EVA AURORA

EVA AURORA
Episode 81 Perkelahian



...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Hujan salju turun di berbagai belahan dunia ini, membuat suhu di sekitar terasa dingin namun mengasikkan karena bisa melakukan berbagai macam permainan dengan memanfaatkan cuaca dingin tersebut


Bermain? sepertinya itu tidak ada dalam kamus besar seorang pembisnis muda yang saat ini sedang memimpin meeting. Sendari tadi ia hanya diam mendengarkan para pembisnis berbicara menjelaskan tentang proposal mereka


Tok tok tok


Dari luar terdengar suara ketukan pintu dan masuklah seorang pria tampan bertubuh tinggi


"Tuan" ucap nya, sedangkan sang atasan langsung mengisyaratkan pada para pembisnis itu untuk berhenti berbicara dulu


"Kenapa? dokter itu menyerah lagi?" tanya sang atasan dengan nada datar


"Maaf Tuan"


"Hah~ carikan dokter lain yang lebih profesional di seluruh penjuru dunia ini, jangan sampai saya turun tangan sendiri untuk mencari !!!"


"Baik Tuan, saya sudah mencari lagi Tuan semua biodata mereka sudah saya letakkan di atas meja anda"


"Hem, kau gantikan saya memimpin meeting"


"Baik Tuan"


Langkah tegapnya menelusuri salah satu lantai gedung pencakar langit yang terdapat kurang lebih 150 lantai ditambah ruang bawah tanahnya yang sangat luas. Setiap orang yang berjumpa dengannya langsung menunduk hormat lalu setelah kepergian nya sebuah gosip pun keluar dari mulut para karyawan


Duduk di depan meja kerja yang terdapat tiga tumpuk berkas membuat ia memijat pelipisnya, lalu membuka dan meneliti satu persatu berkas-berkas tersebut. Berjam-jam ia habiskan hanya untuk meneliti berkas-berkas sialan itu


"Keruangan sekarang juga!" ucapnya menelfon asisten pribadinya


Tak beberapa lama kemudian orang yang ia maksud pun datang "Iya Tuan ada apa?" tanyanya


"Bawa semua berkas ini, kau yang cari, aku ingin pemanasan sebentar" ucapnya lalu berjalan keluar ruangan meninggalkan asisten nya yang merubah wajah nya menjadi lebih datar


"Good thing you are my boss, jika bukan, aku sudah membunuh mu dari dulu!!"


Tak ada pilihan lain, dia pun membawa berkas-berkas tersebut kembali ke ruangannya dan memeriksanya disana. Tanpa disadari olehnya ia menjatuhkan satu map berwarna senada dengan lantai yaitu hitam di bawah kolong meja


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Seminggu sudah Eva bekerja di rumah sakit Hansin, interaksi bersama Pangeran yang sering saat merawat pasien pun membuat hubungan mereka semakin dekat


"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Pangeran pada Eva yang tengah mengecek kondisi Aldi


"Eh Dokter, em... sebenarnya aku juga bingung, cara sebelumnya ternyata tidak berhasil, dan sekarang aku tidak punya rencana lagi" jawab Eva


"Yaaa... aku dengar sudah banyak dokter yang menyerah menangani adikmu, lebih dari 5 tahun itu adalah waktu yang sangat lama" ~Pangeran


"Hem..." ~Eva


"Coba kau gunakan cara ini, tapi aku tidak tau ini akan berhasil atau tidak" ~Pangeran, memberikan selembar kertas berisi tulisan-tulisan yang sulit dibaca (tau kan gimana tulisan dokter)


"Baik Dok terimakasih" ~Eva


"Sudah siang, mau makan siang bersama?" ~Pangeran


"Emm boleh juga, kebetulan aku juga lapar. Aldi Kaka tinggal dulu ya, cepat bangun i miss you" ~Eva


Seorang Kaka yang sangat merindukan adiknya, sudah 7 tahun mereka terpisah walaupun raga mereka berdekatan. Mereka harus berjuang bersama-sama agar bisa kembali seperti dulu lagi


Berjalan berdua bersama Dokter yang terkenal dingin membuat Eva menjadi bahan gosip yang hangat untuk di perbincangkan. Namun saat hendak memasuki mobil, sebuah tangan kekar mencengkram erat tangan Eva


"Auuush" rintih Eva


"Hey yang sopan ya dengan perempuan!" ucap Pangeran tegas namun saat melihat siapa orang yang mencengangkan tangan Eva, aura dingin pun bertambah dingin


"Gue gak ada urusan sama Lo! Va ikut gue" ucap Leo tak kalah dingin


"Tunggu, jelas anda mempunyai urusan degan saya, anda datang-datang menarik teman saya dan membawa nya pergi begitu saja? tidak sopan!" ~Pangeran


Senyuman devil terukir di bibir Leo "Hanya teman kan? ayo Va" ~Leo


Bugh...


"Leo..." ucap Eva


Sebuah pukulan keras mendarat di Leo mengakibatkan sudut bibirnya mengeluarkan darah dan bekas memar disana


"Baiklah mari kita bermain-main sebentar, sudah lama kita tidak bermain bersama" ~Leo


"Siapa takut" ~Pangeran


Perkelahian pun tidak dapat dihindari, mereka saling pukul, tendang, menarik, mendorong, meninggalkan bekas luka di mana-mana


"LEO... DOKTER... BERHENTI!!! siapapun tolong bantu saya memisahkan mereka..." teriak Eva namun di hiraukan oleh keduanya, dari pancaran mata mereka terlihat jelas ada dendam lama yang terselip


Akhirnya dua orang petugas keamanan pun datang memisahkan mereka berdua, petugas keamanan tersebut sempat kewalahan menahan mereka yang terus saja memberontak dengan kuat


"Leo... gue mohon tenangin diri Lo" pinta Eva sambil memeluk Leo berharap bisa meredakan tingkat emosi nya, dan benar saja Leo yang awalnya memberontak kini sudah mulai tenang


"Urusan kita belum selesai!!! ayo..." ucap Leo lalu menarik lengan Eva dan memasukkan nya kedalam mobil


"Lepasin!!" ucap Pangeran kepada petugas keamanan yang masih memegangi nya, bersamaan dengan perginya mobil Leo, Pangeran pun pergi menggunakan mobilnya


Suasana didalam mobil bernuansa modern itu sangat lah canggung, mereka sendari tadi diam berkelana dalam pikiran masing-masing


"Leo" panggil Eva


"Hem...?" jawab Leo


"Em itu soal tadi kenapa Lo keliatan marah gitu, sebenernya ada apa sih antara kalian berdua, diliat-liat kalian kaya udah kenal gitu" ~Eva


"Gak papa, dan gak ada apa-apa" ~Leo


"Hais, yaudahlah, tapi itu lukanya..." ~Eva


Leo pun baru menyadari luka nya tersebut, saat mengusapkan ibu jarinya di sudut bibirnya dan terdapat darah yang menempel di ibu jarinya "Cuma luka kecil, gak papa" ~Leo


"Mau kecil atau besar itu tetep harus diobati, itu juga muka pada memar kaya gitu, gak perih apa" ~Eva


"Asal Lo tau ini cuma luka kecil yang gak ada apa-apa nya, gue dah biasa berulangkali kena sayatan sama tembakan" batin Leo "Yaudah turun dulu" ~Leo


"Tu" tunjuk Leo pada sebuah gedung yang menjulang tinggi


"LEo's Company? ngapain Lo ngajak gue kesini?" ~Eva


"Lo bakal tau kalo Lo dah masuk" ~Leo


"Ish perasaan gue bukan artis deh, kenapa setiap gue jalan pasti pada ngeliatin gue? mana tatapan nya kaya mau nelen gue abis-abisan lagi. Ah ge'er jelas-jelas mereka ngeliat Leo bukan gue, haha au ah" batin Eva


Yeah disaat mereka berjalan berdua di gedung (kantor) LEo's Company, tatapan para karyawan saat melihat Eva seakan sedang menguliti nya habis-habisan


"Eh liat deh, siapa wanita itu, ko bisa ya jalan bareng sama bos Leo?" kepo karyawan 1


"I don't know, mungkin pacar nya kali, secara pas diliat tadi ceweknya cantik juga" jawab karyawan 2 mencoba bodo amat


"Alah paling juga jala*g, modal tampang doang heh" ejek karyawan 3


"Heh, secara gak langsung kamu juga jelek-jelekin bos loh" tegur karyawan 4


"Jelek-jelekin gimana?" tanya karyawan 3


"Ya kalo wanita itu bener kaya apa yang Lo ucapin tadi berarti bos kita ya hidung belang kan" jawab karyawan 4


"Eh i... iya ya" sadar karyawan 3


"Nah Lo makannya kalo ngomong dipikir dulu, jangan asal nyeplos, terus jangan ngegosip ini waktunya kerja, lagian kita juga gak ada yang tau apa hubungan wanita tadi sama bos, bisa aja beneran pacarnya, sahabat, saudara, ataupun istrinya kan" nasihat karyawan 5


Tibalah mereka di depan sebuah ruangan bertulisan 'CEO' di pintu


"Masuk" ucap Leo, tanpa memperhatikan tulisan di pintu ruangan tersebut Eva langsung saja masuk dan pandangannya memperhatikan satu persatu benda yang ada


"Duduk" perintah Leo


"Btw ini ruangan apa?" tanya Eva


"Ruangan gue? kenapa, suka?" jawab dan tanya Leo balik


"Bagus sih, bersih, rapi, eh pemandangan nya juga bagus kalo malem kayanya lebih bagus lagi" jawab Eva melihat keluar jendela melihat betapa indahnya kota disana "Wait, Lo ngajak gue keruangan ini buat apa? jangan bilang gue disuruh pura-pura jadi tunangan Lo lagi? gue gak mau dah cukup tragedi di pesta itu gue gak mau lagi" ~Eva


"Siapa juga yang nyuruh Lo pura-pura, beneran juga gak papa" ucap Leo sengaja memelankan kalimat terakhir


"Terus?" ~Eva


"Ya terus Lo duduk disitu, gue mau kerja dulu" ~Leo


"Lah? sumpah Lo ya kalo gini mending gue balik ke rumah sakit banyak pasien" ~Eva beranjak pergi


"Silahkan kalo bisa" ~Leo


Eva pun berjalan mendekati pintu dan mencoba membukanya tapi "Leo! ish buka pintunya!" ~Eva


"Kan gue udah bilang, duduk! disini juga ada pasien" ~Leo, yang sudah fokus pada layar leptop dan beberapa dokumen


"Tapi... tapi gue laper nj*r" ~Eva mencoba berbagai alasan


"10 menit lagi palingan Gibran atau Justin Dateng bawa makanan, tenang aja" ~Leo


Dengan perasaan kesal ia pun duduk menyangga kepala dengan kedua tangannya memandangi ikan-ikan gendut yang berada pada akuarium


"Hem emang bener cewek aneh, dia sama sekali gak tanya apa jabatan gue gitu? kek gak peduli sama uang tapi dia gila uang" batin Leo


Bosan hanya duduk memperhatikan ikan-ikan tersebut, Eva pun mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan berhenti pada sebuah pemandangan indah yang membuatnya terpukau. Pemandangan dimana disana terdapat seorang lelaki tampan dengan raut wajah serius berkutat bersama pundi-pundi uangnya


Namun luka-luka di wajah tampan nya itu lebih menarik perhatian nya. Segera ia mengambil kotak P3K lalu mendekat ke arah Leo, dengan teliti ia memperhatikan setiap luka-luka diwajah Leo yang membuat pemilik wajah nya salah tingkah sendiri


"Mau ngapain Lo?" tanya Leo


"Tu luka, em ada kompresan gak disini?" jawab Eva


"Ada" ~Leo


"Yaudah dimana biar gue ambil" ~Eva


"Gak usah biar gue suruh Zio aja, bentar" ~Leo


"Oke" ~Eva


Tak lama kemudian Zio datang sambil membawa kompresan, meletakkan alat tersebut di atas meja lalu pergi lagi menuju ruang kerjanya. Perlahan Eva menempelkan kain tersebut pada luka memar Leo


"Awsh..." rintih Leo


"Tahan bentar, gini doang juga" ucap Eva


"Hem, lagian gak usah diobati juga gak papa" ~Leo


"Suuut... diem nurut kata-kata gue" ~Eva


"Iya iya Bu Dokter" ~Leo


Kembali ia fokus mengobati luka memar Leo, tak jarang pula pandangan mereka saling bertemu dan menjadi salah tingkah


"Jadilah dokter untukku, yang selalu ada dan mengobati ku jikalau aku jatuh dan sakit. Dan aku akan menjadi burung untuk mu, membawa mu terbang jauh untuk meraih kebahagiaan" kata-kata manis tersebut tiba-tiba keluar dari mulut Leo


"Ha? maksud Lo?" tanya Eva bingung dengan perubahan sikap dan gaya bahasa Leo


Bukannya menjawab, Leo malah menarik pinggang Eva dan mendudukkan nya di atas meja depannya


"Astoge kita masuk di waktu yang salah, balik yuk"


"Iya bener balik aja lah"


...🌿🍂🌿🍂🌿🍂🌿...


Ada saran...? Makasi, love you ♡


^^^~Beach Breeze~^^^


...۝ SEE YOU IN THE NEXT EPISODE ۝...