
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Malam hari yang gelap terdapat seorang gadis masih menggunakan baju seragam sekolah nya, berjalan di trotoar sambil mendengarkan musik melalui headset putih yang bertengger manis di telinga. Rambut panjang yang ia cepol atas, dapat memperlihatkan leher putih nan mulus nya yang menggoda
Gara-gara lelaki bernama Leondra Aldebaran, dirinya harus naik angkutan umum lalu berjalan sedikit jauh menuju rumah sakit Hansin. Ternyata maksud dari 'sepeda Lo udah gue urus' adalah Leo yang mengantarkan sepeda itu ke rumah Eva langsung bukan ke restoran
Baju lengan pendek dan rok diatas lutut, membuat tubuhnya dengan mudah diterpa angin malam yang sangat dingin. Ia menyilang kan tangan dan mencengkram bahu nya sendiri untuk mengurangi rasa dingin tersebut, terlihat beberapa kali juga ia menggosok-gosok kan kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Segala cara sudah ia lakukan, tapi angin malam sungguh kuat hingga berhasil mengalahkan usahanya
Langkah kakinya mulai memasuki halaman depan rumah sakit. Sejenak ia mendaratkan tubuhnya di bangku taman untuk sedikit menghilangkan rasa lelahnya. Ia menengadah ke atas memandangi langit-langit, hanya warna biru tua yang bisa ia lihat, entah pergi kemana para awan, bintang, bulan yang biasanya menghiasi langit
Dirasa cukup ia pun kembali berjalan menuju ruangan sang adik di lantai 10. Sepanjang perjalanan ia menjumpai beberapa orang sakit ataupun orang dengan fisik yang tidak lengkap tengah mencari udara segar di luar kamar. Saat itulah ia menyadari satu hal lagi, bahwa kesehatan itu sangatlah berharga dan mahal
"Assalamualaikum" salam Eva
"Waalaikumsalam" jawab beberapa orang didalam
"Hai Pak, bagaimana kabarnya?" tanya Eva pada salah satu pasien yang satu kamar dengan Aldi
"Alhamdulillah neng sudah lumayan membaik" jawabnya
"Sukurlah semoga cepet sembuh ya Pak, saya ke sebelah dulu" ~Eva
"Iya neng"
"Loh Zah, Ci, kalian ko ada disini?" ~Eva, saat melihat ada Zahra dan Cici sedang duduk di sofa sambil meminum teh hangat bikinan Lusi
"Ya emang kenapa, gak boleh? lagian adek Lo udah gue anggap kek adek gue sendiri" ~Zahra
"Bukan gitu ah yaudah lah gak usah dibahas, btw Mamah kemana?" ~Eva
"Lagi ke toilet tadi" ~Cici
"Ooo..." ~Eva
Meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah asik menikmati hidangan di meja, Eva beralih menuju brankar Aldi. Sungguh, hatinya seakan tersayat-sayat melihat sang adik tengah terbaring lemah, dan harus melawan penyakit ditubuhnya
"Hai dek, udah lama Kaka gak kesini buat jengukin kamu, maaf ya bukannya Kaka gak mau tapi Kaka sibuk. Huf kapan kamu sadar sih? kangen tau sama sikap kamu, perilaku kamu, senyuman kamu, suara kamu"
"Kata dokter peluang kesembuhan kamu cuma sedikit, apa itu berarti kamu udah mulai capek lawan penyakit nya? cih dasar lemah! Kaka mohon kamu tetep bertahan ya Dek. Kamu gak mau kan bikin mamah, papah, dan Kaka sedih, jadi bertahan oke, cepet sembuh, Kaka kangen sama kamu" cairan bening mulai keluar membasahi pipinya
"Oh ya, kamu tau kan cita-cita Kaka? dokter, ya itu cita-cita Kaka. Kaka akan berusaha untuk meraih gelar dokter itu, dan Kaka bakal berusaha keras buat nyembuhin kamu, kalo kamu belum sadar juga, tapi Kaka berharap sebelum Kaka jadi dokter kamu udah sadar ya biar bisa liat Kaka pake toga, jangan lupa bawa hadiah hahaha. So hold on oke!!!" dialog Eva
Ia terus saja memperhatikan adiknya yang sama sekali tidak merespon apapun. Digenggamnya tangan dingin Aldi lalu ia tempelkan di pipinya. Tiba-tiba dari belakang sesuatu yang berat telah menimpa nya, ternyata itu adalah Zahra dan Cici yang memeluk Eva memberikan kekuatan agar ia bisa tegar menghadapi masalah ini
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
"KEPADA SISWI BERNAMA RATU CASSANDRA, MITA WULANDARI, LINTANG PARMADITA, DAN CHARLYN KHARISMA PUTRI. DI MINTA MENUJU RUANG GURU SEKARANG, TERIMAKASIH" ucap guru lewat salon yang tersebar di seluruh sudut sekolah
Seperti biasa, saat ini Eva dkk dan Leo dkk sedang asik makan di kantin. Disaat pengumuman tersebut dikumandangkan, seketika aktivitas sebagian murid terhenti sejenak, mereka memilih mendengarkan pengumuman yang menyangkut Ratu dkk
Seketika semua murid langsung menjadikan pengumuman tersebut sebagai topik pembicaraan yang hangat
"Eh mereka kenapa ya?" tanya Eva
"I don't know" jawab Zahra
"To get out of this school" jawab Leo santai sambil menyeruput ice cappucino nya
{ Untuk keluar dari sekolah ini }
"WHAT?!" ~Eva dkk
"B aja kali mba ekspresi nya" ucap Gibran
"Maksudnya gimana? bukannya... haaa ih gimana sih?!" tanya Cici penasaran, yang mempunyai tanda tanya besar di kepalanya begitupun Eva dan Zahra
"Ya out, tau kan arti kata out?! keluar!" ~Justin
"Karena apa? ko kalian bisa tau?" ~Eva
"Kita yang ngelaporin" ~Gibran
"Pembulian and etc" ~Leo
"Alhamdulillah huwaaa akhirnya gue bisa gak liat para ulet keket di sekolah ini lagi, sungguh kenikmatan yang luar biasa" ucap Zahra senang
"Em semoga di sekolah barunya, mereka bisa tobat dan jadi yang lebih baik" ~Eva
"Moga aja, tapi gue gak yakin. Orang kaya mereka berubah? waw amazing haha" ~Justin
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Ruang Guru~
Ratu dkk sudah duduk manis di sofa ruang guru, dihadapan mereka juga sudah ada kedua orang tua mereka. Tak lama kemudian datanglah Pak Wahyu selaku guru BK dan kepala sekolah Pak Andra
"Selamat sing tuan, nyonya" sapa pak Andra dan Wahyu ramah
"Siang" ~All
"Ada apa ini Pak, sampai-sampai kita harus dipanggil ke sekolah?" tanya Papah dari Ratu memulai pembicaraan
"Terus?" tanya mamah Lintang tanpa rasa marah seakan tindakan bullying sudah biasa dimata nya, juga yang lain
"Jadi terpaksa kami dari pihak sekolah akan mengeluarkan saudari Ratu, Mita, Charlyn, dan Lintang dari sekolah ini" ucap Pak Andra
Brakkk...
"Apa-apaan ini?! hanya karena hal sepele itu kalian berani mengeluarkan anak saya seenaknya, apakah kalian lupa jasa saya terhadap sekolah ini. Bisa saja saya menarik semua saham di sekolah ini dan semuanya akan berakhir!" tegas Papah dari Ratu tidak terima anaknya dikeluarkan dari sekolah tersebut dan mengancam menggunakan jabatan nya sebagai salah satu infestor paling berpengaruh
"Pahhh... aku gak mau keluar dari sekolah ini" rengek Ratu terhadap sang Papah
"Iya papah tau, papah akan usahain"
"Maahhh aku juga hiks~" ~Mita
"Iya sabar sayang" ~Merry
Sebuah senyuman mengejek keluar dari mereka berempat, mereka seakan mempunyai kekuatan untuk melawan keputusan sekolah dengan cara memanfaatkan kedua orang tua mereka
"Maaf Tuan, keputusan ini sudah tidak bisa diganggu gugat, ini sudah keputusan dari--" ~Pak Wahyu
"Halah siapa yang berani menantang kami?! akan saya pastikan orang itu hidup sengsara!!" ~Papah Charlyn
"Benar siapa orangnya? katakan!!" ~Mamah Ratu
"Maaf ini sudah keputusan Tuan Besar Kim" ~Andra
Seketika semua orang disana kecuali Ratu dkk membelalakkan matanya, tubuh mereka bergemetar, dan nyali mereka yang awalnya sangat lebar kini menciut seketika setelah mendengar tiga kata sederhana yaitu 'Tuan Besar Kim'
"Apah?" lirih Papah Ratu
"Iya Tuan, beliau sendiri yang memutuskan hal ini setelah kami mengirimkan beberapa bukti itu. Saya juga sangat terkejut saat mengetahui seseorang seperti beliau turun langsung mengatasi masalah sepele baginya seperti ini" ~Pak Andra
"Saya memiliki pesan darinya untuk disampaikan kepada kalian, ini asli dari beliau. Didalamnya tertulis...
'Jika kalian ingin menarik seluruh saham kalian dengan alasan anak kalian telah dikeluarkan dari sekolah ini, maka silahkan, masih banyak para investor yang mau menanamkan sahamnya di sekolah ini. Bagi saya nilai tata krama itu jauh lebih penting dari pada uang ataupun harta kekayaan!
Jika kalian sampai menuntut atau menyakiti satu, pihak sekolah, dua, orang yang menjadi korban bullying anak kalian, dan ketiga, orang yang melaporkan kasus ini, maka saya tidak segan-segan untuk membalas kalian, orang suruhan saya akan selalu mengawasi kalian. Jadi berhati-hatilah dalam bertindak dan ajari anak-anak kalian tata krama yang baik dan benar'
"Yang bertanda tangan dibawah ini Tuan Besar Kim" Pak Wahyu membacakan surat tersebut dengan detail
Kurang percaya dengan yang dikatakan Pak Wahyu, Papah Ratu pun merebut paksa surat tersebut dan membaca ulang
"Ayo sayang kita pulang, Papah akan carikan sekolah yang jauh lebih bagus dan mahal dari sekolah ini, kalo perlu papah akan sekolahkan kamu di luar negri" ~Papah Ratu
Ia menggeret anaknya keluar ruang guru. Entah kenapa setelah membaca ulang surat itu keringat dingin bercucuran di dahinya, mukanya pun pucat. Hal itu terjadi juga oleh kedua orang tua Mita, Charlyn, dan Lintang
"Gak Pah, aku gak mau pindah sekolah! aku mau disini. Masa papah langsung kalah cuma gara-gara selembar surat tak penting itu sih!!" tolak Ratu
"RATU!!! diam dan ikut Papah" baru pertama kalinya ia membentak Ratu apalagi di depan umum
"Pahh..." rengek Charlyn
"Belum puas kamu buat saham papah turun dan perusahaan kita hampir gulung tikar ha?! mulai sekarang papah akan sekolahkan kamu di asrama dan Papah akan cabut semua fasilitas yang udah Papah kasih ke kamu!" tegasnya
"Ha? pah jangan gitu dong masa... ntar aku gimana? papah gak kasihan sama aku?" ~Charlyn
"Apa kamu kasihan sama Papah? gak kan?! ayo Mah bawa anak mu itu" ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang guru dengan wajah seakan habis tertimpa kotoran dan itu berasal dari anaknya sendiri
"Lintang!!"
"Iya Pah" berbeda dengan kedua sahabatnya, Lintang lebih memilih untuk menurut dari pada mengengkang
Tersisa Mita, Merry, Hadi, Pak Andra, dan Pak Wahyu di ruangan tersebut
"Papah kecewa sama kamu nak, susah payah papah rawat kamu sampai sebesar ini tapi apa balasan kamu? mulai sekarang Papah gak bakalan manjain kamu lagi dan untuk Mamah, kamu dilarang memanjakan putri mu yang sangat manja itu lagi!! papah akan sekolahkan kamu di desa agar kau bisa belajar bagaimana rasanya jauh dari orang tua!" ~Hadi
"Pah jangan gitu dong, kasian anak kita, lagian Mamah juga gak bisa jauh dari putri mamah" ~Merry membela sang putri tercinta
"Inilah akibat nya karena kamu terlalu memanjakan nya Mah, jadi gak tau diri!! sudahlah keputusan papah sudah bulat, ayo kita pulang dan siapkan semuanya" ~Hadi
Tangisan pecah dari Mita, ia tak sanggup jika ia harus tinggal di desa dan jauh dari Hadi dan terlebih Merry, orang yang selalu memanjakan nya selama ini
Sedangkan Pak Andra dan Pak Wahyu hanya diam menonton drama ke empat keluarga besar itu memarahi dan menghukum anaknya. Sungguh dahsyat selembar kertas itu bisa dengan mudah merubah sikap mereka dan membuat mereka ketakutan
"AAAAAKKHHH... ini semua gara-gara Lo jala*g!!! awas aja ya Lo gue bakal bales semuanya!! dan gue bakal rebut apapun yang Lo punya" batin Mita dalam hati
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Sorry up kelamaan 🥲🙏🏻
Like, vote, komen, hadiahnya ya...
Thank you (◍•ᴗ•◍)
^^^~Beach Breeze~^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...