
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Menjadi nyonya disebuah mension besar nan mewah bak istana kerajaan, tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Eva. Namun kini itu terjadi, ia sudah menjadi nyonya Aldebaran yang tinggal di mension megah dengan banyaknya pelayan dan penjaga
Rumah tersebut sebenarnya hanya dihuni oleh mereka berdua, tapi tidak mungkin mereka bisa mengurus rumah sebesar itu hanya berdua, apalagi keduanya sibuk bekerja. Jadilah sekitar 50 pelayan dan 5 juru masak turut menjadi penghuni mension besar tersebut
"Berhentilah bekerja, aku bisa memenuhi semua kebutuhan mu Eva" ucap Leo hampir setiap hari
"Hais... sampai kapanpun jawaban ku tetap sama, tidak!" kekeh Eva sambil memakai kan sebuah dasi di leher Leo
"Baiklah, tapi kau harus berjanji setelah kau mengandung anak ku nanti, kau harus berhenti bekerja, oke?!" ~Leo
"Baiklah-baiklah, sekarang aku belum hamil kan, so aku akan tetap bekerja!" ~Eva
"Aku akan membuat mu cepat hamil baby" ~Leo, dengan semua pikiran mesum nya
Mereka berdua pun turun kelantai satu untuk sarapan, mengisi perut mereka yang kosong di pagi hari. Setelah sarapan, Leo pun mengantarkan Eva menuju rumah sakit Hansin terlebih dahulu, baru menuju kantor nya. Seperti itulah keseharian mereka jika dua-duanya pergi bekerja pada waktu bersamaan
Menyelamatkan nyawa seseorang itu tidaklah mudah, walaupun kita tahu sebenarnya yang menyelamatkan nyawa seseorang itu adalah Tuhan, dokter hanyalah perantara. Berjam-jam Eva dibantu beberapa dokter lain bergulat dengan pisau bedah, jarum, dan lain-lain
"Hah~ akhirnya selese juga yah, eh Va kamu kenapa, kok pucet gitu?" tanya Adya
"Ah gak, mungkin cuma kecapaian aja kali, udah yuk ke kantin ku laper" jawab Eva
"Yakin gak papa, itu muka kamu pucet banget loh?" ragu Adya
"Gak, ayo lah aku sudah sangat lapar" Langsung saja Eva menarik tangan Adya menuju kantin
Saat dikantin. Eva terus saja melamun mengabaikan makanannya, padahal tadi dia yang memaksa ke kantin dan bilang sangat lapar. Tapi sekarang ia malah sama sekali tidak menyentuh makannya
"Bentar terakhir aku datang bulan itu satu Minggu sebelum nikah deh kayanya, dan sekarang udah lewat satu bulan gue gak dateng bulan lagi, eh apa jangan-jangan aku... kalo bener iya berarti ku dah gak dibolehin kerja lagi dong?! hais" batin Eva
"Va, kenapa?" tanya Adya
"Gak, eh nanti temenin ke dokter kandungan ya" pinta Eva
"Kamu hamil?! woah akhirnya selamat ya, cepet banget jadinya haha" ~Adya
"Hey jangan keras-keras, aku belum tau benar atau tidak nya, dan satu lagi kalo sampai aku hamil dan Leo tau, aku udah gak boleh kerja lagi" ~Eva
"Kenapa?" ~Adya
"Tau tuh Leo" ~Eva
"Itu namanya so sweet dan berarti suami kamu itu sayang dan gak mau kamu kecapaian, lagian nih ya kamu tuh dah jadi nyonya Aldebaran, yang gak usah kerja tapi uang tetap mengalir" ~Adya
"Apasih, udah yuk temenin aku ke dokter kandungan" ~Eva, lagi-lagi ia menarik tangan Adya menuju ruang dokter kandungan
"Ni orang kerjaan nya maksa-maksa mulu dah dari tadi" batin Adya mencoba sabar dengan sikap Eva
°•°•°•°
"EVA..." teriak seseorang
Baru saja Adya menemani Eva ke dokter kandungan, dan sebuah suara cempreng nan menggelegar menggema di lorong tersebut "Astaga!!!" pekik Eva dan Adya terkejut, namun dengan cepat Eva menyembunyikan sebuah amplop putih itu di balik jas putih nya
"Va, Adya, kalian ngapain disini kita cari-cari eh malah disini. Wait dokter kandungan?" ucap Zahra
"KAMU HAMIL??!!" teriak Zahra dan Cici bersamaan
"Hais jangan keras-keras!" tegur Eva
"Tadi sih ku cek iya" jawab Eva
"Huwaaaa selamat bestie!! akhirnya bisa punya ponakan juga" ~Zahra, memeluk Eva
"Ikut bahagia pokoknya!!" ~Cici, yang ikut memeluk Eva
"Iiihhh... aku juga mau peluk..." ~Adya
"Thank you!!" ~Eva
Sebuah pelukan hangat tercipta dari mereka berempat yang ikut bahagia disaat salah satu dari mereka bahagia, dan akan ikut sedih jika salah satunya merasa sedih
"Eh iya sampai lupa, kita kesini niatnya untuk ngasih undangan nya si Cici sama si Justin, nih" ~Zahra, menyodorkan undangan ke tangan Eva
"Datang ya, Adya juga datang ya" ~Cici, malu-malu
"Woah... pasti dong masa gak dateng, aku pasti dateng kok" ~Eva
"Hem, me too, btw kamu kapan Zah?" ~Adya
"Apa sih, aku masih mau fokus kerja cari uang dulu" ~Zahra
Pertemuan itu berlanjut dengan obrolan-obrolan yang mengasikkan di dalam ruangan pribadi Eva, yang dibuat khusus oleh Leo tanpa sepengetahuan Eva sendiri
°•°•°•°
Rencananya malam ini Eva akan pergi ke kantor Leo, melihat apa yang sedang suaminya lakukan sekalian memberitahukan kabar bahagia ini padanya. Sebenarnya ia tidak mau mengatakan ini karena setelah ia tau pasti Leo tidak akan membiarkan nya bekerja lagi sesuai kesepakatan
Menggunakan taxi, Eva pergi menuju tempat dimana suaminya bekerja. Memandangi pemandangan luar sambil mengelus-elus perutnya yang masih datar adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi Eva, rasanya sangat damai walaupun hanya dengan hal sepele itu
Tak... tak... tak...
Sepatu heels bermerek Eva mendarat anggun di lantai-lantai keramik yang terbuat dari batu marmer langka. Walaupun sudah malam, namun masih banyak para pekerja yang masih bekerja mengambil shift malam mencari uang lebih untuk membiayai kehidupan mereka, sama seperti Eva dulu bekerja paruh waktu mencari uang tambahan
Mereka yang sudah tau siapa Eva pun langsung menunduk hormat padanya, dan dibalas senyuman manis oleh Eva. Menaiki lift menuju lantai 50, lalu berjalan menuju sebuah pintu besar bertulisan CEO ROOM di depannya
"Eva" panggil Gibran saat Eva hendak membuka kenop pintu itu
"Ya?" saut Eva
"Kamu ngapain disini?" ~Gibran
"Ya mau ngapain lagi kalo gak ketemu Leo, dia ada di dalam kan?" ~Eva
"Ada tapi..." ~Gibran
"Tapi apa?" ~Eva
"Sini aku bisikin" ~Gibran, membisikan sesuatu di telinga Eva
"Oh, kalo emang dia setia dia gak bakal tergoda sama wanita lain, udah ku mau masuk dulu Bisa ditebak sih gimana ekspresi Leo sekarang ahhaah" ~Eva
"Yaudah serah kamu aja, aku balik kerja dulu" ~Gibran
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Thank you...
^^^~Beach Breeze~^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...