
"Kenapa? Apakah aku harus membuktikan bahwa aku bisa?" sambut Anjas yang sedikit terenyuh melihat sikap pak Zainal.
"Aku sudah mencoba berbagai cara untuk bisa sembuh. Bahkan sudah banyak pula Herbalis seperti kau yang aku kunjungi. Tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Jadi saat ini aku sudah ikhlas dengan sisa waktu ini." jawab pak Zainal.
Ada nada bergetar saat kata-kata itu keluar dari mulut pak Zainal. Dia seperti sudah pasrah dengan keadaan dirinya saat ini. Dia sudah tidak percaya bahwa masih ada jalan untuk sembuh.
Tanpa pikir panjang dan berkata apapun. Anjas mengambil pil Penguat Sumsum Tulang dan ramuan Kesehatan. Dua hal itu langsung diberikan pada pak Zainal.
"Cobalah dua obat ini. Kalau dalam setelah hari kau belum bisa berjalan aku akan pergi." ujar Anjas tegas dan berani.
"Guru cobalah dulu obat ini." Alin pun tidak bisa diam saja. Dia juga ikut membujuk.
"Aku sudah tidak ada harapan. Tidak usah mengasihani aku." sahut pak Zainal.
"Ayah.!" Alin pun bersuara dengan nada agak tinggi. Hampir membentak.
Pak Zainal pun hanya terdiam. Alin mengambil pil Penguat Sumsum Tulang dan ramuan Kesehatan dari tangan Anjas dan memberikannya pada pak Zainal.
"Jika dia berbohong aku yang akan membunuhnya. Jadi ayo minum obat ini." lanjut Alin.
Jadilah dengan sedikit terpaksa karena permintaan anaknya. Pak Zainal pun meminum kedua benda yang Anjas peroleh dari Shop sistem itu.
Sambil menunggu khasiat pil dan ramuan yang diberikan Anjas. Alin mengajaknya berkeliling padepokan Macan Putih.
Luas tanah padepokan itu terbilang cukup besar. Mencapai 50 hektar. Tapi hanya di isi dengan bangunan rumah Pak Zainal, 3 bangunan asrama, 2 gudang, 1 bangunan khusus untuk para murid berkumpul dan ruang rapat para guru padepokan. Juga satu bangunan yang juga dikhususkan untuk tempat kerajinan seperti guci, piring, baskom dan perabot rumah tangga yang terbuat dari keramik.
Sisa dari luas tanah padepokan adalah kebun singkong dan pisang. Juga ada beberapa tanaman rempah dan herbal yang ditempatkan pada samping gudang. Ruang tamu yang Anjas datangi tadi satu bangunan dengan asrama.
Semua itu Anjas ketahui melalui proses scanning area dan bangunan. Salah satu kemampuan sistem yang terbuka saat level 3.
Pada saat ini Anjas berada di sekitar asrama dan menjadi pusat perhatian para murid yang sedang beraktivitas. Sore itu banyak murid yang masih berlatih. Juga ada murid yang sedang membersihkan area asrama. Sepanjang perjalanan menuju asrama di mana Dendi dirawat. Alin tidak melewati jalan yang sama seperti pergi ke rumah Pak Zainal.
Saat ditanya kenapa. Alin hanya menjawab. Agar bisa membaur dengan para murid. Dia tidak memberi batasan para murid dan guru.
Seorang wanita berusia 30 tahun sedang berjalan ke arah mereka menyapa Alin dan Anjas. Wanita itu memiliki aura energi alam berwarna hijau daun.
"Selamat sore guru Alin. Siapakah pemuda yang bersamamu?" salam sekaligus tanya si wanita itu. Suara yang lembut membuat siapa saja akan luluh.
"Guru Nur Wulan, perkenalkan ini Anjas Rahadi. Guru dari pemuda Dendi yang empat hari lalu datang. Dia juga adalah Ahli Beladiri Tenaga Dalam dan Herbalis seperti dirimu." jawab Alin dengan suara lembut juga.
"Selamat sore guru Anjas. Apakah anda datang untuk menjemput adik Dendi?" tanya Nur Wulan pada Anjas.
Baru saja Anjas ingin menjawab. Alin sudah mendahului menjawab.
"Anjas datang bukan hanya menjemput Dendi. Tapi dia juga ingin mengobati penyakit Guru besar." jawab Alin.
"Percuma saja guru Anjas ingin menyembuhkan Guru Besar. Dia tidak akan menerima bantuan darimu atau siapapun. Aku juga sudah berusaha. Tapi kanker ini berbeda. Dia berasal dari luka dalam lama Guru Besar saat perang dulu melawan Jepang. Ditambah dia sudah menyerah untuk berobat lagi." jelas Nur Wulan tentang keadaan Pak Zainal.
"Aku sudah tau tentang apa yang guru Nur Wulan katakan. Tadi aku sudah memberikan obat padanya untuk menyembuhkan patah tulang punggungnya. Jika dia tidak sembuh dalam waktu setengah hari. Kalian bisa menghukum aku. Tapi jika dia sembuh. Mungkin dia sendiri yang akan datang meminta bantuan padaku." kali ini Anjas langsung menjawab cepat.
Mendengar pernyataan Anjas. Alin dan Nur Wulan hanya bisa menghela nafas panjang. Berharap keajaiban terjadi pada Guru Besar mereka.
"Aku akan pegang kata-katamu anak muda." suara dari belakang membuat mereka menoleh.
Pemilik suara itu adalah pria paruh baya yang berusia 56 tahun. Lebih tua dari ayahnya. Tapi aura energi alam yang terlihat berwarna biru pekat.
"Guru Rizal. Saya kira kau sedang meditasi sekarang. Kenapa kau keluar?" tanya Nur Wulan heran. Kenapa salah satu rekan guru seperguruannya itu sudah berhenti meditasi.
Padahal baru 3 hari dia melakukan meditasi. Tidak seperti biasanya yang bisa sampai 8 atau 10 hari.
[Meditasi dan bertapa adalah dua hal yang mirip tapi berbeda. Bertapa adalah kegiatan yang dilakukan seseorang yang mencari ilmu gaib dari alam yang mana bisa bertahun-tahun. Sedangkan meditasi kegiatan seseorang untuk menenangkan diri dari hawa nafsu dan amarah. Tidak memerlukan waktu lama paling lama sebulan.] jelas sistem saat Anjas berpikir bahwa kedua hal itu adalah sama.
Tidak menjawab pertanyaan Nur Wulan sama sekali. Guru Rizal melanjutkan perkataannya.
"Jika kau hanya menipu kami aku sendiri yang akan menghukum kamu." kata guru Rizal dengan tatapan dingin.
Tatapan Anjas dan guru Rizal saling bertemu. Jika dilihat oleh orang awam mereka hanya seperti saling tatap biasa. Tapi jika yang melihat mereka adalah ahli beladiri tenaga dalam. Maka yang dilihat adalah mereka berdua saling memancarkan aura masing-masing.
Alin dan Nur Wulan bisa melihat aura alam berwarna merah seperti api yang besar keluar dari tubuh Anjas. Sedangkan aura biru tua yang pekat seperti kedalam laut dari guru Rizal. Wuuuuuusssszzzz.
"Kau bisa percaya padaku. Aku akan jamin semuanya akan baik-baik saja guru Rizal. Jadi jangan membuat suasana menjadi panas." Alin pun menegur mereka.
Karena aura mereka menyebabkan terjadinya perubahan suhu udara menjadi panas dan mencekam di sekitar mereka. Apalagi aura milik Anjas yang memang seperti api.
"Maafkan aku Alin. Kalau begitu kita akan tunggu hasilnya." setelah berkata begitu suasana menjadi kembali tenang.
"Guru Anjas mari aku antar ke kamar khusus tamu." ajak Alin.
Mereka berdua pun berpisah dengan kedua guru padepokan itu. Anjas memang ingin menginap di tempat itu. Agar dia bisa melihat hasil dari kedua obat penyembuh ajaib itu.
Sementara itu. Pak Zainal yang sedang berbaring. Tiba-tiba merasakan kesakitan pada tulang punggungnya. Tulang dan ototnya seperti bergerak.
"Aaahrrhhh!" karena tidak bisa menahan sakit. Pak Zainal sedikit mengerang namun seperti tertahan.