Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Daun Gugur; Intermezzo: Spesial Untuk Dua Orang



Message : Mrs. Jelita Kadiv P&P


Selamat pagi, Nalisa. Sebelumnya maaf atas gangguannya di hari weekend, kamu. Saya ingin menyampaikan satu kabar baik yang saya yakin ini adalah kabar yang paling kamu tunggu sejak lama.


Hari ini, di Jam 10.00, Saya dan Pak Leo akan melakukan launching perkenalan Dandelion Lamp, kamu sebagai salah satu contoh sample sebagai pengukur minat masyarakat seperti yang sudah kita bahas sebelumnya.


Kamu bisa datang kapan saja jika kamu berkenan untuk melihat karya orisinil kamu di pamerkan di rumah penjualan Madevision.


Selamat bersenang-senang, Nalisa.


Delivered 07.44 AM


...🍁...


Message: Alpino Jelek


Wuit, Nalisaa, ada waktu nggak lo?


Mau keluar, nggak?


Gue mau ngomong sesuatu sama lo. Eh, mau nunjukkin sesuatu, deng.


Ngedate kita, hayuk?


Kalau lo nolak gue ngambek nggak mau jadi babu ojol lo lagi tau rasa lo.


Nggak bales lima detik gue otw.


1..


2..


5..


Gue otw. Lo nggak bangun, gue seret lo ke kamar mandi sekalian gue guyur. Liat aja, lo ntar


See u, jeleknya gue yang bentar lagi gue guyur air dingin. Wkwk


Delivered 07.40 AM


...🍁...


Pagi Lisa mungkin agak berbatu dari hanya beberapa jam waktunya untuk tertidur. Setelah acara makan malam sebelumnya yang mengharuskan mereka pulang hampir tengah malam, Lisa tidak langsung tidur. Kebiasaannya ketika weekend datang adalah bergadang untuk membaca cerita novel online yang dia sukai dari beberapa platform dimana author kesukaannya tersebar. Hal itu membuatnya tertidur hanya dalam lima jam yang terasa seperti mengedipkan mata sebelum dia dibangunkan oleh suara kakaknya dan Alpino di depan kamarnya.


Itu datang dengan beberapa gurauan dan sedikit cekcok di sana sini sebelum pintu kamar menjeblak terbuka. Lisa tidak bisa mendaftarkan apapun sebelum dia merasakan tubuhnya di angkat oleh seseorang yang saat dia setengah sadarpun, dia tahu siapa pemilk aroma parfum yang familiar itu, juga tentu saja jangan lupakan tawa nakalnya yang terdengar tepat di telinga Lisa yang masih berusaha untuk terbangun.


Beberapa saat kemudian, dia dikejutkan dengan air yang memercik wajahnya dengan tiba-tiba. Melonjak kaget, dia membuka matanya dengan benar dan mendapati wajah dengan seringaian lebar milik Alpino tepat di depan matanya dengan pandangan yang buramnya sudah mulai menghilang.


Lisa mengerang sebelum dia mendorong wajah Alpino dengan kasar dan berguling di dalam bath tube yang masih kosong. Air yang dipercikan di wajahnya juga sebenarnya bukan air dingin, melainkan hanya air hangat yang membuat kejutnya tidak menjadi sakit kepala dan reaksi yang berlebihan. Alpino tau yang terbaik untuk menakalinya tetapi masih berusaha untuk membuatnya nyaman dan tidak terlalu terganggu.


“Heh, putri tidur, bangun! Kita mau ngedate sahabat. Ayo, cepat! Gue udah angkat lo ke kamar mandi, lo tinggal guyur badan lo doang” Omelan Alpino berdengung di telinganya. Cemberutnya yang masih terbuai dengan kantuk membuatnya menendang tubuh Alpino dengan tanpa arah.


“Diem, ih, gue mau tidur. Ngantuk banget!”


Lisa, dengan matanya yang kembali tertutup dan meringkuk setelah dia menggerutu, masih bisa mendengar bagaimana sahabatnya itu mengerang, paham. Beberapa waktu yang damai Lisa dapatkan, sebenarnya, ketika Alpino diam, Lisa tahu apa yang akan terjadi. Dia sudah bersiap untuk menyerang Alpino dengan main-main ketika Alpino dengan suaranya yang rendah dan jenaka berbisik di sebelah telinganya dengan napas menderu yang dibuat-buat.


“Lo mau bangun apa mau gue mandiin?”


“Najis lo, jauh-jauh,mesum, jelek!”


Lisa, dengan tawa yang berhambur keluar dari bibirnya yang kering, membuka matanya seiring dengan tangannya yang sudah mendorong kepala Alpino menjauh. Dia beranjak dengan cepat ketika sahabatnya itu mundur agak jauh dari tempatnya dan ikut tertawa dengan puas sekali.


Lagi-lagi sudah terlalu terbiasa dengan keadaan dan kejenakaan yang dibagikan oleh Alpino seolah-olah mereka melakukan rutinitas sama yang berulang-ulang. Kali ini, dengan tambahan sang kakak yang berdiri di depan pintu kamar mandi miliknya, melihat dan mengawasi kegiatan mereka berdua yang padahal tidak akan terjadi apa-apa karena Lisa dan Alpino sudah sering bercanda tentang hal-hal seperti ini.


“Ini jam berapa, sih?”


Mengabaikan Kakaknya yang bersandar layaknya seperti orang tua yang protektif kepada anak perempuannya, dia duduk di dalam bathtube dan meregangkan tubuhnya. Alpino yang berdiri disebelahnya dengan jarak yang cukup, memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan waktu dengan angka delapan lewat dua puluh dua menit. Matanya membulat sebelum menahan dirinya untuk tidak hanya menyemprotkan air ke tubuh Alpino yang sudah terbalut pakaian santai khas jalan-jalan yang sering dia gunakan.


“Gila, lo, masih pagi banget ini, tuh! Gue baru tidur jam setengah tigaan pagi. Kembaliin waktu tidur gue!!!”


“Nggak ada, lo cepetan mandi. Kita mau keluar ini, mau ngedate”


Alpino mendorong tubuh Lisa dengan lembut ketika perempuan itu bergerak dari dalam bathtube, bersiap untuk kembali melompat ke atas ranjangnya yang empuk dan nyaman. Lisa, dengan cemberutnya yang masih belum hilang, menatap tajam pada Alpino sebelum mencubiti kedua pipi lelaki itu, berusaha merengek untuk mendapatkan persetujuan bahwa dia ingin kembali merebahkan diri dan memejamkan mata,


“Ih, gue mau tidur. Alpino bawa gue ke kasur, gue ngantuk berat!!” Rengekannya bak bayi, dia bisa melihat bagaimana kakaknya memutar bola mata tak suka melihat tingkahnya di depan Alpino. Lisa mengabaikan. Sinar memang terkadang terlalu sensitif dengan kehadiran Alpino di sekitarnya dan itu membuatnya ingin menendang kakaknya jauh-jauh. Padahal, Alpino dan Sinar juga dekat ketika mereka hanya berdua.


Kakaknya hanya cemburu. Dia yakin itu. Karena perhatiannya pada sahabatnya lebih besar daripada cara dia bermanja dengan sang kakak. Lelaki tua yang akan memasuki usia kepala tiga dalam beberapa tahun kedepan, tak ayal hanyalah seorang bayi yang masih membutuhkan perhatian penuh adiknya karena kisah cintanya sama sekali belum memasuki fase dimana dia bisa bermanja sepuasnya dengan cara meletakkan hatinya di lengan bajunya. Alias, kakaknya masih dalam tahap pendekatan dan galau menggalau serta tidak bisa menunjukkan kebucinannya pada satu orang pilihannya itu.


Setau Lisa pun, Kakaknya juga sama sekali tidak memiliki sahabat dekat selain Noren. Itupun, Lisa tahu bahwa Noren adalah sahabat Sinar saat dia diperkenalkan pertama kali sebagai calon suaminya. Itu adalah hari dimana neraka jatuh padanya, jadi mari abaikan itu bersamaan dengan Nalisa yang akan mengabaikan kecemburuan kakaknya yang sangat tidak jelas sama sekali.


“Nggak mau. Lo harus mandi. Kita punya jadwal buat jalan-jalan. Lo, sih, kebo, jadinya nggak liat chat yang gue kirim. Mandi dulu, Nalisa” Alpino, dengan suaranya yang lembut dan senyumnya yang masih belum hilang, menggosokkan telapak tangan hangatnya di bahu Lisa. Lelaki itu terihat bersemangat di pagi hari Sabtu.


“Nggak mau!” Masih keukeuh dengan keinginannya, Lisa sudah menubrukkan diri pada dada bidang Alpino, memeluk lelaki itu layaknya koala untuk meminta di angkat masuk kembali ke dalam kamarnya yang nyaman. Lagipula, kamar mandi itu dingin meskipun Alpino sebelumnya menghidupi air hangat untuk mengusap kantuk di wajah Nalisa.


“Dih,geli banget gue ngeliat lo, dek. Lepasin nggak?! Sakit mata gue lo peluk-peluk orang depan gue. Lepasin, boncel!”


Ada tarikan di tubuhnya yang berusaha melepaskan kaitan erat pelukan koalanya pada Alpino. Lelaki yang dia tempeli dengan seuruh tubuhnya itu berusaha untuk menahan keseimbangan agar bisa tetap memegang dirinya dan juga agar tidak membuat keduanya terjatuh. Lagipula, tidak lucu jika Lisa dan Alpino menghancurkan bathtube karena tubuh besar mereka berdua menimpa material keras yang pasti bisa meremukkan tulang juga.


“Kak Sinar, lepasin, ih. Al, bawa gue ke kamar. Gue mau rebahan!” Rengeknya lagi. Dia tidak peduli apakah penampilan Alpino kini sudah tidak rapi lagi karena cengkeramannya yang merusak. Dia hanya butuh untuk kembali tertidur.


“Gila lo dek, genit banget sama cowok. Gue aduin Papa Mama tau rasa, lo” Sinar, kembali berusaha untuk menarik sang adik dari cengkeramannya di tubuh Alpino. Sebagai orang yang berada di posisi tidak terlalu mengenakkan, Alpino meringis. Dia tidak tahu apakah dia harus melepaskan Lisa juga atau membiarkan perempuan itu tetap bergantung pada tubuhnya. Bagaimapun juga, keduanya tidak akan menimbulkan perihal baik karena jika Lisa tidak melepaskannya sendiri, mereka tetap akan terjatuh bersama. Itu akan menjadi kekacauan yang benar-benar kacau.


“Bilang aja lo cemburu, kan, nggak ada yang peluk?”


Ingin tertawa di atas kekesalan Sinar dan kejenakaan Lisa, Alpino merasa campuraduk di dalam. Dia pasti menunjukkan ekspresi yang aneh saat ini. Sinar yang mengetahuinya, merasa agak jengkel. Apalagi ketika Lisa masih bisa mengejeknya dengan terang-terangan.


Tatapan tajam dan kode dari gestur Sinar dapat ditangkap dengan cepat oleh Alpino yang kikuk. Lelaki itu meringis. Tangannya yang semua menahan Lisa, kini dengan lembut mendoronng tubuh sahabatnya untuk segera lepas. Kakinya dengan cepat memasang kuda-kuda agar keseimbangannya tidak terasa payah, dia kembali meyakinkan Lisa untuk berhenti dan hanya menuruti apa yang kakaknya inginkan.


“Lisa, udah, yuk. Lo harus mandi. Gue kan juga udah bilang, hari ini kita kencan sahabat. Besok gue ada kegiatan, nanti lo kangen berat sama gue, gimana?”


Alpino tau kata-katanya membuat Sinar hampir naik pitam juga. Wajah Sinar sudah tertekuk dan kesal setengah mati. Tetapi itu jelas terlihat sangat menyenangkan hanya untuk menggoda Sinar lebih jauh. Tapi Alpino, seketika tahu bagaimana konsekuensi yang akan dia terima. Ya, Sinar akan mengambil banyak waktunya agar dia sama sekali tidak bisa mendekati Lisa dalam beberapa waktu kedepan. Lelaki yang lebih tua itu akan terus mengganggunya dengan permainan game atau apa saja agar Alpino bisa setidaknya menjauh dari adik perempuan satu-satunya itu. Terkadang, Alpino takjub sendiri dengan dedikasi yang dilakukan Sinar untuk menunjukkan batas nyata antara dia dan Lisa.


Itu sedikit menyakitkan sebenarnya. Tapi, ya, mau bagaima lagi karena itulah yang harus Alpino hadapi sekarang.


“Emang lo sibuk banget apa sampai gue bakalan kangen berat sama lo?”


Seolah-olah Lisa sedang mempertimbangkan ucapan Alpino, dia bertanya dengan napas kecil dan keragu-raguan. Alpino gemas sendiri, tetapi dia tidak akan menunjukkannya karena takut dirinya akan diguyur air panas oleh Sinar. Dia tidak mau jika itu sampai terjadi padanya.


“Ya, gimana, ya. Kayaknya , sih kedepannya bakalan begitu. Jadi, lo beneran nggak mau mandi dan jalan-jalan bareng gue? Gue ada waktu seharian penuh, nih, gue dedikasiin cuma buat lo. Lagian, Bang Sinar juga udah buatin sarapan buat kita Nanti dingin jadinya Ayo, mandi. Beneran ini, loh, Nalisa”


“Ih, lo kenapa sibuk banget sih. Nggak boleh sibuk!”


Lisa meracau. Menikmati bagaimana kepalanya di usap oleh tangan besar Alpino yang sangat familiar dan hangatnya mengalahkan dingin kamar mandi. Dia tahu kakaknya ada di belakangnya dan masih berusaha untuk menariknya lepas. Tapi dia membiarkan dirinya berlama-lama untuk mendapatkan usapan di kepalanya dari Alpino. Lagian, dia juga merindukan sahabatnya itu setelah beberapa lama hidupnya terus menerus di recoki oleh kehadiran Noren yang membuatnya sungguh muak dan bosan.


“Dek, beneran gue guyur air panas, lo, ya. Berhenti manja-manjaan gitu ke Al. Gue eneg lihatnya, sumpah”


Lisa tertawa mendengarkan gerutuan sang kakak. Dia, pada akhirnya dengan enggan melepaskan pelukan koalanya dari tubuh jangkung Alpino. Membiarkan lelaki itu kembali untuk berdiri dengan benar dan merapikan bajunya yang tentu saja kusut karena ulahnya, meskipun tidak seberapa.


“Kalau bisa udah gue lakuin dari lama” itu dengusannya sebelum kakaknya mengambil langkah mundur dengan wajah yang tertekuk tidak begitu senang. Meskipun Lisa tahu bahwa nanti kakaknya akan kembali seperti biasa lagi dengan senyumannya yang merekah sesuai dengan namanya ditambah dengan embel-embel mentari pagi, dia saat ini hanya sedang merajuk karena Lisa memeluk laki-laki lain di depan matanya.


Kakak yang super protektif, tapi Lisa bersyukur karena dengan itu dia tahu bahwa kakaknya sangat menyayanginya dan menjaganya.


“Cepat lo mandi. Nanti buruan turun. Gue mau bikin cemilan sedikit. Alpino, lo langsung kebawah bantuin gue, ya. Sekalian buat kalian bawa bekal”


“Oke siap, bang!”


Itu Alpino yang menjawab dengan cepat. Dia menepuk punggung Lisa, berkedip padanya sebagai tanda bahwa Lisa harus mengikuti apa yang Kakaknya bilang pada perempuan itu.


“Oh, iya” Lisa baru saja mendorong Alpino untuk segera keluar dari kamar mandi ketika kepala Sinar muncul lagi dari balik daun pintu yang terbuka lebar. Wajahnya terlihat agak tidak mengerti dan penasaran tentang suatu hal.


“Hala tadi ngabarin gue, katanya dia bangga banget sama lo dan nanya kalau lo bakalan pergi sama siapa ke Madevision? Soalnya dia pengen datang juga, tadi. Pengen bareng lo kesananya, dek”


Lisa, mengernyit tidak mengerti. Untuk apa dia berada di Madevision di hari liburnya? Lagipula dia juga tidak sedang ingin membeli sesuatu dari sana. Gajinya bulan ini belum turun dan dia masih ingin menabung untuk salah satu projek yang ingin dia coba yang sudah berada di kepalanya beberapa waktu kebelakang.


Jadi, responya hanyalah, “hah?” yang terdengar seperti dia benar- benar hilang ditengaj jalan.


“Lo nggak tau?” Sinar mendapatkan gelengan polos dari sang adik. Ada tarikan bibirnya dan tatapan tidak terkesan sebelum dia melanjutkan. “Hala sempat bilang ke gue kalau lo harus ngecek pesan di hp lo, sih. Makanya cepat mandi terus urus apa yang harus lo urus”


“Dih, lo ngomelin gue mulu dari tadi, kak! Lama-lama lo yang gue semprot pakai air panas, nih!”


“Bawel! Cepetan lo mandi, dek. AL, lo juga ikut gue turun, cepat. Siapa tau gue juga dibolehin jemput calon gue, nih, buat nganterin dia pergi kesana”


“Semoga Hala nggak mau pergi bareng lo-HMPH!!”


“Jangan berisik lagi, gue takut lo beneran disiram air panas sama Bang Sinar, Lis”


Alpino, yang kini sudah mendekap mulut Lisa dari acara koar-koar dimana sang Kakak sudah bersiap untuk melayangkan gulat bersama sang adik, berusaha untuk tidak membuat perdebatan semakin panjang. Alpino sudah tahu dimana ini akan berakhir jika di teruskan, itu akan memakan waktu lebih dari dua jam untuk menghentikan baku hantam tak berdarah dua saudara ini.


“Udah, ya, mandi. Gue tunggu dibawah sama Bang Sinar sekalian buat bekal nanti. Jangan dilama-lamain, nanti kita jalan-jalan sepuasnya, oke?”


Pelan-pelan, Alpino melepas tangannya. Tampilan Lisa yang tidak begitu senang karena dia hentikan untuk mengumpat pada Kakaknya adalah apa yang Alpino dapatkan. Namun, hanya dengan cubitan di hidung perempuan itu dengan kejenakaannya, dia sudah berhasil memperbaiki mood Lisa denggan cepat.


Tanpa banyak kata, Alpino merangkul Sinar untuk segera turun dan melanjutkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Dia hanya berharap, Lisa tidak memperlama acara mandinya agar dia bisa mendapatkan waktu kencan sahabat yang benar-benar berakhir satu hari penuh.


Lagipula, dia sungguh ingin memperlihatkan sesuatu kepada Lisa.


Sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.


...……...


“Dandelion Lamp gue…”


Mengatakan Lisa terkejut adalah hal yang sesungguhnya benar adanya. Dia baru saja selesai mandi dan segera meraih ponselnya yang tergeleta di nakas, masih tersambung dengan charger yang ia pasang sebelum dirinya tertidur malam itu, atau bisa disebut pagi.


Ada beberapa chat dari teman-temannya dan juga grup kerjaannya. Notifikasi paling atas adalah notifikasi milik Alpino yang kemudian tertimpa dengan notfikasi dari Jelita. Apapun yang membuat Jelita mengiriminya pesan pada hari itu adalah apa yang membuatnya hampir ingin menangis.


Itu adalah lampu dandelionnya yang akan dipajang dan akan ditunjukkan pada masyarakat umum yang berkunjung ke Madevision sebagai tunjangan apakah lampu itu membawa ketertarikan orang banyak. Jika itu sukses menarik minat, maka lampu itu akan diproduksi dan Lisa, tidak tau apa yang bisa dia ucapkan dengan kata-kata, merasa dia ingin memuntahkan sesuatu yang menunjukkan kebagaiaan dan rasa buncahan kadar semangat yang sedang tidak bisa diukur oleh alat pengukur apapun.


Jadi, setelah dia bersiap dan memakai pakaian apapun dengan senyuman lebar di wajah, make-up tipis santai yang dia gunakan dengan terburu-buru, acara makan yang dengan lahap dia kerjakan adalah apa yang mejadi kegiatannya dalam waktu hampir bisa dihitung dengan cepat.


Perasaannya yang luar biasa itu membawanya dengan tidak sabar menarik Alpino untuk masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh lelaki itu kali ini. Dia tahu itu adalah salah satu mobil milik Alpino yang dia titipkan pada temannya karena Kos milik lelaki itu sama sekali tidak bisa memarkirkan kendaraan roda empat. Pun, Alpino jarang sekali memakai mobil, jadi daripada mobil yang menjadi hadiah yang didapatkannya dari salah satu acara gebyar undian di salah satu Bank terkemuka di Indonesia, ia sewakan pada temannya untu dipakai dan di rawat. Hitung-hitung sebagai pemasukkannya juga disamping pekerjaannya yang padat akhir-akhir ini.


Lisa juga, ketika pertamakali mendengar bahwa sahabatnya itu memenangkan hadiah undian berupa mobil, dia dan Alpino hampir pingsan di tempat karena hal itu. Tapi sekali lagi, itu adalah rezeki yang dimiliki oleh sahabatnya, yang lelaki itu bilang bahwa keberuntungannya selama sisa hidupnya telah terpakai pada hari itu juga. Tapi Lisa membantah, karena Alpino masih punya banyak jatah keberuntungan dalam hidup dan mobil itu hanya salah satu keberuntungannya yang sangat baik.


“Al, kita ke Madevision, ya”


Suaranya berusaha dia tenangkan agar dia tidak terlihat seperti orang yang tidak waras karena menangis dengan senyuman. Dia tidak tahu bagaimana nanti jika dia sudah berhasil menjadikan karyanya sebagai produk yang dijual ke banyak orang secara benar. Dia pasti sudah mati bahagia dan konyol.


“Sumpah, gue penasaran apaan yang bikin lo bahagia banget sampai nggak bisa berhenti nyengir”


Alpino memakai Safetybeltnya dengan tatapan yang masih mengarah pada Lisa. Perempuan itu terlihat sangat berseri-seri sekali. Dia bahkan bisa dibilang mencurahkan segala energi positifnya seolah-olah dia tidak akann pernah lelah hanya dari segala energi yang dia keluarkan dalam senyuman dan tawa juga cekikikan yang tidak pudar dalam satu jam terakhir. Dia penuh dengan kebahagiaan yang membuncah. Jika bisa digambarkan, ada banyak bunga berwarna-warni bermekaran di belakang perempuan itu.


Hati Alpino menghangat. Dia sangat suka penampilan Lisa yang ini. Suka sekali. Sangat suka sampai hatinya menjadi sangat sakit karena rasa sayang yang dipaksa mekar dengan penuh.


“Ada satu hal yang gue harus ngeliat dengan mata kepala gue sendiri. Ini spesial banget buat gue. Sumpah, Al”


Tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata, Alpino membiarkan Lisa menatapnya dengan binar indah di mata perempuan itu.


“Dan ini makin spesial karena lo bisa liat ini bareng gue. Se-spesial itu sesuatu yang bakalan kita lihat nanti. Yang bakalan gue kasih lo lihat”


“Nanti boleh pegangin tangan gue, ya, Al. Soalnya gue takut kewalahan pas ngeliatnya disana. Boleh ya?”


Dengan mata itu, raut wajah itu, dan hal spesial seperti seluruh jiwanya ia kerahkan untuk sesuatu yang akan mereka lihat nanti, bagaimana Alpino akan menolak tawaran yang diberikan padanya?


Dia hanyalah lelaki lemah yang tidak mampu melawan semua pesona milik Lisa. Jadi, dengan rasa penasaran yang sama, menelan apapun yang seharusnya menjadi tujuan utama mereka-, sesuatu yang sangat spesial juga bagi Alpino, dia mengagguk dengan pasti untuk meyakinkan Lisa bahwa dia ada disana untuk memegang perempuan itu.


Suara persetujuan kecil ia sampaikan, bersamaan dengan deru mobil yang bergerak meninggalkan pekarangan rumah Lisa.


.........


...🍁...


...Daun Gugur; Intermezzo: Spesial Untuk Dua Orang - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Hesti, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA HESTI ROFIAH...


...JUDUL: CINTA UNTUK ARISTA...


Setelah tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama, untuk pertama kalinya Arista bertemu dengan seseorang yang dulu pernah ia sukai dalam diam, laki-laki dulunya memiliki arti tersendiri di hatinya sekaligus menjadi cinta pertamanya di SMA kala itu. Tanpa Arista ketahui jika laki-laki itu juga menyukainya secara diam-diam, bahkan sejak pertama kali bertemu. Namun tidak ada dari keduanya yang mengungkapkan perasaan dan isi hati mereka, keduanya memilih diam dan memendam perasaan masing-masing. Sehingga keduanya tidak pernah mengetahui perasaan satu sama lain hingga saat ini. Disaat laki-laki itu ingin mendekati dan berusaha mendapatkan hati Arista, ternyata salah satu sahabatnya juga menyukainya dan berusaha ingin melindungi gadis itu dari orang-orang yang ingin menyakiti nya.



Selamat membaca🥰