
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Hari-hari telah berlalu begitu saja, meninggalkan sebuah kenangan, baik menyenangkan ataupun menyedihkan dan mengganti nya dengan lembaran baru
Sudah lebih dari 1 Minggu Aldi dirawat di rumah sakit, namun kondisi nya masih bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sekarang ia sama sekali tidak membuka matanya, makan juga hanya melalui selang infus. Alat Elektrokardiogram (EKG) terus berbunyi dan terdengar nyaring di telinga, banyak alat-alat medis menempel pada tubuh Aldi, tanpa adanya alat-alat tersebut entah apa yang akan terjadi pada Aldi kedepannya
Ibu dari Lusi juga sudah menepati janjinya untuk memberikan harta warisan milik Lusi, jadilah Riko dan Lusi sangat terbantu dalam membayar biaya rumah sakit Aldi. Tak sedikit yang Lusi dapat dari harta warisan Ibunya, melihat dirinya dan keluarganya adalah orang kaya pastilah harta warisan tersebut sangat banyak. Sayangnya kini Lusi sudah tidak bisa memanggil Ibunya dengan sebutan 'Ibu', meskipun begitu sama sekali tak ada perasaan dendam kepada sang Ibu, bagaimana pun juga beliau telah mengandung nya, merawatnya, memberikan kasih sayang, dll. Ia hanya merasa kecewa kepada sang Kaka yang telah menghasut Ibunya
Lain halnya kini Eva sedang berada di dalam kelas bersama teman-teman nya mengerjakan soal demi soal dengan teliti. Ya kini mereka sedang mengerjakan soal ujian kelulusan kelas mereka, di hari terakhir mereka mengerjakan ujian tersebut semuanya masih terlihat berantusias untuk mendapatkan nilai sesuai dengan harapan mereka masing-masing dan bisa naik kelas selanjutnya
Kringgg...
Bel telah berbunyi, menandakan bahwa waktu mereka untuk mengerjakan soal ujian tersebut telah habis. Mau tak mau, selesai tak selesai, mereka harus mengumpulkan hasil jawaban mereka kepada guru yang mengawasi
"Baik anak-anak, Alhamdulillah ujian telah berakhir semoga semuanya mendapatkan nilai yang terbaik dan bisa naik kelas semuanya. Setelah ini tidak ada pembelajaran lagi, atau bisa dibilang jamkos jadi Ibu berharap kalian tetap berada di sekolah ini sampai jam pulang sekolah berakhir. Paham semuanya!?" ucap bu guru
"Paham Bu..." ~All
"Good job, have a good rest everyone. Babay" ~Bu Guru
"Yes ma'am, thank you" ~All
Suasana di kelas 11 A berubah drastis yang awalnya diam sunyi seperti tak ada penghuninya, kini berbanding terbalik menjadi ramai dan mendadak ada konser. Sebagian murid kelas 11 A menggunakan alat yang ada sebagai alat musik, sapu sebagai gitar, botol minum sebagai mic, dll. Mereka bernyanyi bersama bertujuan untuk merayakan setelah ujian berakhir, suara fals ataupun merdu bercampur menjadi satu yang penting bahagia itulah yang dipikiran mereka saat ini
"Va, ke luar yuk, gue mau ngomong sama Lo" ucap Pangeran yang tiba-tiba berada di kelas 11 A
"Ran? Lo ko ada disini sejak kapan?" tanya Eva
"Sejak tadi, udah yuk berisik banget disini sumpah kuping gueee" Pangeran menarik tangan Eva keluar menuju taman belakang sekolah
Karena rasa penasaran telah meruntuki diri nya, akhirnya Leo pergi mengikuti mereka berdua pergi
"Wah kayaknya bakalan ada salah satu yang harus patah hati nih" bisik Justin
"Bener, ikutin yuk" jawab Gibran
Pangeran terus menarik tangan Eva menuju taman belakang sekolah, namun sebelum sampai disana ia meminta Eva untuk bersedia ditutup matanya. Dengan bingung Eva meng'iya'kan permintaan Pangeran
Pangeran sangat hati-hati menuntun Eva menuju taman belakang, setibanya mereka disana Pangeran langsung berjalan menjauh meninggalkan Eva
"Ran, Lo dimana? Ran, Pangeran please jangan bercanda deh ih woy! Pangeran William Lo dimana jangan tinggalin gue, gue buka nih. 1... 2... 3... oke gue buka" ucap Eva, menyadari bahwa Pangeran tak ada di sampingnya
Terbukanya kain hitam tersebut, membuat mata indah Eva menangkap semua pemandangan indah disekitar nya. Banyak bunga mawar merah dan putih di sekelilingnya membentuk love yang sangat cantik, kecantikan dari bunga tersebut memanglah sangat cantik namun tidak sampai menandingi kecantikan wanita yang berdiri di tengah-tengah love tersebut apalagi ditambah dengan senyuman manis nya, dapat membuat siapapun yang melihatnya terkena diabetes seketika
"Vaaa..." panggil seseorang dengan suara lembut nan merdu dari arah belakang Eva. Refleks, mendengar namanya dipanggil Eva langsung menoleh dan mendapati Pangeran yang sedang berlutut dengan satu kali di hadapan nya sambil memegang sebuket bunga
"Ekhem... huf~ oke, aku hanya cowok biasa yang memiliki banyak kekurangan dan mungkin tak pantas mengharapkan cintamu, namun jika kamu bersedia menerimaku menjadi kekasih, aku berjanji akan melakukan apapun yang terbaik untukmu. Maukah kamu menerima cintaku Eva Aurora? jika kau terima bunga ini maka itu berarti kau menerima cintaku, tapi jika kau buang ah kumohon jangan dibuang" ucap Pangeran menatap kedua manik mata Eva serius, lalu menutup matanya sembari menerima jawaban dari gadis tersebut
"Pangeran Wiliam, aku tak akan menerima atau membuang bunga itu hanya untuk membuktikan jika aku mencintaimu atau tidak. Menurut ku cinta itu berasal dari hati ke hati, bukan dari bunga" jawab Eva
Mendengar jawaban Eva, Pangeran menatap wajah Eva dengan ekspresi bingung "Maksudnya?" tanya Pangeran
"Apakah jawabanku kurang jelas? ya sudahlah kalau kau tak mengerti" jawab Eva
Saat dirinya hendak melangkah pergi, sebuah tangan kekar menahannya dan menariknya kedalam pelukan erat "Jangan pergi! terimakasih aku berjanji akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu" ~Pangeran
"Baiklah, tapi aku butuh bukti bukan hanya ucapan saja" ~Eva
"Hem... apakah aku harus membuktikan nya sekarang" ~Pangeran, dengan tatapan menggoda dan kedua alis nya yang ia naik turunkan
"Eh apa!? awas aja kalau Lo macem-macem!" ~Eva
"Enggak lah sayang, aku akan menahannya sampai kita SAH" ~Pangeran, menekan kata 'Sah'
"Sekolah dulu yang bener! jangan bahas gituan ah jalanin aja apa yang ada dulu" ~Eva, dengan pipi yang merah merona
"Uuuuu... emes banget sih, pacar siapa cih" ~Pangeran
"Apaan sih, udah deh" ~Eva
Dua orang yang saling mencintai telah menjadi satu, mereka melanjutkan dengan mengobrol dan bercanda bersama. Tawa mereka tak pernah luntur dari bibir mereka saat ini, Pangeran tau masalah keluarga Eva hal tersebut lah yang membuatnya ingin sekali menjadi pasangan dari gadis tersebut. Ia ingin membuatnya sedikit menghilangkan rasa sedihnya, menghibur, dan membuatnya bahagia. Kenyataanya dari dulu ia sudah mencintai Eva begitupun sebaliknya, namun mereka tak ada yang berani jujur tentang perasaan masing-masing
Di tempat tak jauh dari sana, berdiri lah seseorang di balik pohon. Ia melihat kedua pasangan baru itu dengan senyum terpaksa, dan raut wajah yang sulit diartikan
"Heh gue telat lagi, oke!" ucap Leo
Yap, Leo lah yang berdiri dibalik pohon tersebut, ia sudah melihat dari awal sampai akhir hal itu membuat hatinya merasa disayat-sayat oleh ratusan bahakan ribuan pisau berkarat
"Ah sial kita kehilangan jejak!!!" ucap Justin memukul kemudi mobil
"Dulu waktu yang pertama Leo gak sampe kaya gini, kenapa saat sama Eva Leo jadi tambah liar kaya gitu si?!!" kata Gibran
"Entahlah, kita cari kemana? bahaya kalo Leo kaya tadi" ~Justin
"Cari kemana aja, gue hubungi lainnya buat bantu nyari Leo" ~Gibran
"Oke" ~Justin
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Di sebuah tempat dengan bau khas alkohol yang sangat menyengat dan suara musik sangat keras, terbaring lah seorang lelaki tampan di sofa. Ditangannya ia memegang sebotol wine dan disekitarnya sudah banyak botol-botol lainnya yang berserakan, sudah bisa ditebak kan diamana. Banyak juga wanita jala*g yang menggoda nya, tapi semuanya ditolak. Walaupun ia sudah banyak minum, tingkat kesadaran nya masih ada sedikit
"Saya bilang jangan sentuh saya atau tangan kalian akan terpisah dari tubuh kalian, paham!!" bentak nya
sambil melempar botol wine ditangannya dan berhasil mengenai salah satu wanita jala*g hingga terluka parah
Sejak kejadian itu, tak ada satupun yang berani mendekatinya kecuali pelayanan bar yang mengantarkan pesanan orang tersebut
Dari sudut bar~
📱📱📱
"Hallo bos, kami telah berhasil menemukan nya" ucap orang misterius
"....."
"....."
"Baik bos, kami akan memantau dan menjaga nya bos tenang saja" ~Orang misterius
"....."
"Laksanakan bos" ~Orang misterius
📱📱📱
Beberapa menit kemudian~
"Ni yakin Leo ada disini? gak mungkin rasanya dia kan gak suka ke tempat ke ginian, paling-paling juga kalo mau minum ya di kamarnya atau di tempat biasa" ucap Justin tak percaya
"Gue juga awalnya mikir kaya gitu, tapi masa iya anggota kita ngasih berita palsu. Tau sendiri kan resikonya, gak bakalan ada yang berani kecuali mereka udah bosan hidup" jawab Gibran
"Ya juga" ucap Justin
Saat mereka telah berada didalam tempat tersebut mereka langsung disambut oleh wanita-wanita jala*g dengan pakaian seksi dan kurang bahan. Tapi mereka mencoba menghiraukan itu semua dan menyibukkan diri untuk mencari keberadaan temannya
"Anj*r beneran tuh Leo" ucap Justin menunjuk ke arah sofa tempat dimana Leo duduk
"Leo! kenapa Lo jadi kaya gini hah!!" bentak Gibran
"Heh! Lo gak usah ngebentak gue deh atau Lo mau mulut Lo itu gue robek ha? hahaha... dunia ini memang kejam!!" ucap Leo, dengan tingkat kesadaran yang telah habis
"Tin, bantu gue ngangkat ni bocah" ~Gibran
"Wokeh" ~Justin
"Mas mas bayar nya gimana?" tanya seorang pelayan bar
"Akan diurus oleh nya" jawab Justin melirik ke arah orang misterius tadi
Gibran dan Justin sedikit kewalahan membawa Leo masuk kedalam mobil akibat temannya yang terus saja memberontak. Setelah berhasil memasukan Leo kedalam mobil mereka langsung membawanya ke apartemen Justin yang tempatnya paling dekat dari situ. Ternyata saat sampai disana Leo sudah kehilangan kesadaran, jadi memudahkan untuk Gibran dan Justin membawa Leo masuk
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Ada yang cemburu sampe udah kaya gila gitu guys 😂😆 tunggu EPS selanjutnya ya babay~
Thank you 🤗
^^^~Beach Breeze~^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...