
Anjas pergi ke kantor Polres Jakarta Barat. Dengan maksud bertemu tahanan sementara yang bernama Jakson Geraldo. Anjas di bawa ke ruang temu.
Melihat orang yang membuat dia dipenjara dan mengaku atas kejadian tabrak lari. Jakson sungguh ketakutan. Dengan gugup dan hati-hati. Jakson duduk di bangku depan Anjas. Mereka hanya dipisahkan dengan meja.
"Aku datang kemari hanya ingin bertanya. Siapa orang yang bersama kau saat kejadian tabrak lari itu?" tanya Anjas dengan dingin.
"A.. apa maksudmu?" Jakson menjadi tambah tegang mendengar pertanyaan Anjas. Hal itu dikarenakan hanya dia yang tahu ada orang lain di mobilnya saat itu.
"Jangan berkelit. Kau kira aku takut menghajar kau di sini? Cepat katakan." Anjas mendesak.
"Aku... aku takut untuk mengatakannya." Jakson masih bersikeras untuk menutupi hal itu.
"Kesempatan terakhir. Siapa orang itu?" Anjas bertanya lagi. Tapi kali ini dia sudah mengepalkan tangannya.
Tapi Jakson masih diam. Lalu Anjas berdiri. Dia berjalan ke samping kanan Jakson. Tanpa diduga oleh Jakson. Anjas dengan cepat mencekik leher Jakson. Dengan satu tangan Anjas mengangkat tubuh Jakson.
"Kau memang harus dibuat sakit lagi." ujar Anjas dengan tatapan tajam ke Jakson.
Jakson yang mulai kehabisan nafas. Langsung mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia katakan.
"Uuuuhhh.. aaaa... aku katakan... aku katakan... dia.. dia... adalah anak dari keluarga Arlando... Vino Arlando... gedebuk!" setelah Anjas mendengar jawaban Jakson. Dia sudah tahu siapa orang yang harus dia tangkap. Vino Arlando orang yang dulu membuli dirinya waktu SMA.
"Akhirnya ada alasan aku bisa membuat perhitungan dengan orang itu. Kau akan mendapatkan balasannya Vino Arlando." gumam Anjas. Lalu dia pergi meninggalkan Jakson yang masih tersengal-sengal mencari nafas.
Meninggalkan kantor polisi. Anjas sekarang menuju ke markas geng The FALCON. Niatnya dia ingin mengambil laptop dan peralatan lainnya. Juga menengok keluarganya juga.
Di tempat lain. Di luar Indonesia. Tepatnya di Makao. Kong yang sedang marah karena sudah dua orang anak buah terbaiknya gagal dalam melakukan tugas. Sehingga dia mendapat komplain dari Han.
Saat melewati sebuah ruangan. Dia mengingat bahwa dia memiliki bawahan yang ahli dalam menembak jitu. Yang biasa dipanggil dengan nama Pasom. Pasom adalah seorang pria berusia 30 tahun. Dia pensiun dari dunia militer dan bergabung ke dalam organisasi Black Mamba karena ingin membalas dendam kepada militer yang telah mengkhianatinya. Terkhusus militer di Myanmar.
Kong menghampiri ruangan Pasom. Didapati Pasom sedang membersihkan sebuah senapan angin.
"Pasom! Apa kau sibuk?" tanya Kong menyapa
"Tidak bos. Ada apa bos? Apa ada tugas?" balas Pasom sedang meletakkan senapan angin kesayangannya itu.
"Ada. Kau harus membunuh tiga target kali ini. Di negara yang sama yang ada di Asia tenggara. Ini data diri target utama. Lalu target yang lain adalah si Yana dan si Chan Bee. Mereka gagal melakukan tugasnya. Jadi kau dipilih untuk mengeksekusi mereka." jelas Kong. Dia memberikan sebuah map berwarna hitam yang mana di dalamnya adalah data diri Anjas.
"Dengan senang hati akan aku lakukan. Kalau begitu aku permisi bos." Pasom mengambil map tersebut lalu pergi mempersiapkan diri.
Saat hendak keluar Anjas teringat dengan Chan Bee yang dia sekap di ruangan kecil belakang markas. Lalu dia menyuruh Opan yang mengetahui hal itu. Untuk membawa Chan Bee ke rumah sakit untuk dirawat. Karena dia akan melindungi dua orang lagi dalam listnya. Yaitu Yana dan Chan Bee.
Bersama Opan dia mendatangi Chan Bee yang masih tergeletak lemah dan pingsan di tempat yang mungkin terlihat angker itu. Dengan bantuan Opan. Anjas membawa wanita itu ke dalam mobil dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Setelah ditangani oleh dokter Chan Bee mulai sadar. Dia heran kenapa dia sudah ada di tempat yang berbeda.
"Bagus kau sadar. Aku sudah menemukan di mana Yana berada. Aku membuat kesepakatan dengan Yana untuk menjaga dia dan kau." suara Anjas terdengar.
Chan Bee masih diam. Bukan karena perkataan Anjas tentang kesepakatan. Tapi saat ini jarak wajah Anjas dengannya hanya sejengkal saja.
Entah insting atau bukan. Tapi saat ini Chan Bee sedang gugup melihat wajah Anjas yang begitu dekat.
"Hei... apa kau dengar?" tanya Anjas.
Lalu Anjas menjauhkan wajahnya. Hal itu membuat Chan Bee seperti mendapat nafas sebentar.
"Baiklah kalau kau tidak mau bicara. Aku pergi dulu. Kau akan dirawat di rumah sakit ini. Nanti akan ada anak buahku yang menjagamu." kata Anjas pun pergi.
Dari rumah sakit. Anjas kembali ke apartemen miliknya. Sesampainya di apartemen. Dia disambut Maryam yang baru habis mandi. Meletakkan laptop di dalam kamarnya Lalu menyalakan laptop itu. Menghubungkan ke WiFi yang ada di apartemen.
"Kali ini aku harus mencari orang yang aku benci dulu." gumam Anjas.
Lalu dengan Watchdog Eye dia mencari Vino menggunakan foto yang dia ambil dari Facebook Vino.
Tidak berselang lama. Keberadaan Vino pun terdeteksi dan layar laptopnya sudah menunjukkan lokasi tepatnya. Sekarang Vino sedang berada di sebuah hotel di kota Surabaya. Sama seperti Rahmi data lengkap milik Vino didapatkan dengan mudah oleh tools miliknya itu.
Saat membaca data diri Vino yang sekarang. Anjas tertarik untuk melakukan hal yang dulu sering dikatakan Vino padanya.
"Dia belum menjadi direktur utama seperti yang dia katakan dulu. Dia masih menjadi manajer di perusahaan ayahnya sendiri. Sekarang perusahaan itu sedang di ambang kebangkrutan. Jika mereka tidak dibantu dengan keuangan yang memadai. Sedangkan hotel yang mereka miliki terpaksa harus dijual. Itupun hanya untuk menutupi bunganya saja. Vino yang sial." Anjas bergumam sendirian. Tanpa sadar ada yang mendengar di belakang.
"Mas perusahaan siapa yang mau bangkrut?" tanya Maryam. Dia masuk ke kamar Anjas untuk memberikan kopi susu buatannya.
"Ah sayang. Ada apa? Kok tidak ketuk pintu dulu?" ujar Anjas mengelak.
"Aduh mas maaf. Aku mau kasih kopi untuk mas. Kelihatan sekali mas lagi banyak kerjaan. Jadi aku hanya bisa buat mas tidak tegang karena kerja terus." jelas Maryam menaruh secangkir kopi susu di meja dekat laptop.
"Terima kasih sayangku. Ah tidak ini aku baru dapat kabar. Bahwa teman SMA aku perusahaan milik ayahnya akan bangkrut jika tidak membayar hutang yang ke bank. Jika dalam dua bulan mereka tidak membayar maka perusahaan itu beserta aset dari pemilik perusahaan akan disita dan dilelang bank." jelas Anjas agar Maryam tidak bertanya lagi. Anjas memeluk Maryam masih dalam duduknya. Dia masih kangen dengan belaian kasih sayang Maryam.
"Oh. Aku cukup prihatin. Tapi itu kan memang tanggung jawab mereka. Mereka mungkin melakukan kesalahan pada perhitungan keuangan. Lalu mereka mengambil salah jalan. Sehingga perusahaan itu terjerat hutang piutang itu. Kemungkinan besar itu salah dari manajemennya." Maryam memberi sedikit penjelasan tentang sudut pandangnya.
"Oh iya bagaimana kabar ayah kamu? Dia sudah bebas kan?" tanya Anjas mengalihkan topik.
"Iya sayang. Syukurlah ayahku bisa bebas. Semua berita itu hanya kabar burung. Mereka menyalakan ayahku dikarenakan dia sedang di dekat sumber api. Padahal dia sedang berusaha memadamkan api itu." jawab Maryam. Dia terlihat bahagia karena masalahnya terselesaikan.
"Mungkin ada orang yang menjebak ayahmu. Tapi yang penting kau tidak sedih lagi." sambut Anjas. Semakin erat memeluk Maryam.
Sedikit berbincang dengan Maryam. Kemudian Anjas mengajak Maryam keluar untuk jalan-jalan ke Mall Ciputra. Juga mengajak Rahmi. Yang mana Anjas akan membelikan beberapa pakaian untuk Rahmi. Karena saat mereka pergi dari kost Rahmi tidak sempat membawa baju.