EVA AURORA

EVA AURORA
Episode 57 Beach Breeze



...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Sebuah pantai yang dianugerahi sebagai pemandangan indah oleh sang pencipta. Desiran ombak halus dan terdengar merdu bagaikan lagu penghantar tidur membuat siapapun merasa tenang, angin sepoi-sepoi, cahaya matahari yang tidak terlalu terik, sungguh cuaca yang sangat pas untuk tidur


Dibawah bayangan payung dan diatas permukaan pasir, duduklah seorang gadis cantik dengan celana panjang putih, kaos putih polos, dan rambut hitam panjang nya yang ia biarkan terurai menjadi mainan bagi Beach Breeze (angin pantai)


"Nggak tidur?" tanya seseorang yang menghampiri nya, menggunakan celana pendek diatas lutut berwarna hitam yang memperlihatkan kaki mulus nan berotot nya dan kemeja biru tua


"Gak, Lo sendiri?" tanya balik Eva


"Gak juga, gue duduk sini ya" izin Leo


"Hem..." ~Eva


"Oh ya hubungan Lo sama Pangeran gimana? gue akhir-akhir ini jarang liat Lo sama dia, biasanya nempel trooos" ~Leo


"Pangeran udah tenang disana" ~Eva sambil menunjukkan fake smile nya


"Ha? maksudnya?" ~Leo


"Ya gitu Pangeran udah meninggal, baru beberapa hari yang lalu" ~Eva


"Sorry bukan maksud gue buat bikin Lo... dia orang baik pasti disana dia udah bahagia" ~Leo "Yes!!! yes yes yes yes..." batin Leo dalam hati


"Hem... Leo..." ~Eva


"Ya kenapa?" ~Leo


"Gak papa, gak jadi" ~Eva, kembali ia memandang pemandangan pantai yang sangat indah, sambil merasakan desiran angin pantai ia memejamkan matanya


"Apa ini maksud Pangeran dulu, yang bilang kaya gitu ke gue? Hem tanpa Lo minta sekalipun gue bakalan jagain dia sebisa gue Ran, thanks gue bakal selalu inget ucapan Lo. Eh bentar, kalo Pangeran udah meninggal beberapa hari yang lalu, terus yang ngirim vidio ke gue barusan siapa dong? belum gue buka juga sih vidionya, tapi ini dari nomernya Pangeran" batin Leo


"Va, gue ada vidio dari Pangeran tapi anehnya dikirim barusan sedangkan Pangeran kan udah meninggal dari beberapa hari yang lalu" ~Leo


"Vidio apaan?" ~Eva


"Nih, belum gue buka sih" ~Leo, menunjukan vidio yang ada di ponselnya


"Ekhem... ekhem... oke udah pas kan? Ya Hallo baby, aku Pangeran dah tau kan hehe. Em aku bikin vidio ini buat nyampein sesuatu ke kamu, entahlah ini hanya perasaan ku atau apa tapi aku ingin setelah kepergian ku kamu gak sedih lagi ya. Aku Pangeran Wiliam meminta maaf karena aku hanya bisa menjadi sunset untuk mu Eva Aurora, semoga sunset ini bisa sedikit berarti dan berguna. Maaf aku gak bisa lindungin kamu lagi sekarang, tapi aku yakin pasti akan ada seseorang yang bisa menggantikan posisi ku, jauh lebih baik dari ku, dan aku percaya kepada Leo. Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari hidup ku, i love you so much baby, buka lah hati mu untuk Leo ya, perlahan saja jangan langsung, aku tau hati mu masih sakit dan terkunci, maka dari itu bukanlah kunci itu lagi. Aku pernah datang dan membuka hati itu, tapi sekarang aku kembali menutup dan membawa pergi kunci nya, temukan lah kunci lainnya untuk membuka hati mu kembali Eva, kau berhak bahagia. Sekali lagi terimakasih, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya" ucap Pangeran panjang lebar dan diakhiri dengan senyum tulus dan tetesan air mata dari Pangeran


Vidio yang berdurasi kurang dari 5 menit itu membuat perasaan Eva kembali rapuh, air mata pun sudah tidak bisa dibendung kembali


"Hiks~ hiks~ Pangeran... kamu jahat!!!" ucap Eva menutup muka nya dengan kedua tangan sambil terisak


"Sabar ya" hanya dua kata tersebut yang bisa Leo katakan, ia bingung harus apa lagi selain berkata 'sabar' Melihat Eva yang terus menangis, Leo pun menariknya kedalam pelukan nya


"Nangis aja kalo nangis bisa buat Lo jadi lega" ~Leo mengusap kepala Eva dengan penuh kelembutan dan kasih sayang


Beberapa menit kemudian, "Em maaf baju Lo jadi basah gara-gara gue" ~Eva


"Gak papa, gimana perasaan Lo?" ~Leo


"Lumayan, thanks sroot" ~Eva


"Yak jiji banget si!!! nih lap pake ini, hais" ~Leo


"Hihi mangap" ~Eva


"Yuk kumpul, Pak Badrun udah nungguin tuh" ~Leo


"Oke" ~Eva


Mereka berdua berjalan menuju tempat berkumpul, ditepi pantai mereka dikumpulkan menjadi satu untuk menerima sedikit informasi


"Selamat sore anak-anak" sapa Pak Badrun


"Sore Pak..." ~All


"Ya maaf bapak telah mengganggu waktu istirahat kalian, tapi seharusnya sudah cukup untuk beristirahat. Bagaimana perasaan kalian? senang?" ~Pak Badrun


"Senang Pak!!" ~All


"Sukurlah, bapak mau menawarkan sesuatu kepada kalian, kalian ingin di sini sampai kapan? mau besok pagi kita pulang? atau bagaimana?" ~Pak Badrun


"Jangan Pak!! besok sore aja sekalian"


"Lah masa sebentar doang sih Pak"


"Baru juga sampe, perasaan"


"Yah Pak jangan dong, pagi-pagi masih jarang yang jualan seafood, siang aja deh atau gak sore aja"


"Boleh-boleh aja pak, pen rebahan di kasur"


"Rebahan mulu Lo kerjaannya!"


"Biarin, iri bilang bos"


"Gue iri sama Lo?? haha najis!"


"Sudah-sudah diam malah jadi ribut sih, Leo gimana menurut kamu?" tanya Pak Badrun


"Siang sekitar jam 1 an aja Pak" usul Leo


"Apa tidak kelamaan?" ~Pak Badrun


"Tidak Pakkk..." ~All


"Baiklah kalau kalian sudah setuju, berarti kita akan melanjutkan perjalanan nya jam 1 sekalian makan siang terlebih dahulu disini. Nanti sekitar jam 7 kita akan kembali berkumpul untuk sekedar makan-makan di pinggir pantai sana. Bapak rasa cukup, kalian boleh kembali ke aktivitas masing-masing, terimakasih" ~Pak Badrun


Semua murid pun bubar, kembali ke aktivitas mereka masing-masing


"Va, mau liat sunset bareng gue?" tanya Leo


"Em... gimana ya, yaudah deh ayo" jawab Eva


"Woy! kita ikut, berduaan terus" nimbrung Gibran


"Kita juga" ucap Zahra dan Cici


"Yaudah ayo" ~Eva


"Sumpr*t, dasar kalian pengganggu, huf~" ~Leo


Alhasil mereka berenam pergi menuju tepi pantai untuk menikmati pemandangan sunset bersama, mereka duduk diatas pasir putih tanpa beralaskan apa-apa. Sekelebatan bayangan berputar di kepala Eva, ia mengingat masa-masa dirinya bersama Pangeran menikmati keindahan sunset berdua di tepi pantai. Kini itu hanyalah sebuah kenangan bahagia yang menyayat hati baginya


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa..." tanpa sadar Eva berteriak dengan keras di tepi pantai untuk menghilangkan perasaan aneh di dalam tubuhnya, menghiraukan kehadiran lima teman nya yang mungkin merasa terganggu oleh suara teriakan nya itu


"Gue juga mau teriak" ~Zahra


"Aaaaaaaaaaaaaa..." ~Zahra


"Me too, Aaaaaaaaaaaaaaaaaa..." ~Cici


"Bukan cuma tsunami gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus keknya juga bakalan terjadi" ~Justin


"Lebay, mana mungkin cuma gara-gara suara teriakan kita bisa jadi kaya gitu. Liat noh Leo diem, anteng, gak kaya kalian, cerewet, huh" ~Zahra tak terima


"Bisa aja, gak ada yang gak mungkin! dia diem emang udah dari orok, katanya dulu pas lahir dia gak nangis padahal udah dibuat biar dia nangis tapi gak berhasil" ~Gibran


Tanpa mereka sadari Eva sudah melangkah maju menuju bibir pantai, mengenang kejadian seperti dulu bersama Pangeran ia pun kembali memain-mainkan air laut. Ia mencipratkan air laut itu ke arah mereka berlima, sambil senyum-senyum sendiri tanpa rasa bersalah


"Eh hujan yak? tapi ko air hujannya asin" ~Justin


"Bod*h, noh ujannya dari bocah itu" ~Leo


"Oooo asem" ~Justin


Terjadilah perang ciprat-cipratan antara mereka berlima kecuali Leo, dia hanya memandangi mereka dari kejauhan saja. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir di bibir sexi nya, sungguh itu adalah senyuman langka jika saja Gibran dan Justin melihat senyuman tersebut pasti mereka akan ternganga tak percaya, seorang Leondra Aldebaran akhirnya bisa tersenyum


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Malam hari pun tiba, saatnya bagi mereka berkumpul untuk makan seafood yang harus mereka panggang terlebih dahulu. Dengan telaten Eva, Zahra, dan Cici memanggang ikan, udang, dan lainnya diatas alat yang sudah disediakan. Tak mau kalah dengan mereka Ratu dkk pun melakukan hal yang sama. Tapi bedanya mereka membuat makanan tersebut dengan rasa kesal melihat Eva dkk yang sendari tadi terus saja berdekatan dengan Leo dkk, sedangkan Eva dkk memasak makanan tersebut penuh canda tawa


"Woy minta ya ntar, oke thanks" ucap Gibran


"Enak aja bikin sendiri!" jawab Zahra


"Gak papa kali, ini juga kita bikin nya kebanyakan dari pada mubazir mending di bagi-bagi" ucap Cici


"Nah itu tu baik, gak kaya Lo!" timpal Justin


"Serah gue lah, Va ni diapain lagi" ~Zahra


"Ah ya apa? kenapa?" ~Eva


"Ngalamun terus, ini ikan diapain sayang?" ~Zahra


"Oh ikannya, ya sama kaya udang diolesin bumbu dulu terus dipanggang gitu terus sampe mateng" ~Eva


"Ohhh oke" ~Zahra


Keringat mengalir dari jidat Zahra, padahal suasana dingin tapi gara-gara dia sendari tadi berada di depan api jadilah ia kepanasan sampai berkeringat. Entah datang dari mana, tiba-tiba Gibran sudah berada di sebelah Zahra mengelap keringatnya menggunakan tisu. Pandangan pun saling beradu hingga akhirnya


"Punten, itu ikannya gosong" ucap Eva yang berhasil membuyarkan suasana romantis itu


"Oh astaga gue lupa" ~Zahra yang buru-buru mengangkat ikannya lalu menyajikan diatas piring


Semua makanan yang Eva dkk buat pun akhirnya siap disantap, makanan yang mereka buat melebihi porsi untuk mereka bertiga. Jadi dengan baik hati mereka membagi makanan mereka dengan Leo dkk


"Bagaimana?" tanya Cici ragu


"Enak, gak sia-sia kerja keras kita" jawab Eva


"Bener tuh, huh terbayar sudah ya walaupun ikannya gosong sih hehe" jawab Zahra


"Lumayan" jawab Justin


"Untuk standar restoran ini sangat jauh,tapi ya lumayan lah karna gue laper so gue makan" ~Gibran


"Woy bukannya makasih ke udah di masakin malah mbandingin sama yang di resto" ~Zahra


"Hem makasih, dah kan" ~Gibran


"Dasar nyebelin!" ~Zahra


Mereka kembali menikmati makanan tersebut dengan tenang, sebenarnya makanan tersebut rasanya sangatlah enak namun karena sikap gengsi Gibran dan Justin saja yang terlalu tinggi untuk mengucapkan kata 'enak/lezat'. ketenangan mereka terusik dengan kedatangan Ratu dkk yang membawa hasil masakan mereka


"Hai Leo" sapa Ratu genit


"Ngapain Lo kesini?!" jawab Leo datar


"Nih ku cuma mau ngasih ini enak loh cobain deh, kita masak sendiri" ~Ratu


"Kita udah kenyang" bukan Leo yang menjawab namun Gibran yang juga merasa risih dengan kedatangan mereka berempat apalagi dengan si Mita yang terus saja berusaha nempel ditubuhnya


"Udah mendingan kalian pergi, sebelum kesabaran kita abis" sambung Justin


"Oh ayolah cobain masakan kita sedikit aja" ~Ratu


"Bud*g apa gimana, kita bilang udah kenyang!" ~Gibran


"Udah cobain aja sedikit kalo gak mereka bakalan terus disini" saran Eva


"Apa Lo ikut campur" ~Mita


Karena ucapan Eva barusan akhirnya Leo mau memakan hasil masakan Ratu dkk, setelah dipikir-pikir benar juga ucapannya jika tidak dimakan pasti mereka akan terus berada di situ


Cuuuuh...


Leo memuntahkan kembali apa yang telah ia makan, dengan cepat ia menyambar air minum disampingnya lalu menenggak nya sampai habis


"Kalian mau ngeracunin gue ha? udah asin, masih amis, belum mateng tau gak!" ucap Leo terang-terangan


"Leo ko gitu sih, kita kan udah susah payah masakin ini buat kalian" ~Ratu sok melow


"Cobain aja sendiri" ~Leo


"Oke" dengan pd nya Ratu memakan makanan yang mereka buat, sensasi asin dan bau amis langsung terasa lewat makanan tersebut tapi dengan terpaksa Ratu harus menelannya


"Gimana enak?" ~Leo


"Enak" bohong Ratu


"Heh~ senjata makan tuan, dah malem balik yuk" ~Leo, menarik tangan kanan Eva yang tengah asik menikmati sate udang bikinannya tadi


"Eh mau kemana?" Eva yang tidak bisa mengelak pun harus mengikuti Leo sambil berusaha memakan sate udang ditangannya walaupun tangan satunya ditarik


"Eh tungguin" ~Justin ikut mengejar mereka berdua, begitupun Gibran, Zahra, dan Cici


"Sialan, anj*ng, bangs*t, akhhhh" ~Ratu


Malam sudah larut, menandakan waktunya bagi mereka untuk beristirahat mengumpulkan tenaga mereka kembali untuk besok harinya


...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Like, Vote, Komen, and share bagi yang suka...


Follow me hehe...


Thank you 🤗💜


^^^~Beach Breeze~^^^


...۝ SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ۝...