
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Keesokan harinya Eva sudah disibukan dengan baju, buku, dan barang-barang lainnya yang harus ia kemas dalam dua buah koper besar. Tak boleh ketinggalan pula barang seperti foto, dua album yang ia dapatkan dari kado ultah nya dulu, dan masih banyak lagi barang-barang dari idol kesukaan nya. Dari jauh terlihat ponsel nya mengeluarkan cahaya diiringi bunyi, menandakan ada panggilan masuk
📱📱📱
"Iya, why?" tanya Eva
"Emang bener Lo berangkat ke Jepang nya besok?!" tanya Zahra
"Yap bener, napa?" ~Eva
"Astaga kenapa Lo gak bilang sih!! apa jangan-jangan Lo mau pergi tanpa pamitan dulu sama kita-kita" saut Cici
"Bukan gitu maksudnya, gue mau ngabarin kalian ko, rencananya abis gue selese beres-beres gue mau langsung hubungi Lo pada buat ngajak ketemuan" ~Eva
"Yaudah ketemuan yuk! kebetulan Cici lagi di rumah gue" ~Zahra
"Wokeh dimana?" ~Eva
"Mall aja" ~Cici
"Otw" ~Eva
"Heleh otw, otw lu tuh mandi dulu, dandan, makan, rebahan, baru berangkat" sindir Zahra
"Ehekk tau aja Lo, dah lah mo mandi dulu bay..." ~Eva
📱📱📱
Dengan memakai rok selutut berwarna putih, atasan menggunakan sweeter ungu berukuran over size, sepatu sneaker putih andalannya, rambut yang ia cepol atas dan beberapa ia biarkan terurai, tas gendong kecil, dan polesan make up natural sudah lebih dari cukup baginya. Dalam urusan pakaian ia adalah tipikal cewek feminim yang suka nya memakai rok atau drees
"Mah Eva izin mau ketemu sama Zahra Cici ya" pamit Eva
"Iya sayang hati-hati, packing nya udah selesai?" tanya Lusi
"Belum Mah tinggal sedikit lagi, nanti pulang Eva lanjutin" jawab Eva
"Yaudah sana berangkat aja, biar Mamah nanti bantu packing" ucap Lusi
"Arigatōgozaimasu Mah" ucap Eva sambil mengecup pipi sang Mamah lalu punggung tangan nya dan berlalu pergi
{ Terimakasih banyak Mah }
Di Mall~
Di depan pintu masuk sudah terlihat oleh kedua mata Eva ada Zahra dan Cici yang sedang menunggu nya, sambil duduk melamun di tangga dan bersender di salah satu pilar penyangga gedung, bisa dikatakan seperti gelandang
Ide jail pun muncul seketika di otak berharga Eva, ia mengambil jalan lain berencana mengejutkan mereka dari belakang
1
2
3
"Mmmmpph"
Bukan mengejutkan malah dirinya lah yang dikejutkan oleh sebuah tangan kekar yang tiba-tiba membekapnya dari belakang
"Va, Leo, ngapain? Lo udah disini Va, kapan, kok gue gak liat" tanya Cici
"Cewek ini mau ngejutin kalian dari belakang" jawab Leo
"Hehe" ~Eva
"Tau dah berapa lama kita nungguin Lo?! dateng-dateng Lo malah mau ngagetin kita gitu? padahal ni ya gue sama Cici udah rela dikatain gembel tapi cantik gara-gara duduk kaya orang bod*h disini nungguin Lo" omel Zahra
"Ya maaf tadi tu gue nungguin ojek nya lama banget, mana tadi sempet macet dikit" ucap Eva
"Yaudah yuk lah masuk gue laper belum makan siang" ucap Gibran
"Lah kalian bertiga ikut?" ~Eva
"Ya ikutlah" ~Justin
"Lo lupa mereka juga sahabat kita sekarang ya sebenernya males juga sih gue, tapi ya gitu" ~Zahra
"Heh inget ya, Lo sendiri yang ngajak kita sahabatan!" ~Gibran
"Kapan?" ~Eva
"Udah gak usah dibahas, intinya kita semua temen. Dan gue laper ayo masuk, makan!" ~Justin
Banyak yang mereka lakukan saat itu, mulai makan, berkeliling mall, membeli baju, buku, dan yang terakhir dan paling menghabiskan waktu lama adalah bermain
Tawa riang menggambarkan jika mereka tengah berbahagia menikmati suasana pada siang menjelang sore hari itu. Berbagai macam permainan mereka mainkan, kalah menang memanglah sudah biasa terjadi di sebuah permainan, begitupun mereka. Tapi mereka menambahkan peraturan bahwa setiap yang kalah akan mendapat hukuman berupa cubitan dari yang menang. Bukan mereka namanya jika tidak terselip ide laknat, disaat mereka mendapatkan kesempatan mencubit lawannya, mereka akan mencubit dengan keras sampai meninggalkan jejak kemerah-merahan dan tentunya rasa sakit yang luar biasa
Tanpa rasa bersalah, waktu terus saja berjalan mengganti siang dengan sore, malam dengan pagi, begitupun seterusnya. Perpisahan sebentar ini harus terjadi, masa depan mereka telah menanti dan tugas mereka adalah menjemput masa depan itu di tempat dan waktu yang berbeda-beda
Sebuah tangisan, mungkin saat ini memang menyakitkan tapi rasa sakit ini akan berubah menjadi manis dikemudian hari
"Gue gak bakal lupain kalian semua, gue janji! terimakasih untuk selama ini dan semoga kita masih bisa bertemu di kemudian hari" batin Eva sambil menaiki ojek online pesanannya. Matanya berubah sembab, hidung nya memerah, dan isakan pun masih bisa terdengar
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Malam hari sebelum keberangkatan nya menuju Negri Sakura, Eva membawa seluruh barang bawaannya menuju rumah sakit. Ia akan bermalam di rumah sakit menemani sang adik sebelum keberangkatan nya ke luar negri
"Iya Mah, kripik kentang ya mah" jawab Eva
"Iya" ucap Lusi
Setelah kepergian Lusi, Eva perlahan mendekati brankar Aldi dan duduk di pinggiran brankar, lalu duraihlah tangan kanan Aldi
"Hey belum bangun juga?! padahal besok Kaka pergi loh, jangan kangen. Em... 5 tahun berarti nanti kalau Kaka pulang kamu 13 tambah 5 jadi 18 tahun dong. Cepet bangun ya Kaka kangen banget sama kamu, Kaka lagi mbayangin 5 tahun yang akan datang Kaka pulang dan kamu nyambut Kaka, kalau itu terjadi maka Kaka bakal seneeeng banget" ucap Eva
"Eh jari kamu gerak, kamu juga nangis, haha kamu denger ucapan Kaka? cepet buka mata! entah seberapa sakitnya kamu melawan penyakit-penyakit itu, kamu adalah adik Kaka yang paling kuat, bentar yaiyalah orang kamu satu-satunya adek yang Kaka punya" ~Eva
"Ekhem... excuse me" ucap seseorang
"Yes? Leo.. kamu ngapain disini?" tanya Eva
"Bisa ikut gue sebentar gak? urgent nih sebentar doang ko, deket-deket sini juga" jawabannya
"Bisa sih tapi nanti Aldi gak ada yang jagain" ~Eva
"Sudah nak Eva pergi saja, biar adek kamu Bapak yang jagain" saut pasien di samping ranjang Aldi
"Terimakasih ya Pak, aduh jadi ngerepotin, tapi nanti Mamah sebentar lagi balik ko Pak" ~Eva
"Iya gak papa, anggap saja kita sudah bersaudara, dan saudara harus saling membantu"
"Sekali lagi terimakasih banyak ya Pak, kalau begitu saya pamit dulu" ~Eva
Leo yang tiba-tiba muncul dan mengajaknya keluar pun membuatnya sedikit bingung. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak nya sebisa mungkin ia pendam terlebih dahulu sampai mereka tiba di tempat tujuan
Sebuah taman rumah sakit yang indah nan sejuk menjadi tempat pilihan Leo untuk mengajak Eva ngobrol. Duduk di bangku panjang berdua sambil menikmati desiran angin malam menikmati kesunyian malam indah itu
"Va..." panggil Leo memulai percakapan
"Hem?" jawab Eva
"Hais gue lupa mau ngomong apa, tapi intinya gue bakal nungguin Lo dan gue berharap Lo juga sama" ucap Leo menatap Eva serius
"Mm... maksudnya?" tanya Eva bingung
"Ya gitu, I hope we be will forever" ~Leo
"Ha? coba ngomong yang lebih jelas" ~Eva
"....." tak ada jawaban apapun dari lelaki itu, ia hanya diam sambil memejamkan matanya. Seketika suasana sunyi tercipta, tak ada yang mengeluarkan kata-kata. Sampai akhirnya Eva yang masih penasaran menunggu jawab Leo pun berucap
"Maksud Lo apa sih, gue gak ngerti?! cob--" ucapnya terpotong
"Boleh gue peluk Lo?" ~Leo
"Haih... Lo kenapa sih, sakit, apa lupa minum obat?" ~Eva
Greppp...
Tanpa basa-basi lagi, Leo langsung memeluk erat tubuh Eva sampai-sampai ia sedikit terhuyung ke belakang. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher nya, entah atas perintah dari siapa tangan Eva mulai membalas pelukan tersebut. Rasa nyaman menjalar ke tubuh mereka berdua, merasakan kehangatan ditengah desiran angin malam yang dingin
Tak ingin larut dalam pelukan tersebut, Leo pun melepas pelukannya dan beralih ke tangan kanan Eva. Dari dalam saku ia mengeluarkan sebuah gelang gembok berwarna hitam, memakainya di lengan Eva dan mengunci gelang tersebut
"Kalo Lo pengin buka gelang ini berarti Lo harus ketemu sama gue, karena kunci kecil ini ada di tangan gue. Kalo gitu gue pulang dulu, see you in 5 years Eva Aurora" Leo berjalan pergi meninggalkan Eva yang masih terbengong di taman
"Itu anak kenapa ya, gelang ini? hais gue gak bisa buka kalo gak ada kunci itu. Tapi... sudahlah gue juga gak ada niatan buat ngelepas ni gelang" ucap Eva tersenyum memandang gelang pemberian dari Leo
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Bandara xxx~
"Sayang kamu disana hati-hati ya, harus bisa jaga diri, apalagi di negri orang, jaga kesehatan, jangan terlalu memaksakan buat belajar terus sampe lupa waktu dan makan!" nasihat Lusi seakan tidak ingin melepas putri kecilnya di negara orang sendirian
"Iya Mah, Eva bakal jaga diri ko disana, Mamah tenang aja disana kan aku gak sendiri ada yang lainnya juga" jawab Eva
"Tetap aja Mamah khawatir sama kamu nak" ~Lusi
"Mah, putri kecil kita sekarang udah besar, papah percaya dia bisa jaga diri baik-baik ya kan sayang?!" ucap Riko
"Pasti dong Pah, Mah Pah Eva pamit ya pesawat nya udah mau take off, jaga diri kalian baik-baik titipin salam buat Aldi juga hiks~" ~Eva
"Hey jangan nangis! putri Papah masa cengeng kita bakal ketemu lagi ko. Papah sayang banget sama kamu" ~Riko
"He'em. Mah, Eva pamit dulu ya" ~Eva, tiba-tiba Lusi memeluk putrinya dengan sangat erat begitupun sebaliknya, tak mau kalah Riko pun ikut bergabung memeluk sang putri
"Hem dadah Pah Mah, Love you so much" ~Eva
"Love you too sayang" ~Riko
Sambil menggeret kedua koper nya Eva berjalan mundur berusaha menampilkan sebuah senyuman walaupun itu sangat berat rasanya. Perlahan bayangan kedua orang tuanya sudah tidak terlihat kembali dan itu berarti mulai saat itu juga ia harus mandiri
"Gue pasti bisa!!" batin Eva menyemangati dirinya sendiri
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Thank you (。◕‿◕。)
^^^~Beach Breeze~^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...