EVA AURORA

EVA AURORA
Episode 72 Siapa Matahari nya?



...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Huuuuf.....


Fyuuuuh.....


"Gue kangen udara ini, suhu hangatnya. Welcome back Indonesia" gumam Eva saat keluar dari daun pintu pesawat


Langkah demi langkah ia jalani sambil menggeret dua buah koper di tangan nya. Samar-samar ia melihat seseorang yang sudah ia rindukan selama ini sedang berdiri sambil celingak-celinguk mencari seseorang. Semakin dekat ia melangkah semakin jelas pula bayangan mereka


"Mamah... Papah..." teriak Eva, dengan senyum yang mengembang ia mempercepat langkah nya


Gerppp...


Sebuah pelukan rindu tercipta antara mereka, baik Eva, Lusi, atau pun Riko mereka saling memeluk erat menghilangkan rasa rindu yang selama ini melekat


"Sayang, apa kabar?" tanya Lusi


"Putri Papah? kau banyak berubah disana nak, sampai-sampai Papah mu sendiri pangling" ucap Riko lembut


"Ini adalah suara, suara yang sangat aku rindukan dan ingin ku dengar setiap saat" batin Eva "Baik Mah, Mamah sama Papah gimana? em... Papah masa lupa sama aku" jawab Eva


"Baik juga sayang, akhirnya Mamah ketemu sama putri kecil Mamah ini" ~Lusi, menoel hidung mancung nan mungil putri nya


"Bukan lupa sayang, kamu sudah beda dari yang dulu" ~Riko


"Gak juga, Eva masih sama, Eva yang sekarang adalah Eva yang dulu putri kecil kalian yang cantik hehe" ~Eva


"Iya iya kamu adalah putri kecil kami yang sangaaat cantik" ~Lusi


Pandangan Eva kini menelusuri sekitar, mencoba menemukan seseorang yang sangat ingin ia temui juga


"Kamu mencari siapa?" tanya Riko


"Aldi mana Pah?" tanya balik Eva


"Aldi... dia masih seperti dulu" jawab Riko mendadak sedih


"Mamah Papah gak usah sedih ya, Eva akan berusaha mencari cara agar Aldi kembali seperti dulu. Eva akan usahakan sampai Aldi sembuh total dan tak merasakan sakit lagi" yakin Eva yang dibalas anggukan oleh kedua orang tuanya


"Ayo kita pulang, Mamah udah masakin makanan kesukaan kamu" ~Lusi


"Aaaa aku juga kangen sama masakan Mamah" ~Eva


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


"Tuan ada yang ingin menemui anda" ucap sang sekertaris kepada bos nya


"Masuk" jawab nya dengan nada dingin tanpa mengalihkan pandangan dari berkas-berkas ditangannya


Masuklah seorang dengan pakaian serba hitam kedalam ruangan tersebut "Selamat pagi Tuan"


"Intinya saja"


"Baik Tuan, jadi begini, orang tersebut sudah kembali ke Indonesia"


"Hanya itu? aku sudah tau, sudah sana pergi aku masih banyak urusan"


"Baik Tuan, saya permisi dulu" mematuhi perintah Tuan nya orang tersebut keluar sambil mengumpat didalam hati "Huf!? untung dia bos kalo bukan udah gue bejek-bejek dah, iya sih telat tapi ya makasih kek apa kek ini malah diusir"


"Sabar, kayanya ini gara-gara udah 5 tahun dia gak ketemu sinar matahari. So ice nya belum nyair masih beku" ucap seseorang seakan tau apa yang diucapkan orang itu


"Matahari? maksudnya, bukannya disini setiap hari juga ada matahari"


"Gak usah dibahas Lo juga gak bakal ngerti, dah sono kerja" ~melangkah pergi


"Haih... matahari, ice, 5 tahun, cair, beku, bentar apa maksud nya ya? sumpah padahal cuma kata kaya gitu doang!!! IQ 130 yang tak berguna! eh bentar ice terkena cahaya matahari akan meleleh kan... ais baru tau sekarang. Jadi Tuan adalah ice nya tapi matahari nya siapa? au ah ribet juga soal perasaan, mending soal matematika, fisika, sejarah aja" gumam nya


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Meow...


Meow...


Meow...


Semakin ia abaikan, nontifikasi di ponselnya semakin banyak dan sangat menggangu tidur nyenyak nya. Perjalanan dari Jepang ke Indonesia bukanlah perjalanan yang dekat, dan sangat menguras tenaga walaupun di pesawat hanya duduk saja


Dengan malas Eva keluar dari dalam selimut yang membungkus tubuhnya dan meraih ponselnya. Belum juga ia membuka chat yang menggangu istirahat nya, ada sebuah panggilan telfon muncul


📱📱📱


"VAAAA... Lo dah pulang? ko gak ngabar-ngabarin sih" ucap Zahra


"Oh em gak papa buat surprise aja, tapi dah pada tau ya udah gak jadi" jawab Eva dengan mata yang masih terpejam


"Ketemuan yok gue kangen banget sama Lo" ~Zahra


"Gue juga!!!" sahut Cici


"Ada Cici juga? ko bisa?" ~Eva


"Masih kenal suara gue ternyata, gue kira dah lupa. Bisa karena mulai hari ini gue kerja satu kantor sama Zahra" ~Cici


"Ohhh... keknya kalo hari ini gue gak bisa deh, gue capek banget sumpah, terus ntar sore gue mau ke makam Kakek abis itu langsung lamar kerja di Hansin Hospital terus nemuin Aldi" ~Eva


"Yah... yaudah lah gak papa selamat beristirahat" ~Cici


"Bentar, Lo mau langsung lamar kerja? padahal baru aja balik lu" ~Zahra


"Biar ada kegiatan gue mah" ~Eva


"Oh oke, bay" ~Zahra


"Emm..." ~Eva


📱📱📱


"Mau kemana, udah rapi aja?" tanya Lusi


"Mah aku izin ke makam Kakek ya, sama nanti aku mau langsung ngelamar kerja di Hansin sekalian ketemu Aldi" jawab Eva


"Kamu gak capek? besok aja, kamu baru pulang malah langsung kerja" ~Lusi


"Gak papa Mah, justru kalau aku gak kerja aku malah bosen" ~Eva


"Kalau gitu jaga kesehatan ya jangan sampai kamu menyembuhkan orang-orang tapi gak memperhatikan diri sendiri" ~Lusi


"Iya Mah, Mamah gak usah khawatir, aku pergi dulu ya" ~Eva


"Iya hati-hati" ~Lusi


Menggunakan jasa ojek online ia pergi menuju makam sang Kakek. Mulai dari membersihkan makam, berdoa, menaburkan bunga, Eva lakukan pada makam sang Kakek. Ia juga bercerita panjang lebar seakan-akan sedang bercerita dengan sang Kakek


Beralih dari situ, ia kembali berjalan menuju rumah sakit Hansin yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit jika berjalan. Berjalan sudah menjadi kebiasaan nya semenjak ia tinggal di Jepang, jadi ia sama sekali tidak keberatan hanya untuk berjalan dari makam ke rumah sakit


"Permisi Pak, kira-kira ruangan buat ngelamar kerja dimana ya?" tanya Eva pada salah satu satpam


Satpam itu memperhatikan penampilan Eva dari atas hingga kebawah dan tersenyum simpul "Yakin mau kerja disini? modal tampang doang, heh paling juga jadi cleaning servis. Coba liat ijazah mu" ucap Pak satpam sombong


"Ini Pak" Eva menyerah kan sebuah map berwarna merah itu dengan rasa kesal


Setelah membuka surat tersebut mulut, mata, mungkin juga pori-pori nya terbuka sempurna "I.. ini?" ucap Pak satpam gugup


"Apa?! makannya Pak jangan menilai orang hanya dari luar saja" ucap Eva kembali merebut surat itu kembali ke tangannya dan meninggalkan satpam itu yang masih bengong seperti orang bodoh


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


"Interfiu nya sudah selesai semoga berhasil, mungkin hasilnya akan lama. Mba bisa pulang dulu saja tidak apa-apa, nanti jika anda diterima saya akan menghubungi anda" ucap sang petugas ramah


"Baik Mba, kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih" ~Eva


Skip. Sampai di ruangan Aldi, kini ruangannya sudah dipindahkan ke ruangan yang hanya ada satu pasien di dalam kamar. Eva sengaja menunda niatnya untuk masuk saat mendengar obrolan dokter dan suster yang merawat Aldi


"Ini anak kenapa gak mati aja sih? ngerepotin udah tujuh tahun kaya gini terus gak ada perubahan sama sekali" ~Dokter


"Benar dok, kalau keluarga nya orang kaya sih saya mau-mau saja, 10 tahun pun saya mau, lah ini?" ~Suster


"Iya yah kita bisa dapat bonus dan gaji yang besar" ~Suster lainnya


"Ini suntikan setengah saja, setengahnya lagi buat nanti malam, itung-itung mengirit" ~Dokter


"Baik dokter" ~Suster


"Stop! apa seperti ini yang disebut dokter? Dokter yang pilih-pilih pasien dan memandang apakah dia berasal dari keluarga kaya atau miskin?!" ucap Eva yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya


"Siapa kau masuk-masuk tanpa permisi" ~Dokter


"Saya Kaka dari pasien yang sedang anda tangani" ~Eva


"Ohh Kaka, baguslah biar sekalian tahu" ~Dokter


Seakan menyadari kehadiran sang Kaka, jari-jemari Aldi mulai bergerak dan tubuhnya kejang-kejang


"Dokter, detak jantung pasien tidak terkontrol dan ini semakin melemah" ~Suster


"Hais dasar anak ini!!" ~Dokter, ia langsung menyatukan tangannya meletakan di atas dada Aldi lalu ia tekan-tekan


"Bangs*t ambilkan defibrilator sekarang! CEPAT,!!!" perintah Eva


Dokter itu masih saja fokus terhadap apa yang ia kerjakan, dengan cepat Eva menangkis tangan dokter tersebut dan mengambil stetoskop yang melingkar indah di leher dokter itu


"Dek, bertahan ya Kaka udah disini, Kaka akan pastiin kamu baik-baik aja dan bakal sehat kaya dulu lagi" ucap Eva


Defibrilator akhirnya tiba, Eva sempat kesal dengan kerja suster itu yang terbilang lambat. Namun kekesalannya ia urungkan dulu saat mengingat kondisi sang adek


"Bagaimana Prof?" tanya sang asisten, dia bersama seorang lelaki yang ia panggil profesor berdiri di luar jendela sambil memperhatikan kedalam ruangan


"Bagus, kerjanya sangat cekatan, dan ya dia sangat pandai apalagi dia adalah lulusan terbaik. Segera terima dia dan pecat dokter serta dua suster itu. Aku harus lebih teliti lagi dalam mengecek keadaan rumah sakit ini" ~Profesor, memijat pilipis nya


"Baik Prof, mari kita masih ada rapat sebentar lagi" ~Asisten


"Hah~ akhirnya, Kaka tau adek Kaka kuat. Cepet sembuh ya" ~Eva


"Siapa kamu?" ~Dokter


"Sudah saya bilang saya adalah Kaka dari anak ini, kenapa harus bertanya kembali sih, kalian tidak percaya?" ~Eva


"Bukan itu maksud nya, tap--" ~Dokter


"Permisi dok, nona, maaf mengganggu. Saya kesini disuruh oleh Profesor Anji untuk memanggil dokter dan suster keruangan nya" ucap seorang suster


"Ada apa?" ~Suster


"Saya tidak tau"


"Baiklah" ~Dokter


...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


🌟 Thank you, and please like, vote, Komen, dan hadiahnya ya...


Love ʕ´•ᴥ•`ʔ


^^^~Beach Breeze~^^^


...۝ SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ۝...