CHEL

CHEL
Bab 59



Sebenarnya jalan yang menjadi jalur balapan itu bukan jalur yang rawan macet. Tapi jalur yang tidak padat kendaraan mobil atau motor. Apa lagi ini masih pagi.


Dari jalan Mandara Permai VII. Mereka melaju hingga berkelok ke jalan Pantai Indah Utara 2. Lalu dua kali belok kiri lagi melewati jalan Mandara Permai dan jalan Pluit Karang Barat. Setelah itu berbelok lagi ke arah jalan Pluit Karang Utara.


Selama perjalanan itu Gabriel masih memimpin dan terus memacu mobilnya. Tidak membiarkan Anjas menyalip mobilnya sedikit pun. Beberapa mobil yang disalip mereka berdua juga sangat kaget dan menghindar. Ada yang sampai berhenti dan marah entah ke siapa.


Sementara itu Maya dijemput oleh temannya yang bernama Christy menggunakan mobil sport Audi R8 berwarna pink bis ungu. Mereka mengikuti jalur yang sama dengan jalur yang mereka sepakati sebelumnya.



"Siapa yang berani mengusik Gabriel?" tanya Christy.



"Tentunya bukan orang dari tim balap kita, Magnum. Dia orang luar yang menyenggol mobil sayangku. Agar tidak terjadi hal kekerasan aku mengusulkan untuk balapan saja. Jika orang itu menang dia kami lepaskan. Tapi kalau dia kalah..." jelas Maya menggantung.



"Kalau dia kalah apa yang terjadi?" Christy jadi penasaran.



"Yah dia harus membayar dua kali lipat biaya perbaikan mobil sayangku." jawab Maya santai.



"Wah bisa-bisanya kalian memanfaatkan hal itu. Pasti untuk menambah keuangan tim kan?" balas Christy menggeleng kepala. Maya pun hanya cengengesan.


Kembali ke Anjas dan Gabriel.


Hingga sampai di belokkan ke jalan Pluit Raya Timur. Anjas membuat Gabriel terperangah. Teknik drift tajam dan sedikit mengambil jalur berlawanan. Anjas berhasil menyalip Gabriel yang sudah merasa di atas angin.


Kini Anjas yang memimpin. Hal itu membuat Gabriel emosi dan berusaha kembali menyalip. Tapi tentu saja Anjas tidak membiarkannya begitu saja. Setiap kali Gabriel melihat kesempatan pasti Anjas bisa memblokir sisi yang ingin Gabriel ambil. Sehingga dia harus menghindari sisi itu dan mencari sisi lain.


Di belokkan kiri ke jalan Pluit Selatan Raya. Gabriel sempat menyalip. Tapi caranya kurang tepat sehingga Anjas kembali menyalip dan membuat Gabriel tertinggal jarak 3 mobil. Gabriel berusaha menyusul. Kembali memepet mobil Anjas. Mengikuti sisi jalan yang diambil Anjas juga.


Beberapa mobil yang dilewati mereka masih adakah yang kaget. Beberapa bahkan berniat mengejar seperti salah satu angkot tapi sayang itu tidak mungkin. Karena supir angkot itu masih sadar diri.


Kemudian melaju ke jalan Gedong Panjang. Selama jalan besar itu banyak sisi yang bisa diambil. Di sini mereka saling menyalip. Saling mengambil sisi yang memungkinkan bisa mereka ambil. Saking besarnya jalan itu banyak mobil yang ingin memacu kecepatan juga. Tapi terlihat sangat lambat ketika dua mobil yang sedang balap liar itu melewati mereka. Mobil-mobil yang ada terlihat diam dan dua mobil sport itu melaju diantara mereka jika melihat dari atas menggunakan drone.


Masih memacu lagi di jalan itu dan berbelok masuk ke jalan Tol Dalam Kota. Saat belokkan ini mendapat sedikit keberuntungan karena mendapat sisi yang sangat terbuka. Sehingga bisa menyalip mobil Anjas beberapa detik lebih cepat.


Sekarang Gabriel yang memimpin. Kali ini dia tidak mau kecolongan lagi. Biar pun jalan tol dia sudah menguasai jalan ini. Sudah sering kali dia balapan dan melewati tempat itu. Karena setelah itu jalur selanjutnya adalah akan masuk ke jalan Londa Raya.


Masuk di jalan itu kondisi mulai renggang kendaraan. Karena satu jalur saja. Sehingga Gabriel menambah kecepatan lagi hingga menyentuh 295 km/jam. Anjas tidak tinggal diam saja. Dia memepet mobil Gabriel menunggu kesempatan lagi.


"Jangan harap bisa mengalahkan aku Gabriel! salah satu Raja jalanan!" seru Gabriel melihat ke spion mobilnya. Juga tidak lupa mengeluarkan tangan kiri dan menunjukkan jari tengah.


Melihat hal itu Anjas tidak tersinggung. Dia tersenyum karena melihat kesombongan Gabriel.


"Jangan senang dulu yah anak muda." gumam Anjas tersenyum tapi dengan tatapan tajam. Wajah Anjas jika dibandingkan dengan Joker mungkin mirip tapi bedanya tidak memakai make-up.


Hingga saat melakukan drift yang sangat mulus dari keduanya. Pantat mobil Gabriel sedikit oleng dan membuat dia perlu mengganti porselen. Hal itu dilihat oleh Anjas dengan lincahnya dia menyalip dan berhasil memimpin posisi kembali.


Kesalahan kecil yang dilakukan Gabriel itu menjadi titik kekalahannya. Karena titik finis yang ditentukan sudah sangat dekat. Dari jalan melingkar itu mereka harus memasuki jalan kawasan Wisata Ancol dan titik tepatnya finis adalah McDonald's Pantai Ancol.


Di sana sudah berkumpul banyak mobil sport yang berjejer juga ada dua mobil yang menjadi garis finis nya. Yang ditandai oleh asap berwarna merah. Sangat ramai di tempat itu.


Dari kejauhan terlihatlah dua mobil yang sangat cepat mendekati tempat itu. Yang dipimpin oleh Lamborghini Aventador warna putih milik Anjas. Kedua mobil itu melaju dengan sangat sengit. Gabriel masih mencoba menyalip lagi. Tapi tidak diberikan kesempatan oleh Anjas sehingga mobil Gabriel tidak bisa menyalip.


Sampai pada akhirnya keduanya melewati asap merah. Kemenangan Anjas sudah ditentukan. Banyak sorakan dari orang-orang yang berkumpul di tempat itu.


Ada yang terkejut, ada pula yang menganga mulutnya. Tidak menyangka salah satu Raja jalanan dari tiga raja dikalahkan oleh orang asing yang mereka tidak kenal.


"Siapa orang itu yang bisa mengalahkan si Gabriel?" tanya Vinsen yang menjadi wasit di finis. Dia melihat ke mobil Anjas yang sudah berbalik arah ke kerumunan mobil sport. Begitu juga dengan Gabriel.


Saat dihampiri oleh Vinsen Anjas langsung keluar dari mobil. Vinsen mengulurkan tangannya.


"Selamat bro kau berhasil mengalahkan Gabriel si Kapas. Aku Vinsen dari tim balap Car Center" ucap Vinsen.


Membalas uluran tangan Anjas membalas perkataan Vinsen. "Aku hanya ingin berdamai. Tapi dia memaksa untuk melakukan balapan. Aku tidak biasa dengan ini." ujar Anjas sambil bersandar pada mobilnya.


"Gila si Gabriel kalah sama orang asing, kau sungguh hebat." ujar seorang di samping Vinsen. Dia bernama Gilang.


Sementara Gabriel yang malu. Dia belum keluar dari mobil. Reputasinya sebagai Raja Jalanan tercoreng oleh kekalahan yang dia alami sekarang.


Tiga pria mendekati mobil Gabriel. Mengetuk kaca mobil. Tuk tuk tuk. Segera dibuka olehnya.


"Bagaimana bisa ketua kalah dari orang itu?" tanya Kilan.


"Aku sedikit oleng di bundaran sebelumnya. Lalu dia mengambil kesempatan itu. Ahhhggg ini memuakkan! Sial!" jelas Gabriel tapi setelah itu menggerutu kesal.


Semenit kemudian mobil Christy datang. Maya langsung keluar dari mobil dan berjalan ke mobil Gabriel. Ingin mengetahui hasil dari balapan.


"Jadi dengan kekalahan ini posisimu sebagai Raja Jalanan direbut olehnya sekarang?" tanya Tigo yang di sebelah kanan Kilan.


"Otomatis iya." suara dari Vinsen terdengar. Ternyata dia juga menghampiri mobil Gabriel juga.


"Diam kau Vinsen!" seru Maya kesal mendengar kekalahan pacarnya.


Anjas sudah menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Gabriel. Sehingga Vinsen akan menjadi penengah mereka.


"Aku hanya mengatakan faktanya." Vinsen mendekati Gabriel yang sudah keluar dari mobil.


"Dia sudah jelaskan. Sesuai kesepakatan. Dia bebas pergi. Tapi terserah kalian ingin mengatakan apa. Dia sudah menggantikan posisimu sebagai Raja Jalanan wilayah Utara." ujar Vinsen dengan serius.


Hal yang dikatakan oleh Vinsen benar adanya. Kabar kekalahan Gabriel langsung menyebar keseluruhan wilayah Jakarta. Dengan topik yang tertulis jelas. Gabriel si Raja Jalanan dikalahkan oleh orang asing.


Vinsen kembali ke Anjas. Lalu memberikan informasi tentang balap liar yang dilakukan oleh beberapa tim.


Namun Anjas tidak tertarik untuk menggunakan title sebagai Raja Jalanan baru. Sekarang dia ingin pergi karena dia sudah terlambat dengan janjinya. Vinsen dan Anjas hanya saling bertukar kontak. Lalu melanjutkan apa yang tertunda tadi Anjas segera pergi menuju Haery Building miliknya.