
Noren tidak pernah mengalami malfungsi didalam hidupnya. Sejak awal jalan hidup yang dituliskan oleh kedua orang tuanya dan disusun dengan serapi mungkin tidak pernah berubah menjadi sebuah kegagalan. Pun, dia tidak pernah ingat bahwa dia membuat sedikitpun kesalahan yang membuat pondasi pijakannya runtuh menghasilkan kekacauan yang akan mengakibatkan kerugian aspek yang sangat besar.
Noren juga tidak pernah mengingat apakah dia pernah jatuh di dalam perjalanan tumbuh dan kembangnya. Semua hal yang dia inginkan tercapai dengan cuma-cuma. Semuanya sempurna, tidak ada yang salah. Jadi, mengapa dirinya merasa bahwa dia tengah berada di dalam kehancuran dunia yang sedang dipijaknya? Mengapa rasanya jantungnya seperti meledak tidak karuan didalam rongga dadanya?
Benar, dia memang rusak. Jiwa dan mentalnya memang tidak sama dengan manusia pada umumnya. Dia menemui psikiater, benar. Tapi itu adalah kerusakan pribadi miliknya. Tidak ada satupun yang dipegangnya mengalami kerusakan yang sama seperti dirinya sendiri. Namun, apa ini? Noren tidak pernah siap untuk mendapatkan kerusakan diluar dari dirinya sendiri. Dia tidak pernah siap untuk suatu kehancuran rencana hidupnya yang telah sangat sempurna dan tidak bercela.
Tapi, semuanya hancur lebur, luluh lantak tak bersisa tepat di momen yang seharusnya menjadi hari miliknya yang paling bahagia. Dia tidak pernah memprediksi kejadian yang membuatnya tidak mampu untuk melakukan apapun, tidak mampu untuk berpikir lebih cepat, lebih jernih. Kemana refleks yang dengan sangat bangga dia miliki itu?
Segalanya berjalan dengan sangat lambat di kedua bola matanya yang membelo. Nyawanya terasa dicabut ketika dia melihat sosok yang dicintainya melompat bebas ke udara. Jatuh dalam tarikan gravitasi bumi yang kuat.
Noren tidak bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan. Semuanya terasa rusak, bukan hanya individu dalam dirinya, melainkan, segala-galanya yang dia inginkan di dalam hidupnya. Sosok yang dia cintai dan dia impikan selama tahun-tahun gila yang dia habiskan untuk mencintai. Dia tidak bisa bernapas. Sesak, sangat sesak. Rasanya seperti dia tidak bisa melakukan apapun. Otaknya mati, tidak bergerak, tidak mampu. Noren tidak pernah merasa seperti ini. Dia ketakutan setengah mati,
Tubuhnya bergetar hebat. Butuh beberapa detik agak lama untuk berperang dengan kebuntuan otaknya dan kemacetan saraf tubuhnya untuk bergerak. Untuk segera berlari tertatih menuju tempat dimana Nalisa melompat ke udara. Matanya buram, langkahnya terseok bersamaan dengan tarikan suaranya yang tak putus meneriakkan nama cintanya.
Noren hancur tepat di depan 400 tamu undangan yang menonton. Banyak yang berteriak, banyak yang terkejut setengah mati melihat percobaan bunuh di di depan kedua mata mereka. Noren tidak peduli. Dia tidak peduli bagaimana penampilan hancurnya ini. Dia bahkan tidak peduli ketika dia menabrak beberapa tamu undangan penting disekitar jalannya. Yang dia butuhkan saat ini adalah menuju ke tempat Nalisa. Melihat apa yang terjadi dengan wanitanya.
“Nggak.. ini nggak mungkin.. nggak. Nalisa.. Nalisa…” Dia terisak. Noren tidak peduli bahwa dia mengi. Yang harus dia lakukan adalah melihat bagaimana kondisi perempuan yang sangat dia cintai itu.
Jika Nalisa memilih untuk mengakhiri hidupnya karena apa yang Noren lakukan padanya, dia yang gila dan rusak ini tidak akan berpikir dua kali untuk mengikuti jejak perempuan itu. Noren tidak pernah berpikir bahwa Nalisa akan menjadi senekat itu untuk melarikan diri darinya. Untuk melepaskan diri dari penjara yang Noren buat untuk perempuan itu. Noren tidak sanggup, tidak sanggup untuk memikirkan bahwa dia akan kehilangan Nalisa di dunia ini dan tidak akan melihat senyumnya yang menawan dan membuat jantungnya selalu berdebar-debar itu.
“NALISA! NALISA!!!”
Dia berteriak lagi ketika dirinya belum juga dapat mencapai titik tujuannya. Jantungnya bertalu ditelinganya lebih keras daripada angin yang saat ini mulai berhembus lebih kencang daripada biasanya.
“Nggak! Nggak mungkin! NGGAK MUNGKIN!! NALISA KEMBALI!! NALISAAA!!!”
“PERGI! PERGI!! MINGGIR DARI JALAN GUE!! MINGGIR!!!!!”
Serak suaranya tidak dia hiraukan. Sakit dikakinya karena menghantam sisi kursi dan meja yang menghalangi jalannya dan beberapa orang yang berkerumun di lokasi membuatnya marah. Jantungnya bertalu lebih tidak karuan. Dia harus melihat Nalisa, dia harus memastikan bahwa wanitanya tidak mengalami kerusakan yang parang. Dia harus meyakini dirinya bahwa Nalisa tidak mati.
Nalisa tidak akan meninggalkannya di dunia ini.
Napasnya tercekat, matanya tidak mampu melihat dengan benar karena keburaman air yang menghalangi. Otaknya masih mati, tidak mampu berpikir dengan jernih. Gemetar tubuhnya semakin menjadi-jadi ketika pikirannya mulai melayang untuk menyalahkan dirinya sendiri. Noren menggeleng, berusaha untuk tidak menghajar siapapun yang berada di jalannya. Dia mendengar ibunya berteriak kepada banyak orang disekitar untuk menahannya. Dia tidak peduli, Noren ingin melihat Nalisa. Noren ingin memastikan bahwa Nalisa hanya berbohong padanya.
Nalisa masih hidup, Nalisa masih bernapas. Nalisa tidak akan meninggalkannya dengan kekonyolan bodoh seperti ini. Bukan, Bukan Nalisa yang bodoh. Itu dia. Noren yang bodoh, Noren yang brengsek, Noren yang membuat Nalisa melakukan hal gila ini.
“Tolong.. tolong..” dia menangis. Kali ini benar-benar menangis ketika Ibunya mulai berteriak dengan tegas kepada para penjaga ataupun tamu yang berada disekitarnya untuk menahannya dari keinginan untuk langsung melompat mengikuti jejak Nalisa.
“TAHAN! TOLONG SIAPAPUN TAHAN ANAK SAYA!!” Suara Jessica dapat didengar sejelas angin, bahkan dari telinganya yang berdengung.
“JANGAN BIARIN DIA LOMPAT!!! TAHAN ANAK SAYA! TOLONG TAHAN ANAK SAYA!!!”
Noren mengais ketika tubuhnya ditahan oleh beberapa orang yang bertubuh lebih besar darinya. Dia merintih, mencoba untuk melepaskan diri. Banyak racauan yang dia keluarkan. Dia hanya ingin melihat Nalisa. Dia hanya ingin tahu bahwa Nalisa baik-baik saja. Tolong, siapapun.. dia hanya berharap dia mendengar bahwa Nalisa tidak mati. Bahwa cintanya tidak benar-benar melakukan adegan bunuh diri untuk menyiksanya.
Noren yakin dia akan gila. Noren yakin dia sudah lebih dari gila jika dia mendengar berita buruk tentang keadaan Nalisa. Dia ingin segera pergi ketempat Nalisa. Dia akan melompat, Noren akan melompat dan membuang semua kewarasannya untuk mengikuti jejak perempuan itu.
Sial, dia sangat mencintai Lisa sehingga dia tidak bisa memikirkan apapun selain kematian. Selain mengikuti perempuan itu kemanapun Nalisa pergi. Jika Nalisa memilih untuk mengakhiri hidupnya, Noren akan mengejarnya. Dia tidak peduli, memikirkan hidup tanpa perempuan itu saja dia sudah tidak mampu.
“Nalisa aman. Dia aman, nak. Sekarang diam. Tenang.. tenang, Noren!”
Napasnya sesak. Dia mencoba untuk mengambil sesuatu yang bisa dia kendalikan. Tapi mustahil. Telinganya seperti direndam di dalam rebusan air panas. Dia tidak bisa mendengar apapun selain deru napasnya dan kehancuran jantungnya yang meledak sampai serpihan-serpihan terkecil yang tak kasat mata.
“Nalisa.. Nalisa…. Jangan.. jangan tinggalin aku.. tolong..”
Lemah. Noren bersumpah dia tidak pernah merasakan kelemahan ini. Titik terendah yang dia miliki sepanjang hidupnya adalah ini. Dia tidak mampu untuk menjadi manusia lagi, dia tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Keringat dingin sebesar biji jagung ada di mana-mana. Pusing, rasanya kepalanya seperti dihancurkan menggunakan palu besi.
Darahnya naik, mencoba untuk membanjiri semua emosi yang dia rasakan saat ini. Hiperventilasi tidak pernah menjadi hal di dalam hidupnya. Tapi inilah dia sekarang. Ketika dia jatuh terduduk di kedua lututnya, yang dia ingat adalah staff hotel yang segera membopongnya untuk tetap tegak dan sadar.
Tapi dia tidak ingin hanya mendengar seruan orang-orang tentang Nalisa. Dia harus melihatnya sendiri. Dan itu adalah apa yang dilakukan Noren. Dengan sedikit energi yang masih dia miliki, Noren bergerak. Tertatih-tatih tetapi tegas. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Meskipun berat, dia akhirnya dapat melihat ke bawah. Tepat di depan kedua matanya, meskipun kecil dan air mata tidak terlalu membantu, disana ada benda yang dia yakini sebagai alat penyelamat Nalisa. Dan juga, ketika dia menggeser pandangannya, disana Nalisa tengah berada di dalam gendongan seseorang.
Noren harus memastikan. Dia harus memastikan bahwa Nalisa memang benar selamat. Kegagalannya tidak pernah nol, tetapi itu pasti ada. Jadi, dengan setiap sel kewarasan di otaknya, dia berlari lagi. Noren tidak pernah merasakan betapa keras dia mencoba tubuhnya untuk melakukan segala hal ini, tetapi dia berlari.
Dia berlari dengan kepanikan yang luar biasa. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Tetapi dia tidak peduli siapapun yang mengikuti langkahnya di belakangnya. Pikirannya luar biasa berkabut. Noren tidak peduli dia kehabisan nafas ketika menggunakan tangga darurat di beberapa titik. Tetapi ketika energinya terlalu banyak terserap, dia membiarkan dirinya diseret oleh beberapa orang untuk memasuki lift.
Noren tidak pernah sepanik ini dalam rentang hidupnya, namun disinilah dia. Matanya menatap pantulan angka di lift yang semakin turun. Dia tidak sabar untuk segera berada di lantai dasar tempat dimana Nalisa sekarang berada. Dia butuh untuk tahu tentang kondisi perempuan itu. Jadi, ketika lift sudah terbuka, dia tidak bisa menunggu untuk berlari lagi.
Butuh waktu yang membuatnya berteriak kesakitan seperti orang yang kesurupan untuk sampai di tempat yang ditujunya. Dan ketika dia berhasil sampai disana. Dia terjatuh, tersungkur dengan segala kelegaan yang ada ketika Huston sudah lebih dulu sampai di sana dan menggendong anaknya. Wajah lelaki itu panik bukan main, pucat pasi dan tidak sabar.
Noren tersuruk mendekat, tetapi Huston melarangnya dengan hanya satu tatapan mata tegas. Tetapi ada gestur yang menandakan bahwa Nalisa masih selamat. Nalisa masih bernapas di dalam pelukan Ayahnya. Itu saja. Itu saja yang Noren butuhkan untuk melepas semua ketakutan yang mengikatnya hingga ke akar kewarasannya.
Dia tidak bisa menahan berat tubuhnya sehingga dia melangkah dengan sedikit energi yang tersisa untuk beristirahat di tembok terdekat dari tempatnya. Dengan wajah pucat pasi dan bibir yang membiru bengkak karena dirinya tidak sadar telah menggigitnya dibeberapa kesempatan, Noren mengusap wajahnya dengan tangannya yang bergetar. Tatapan matanya tidak fokus, tetapi itu lurus pada satu titik harapan untuk melihat naik-turun napas Nalisa dengan cermat. Berusaha untuk memastikan perempuan yang dia cintai tetap bernapas dan hidup.
Nalisa masih hidup. Itu saja yang dia butuhkan.
Suara ambulan terdengar dari kejauhan. Siapapun yang berhasil memanggil tim medis sepertinya sudah sampai untuk menangani situasi. Noren berdiri dengan cepat ketika paramedis dengan gerakan cepat membuka tandu dan Huston dibantu oleh mereka meletakkan tubuh Nalisa disana.
“Aku ikut” Dia langsung menawarkan diri untuk pergi menemani ketika Huston dan paramedis bersiap untuk memasuki ambulan.
Matanya kosong, tetapi penuh harapan disetiap serat suara yang dia keluarkan.
“Tidak.” Suara Huston final. Begitu tajam dan keras. Khas seorang Ayah yang sedang berusaha untuk tidak rusak untuk memastikan anaknya mendapatkan perawatan yang terbaik.
“Tolong, Pa.. biarin Noren ikut.. Biarin aku jagain Lisa juga”
Bibirnya bergetar. Meminta harapan untuk dikabulkan. Tetapi tampaknya Huston masih keras kepala. Dia tidak ingin Noren ikut campur dalam urusan menjaga anak perempuan semata wayangnya. Tetapi Noren tidak bisa melepaskan Nalisa dari pandangannya untuk saat ini. Dia harus tahu bahwa Nalisa akan baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun. Tetapi Huston tetap menolak, tetap menyuruhnya untuk pergi agar tidak mengganggunya.
“Tidak ya tidak. Pergi, jangan halangi medis! Jangan halangi saya!” Huston membentak lagi, tetapi Noren tidak mau kalah. Dia tidak bisa pergi tanpa melihat Nalisa baik-baik saja dan sudah ditangani dengan benar di rumah sakit.
“Maaf Pak, pasien harus segera ditangani. Tidak ada waktu berdebat. Siapa yang akan menemani pasien ke rumah sakit?”
Salah satu tenaga medis yang memegang tandu berbicara dengan lantang. Mereka harus segera pergi ke rumah sakit sekarang. Huston dengan cepat menyuruh paramedis untuk segera mengangkat Nalisa ke dalam ambulan. Noren yang panik, segera menarik tangan Huston dan berlutut. Benar-benar berlutut untuk memohon. Dia harus ikut menemani Nalisa. Dia harus memastikan Nalisa ditangani dengan benar.
“Tolong, Pa! tolong biarin aku nemenin Lisa ke rumah sakit. Tolong, aku ingin pastiin dia baik-baik aja. Aku tau Papa panik. Tapi aku juga, Pa. Aku takut, aku takut kalau aku tinggal disini dan aku nggak tau apa yang akan terjadi sama keadaan Nalisa. Pa, aku tau ini semua kesalahan aku. Seenggaknya, biarin aku nemenin Lisa dan pastiin Nalisa baik-baik saja. Setelah itu, Papa mau usir aku juga nggak apa-apa. Please, Pa. untuk yang ini Noren mohon sebesar-besarnya sama Papa.. biarin Noren nemenin kalian ke rumah sakit…”
Noren tidak tahu bahwa tangisan yang menyesakkan dada seperti ini. Dia baru tahu bahwa memohon bisa sangat melukai harga dirinya yang tidak pernah jatuh. Tetapi ini bukan tentang harga diri lagi, Noren bahkan siap untuk bersujud jika Huston masih tidak memperbolehkannya untuk ikut dengan mereka.
“Noren-,”
“Pa.. tolong.. kali ini aja. Noren memohon yang sebesar-besarnya. Noren nggak peduli papa mau marah sama aku, Papa mau ngusir aku, Papa mau ngehajar aku, lampiasin semuanya karena udah buat Nalisa begini. Tapi untuk kali ini.. tolong Noren, Pa. Noren takut setengah mati, Pa. sama kayak Papa. Noren cuma butuh kepastian tentang keadaan Nalisa.. please..”
Noren merendahkan postur tubuhnya lagi. Dengan sepenuh hati, dia tidak masalah mempermalukan derajatnya yang sudah hancur. Dia tidak peduli dengan citranya kali ini. Yang dia butuhkan adalah kedamaian hati untuk memastikan keadaan Nalisa. Hanya itu yang dia butuhkan sekarang dan Noren tidak akan melepaskan permintaannya yang satu ini.
“Pak, maaf pasien harus segera ditangani. Kali ini tidak ada waktu lagi. Dokter sudah siap di tempat dan kita harus datang segera untuk mencegah kesalahan fatal akibat keterlambatan. Kapasitas pengantar sudah cukup untuk dua orang. Jika tidak segera, kita akan lebih membahayakan keadaan darurat pasien” Paramedis kembali menuntut agar Huston mengambil keputusan.
Noren tahu bahwa dirinya egois. Tetapi dia tidak bisa melepaskan ini. Lelaki itu tidak bisa berpikir jernih. Kepalanya tidak mampu memberikan solusi lain yang bisa dia lakukan untuk tetap mengikuti perkembangan keadaan Nalisa.
Huston terlihat sangat marah. Noren tahu bahwa dia akan mendapatkan luka fisik untuk ini nanti, tetapi hatinya yang mengkerut terasa sangat lapang ketika Huston hanya mengangguk dan menarik tangannya dari cengkeraman Noren. Mereka kini tergopoh-gopoh untuk menaiki ambulan. Butuh beberapa saat, tetapi itu berlalu dengan sangat cepat.
Noren masih merasakan tubuhnya gemetar bukan main. Ketika dia duduk di dalam ambulan, dia bisa melihat bagaimana Nalisa ditangani oleh paramedis untuk penanganan pertama untuk luka. Mencari apa yang salah dan tetap memonitor detak jantung dan tarikan napas pasien. Napasnya tercekat ketika dia melihat luka lebar di bagian kaki kiri perempuan itu.
Tubuhnya lemas bukan main ketika melihat banyak darah yang mengucur dari luka robek yang bahkan hampir tidak terlihat dimana jelas bagian lukanya. Gaun pengantin yang telah dengan bangga Noren pilihkan untuk Nalisa sudah pekat dengan darah perempuan itu di berbagai sisi.
“Nalisa…” bibirnya memanggil nama perempuan itu. Matanya naik ke atas untuk melihat wajah pucat Nalisa yang kini tertutup oleh masker oksigen. Tangan perempuan itu telah digenggam dengan erat oleh Huston yang kedua matanya menatap lekat wajah anak perempuannya.
Noren tidak mampu menopang dirinya lagi. Dia hanya berharap tidak ada yang salah tentang perempuan itu. Selama mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit, Noren tidak pernah berhenti unutuk merapal doa agar Nalisa tetap selamat dan tidak kurang satu apapun. Yang hanya bisa diapikirkan adalah keselamatan Nalisa. Hidup perempuan yang sangat dicintainya itu lebih berharga daripada apapun di dunia ini.
Untuk kali ini, Noren akhirnya tahu bagaimana rasanya kehancuran. Bagaimana rasanya tidak memiliki kekuatan apapun yang bisa menopang pijakannya. Bagaimana rasanya… sangat merasa bersalah. Dan bagaimana rasanya menjadi orang jahat.
Noren.. adalah orang jahat yang mengekang Nalisa dalam penjara beratas namakan Cinta. Pahit, tapi inilah kenyataan yang harus Noren hadapi sekarang.
Kesadaran diri atas kesalahan yang telah dia perbuat. Monster hijau jelek dalam dirinya telah berhasil merusak segala kehidupannya.
Noren tidak mampu. Dia merasa tenggelam di lautan yang sangat luas dan dalam. Dia merasa diseret dalam gelombang kesalahan yang menghantamnya bagai badai besar tak berperasaan.
...…...
Noren, untuk segala hal yang sangat tidak ingin diar lakukan saat ini adalah mengurus semua hal untuk menutup mulut para media dan 400 tamu undangan yang hadir dan menyaksikan kehancuran hidup dan pernikahannya. Sekarang, dia berada di kantor yang sangat sibuk dimana seharusnya dia tidak menginjakkan kaki ini untu satu bulan lamanya karena cuti bulan madu yang sudah dia rencakanan jauh hari.
Kantornya sangat sibuk karena mereka harus bekerja keras untuk menghalau media yang memuat berita tentang kegagalan dan kejatuhan hidupnya. Bahkan, Nabila saja terlihat sangat frustasi dengan gagang telepon yang sejak tadi tidak pernah lepas dari tangannya.
Setelah mengetahui bahwa keadaan Nalisa baik-baik saja dan dia hanya mengalami patah tulang di kaki kiri dimana itu akan bisa sembuh dan kembali normal lagi dalam waktu yang relatif lama, meski bukan memakan waktu tahunan, tetapi itu akan kembali membaik. Cukup itu saja yang harus Noren ketahui. Meksipun dia berada di tempat ini sebelum Nalisa sadar dari tidur panjangnya setelah operasi pemasangan pen untuk memposisikan dan menjaga posisi tulang yang patah.
Nalisa baik-baik saja. Itu sudah cukup. Dan Noren disini bertanggung jawab untuk tidak melukainya dengan menyelamatkan nama baik perempuan itu agar tidak menyebar. Benar, dia disini sekarang bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tidak membayar uang tutup mulut pada para wartawan dan melakukan konferensi pers secepat yang dia bisa untuk mencegah berita terjun ke media dan juga sefrustasi ini untuk tetap menjaga keadaan tetap stabil dan aman hanya untuk nama baik dirinya dan perusahaan yang sedang diujung tanduk.
Apapun sekarang akan dia lakukan atas nama cintanya yang luar biasa besar untuk Nalisa seorang. Tidak masalah kerugian yang ditanggungnya hampir mencapai ratusan milyar, tidak masalah bahwa hartanya terkuras. Yang pasti, dia harus membasmi semua hal yang akan menghancurkan nama baik keluarga Cakrawijaya. Hanya itu. Cukup itu saja.
“Pak, saya sudah berbicara kepada pemilik MediaTV SatuNusa untuk menutup semua informasi berita tentang pernikahan Bapak. Itu media terakhir yang kita hubungi. Mereka meminta uang tutup mulut lebih besar daripada pihak stasiun sebelah… apa tidak apa-apa, Pak?”
Nabila, yang sudah terlihat sangat kelelahan meminta jawab atas pertanyaan linglungnya. Noren, dengan kedua matanya yang sudah dihiasi oleh kantung mata tebal akibat ketidakmampuan untuk beristirahat semalam suntuk karena mengurusi semua permasalahan ini dan juga.. perasaan bersalah yang menimpanya sedemikian rupa dan menghantuinya dengan pukulan yang sangat keras segera menjawab dengan suara datar yang hampir tidak mampu dirinya keluarkan lagi.
“Bayar saja. Langsung transfer ke rekening mereka” Matanya kembali fokus pada tablet dengan beberapa website yang terbuka. Masih memperhatikan apakah ada yang lolos dari pratinjauan yang telah dia lakukan berjam-jam lamanya. “Dan bilang pada mereka, jika ada satu berita buruk pun tentang Cakrawijaya dan Giovano yang lolos, saya akan meratakan perusahaan mereka dalam sekejap”
“Baik, Pak. Saya akan langsung menyampaikannya”
Noren menghela napas, membiarkan Nabila kembali melakukan pekerjaannya. Ada rasa bersalah yang datang karena dirinya sedang dalam keadaan yang sangat rentan. Tetapi, dia tidak boleh lengah tentang hal ini. Segalanya harus di urus tuntas tanpa kebocoran sedikitpun.
“Saya sudah kabari mereka Pak, dan mereka bersumpah akan menyaring semua berita yang masuk. Ah, saya juga sudah mendapatkan tanda tangan surat perjanjian yang memastikan bahwa apa yang mereka katakan akan terjamin sepenuhnya”
“Kerja bagus, Nabila. Sekarang gimana bagian social media? Facebook, twitter? Instagram? Tiktok.. aman? Media luar negeri? Nggak ada yang lolos satupun?” Dia memastikan lagi. Karena, sekali tersebar, tidak akan ada yang Namanya pengampunan dan penyebarannya sangat cepat. Noren tidak ingin itu terjadi. Dia harus sangat teliti tentang ini.
“Sejauh ini, divisi media sosial kita belum mengabari satu berita atau video bocor apapun, Pak” Nabila menjawab dengan tenang. “Jika Bapak masih kepikiran, saya akan menelpon untuk memastikannya lagi kepada Bu Agnes”
“Silahkan..”
Noren menghela napas, menyandarkan tubuh lelahnya ke kursi besar miliknya yang rasanya tidak pernah seempuk biasanya. Semuanya kaku dan keras. Dia tidak tahu apakah itu memang karena dirinya sendiri yang tidak bisa rileks atau memang kursinya sudah harus diganti dengan interior yang baru.
“Jika masih aman, tetap perketat. Kalau bisa sewa lebih banyak buzzer dan langsung tutup akun-akun yang menyebarkannya. Saya tidak peduli mau itu akun besar bercentang dalam atau luar negeri. Apapun yang mengancam kerusakan nama baik perusahaan dan Cakrawijaya harus segera di tuntaskan” suaranya dalam, tegas tanpa ampun meskipun kelelahan menetes dari sana.
“Baik, Pak, dimengerti”
Noren mengangguk. Dia membiarkan sekretarisnya untuk menelpon pihak divisi yang sedang bertugas dengan tanpa lelah. Noren sendiri tidak yakin bagaimana dirinya masih bisa berfungsi. Mungkin ini kekuatan dari pengetahuannya tentang keadaan Nalisa yang mampu ditangani oleh Dokter terbaik di negeri ini. Mungkin juga karena kelancaran menutup berita-berita buruk diluaran sana yang menganggu.
Tidak masalah apakah dia masih belum tidur dan beristirahat atau tidak. Dia hanya butuh update kondisi Nalisa dan semuanya aman terkendali.
Noren berbalik, memunggungi mejanya untuk melihat langit dari kaca besar ruangannya. Matanya perih, merah dan lelah. Tetapi dia takut. Noren takut untuk tidur karena dia yakin kegelapan dan rasa bersalah akan memakannya hidup-hidup. Dia akan jatuh dalam spiral kesengsaraan yang luar biasa karena hampir menjadi seorang pembunuh.
Seseorang yang akan membunuh perempuan yang sangat dicintainya. Itu menyakitkan itu mengerikan. Dia bisa melihat tangannya sendiri yang berdarah. Tidak, itu bukan daran miliknya, melainkan darah milik Nalisa. Dengan tatapan tajam dan keberanian yang luar biasa menetes dari sana. Menghantui Noren sepanjang hari seakan-akan tengah mengutuk segala perbuatannya yang luar biasa buruk dan mengerikan.
“Pak.. Pak Giovano?”
“Ya?” dengan nada terkejut, Noren kembali sadar ketika Nabila memanggil. Dia berbalik kembali untuk melihat Nabila yang menatapnya dengan tatapan khawatir dan rasa kasihan.
Haha. Itu lucu. Rasa kasihan.
Noren tidak pantas dikasihani. Dia adalah yang mengambil darah dari Nalisa. Dia adalah sosok penjahat. Dia tidak boleh dikasihani karena dia adalah pelaku yang menyebabkan cintanya mengalami permasalahan hebat dan hampir meninggalkan dunia ini. Meninggalkan sisinya untuk selama-lamanya.
“Pak, maaf jika saya lancang. Sepertinya, Bapak harus beristirahat sekarang. Semuanya sudah aman dan terkendali. Media sosial selalu dipantau sepanjang hari untuk satu minggu penuh ini. Saya bukannya sok tau, tetapi Bapak terlihat sangat membutuhkan istirahat. Semua akan baik-baik saja, Pak. Saya tidak bisa memastikan tetapi atas semua yang sudah bapak lakukan hari ini, saya sakin semuanya akan baik-baik saja”
Terkadang, Noren tidak terlalu memperhatikan bahwa Nabila adalah Sekretaris yang tidak akan pernah tergantikan. Perempuan itu baik dengan pekerjaannya dan bahkan mampu membuat Noren menyadari dirinya sendiri yang terlalu berantakkan. Lelaki itu tersenyum kecil, senyum pertamanya setelah seharian berperang dengan kegilaan menutup mulut media. Lelaki itu mengatakan terimakasih dengan suara cadel yang tidak sadar bahwa dia bisa melakukannya.
Dia tidak boleh terlihat rentan di depan orang lain yang tidak dekat dengannya, tetapi semua beban yang sekarang dia tanggung, dia merasa luar biasa lelah. Noren merasa dia tidak mampu, dia tidak bisa. Dia lemah, dia tidak bisa memasang topeng kuatnya lagi dengan baik dan benar.
Noren merasa pahit. Dia adalah penjahat. Dia adalah monster. Dan sekarang, dia sedang menanggung semua kejahatan yang dirinya perbuat. Rasanya, ini bukan apa-apa. Masih belum.
“Terimakasih banyak Nabila. Pulanglah, kau sudah bekerja sangat keras hari ini. Saya akan berikan bonus dan kenaikan gaji untuk bulan ini. Sekali lagi, saya sangat berterimakasih atas bantuanmu”
“Ah, tidak perlu, Pak. Untuk kali ini saya sungguh ikhlas untuk membantu Bapak. Saya juga berharap Ibu Cakrawijaya akan baik-baik saja. Saya ikut berdoa untuk kesehatan dan kesembuhan beliau”
Mengingatkan tentang Nalisa lagi dan lagi, Noren merasakan dadanya berdebar dengan rasa sakit. Nalisa belum sadar pasca operasi. Tetapi dokter memastikan dia baik-baik saja. Noren tiba-tiba saja merasa sangat ingin menemui Nalisa. Sekarang, tidak apa-apa, bukan? Setidaknya, meskipun dirinya di usir, dia masih bisa mengetahui bagaimana keadaan perempuan itu dengan kedua matanya sendiri.
“Terimakasih atas kepedulianmu. Pulanglah, saya juga akan segera pulang. Sekali lagi, terimakasih banyak karena sudah bekerja dengan sangat keras, Nabila”
Dan dengan itu, Noren membiarkan dirinya pergi keluar lebih dulu. Tidak ingin lebih lama berbasa-basi. Sementara Nabila membereskan barang-barangnya, Pak Chandra yang merupakan asisten pribadinya datang untuk menjemputnya. Noren akan langsung menuju rumah sakit dimana Nalisa dirawat inap disana.
Perjalanan di mobil terasa begitu lama lebih dari biasanya. Padahal jalanan tidak semacet biasanya. Tetapi Noren tahu mengapa dia merasa seperti ini. Rasanya lebih lama, lebih panjang untuk menyiksanya setiap detik dan waktu yang berlalu. Setiap kali dia bengong dan diam, pikirannya berkecamuk dan hatinya berdebar-debar meneteskan darah ketakutan dan perasaan bersalah yang luar biasa besar.
Benar, Noren mengakui bahwa apa yang dia lakukan sangat tidak pantas. Pikirannya berlalu-lalang ke masa-masa tiga bulan yang lalu. Dimana dia berusaha untuk mendapatkan hati Nalisa tetapi tidak pernah berhasil sehingga dia frustasi dan membiarkan monster jeleknya menguasai dirinya seutuhnya. Dia membuat Nalisa terperangkap padanya dan dia berlindung dibalik kata cinta. Dibalik perasaannya yang sudah terlalu beracun bahkan untuk dirinya sendiri.
Dulu, dia akan mengatakan kalimat pembelaan bahwa ini adalah kali pertamanya dia jatuh cinta dan dengan sangat percaya diri yakin dia akan mampu membuat cinta pertamanya juga kembali melihatnya seperti tontonan klasik jaman dahulu yang sering dia tonton diam-diam di waktu luangnya. Meskipun tidak sering, tetapi dirinya yang sangat berambisi itu merasa cukup dan sombong bahwa dia akan mendapatkan hasil happy ending yang sama dengan apa yang dirinya tonton waktu itu.
Tetapi kenyataan berjalan berseberangan dengan apa yang dia impikan. Seharusnya dia bisa mengendalikan dirinya dan menunggu lebih lama lagi. Membiarkan Nalisa menghangatkan diri dengannya. Mengembangkan perasaan yang sama untuknya. Bukan dengan jalur pemaksaan. Noren sadar diri. Dia sudah benar-benar yakin bahwa dia pantas untuk dipukul oleh ribuan pukulan untuk membuatnya dimaafkan.
Dimaafkan.
Entah mengapa rasanya itu terdengar sangat pahit. Dia ingat bahwa Sinar sudah mencoba untuk menghentikannya. Sahabatnya itu serta kakak dari cinta pertama dan cinta terakhirnya seumur hidup itu sudah mencoba untuk menyadarkannya bahwa dia melakukan hal yang salah. Bahwa ini tidak akan berakhir dengan baik seperti apa yang terjadi sekarang. Tapi yang dia lakukan adalah mengejek dan merendahkan sahabat terbaiknya itu. Memukul Sinar tepat di atas lubang kelemahan yang dia tahu sahabatnya itu miliki.
Noren tidak pernah menangis, tetapi dua hari belakangan Noren tidak bisa menghentikan air mata sakit dan penyesalannya yang sangat menyakitkan itu. Rasanya sesak seolah-olah dia ditenggelamkan hidup-hidup kemudian dibakar oleh api penyesalan yang berkobar seperti lahar di gunung berapi ketika di lemparkan benda lain yang menyebabkan perubahan massa pada lahar panas ganas itu.
Noren akhirnya mampu mengakui bahwa dia bersalah. Bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal yang memerlukan lebih dari sekadar permintaan maaf. Sekarang, dia sadar bahwa dia telah salah. Bahwa dia telah menyakiti Lisa. Bahwa dia akan membutuhkan waktu untuk kembali dekat dengan perempuan itu.
Satu hal yang dia takutkan adalah, Nalisa tidak akan pernah memaafkannya seumur hidupnya. Noren tidak ingin itu terjadi, tetapi entah kenapa… dia pasrah. Dia menyerah.
Noren ingin menyerah.
Namun rasanya masih salah, masih terbakar.
Dia harus berhenti disini. Jika tidak dia akan kembali menangis lagi. Kali ini tepat di depan Pak Chandra dan supir taksi yang merupakan orang asing tidak pernah dia kenal.
“Pak, Kita sudah sampai”
Hanya butuh satu kalimat dari Pak Chandra untuk Noren segera keluar dari taksi tersebut. Melangkahkan kakinya untuk masuk dan sesegera mungkin menuju tempat dimana dia bisa melihat sang terkasih. Kepalanya penuh pertanyaan tentang keadaan Nalisa. Apakah dia sudah siuman? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana perasaannya sekarang?
Noren berharap yang terbaik, apapun itu untuk keadaan Nalisa sekarang. Dia membiarkan Pak Chandra tinggal untuk mengurus pembayaran perjalanan mereka. Kepalanya penuh dengan Nalisa dan dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk melangkah lebih cepat daripada yang seharusnya dia lakukan. Tetapi Noren bersyukur bahwa dia tidak berlari, jika tidak dia akan ditegur dengan konyol oleh suster yang bertugas dan dia tidak ingin terlihat lebih bodoh daripada yang sudah ada.
AMARILLYS sp. VIP ROOM 1 – 001
Ms. Nalisa Rembulan Cakrawijaya
Noren tidak tahu bahwa dia masih bisa mengangkat bibirnya untuk mengulas senyuman meski hanya sebuah tarikan kecil. Kakinya membawanya berhenti di depan pintu ruangan. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ada perasaan ketakutan yang luar biasa dan perasaan bersalah yang masih menguasainya. Dia tahu bahwa keberadaannya pasti tidak akan diterima oleh perempuan itu. Tetapi dia hanya ingin memastikan bahwa Nalisa baik-baik saja. Hanya itu.
Noren berharap, Nalisa tidak mengusirnya meskipun itu adalah hal yang paling mustahil.
Tangannya sekarang berada di kenop pintu. Dia hanya tinggal memutarnya saja dan mengundang dirinya masuk. Tetapi masih banyak keraguan, masih banyak hal yang membuatnya berperang di kepala.
Noren hanya harus menjadi orang yang tidak tahu diri dan meminta pengampunan langsung kepada Nalisa dengan cara berlutut. Dia tidak akan goyah. Meskipun dia masih sakit, hatinya masih meronta dengan segala emosi yang tidak bisa dia sebut satu-satu, dia siap untuk bersujud untuk meyakinkan perempuannya bahwa dia telah melakukan kesalahan. Bahwa dia sudah sadar dan dia akan melakukan yang terbaik untuk berubah. Mungkin memang tidak instant, tetapi dia akan melakukan instropeksi diri lebih jauh lagi.
Setidaknya dia mencoba.
Tapi, sesuatu memukulnya mundur. Di dalam, dikamar rawat milik Nalisa, dia bisa melihat perempuan itu bangun dan sadar sepenuhnya. Hatinya menghangat ketika perempuan itu tertawa dengan wajah yang sangat sumringah. Meskipun tidak tahu apa yang tengah ia eluka dengan sangat ceria, Noren merasa luar biasa lega.
Tetapi.. disana Nalisa tidak sendirian. Noren yakin dia tahu siapa yang menemani Nalisa saat ini. Benar, itu adalah Alpino.
Noren mundur. Perasaannya tidak mampu untuk dia tafsirkan lagi. Tangannya bergerak mencengkeram sisi dadanya tempat dimana jantungnya bertalu dengan denyutan sesak yang sakit. Kapan dia pernah membuat Nalisa sebahagia dan sesantai itu? Kapan dia pernah membuat Nalisa tertawa terbahak-bahak dan nyaman disisinya tanpa paksaan dan omelan yang perempuan itu keluarkan?
Kapan Noren pernah melihat Nalisa dengan wajah berseri yang luar biasa indah itu? Auranya terpancar dengan sangat indah dan Noren hanya.. Noren hanya terpukul mundur.
Napasnya sekarang tumbuh dengan sangat sesak. Lelaki itu mengepalkan tangannya yang kosong. Berusaha untuk tidak menjadi lebih gila lagi. Tetapi emosinya terlalu kuat sehingga dia melampiaskannya dengan memukul temboh tepat di bawah papan nama. Dinding itu tidak rusak, tetapi tangannya memar dengan seberapa keras dia memukul meski hanya dengan satu pukulan.
Matanya yang nanar, menatap dengan binar ratapan rasa sakit dan penyesalan pada tangannya yang masih bersarang di dinding. Kepalanya maju untuk ia pukulkan ke tempat yang sama, bergumam dengan lemah untuk mengasihani dirinya sendiri.
“lo masih penuh dengan percaya diri yang nggak berguna. Lo masih jadi monster jelek yang nggak bisa ngendaliin diri sendiri. Lo pecundang, Noren. Pecundang..”
Noren mencoba untuk menenangkan diri. Mengambil napas sedalam yang dia bisa, dia putuskan untuk pulang saja kerumah. Meratapi penyesalan dan mencoba untuk menjadi manusia normal yang masih berfungsi.
Baru saja dia berbalik untuk kembali, dia mendapati ibunya yang sedang membawa bingkisan berada di depannya. Terkejut mendapati anak sulungnya berada disana dengan kedua bahu yang turun dan rasa sakit yang terpancar dengan kuat.
“Noren…”
“Ma..”
Langkahnya tertatih ketika dia menghampiri Jessica. Dengan lemah, dia melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk sang ibu. Air matanya jatuh membasahi pakaian sekitar bahu Jessica.
Ah.. Noren lupa kapan dia pernah menangis di pelukan sang Ibu seperti sekarang, yang pasti, kali ini dia tidak bisa menahan apapun lagi.
Ada bendera putih yang dia lambaikan secara imaji saat dirinya mengeratkan pelukannya pada sang Ibu. Tangisan diam menjadi isakan kecil ketika Jessica menepuk sayang punggung lelah Noren.
Dia akhirnya memutuskan untuk, menyerah.