EVA AURORA

EVA AURORA
Episode 63 Kelas 12



...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Hari pertama, mereka jalani dengan semangat dan ceria. Kini bagi kelas 12 bukan lagi waktunya mereka untuk bermalas-malasan dalam urusan belajar demi masa depan mereka sendiri. Di kelas 12 ini mereka akan menghadapi beberapa ujian yang akan menguras tenaga, pikiran, mental, dan lainnya untuk menyatakan apakah mereka pantas menuju jenjang selanjutnya ataupun tidak


Pelajaran pertama sudah mereka lalui dengan lancar, bahkan di hari pertama mereka masuk, mereka sudah di beri oleh-oleh berupa pekerjaan rumah yang cukup banyak


"Hais, tugasnya banyak banget sih?!" protes Zahra saat guru sudah pergi meninggalkan kelas


"Namanya juga udah kelas 12, kita udah gak bisa santai-santai, banyak ujian yang akan kita hadapi nantinya" ucap Eva


"Hem, iya juga. Kantin yuk laper gue, ayo Ci" ~Zahra


"Yuk lah" ~Eva dan Cici


Ketiga sahabat itu pun pergi menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang meronta-ronta meminta hak nya


"Leo kantin yuk" ajak Justin menghampiri meja Gibran dan Leo


"Gue sih ayo-ayo aja" jawab Gibran


"Kalian berdua aja, gue masih ada kerjaan" jawab Leo


"Gak asik Lo! udah yuk Tin berdua aja" ~Gibran


"Hem" ~Justin


Sendari tadi ia terus fokus terhadap layar leptop nya, tak sedikit pun ia bergeming dari layar leptop. Tadi setelah guru yang mengajar keluar ia dengan sigap langsung mengeluarkan leptop hitam dari tas nya lalu mulai bergulat dengan keyboard leptop tersebut dengan serius


"Sial, dari dulu gue nyari tau siapa pemilik sekolahan ini tapi gak nemu-nemu!! siapa sih orangnya? semakin sulit maka gue semakin penasaran. Wait me, I will find out who owns it!" gumam Leo


Dengan segera ia melipat leptop nya dan memasukkan kembali kedalam tas, ia berniat menyusul kedua temannya ke kantin. Karena jujur saja dia juga merasa lapar, pagi tadi mereka sama sekali tidak sarapan apapun, itulah kebiasaan buruk mereka tidak sarapan pagi


Sambil membawa semangkuk mie ayam dan segelas ice lemon tea, Leo berjalan menuju tempat dimana kedua sahabatnya berada


"Gimana udah?" tanya Gibran


"Belum" jawab Leo datar


"Tar gue minta bantuan kenalan gue yang hackers buat nyari tau, eh tapi kalo Lo gak bisa, besar kemungkinan dia juga gak bisa" ucap Justin


"Berusaha aja" ~Gibran


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Zahra, yap mereka duduk satu meja yang membuat orang lain merasa iri kepada mereka


"Urusan cowok gak usah tau" ~Gibran


"Oh" ~Zahra


"Pulang sekolah, Lo ikut gue" ucap Leo tiba-tiba


"Gue..? kemana? gue gak bisa, gue ada kerjaan!" tolak Eva


"Sebentar doang ntar gue anterin Lo ke tempat kerja Lo" ~Leo


"Tetep g--" ~Eva


"Harus bisa! dan gue gak nerima penolakan!" ~Leo


"Dih maksa" ~Eva


Mereka pun melanjutkan makan mereka dengan damai, tak ada diantara mereka yang mengeluarkan sepatah katapun. Tapi kedamaian tersebut tidaklah nyata, sebab masih banyak anak-anak lainnya yang juga berada di kantin mengobrol bersama teman demgan suara keras, ngehibah, membicarakan Eva dkk karena mereka iri Eva dkk bisa dekat dengan Leo dkk sedangkan mereka tidak, dan masih banyak lagi


Hingga tiba saatnya waktu untuk pulang sekolah tiba


"Va, gue sama Cici pulang dulu ya, katanya Lo ada urusan sama Pak Ketos" ucap Zahra


"Iya, ati-ati" jawab Eva malas


"Jangan males gitu dong, kan mau sama most wanted K'Internasional High School" goda Zahra yang langsung mendapat tatapan tajam nan mematikan dari Eva


"Tapi mereka kemana? tadi kan mereka izinnya ke toilet tapi belum balik sampe sekarang" ucap Cici


"Entah, gue mau sambil ngerjain tugas aja biar cepet selese" ucap Eva cuek, seperti nya buku tebal yang penuh angka dan tulisan lebih menarik dari pada membahas Leo dkk


"Yaudah good luck, gue sama Cici pulang dulu ya" ~Zahra


"Semangat nanti kerjanya" ~Cici


"Iya makasih" ~Eva


Tinggallah Eva dan beberapa siswa di kelas tersebut, disela-sela aktivitas nya ia menghela nafas panjang sambil melirik ke arah sampingnya


"Ini jadi gak sih?! tas nya ada, orangnya ngilang. Mana bentar lagi jam kerja gue mulai lagi, bisa-bisa ada pengajian dadakan sama Pak Budi" batin Eva


"Ah au ah gue pergi aja, lagian dia juga gak jelas!" gumam Eva kesal


Akhirnya Eva memutuskan untuk pergi meninggalkan kelas dan menuju restoran tempat dimana ia bekerja. Sambil berjalan menuju tempat parkir ia fokus menghitung-hitung sisa uang yang ia punya dalam dompetnya, tapi tetap memperhatikan jalan


Duuuggg...


Tiba-tiba ia jatuh tersandung dan uang yang berada di dalam dompetnya bertebaran dimana-mana, lututnya juga memerah dan telapak tangan yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya mengeluarkan cairan berwarna merah bernama darah


"Au..." rintihnya


"Hahahaha... kasian, jatuh ya?" ucap Ratu dengan nada mengejek


"Ululu sakit hiks~ hahahaha" ucap Lintang dan Charlyn


"Apakah sakit saudara ku?" tanya Mita


"Guys liat deh uangnya, haha receh semua mana kucel-kucel" ~Ratu


"Sama kaya yang punya" ~Mita


"Emang kenapa kalo uang gue receh? itu gue dapet dari hasil kerja keras gue sendiri, bukan cuma bisa minta ke ortu" ucap Eva


"Kerja keras? heh, ini namanya kerja keras" sungguh sebenci dan setidak sukanya mereka hingga mereka dengan tega menginjak-injak uang dan dompet Eva hingga rusak?


"APA YANG KALIAN LAKUIN HAH? BERHENTI!!!" teriak Eva


"Berhenti!!!" ~Eva


"Oke oke, guys berhenti kasian nanti dia gak bisa beli gulali, haha" ~Ratu


"Jangankan gulali, permen yang eceran aja gak bisa" ~Mita menyilang kan kedua tangannya di depan dada menatap Eva remeh


Air mata sialan mulai keluar dari kedua pelupuk matanya, ia menatap kosong gaji hasil kerja kerasnya bulan lalu sudah kotor, lusuh, dan beberapa ada yang sobek


Para murid yang tertarik dengan drama itu pun hanya melihatnya dari kejauhan, tak ada sama sekali niatan yang terlintas di pikiran mereka untuk membantu Eva. Karena mereka tau apa konsekuensi yang akan mereka dapatkan jika mengganggu Ratu dkk


Sebuah tangan putih bak salju dan lembut selembut sutra, memunguti sebagian benda yang bertebaran di lantai, ia hanya mengambil KTP dan beberapa benda penting lainnya


"Leo?" lirih Eva


Dengan muka datarnya ia menatap orang-orang disana, jangan lupa aura membunuh yang sangat kental juga menandakan bahwa ia sedang marah ataupun kesal


Sebelah tangan yang kosong itu pun langsung menyeret Eva, meninggalkan tempat menjijikkan tersebut


"Leooooo..." panggil Ratu, namun di hiraukan oleh Leo


Sebisa mungkin Eva menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah kaki Leo yang dua kali lebih lebar darinya. Sampai di depan mobil ia langsung mendorong paksa Eva untuk memasuki mobil tersebut


"Hey... dompet gue gimana?" tanya Eva pada Leo yang tengah sibuk menyetir


"Gak penting" jawab singkat Leo


"Semua orang kaya sama--" ~Eva


"Kita semua berbeda! tidak semuanya sombong dan semena-mena terhadap orang yang ada dibawahnya. Urusan dompet gue yang ganti rugi semua isinya, gue ada dompet yang udah gak kepake Lo bisa pake itu" ~Leo


"Tapi itu bukan kesalahan Lo" ~Eva


"Anggap aja itu kesalahan gue karena kelamaan dateng sampe Lo kesel dan berniat pulang" ~Leo


"Dari mana Lo tau?!" ~Eva


"Nebak aja" ~Leo


"Tapi tetep aja itu bukan salah Lo, alasannya gak masuk akal" ~Eva


"Yaudah masukin aja, ribet amat. Gak usah protes, duduk, diem aja bisa kan?!" ~Leo


Eva yang sudah mendapat peringatan seperti itu pun diam, menikmati pemandangan luar dan merasakan nyamannya bisa menaiki mobil mewah yang sangat nyaman ini. Aroma mint yang bisa merilekskan pikiran, pendingin ruangan, tempat duduk yang sangat lembut nan nyaman, sungguh sangat beruntung bisa menaiki dan duduk di dalam mobil tersebut


FLASHBACK~


Di atas rooftop berkumpulah 3 pria tampan sedang menikmati angin yang menerpa kulit mulus mereka


"Ngapain Lo ngajak Eva? mau kemana? ada apa?" tanya Justin, memulai percakapan antara ketiga orang tersebut


"Gue mau tanyain ke dia soal yang dulu" jawab Leo yang tengah tiduran diatas bangku panjang


"Gercep banget, haha gue lupa emang sifat Lo kaya gitu dari dulu" ucap Gibran


"Hem... menurut kalian gimana?" ~Leo


"Kita setuju-setuju aja, asal itu buat kebaikan dan kebahagiaan Lo. Gue lega akhirnya Lo bisa berubah juga dari sikap Lo dulu yang anti perempuan, semoga Lo bahagia sama pilihan Lo. Kita akan selalu dukung kok" ~Gibran


"Yoi kapan pun Lo butuh bantuan, bilang aja, kita bakal bantu semampu kita" ~Justin


"Em" ~Leo


"Balik kelas atau--" ~Justin


"Tidur aja, nanggung" ~Leo


"Ahh bener gue setuju, mata gue juga penginnya ketutup mulu" ~Gibran


"Yaudah, tapi panas, gue cari yang teduh aja" ~Justin


Di atas rooftop mereka tidur nyenyak, namun apabila ada yang mengganggu ataupun lewat saja mereka akan segera sigap menyerang mereka


"Ha? udah jam segini?! wah si cewek aneh itu pasti udah pulang duluan deh" batin Leo


Meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tertidur nyenyak, Leo langsung berjalan sedikit berlari menuju kelas. Benar saja sesampainya disana, cewek yang ia maksud sudah tidak ada di dalam kelas. Leo berkeliling mencari Eva hingga akhirnya ia melihat Eva yang sedang dibuli oleh Ratu dkk


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Sementara itu, Gibran dan Justin masih belum bangun dari tidur nyenyak mereka, terlihat jelas dari raut muka mereka bahwa mereka kelelahan


"Hoaaaaaaam..."


"Gue dimana? ah ya rooftop, wait jam berapa sekarang? WHAT UDAH JAM SETENGAH TIGA!!!" ucap Justin "Leo? wah jahat bener tu orang ninggalin gue sama kura-kura disini. Woy Ran bangun dah sore nih, kita masih di rooftop" ~Justin


"Hemmmm... ganggu aja sih Lo, Leo mana?" tanya Gibran


"Itu masalah nya, kayanya kita ditinggalin sama tu orang" ~Justin


"Yaudah si tinggal hubungi Zio atau siapa lah buat jemput, atau gak taxi juga bisa" ~Gibran


"Gue telfon Zio dulu" ~Justin


"Hem... good luck Leo, haha dimana mereka sekarang, gue bisa bayangin raut muka Leo yang berubah dari datar jadi b aja di depan gebetan nya" ~Gibran


"Dah yuk tunggu di bawah, Zio udah otw kesini" ~Justin


FLASHBACK OFF~


...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Thank you 😇❤️


^^^~Beach Breeze~ ^^^


...۝ SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ۝ ...