CHEL

CHEL
Bab 66



"Baiklah kalau begitu. Serangan selanjutnya." gumam Anjas tersenyum miring.


Anjas mencari tahu di mana keberadaan tempat produksi narkoba milik keluarga Ajisaka. Dengan menggunakan tools pelacak miliknya. Dia mendapatkan kegiatan mencurigakan dari rumah yang pernah diduga menjadi tempat produksi narkoba. Tapi saat diselidiki ternyata rumah itu sudah kosong.


Anjas melihat ada seorang pria yang sering keluar masuk rumah itu. Saat dicari tahu dia adalah suami dari Rinjani Ajisaka. Jerry sedang menelepon di sana. Anjas mengaktifkan tools penyadap. Sekarang dia bisa mendengar percakapan Jerry.


"Kalian pastikan rumah itu aman. Agar polisi tidak mengetahui keberadaan rumah produksi narkoba kita yang ada di Bandung itu. Jika kalian tertangkap kalian tidak akan diselamatkan oleh keluarga Ajisaka. Mengerti!? " percakapan yang disadap.


Mendengar hal itu Anjas langsung melacak nomor tujuan yang ditelepon Jerry. Hanya dalam dua menit dia sudah mengetahui titik lokasi yang dicurigai. Pemantauan dilakukan oleh Anjas. Melalui CCTV sekitar titik. Sekitar Satu jam lebih Anjas menemukan seorang pria yang sering mondar-mandir dengan mobil di daerah itu. Saat mengikutinya ternyata tujuan si pria adalah sebuah perumahan. Yang berdekatan dengan kawasan ruko. Di daerah itu tidak memiliki CCTV sama sekali. Jadi Anjas tidak bisa mengetahui di rumah mana yang di masuki si pria.


Tapi Anjas masih punya banyak akal. Dia meretas perusahaan yang menaungi perumahan itu. Yang ternyata ada anak perusahaan dari Perusahaan Megacitra Ajisaka. Perusahaan itu bergerak di bidang properti. Setelah menemukan sebuah rumah yang mengatasnamakan Jerry Geraldo. Anjas mendapatkan titik koordinat pasti.


Sekali Anjas meretas sesuatu yang luar biasa. Dia meretas aplikasi map yang populer. Lalu mencari titik tersebut. Menemukan rumah yang bisa dibilang besar. Tapi cukup untuk menampung puluhan orang.


"Dapat juga akhirnya. Aku simpan semua data ini. Sebagai bukti. Lalu sebagian aku kirim ke kepolisian. Done." sambil melakukan apa yang dia katakan.


"Bukan aku yang menyiram bensin ke api yang kecil. Tapi kalianlah yang ingin memegang duri pada kaktus." Anjas tersenyum.


Selesai melakukan semua rencananya. Anjas keluar kamar. Mendapati Maryam yang belum tidur dan masih nonton TV.


"Sayang belum tidur?" sapa Anjas. Duduk di sofa dan merangkul Maryam.


"Mas.. aku masih belum mengantuk. Tapi Rahmi sudah tidur dari jam 7." jawab Maryam.


"Kau tidurlah. Biar besok bisa pergi kerja. Kau masih harus jaga toko. Dendi sedang sibuk menjaga ibunya yang sakit karena kecelakaan." bujuk Anjas.


"Baiklah Mas." Maryam beranjak lalu masuk ke kamar.


Sebenarnya Anjas menyuruh Maryam masuk bukan karena perhatian. Tapi sistem baru saja memberikan informasi bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya sekarang. Dari jarak yang lumayan jauh. Tepatnya dari sebuah gedung yang berlantai 20. Tidak jauh dari gedung kawasan apartemen yang ditempati Anjas sekarang.


"Apakah dia seorang sniper? " tanya Anjas ke sistem.


[Jaraknya sekitar 600 meter. Itu bisa dilakukan oleh sniper profesional. Sedang dilacak...]


[Jarak pasti 648 meter. Arah barat di gedung sebuah hotel lantai 19.] jelas sistem.


Anjas melirik ke arah yang dimaksud. Ruang TV yang memang berdinding kaca. Jadi berkemungkinan besar ada yang bisa melihat kegiatan mereka dari sebuah teropong. Jika gorden tidak ditutup.


"Terima kasih sistem." ujar Anjas. Namun seketika itu dia bergerak cepat ke luar apartemen.


Dia tidak menuju lantai bawah. Tapi sebaliknya ke roof top yang mana berada di atas lantai 30. Sesampainya di tempat paling tinggi itu. Anjas mengeluarkan sebuah busur. Busur itu adalah busur dewa. Dia mendapatkan busur itu saat menyelesaikan misi sebelumnya.


"Kita lihat peluru Sniper atau anak panah dari Busurnya dewa yang memang." gumam Anjas.


Dia membidik ke arah seseorang yang juga sedang membidiknya. Mereka sudah saling mengetahui sekarang. Mengapa karena yang membidik Anjas adalah Pasom yang mana dia juga sudah menyadari bahwa targetnya sudah mengetahui bahwa sedang diawasi.


Di sisi Pasom yang telah mengetahui tempat tinggal kedua. Dia sangat terkesan bahwa targetnya adalah seorang ahli juga. Saat dia melihat targetnya melirik ke arahnya. Pasom mengetahui bahwa posisinya telah diketahui. Tapi dia tidak segera beranjak. Dia mengawasi Anjas. Yang ternyata tidak menghampirinya tapi naik ke Roof top dan mengeluarkan busur panah yang entah dari mana.



"Busur itu tampak tidak biasa. Tidak ada tali tapi saat memposisikan seakan ingin menembak panah. Tapi dan anak panahnya muncul secara tiba-tiba. Ajaib sekali." gumam Pasom.



"Apakah dia sedang menantang aku?" Pasom berpikir bahwa targetnya sekarang sedang menantangnya duel antara peluru dan anak panah.



"Baiklah kalau begitu." "Diuurrrr!" suara senjata api yang sedikit teredam.


"DFiuuunggg!" anak panah telah dilepaskan oleh Anjas.


"Ting." Di udara dua benda saling bertabrakan.


Sekarang Pasom harus menghindari ketiga anak panah itu. Ingin mengangkat senjatanya tapi terlambat. "Dom... Trak!"Senjata sniper yang dirakit khusus. Terbuat dari bahan terbaik itu hancur setelah terkena anak panah Anjas.


Sekali lagi tiga anak panah melesat cepat. Pasom mengeluarkan dua buah pistol. Lalu segera menembak tiga anak panah itu dengan cepat. Tapi sayang ketiga anak panah itu seperti tidak memiliki kepadatan. Peluru hanya melewatinya seperti menghempas angin.


"Sialan!" umpat Pasom menghindar. Ketiga panah itu menancap ke lantai. Tapi dua detik kemudian menghilang.


"Senjata apa sebenarnya panah itu?" Pasom merasa aneh dengan kejadian anak panah yang menghilang.


Dia tidak banyak berpikir. Sekarang dia harus menghindari empat anak panah. Pasom terus menghindar sembari mengarah ke pintu lift.


"Mau kabur kah? Tidak akan aku biarkan." Anjas bergeser beberapa langkah. Lalu melepaskan empat anak panah lagi.


Satu anak panah lagi diarahkan ke tombol lift. Anjas berniat untuk merusak tombol tersebut. Dengan cepat anak panah itu meluncur. "Drak!" tombol lift yang sudah hancur.


"Sial bagaimana bisa dia membidik tombol lift yang ada dalam ruangan? Ini sungguh luar nalar!" Pasom yang melihat itu menjadi sedikit frustasi. Lalu dengan nekat dia melompat ke jendela lantai 19. "TRANG! Cak!" satu anak panah berhasil menancap ke punggung dan tembus ke jantung Pasom. Dia tidak menyangka bahwa dia bisa dibunuh dari jarak jauh seperti yang dia lakukan pada setiap target.


"Bunuh diri ternyata. Tapi anak panahku yang lebih dulu membunuhmu." Anjas menghentikan serangannya. . Dia kembali masuk ke lift dan kembali ke apartemen. Lalu tidur tanpa beban pikiran.



Paginya terdapat berita tentang seorang pria asing. Bunuh diri dengan melompat dari lantai 19 di sebuah hotel. Identitas pria itu tidak diketahui oleh pihak kepolisian. Karena diketahui bahwa pria itu memiliki paspor palsu.



Anjas mendengar isi berita di TV langsung melihat foto orang itu yang ditampilkan di layar TV. Beberapa menit kemudian Anjas menemukan identitas pria itu.



"Anggota Black Mamba. Apa sebenarnya tujuan mereka mengincar aku? Aku akan cari tahu dari dua gadis itu." pikir Anjas.



"Mas hari ini kau mau ke toko kan?" tanya Maryam yang baru saja keluar dari kamar.



Bersamaan Rahmi juga keluar dari kamar yang sama. Rahmi tidur bersama Maryam semalam.



"Iya. Aku ingin melihat keadaan toko milik pak Umar. Kemungkinan Dendi belum bisa ke toko. Kemarin aku sudah menyuruh Julia datang ke toko untuk membantu kak Yunita." jawab Anjas. Dia sudah siap dengan kemeja hitam dan celana jeans baru.



"Aku tidak akan merepotkan mereka lagi." ujar Maryam.



"Rahmi mau ke mana hari ini?" Maryam beralih ke Rahmi.



"Aku mau ke kampus, ada kelas jam 9." Rahmi menjawab dengan sedikit murung.



"Kau tidak perlu takut. Aku akan melindungi kau. Tenang saja." Anjas menenangkan Rahmi.



Lalu mereka sarapan dan memulai kegiatan sehari-hari. Anjas yang hari ini akan bertemu Luna untuk melihat perancangan dekorasi kafe. Segera meluncur ke Haery Building.