia hidari, bagaimanapun, kebersamaan dengan sang Kakak adalah apa yang selalu dia dambakan sejak kecil. Sekarang, dia memiliki waktu terbanyak untuk terus berada di samping Kakaknya. Dan dia senang bahwa keputusan Sinar untuk bekerja di wilayah yang sama dengan kehadirannya adalah yang terbaik yang bisa Lisa harapkan.


......................


Malam berlalu begitu saja. Lisa tidak ingat bagaimana dia berakhir di atas kasur lembutnya ketika hal terakhir yang dia ingat adalah dia berbaring bersebelahan dengan sang Kakak di ruang santai setelah canda tawa dan lelucon yang mereka lemparkan satu sama lain. Ah, pastilah Sinar yang mengangkatnya ke kamar agar Lisa memiliki tidur yang lebih nyaman. Meskipun begitu, Lisa panik ketika terbangun dan menemukan bahwa dia tertidur melewati waktu dimana seharusnya di bekerja.


Berlarian untuk bersiap, Sinar sudah berada di depan pintu kamarnya dengan senyuman lebar dan agak licik dalam sinyal aneh yang coba dia bagi. Kacamatanya melorot ketika dia tertawa dan menunjuk rambut bangun tidur Lisa yang gimbal seperti singa. Lisa cemberut dalam ketidaksukaan yang geli.


“Diem, lo” sungutnya cepat sembari merapihkan rambut tebalnya. “Daripada ngejekin gue, kenapa lo nggak bangunin gue, Kak? sumpah, gue udah telat banget ini buat ngantor” decakan panik yang mulai mengisi kesadaran membuat Lisa kembali bergerak untuk meraih handuk dan mengikat rambutnya. Ia putuskan untuk keramas nanti sore saja setelah pulang kerja. Sekarang, dia harus mengejar waktu dan bersiap untuk dimarahi oleh Leo karena hal ini.


“Udah, nggak usah. Gue udah bikin surat izin lo hari ini, dek” Sinar menjawab dengan sangat santai. Apel di tangannya terangkat untuk menemui seringai geli di wajahnya.


“Hah?” berhenti di pertengahan menyisir rambut guna untuk diikat, Lisa terdiam dengan wajah aneh dan semi terkejut. “Ngapain lo ngizinin gue, Kak? gue nggak sakit?”


“Nggak apa-apa. Biar lo ada waktu istirahat. Semalem kita baru tidur jam setengah tiga pagi kalau lo inget. Pokoknya lo istirahat aja dulu hari ini. Nggak usah kerja” Sinar melambai, seolah-olah dia baru saja menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran.


“Ih, terus gue gimana? Kerjaan gue makin numpuk nanti yang ada. Kak kenapa lo izinin gue, sih, waktu gue lagi hectic nya kerjaan!” Lisa meraung, bibirnya mengerucut sebal. Tetapi di dalam hatinya bersorak keras karena dia memiliki waktu kosong hari ini.


“Dih, bukannya terimakasih malah ngomelin gue. Emang dasar, ya, adek nggak ada baik-baiknya sama Kakaknya” Sinar membuat ekspresi sebal yang lucu di mata Lisa. Senyuman Lisa sedikit tertarik, dia terkekeh dengan bagaimana Kakaknya itu terlihat lebih bocah dari pada dirinya sendiri.


“Yaudah, deh, maafin gue, Kak. Makasih, ya, gue udah di izinin. Sekarang waktunya gue buat istirahat penuh!!” Lisa mengalah, bersorak dengan gelembung kesenangan yang membuatnya tidak sadar bahwa dia sedang menari dengan gerakan paling lucu yang membuat Sinar terbahak di tempatnya.


“Yeu, siapa yang nyuruh lo istirahat penuh? Gue sebenarnya cuma bercanda aja tadi. Hari ini lo pokoknya harus belanja bahan makanan sama peralatan yang udah gue kirim catatan ke hp-lo. Di cek, ya, adek gue yang cantik~”


Sinar membuat wajah aneh yang lucu, mengejek Lisa yang sudah menampilkan ekspresi tidak terkesan dengan apa yang diperintahkan oleh sang Sulung. Melambai, Sinar menghilang dari tempat dia berdiri sebelumnya. Suaranya menyanyikan lagu aneh yang sumbang terdengar, tetapi Lisa menangkap sesuatu yang tidak beres dari seberapa banyak Kakaknya tertawa setelah pergi dari pandangannya.


Mengejek dengan gerutuan tak bersuara, dia meraih ponselnya untuk mengecek list apa saja yang Kakaknya kirimkan. Tetapi, betapa terkejutnya dia ketika melihat tanggalan di hari ini. Sial, dia sedang dibohongi oleh sang Kakak. Apanya yang mengirimkan Izin ke kantor perusahaan tempatnya bekerja ketika itu adalah jelas-jelas merupakan hari Sabtu dan tentu saja, hari libur pertama di minggu itu.


“KAK SINAR, BENER-BENER YA LO BOHONGIN GUE! AWAS LO!!!!”


Jeritan Lisa membawa tawa terbahak dari yang lebih tua. Mengusap wajah, Lisa menggeleng dengan dramatis.


Dan begitulah, pada akhirnya Lisa berakhir di sebuah swalayan besar yang terletak hanya dua halte dari rumahnya berada. Seorang diri dengan hanya troli kecil yang genggamannya sekarang melingkari besi pegangan troli dan gulir ponsel yang menyala pada notes barang apa saja yang harus ia belanjakan.


Untungnya, ketika dia mengamuk pagi tadi, Sinar hanya tertawa dan menyerahkan kartu kredit milik lelaki itu untuk ia gunakan dalam perbelanjaan. Mengakui bahwa Sinar tidak ingin bergabung dalam belanja bersama Lisa karena lelaki itu memiliki perjanjian game bersama Wildan, Sinar mengatakan padanya bahwa dia boleh membeli apa saja yang dia inginkan selain membayar semua barang belanja.


Kakaknya itu pasti bodoh karena memberikan kebebasan bagi Lisa untuk mengeruk semua uang yang berada disana. Balas dendam karena mengerjainya pagi-pagi adalah harga yang harus di bayar oleh lelaki itu, jadi Lisa tidak akan mempermudah hal untuk Sinar. Dia akan membalasnya dengan membelanjakan apa yang dia inginkan, disamping kebutuhan, tentu saja.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk mencari barang belanjaan yang tertera dalam list, tetapi butuh satu setengah jam lagi untuk melakukan aksi balas dendam. Lisa memutar swalayan dan memilih barang-barang yang dia butuhkan. Sesekali berhenti untuk mengambil makanan dan minuman yang ia bayar dan santap langsung di tempat yang telah di sediakan. Ah, dia merasakan betapa indahnya hari Sabtunya berjalan. Tanpa gangguan dari siapapun dan tentu saja, apapun.


Itu sampai dia pada akhirnya bertemu dengan Heksa yang sepertinya sedang mengajak jalan kucing hitam milik Hala ketika dia baru saja keluar dan berjalan tidak jauh dari swalayan. Dengan senyum kecil dan ide yang telah menerjang kepalanya, dia segera menghampiri lelaki yang sepertinya terlihat sangat memperhatikan langkah-langkah kecil kucing yang berputar-putar di kakinya dan meminta untuk di angkat dari trotoar. Barang-barang belanjaannya telah ia kirimkan menggunakan aplikasi ojol khusus pengantaran barang. Lagipula, dia tidak mungkin membawa segunung belanjaan hanya dengan kedua tangan kurusnya.


“Heksa!”


Lelaki yang memakai bucket hat abu-abu itu berbalik, dengan satu masker yang tergantung di telinganya, dia terlihat terkejut dengan kehadirah Lisa. Tetapi, senyum kecil hadir di wajah Heksa setelahnya. Lisa berlari beberapa langkah lebih dekat dan berhenti hanya untuk berjongkok agak jauh dari kehadiran Pipang, sih Kucing hitam. Heksa dengan refleks, ikut berjongkok karena kucing itu menggantung persis di kakinya.


“Kaget gue, Lis. Lo sendirian disini? Habis ngapain?” tanyanya dengan nada yang sedikit aneh, mungkin karena dia sedang berusaha untuk melepaskan Pipang yang melompat ke lututnya dan hampir mencakar wajahnya yang sudah sejajar dan tentu saja, cukup dalam jangkauan cakar kucing jantan itu. Lisa terkikik seraya dengan gemas menarik Pipang ke dalam pelukan brutalnya, membuat kucing itu meraung dan berusaha melompat kesana-kemari.


“Aduh, pelan-pelan, Lisa. Nanti lo kena cakar maut! Itu kucing titisan iblis, beda dengan bapak tirinya” Heksa meringis, mencoba untuk menjauhkan cakar kucing dari wajah Lisa. Perempuan yang diperingatkan hanya tertawa gemas sebelum menenggelamkan wajahnya di perut lembut kucing tersebut dan dengan cepat memberikan satu cubitan gemas pada pipi Pipang sebelum melompat berdiri dan membiarkan kucing itu terdiam dengan raungan meow yang bernada. Seolah-olah dia sedang mengajukan igauan sebal pada Lisa yang mengacaukan ketenangan kucing hitam tersebut.


“Dih, padahal lo sebelas dua belas juga, Sa” Lisa meledek. Perempuan itu tertawa ketika melihat wajah tidak terkesan milik Heksa.


“Udah nggak usah memberikan ekspresi bahagia gitu, mending gue temenin deh ajak jalan-jalan si Pipang. Baik, kan, gue?” Lisa mengangkat kedua alisnya dalam sedikit candaan yang dia lemparkan. Heksa memutar bola matanya sebelum mulai menepuk kecil bokong sang kucing untuk menuruh bola bulu itu berjalan kembali.


“Padahal gue nggak minta?” Heksa menyahut, tetapi tetap membiarkan Lisa berjalan bersama di sebelahnya. Dengan senang hati, Lisa mengikuti.


“Yaudah, gue maksa kalau gitu” Jawabnya riang. Lisa, menyodorkan tangan untuk meminta tali kekang yang Heksa pegang, dan dengan tanpa pertanyaan lain, lelaki itu memberikannya secara cuma-cuma.


“Ya, suka-suka lo, deh” respon yang lain ketika lelaki itu kembali mengenakan maskernya dengan benar.


“Ini lo sendirian? Kenapa lo yang ajak jalan Pipang? Hala mana?”


Lisa bertanya seraya mengamati bagaimana pipang terlihat seperti menikmati acara jalan-jalan paginya. Kucing itu bahkan mengeong kepada orang-orang lain yang lewat di sekitar dengan nada yang menggemaskan.


“Bagian gue yang ngajak jalan si gembrot bulu hari ini. Jadi, si Hala di rumah lagi ngurusin anak-anak Koreanya. Katanya mau ada comeback sekitar jam setengah dua belas nanti. Lagi prepare dia”


Lisa tertawa. geli dengan bagaimana Heksa terlihat bersungut-sungut pada dirinya sendiri. Wajahnya agak jutek, tetapi itu hilang dalam sepersekian detik ketika dia menggeleng kecil dan seketika mengangguk dalam pemahaman lain. Sudah tidak terlalu asing dengan apa yang baru saja dia kemukakan.


“Buset, jam segini banget preparenya?”


“Nggak tau, tuh. Terserah dia mau gimana, yang penting dia seneng” Mata Heksa sedikit berkerut ketika ucapannya terlontar. Lisa yakin lelaki itu sedang tersenyum di balik maskernya. “Lagian gue juga udah lama nggak ajak jalan Pipang. Agak malu juga gue nggak ngerawat anak tiri gue. Kasihan dia kekurangan kasih sayang bapaknya” ucapnya lagi dengan nada yang terdengar menggemaskan. Lisa menggeleng, agak lucu mendengar bagaimana Heksa memanggil dirinya sendiri sebagai ayah tiri dari seekor kucing.


“Iya deh yang bapak tiri”


“Lo sendiri gimana? Ngapain sendirian jam segini?” Heksa melempar tanya, mengabaikan ejekan Lisa sebelumnya.


“Oh, gue habis belanja bulanan. Kakak gue yang agak stress itu nyerahin semua tugas belanja ke gue dan nggak nemenin gue karena ada janji game sama assisten kerjanya. Agak nyusahin emang tuh orang tua” Lisa mengoceh, membiarkan Heksa tertawa ketika mendengar omelan yang dia keluarkan dengan setengah hati.


“Malah bagus, dong. Lo bisa nilep duit abang lo buat beli yang lo mau. Hitung-hitung payback buat lo yang pergi belanja sendiri, lah”


“Bener banget, lo, Sa! Anjir, sepemikiran. Emang dari tadi udah gue jajanin duitnya. Gue belanjain banyak banyak barang yang gue mau. Rasain tuh, Kak Sinar. Pembalasan dari gue karena udah bikin gue emosi pagi-pagi dan nggak nganterin gue belanja barang dia yang segunung itu!” Lisa mengomel dengan menggebu. Dia tidak begitu sadar ketika Pipang berbalik untuk menatapnya dalam tatapan kucing yang tidak terkesan. “Biar tau rasa! Gue balas dendam!”


Tawa Heksa kembali merekah. Terdengar begitu riang di telinga Lisa.


“Sumpah, ya, lo emang sebelas dua belas banget sama Hala. Emang kalian ditakdirkan banget buat jadi sahabat”


“Oh iya, dong. Pastinya” Lisa memberikan dua jempol untuk Heksa. Bertingkah agak konyol, tetapi Heksa meresponnya dengan baik. Jadi, Lisa tidak merasa geli sendiri dengan tingkahnya.


Mereka mulai dengan beberapa candaan dalam langkah yang mereka ambil. Agak sulit berjalan beriringan sehingga terkadang Lisa harus berjalan di depan agar tidak menghalangi orang lain yang juga menggunakan jalan atau bahkan berada di belakang karena Pipang berhasil memutari kakinya dan membuat jalan yang sedikit lumayan berbeda.


Itu adalah satu langkah ketika mereka melewati tikungan saat Heksa bertanya;


“Eh, Lisa, hubungan lo sama Alpino baik-baik aja, kan?”


Lisa berkedip.


Pertanyaan aneh apa lagi ini?


...Hari Baik; Percakapan Santai Yang Tidak Terduga....


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA UMMU SALAMAH...


...JUDUL: MY LOVE FOREVER...


Kisah seorang pria yang bertemu dengan seorang gadis untuk pertama kalinya, membuat hatinya bergetar. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka kian merekah seperti bunga. Namun, kejadian tak terduga di masa silam membuat mereka harus menghadapi semuanya, terlebih orang yang membenci mereka berdua. Kehidupan di masa lalu masih belum terselesaikan, Cherry harus membalaskan dendamnya pada orang yang telah menghancurkan keluarganya dan kekasihnya