CHEL

CHEL
Bab 49



Pertarungan dua lawan dua pun dimulai. Dion vs Ciko dan Justin vs Idon. Walaupun tubuh Ciko lebih pendek dari Dion, tapi masih bisa mengimbangi Dion. Pukulan Dion masih bisa dihindari Ciko beberapa. Sedangkan Justin terus menggempur pertahanan Idon. Sementara Sube menelpon temannya yang ada di lantai 4. Memberitahu bahwa 3 orang lolos naik ke atas.


Bergeser ke posisi Anjas, Beno dan Jordan. Mereka yang sudah sampai di lantai 3 tidak menghentikan langkahnya. Mereka langsung menyerang kawanan orang yang ada di lantai itu. Walaupun area lantai tiga sedikit sempit karena ada kantor sebuah perusahaan dari sebuah aplikasi menulis. Jadi ada banyak komputer di sana. Tidak membuat mereka berhenti menggempur dan melawan satu persatu dari kawanan itu. Hingga mereka terkapar semua di lantai. Semua orang yang ada di lantai 3 hanyalah para kroco lemah. Meski ada dari orang-orang keluarga Ajisaka mereka tidak berdaya menghadapi tiga orang yang menguasai beladiri.


Karena melihat suasana masih gelap mereka merasa Justin dan Dion belum berhasil mendapatkan tuas tersebut. Tanpa menunggu lagi mereka langsung menaiki tangga menuju lantai 4.


Sampai di lantai 4 yang juga kantor sebuah perusahaan. Lupa perusahaan apa. Keadaan di lantai 4 hampir sama dengan lantai 3. Namun kali ini kawanan anak buahnya Herino mendominasi. Juga ada satu orang yang Anjas dan Beno kenal. Orang itu adalah Miguel yang pernah mencegat mereka di jalan waktu lalu. Di sebelahnya juga ada seseorang mengenakan jas hitam rapi yang sedang merokok. Dia biasa dipanggil Ungke karena dia berkulit sedikit gelap dan anak rantau dari Siau. Ungke sudah berusia 29 tahun.


Ungke memiliki tinggi badan 181 cm dan berat otot 85 kg. Sejak dia kerja di keluarga Ajisaka dia melatih otot dan tubuhnya hingga kekar. Juga berlatih beladirinya Jujitsu.


Miguel melihat tiga orang naik ke lantai yang dia jaga. Segera menyuruh kawanannya bersiap. Tapi dia kaget melihat siapa yang datang.


"Jadi kalian yang diincar oleh bosku? Hahahaha sungguh malang. Tapi ini adalah perintah. Kalian semua hajar mereka bertiga!" teriak Miguel yang menatap Anjas dan Beno dengan perasaan dendam. Miguel berpikir bahwa tidak mungkin mereka bisa mengalahkan enam puluh orang yang ada di lantai 4 itu.


"Haaaaa!!!" seru para bawahan menyerang setelah menerima perintah.


Tapi masih sama dengan di lantai-lantai sebelumnya mereka bertiga mampu menghadapi kawanan orang yang banyak sekali pun. Mulai satu persatu dari mereka tumbang. Apalagi yang langsung menghadapi Anjas. Mereka tidak berdaya saat pukulan dan tendangan Anjas hinggap di tubuh mereka. Kalau tidak pingsan ada yang mengerang kesakitan atau sesak nafas merasa baru saja tertimpa dua karung beras 60 kg. Sementara Anjas belum kena konter sama sekali. Masih mulus dan bertenaga.


Berbeda dengan Beno dan Jordan. Mereka sudah mulai ngos-ngosan seperti ikan yang ada di darat mencari nafas sendiri.


Hingga sekarang sudah lebih dari setengah dari kawanan itu tumbang. Melihat itu Miguel tidak mau tinggal diam.


"Ungke panggil semua orang yang ada di lantai 5 suruh mereka membantu di lantai 4. Cepat!" perintah Miguel sedikit membentak.


Ungke hanya diam dan segera menelepon salah seorang yang ada di lantai 5. "Segera turun ke lantai 4 bantu kami di sini." ujar Ungke pada orang itu.


Miguel yang tidak tahan melihat mereka akan kalah. Miguel langsung maju menerjang dengan tendangan ke arah Beno yang baru saja menjatuhkan dua orang ke lantai. Karena kurang waspada akibat kelelahan Beno terkena tendangan dari Miguel. Yang memang Beno agak terpisah dari Anjas dan Jordan.


"Uuuhhk!" Beno sedikit oleng tapi masih bisa berdiri.


"Miguel ternyata kau belum paham dengan peringatan aku katakan waktu itu." ujar Beno maju ingin membalas serangan Miguel.


"Kau yang tidak mengerti dengan keadaanmu sekarang!" balas Miguel juga maju menyerang lagi.


Sebenarnya Miguel ada satu saudara seperguruan pencak silat Melayu bersama Beno. Tapi guru mereka hanya memperhatikan Beno yang memang berbakat. Hal itu membuat Miguel geram dan keluar dari perguruan silat itu. Lalu bergabung dengan geng Revon.


Beno vs Miguel pun dimulai. Miguel ternyata masih bisa mengimbangi teknik Beno. Beno juga terlihat beberapa kali mendapat pukulan telak dari Miguel tapi dibalas juga.


Sementara Anjas dan Jordan masih menghajar beberapa orang lagi. Ungke sedikit tercengang melihat dua orang pemuda yang bisa mengalahkan para bawahannya. Lalu melihat ke arah tangga dan tersenyum.


"Sepertinya mereka akan tertahan lebih lama lagi." gumam Ungke.


Dari tangga menuju lantai 5 sudah ada banyak kawanan orang yang baru saja turun. Walaupun jumlah mereka hanya empat puluh orang tapi Ungke merasa itu cukup untuk membuat mereka lelah. Biar bisa mudah untuk diserang secara mendadak.


"Itu mereka serang!" tambahan orang yang baru datang langsung menyerang Anjas dan Jordan.


"Para bajingan ini tidak ada habisnya... hah!" Jordan langsung menerjang orang yang mendekatinya.


Anjas tidak peduli dengan jumlah yang datang. Dia terus menghajar orang yang menghalangi mereka. "Buk bak bik bek bok!!" suara itu yang paling sering didengar di lantai 4 itu.


Beberapa meja menjadi tempat singgah orang pingsan sekarang karena serangan Anjas. Sehingga beberapa meja rusak dan hancur. Anjas berpikir itu bisa diperbaiki atau dibeli lagi. Jadi tidak masalah.


Dari empat puluh orang sekarang sudah tinggal sembilan belas orang tersisa. Tapi serangan sudah berhenti karena mereka sudah melihat bagaimana teman mereka tumbang dan tidak bisa bangkit lagi karena satu kena pukulan Anjas.


Hal itu membuat Ungke maju. Dia ingin menjajal kemampuan Anjas yang bisa membuat seseorang tersungkur pingsan dengan satu pukulan saja.


"Kau rupanya memiliki kemampuan bertarung yang gila. Aku jadi penasaran." ujar Ungke maju menyingkirkan bawahannya agar dia bisa lewat.


"Semoga kau mampu." balas Anjas.


"Huh sombong sekali. Hiat!" Ungke pun maju.


"Jor aku serahkan sisanya padamu." ucap Anjas sambil maju menyambut serangan Ungke.


"Hah?" Jordan heran dan bingung.


Sementara itu di lantai 2. Justin baru saja membuat Idon jatuh tersungkur di kolong meja. Juga Dion yang membuat Ciko babak belur dipukuli berkali-kali. Melihat kedua temannya tumbang Sube ingin kabur ke lantai atas tapi dihentikan oleh Justin. Tinju kuat dan telak Justin kena di ulu hati Sube membuat dia berlutut kesakitan. Dion langsung mengambil benda yang dia perlukan untuk menghidupkan kembali listrik gedung. Setelah beberapa saat listrik pun menyala.



Setelah itu Justin sedikit memberi pelajaran kepada Sube. Biarpun dia sudah sangat kelelahan setelah menghadapi Idon tadi. Sube pun pingsan di lantai.



Justin dan Dion tidak langsung naik ke lantai berikutnya. Mereka beristirahat sejenak di lantai.



"Mereka pasti masih bisa bertahan." gumam Justin yang duduk di salah satu sofa di sana. Menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. "Fuuuhh.." dihembuskan asap rokok itu.


Kembali ke lantai 4. Beno yang sedang bertarung dengan Miguel. Ternyata mendapat cela untuk merobohkan lawannya. Beno menggunakan jurus yang belum pernah dipelajari oleh Miguel. Karena Miguel sudah keluar saat Beno mempelajari ilmu itu.


"Brakk!" suara jatuh yang sangat keras. Sebuah meja rusak parah karena tertimpa sesuatu yang berat dan kencang.


Itu adalah Ungke yang baru saja dibuat melayang dan jatuh di atas meja hingga rusak itu. Kalau melihat postur tubuh antara Anjas dan Ungke. Masih Ungke yang lebih baik. Tapi kenyataannya tidak menyatakan setuju.


"Uhuk! Kau siapa sebenarnya? Kau memiliki kekuatan yang sangat besar!" tanya Ungke di merasa tulangnya remuk di beberapa bagian.