
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
"PANGERAN, CEPET TURUN!!!. Ya Allah tu anak, Bi tolong panggilin Pangeran ya suruh ke bawah" perintah Risa
"Baik Nyonya"
"Sebelas dua belas kaya Mamah, suka teriak-teriak" batin Eva
"Ayo sayang kita duduk dulu. Gimana kabar Mamah sama Papah kamu, ah ya adik kamu juga?" ~Risa
"Alhamdulillah, baik Mah. Mamah sendiri gimana? Papah?" ~Eva
"Baik juga sayang, kalo Papah masih dikantor belum pulang" ~Risa
"Gue gak ditanyain?!" ucap pangeran yang sedang menuruni tangga, dengan kaos oblong berwarna abu-abu dan celana hitam pendek diatas lutut memperlihatkan kaki jenjang nya yang sangat mulus
"Gak penting juga nanyain Lo" ~Eva
"Gak penting Lo bilang, yaudah sono pulang aja ini rumah gue" ~Pangeran
"Mamah..." ~Eva, langsung berhamburan ke pelukan Risa
"Eh itu Mamah gue" ~Pangeran
"Mamah gue juga" ~Eva
"Udah-udah baru juga ketemu udah mulai aja berantem nya, ayo Va katanya mau bantuin Mamah buat kue" ~Risa
"Siap Mah" ~Eva
"Gue ditinggal lagi, buat apa coba tadi gue dipanggil suruh kebawah kalo ujung-ujungnya di anggurin gini" ~Pangeran
"Utututu cacian" ~Eva
Akhirnya Pangeran menonton TV sambil bermain hp untuk menghilangkan rasa bosannya itu. Karena jarak dapur dan ruangan dimana ia menonton TV itu dekat, jadi dia bisa leluasa melihat keakraban Mamah nya dan Eva saat memasak. Sungguh pemandangan yang sangat indah, itulah yang dibenak Pangeran saat ini
Lama-kelamaan dirinya mulai bosan, lalu memutuskan untuk ke dapur. Awalnya ia hanya ingin melihat saja, namun saat ia melihat adanya tepung seketika terbesit lah ide jail diotak nya
Tangannya ia celupkan ke dalam tepung tersebut lalu berjalan mendekat ke arah Eva yang sedang fokus mengaduk adonan kue, sedangkan Risa saat ini sedang berada di kamarnya untuk mengambil ikat rambut
"Yap, tepat sasaran" ucap Pangeran setelah berhasil memake up wajah Eva dengan tepung
"O PANGERAN!!!" teriak Eva
"Ya?" jawabannya dengan watados
"Lo yah, bisa liat gak gue lagi bikin adonan kalo tumpah gimana?!" ~Eva
"Ya bikin lagi" ~Pangeran
"Ish Lo ya" dengan cepat ia mengambil tepung di dekatnya lalu melumuri tangannya dengan tepung tersebut "Aaah... gimana kalo gantian" ~Eva
"Eh jangan macem-macem Lo ya, gue gak akan biarin muka gue yang tampan gak ada tandingannya ini harus terkena tep--" belum sempat pidato tentang wajah tampan nya itu selesai, sebuah tangan penuh dengan lumuran tepung telah berhasil mendarat sempurna di wajah Pangeran
"Bwahahaha... kena juga kan Lo" ~Eva
"Awas ya, terima ni serangan badai tepung terigu!!!" ~Pangeran
Terjadilah peperangan tepung antara Pangeran dan Eva, mereka seakan melupakan hasil karya mereka nantinya pada dapur kesayangan Risa. Seluruh badan mereka seakan sudah dibalut tepung bagaikan gorengan yang siap untuk digoreng. Tak jarang juga mereka bersin-bersin akibat tepung tersebut masuk kedalam hidung
Tawa mereka seakan menggelegar di dapur tersebut, akibat ulah mereka berdua dapur yang sebelumnya rapih dan bersih kini berubah 180°. Bagaikan kapal yang terkena ombak besar dan menghantam batu karang keras, sudah bisa ditebak kan hasilnya seperti apa
Risa yang baru saja kembali dari kamarnya, dan langsung melihat pemandangan dapurnya seperti kapal pecah terdiam sejenak
"PANGERAN!!! EVA!!!" teriak Risa
"Mamah?!" jawab Pangeran dan Eva
Dari situlah mereka baru menyadari apa yang telah mereka lakukan terhadap dapur kesayangan Risa. Bukannya meminta maaf ataupun menyadari kesalahannya, mereka berdua malah tertawa puas saat melihat penampilan satu sama lain. Hal tersebut membuat kepala Risa bertambah pusing
"Haduh ni dua anak kayanya harus dibawa ke psikolog deh atau sekalian ke RSJ ya?, Mamah takut kalo tambah parah" ucap sang Mamah sambil memijit pelipis dahinya
"Ah Mamah ini tu hasil karya yang membanggakan tau, ya gak?" ~Pangeran
"Ntah" ~Eva
"Ish tinggal jawab iya aja susah banget sih Lo" ~Pangeran
"Membanggakan apanya merepotkan iya, kalian itu udah SMA atau masih TK sih?" ~Risa
"Mamah, ma... maaf Eva janji nanti Eva bersihin rapiin kaya semula lagi, jangan marah" ucap Eva merasa bersalah
"Sayang, ih gak papa ko Mamah gak marah, Mamah cuma bercanda. Justru Mamah malah senang akhirnya bisa merasakan gimana rasanya punya anak perempuan dan satu lagi, Mamah seneng banget bisa liat senyuman Pangeran yang selama ini entah pergi kemana, karena kamu akhirnya senyumannya kembali lagi seperti semula" ~Risa
"Kamsahamnida" ~Eva
"Em..., udah sono ganti baju udah kaya adonan tempe yang mau di goreng kalian tu" ~Risa
"Nanggung Mah, kita lanjutin masak nya aja" ~Eva
"Yaudah, Eva bantu Mamah masak. Pangeran bersihin sampe bersih, no protes" ~Risa, yang sudah tau jika anaknya akan protes
"Gak adil!!" ~Pangeran
Tepat saat mereka sedang asik bergulat di dapur, seorang pria gagah dengan stelan jas berwarna biru dongker dan tas kerja yang menggantung di tangan kanan, berjalan menuju dapur. Namanya adalah Alby Wiliam, ayah dari Pangeran Wiliam dan suami dari Risa
"Ekhem... ekhem... kayanya seru nih, lagi ngapain?" tanya nya
"Eh Papah udah pulang toh, ini loh Mamah punya anak baru cantik lagi" jawab Risa
"Hallo Pah, masih inget kah sama aku?" ucap Eva sambil mencium punggung tangan Alby setelah Risa
"Tentu dong sayang, Papah selalu inget sama kamu. Gimana sehat, keluarga?" ~Alby
"Alhamdulillah sehat Pah" ~Eva
"Siapa kamu, beraninya masuk rumah kebesaran keluarga Wiliam?!" ~Alby
"Au ah, salah terus" ~Pangeran
"Hahaha..." ~Alby, Risa, dan Eva
"Udah-udah mending ngobrol nya dilanjut di ruang keluarga, ini juga kebetulan roti nya sebentar lagi mateng. Kalian ganti baju dulu gih sono" ~Risa
"Siap komandan" ~Alby, Pangeran, dan Eva
Mereka langsung menuju kamar untuk mengganti pakaian mereka. Setelah selesai mereka langsung berkumpul kembali di ruang keluarga, mereka mengobrol, bercanda, tertawa, memakan kue tadi bersama-sama. Sungguh keluarga yang terlihat sangat harmonis
Waktu telah menunjukkan pukul setengah empat sore, waktunya bagi Eva untuk berpamitan pulang. Awalnya Pangeran berniat mengantarkan nya pulang namun ditolak oleh nya. Terjadilah adu mulut antara Eva dan Pangeran namun pemenang dari perdebatan tersebut adalah Eva, jadilah Ia akan pulang sendiri
"Eh itu bukannya motor Papah ya? ngapain Papah ke rumah Nenek? samperin ah dari pada mati penasaran" ucap Eva saat melihat sepeda motor Riko terparkir di depan rumah sang nenek (nenek dari Lusi)
Saat Eva hendak masuk ke dalam rumah itu, ia mendengar perkataan yang sangat tidak enak di hati keluar dari mulut Merry
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
"Heh! kalian punya malu gak sih, sudah jelas-jelas Ibu masih ada kalian malah minta warisan otak kalian dimana?!!!" ~Merry
"Tau Ka dan aku minta maaf, aku lakukan ini semua juga buat bayar rumah sakit Aldi bukan buat foya-foya. Bu, Lusi mohon ini demi cucu Ibu hiks~ hiks~" ~Lusi
"Dasar gak punya malu! makannya dulu cari laki-laki yang kaya gak seperti suami kamu yang kere itu. Seharusnya dulu kamu terima tunangan dari mantan kamu yang udah jelas-jelas dia pengusaha kaya dan mapan, eh kamu malah milih suami kamu" ~Merry
"Ka jangan bahas itu lagi, itu udah dulu lagian aku cinta sama suami ku bukan dia" ~Lusi
"Halah cinta-cinta! udah Bu mending gak usah dikasih aja, nanti ngelunjak" ~Merry
"Jujur Ibu kecewa sama kamu Lusi" ~Ibu
Duar...
Bagaikan di sambar petir di sore hari yang cerah, hati Lusi yang sebelumnya sedang sedih kini bertambah parah menjadi hancur. Walaupun hanya satu kata yang simpel 'Kecewa' itu sudah membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya
"Ibu kumohon, jika Ibu tidak melakukannya untuk kami setidaknya lakukan lah ini untuk cucu Ibu, Aldi" bukan Lusi kali ini yang berbicara melainkan Riko
"Heh, kamu dasar menantu gak ada gunanya nyusahin doang. Mana janjimu katanya mau membahagiakan adikku, tapi apa?! liat sekarang dia bahagia? gak" ~Merry
"Ka cukup, jangan salahkan Mas Riko, kata siapa dia gak bisa buat aku bahagia? buktinya selama ini aku bahagia hidup bersamanya" ~Lusi
"CUKUP!! cukup berantem nya, Lusi bukannya Ibu sudah memberikan mu uang 100 juta buat Aldi berobat, kamu kemanakan uang tersebut hah?!" ~Ibu
"Ibu uang itu sudah habis" ~Lusi
"Paling juga buat bayar keperluan pribadi ya kan? oh atau jangan-jangan buat beli motor itu sama buat bayar utang-utang suami kamu yang menumpuk itu!" ~Merry
"Apa! benar yang dikatakan Merry, Lusi?" ~Ibu
"Ti--" ~Lusi
"Mana ada maling ngaku Bu, aku yakin pasti uang itu buat nutupin utang-utang suaminya bukan buat biaya pengobatan Aldi" ~Merry
"Ibu benar-benar kecewa sama kamu Lusi. Sekarang Ibu kasih kamu pilihan. Kembali bersama Ibu, untuk urusan Aldi nanti Ibu tanggung semuanya, dengan sarat ceraikan suami mu. Atau, Ibu hanya akan beri kamu hak warisan kamu, dan jangan anggap Ibu ini Ibu kamu lagi" ~Ibu
"Bu... tolong jangan kaya gini, Lusi gak bisa milih antara Ibu dan Mas Riko, kalian berdua adalah orang yang Lusi sayangi. Mana mungkin Lusi--" ~Lusi
"Ibu akan beri kamu waktu sampai besok, Ibu berharap kamu gak bikin Ibu kecewa lagi. Sekarang kalian pergi Ibu pusing, capek dengan masalah mu" ~Ibu, ia langsung berjalan pergi menuju kamarnya dan menutup pintu dengan keras
"Lihatlah Ibu jadi marah gara-gara kamu!" ~Merry
"Hiks~ Ka kenapa Kaka bicara tanpa tau kenyataan nya?!" ~Lusi
"Serah Kaka dong, abis kamu dibilangin ngeyel. Udah sana pergi, jangan buat rumah ini kotor dengan tangisan kalian itu, hus hus" ~Merry, mendorong Riko dan Lusi keluar sambil tersenyum penuh dengan kemenangan
Brakk...
Merry menutup pintu rumah dengan kasar setelah adik dan ipar nya keluar
"Mah, ini semua salah Papah, maafin Papah" ~Riko
"Gak Mas, ini bukan kesalahan siapa-siapa, ini adalah ujian dan takdir yang harus kita lewati. Yakinlah Allah tak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan umatnya, kita pasti bisa" ~Lusi
"Tetap saja ini--" ~Riko
"Suuuuut... gak, kita pasti bisa melewati ini bersama-sama oke. Kita harus kuat demi anak-anak, kita gak boleh menyerah" ~Lusi
"Hem baiklah, Papah beruntung bisa mempunyai istri seperti kamu. Mari kita berjuang bersama-sama untuk anak-anak" ~Riko, dijawab dengan anggukan kepala dan senyum yang manis dari Lusi
Akhirnya mereka pun pulang kembali menuju rumah sakit. Bagaimana dengan Eva? kini ia sedang bersembunyi di balik pohon dan sepedanya ia sembunyikan di balik semak-semak
Dibalik pohon tersebut, ia terisak tak kuat menahan air mata di pelupuk matanya. Hatinya juga hancur saat mendengar ucapan-ucapan sang Tante apalagi Nenek nya. Sungguh ia tak menyangka jika sang Nenek akan mengatakan hal tersebut
"Sakit... hiks~" ucap Eva disela-sela tangisan nya sambil memukul-mukul dadanya yang sesak
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Please :
❥ Like
❥ Vote
❥ Komen
❥ Kasih hadiah sebanyak-banyaknya ya 😉
Thank you 🤗
^^^~Beach Breeze~^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...