Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tentang Rasa (Jihan Sight); Realisasi Hati



“Mau langsung istirahat aja?”


Jihan menghentikan langkahnya ketika mereka baru saja berbelok di lorong. Sebenarnya, Jihan mengantuk sejak obrolan mereka dengan Lisa selesai. Tetapi, ketika mendengar penuturan Alpino tentang seluruh keadaan yang sama sekali tidak bisa dia percayai, rasa kantuknya hilang begitu saja seperti dihembus oleh angin imajiner.


”Fajri mau nemenin gue lihat kolam renangnya, engga?” Dia meminta. Sebenarnya, Jihan sendiri memiliki jadwal untuk mengecek kolam renang hotel ini bersama Hala pagi nanti setelah sarapan, tetapi dengan apa yang terjadi, dia memilih untuk mengajak Fajri kesana lebih dahulu.


”Serius? Ini udah jam tiga, hampir setengah empat loh, Ji. Masih dingin di luar. Nanti lo masuk angin gimana?” Nada khawatir dari Fajri membuat Jihan tersenyum kecil.


”Nggak apa-apa. Gue mau kesana boleh, ya? Nggak bakalan masuk ke kolam, kok! Mau duduk di tepiannya aja sambil ngeliatin bintang dan suasana. Boleh?”


Jihan tahu tidak seharusnya dia membiarkan Fajri tetap terjaga. Seharusnya Jihan bisa lebih berpikiran baik untuk membiarkan Fajri beristirahat. Lelaki itu pasti juga merasakan kelelahan yang luar biasa. Tetapi jika Jihan tidak mengutarakan apa yang ada di kepalanya saat ini, dia mungkin tidak akan bisa melakukannya di lain waktu.


Tentu saja, kepalanya penuh dengan banyak pertanyaan. Fajri juga pasti bisa merasakan apa yang sedang Jihan rasakan, terlihat dari bagaimana lelaki itu menatapnya dengan tatapan sayang dan persetujuan.


Fajri pernah bilang, Jihan bisa melakukan apapun asalkan lelaki itu diperbolehkan untuk berada di sisinya untuk menjaganya dengan baik. Jadi, Jihan dengan bersungguh-sungguh mengambil itu sebagai poin untuk dirinya sendiri.


”Oke, boleh. Tapi ambil jaket lo dulu, ya? Takutnya besok lo malah masuk angin, Ji. Gue tunggu disini, oke?”


Dengan sebuah senyuman kecil, Jihan mengangguk.


”Sip! Gue ke dalam dulu! Jangan kemana-mana, ya!”


Kemudian dia berlarian di lorong hanya untuk diperingatkan oleh bisikan bernada tinggi oleh Fajri agar dia tidak melakukan hal itu. Dengan kekehan, Jihan menurunkan kecepatannya melangkah dan menggantikannya dengan langkah lebar-lebar yang dia mampu.


Masuk ke dalam kamar, dia masih belum menemukan Hala disana. Jihan tidak mengerti bagaimana dirinya merasa sangat tidak wajar dengan hal ini. Ada ketakutan di dalam hatinya dimana dia bisa saja ikut membenci Hala. Bukannya apa, Jihan tidak menyukai kecurangan dalam hubungan yang berkaitan dengan siapapun. Tidak peduli bahwa Hala adalah sahabatnya, perasaannya akan diserang dengan kekecewaan.


Tapi ada harapan di dalam hatinya bahwa Hala tidak melakukan hal buruk itu. Tapi bagaimanapun juga, itu adalah hidupnya Hala dan Jihan tidak memiliki andil untuk ikut serta dalam permasalahan yang bukan miliknya.


Belum lagi Nalisa...


Jihan sebenarnya sangat bingung. Tidak ada yang memperingatinya bahwa suatu saat, dia akan dihadapkan dengan kejadian seperti ini. Jihan tidak pernah bisa memikirkan bagaimana teman-temannya sedang dalam guncangan yang luar biasa. Belum lagi, salah satu itu terjadi karena idenya yang ia berikan pada Lisa pertama kali. Jika saja dia tidak menjawab hal itu dengan serius.. Lisa mungkin tidak akan melakukannya.


Jika Lisa tidak akan melakukan hal itu... Jihan juga takut jika ada hal lain yang akan dengan nekat dilakukan oleh perempuan itu. Mungkin, akan lebih buruk dari ini dan Jihan sama sekali tidak siap dengan konsekuensinya sama sekali.


Ketukan pintu mengejutkannya. Tangannya yang sedari tadi menggenggam jaket tebal berbulunya yang merupakan hadiah dari Fajri karena dia menjadi juara umum dalam perlombaan multi-nasional, yang juga menjadi favoritnya-, dengan buru-buru ia letakkan melingkari bahunya. Fajri pasti sudah menunggu lama di sana dan akan khawatir karena Jihan tidak keluar dari kamar.


”Oh, maaf ya, Jri. Gue lama, ya?” dia menawarkan kekehan kecil. Pintu dibelakangnya ia tutup dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang menganggu.


”lima menit lebih lama dari perkiraan. Gue takutnya lo kebablasan tidur” Fajri menjawab dengan suara lembut. Matanya mengikuti bagaimana jaket bulu yang ia lingkarkan tidak dikenakan secara sempurna.


”Nggak, kok. Gue masih melek banget ini. Maaf yaa”


”Nggak masalah. Tapi, coba pake jaket yang benar, Jihan. Di luar dingin, jangan di lingkarin doang”


Jihan meringis ketika Fajri mengomel sedikit. Jemari panjang lelaki itu meraih jaketnya dan mulai memakaikannya dengan benar di tubuh Jihan dengan seksama. Jihan tersenyum hangat ketika Fajri menepuk sisi-sisi jaket untuk mencoba kelayakan ketebalan jaket miliknya.


”Oh? Kayaknya sudah agak tipis? Mau gue belikan yang baru?”


“Nggak! Ini masih bagus, kok! Tipis dikit karena sering gue pake. Sekarang ayo, ayo ke kolam. Gue mau lihat keindahan di malam hari!” Dengan cepat, Jihan melingkarkan tangannya di lengan Fajri dan mulai menarik lelaki itu untuk bergerak menuju lift.


Ada tiga kolam yang terdekat dari tempat mereka sekarang. Satu ada di rooftop barat dan indoor di lantai 39. Satu lagi ada di luar bangunan hotel dimana lebih luas dan memiliki lebih banyak fasilitas yang bisa digunakan. Kolam di sana dibuat lebih memanjakan mata karena dibuat untuk lebih menonjolkan keindahan alam buatan yang segar dan lebih indah.


Jihan memilih kolam di luar bangunan karena dia yakin, disana tempat yang sangat tepat untuk berbicara dan melepaskan kegundahan hatinya yang sedang kebingungan.


”Sebentar, jangan lari-lari, Jihan”


”Diem, Jri, jangan berisik orang lagi tidur tau”


Jihan mencibir. Dia berhenti ketika sudah berada di depan lift. Menunggu dengan tidak sabar sementara Fajri hanya menghela napas kecil dan menggeleng karena tingkah lakunya yang terlalu bersemangat.


”Dasar nakal”


Jihan mengaduh saat Fajri menjentik dahinya. Ia meringis ketika mengusap bagian yang berdenyut. Ketika dia menatap, seringai Fajri terpampang lebar di wajah lelaki itu dengan menggoda. Jihan berkedip tiba-tiba. Semua omelannya langsung hilang ditelan desiran aneh di dadanya.


Apa?


Apa itu?


Ini berbeda. Tidak ada yang seperti ini sebelumnya.


Dia bertanya-tanya. Tidak memahami apa yang sedang terjadi. Bahkan, ketika pintu lift tertutup dan terdengar suara kuapan Fajri yang memantul di ruang yang sempit, Jihan masih mematung. Tangannya memegang dadanya. Kebingungannya sekarang, semakin bertambah dan dia merasa sangat pusing.


”Lo kenapa, Ji? Dada lo sakit?”


Terkesiap, Jihan memutar lehernya untuk melihat Fajri yang sudah berada disisinya, merunduk dengan tampilan cemas akan keadaan perempuan itu. Wajah Fajri juga terlalu dekat dalam keterkejutannya. Tetapi ketika kewarasannya kembali, Jihan tahu bahwa jarak mereka memang selalu seperti ini.


Jadi, menghalau kebingungannya tentang jantungnya yang berdetak aneh, dia memilih untuk menjadi dirinya sendiri dan langsung menggandeng lengan Fajri seperti tidak terjadi apapun beberapa waktu yang lalu.


”Engga! Gue nggak sakit” Nadanya tinggi, agak aneh.


Jihan mendesis, dia seharusnya tidak menjadi aneh. Mungkin karena kurangnya beristirahat, atlet kita ini sedang tidak bekerja dengan sangat baik. Otak dan hatinya juga pergerakkan tidak singkron. Jihan bersumpah dia akan beristirahat setelah semua hal yang ingin dirinya bahas dengan Fajri selesai. Dia akan tidur selama 8 jam lamanya dan akan makan banyak protein yang tubuhnya butuhkan.


Sekarang, dia hanya harus fokus pada saat ini.


Lift terus menerus turun menuju lantai paling dasar. Jihan dengan kesadaran penuh dan kebiasaan yang sudah lengket sejak lama, menyandarkan kepalanya ke bahu Fajri dengan santai. Membiarkan Fajri mengecek ponselnya dalam diam.


Diam-diam, Jihan hanya memfokuskan dirinya pada angka yang terus berubah pada layar kecil lift mewah itu.


..........


Kolam besar di sebuah hotel mewah memang tidak pernah berhenti menakjubkan. Terlalu banyak yang membuat Jihan begitu takjub dengan bagaimana tempat itu terlihat di malam hari. Memang, Jihan sudah sering keluar masuk hotel dari berbagai macam perjalanan yang ia lakukan untuk ikut turnamen, olimpiade atau apapun itu yang mengharuskannya berpergian dalam kelompok maupun perseorangan untuk kegiatan panahannya yang selalu dia cintai itu.


Tetapi belum ada yang seperti ini. The Royal Ritzz Carlton Hotel adalah tempat yang jauh berbeda dari hotel-hotel yang pernah dia injaki sebelumnya. Ini sangat luar biasa. Jihan merasa bahwa dia seperti seorang putri raja yang sedang memanjakan dirinya sendiri. Rasanya seperti bagian dari para old money seperti keluarga Giovano dan Cakrawijaya.


Menginjakkan kaki di kolam renang yang cantik itu, Jihan tidak henti mengagumi. Matanya berbinar terang. Semua kegundahannya menghilang secara ajaib ketika kakinya yang beralaskan sandal bulu menapak ke sana kemari untuk mecicipi semua keindahan yang ditunjukkan. Fajri dibelakangnya mengekor dengan sangat sabar dan tidak mengomel sama sekali.


Kurang lebih selama sepuluh menit memanjakan mata, Jihan merasa sedikit lelah, dan meskipun puas, dia tahu dirinya ke tempat ini adalah dengan tujuan. Jadi, ketika dia berbalik untuk menangkap Fajri yang hanya berjarak dua langkah di belakangnya, mata masih berkeliaran di sepanjang pelataran kolam, Jihan dengan sangat sadar menghambur kepelukan lelaki itu.


”Ji?”


”Dingin!”


”Yaudah kalau gitu jangan deket-deket sama airnya”


Jihan tertawa ketika Fajri mulai mengangkatnya seperti yang biasa lelaki itu lakukan jika dia sudah terlalu menempel seperti ini. Fajri, dengan langkahnya yang mantap segera membawa Jihan dalam gendongannya untuk bergerak lebih jauh dari sisi air. Kemudian, lelaki itu menempatkan Jihan di salah satu kursi santai yang agak jauh dari kolam. Ada pohon berdaun rindang yang entah apa namana yang meneduhi tempat mereka berada sekarang.


”Masih dingin engga sekarang?” Fajri, sebagai lelaki yang sangat baik dia, semakin memperhatikan bagaimana cara berpakaian Jihan.


”Nggak terlalu, sih. Untung aja lo ingetin gue buat bawa jaket. Jadi lebih aman” Jihan tersenyum dengan wajahnya. Dia tidak sedang berbohong, tetapi memang angin di jam setengah empat pagi sangat menggigit. Seharusnya dia mengambil penghangat yang di tawarkan hotel tadi.


Menghela napas yang tidak sadar dia pegang, Jihan mulai menyamankan dirinya di kursi santai. Dia bahkan merebahkan seluruh tubuhnya dan mempercayakan kursi jati itu kuat untuk menahan tubuhnya yang kelelahan. Matanya sekarang mengamati ke arah langit disela dedaunan, berpikir tenang tentang bagian mana yang lebih dulu akan ia obrolkan bersama Fajri.


Tapi, beberapa saat kemudian, dia terkejut tatkala ada selimut kecil yang diletakkan di atas kakinya hingga ke pinggang. Jihan melihat Fajri yang dengan fokus membenarkan posisi selimut agar Jihan bisa tetap hangat meski angin berhembus lagi.


”Eh? Dari mana lo dapat selimut?” tanyanya dengan terkejut.


”Nemu di paviliun sana. Kayaknya emang disiapin sama organizer hotelnya, deh” Fajri menjawab dengan tenang sebelum kembali duduk di kursi santai bersebelahan dengannya.


Jihan berkedip, dia bahkan tidak sadar sejak kapan Fajri menghilang dari radarnya.


”Lo gimana? Nggak dingin?”


”Kulit gue kayaknya lebih tebal dari, lo, Ji. Jadi gue aman. Nggak usah dipikirin, ya”


Lagi, Fajri menguap setelah mengatakan hal itu. Jihan merasa agak tidak enak, tetapi dari apa yang dia perhatikan, Fajri tidak akan terlelap untuk beberapa saat kedepan. Jadi, dia tidak ingin mengulur waktu untuk memulai pecakapan.


”Fajri..”


”Hm?”


”Gue sebenarnya khawatir banget sama Lisa. Gue takut kalau apa yang udah kita rencanakan nggak berjalan sesuai apa yang kita mau. Gue takut kalau Lisa sakit, Jri. Gue bingung..”


Bagaimana jika panahnya melesat jauh? Bagaimana jika panahnya bahkan tidak akan melewati titik yang ia tuju? Atau, bagaimana jika panah yang ia lempar hanya meluncur menancap tanah beberapa meter di depannya?


Banyak pertanyaan tentang bagaimana jika yang berputar di kepala Jihan saat ini. Sebagian besar adalah tentang keselamatan sahabatnya itu.


”Ya jangan lo pikirin yang negatif, Ji. Lo biasanya mikirin hal-hal positif, kan? Coba lo balik pertanyaannya, gimana kalau Lisa akhirnya berhasil melarikan diri dari pernikahan yang nggak dia mau? Gimana kalau akhirnya Lisa bakalan bahagia dengan pilihannya dan nyaman dengan hidupnya kalau dia berhasil ngelakuin rencana yang sudah dia susun sebaik yang dia pikirin?”


Jihan merenung sejenak. Matanya beralih dari langit ke dedaunan di atas kepalanya, lalu ke arah buah-buah kecil yang berwarna hijau gelap, masih belum mencapai kematangan yang sempurna.


”Tapi gue khawatir, Jri..”


”Semuanya juga khawatir, Ji. Lo lihat kan tadi segimana takutnya Alpino tapi dia harus dukung Lisa sepenuh yang dia bisa? Gitu juga sama kita, Ji. Kesempatan buat berhasil lebih besar kalau kita bisa percaya sepenuhnya sama Lisa” Fajri menjelaskan dengan napas tenang.


”Tapi tadi lo juga-,”


”Ya. Gue juga ngerasa cemas soal ide gilanya itu. Tapi, gue berubah pikiran semenjak Lisa dengan yakin, penuh semangat percaya sama apa yang bakalan dia lakuin. Jadi dengan kepercayaan yang Lisa bangun, gue sebagai sahabatnya dia juga bakalan mepercayai kepercayaan itu. Jihan, lo ingat, kan, waktu lo ikut turnamen multi-nasional waktu itu?”


Jihan terdiam. Dia melirik jaketnya yang merupakan hadiah Fajri dari turnamen itu.


”Gue khawatir lo bakalan down karena lo cemas tentang ngelawan juara bertahan waktu itu. Tapi sebelum akhir pertandingan, lo datang ke gue dengan senyum lebar bilang ke gue kalau lo yakin lo nggak bakalan kalah. Kalau gue harus percaya sama kepercayaan lo yang udah naklukin semua hal negatif di pikiran lo”


Ada napas yang lelaki itu tarik sebelum melanjutkan.


”Dan akhirnya apa? Lo menang. Lo berhasil, Ji. Meskipun bukan juara pertama yang bakalan terbang ke Meksiko, tapi lo masuk juara bertahan umum. Bagi gue yang percaya sama kehebatan lo, itu adalah salah satu pembukti bahwa kepercayaan yang gue pegang buat lo ikut andil dalam kemenangan lo di hari itu”


Jihan merasa hangat di dadanya. Ya, dia ingat dengan jelas pada hari itu. Dia memang tidak memenangkan tempat pertama, tetapi tempatnya adalah tempat paling spesial yang dia miliki saat itu. Itu juga merupakan sejarah awal dimana orang-orang akan melihat kemampuannya dan akan memasukkannya ke kejuaraan internasional suatu saat nanti.


”Jadi, ya. Gue percaya sama Lisa dan akan bantu Lisa semampu gue. Gue juga pengen liat Lisa balik kayak dulu lagi meskipun kadang nyebelin juga, sih”


Jihan tertawa. Fajri di sebelahnya terlihat sangat puas dan nyaman. Mata lelaki itu juga bahkan tertutup ketika angin membuai wajahnya dengan lembut.


”Fajri..” dia berbisik pada malam. Sekarang, memilih untuk duduk melipat lututnya.


”Ada lagi yang masih nggak beres di kepala kecil lo itu?”


”Dih” Jihan mencibir, mencubit lengan Fajri yang masih bisa ia raih itu.


”Iya ada lagi” lanjutnya ketika Fajri mengeluh karena cubitannya.


”Gue tau lo bakalan marah kalau gue bilang gini. Tapi, gue kalau jadi Lisa juga bakalan ngelakuin hal yang sama. Bedanya, gue bakalan lakuin itu sendirian. Kayaknya gue nggak bisa ngelihat lo nikah sama orang lain sementara gue lo tinggal sendirian”


”Maksud, lo?”


Jihan bisa merasakan aura kesuraman dan kebingungan dari Fajri disebelahnya. Lelaki itu bahkan sudah mencerminkan dirinya dengan duduk menghadap ke arahnya.


”Ya. Kalau misalnya gue yang dipaksa nikah, gue juga bakalan ngelakuian apa yang Lisa rencanain saat ini. Soalnya gue nggak bisa liat lo sendirian. Gue bakalan kabur semampu gue. Tapi kalau lo yang nikah sama orang lain, gue mendingan mati, deh, Fajri. Soalnya gue belum siap kehilangan lo buat orang lain”


Jihan tersentak ketika Fajri menjentik dahinya. Kali ini lebih kasar dari yang sebelumnya dan penuh tekad. Membuat Jihan merintih dalam rasa sakit yang sebenarnya.


”Aduh, kenapa gue dipukulin, sih!”


“Ya habisnya lo ngomong aneh-aneh. Mending diem. Jangan seenak udel lo bilang mati, mati, ya. Jangan mikir yang aneh aneh di jam segini, Jihan. Bersihin otak lo”


”IH! Kenapa lo malah galak ke gue! Emang lo udah siap buat kehilangan gue nikah sama orang lain? Kalau gue masih ga mau kehilangan looo Fajri! Kenapa sih” Jihan merengek layaknya anak kecil.


Memang, dia tidak bisa membayangkan hal-hal seperti itu. Kehilangan Fajri darinya, membagi perhatian Fajri sepenuhnya adalah apa yang belum bisa dia ikhlaskan sama sekali.


Tapi Fajri masih diam.


Jihan tidak mengerti kenapa Fajri dalam mode hening untuk waktu yang lumayan lama.


”Fajri?”


”Udah, ya. Ngobrolin hal yang lain aja, oke? Kepala gue sakit, nih” Suaranya tenang.


Jihan tahu jika seperti ini adalah saat dimana dia harus mencari topik lainnya. Jihan sudah hapal saat Fajri tidak ingin membahas sesuatu hal. Lelaki itu akan selalu menjawabnya dengan perkataan yang sama.


”Fajri nggak seru, ah” Cibirnya lagi, tidak mau kalah.


”Ngobrol yang lain atau gue tinggal tidur, nih?”


“Tidur aja, nanti lo masuk angin gue nggak tau, ya!” Dengusnya. Jihan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Merasa kesal tiba-tiba dengan respon Fajri yang tidak dia inginkan.


Tapi Fajri tetap keukeuh dengan pendiriannya sendiri. Jihan mau tidak mau, kalah.


”Jri, menurut lo.. Hala beneran khianatin Kak Sinar, nggak, sih? Gue nggak percaya aja Hala bisa begitu sama Heksa padahal masih jalin komitmen sama Kak Sinar? Kayak.. gue nggak nyangka Hala bisa sejahat itu..”


Ini adalah topik yang ingin dia hindari, tetapi tentu saja. Dia harus mengangkat pertanyaan ini. Fajri pasti juga memikirkan hal yang sama dengannya saat ini.


”Gue juga nggak paham gimana ceritanya, sih, Ji. Tapi Heksa pernah bilang kalau dia nggak punya perasaan romantis sama Hala. dia bahkan nggak pernah mikir bakalan ngelihat Hala sebagai pacar potensial dia”


Fajri membuka suara. Sekarang, arah mata lelaki itu lurus sepenuhnya pada langit gelap berbintang yang sudah mulai samar. Jihan mengerjap, tidak paham kenapa dia malah mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.


Rasanya ada yang aneh. Jihan tidak mengerti tetapi Fajri yang disinari dengan sorot kekuningan dari lampu gantung di sisinya, sangat aneh di matanya saat ini.


”Serius Heksa pernah bilang begitu sama lo?”


”Ngapain gue bohong, Ji..”


”Iya, sih, tapi.. kalau misalnya Heksa nggak ada perasaan sama Hala.. kenapa mereka ngelakuin hal buruk itu, ya? Gue nggak tau ini idenya Hala atau Heksa. Tapi.. gue tetap bingung sebenarnya ada apa. Rasanya kayak, banyak banget kejadian dalam satu waktu, nggak, sih?”


Jihan kembali menatap Fajri. Ingin mencari tahu apa keanehan yang tiba-tiba timbul dalam dirinya.


”Yah.. entahlah, Ji. Kalau kita mikirin ini sendiri kayaknya nggak bakalan ada titik terang. Daripada pusing-pusing, kita lihat ini aja kemana arahnya. Yang penting, kalau dibutuhin, kita pasti bakalan tau harus gimana. Iya, kan?”


Sekarang, Fajri menatapnya tepat dimata. Jihan, meskipun ingin mengalihkan pandangan, tetapi dia tidak bisa. Dia terus menatap Fajri seolah-olah wajah Fajri adalah hal yang baru di matanya.


”Jihan?”


Dia tahu bahwa Fajri memanggilnya. Dia tahu matanya masih tidak bisa lepas dari sosok lelaki itu. Tapi ini, dia sedang mencari keanehan yang dia alami.


Lalu, seperti kereta yang menabraknya dalam kecepatan super, Jihan merealisasikan sesuatu.


”Fajri.. kalau misalnya gue suka sama lo.. gimana?”


Ctak!


”Jangan aneh aneh, pinter. Lo bawa HP engga? Bulannya lagi cantik, tuh”


Jihan mengerjap, seperti baru terbangun dari kerasukan.


”Eh? Mana? Manaaa??”


Disebelahnya, Fajri tertawa keras seolah-olah ada hal paling konyol yang menyapa indera pendengarannya.


”Lucu banget wajah lo. Satu kosong!”


”IH FAJRI NAKAL!”


Yah, setidaknya.. ada sesuatu yang berbeda. Tapi, Jihan belum tahu dimana dia bisa menempatkan apa itu sebenarnya. Jadi, dia akan mengabaikannya untuk saat ini.


...🍁...


...Tentang Rasa (Jihan Sight); Realisasi Hati...


.........


...🍁🍁🍁...