
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
"Jadilah dokter untukku, yang selalu ada dan mengobati ku jikalau aku jatuh dan sakit. Dan aku akan menjadi burung untuk mu, membawa mu terbang jauh untuk meraih kebahagiaan" kata-kata manis tersebut tiba-tiba keluar dari mulut Leo
"Ha? maksud Lo?" tanya Eva bingung dengan perubahan sikap dan gaya bahasa Leo
Bukannya menjawab, Leo malah menarik pinggang Eva dan mendudukkan nya di atas meja depannya
"Astoge kita masuk di waktu yang salah, balik yuk"
"Iya bener balik aja lah"
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
"Eits diam disitu, kalo gak gue tembak" ucap Eva, Gibran dan Justin yang sudah berbalik badan pun mendadak berhenti diam ditempat
Menghiraukan tatapan Leo yang masih berharap mendapatkan jawaban dari mulut nya, Eva pun lebih memilih untuk mengambil kantong plastik di tangan Gibran dan membawanya ke sofa ruangan tersebut disusul Leo. Sebuah pizza berukuran jumbo dan spaghetti yang sangat menggugah selera pun tercium di hidung nya
"Eh Ran, Tin, mau jadi patung disitu? sini mau gak?" ucap Eva
"Lah ternyata kita dikibulin nj*r, gue kira Lo mau nembak gue beneran" ucap Justin
"Nembak pake apa? pistol aja gue gak punya" jawab Eva yang tengah sibuk menata makanan tersebut di atas meja
"Ya bisa aja Lo ambil punya Leo, di badannya paling juga ada pistol atau gak ya pisau lah minimal, ya kan" ceplos Gibran
"Ekhem..." dehem Leo
"Emang bener Le, terus buat apa?" tanya Eva
"Gak itu Gibran aja yang asal nyeplos, udah makan gih keburu dingin" jawab Leo melirik Gibran dengan tatapan membunuh
"Aaa... gue balik ke ruangan dulu, enjoy your lunch babay" ucap Gibran langsung ngibrit menuju ruangannya sambil menarik tangan Justin
Suasana damai tercipta diruangan tersebut, Eva yang tengah sibuk memakan spaghetti dan Leo yang hanya diam memperhatikan Eva makan
"Gak mau nih?" tawar Eva sambil menyodorkan sumpit yang menjepit beberapa helai mie spaghetti
"Gak makan aja, liat Lo makan aja udah kenyang gue" jawab Leo
"Yaudah, enak Lo padahal ni makanannya" ~Eva
"Va..." ~Leo
"Ya, wae?" ~Eva
"Dimata gue, Lo beda dari cewek lainnya, dan gue suka perbedaan itu. Mau jadi pasangan buat gue?" ucap Leo serius
Uhukkk... uhukkk... uhukkk
"Eh nih minum" Leo menyodorkan segelas air yang langsung ditenggak habis oleh Eva
"Emmm..." ~Eva
"Oke gue paham, gue gak maksa Lo jawab sekarang ataupun kalo Lo gak mau jawab juga It's okey" ~Leo
"Sorry... tapi gue lagi fokus dulu buat nyembuhin Aldi dulu dan belum kepikiran buat nyari pasangan lagi. Sekali lagi gue minta maaf gue belum bisa jawab pertanyaan Lo barusan, lebih baik kita kaya gini aja dulu sebagai sahabat, mengenal satu sama lain. Lagian gue juga gak bisa punya pasangan sama orang yang belum gue tau secara jelas" ~Eva
Deg...
Detak jantung Leo seakan terhenti saat mendengar kalimat terakhir yang barusan Eva ucapkan, di pikirannya langsung berputar berbagai pertanyaan-pertanyaan yang membuat nya pusing sendiri
"Misal nih ya, gue itu pembunuh apa Lo mau sama gue?" tanya Leo dengan tatapan sendu
"Ya gak papa, jawab aja" ~Leo
"Pembunuh ya... yang gue tau pembunuh itu bisa berarti dua hal. Yang pertama, pembunuh yang membunuh korbannya karena korban nya yang salah. Atau kedua, yaitu pembunuh yang membunuh korbannya karena si pembunuh itu sendiri lah yang salah" ~Eva
"Terus menurut Lo gimana?" ~Leo
"Em menurut gueee... gak tau juga sih keduanya sama-sama menghilangkan nyawa, tapi untuk yang kedua... masih bisa dipertimbangkan" ~Eva
Wajah yang awalnya suram kini sedikit lebih cerah, di dalam hatinya ia tersenyum bahagia karena masih ada kesempatan untuk nya masuk ke dalam hati seseorang
Setelah mengatakan itu semua, Eva pun kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Saking lahapnya ia sampai tidak memperdulikan adanya makanan yang tidak ikut masuk kedalam mulut dan tertinggal di sudut bibirnya. Dengan cekatan Leo mengulurkan tangannya untuk mengelap sisa makanan tersebut
"Ah makasih" ~Eva
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Bergulat di dalam kamarnya bersama buku, pulpen, leptop, ponsel, dll, Eva berfikir keras bagaimana cara untuk menyembuhkan adiknya. Banyak dokter yang merupakan temannya sudah ia hubungi untuk mendapatkan informasi walaupun sekecil apapun itu
"Sayang kamu lagi apa?" tanya Riko
"Eh Papah, ini lagi cari cara Pah buat nyembuhin Aldi" Jawab Eva
"Jangan dipaksakan untuk mencari cara itu, yang ada nanti kamu juga ikutan sakit, liat sekarang udah jam berapa?!" ~Riko
"HAH? ko udah jam 2 aja sih Pah, perasaan tadi baru jam setengah 9 loh" ~Eva
"Itulah kamu, jika sudah serius maka bisa lupa waktu, makan, istirahat" ~Riko
"Hehehe... tapi nih ya Pah dari semua informasi yang Eva dapet itu, kemungkinan besar Aldi bisa sembuh lagi" ~Eva
"Benarkah?" ~Riko
"Iya Pah, nih liat tabel nya" ~Eva
"Hais kamu ini, ya mana Papah ngerti lah tulisan kaya gitu, itu lagi angka-angka tulisan-tulisan udah kaya garis di mata Papah" ~Riko
"Hehe, intinya itu kemungkinan Aldi bisa sembuh lewat operasi lagi Pah, dan kali ini aku sendiri yang akan menangani Aldi, merawat nya sampai sembuh!" tekad Eva
"Sebelumnya Papah ucapin makasih buat kamu sayang, maaf selama ini Papah belum bisa jadi Papah yang terbaik buat kamu sama Aldi" ~Riko
"No no no, papah adalah Papah terbaik yang ada di dunia ini, Papah itu segalanya buat Eva, jadi jangan bilang kalau Papah itu bukan Papah terbaik atau apalah itu lagi, oke!" ~Eva
"Putri kecil Papah ternyata udah gede aja" ~Riko sambil menepuk-nepuk kepala Eva "Yaudah sekarang tidur dulu, istirahat ini dilanjutin besok aja, kesehatan kamu adalah yang utama" ~Riko
"Iya Pah" ~Eva
"Kalo gitu Papah balik ke kamar dulu ya, good night sweetie, sweet dream" ~Riko mengecup puncak kepala Eva lalu pergi meninggalkan kamar tersebut
"Hah~ bener juga kata Papah mending sekarang gue tidur aja dulu lanjutin besok, mata gue dah sepet. Tapi operasi ini harus cepet dilakuin, yaudahlah besok kalo udah selesai gue konfirmasi sama pihak rumah sakit, abis itu nentuin tanggal nya, dan yah semoga rencana gue berhasil" gumam Eva
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Tetep jaga kesehatan kalian ya♡
Like, vote, komen, thank you...
^^^~Beach Breeze~ ^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...