
Di sisi Anjas dan Dendi.
Anjas sebenarnya sudah tahu ada yang memperhatikannya. Anjas juga memperhatikan mereka juga sejak mereka masuk. Karena Anjas mendapatkan notifikasi sistem muncul.
[Bing! Terdeteksi aura dosa dan niat jahat di sekitar anda. Namun yang ditargetkan bukan diri anda. Kemungkinan besar target di antara keempat gadis yang baru masuk restoran.]
Mendapati pemberitahuan itu. Anjas melakukan scanning area. Lalu dia mendapati bahwa ada dua orang pria memiliki aura dosa yang pekat.
"Siapa mereka? Apa mereka mengincar para gadis cantik?" gumam Anjas di benak.
Hingga selesai makan Anjas masih terus memperhatikan mereka para gadis. Juga mengawasi pergerakan dua pria misterius. Anjas tidak bisa menscan dan mencari informasi tentang mereka berdua karena mereka memakai kacamata dan masker.
"Jika dilihat dari aura dosa mereka. Sepertinya mereka sudah banyak membunuh orang." benak Anjas lagi memastikan.
Kemudian Anjas pura-pura melihat ke arah gadis yang juga melihat ke arahnya. Untuk beberapa saat Anjas dan Liana saling menatap.
Lalu beberapa detik kemudian mereka saling memalingkan wajah. Seperti halnya ketika Anjas dan Alin saling menatap mereka saling merasakan energi alam. Walaupun kecil Anjas mendapati ada energi alam dalam tubuh Liana.
Lain halnya dengan Liana. Mendapatkan tatapan mata yang tegas dari Anjas. Membuat Liana semakin tertarik.
"Aku penasaran apakah dia sudah punya pacar atau belum?" gumam Liana yang masih terdengar oleh ketiga sahabatnya.
Tentu saja mereka saling pandang dengan tanda tanya di kepala mereka. Apa kau serius?
"Tapi Liana jika kau mendekatinya. Akan ada perselisihan nantinya. Pangeran akan mengincar Anjas dan mengajak dia balapan. Pastinya track record Pangeran adalah jalur Jakarta - Tangerang." kata Friska memberi peringatan.
"Yang kau maksud yang finisnya di jalan Pantura? Itukan jalur berbahaya. Apalagi anak buahnya Pangeran. Mereka pasti bakal buat rusuh." timpal Cindy sedikit khawatir.
"Kalian tenanglah. Aku tidak akan ceroboh. Aku bisa mengatasi hal tersebut." balas Liana yang percaya diri.
"Baiklah. Tapi jika kau tidak mampu. Masih ada kami. Jangan khawatir besti." sambung Cindy mengangkat gelas minumannya.
"CUUUSSS!" seru serempak keempat gadis itu. Dengan sambil tos minuman mereka.
Selesai makan dan membayar di kasir. Anjas tidak langsung pergi. Dia menunggu di dalam mobilnya di parkiran restoran itu. Karena dia bisa mendapatkan tambahan exp jika melenyapkan aura dosa.
"Guru, apa yang kita tunggu?" tanya Dendi penasaran.
"Aku menemukan lawan yang tangguh untuk latihanmu. Sebentar lagi mereka keluar." jawab Anjas.
"Itu mereka." Anjas menunjuk dua orang pria yang mengikuti empat orang gadis. Tapi Dendi salah perkiraan. Dia malah melihat keempat gadis itu dan mengira Anjas sedang bercanda.
"Yang benar saja Guru. Masa aku melawan wanita?" timpal Dendi tidak setuju.
"Bukan para gadis itu. Tapi dua orang yang mengikuti mereka." balas Anjas tidak habis pikir.
"Oh maaf guru. Aku kira kau menyuruhku untuk menindas wanita cantik. Hehehe.." Dendi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo." ajak Anjas. Lalu mereka keluar dari mobil. Langsung menghampiri kedua pria asing itu. Karena masih pakai masker Anjas belum bisa menscan wajah dan mengetahui identitas diri mereka berdua.
Walaupun Anjas memiliki kemampuan Mata Tembus Pandang. Tapi masker yang mereka pakai bukan terbuat dari bahan biasa. Seperti jirah pelindung yang melindungi wajah dari kemampuan sihir.
"Ternyata banyak benda seperti yang ada di sistem di dunia ini." benak Anjas.
Di lain pihak. Para gadis mengira Anjas ingin menghampiri mereka. Tapi ternyata tidak sesuai harapan. Tapi hal yang mengejutkan terjadi.
"Maaf. Aku perhatikan dari tadi. Kalian sedang membuntuti para gadis cantik itu. Apa kalian ini penculik?" ujar Anjas tanpa harus menahan suara. Sambil menghadang jalan kedua pria asing. Jadi beberapa pengunjung yang lewat dan keempat gadis itu juga bisa mendengarkan perkataan itu.
"Dari jawabanmu membuat aku semakin yakin kalian berdua adalah penculik." balas Dendi yang tidak suka kalau gurunya dibentak.
"Kurang ajar kau! Kau ingin mati yah!?" sekarang Dendi yang kena bentak dari teman si pria rambut cepak. Pria yang memiliki tato di leher.
"Menyingkir sebelum kalian kehilangan kaki untuk berjalan." ancam si rambut cepak.
Anjas langsung bisa merasakan energi alam yang meledak dari si rambut cepak. Namun tidak sekuat energi alam milik Guru Rizal.
"Dendi. Kau lawan si tato di leher. Biar si cepak ini aku yang tangani." bisik Anjas ke telinga Dendi.
"Baik Guru." angguk Dendi.
"Sialan cepat menyingkir!" bentak si rambut cepak lebih keras. Membuat orang di sekitar berlari ketakutan. Dia sedikit mengeluarkan aura berwarna ungu gelap. Yang dilihat Anjas.
Keempat gadis cantik juga sudah menyingkir dari tempat itu. Mereka sudah masuk ke mobil masing-masing. Ada tiga jenis mobil sport yang terparkir. Salah satunya adalah BMW 8 Series Gran Coupe berwarna silver milik Liana. Juga dua lainnya Yaitu Ferrari 812 GTS warna merah terang milik Dianti dan Audi R8 warna silver milik Friska.
Mereka tidak langsung pergi tapi menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Yang mereka ingin tahu apakah benar mereka dibuntuti oleh dua pria misterius itu.
Anjas tidak bergeming sedikitpun. Dia menatap tajam ke si rambut cepak. Lalu mengeluarkan aura yang lebih besar berwarna merah terang. Hal itu membuat Dendi merasa merinding.
"Aura orang itu sangat menakutkan tapi lebih menakutkan aura milik guru. Juga lebih kuat." benak Dendi.
"Oke. Kesempatan kalian habis!" teriak si pria bertato. Lalu melompat untuk melakukan tendangan ke arah kepala Anjas.
Tapi dengan cepat Dendi maju dan menangkap kaki pria itu. Tanpa disadari Dendi, sebuah tinju yang terlilit energi tertuju padanya.
"Dam!" Dendi masih bisa selamat. Karena dengan refleks Anjas menahan tinju kuat itu.
"Akulah lawanmu. Bang!" tendangan keras Anjas langsung kena di dada si rambut cepak. Membuat pria itu terlempar ke sudut parkiran yang luas.
"Atasi dia." ucap Anjas pada Dendi. Sambil berjalan ke arah pria rambut cepak.
"Baik." Dendi memasang kuda-kuda bertarung. Di tangannya juga sudah terpasang sarung tangan Petarung yang diberikan Anjas.
"Hiaaaa!" Dendi langsung maju menyerang. Si pria bertato juga menyambut serangan Dendi. Saling pukul dan menangkis. Terlihat mereka adalah lawan yang tangguh dan seimbang.
Sementara di sisi Anjas. Si rambut cepak baru saja bangkit. "BUAK!" tapi tinju Anjas sudah kena lagi. "Aauuhhh!" jerit si rambut cepak.
"Sialan. Siapa dia?! Pukulannya hanya serangan fisik tapi bisa membuat aku kesakitan begini.! Juga serangan ku tadi sudah dengan energi alam yang kuat. Tapi bisa ditahan olehnya." benak si pria rambut cepak.
"Kau tidak apa-apa? Maaf aku terlalu pelan tadi. Tapi yang berikutnya akan lebih mematikan." ujar Anjas sambil berjalan menghampiri si cepak yang terbaring di tanah.