
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Tepatnya 4 tahun yang lalu, terdapat seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama atau kalau disingkat menjadi SMP. Zahra sang sahabatnya juga bersekolah di sekolah yang sama, namun berbeda kelas
Pada suatu hari setelah ia pulang sekolah, ia melihat taman bunga yang berada di depan rumahnya terlihat seperti sudah tidak terurus. Dengan daun-daun yang layu, bunga-bunga yang berjatuhan, dan banyaknya sampah hasil dari reruntuhan daun dan bunga itu sendiri
Saat melihat keadaan taman kecil di depan rumahnya, hatinya tergerak untuk merapihkan taman tersebut. Tapi sebelum itu ia berganti pakaian terlebih dahulu. Kaos coklat, rok lefis berwarna biru tua selutut, rambut panjang yang ia kepang, membuatnya terlihat begitu cantik walaupun hanya untuk berkebun saja
Ia memulai dengan menata pot-pot tanaman agar tersusun lebih rapih dan enak dipandang mata. Setelah selesai dengan pekerjaan nya yang itu, kemudian ia beralih ke sebuah sapu lidi yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Perlahan ia mulai menyapu bersih halaman rumah nya
Kebetulan saat ia sedang asik menyapu, tiba-tiba adiknya datang sebahis bermain bersama teman-temannya
"Dek, bantuin dong" ucap Eva
"Bantuin apa Ka? ah males lah mau tidur aja" jawab Aldi
"Gak main, tidur, itu doang kerjaan Lo! sekali-kali bantuin Kaka ke" ~Eva
"Iya, iya, apa yang bisa dibantu Kaka ku?" ~Aldi
"Nah gitu dong baru adek gue yang baik, nih isiin air" ~Eva memberikan gembor berwarna biru kepada Aldi
"Wokeh..." ~Aldi
Aldi mulai mengisi gembor itu dengan air dari sumur, ia mengambil air dari sumur menggunakan sebuah ember yang ada tali nya. Setelah gembor tersebut sudah penuh, ia kembali untuk memberikannya pada sang Kaka
"Nih Ka udah" ~Aldi
"Okeh gomawo, yaudah sana mandi dulu" ~Eva
Sesuai dengan perintah sang Kaka, Aldi melangkah memasuki rumah dan mengerjakan apa yang di suruh oleh Eva. Puas akan hasil sapuannya yang kini halaman itu sudah terlihat bersih, Eva pun melanjutkan untuk menyirami tanaman dengan air yang tadi sudah Aldi ambilkan tadi
Senandung merdu keluar dari mulut Eva yang membawakan lagu Spring Day by BTS
🎶🎶🎶🎶🎶
nunkkochi tteoreojyeoyo
tto jogeumsshik meoreojyeoyo
bogo shipda (bogo shipda)
bogo shipda (bogo shipda)
eolmana gidaryeoya
tto myeot bameul deo saewoya
neol boge doelkka (neol boge doelkka)
mannage doelkka (mannage doelkka)
chuun gyeoul kkeuteul jina
dashi bomnari ol ttaekkaji
kkot piul ttaekkaji
geugose jom deo meomulleojwo
Meomulleojwo
Niga byeonhan geonji
Author : "Itu lirik lagunya gak full hanya sebagian saja"
🎶🎶🎶🎶🎶
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Dilain tempat, ada seorang laki-laki yang berumur 20 tahun yang sedang kebingungan mencari rumah barunya. Keringat menetes di dahinya, menggunakan lengannya ia menyeka keringat tersebut, salah satu faktor ia berkeringat adalah sendari tadi mungkin sudah berpuluh-puluh kilometer ia berjalan hanya untuk mencari dimana rumah barunya berada
Saat ini ia sudah mulai putus asa, ia duduk di bangku yang sudah tersedia untuk umum sambil menenggak sebotol air mineral. Samar-samar ia mendengar suara merdu yang membuatnya tertarik untuk mengetahui siapa yang sedang bernyanyi itu
Langkah demi langkah ia jalani mengikuti alunan suara merdu itu, sampai pada ujungnya ia melihat seorang gadis cantik sedang menyirami tanaman
"Suaranya merdu, orangnya pun cantik, aku tanyakan saja padanya semoga dia tau" gumamnya
"Haiii... permisi nona"
Mendengar ada yang menyapanya, Eva pun memberhentikan aktivitas nya dan beralih ke orang yang menyapanya
"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Eva "Tuan?"
"Ah iya, kenapa?"
"Saya bertanya ada yang bisa saya bantu Tuan?" ~Eva
"Oh iya, apakah kau tau dimana alamat ini?" ia memberikan selembar kertas kepada Eva
"Jalan Melati nomer 10? ah ini mah sudah dekat Tuan" ~Eva
"Benarkah? apakah boleh kau menunjukan pada ku?"
"Baiklah Tuan, mari saya antarkan" ~Eva
"Perkenalkan nama ku Eric" ucapnya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya
"Eva Aurora, anda bisa memanggil ku Eva" ~Eva membalas uluran tangan Eric
Akhirnya Eva mengantar kan Eric ke tempat tujuan dengan berjalan kaki. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan, buktinya kini mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang tak sebagus milik Eric yang sebenarnya
"Nah ini Tuan kita sudah sampai" ~Eva
"Lumayan lah tak terlalu jelek" batin Eric "Iya makasih ya, kalau boleh jangan memanggilku Tuan panggil saja Kaka" ~Eric
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Ka babay" Eva melambaikan tangan sambil tersenyum manis, hal itu membuat jantung Eric entah kenapa berdetak dua kali lebih kencang dari biasa nya
"Aish... kenapa aku ini, dengan gadis kecil itu kau tertarik? hah sungguh gila" ucap Eric mengatai dirinya sendiri
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Secangkir teh yang sedang di aduk oleh Lusi agar gula nya terlarut bersamaan dengan air, setelah siap ia menyuruh anak gadis satu-satunya untuk mengantarkan nya kepada sang ayah yang sedang duduk santai sambil membaca majalah di teras
"Ini Pah teh nya diminum dulu" ucap Eva
"Iya sayang makasih ya" jawab Riko
Sruuuup...
"Manis seperti anak papah yang satu ini" ~Riko mencoel dagu Eva
"Ish papah apa-apa an sih, itu yang buat kan mamah bukan Eva" ~Eva
"Iya papah tau, kalian berdua sama-sama manis, cantik, dan kesayangan papah" ~Riko
"Jadi Aldi gak gitu!!!" teriak Aldi dari dalam
"Iya sayang kamu juga anak papah yang paling tampan, manis, kesayangan Papah" ~Riko
"Nah gitu dong, baru bener" ~Aldi
"KA ERIC!!!" panggil Eva saat melihat Eric yang sedang jongging sambil memainkan ponselnya, merasa ada yang memanggil nya Eric pun melirik ke arah sumber suara, tersenyum lalu mendekat ke arah Eva dan Riko
"Pagi Om, Eva" sapa Eric
"Pagi juga Ka" jawab Eva
"Nak ini siapa ya? saya seperti asing dengan anda" ~Riko
"Tentu saja om asing saat melihat ku, karena aku baru tiba kemarin sore. Perkenalkan om nama ku Eric temennya Eva" ~Eric
"Ooo... pantesan, saya Riko Papah dari Eva" ~Riko
"Em... jika kau tak keberatan mau ikut jongging gak?" ~Eric
"Emang boleh Pah?" ~Eva
"Boleh-boleh saja, asalkan pulang jangan terlambat dan untuk nak Eric tolong jaga putriku ini ya jika bandel tinggal jewer atau jitak saja kepalanya" ~Riko
"Oke, Ka Eric tunggu dulu ya Eva ganti baju dulu" ~Eva
Dengan hoodie polos berwarna pink, celana putih, sepatu kets putih, dan rambut yang ia kuncir kuda membuat penampilan nya sangatlah cantik dan imut
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Sejak saat itu hubungan mereka berdua semakin hari semakin dekat, walaupun dengan setatus mereka yang jauh beda yaitu Eva masih siswa kelas VII SMP sedangkan Eric sudah kuliah. Tak jarang pula Eric mengantar dan menjemput Eva ke sekolah nya
Hingga tiba pada suatu hari dimana Eric menjemput Eva dari sekolahnya menggunakan motor ninjanya yang berwarna merah berpadu hitam. Dengan senang hati Eva naik ke atas motor tersebut, lalu berpegangan pada pundak Eric agar tak terjatuh mengingat motor nya yang tinggi
Bukannya membawa Eva pulang ke rumahnya, tapi Eric malah membawa nya ke sebuah jembatan yang terbilang sepi. Tapi pemandangan dari sana sangatlah indah dan menyejukkan
"Loh Ka, Kaka ngapain bawa Eva kesini?" tanya Eva bingung
"Ada lah, turun dulu yuk" jawab Eric "Liat deh kesana" Eric menunjuk ke bawah jembatan yang memperlihatkan air jernih mengalir dengan lancar menghantam bebatuan keras di hadapannya, tanpa rasa takut
"Ada apa? ah yang jelas dong Ka, aku gak mudeng" ucap Eva melihat ke samping kanannya, tapi ternyata ia melihat Eric yang sedang berlutut menghadap ke arahnya
Perlahan Eric meraih tangan Eva dan menatap kedua manik matanya dengan serius "Eva, mau kah kau menjadi pacar ku" ucap Eric to the point
Eva menutup mulutnya menggunakan satu tangannya, ia tak menyangka jika Eric akan mengungkapkan perasaan nya saat ini. Sebuah senyuman terukir indah di bibirnya, dengan malu-malu ia menganggukkan kepalanya
"Serius? ah makasih" Eric langsung saja memeluk Eva dengan erat begitupun sebaliknya
"Tapi apa Kaka gak keberatan kalau harus berpacaran dengan ku yang masih 13 tahun?" ~Eva
"Tidak, sama sekali tidak, justru aku lah yang harus bertanya itu pada mu. Apakah kau mau mempunyai kekasih yang sudah tua seperti ku ini?" ~Eric
"Menurut ku usia tak menjadi masalah, asalkan Kaka mau ngertiin perasaan ku dan janji jangan buat aku sedih ataupun kecewa" ~Eva
"Hem, aku janji. Aku akan membahagiakan mu, layaknya seorang putri kerajaan Bear" ~Eric
"Bear?" ~Eva
"Mulai saat ini aku akan memanggil mu 'Bear', itu adalah panggilan sayang ku untuk mu Bear Kecilku" ~Eric
"Ooo... baiklah aku juga akan memanggil mu dengan sebutan em... 'Oppa Panda' bagaimana?" ~Eva
"Nama yang bagus aku menyukainya, oh ya lupa kita pulang yuk nanti takut kamu dicariin sama Om Tante" ~Eric
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Tak terasa kini hubungan mereka sudah berjalan selama satu tahun lebih, kedua orang tua Eva juga sudah menyetujui hubungan mereka berdua dengan sarat hanya sebatas berpacaran saja tidak lebih. Mengapa demikian, ya karena kondisi Eva yang masih SMP
Rencana nya hari ini Eva ingin mengantar kan kue yang ia buat bersama sang Mamah kerumah Eric. Ia heran saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Oppa Panda nya. Terdengar dari posisi Eva saat ini ada sebuah adu mulut antara seorang wanita dan seorang pria, dengan langkah ragu-ragunya Eva perlahan memasuki halaman rumah Eric dan melihat ada Eric bersama dengan seorang wanita paruh baya sedang beradu mulut
"Nggak Mah! Eric gak mau pulang lagi ke rumah itu, sebelum Mamah batalin pertunangan ku dengan Mona!" ucap Eric
"Mamah gak akan batalin pertunangan mu dengan Mona! kalau kau tak mau pulang dengan cara baik-baik, maka Mamah akan menggunakan cara Mamah sendiri untuk membawa mu pulang dan mau bertunangan dengan Mona!" ~Mamah Eric
Duarrr... bak di sambar petir di tengah siang bolong, hatinya merasa hancur saat mengetahui jika Eric akan bertunangan dengan perempuan lain bukan lah dirinya. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi nya
"Kenapa Mamah selalu maksa Eric dari dulu hah! Eric harus ini itu sesuai dengan keinginan Mamah. Apakah Mamah pernah ngertiin perasaan Eric? enggak kan? cape Mah cape. Eric juga ingin hidup bebas tanpa tekanan dari Mamah terus!" Eric melirik ke arah samping dan mendapati Eva yang sedang berdiri mematung sambil menangis tanpa suara, tanpa basa-basi ia langsung berjalan ke arahnya dan menarik tangan Eva membawanya ke hadapan sang Mamah
"Liat Mah, Eric udah punya pilihan Eric sendiri. Eric cinta, sayang, sama dia dan Eric gak mau dengan wanita lain selain dia!" ~Eric
Ada rasa senang saat melihat dan mendengar Eric memperjuangkan dirinya di hadapan sang Mamah nya. Tapi balasan dari Mamah Eric langsung membuatnya down dan hatinya hancur berkeping-keping
"Apa?! kau cinta sama wanita ingusan dan miskin ini? Haha... Eric Eric, entah pelet apa yang ia berikan padamu hingga kau lebih memilih nya dari pada Mona. Yang sudah jelas lebih cantik, kaya, dan seumuran dengan mu" ~Mamah Eric
"Mamah!!!" ~Eric
"Lihatlah gara-gara wanita miskin ini kau sudah berani membentak Mamah, dasar wanita kurang ajar. Pengawal bawa Eric masuk" ~Mamah Eric
"Lepasin" Eric memberontak saat ada dua orang yang memaksanya masuk ke dalam mobil sang Mamah, ia menatap sendu ke arah Eva
"Pergilah, kamu gak boleh durhaka sama Mamah kamu jadi pergilah aku gak papa ko Hiks~" ~Eva
"Bear... maafkan aku" ~Eric
"Ingat ya jangan sekali-kali kau mendekati anak ku paham!!!" ~Mamah Eric
Melihat mobil menjauh dari pekarangan rumah itu, membuat tangisan Eva semakin lama semakin menjadi. Saat ini hatinya hancur, dengan seketika dunianya yang dulu penuh warna kini berubah menjadi gelap
Alam seperti merasakan apa yang Eva rasakan, tiba-tiba langit menjadi gelap dan hujan deras turun mengguyur yang ada di sebagian permukaan bumi. Cukup lama Eva menangis di bawah hujan yang mengguyur tubuhnya
Tak mau larut dalam kesedihannya ia pun pulang kerumahnya dengan berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa, agar keluarga nya tak khawatir dengan kondisi nya saat ini
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Pagi berganti menjadi siang, siang berganti menjadi malam begitupun seterusnya. Perlahan Eva sudah mulai melupakan Eric dan berusaha mengiklaskan kepergian seseorang yang sangat ia sayangi itu. Saat keluarganya bertanya tentang Eric, Eva hanya menjawab jika ia sedang pulang ke rumah orang tuanya di luar kota
Yang biasanya ia akan berangkat sekolah bersama sang adik, kini ia harus berangkat sendiri dikarenakan Aldi yang sedang sakit demam. Di halte busway, ia menunggu bus datang sambil melamun tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya dan turunlah beberapa orang yang langsung membawanya masuk ke dalam mobil
Tangan nya diikat dan mulutnya yang di lakban menggunakan lakban hitam, Eva terus saja memberontak tapi apalah daya dirinya yang lemah tak bisa melawan mereka yang kuat
Tibalah mereka di sebuah apartemen mewah bak istana. Mereka langsung saja membawa Eva menuju salah satu pintu kamar, tak lama kemudian masuklah seseorang yang sudah tak asing lagi bagi Eva
"Eric" batin Eva
"Hai Bear, sudah lama tak bertemu aku sangat rindu padamu" ucap Eric sambil menutup pintu
"Emmmp..." ~Eva
"Ah iya aku lupa membuka nya sebentar, tahan ya" ~Eric membuka lakban di mulut Eva dan tali yang mengikat pada tangan Bear kecilnya itu
"Hah~ apa yang kau lakukan hah!" ~Eva
"Aku hanya membawa mu kesini untuk bertemu, karena aku sangat rindu padamu Bear, apakah kau tak merindukan Oppa Panda mu ini Hem?" ~Eric
"Ka, lepasin aku, aku ingin pulang" ~Eva
"Enggak Bear kamu akan disini bersama ku, aku akan membawa mu ke luar negri agar kita bisa hidup berdua selamanya, tanpa ada seseorang yang menghalangi hubungan kita" ~Eric
"Hah? luar negri? Ka jangan gila dong, inget Kaka udah punya istri dan aku juga masih SMP. Jadi kumohon lepaskan aku dan lupakan aku!" ~Eva
"Gak sayang kamu hanya milikku" ~Eric
Perlahan Eric mulai mendekati Eva dan membopongnya ke atas kasur, ia langsung menindih tubuh Eva sambil membuka satu persatu kancing bajunya
"Kaka hiks~ kumohon sadarlah, jangan lakukan itu" ~Eva memberontak "Aku harus mencari cara agar bisa kabur dari sini" batin Eva
Ide cemerlang muncul di pikiran nya, ia pun segera menendang bagian sensitif milik Eric lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan apartemen Eric dengan keadaan yang acak-acakan
Setelah berhasil lolos dari kejaran Eric dan bodyguard nya ia akhirnya bisa bernafas lega. Ia masih tak menyangka jika Eric akan melakukan hal yang tak wajar padanya, itu membuat Eva kesal dan cintanya pada Eric mulai memudar berganti menjadi kebencian
Kini sampai lah ia di rumahnya, saat melihat Lusi yang sedang membersihkan ruang tamu ia langsung berlari memeluk sang Mamah. Lusi yang terkejut sekaligus bingung saat melihat anaknya tiba-tiba datang memeluknya sambil menangis
"Ada apa sayang? kau kenapa? coba ceritain ke Mamah" ucap Lusi
Kalau dulu ia memilih untuk tidak menceritakan kepada keluarga nya tentang masalah nya bersama Eric. Kini lain, ia akan menceritakan semua pada keluarga nya
Lusi yang mendengar cerita dari sang anaknya pun merasa terkejut sekaligus tak percaya. Seseorang yang selama ini ia anggap sebagai lelaki baik-baik justru sebaliknya, saat ia dibutakan oleh cinta. Lusi kembali memeluk Eva dan menenangkan nya
"Sudah sayang, kau tak perlu menangis lagi yang penting kamu aman dan gak kenapa-napa. Lebih baik mengetahuinya lebih awal dari pada nanti jika kita sudah terlalu jauh melangkah, nak. Ikhlas kan, jika jodoh mu pasti ia akan datang dengan sendirinya padamu sayang" ucap Lusi
...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...
Maaf kalau ngebosenin 😔
Please :
❥ Like
❥ Vote
❥ Komen
❥ Favoritkan
❥ Kasih hadiah sebanyak-banyaknya ya 😉
Thank you 🤗
^^^~Beach Breeze~^^^
... SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ...