
Itu adalah minggu yang panjang ketika dia kembali ke rutinitas biasanya. Kebahagiaan yang seperti menusuk dirinya dengan bebungaan dan kupu-kupu berwarna seperti deretan krayon yang berlebihan telah usai sudah. Kesehariannya seperti biasa, pun, dia belum menginjakkan kakinya kembali untuk menemui Bubble di calon studio milik Alpino karena sahabatnya itu dibombardir dengan pekerjaan dan untuk beberapa alasan, Nalisa tidak bisa berbicara lebih banyak dengan lelaki itu. Ada banyak alasan yang Alpino kemukakan untuk dirinya dan Lisa diharapkan untuk mengerti tentang kesibukan sahabatnya itu.
Meskipun beberapa bulan ke belakang Alpino sudah sulit sekali ditemui, tetapi sahabatnya itu pasti selalu menyempatkan diri untuk menemuinya dan bahkan bersikeras untuk menjadi ojek pribadi Nalisa (meskipun itu diakui dan dijuluki oleh Alpino sendiri), tetapi kali ini, keabsenan lelaki itu bahkan terasa lebih parah dari sebelumnya.
Ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala Lisa. Memilah momen kebersamaan mereka hari itu tentang apakah dia melakukan atau mengatakan hal-hal yang menyinggung Alpino sehingga lelaki itu, mungkin (tolong digaris bawahi kata ini), mencoba untuk menjaga jarak darinya. Tapi, seberapakalipun Nalisa mencoba untuk menelaah seperti seorang detektif untuk dirinya sendiri, Nalisa tidak merasa bahwa dia melakukan hal-hal aneh sama sekali. Dan tentu saja, pikiran itu segera dia tepis karena Alpino akan berbicara padanya blak-blakan jika memang ada yang salah dari apa yang Nalisa sebabkan.
Memikirkan hal itu, dia merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Entah ini merupakan ketenangan yang terasa lebih damai dalam hidupnya, minggu inipun dia merasa sangat segar untuk menjalani rutinitasnya. Nalisa tahu apa yang membuat harinya terasa sangat cerah dalam delapan hari ini, tetapi dia tidak akan menunjukkan apa itu dan menyebutkannya. Jika saja dia melakukan kedua dari hal itu, harinya yang baik-baik saja akan terbalik menjadi lebih melelahkan dari apa yang seharusnya.
Itulah sebabnya, dia bernyanyi di perjalanan berangkat ke kantor, bernyanyi ketika sedang makan siang bersama dengan Hala dan bernyanyi ketika sudah dipertemukan dengan waktu pulang kerja. Dia juga bernyanyi ketika dia berjalan dengan langkah gembira menelusuri Jalan Surga, dan bahkan dia bernyanyi ketika kakaknya sedang memasak untuk makan malam mereka dengan dia yang menghabiskan sekotak susu kacang hijau dingin yang langsung ia ambil dari kulkas. Milik kakaknya, memang. Tetapi Lisa tahu yang terbaik, lelaki yang lahir lebih dahulu dibanding dirinya itu tidak akan mengomelinya dengan serius.
Lagu yang Lisa nyanyikan kebanyakan adalah lagu random Korea yang sedang viral di beberapa platform sosial media, kemudian disusul dengan 2Minus1 milik Seventeen yang disuarakan dengan semangat membara, bertabrakan dengan lagu milik Got The Beat – Step Back sebelum menyuarakan lagu-lagu koplo dan dangdut lokal yang membuat Sinar menggerutu karena kebisingan yang disebabkan oleh adiknya selama satu minggu yang terlalu panjang untuk kesukaannya.
Sinar pernah bertanya di suatu waktu apakah adiknya itu tengah galau merana, tetapi Lisa hanya tertawa dan melompat ke punggung kakaknya, berteriak keras di telinga yang lebih tua bahwa dia merasa sangat bebas dan bahagia meskipun tidak seperti hari dimana Dandelion Lamp di perkenalkan dan Studio pribadi milik Alpino ditujukkan padanya.
Dalam kebisingan dan rasa berat di punggung akibat menggendong adiknya yang terlalu lengket di malam-malam dimana Sinar memiliki waktu banyak untuk menemani adiknya bersantai atau hanya memasak untuk mereka berdua, lelaki itu terus merasa dibuat takjub dengan keajaiban yang Lisa tunjukan padanya. Adiknya itu bisa bercerita panjang lebar tentang bagaimana lelahnya bekerja dengan senyuman lebar dan gumaman ceria di wajahnya, dan bisa menjelaskan tentang keanehan suatu hal yang ditemuinya dengan ekspresi yang campur aduk dimana terkadang Sinar merasa dia melihat bayangan adiknya yang masih balita dengan segudang tanya penasaran dan banyak cerita yang tidak pernah habis.
Itu di suatu malam ketika Lisa memilih untuk mengumandangkan Next Level ke seluruh ruangan dapur dengan volume penuh sembari mengaduk bahan untuk membuat puding agar-agar, Sinar dengan beberapa peralatan membuat kue cokelat almond sederhana di meja makan yang jaraknya tidak lebih dari tujuh atau delapan langkah lebar menghela napas dengan dramatis karena kelakuan sang adik yang semakin menjadi-jadi. Kali ini dengan gerakan tarian aneh yang membuat Sinar ingin segera menarik adiknya untuk dirukiyah agar perempuan itu bisa lebih waras dari beberapa waktu terakhir.
“Dek, itu suara lagunya di kecilin, kenapa? Beneran lagi patah hati, lo?”
Lelaki itu berteriak di sela suara musik yang bergema. Ada sedikit rasa takut dimana tetangga akan melaporkan mereka terkait kebisingan di malam hari. Mendengar gerutuan sang kakak yang lagi dan lagi disuarakan, Lisa hanya mengeluarkan lidahnya mengejek dengan wajah konyol dan tawa. Bertingkah seolah-olah tidak mendengar apapun yang kakaknya suarakan.
“Dek,serius. Ini kalau tetangga ngamuk sama kita, gue nggak ikut campur, ya?” mohonnya lagi dengan ringisan.
Bukannya Sinar tidak senang dengan tingkah superaktif sang adik, Sinar hanya ingin ketenangan untuk membuat kue. Dia hari ini mendapatkan pekerjaan yang lumayan rumit dengan beberapa dokumen perjanjian yang sedikit berantakkan. Niatnya untuk pulang ke rumah dan memiliki hari santai memasak bersama adiknya adalah satu-satunya yang dia inginkan untuk menghilangkan penat. Tetapi adiknya ini ternyata masih bersenang-senang dengan cara uniknya sendiri.
Lisa, yang cemberut kemudian dengan malas mengecilkan volume musiknya. Tatapannya tajam ke arah Sinar dengan sengaja seperti seorang predator sebelum mengangkat bahu acuh tak acuh dan fokus dengan centong di tangan dan cairan puding yang sedang di aduk merata.
“Udah berapa kali gue bilang, gue lagi seneng dan puas banget. Bukan lagi patah hati. Lo kakak gue tapi nggak bisa bedain waktu gue bahagia dan waktu gue patah hati” Dia berdecak kemudian melanjutkan, “Jangan-jangan kakak jadi-jadian lo, ya, kak? Lo anak angkatnya Mama sama Papa, kan? Kita nggak sedarah?”
“Stress lo, dek, sumpah” Sinar mencibir, tetapi dia lebih memilih fokus pada cokelat dan almondnya. “Besok gue bawa ke Ustad Nurdin buat rukiyah beneran tau rasa lo. Biar setannya pada keluar semua”
“Aduh, jangan dong kak. Nanti lo kebakar kalau gue yang dirukiyah. Kan Setannya lo”
“Bener-bener, lo, ya, Lis”
Ada tawa yang menggelegar dari Lisa. Dia merasa sangat puas. Napasnya teratur dan tawanya tidak tertahan. Semuanya baik. Dia bahkan menggerutu dalam tawa ketika Sinar juga ikut memuntahkan suara tawa mencekik yang lucu. Lelaki itu bisa masuk dalam kekonyolan aneh yang muncul entah darimana.
“Tapi serius, kak? Emang gue keliatan kayak orang yang lagi patah hati, ya? Padahal lagu yang gue setel udah lagu paling oke buat nunjukkin kebahagiaan gue, deh?” Dia bertanya sekali lalu ketika menyiapkan wadah untuk puding agar-agarnya. Meletakkann beberapa buah jeruk yang sudah d kupas bersih dan disisihkan dari bijinya serta beberapa kiwi dan berries yang masih mereka miliki hari itu.
“Hmm.. gimana, ya. Biasanya kalau orang yang lagi patah hati, tuh, banyak yang setel lagu bar-bar begituan, tau. Biasanya buat nutupin kalau dia lagi sedih. Atau kalau misalnya dia lagi pengen teriak aja biar kesedihannya disuarakan dari teriakan lagu itu. Iya, kan?”
Lisa mengangkat alis menatap kakaknya yang sibuk dengan mixer kali ini. Tangannya yang ingin menata buah-buahan di dalam genangan air puding bergerak lebih lamban.
“Kok kayak berpengalaman banget soal begituan, kak? Jadi, lo kalau misalnya lagi sedih atau patah hati suka nyetel lagu bar-bar keras-keras gitu biar lega, ya?” Lisa menyeringai, tertawa mengejek ketika Sinar menatapnya dengan tatapan tidak terkesan. “Tapi kalau beneran juga, sih, gue belum pernah lihat sisi lo yang begitu. Apa selama ini lo sembunyiin dari gue kalau lo nangis sambil teria-teriak di salah satu lagu bar-bar, ya Kak? Ngaku, lo?” todongnya kemudian dengan buah kiwi ditangannya.
“Dih, pinter banget lo membalikkan keadaan dan membuat opini ngawur” Sinar memutar bola matanya. Suara dengungan mixer kali ini menutup obrolan mereka. Lisa membiarkan kakaknya lepas dari godaannya. Memilih mematikan musik dari playlist spotify yang baru-baru ini dia buat.
“Tapi serius, loh. Gue nggak lagi galau kak. Gue beneran lagi happy. Berani sumpah nih gue” Dia bersuara kembali ketika mixer sudah sepenuhnya padam. Digantikan dengan Sinar yang sibuk mengambil cup loyang dan mengoleskan mentega di dalamya.
“Ya, kali aja lo galau karena si Al sama sekali ga bisa lo temui akhir-akhir ini” Sinar menggoda.
Tentu saja hanya godaan semata yang Sinar lemparkan pada Lisa. Dalam hati dan diamnya, Sinar sedikit lega dengan ruang yang mereka gariskan sekarang. Entah apa yang terjadi di antara keduanya, tetapi dengan ketidakhadiran Alpino di banyak waktu yang bahkan mampu di rasakan oleh Sinar sendiri, ada hal yang membuat Sinar merasa lebih lega. Tidak ada kebencian yang nyata untuk Alpino. Anak lelaki itu bahkan bisa dibilang sangat dekat dengannya dan merupakan teman yang cocok untuk diajak bersenang-senang. Tetapi ada alasan yang bagus mengapa Sinar merasakan hal-hal seperti itu.
“Enggak, ya! Gue nggak ngerasa galau sama sekali karena Alpino sibuk. Kerjaan dia, tuh, lagi padat-padatnya. Jadi gue paham kenapa Al nggak bisa mampir buat main sama gue. Lo jangan mikir aneh-aneh, deh, kak!” Perempuan itu mengomel dengan nada yang agak tinggi. Sedikit tersinggung dengan ucapan kakaknya yang bahkan tidak terlalu spesifik dalam menunjukkan sesuatu yang tersirat.
“Lho? Gue nggak ada mikir aneh-aneh, tuh? Kan gue cuma bilang kalau kegalauan lo disebabkan sama keabsenan sahabat lo yang selalu nempelin lo kayak perangko itu. Salah gue dimana?”
“Kak, sekali lagi gue nggak galau dan terlebih lagi gue nggak lagi galauin absennya Alpino, ya. Gue lagi bahagia. Ba-ha-gi-a. Apa perlu gue eja lebih spesifik lagi ke lo?”
“Iyain aja deh, suka-suka lo, dek”
Sinar mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Lelaki itu mondar-mandir antara lemari yang menyimpan beberapa bahan kue dan camilan dengan meja yang masih tertutup banyak peralatan kue nya. Ada tepung yang sedikit berterbaran, agak berantakkan di atas meja tetapi masih tersebar dalam satu tempat. Menambahkan beberapa chocochips dan kacang-kacangan lainnya dalam adonan kue, Sinar terlihat begitu bersemangat dengan hasil akhirnya. Lelaki itu bahkan tidak sadar dengan tepung yang sudah berpindah ke bagian hidungnya ketika lelaki itu mengusap batang mancung itu. Lisa yang melihatnya, geli sendiri. Kakaknya terlihat seperti anak lelaki yang sedang bereksperimen.
Satu alis terangkat, Sinar mengabaikan rasa penasarannya. Dia memilih untuk memanggang kue almondnya terlebih dahulu sebelum kembali sibuk untuk bercengkrama dengan sang adik.
“Jadi,” Dia memulai, tanpa memberikan jeda lebih panjang. Menunggu jawaban, tangannya sibuk membereskan hasil peratalan yang berhasil ia kotorkan. “Kalau lo nggak ngegalauin Al, berarti lo galau karena No-HMPH!”
“Berani lo sebut satu nama itu, Lo yang gue panggang Kak! gue bersumpah!”
Itu adalah gerakan tercepat yang bahkan Sinar sendiri tidak bisa daftarkan secepat matanya berkedip. Lisa sudah lebih dulu berada di depannya dalam jarak yang cukup dekat dan dengan kesepuluh jari itu menangkup kedua pipi Sinar dalam cengkeraman yang nyata. Sinar terkesiap, dia bahkan hampir kelu dan tidak bisa menggerakkan bibirnya yang sekarang sudah mengerucut manyun seperti bibir ikan yang mencari makanan.
“Jangan sebut nama keramat itu. Nggak boleh. Titik!” Lisa menyebut dengan tekanan dan suara mengancam. Pelototan matanya sudah seperti menembakkan sinar laser tepat di kedua mata sang Kakak.
“Delapan hari ini adalah hari yang tenang dan bahagia buat gue. Kalau lo nyebut nama itu, hari gue bakalan melelahkan karena orangnya bakalan muncul tiba-tiba kayak setan!” omelannya lagi dengan nada yang lebih horor daripada sebelumnya.
“Maka dari itu, lo, sebagai kakak gue yang gue tau bahwa lo sayang banget sama gue, tolong banget buat beberapa hari ini jangan sebut nama keramat itu lagi, oke? Gue mau nikmati waktu bahagia gue tanpa kehadiran tuh orang yang nyebelin” giginya bergemeletuk. Masih memperingati.
Sinar mengerjap. Kedua alisnya menyatu dengan aneh. Dia pasti sudah membatin untuk mengatai ketidakwarasan sang adik.
“Jadi, kalau gue lepas ini dalam hitungan ketiga, lo harus diem dan ingat dengan baik bahwa, dilarang-dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan- untuk tidak mengangkat dan membawa-bawa nama sahabat lo itu. Oke? Kalau setuju, Kakak bisa ngangguk dua kali”
Lisa tahu bahwa kakaknya sudah mengatainya tidak waras di dalam kepala itu. Dari tatapan mata aneh sang kakak saja, Lisa tahu dia sedang berbuat konyol. Tapi apapun itu, dia bersungguh-sungguh dengan apapun yang dia katakan dan dia peringati. Kakaknya harus dan wajib untuk menuruti apapun yang dia katakan.
Wajib!
“Setuju, Kak?” Tanyanya dengan pancaran mata yang berapi-api, mencoba membuat segala hal tampak lebih mendramatisir dan dibuat-bat dalam cara yang relatif konyol. Lisa tahu itu, dia bisa melihat dirinya sendiri.
Sinar, meskipun agak enggan untuk mengikuti permainan adiknya, dia tetap mengangguk sebanyak dua kali. Bibirnya agak pegal dan pipinya terasa sedikit sakit dengan tenaga yang dikeluarkan Lisa untuk menjepit keduanya.
“Bagus!” Lisa bersorak, kali ini dengan senyuman dan seringaian tampak deretan gigi menyelinap untuk menyapa.
“Dua..” Lagi. Cengkeraman di pipi Sinar sudah mulai kendur. Lelaki itu sudah bisa kembali merasakan gerakan otot rahangnya kembali.
“Tiga!”
Sinar terkesiap, agak tidak percaya dengan sang adik yang masih berada di depannya, dekat sekali dengan wajahnya sendiri memiliki ekspresi yang mendebarkan. Matanya yang masih melotot dan kedua telapak tangannya yang masih berada dekat sekali dengan wajahnya.
Tawa keluar dari bibir Sinar yang sudah kembali merasakan kebebasan. Mendengus, dia maju untuk memepertemukan kedua dahi mereka dengan satu gebukan suara yang agak keras. Lisa yang sudah keluar dari trans apapun kebayolan yang dia lakukan, mengaduh dengan suara pekikan keras dan omelan dari bibirnya yang mengerucut sebal.
“Aneh lo dek, sumpah” celetuk Sinar yang kembali menyelesaikan pekerjaan bersih-bersihnya. “Masukin pudingnya ke kulkas, gih. Itu sudah nggak terlalu panas lagi” suruhnya dengan cepat.
Nalisa, menghela napas dengan keras, menampilkan senyum semangatnya sebelum melompat dan mengerjakan apapun suruhan kakaknya. Perempuan itu kembali dengan senang hati bernyanyi sembari membuka kulkas dan meletakkan hasil prakarya masak-memasaknya. Puding cokelat vanilla buah-buahannya akan siap dalam beberapa jam kedepan dan dia sudah sangat tidak sabar.
“Katanya Lo nggak sebel lagi sama dia? Gue lihat-lihat lo enjoy aja nggak sih sama dia beberapa waktu belakangan ini? Kenapa hari ini lo masih sebel aja sama dia?” Sinar bertanya ketika dia mengulik kembali hubungan sang adik dengan sahabatnya itu tanpa benar-benar menyebut merk.
Lisa berdecak sebelum menjawab dengan malas-malasan. “Emang kalau udah deket nggak boleh sebel sama orang?” Jawabnya dengan nada yang monoton. “Lagian gue emang sebel sih, soalnya keberadaan tuh orang mengundang emosi gue meluap” Lanjutnya kemudian.
Ada helaan napas panjang yang dia keluarkan sebelum melambai di depan wajahnya. Menutup pintu kulkas dengan perlahan.
“Tapi, ya, gue akui gue nggak sebenci dulu lagi sama dia. Capek gue, Kak. Jadi yaudah, anggap aja angin lalu. Mau dia ada atau dia nggak ada terserah dia. Yahh, meskipun gue lebih suka dia nggak ada karena kalau dia ada di dekat gue, tangan gue rasanya mau melayang ke wajahnya. Aduh” Lisa menggeleng dengan tawa gelinya. Membayangkan dia memukul wajah Noren, menggantikan boneka panda yang sudah merasakan pahitnya banyak jenis pukulan darinya.
Sinar berdecih geli. Adiknya memang agak ajaib dan jalan pemikirannya emang agak bar-bar.
“Awas jodoh, loh”
“DIH!! Lo ngelunjak ya kak lama-lama! Amit-amit! Nggak bakalan!!” Lisa sudah pasang badan untuk menganiaya kakaknya lagi, tetapi Sinar sudah lebih dulu berlari dengan tawa ke ujung ruangan. Menjauhi amukan sang adik.
Mengabaikan kakaknya yang juga menyulut emosi, Lisa memilih menahan diri untuk mengerjakan hal lain. Tawa Sinar masih terdengar, tetapi kali ini ada helaan napas yang lebih rendah dan kemudian diisi dengan keheningan yang nyaman. Lisa merasa sedikit lebih rileks dan mengabaikan ucapan kakaknya sebelumnya.
“Dek,”
Sinar memanggil. Lisa bergumam untuk menyahut panggilan sang kakak. Melewatkan seringaian nakal yang lelaki itu tampilkan di wajah liciknya.
“Besok lo libur?” Tanyanya dengan santai seolah-olah dia tidak sedang merencanakan sesuatu yang lain.
“Yaiyalah!” Lisa menyahut dengan sangat bersemangat. “Besok kan tanggal merah! Gue mau nonton Dr. Strange 2 pokoknya tanpa di ganggu! Awas lo malah coba-coba gangguin gue buat nonton SEA Games lo itu, ya, Kak! nonton di kamar lo sendiri, oke?! Harus pokoknya!”
Perempuan itu menceramahi. Sudah mensiasati agar waktu berharganya tidak diganggu gugat. Sinar mengangguk, tidak begitu mendengarkan celotehan lain dari sang adik.
“Oke” sahutnya santai. Berkebalikan dari apapun yang ada di kepala lelaki itu.
Lisa yang sudah puas dengan apapun yang dia kerjakan. Juga sudah mencuci panci bekas mengaduk cairan puding. Membersihkan tangannya dengan gembira. Dia bahkan dengan senang hati melompat-lompat ke arah kakaknya dan membersihkan hidung Sinar dari noda tepung yang menempel sebelumnya. Puas dengan apapun yang dia kerjakan, Lisa kembali melompat ke punggung sang kakak. Sudah berkamuflase menjadi benali yang menempel bak parasit.
“Terus aja bikin gue jadi pendek, dek” Sinar mengomel, tetapi dia tidak mengeluh. Lelaki itu bahkan menarik kakai Lisa untuk melingkar di pahanya agar tidak jatuh ketika dia mengelap meja dan mencuci peralatan memasaknya.
“Jadi besok beneran free, nih?”
Lisa mengerjap, merasa agak aneh. Tetapi dia mengabaikan dengan cepat.
“Free buat nonton Dr. Strange doang! Nggak yang lain!”
Itu adalah apa yang dia katakan ketika dia melingkarkan lengan dengan kencang di sekitar leher kakaknya yang hampir tercekik. Dan itu adalah sebuah kesalahan kenapa Lisa tidak hanya mencekik sang kakak hingga lelaki itu kehabisan napas.
Karena apapun yang terjadi pada pagi hari di hari selanjutnya yang tenang, adalah apa yang menyebabkannya menjadi agak berantakkan.
“Halo, Nalisa!”
Yup. Itu adalah sosok Noren yang menjulang tinggi di depan pintunya. Dengan senyuman khas, rambut yang ditata turun menutupi dahi dan dengan pakaian kasualnya yang masih membuatnya terlihat berkelas dalam keadaan santai adalah apa yang menyapanya dalam setiap kemuliaan paginya yang sudah membuatnya tidak terlalu bersemangat.
Dia hanya berharap, ketika Noren masuk ke dalam rumahnya, lelaki itu bersikap baik dan tidak membuatnya sebal.
Ingatkan Lisa untuk membalas dendam pada kakaknya suatu saat nanti.
Dia bersumpah dia akan membalas dengan hal yang lebih dan paling buruk dari apa yang bisa Sinar bayangkan.
.........
...🍁...
...Sudah Terbiasa; Kakak Beradik Dan Nama Keramat...
.........
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Icha violet, nih! Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA ICHA_VIOLET...
...JUDUL: CEWEK TOMBOY JADI RATU...
Anggita adalah gadis tomboy anak dari seorang bela diri . pengusaha kaya, ia sedikit keras kepala tapi ia jago Suatu hari ia yang secara tidak sengaja masuk ke dunia komik, masuk ke tubuh sang Ratu yang karaktemya berbanding terbalik dengan Gita . Mampukah ia menjalani hidupnya di dunia komik sendirian tanpa dukungan keluarganya ? Bisakah ia kembali ke dunia nyata? komik?
Selamat membaca🥰