Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Amukan Nalisa



Piring penuh makanan yang tersaji diatas meja dengan dekorasi dan bentuk yang mewah juga menggiurkan sama sekali tidak lagi menarik minat Lisa. Perempuan itu muak dengan apapun situasi yang telah terjadi saat ini. Belum lagi, percakapan para orang tua dan juga Noren yang sejak tadi menimpali membuatnya sangat ingin melempar semua hal yang ada diatas meja sekarang juga.


Kakaknya sama sekali tidak membantu. Yang ada, lelaki itu hanya diam dan mengunyah makanan di piringnya dengan lambat. Matanya juga sama sekali tidak melirik dirinya barang sebentar saja.


Dia merasa dunianya semakin hancur ketika pembicaraan mulai mengalir bak air bah tentang tanggal pernikahannya dengan Noren. Belum lagi dengan bagaimana kedua wanita tua yang cerewet dengan heboh membayangkan gaun-gaun pilihan mereka untuk Lisa nantinya. Para Ayah sepertinya juga ikut dengan senang hati membicarakan tentang pengalaman pernikahan mereka dulu. Menceritakan beberapa petuah pengalaman kepada Noren yang terlihat sangat santai dan cukup suka dengan keadaan saat ini. Tidak peduli bagaimana Lisa menggertakkan giginya dan berharap semua ini berhenti atau kalau bisa dia berharap ini adalah mimpi buruk semata.


“Ah, Noren, kamu kemarin cerita sama Mama kalau ada problem tentang gedung pernikahan sama undangan, ya? Itu gimana sekarang? Udah berhasil diselesaikan?”


Telinga Lisa bergerak, dia menoleh cepat ke arah Noren dengan tidak percaya. Apa pembicaraan yang sebenarnya dan sejauh apa yang telah terjadi sampai saat ini? Semuanya bahkan tanpa persetujuan dari Lisa terlebih dahulu?


Ralat, dia bahkan tidak tahu bahwa semua ini akan terjadi di dalam hidupnya begitu saja.


Nalisa tidak mengira Noren sampai senekat ini tentang perihal rasa sukanya yang jelas Lisa tolak mentah-mentah sejak awal pertemuan mereka yang tidak terduga.


Orang-orang ini gila. Tidak waras. Sepuluh per sepuluh pantas untuk di masukan ke dalam rumah sakit jiwa terbesar di kota ini.


“Oh benar itu, nak Noren?” Sherely bertanya dengan terkejut. Lisa tidak pernah ingin menutup mulut Mamanya sampai dengan saat ini.


“Ah, iya, Ma. Kemarin ada sedikit problem..” Noren berbicara dengan senyuman kecil. Lelaki itu baru saja selesai menenggak minuman cranberry-nya yang bertepatan di sebelah Nalisa. Secara sengaja, menyenggol kecil bahu Lisa dengan lembut.


Oke. Nalisa bersumpah dia akan mencari toko alat perkakas terdekat dan mulai menghabisi lelaki gila yang berada di sampingnya ini dengan sangat tidak bermartabat. Dia akan mencincang tubuh Noren dan membuangnya di banyak tempat yang berbeda. Mungkin meletakkan kepala lelaki itu di mulut buaya yang kelaparan. Lisa sedang menulis list di dalam kepalanya yang berantakkan saat ini juga.


“Waduh, besar banget ‘kah problemnya? Soalnya seinget Papa, nak Noren sendiri ‘kan yang mau ngurus semua perlengkapan pernikahan kalian?”


Tatapan Lisa menusuk tajam pada Huston yang sedang memotong steak daging setengah matang miliknya dengan ujung pisau tajam yang Lisa yakini jika setan melewatinya, dia tidak akan sungkan untuk mengambil benda itu dan membuat Papanya diam. Seberapa sayangpun dia dengan kedua orang tuanya, hal-hal yang terjadi saat ini membuatnya sisi psikopatik nya muncul.


Hanya kiasan, memang. Mungkin hanya dalam bayangnya karena dia sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan saat ini. Namun, siapa yang tau apa yang dia akan lakukan selanjutnya. Setidaknya, Lisa yakin bahwa untuk seorang Noren, dia tidak akan memiliki hati untuk memaafkan.


“Hmm, biasa, Pa. Memang sempat pihak produksi undangan salah cetak sebanyak tiga ratusan undangan dan pihak Ritzz Carlton Hotel nya batalin reservasi gedung secara tiba-tiba karena ada vendor besar lain yang ternyata nge-booking tempat acara di tanggal yang sama dengan yang aku reserve..”


Sebentar, tiga ratus undangan? Dan sebanyak itu adalah yang salah cetak? Berapa banyak orang lagi yang akan diundang oleh Noren gila itu sebenarnya?. Lisa melotot, tidak percaya pada pendengarannya. Dia merutuk dalam hati, mengapa tidak semuanya saja mereka hancurkan? Maka Lisa akan berpesta dengan senang hati jika seluruh acara dibatalkan!


“Wah gawat juga kalau begitu, ya, Nak..” Dallas bergumam dengan takjub karena kesalahan besar yang terjadi. Tetapi Noren hanya melambaikan tangan kecil dan menggeleng.


“Beruntungnya, sih, sudah aku handle dengan cepat waktu itu. Meskipun mereka ngerusak kencan aku dengan Lisa waktu problem itu kejadian”


Sebentar…


‘Jadi si brengsek ini ninggalin gue kemarin karena ada problem dengan pernikahan gila yang sama sekali nggak gue setujui ini? Kenapa nggak hancur aja, tuh, semua rencana orang gila ini?!' Lisa menjerit histeris dalam hati.


‘Kalau tau begini, seharusnya gue tahan aja dia supaya beneran berantakkan. Nggak masalah si brengsek ini sama gue disana asal semua hal bodoh ini hancur. Bangsattt!!’ Lisa menggeram, tidak sadar dengan suara kekesalannya sampai Noren menyenggolnya lagi dengan sapuan tangan kecil ke lengannya.


‘Apa lo brengsek?!’ Lisa mendengus, melotot pada wajah Noren yang sangat ingin dia tinju saat ini juga. Namun, dia masih ada rasa hormat untuk orang tua yang berada di sini..


Atau seharusnya-,


Noren berani untuk tersenyum kecil menggoda Lisa. Menempelkan jemarinya di bibir sebagai gestur agar Lisa menjaga ucapan dan sikapnya dalam jamuan makan malam resmi ini.


“Waduh, masalah besar dong itu! Padahal lagi mesra-mesraan berdua” Jessica mencibir, memperlihatkan rasa ibanya pada sang anak. Lisa juga ingin meninju wajah perempuan yang mirip dengan Noren itu.


Aduh, semua keluarga Giovano benar-benar menyebalkan. Lisa ingin mengenyahkan mereka semua hingga ke dasar laut lepas!


“Hahaha, nggak masalah, Ma. Kemarin emang aku emosi banget, sih, sama staff yang handle masalah ini sampai aku yang harus turun tangan. Tapi nggak masalah. Semuanya udah selesai. Dan ini yang aku mau kasih tau, acara pernikahannya kayaknya harus diundur ke akhir Januari besok. Soalnya reservasi hotel aku kalah dari vendor sana, jadi daripada makin panjang masalahnya, aku undur aja dan reservasi yang tercepat cuma di akhir bulan”


Noren terdengar sedikit masam dengan ucapannya. Tapi, lelaki itu bahkan tidak peduli ketika Lisa dengan sengaja menginjak kakinya dengan ujung heels yang dia kenakan. Sedikit melompat karena rasa sakit, tapi lelaki itu entah bagaimana berhasil untuk menenangkan dirinya dan menampilkan postur terbaiknya di depan kedua orang tua mereka.


“Yah, gagal, deh, punya mantu pertengahan bulan ini” Sherely cemberut, wanita itu bahkan tidak peduli bagaimana Lisa terkejut dengan reaksi yang diberikan Mamanya. “Tapi nggak apa-apa. Yang penting pernikahannya tetap jalan dan Noren tetap bisa jadi menantu terbaik Mama yang paling ganteng, kan?” Sherely mengedipkan mata. Noren tertawa terbahak-bahak seolah ucapan Sherely menggelitik perutnya.


Ini tidak bisa dibiarkan. Lisa sudah muak mendengar ini semua. Sebenarnya siapa yang akan menikah disini? Dirinya atau mamanya? Atau keluarganya? Dia tidak menyetujui apapun yang terjadi sekarang. Lisa harus menyuarakan dirinya sendiri. Kalau tidak dia akan diinjak-injak dengan keputusan orang tua yang tidak sadar diri ini.


“Seneng, deh, rasanya. Mama nggak percaya kalau sebentar lagi Lisa bakalan nikah sama kamu. Mama nggak sabar nanti anak Mama nikah dan bahagia sama kamu” Sherely kembali berbicara. Wanita itu menenggak minumannya dengan ceria.


“Aku nggak mau nikah, Ma. Ini bukan pilihan aku!”


Satu gebrakan pada meja membuat semua orang terkejut. Bahkan, para Ayah yang sejak tadi berbincang dengan nyaman berdua dan Sinar yang tidak peduli dengan situasi terkejut dengan ledakan Lisa yang tiba-tiba.


“Sayang..” Noren menyenggolnya. Kali ini tubuh lelaki itu berbalik menghadapnya dengan penuh. Wajahnya mengkerut, tidak ingin Lisa bertingkah tidak sopan di jamuan makan mala mini.


“Jangan gitu, kamu pasti cuma kaget aja, kan? Tenang aja, sayang. Semuanya udah aku handle dengan benar. Kamu nggak perlu mikirin yang nggak perlu sama sekali, oke?”


“Diem, lo! Dari awal pernikahan ini sama sekali nggak ada omongan sama gue, ya! Gue nggak setuju! Ini namanya pemaksaan! Ma, Pa, Lisa sama sekali nggak akan nikah sama Kak Noren! Lisa nggak suka dengan pernikahan paksa kayak gini. Bahkan kalian semua nggak ada yang ngomongin dengan aku terlebih dahulu. Kalian kira aku ini apa?” Lisa berdiri. Wajahnya memerah. Belum lagi ketika dia mendengar penuturan menjijikkan yang telah diserukan oleh Noren beberapa waktu yang lalu.


“Nalisa, jangan nggak sopan!” Huston sedikit membentak, pria paruh baya itu menatap anaknya dengan raut wajah keras yang tidak suka. Lisa memutar matanya, tidak peduli dengan apapun yang terjadi.


“Gimana aku nggak bisa marah kalau ceritanya kayak begini Pa? aku dijodohin tanpa aku tau! Pernikahan bakalan terjadi tanpa sepengtahuan aku dan tanpa sepersetujuan aku. Kalau aku nggak marah, aku gila, Pa! Lisa menolak pernikahan bodoh ini!”


Lisa tidak perduli. Dia tidak akan menyerah pada Noren. Lelaki itu tidak akan bisa menang atas dirinya. Dia tidak peduli dengan sikapnya di depan para tamu. Sejujurnya, dia ingin menangis sekarang karena dia merasa tidak ada yang berada di sisinya dalam hal ini. Kakaknya juga, sama sekali tidak membuka mulut sejak awal. Namun, Lisa tidak kan jatuh pada hal-hal bodoh yang mengekang kehidupannya sekarang.


Pernikahan adalah hal besar dalam hidupnya. Segala hal bisa berubah hanya karena pernikahan yang mengikat sisa hidupnya. Lisa menghormati pernikahan sebesar dia menghormati hubungan kekeluargaan dan kedua orang tuanya. Dia tidak bisa begitu saja menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai. Atau bahkan, Lisa tidak ingin menikah dalam keterpaksaan seperti ini.


Lisa orang yang bebas. Dia bebas menentukan tujuan hidupnya. Apa-apaan semua ini yang pada akhirnya menghambat kebahagiaan dan kebebasan yang selama ini dia pegang dalam kehidupannya?! Orang-orang pasti sudah gila. Lisa tahu, otak yang berada dibalik ini semua tidak lain dan tidak bukan pasti adalah Noren seorang.


Karena hanya orang itu, yang memaksanya sedemikian rupa.


Ternyata, title teman yang Lisa berikan untuk Noren sama sekali tidak berguna dan pada akhirnya menjadi bumerang untuk Noren bisa bertingkah seenaknya tentang hidupnya.


Persetan dengan segala kegilaan ini! Lisa tidak peduli apapun jika itu menyangkut kehidupannya yang akan direnggut secara paksa oleh orang lain yang bukan dirinya!


“Lisa sayang, kamu pasti belum siap buat denger semua ini, kan? Mama paham.. tapi malam ini kita lagi obrolin baik-baik tentang pernikahan kamu sayang. Lagian juga, ini pernikahannya masih akhir bulan depan, jadi masih ada waktu buat kamu siap-siap. Mama yakin kamu cuma lagi gugup aja sekarang, kan?”


Gila. Mamanya sudah sangat tidak waras jika wanita itu mengatakan hal bodoh tidak masuk akan sedemikian rupa itu. Lisa ingin menangis. Dia benci hal-hal gila ini. Dia tidak bisa menangis dan menunjukkan bahwa dia lemah, karena dia bukan! Dia hanya kewalahan dengan emosi yang berkobar sekarang. Baru kali ini, dia membenci kedua orang tuanya yang akan bertarung dengannya perihal hal seperti itu.


Orang tuanya malu dengan dirinya yang membentak di depan kolega pemilik perusahaan besar di beberapa Negara ini. Giovano adalah nama yang besar dan terpandang. Namun Giovano juga adalah nama yang licik dengan orang gila yang menyandang nama keluarga itu.


“Mama masih nggak ngerti juga apa yang Lisa bilang?! Lisa nggak mau nikah sama Kak Noren. Lisa juga nggak mau pernikahan ini terjadi. Lisa bukannya gugup dengan perihal gila yang kalian omongin dari tadi. Lisa nggak tau, sepicik apa sebenarnya kalian sama hidup Lisa. Tapi Lisa nggak akan pernah mau pernikahan ini terjadi!” Dia membentak lagi, nafasnya tidak teratur karena emosinya yang meledak-ledak akan tidak terkendali. Dia yakin bisa berubah menjadi iblis jika dia tidak menahan semua gumpalah emosi jeleknya ini.


“Papa kalau mau bentak Lisa, silahkan! Tapi Lisa minta semua ini dibatalkan karena Lisa nggak pernah mau ada pernikahan ini sama sekali! Lisa nggak cinta sama Kak Noren dan nggak akan pernah cinta!”


“Sayang, kamu tenang dulu, oke?” Noren dengan lembut berdiri, memegang kedua bahu Lisa untuk menenangkan perempuan itu. Nyatanya, hal itu dengan cepat Lisa tepis. Dia melemparkan tatapan kematian ketika dia beringsut mundur dan menjauh. Wajahnya jelas merah merekah karena emosi.


“Diem lo!” Nalisa melotot sebelum berbalik untuk melihat para orang tua yang marah dan terkejut di depannya.


“Maaf Tante dan Om Giovano, saya nggak bisa melanjutkan pernikahan karena saya nggak akan pernah mau menikah dengan anak kalian yang ini. Saya nggak cinta sama Kak Noren dan semua ini adalah pemaksaan tanpa persetujuan dari saya. Jika ada yang ingin disalahkan, saya sarankan kalian menyalahkan anak kalian yang sudah membuat semua perkara sebesar ini!”


Lisa tidak tahan untuk tidak membentak. Tapi sayangya, Noren kembali menyentuh punggungnya untuk menenangkannya dan Lisa terbakar emosi dari gerakan bodoh itu.


“Lepas! Gue mau keluar. Jangan pikir semua ini cuma sandiwara gue aja karena gue menolak keras semua hal tentang pernikahan bodoh yang lo kemukakan dalam acara bodoh ini. Gue keluar!” Lisa dengan cepat beranjak pergi dari ruang jamuan itu. Tapi, sebelum dia berhasil sepenuhnya untuk keluar dari saja, dia menoleh pada Noren dengan satu tatapan tajam kematian yang dia hunuskan.


“Dan mulai sekarang, gue nggak bakalan nganggap lo temen gue lagi atau bahkan lebih dari orang asing yang gue benci! Pegang kata-kata gue, brengsek!”


Dan setelah itu, satu bantingan pintu terdengar di dalam ruangan yang sunyi. Noren menghela napas sebelum kembali duduk di tempatnya. Tangannya duduk di atas kedua pahanya dan matanya tertutup untuk menahan dirinya sendiri.


Ada beberapa saat hening sebelum kepala keluarga Cakrawijaya membuka suara untuk menyuruh anak sulungnya mengikuti sang bungsu.


“Sinar, tolong temani adikmu dan jangan biarin dia pulang sendirian”


“Oke, Pa”


Setelahnya, Sinar mengikuti jejak Nalisa untuk keluar dari ruangan yang memanas beberapa saat yang lalu.


...........


“Dari hati yang paling dalam, tolong maafkan sikap dan kelakuan anak saya yang paling kecil. Dia biasanya tidak bersikap seperti itu di depan tamu. Tolong maafkan anak saya”


Noren melihat bagaimana Huston berdiri dan membungkuk dalam pada kedua orang tuanya. Sedangkan Sherely sepertinya terlihat sangat malu sampai harus menundukkan wajahnya yang terkejut. Noren sadar, reaksi dari Lisa saat ini adalah reaksi yang sama sekali tidak bisa diprediksikan oleh kedua orang tuanya.


Sebenarnya Noren sadar bahwa acara makan malam akan mejadi seberantakkan ini. Itulah kenapa dia sudah bersiap untuk hal-hal seperti ini. Jadi, dia hanya tersenyum dan berdiri untuk menyuruh Huston kembali duduk. Dia sudah merencanakan hal-hal dengan matang, jadi, penolakan Lisa dan emosi Nalisa hari ini sama sekali bukan apa-apa. Ini adalah permasalahan kecil dan mereka akan tetap melaksanakan pernikahan tanpa terhalang satu apapun.


“Nggak apa-apa, Pa. Lisa pasti cuma terkejut dengan ini karena aku sama sekali belum cerita ke Lisa tentang pernikahannya. Jadi, dia mungkin sama sekali nggak punya persiapan. Lagian, aku udah tau kejadiannya akan begini, kok” Noren menjelaskan dengan santai. Dia beranjak mendekati Huston dan menepuk bahunya dengan lembut.


“Tetap saja, Lisa nggak seharusnya bersikap seperti itu di depan kedua orang tua kamu, nak Noren. Ini salah kami yang kurang membimbing Lisa sampai anak itu berani bersikap sangat tidak sopan seperti tadi”


“Nggak apa-apa, Pa.. sudah Papa duduk aja, ya..”


“Tapi saya sangat malu…”


“Huston, silahkan duduk saja! Kami sudah diberitahu oleh Noren sebelumnya tentang bagaimana Lisa akan menanggapi pembicaraan ini. Jadi aku dan istriku sama sekali nggak terkejut, hanya sedikit saja.. segini” Dallas menunjukkan tangannya yang mengerucut menunjukkan jarak antara telunjuk dan jempolnya yang sangat sempit.


Noren terkekeh ketika mendapati wajah terkejut dari calon mertuanya. Kepala keluarga Cakrawijaya itu menatap dengan terperangah pada kejenakaan yang tiba-tiba saja disampaikan oleh rekan bisnisnya dan calon besannya itu. Namun meskipun begitu, Huston tetap duduk meski keterkejutannya belum sirna sama sekali.


“Jeng Jessica.. gimana, kok bisa tenang begitu? Anak saya padahal udah kurang ajar…” Sherely berbicara dengan pelan, masih terkejut dengan situasi. Namun, wanita itu ditenangkan dengan tepukan dan cekikikan dari Jessica.


“Nanti Noren jelaskan. Tapi kami udah dibriefing dulu sebenarnya sama anak ini. Dia bersikeras banget maunya cuma nikah sama Lisa. Jadi, kami bisa apa? Asalkan Noren seneng, kami juga ikut seneng banget malahan. Apalagi waktu tau kalau calon besan aku ya kamu, Jeng”


“Aduh.. saya jadi gimana ya..”


Noren tersenyum melihat interaksi kedua orang tuanya dengan keluarga Lisa. Tubuhnya yang sejak tadi sebenarnya tegang, ia sandarkan pada bahu kursi. Ingin sekali rasanya memijat pelipis namun dia urungkan. Takut jika dia melakukannya, kedua orang tuanya akan menarik semua keinginannya dan melarangnya dalam pernikahan ini.


Ingat pada waktu itu ketika dia meminta pada mereka agar tidak menjodohkannya dengan siapapun. Termasuk pada anak keluarga Herrmington atau anak perempuan keluarga bisnis lain yang sudah dicarikan oleh kedua orang tuanya. Noren bersikeras bahwa dia akan menikahi Nalisa dari keluarga Cakrawijaya suatu hari nanti.


Keluarganya sempat tidak setuju dan ragu, tapi karena Noren bersikeras dan memaksa agar dia tetap dibiarkan bebas untuk memilih jodohnya, kedua orangtuanya menyetujuinya dengan syarat dia harus menikah ketika menginjak usia 29 tahun. Dan tahun depan usianya sudah mencukupi. Dia harus melancarkan pernikahan ini.


Dia sudah memberi waktu pendekatan untuk Lisa selama tiga bulan dan bahkan lebih. Jadi, jika hal ini sama sekali tidak berhasil, dia akan tetap melanjutkan meskipun Lisa suka atau tidak suka. Nalisa adalah miliknya untuk dimiliki dan tidak boleh ada orang lain selain dirinya.


Noren jahat. Biarlah dia tahu itu dan dia tidak akan mengoreksinya.


Karena untuk satu dan untuk cintanya, dia akan melakukan apapun.


Katakanlah dia terobsesi pada keinginannya untuk memiliki Nalisa dan dia tidak akan menyangkal hal itu. Nalisa adalah miliknya dan bukan orang lain.


“Mama, Papa, Noren tahu kalau misalkan Lisa pasti nggak setuju sama pernikahan ini. Mama dan Papa juga pernah ragu ‘kan dengan permintaan Noren untuk menikahi Lisa jauh-jauh hari sebelum aku milih buat ngambil alih perusahaan yang ada di kota ini?” Noren memulai, mengingat kembali bagaimana dia mulai meminta Lisa pada keluarga Cakrawijaya pada waktu itu. Juga bagaimana Sinar dengan senang hati mendukungnya dengan semangat yang membara.


Senyum kecilnya hadir, kesenangan perasaan pada hari itu muncul seperti ombak yang menenangkan.


“Tapi aku juga udah yakinin ke kalian kalau Lisa aman sama aku, kan? Aku bisa pastikan Lisa bahagia sama aku karena aku cinta banget sama anak kalian. Tolong Ma, Pa, jangan ragu dengan hidup Lisa di tangan aku. Aku cuma butuh restu dari kalian berdua dan juga dari keluargaku”


Sebenarnya Noren tidak butuh memelas seperti saat ini. Keluarga Cakrawijaya sangat mencintainya dan sangat membutuhkan kerjasama perusahaan yang mereka bangun bersama pada satu waktu ketika perusahaan sparepart itu sedang goyah. Noren yakin seratus persen bahwa keluarga Cakrawijaya sama piciknya dengan keluarga pebisnis lain yang akan menjual anaknya agar perusahaan mereka tetap stabil.


Meskipun, keluarga Cakrawijaya agak perlu disogok dalam beberapa cara. Mereka agak keras kepala, seperti anak-anak mereka. Ini adalah celah dalam dunia bisnis yang licik yang telah dipelajari Noren selama beberapa tahun dia terjun dalam bisnis ini.


“Ah kalau begitu… kapan kalian akan pergi fitting baju?”


Seringai Noren merekah ketika Sherely mulai kembali bersemangat tentang pernikahan. Meskipun dia harus meminta maaf dan merendahkan diri pada kedua orangtuanya nanti, itu bisa dilakukan dengan mudah.


Tidak ada kesalahan, pernikahan akan tetap dilaksanakan.


Suka atau tidak suka.


...🍁...


...Amukan Nalisa...


.........


...🍁🍁🍁...


.... jadi gimana hm... 🤔