EVA AURORA

EVA AURORA
Episode 74 Bertemu Kembali



...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


"Hais... pake segala ada acara hajatan lagi, jadi jalan ditutup, terpaksa gue harus cari jalan lain kan, lebih jauh pula, padahal pas tadi berangkat masih boleh buat lewat. Niat cuma mau beli tepung sama telor tapi malah jadi kaya gini" ucap Eva kesal


"Ngomong-ngomong serem juga jalannya, gelap, sepi. Em hello pohon, mba, masnya misi numpang lewat ya, please jangan muncul" ucap Eva sopan


Karena adanya acara hajatan tersebut membuat Eva harus mengambil jalan lain untuk bisa pulang kerumah. Satu-satunya jalan lain menuju rumahnya adalah dengan melewati jalan yang terbilang menyeramkan. Dimana banyak pohon besar nan tinggi yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun, area kurang penerangan, jalan yang membahayakan apalagi jika sedang musim hujan, dll. Hal itu lah yang membuat orang-orang lebih memilih jalan lain dari pada menempuh jalan tersebut


"Eh eh ini kenapa?" ucap Eva merasa ada yang tidak beres dengan sepedanya "Apes apes, udah jalan ditutup, lewat jalan ini, sekarang rantainya pake segala putus lagi. Kalo copot sih bisa gue benerin lah ini putus, gak ada pilihan lain selain jalan mana udah sore lagi gue harus cepet-cepet pulang" oceh nya


Dorrr...


Dorrr...


Bugggh...


Sringgg...


Hyaaaaa...


Samar-samar Eva mendengarkan suara orang berkelahi di sekitar tempat itu "Suara apa ya, apa lagi ada tawuran, atau polisi lagi nangkep buronan? kalo bener berarti tempat ini gak aman, hais apes banget sih!!!"


Baru beberapa langkah ia maju, ada 6 orang yang tiba-tiba muncul dan saling berkelahi. Sejenak Eva mematung ditempat, menyaksikan dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana orang saling menyerang, memukul, menendang, dan seakan ingin membunuh satu sama lain


"Omoo... apa yang harus gue lakuin sekarang hah?! me.. me... mereka ke... ke..." ucap Eva gagap dan bergetar ketakutan


Gubrak.....


Tangannya tiba-tiba lemas hingga sepeda yang ia pegang terjatuh, hal itu membuat perhatian ke enam orang tersebut langsung mengarah kepadanya


"Wah... wah... wah... sepertinya ada tikus yang menggangu, berani sekali kamu masuk ke dalam kandang singa. Hama seperti mu harus dilenyapkan!" ucap seorang pria dengan wajah tampan namun dilumuri darah yang membuatnya terlihat begitu menakutkan, sebut saja dia Martin


"Dilenyapkan?" gumam Eva, entah kemana otak cerdasnya, saat ini ia lebih cocok terlihat seperti orang bodoh yang hanya diam saat mengetahui ada sebuah busur panah mengarah kepadanya


"JANGAN SENTUH WANITA ITU, ATAU NYAWA MU AKAN MELAYANG DETIK INI JUGA!!!" tegas pria bertopeng


"Wooo... ada apa ini? hanya karena seorang wanita seperti nya saja emosi mu sudah terpancing? padahal aku sudah menggunakan segala cara agar emosi mu terpancing, namun selalu gagal. Tapi hanya karena wanita cantik itu kau..." ~Martin


Diam sesaat mempersilakan angin berlalu-lalang terlebih dahulu, sinar matahari yang sudah menghilang membuat tempat tersebut bertambah seram. Hanya dengan lirikan mata oleh Martin, anak buahnya langsung berlari kerah Eva sambil menodongkan pisau tajam


"EVA LARI!!!" ~Pria bertopeng


"Ha? kaki gue ga... gak bisa digerakkin, akh kaki sialan! hiks~ Papah Mamah, Eva takut" ~Eva, bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya


"Udah gue duga wanita itu adalah kunci dari orang ini" batin Martin


Dorrr...


Sebuah peluru beracun berhasil bersarang tepat di dada pria itu, pisau yang hendak menyentuh leher Eva terjatuh bersamaan dengan tembakan tersebut


"King pergi saja selamat kan dia, kami akan mengurus para cecurut brengs*k ini" ucap salah satu tangan kanan pria bertopeng itu


"Baiklah, urus mereka jangan sampai mereka lolos!" tegas pria bertopeng


"Yes King" jawab kedua tangan kanannya tegas


Pria bertopeng itu langsung berlari menuju Eva yang sudah terduduk lemas di tanah dengan tatapan kosong "Ayo kita pergi"


"....." tak ada jawaban dari Eva, ia masih shock dengan kejadian barusan mulutnya serasa kaku untuk berbicara


"Hais dasar cewek aneh" ~Pria bertopeng


Tangan kekarnya segera mengangkat tubuh Eva dan membawanya lari menuju hutan


"Aaaaaaa... gue mohon lepasin gue hiks... gue janji gak bakal bocorin kejadian tadi ke siapapun, lepasin gue gue masih pengen hidup" rengek Eva tanpa berani membuka matanya


"Diam, atau mereka bisa ngejar kita!" ~Pria bertopeng


"Tapi... hiks Mamah..." ~Eva


"Cengeng banget sih ni cewek, gue gak bakal apa-apain Lo justru gue nyelametin Lo" ~Pria bertopeng "Gue juga kangen sama Lo Va" batinnya


Berlari hingga ke tempat yang aman membuat nafas pria itu terengah-engah dan peluh membasahi tubuhnya. Ia menurunkan Eva sebentar, lalu menatap wajah itu dengan tatapan rindu. Tanpa ragu-ragu lagi ia langsung memeluk erat Eva


"Eh... apa-apaan ini!!!?" ucap Eva


"Diam dan biarkan seperti ini sebentar" ~Pria bertopeng


"Sial mereka berhasil nemuin kita! cepat lari ke arah sana, jangan liat kebelakang, lari sekencang yang Lo bisa. Lurus dan jangan berbelok, nanti Lo bakal nemuin tempat ramai!!" ucap pria itu


"Terus Lo?" ~Eva


"Cepet lari cewek aneh!" ~Pria bertopeng


"I... iya" sebisa mungkin ia berlari sekencang yang ia bisa, namun ada satu hal yang membuat perasaan nya bercampur aduk dan adanya tanda tanya besar di pikiran nya


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


"Dia bisa tau nama gue dan sebutan itu... Leo? apa iya pria tadi Leo?" pertanyaan itu terus saja berputar-putar di otaknya


Ditemani seekor kucing kecil putih, Eva duduk di luar rumah memandangi langit-langit dan menikmati suasana tersebut


Ngeonggg...


Dengan manja nya kucing kecil imut itu mengelus-elus kan tubuhnya di tangan Eva, meminta agar bulu-bulu halusnya disentuh


"Kau selalu saja berhasil membuat perasaan ku langsung berubah, uuuuu cute banget si" ~Eva


Tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berhenti mendadak di depan rumah Eva, dari dalam keluar lah Gibran dan Justin. Mereka tidak langsung menemui Eva namun mereka seperti nya harus mengeluarkan sesuatu yang sangat susah dikeluarkan dari jok belakang


"Gue bilang lepasin anji*g!!!" yah sesuatu yang sulit dikeluarkan bisa berbicara itu berarti dia adalah manusia. Manusia tampan yang saat ini dipaksa oleh kedua sahabatnya pergi ke rumah tersebut tanpa memberikan waktu bagi nya untuk berganti baju tidur hitam yang melekat ditubuhnya


"Va, Lo dokter kan?" tanya Justin


"Ha? iya emang kenapa?" jawab Eva bingung


"Nah pas banget, sembuhin ni orang, kita serasa udah gak sanggup sama sikapnya" ucap Gibran mendramatisir "Setiap hari kita di suruh kerja dari pagi sampai pagi lagi, belum kita harus menghadapi sikap nya yang dingin" tambahnya


"Ha, kalian kenapa sih?" ucap Eva bertambah bingung


NGEONGGG...


"Buset tu kucing ngagetin aja" ~Justin


"Jisi masuk kedalam sana" perintah Eva, yang langsung dituruti oleh kucing tersebut "Sembuhin gimana? gue liat dia baik-baik aja" ~Eva


"Peka ngapa sekali-kali" ~Gibran


"Udah gak usah dipikirin mereka tu gila jadi biarin aja" ucap Leo


"Kita gila juga gara-gara Lo" ~Gibran dan Justin


"Masa bodo" ~Leo


"Bentar, so kalian kesini mau ngapain?" ~Eva


"Nih nganterin kucing yang selama ini nyamar jadi singa buat ketemu sama Lo" ~Gibran


"Ada apa?" ~Eva


"Gak ada apa-apa, gak jadi lain kali aja, kita pulang dulu" ~Leo, kebalikannya jika tadi Gibran dan Justin yang menyeret Leo kini Leo lah yang menyeret mereka masuk ke mobil lalu pergi


"Dasar aneh, gak jelas. Hoaaaaaaam tidur besok kerja gak boleh telat" ~Eva


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


"Akhhhh be*o be*o!!!" ucap Leo meruntuki diri sendiri "Bisa-bisa nya gue tadi kaya orang bod*h di depan Eva, apalagi gue pake baju tidur lagi, akhhh... Gibran!!! Justin!!! I have a gift for you, a very delicious knife cut!!" ~Leo


{ Aku punya hadiah untuk kalian, sebuah sayatan pisau yang sangat nikmat }


...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Like, Vote, Komen, hadiah nya please


Moga suka ya :)


Love ʕ´•ᴥ•`ʔ


Thank you 😇❤️


^^^~Beach Breeze~^^^


...۝ SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ۝...