
”Lihat apa yang udah lo lakuin Heksa! Lihat apa yang udah lo hancurin! Lo bener-bener keterlaluan Heksa! Lo ngerusak semuanya!”
Hala histeris. Perempuan itu merintih dengan air mata yang terus menyeruak keluar dari kedua matanya yang sudah bengkak. Suaranya pilu. Rasa sakit menetes dari setiap kata yang dengan lirih dikeluarkan dari bibirnya yang bergetar.
Hala sering menangis sebelumnya. Dia sering meneriakkan banyak hal yang tidak pantas setiap kali dia mengeluarkan air mata dan segala emosi yang terpendam jauh di lubuk hati yang tersayat. Hala adalah anak perempuan pertama yang terlalu banyak mengambil rasa sakit. Menangis adalah kegiatannya yang paling sering dirinya lakukan, tetapi daripada menjadi lemah dan terus berkubang dalam runtuhan keterpurukan, menjadi dewasa dan berusaha terlihat bahwa dia baik-baik saja adalah coping mechanism yang dia bangun sendirian dengan susah payah.
Namun dalam kondisi ini, Hala tidak berdaya. Dia tidak mampu memperlihatkan topeng tegar dirinya lagi. Keseluruhannya yang mentah dia perlihatkan dengan sebenar-benarnya dihadapan orang lain. Hala kacau. Bukannya hidupnya tidak pernah kacau sebelumnya, tetapi disinilah dia, kekacauan paling hebat yang membuatnya goyah. Dinding bata yang dia susun mati-matian seorang diri untuk tidak mengungkapkan seberapa lemahnya sebenarnya dirinya-, hancur diporak-porandakan oleh satu orang yang dipegang mati-matian oleh hatinya yang terlalu keras jatuh dalam perasaan cinta.
Cinta yang bodoh, jika dia bisa mengakuinya dengan keras saat ini.
”Semuanya hancur gara-gara lo, Heksa! Lo sebegitunya pengen lihat gue hancur, hah? Lo sebegitunya pengen ngerusak hidup gue? Cuma gara-gara gue punya rasa sama lo, lo sampai sebegininya sama gue? Gue muak banget, Heksa! Gue muak banget sama tingkah egois lo! Lo bukan Heksa gue! Lo bukan orang yang gue kenal selama ini… jahat. Sumpah lo jahat banget, Sa..”
Hala merintih lagi. Kali ini suaranya lebih tersayat daripada yang sebelumnya.
”Gue minta maaf. Gue minta maaf kalau gue ngerusak segalanya lo, Heksa. Gue minta maaf karena gue yang udah buat lo begini. Kalau gue tau Cuma gara-gara perasaan bodoh gue lo bakalan jadi begini, gue bakalan bunuh perasaan ini secepatnya, Heksa. Gue minta maaf” tangisannya semakin teriris di antara kata-katanya.
Hala sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Dunianya seolah runtuh di bawah kakinya dan perempuan itu tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk berpijak dan dimana dia seharusnya berpegang pada saat ini.
”Lo udah berhasil balas dendam ke gue. Lo udah berhasil buat gue sengsara. Dengan Lisa ngelihat apa yang lo lakuin ke gue tadi.. semuanya udah rusak, Sa. Hancur! Gue udah nyakitin Lisa. Brengsek, gue udah nyakitin Bang Sinar. Gue nyakitin semuanya, Sa! Semuanya! Kenapa lo sebegininya sama gue, Sa? Kenapa? Kenapa lo harus nyium gue, Heksa. Kenapa lo harus bikin semuanya tambah berantakkan?!”
Hala mencengkeram baju dibagian dadanya yang sakit. Matanya yang menyalang pada Heksa yang masih sama tidak berkutik. Tetapi dari penglihatannya, Heksa tidak merasa bersalah. Dia tidak terlihat seperti akan meminta maaf pada Hala dan mengakui bahwa perbuatannya sangat tidak pantas.
”Karena gue butuh lo, Hala. ayo pulang ke gue lagi. Gue nggak bisa kehilangan lo. Gue udah bilang berkali-kali, kalau gue rusak karena lo pergi dari sisi gue” Heksa tegar di posisinya. Tangannya masih berusaha untuk menarik Hala kedalam pelukan lelaki itu.
”Gue udah bilang sama lo gue bisa pura-pura! Gue bisa pura-pura jadi apa yang lo mau, Hala. Gue nggak masalah lo perbudak gimanapun, gue ikhlas. Gue bakalan ngelakuin semuanya asal kita bareng-bareng lagi kayak dulu. Tinggalin Bang Sinar, La. Hati lo sepenuhnya buat gue. Lo cuma bakalan nyakitin Bang Sinar kalau lo terus ada di sisi dia dan bertahan sama komitmen nggak jelas kalian” Suara Heksa meninggi. Ada guratan paksaan yang nyata di dalam setiap kata yang dia keluarkan.
Hala terperangah. Tidak pernah menyangka bahwa Heksa yang dia kenal baik sejak kecil bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan seperti ini. Sakit rasanya melihat Heksa yang tetap tegar untuk membela ego dan keras kepala yang dimiliki lelaki itu.
Dia tidak sanggup menghadapi Heksa yang berbeda ini. Hala membenci bagaimana otaknya selalu memproses sisi baik Heksa, sisi ceria yang selalu dimiliki Heksa ketika mereka bersama. Hala tidak bisa mengingat, dimana Heksa pernah menjadi sebrutal ini. Tidak pernah bisa meletakkan jari telunjuknya pada momentum apapun yang bermain dikepalanya bahwa Heksa, sama mengerikannya seperti keluarganya yang rusak.
”Heksa.. lo..”
”Gue nggak tau, ya, gimana lo bisa berakhir punya komitmen sama Bang Sinar. Gue juga awalnya nggak peduli mau lo jadian atau apa ’kek sama siapapun, La. Itu hidup lo dan gue nggak akan nahan lo buat jalin hubungan sama orang lain. Tapi sekarang ketika gue tau faktanya kalau sebenarnya hati lo buat gue, Kenapa lo harus nyakitin orang lain, La? Sama gue. Lo sama gue aja. Jangan hilang dari gue, La. Berhenti nyakitin orang lain dengan ngasih harapan palsu bodoh lo itu”
Hala bisa mendengar suara retakan hatinya yang hancur menjadi berkeping-keping. Apa yang Heksa katakan terdengar seperti seribu belati yang menikam jantungnya berulang-ulang. Hala tidak bisa mempercayai pendengarannya.
Hala tidak tahu apa yang merasuki lelaki itu. Dia merasa mual. Rasanya seperti dia menaiki rollercoaster yang berputar-putar tanpa henti.
”Gue nggak nyangka lo segila ini, Heksa. Mulai sekarang, gue nggak mau ngeliat wajah lo lagi. Gue benci, lo, brengsek! Gue benci lo!”
Hala berteriak. Dia bahkan tidak bisa memikirkan apapun yang mungkin akan menjadi pengganggu para penghuni kamar hotel di belakangnya. Dia hanya ingin meraung untuk segala hal yang tumpah ruah di dalam tubuhnya. Emosinya mendidih tidak karuan.
”Gimana bisa lo benci sama gue kalau lo cinta sama gue, Hala? berhenti bertingkah kayak anak kecil. Gue mau lo pulang sama gue. Hala, lo tau ’kan kalau gue juga sayang sama lo? Gue sayang banget, La, sama lo. Gue pengen lo sama gue aja, jangan sama yang lain, ya? Gue bisa pura-pura jadi pacar yang baik, kok. Lo tenang aj-”
PLAK!!!
Tangan Hala gemetar hebat. Matanya terbelalak tidak percaya bahwa dia mampu menampar Heksa karena terlinganya menolak apapun komentar jahat yang dilemparkan lelaki itu padanya.
Hala menarik tangannya. Mundur secara perlahan ketika matanya menangkap tatapan horor yang dilemparkan Heksa padanya. Itu bercampur dengan rasa sakit dan tidak percaya. Hala harus pergi. Tapi dia panik dan tidak tahu kemana dia harus melangkah. Hala hanya ingin kabur. Jika bisa, dia ingin menutup mata dan berpura-pura bahwa dia hanya bermimpi saat ini.
”Hala...”
Suara Heksa membangunkannya dari keterkejutan dan kepanikan yang menjengkal langkahnya untuk berlari. Hala menggigit bibirnya dengan keras.
”Hala.. Apa yang sudah gue lakuin.. Hala.. gue.. maaf..”
Dia menggeleng dengan kuat. Tidak peduli betapa sakit kepalanya dalam guncangan itu sebelum akhirnya semua inderanya mampu untuk memproses langkah selanjutnya yang harus dia lakukan. Jadi, Hala berlari. Dia berlari secepat yang dia bisa untuk pergi dari sana. Hala tidak peduli seberapa banyak Heksa memanggilnya dalam nada bersalah dan permintaan maaf yang terlihat bahwa lelaki itu sudah sadar seluruhnya tentang apa yang baru saja dia lakukan pada Hala.
Tapi semuanya sudah terlambat. Hala tidak ingin berada di dekat Heksa untuk saat ini. Hala terus berlari dalam ketakutan. Dia tidak peduli bahwa dia tersandung kakinya di beberapa titik dan hampir terjelungkup jatuh melukai wajahnya terlebih dahulu. Yang Hala butuhkan saat ini adalah menghilang dari tempat ini sesegera mungkin.
Hanya pergi.. pergi.. menjauh.
Banyak hal yang tumpang tindih di dalam kepalanya. Dia takut, dia gelisah, dia tidak mampu untuk berpikir koheren dan tidak hancur ketika dia bertemu teman-temannya. Dia tidak bisa menjelaskan apapun tentang kesalahpahaman tadi pada Lisa. Juga, dia sangat yakin bahwa dia tidak akan mampu untuk menjelaskan apapun itu pada teman-temannya yang lain.
Hala ketakutan. Dia tidak pernah ketakutan seperti ini sama sekali dalam hidupnya. Tentu dulu dia takut bahwa dia tidak bisa bertahan ketika orang tuanya hampir bercerai. Tentu dulu dia takut bahwa dia akan kehilangan rumah yang utuh dengan kedua orang tua dan adik semata wayangnya. Tentu dulu dia takut bahwa ayahnya akan meninggalkannya dan membiarkannya tinggal dengan ibunya yang mengecewakannya. Tentu dulu dia takut bahwa adiknya akan mengalami kerusakan besar-besaran karena apa yang terjadi pada rumah tangga keluarga kecilnya yang berantakkan.
Tentu Hala takut pada banyak hal di dunia ini, tetapi ketakutannya yang sekarang adalah ketakutan yang di luar kendalinya. Ini menyangkut orang banyak. Ini menyangkut kepercayaan orang lain yang sangat berharga untuknya. Ini menyangkut dirinya sendiri, yang menjadi pilar utama dimana dia harus bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi akibat campur tangan dirinya sendiri.
Dan tentunya, Hala sangat ketakutan karena dia telah menyakiti seseorang yang sangat menyayanginya dan akan hancur untuknya. Hala takut setengah mati karena dia telah mengkhianati Sinar. Telah menyakiti hati tulus yang dimiliki oleh satu orang yang telah mengambilnya dengan sangat baik di bawah perlindungan orang itu. Hala telah menghancurkan kepercayaan Sinar. Hala telah menghancurkan hati lelaki yang mencintainya dengan ketulusan besar yang dia miliki.
Hala mengi ketika dia berusaha mengambil napas. Dibalik matanya yang buram, Hala berusaha untuk terus melarikan diri. Matanya terlatih pada lift beberapa langkah di depannya, tetapi otaknya yang tidak bisa berpikir sempurna itu menyuruh tubuhnya untuk bergerak membuka pintu melalui tangga darurat.
Jadi, Hala memakai tangga itu untuk turun. Dia tidak tahu apa yang terjadi ketika dia melangkah dengan cepat menginjak anak tangga kecil yang menimbulkan suara kecipak logam tipis bergema yang berdengung di telinganya. Dia merasa tersesat. Dia tidak tahu dia dimana, dilantai berapa saat dia keluar dari tangga sesak itu. Hala hanya ingin keluar dari gedung yang terlihat seperti labirin ini.
Hala kewalahan.
Itu sampai akhirnya secara tidak sengaja, perempuan itu menabrak seseorang dengan kuat. Mereka hampir terjungkal jika saja orang yang ia tabrak tidak memiliki pertahanan diri yang kuat.
”M-maaf... g-gue nggak sengaja” Suaranya bergetar ketika dia mundur untuk memberi jarak di antara mereka. Hala mengutuk dirinya sendiri. Baru saja dia merasa bersyukur bahwa tidak ada orang disekitarnya untuk melihatnya yang rusak ini, tetapi pada akhirnya, perempuan itu tertangkap juga.
”Hala?”
Hala mendongak dengan kecepatan yang tidak pernah dia bayangkan dia miliki. Matanya yang bengkak dan penuh dengan air mata terbelalak untuk menangkap siapa yang ia tabrak di tengah malam seperti ini. Suara familiar itu memiliki wajah yang sama familiarnya. Hala terkesiap. Dari sekian banyak orang yang berada di hotel ini, mengapa dia harus berpapasan dengan Sinar secepat ini?
”K-Kak Sinar?”
”Hala, kamu kenapa?” Suaranya penuh kekhawatiran. Bahkan, dibalik buramnya pandangan Hala, perempuan itu bisa melihat kepanikan Sinar yang ditujukan padanya.
Hati Hala seperti meluncur dari tempatnya. Dia tidak siap bertemu dengan Sinar. Dia tidak siap untuk meminta permohonan maaf dari orang yang telah ia lukai hatinya dibelakang lelaki itu.
”Hala? sayang, kamu kenapa nangis? Ada masalah apa?” Suaranya panik. Hala bisa merasakan tangan Sinar berusaha meraihnya untuk mencoba menenangkan Hala.
”K-kak. Gue nggak bisa. Jangan.. jangan, Kak” Lagi, air mata perempuan itu merembes keluar bak sungai mini yang sudah membanjiri seluruh wajahnya.
Hala berusaha untuk menghalau Sinar dari radarnya. Tetapi rasanya sangat sulit ketika dia mendapati dirinya mengalami serangan panik. Hala lupa sudah berapa lama dia tidak mendapatkan yang terparah seperti ini. Rasanya seperti, tubuhnya tidak bisa mengikuti perintah otaknya yang seolah tidak berfungsi dan udara disekitarnya tiba-tiba hilang. Hala yakin dia megap-megap seperti ikan yang terkapar dan menggelepar.
”Sayang? Sayang, Hala.. Lihat aku oke? Fokus. Sayang, fokus ya? Ayo, ayo bernapas sayang. Hala.. jangan bikin gue panik. Sumpah. Sayang.. ayo napas bareng aku, oke? Tarik napasnya, tenangin diri kamu dulu. Hala..”
Hala tidak bisa menjelaskan apapun tentang situasi ini. Dia hanya fokus pada ketakutannya yang melingkupi keseluruhan dirinya sehingga dia tidak mampu untuk melakukan apapun lagi. Tetapi dia dapat merasakan ada tangan yang dengan gemetar menangkup wajahnya. Membimbingnya melalui semua gemetar aneh dan napas yang tidak bisa terkontrol.
Ada air dimana-mana, rasanya seperti itu menariknya jauh ke dasar lautan gelap dan dalam. Tidak ada ruang untuk bernapas, tidak ada tempat untuk bertumpu. Hala merasa mati rasa. Tetapi ada suara yang mencoba menariknya untuk tetap sadar, untuk tetap waras.
Suara kepanikan Sinar menembus genangan di telinganya. Ketika Hala membuka mata, itu adalah wajah Sinar yang terlalu dekat dengannya, guratan tegas terpancar jelas di wajahnya yang ketakutan akan dirinya. Hala tidak bisa sepenuhnya mendengar, tetapi melalui pergerakan bibirnya, Sinar mencoba untuk membantu Hala mengambil napas dengan langkah yang benar.
”Ikutin aku, ya, sayang? Tarik.. hembuskan. Ayo. Satu.. tarik.. dua, lepas. Pelan-pelan, oke? Pelan-pelan, Hala.. pinter.. lagi, ya? Tenang. Kamunya yang tenang, ya? Nggak apa-apa, ada aku. Ada aku disini, oke, sayang? Lagi. Ikutin aku lagi.. satu..”
Suara itu perlahan-lahan menjadi jelas. Hala menutup matanya untuk menghalau keburaman, tetapi Sinar segera menyuruhnya untuk tetap membuka mata agar dia tidak terbuai gelap. Mengikuti seluruh intruksinya dengan benar. Butuh beberapa saat bagi Hala untuk bisa kembali berenang ke permukaan. Sinar menuntunnya dengan sabar dan lembut, juga tegas disaat yang bersamaan. Namun, ketakutan yang terpancar dari lelaki itu sama kuatnya dengan pertahanan dirinya agar tetap tenang.
”Hala? udah aman, sayang?”
”K-kak..” Hala terisak. Ada cegukan kecil ketika dia membalas pertanyaan Sinar meskipun dengan nada yang ambigu.
”Kamu udah nggak apa-apa? Udah aman?” Sinar berbisik lagi. Meskipun lelaki itu tahu bahwa tubuhnya masih bergetar dengan hebat, tetapi Sinar tetap mencoba yang terbaik untuk menenangkannya.
Hala mengangguk ringan untuk menjawab, tidak mempercayai suaranya sama sekali. Tetapi Sinar mendapatkan sinyal itu. Dengan segera, Hala dibawa kedalam pelukan besar milik Sinar yang terlalu erat.
”Syukurlah.. syukurlah sayang. Aku takut banget. Hala..”
Hala menutup matanya. Bibirnya masih seperti lem dan saling menempel meskipun dirinya masih sesegukan. Dia tau bahwa Sinar berkata jujur ketika pelukan lelaki itu semakin mengencang disekitarnya. Dibumbui dengan kecupan lembut yang bergetar di pucuk kepalanya, Hala merasakan sakit di dadanya muncul lagi.
Laki-laki sebaik ini.. mengapa Hala dengan tega menyakiti hatinya?
Mengapa.. Hala tidak jatuh cinta saja dengan Sinar? Kenapa harus Heksa? Kenapa dirinya harus menaruh rasa pada orang yang salah?
Sinar pantas dengan yang lebih baik. Kenapa harus dengan dirinya yang sama sekali tidak bisa menerima perasaan berharga itu?
Hala bukan orang yang baik. Kenapa Sinar harus mencintainya?
Dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dikepalanya dan menyerbunya dengan tiba-tiba, Hala tanpa sadar melingkarkan tangannya di tubuh Sinar. Jemarinya dengan erat meringkuk mencengkeram bahan kemeja tipis yang dikenakan Sinar saat itu.
Sinar terasa sangat hangat digenggamannya saat ini.
Kenapa bukan Sinar yang dipilih oleh hatinya sejak awal?
Hala tidak bisa menjawab pertanyaan yang hatinya lontarkan padanya. Saat ini, dia akan fokus pada kehangatan dan aroma Sinar yang menenangkannya.
...🍁...
...Permintaan Maaf Dan Rasa Bersalah; Takut 1/1...
.........
...🍁🍁🍁...