
~Bunga Liar: Astaga Beru saja dibicarakan orangnya sudah masuk ke forum ini.
~Bintang Laut: Apa mau mu hah? Kau tidak seharusnya di sini!
~Dewa Pedang: Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin menyapa.
~Dewa Pedang: Kalau begitu aku pergi
_Dewa Pedang keluar dari grup._
~Pangeran Malam: Orang ini bisa masuk tanpa diketahui oleh kita. Sungguh orang yang berbahaya. Jangan singgung orang itu. Dia sekarang mungkin sudah tahu identitas kita.
~Bunga Liar: Aku Hiatus dulu untuk beberapa bulan.
_Bunga Liar keluar dari grup._
~Bintang Laut: Apa perlu dilaporkan pada ketua?
~Sang Perkasa: Apa tidak bisa kita melawannya? Sepertinya dia hanya sendirian.
~Topeng Merah: Apa kau bodoh atau tidak tahu situasi? Dia dengan gampang masuk ke forum chatting ini tanpa diketahui dan persetujuan dari kita. Kau mau kita diincar oleh Cybercrime Internasional? Aku lebih memilih untuk melapor ke ketua.
~Pangeran Malam: Baiklah kita sudahi forum ini. Aku akan segera menghubungi ketua.
_Grup chat ditutup._
Beralih ke Anjas sekarang. Dia bukan hanya mengirimkan satu video saja. Sekarang dia sudah mengirimkan 10 video tentang kejahatan keluarga Ajisaka. Seperti gembong narkoba, pelecehan seksual, penyalur PSK, penggusuran tanpa izin dan penganiayaan.
Mereka tutupi semua itu dengan menyuap seorang perwira polisi berpangkat mayor. Juga menyewa pengacara yang cukup terkenal.
Mereka tidak memiliki bekingan dari pejabat daerah ataupun setempat. Semua kejahatan yang dilakukan dengan maksud memperluas jaringan dan bisnis terkhusus narkoba.
Dengan berkedok perusahaan farmasi dan makanan. Mereka melakukan bisnis ilegal dibelakangnya.
Semua data orang-orang dan organisasi yang bekerja sama dengan mereka sudah Anjas dapatkan. Bahkan nama lengkap semua anggota keluarga Ajisaka dan bisnis kecil-kecilan mereka juga sudah disimpan Anjas dalam Hardisk eksternal.
Setelah membuat keadaan dunia maya menjadi gempar. Anjas mengirimkan pesan pada perusahaan Megacitra Ajisaka. Pesan itu langsung dikirim pada pemimpin perusahaan Megacitra Ajisaka itu sendiri.
Dua hal penting yang dicantumkan dalam pesan itu. Yang pertama Anjas akan menghancurkan semua bisnis yang dijalankan oleh keluarga Ajisaka. Yang kedua Anjas akan melenyapkan satu persatu anggota keluarga Ajisaka. Ini bukan ancaman tapi deklarasi perang.
Tidak lupa juga Anjas sudah membuat nilai saham perusahaan itu turun secara drastis seperti orang yang terjun payung tanpa payungnya. Hingga ke titik paling rendah yaitu 0,002%. Hingga tidak bisa diandalkan lagi untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari situ.
Anjas belum mau terjun ke dunia saham. Karena dia masih harus fokus ke misi saat ini. Jadi dia tidak mau teralihkan perhatiannya.
Setelah itu Anjas mengakhiri semua pekerjaan yang baru saja dia lakukan. Tidak lupa dia memasukkan beberapa tools dan software miliknya dari laptop ke HP nya. Juga beberapa data dari keluarga Ajisaka dan relasinya. Setelah itu memutuskan hubungan jaringan dan mematikan laptop.
"Baiklah. Segini dulu hari ini. Aku akan memulai dengan melenyapkan satu orang ini." ujar Anjas sambil melihat foto Herino pada galeri foto HP nya.
Saat melihat jam tangannya. Sudah hampir setengah tiga sore.
Sementara di sebuah gedung berlantai 30. Tepatnya di perusahaan Megacitra Ajisaka. Seorang lelaki tua berusia 79 tahun yang sedang duduk di sofa ruang kerja miliknya. Walaupun usianya sudah sangat tua. Tapi tubuhnya masih terlihat kekar dan berotot. Walaupun ditutupi oleh jas hitam mahal yang mengikuti bentuk tubuhnya.
Dengan tinggi 179 cm, dia memiliki perawakan sangar dan tidak bersahabat. Di wajahnya juga terlihat beberapa bekas luka yang mungkin cukup parah. Di bagian pelipis dan hidup. Dia adalah Fedrian Ajisaka kepala keluarga Ajisaka sekaligus masih menjabat sebagai direktur utama di Megacitra Ajisaka.
Dia tidak sendirian. Di sana ada juga seorang pria setengah baya berusia 50 tahun yang berdiri di belakang sofa yang dia duduki.
"Jarot. Siapa yang berani melakukan hal ini? Apa kau sudah menyelidiki orangnya?" tanya Fedrian pada tangan kanannya. Fedrian masih melihat ke HP mahalnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Fedrian sedang melihat salah satu video yang tersebar di media sosial hari ini. Video itu memperlihatkan dimana tempat pembuatan Narkoba yang disembunyikan oleh keluarga Ajisaka sekarang.
"Semua orang di bidang IT di perusahaan kita sudah mengerahkan seluruh kemampuan anggota mereka. Tapi hasil yang diperoleh mereka tidak bisa menemukan siapa orang itu dan bahkan posisinya saja tidak terlacak." jawab Jarot dengan mata tertutup sebelah. Bukan karena dia tidak mau membuka mata kirinya. Tapi memang sudah tidak bisa dipakai alias buta.
"KURANG AJAR!! Sudah lebih dari 15 tahun tidak ada berani melawan Keluarga Ajisaka. Tapi sekarang ada semut rangrang yang ingin mengganggu.!!" Fedrian sangat ingin mengamuk tapi dia hanya akan menghabiskan tenaganya saja. Jadi dia hanya marah-marah di ruangan itu.
Segera Jarot melakukan tugasnya. Sementara Fedrian berdiri dari sofa dan keluar dari ruangan yang diikuti oleh Jarot.
Kembali lagi ke Anjas. Anjas baru saja selesai mandi dan ganti pakaian. Dengan penampilan rapi dia ingin bertemu dengan Rahmi yang telah dia hubungi tadi siang. Sekarang sudah pukul 3 tepat.
Segera dia berangkat ke restoran yang sudah dijanjikan. Hanya perlu 25 menit untuk sampai ke restoran Bale Dahar. Tapi karena sedikit macet. Anjas terlambat 5 menit dari waktu yang dijanjikan.
Saat sampai Anjas segera masuk ke restoran. Memerhatikan sebentar. Anjas menemukan seorang gadis yang lumayan cantik. Tentunya itu adalah Rahmi yang sudah dikenal wajahnya oleh Anjas.
Anjas menghampiri meja dengan dua kursi yang berhadapan itu. Dia langsung duduk dan bertanya.
"Rahmi. Sudah lama menunggu?" sapa Anjas sambil bertanya.
"Belum lama." jawab Rahmi singkat.
Tapi Anjas melihat sudah ada minuman di atas meja. Jus strawberry yang sudah berkurang sedikit. Menjadi tanda Rahmi datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan.
"Oke. Langsung saja. Aku ingin melihat rekaman video yang kau miliki. Saat kecelakaan itu terjadi." ujar Anjas tanpa basa-basi lagi.
"Juga ingin kau menjadi saksi dalam kasus ini." sambung Anjas lagi.
Rahmi masih terdiam. Dia belum menanggapi permintaan Anjas. Dia masih takut.
"Apa yang kau takutkan? Apa kau sudah tahu siapa orang itu dan diancam olehnya?" tanya Anjas.
Sekarang Anjas sedang mengaktifkan deteksi kebohongan dengan ekspresi wajah. Sehingga Anjas mengetahui bahwa Rahmi sedang menutupi sesuatu dan sedang mencari alasan.
"Rekaman itu sudah aku hapus. Jadi aku tidak bisa membantumu." ucap Rahmi gugup.
\[Bing! Dia berbohong.\]
"Ternyata benar. Kau sudah tahu siapa orang itu. Lalu kau diancam olehnya." suara Anjas terdengar seperti orang yang menahan emosi. Begitu dingin dan kaku dengan tatapan tajam.
"Bu.. bukan seperti i.. itu... aku... aku hanya tidak bisa membantumu." Rahmi mulai takut dengan tatapan tajam Anjas.
"Kesempatan terakhir. Kau mau memberikan hasil rekamannya tanpa edit atau kau akan menderita?" tanya Anjas yang sangat jelas adalah ancaman.
"Baik! Baiklah! Tapi aku punya permintaan." akhirnya Rahmi menyerah.
"Apa permintaanmu? Akan aku usahakan untuk dilakukan." sambut Anjas yang terlihat mulai mereda emosinya.
Rahmi berdiri lalu berkata. "Aku ingin kau membantuku untuk membalas dendam." kata Rahmi dengan suara bergetar.