CHEL

CHEL
Bab 72



Hanya butuh waktu 20 menit. Anjas dan rombongan sudah sampai di depan gedung. Melihat banyak tamu Anjas langsung turun dan menyapa Beno.


"Ada apa ini? Masih pagi tapi sudah rame begini?" Anjas masuk di antara Beno dan Muklis. Begitu juga geng The FALCON dan Metal Sins. Mereka langsung berdiri di belakang Beno dan Rina. Lalu Beno menyuruh Rina untuk masuk saja. Biar Anjas yang akan mengurus mereka. Segera Rina masuk.


"Jadi kau bos mereka?" tanya Muklis menatap tajam.


"Iya. Aku Anjas Rahadi. Pemilik gedung ini. Ada yang bisa dibantu?" balas Anjas dengan ekspresi wajah mengejek.


Tanjung yang melihat siapa yang berurusan dengan Muklis pun membisikkan sesuatu. Hal itu membuat Muklis semakin murka.


"Ternyata kau juga yang membuat geng Snaky. Jadi kau lumayan hebat rupanya. Sebenarnya aku datang ke sini untuk mengkonfirmasi sesuatu. Apa benar kau berselisih dengan tuan muda Herino?" kali ini nada bicara Muklis sudah mulai meninggi dan terkesan mengintimidasi Anjas.


"Benar. Aku telah membuat dia lumpuh. Seluruh badannya juga tidak bisa digerakkan kecuali mulut yang yang masih bisa berbicara." Anjas menjawab dengan santai. Tidak menganggap Muklis sebagai ancaman.


"Sungguh berani kau melakukan itu! Mulai hari ini kau akan diburu oleh keluarga Ajisaka! Kami akan membuat hidupmu dan hidup keluargamu serasa dalam neraka!" Muklis pun mengujarkan ancaman yang melibatkan keluarga Anjas.


Mendengar ancaman itu Anjas menjadi geram. Dia tidak peduli jika hanya dia yang diburu. Tapi jika sudah menyangkut keluarga Anjas tidak bisa tinggal diam.


"Zinnkk!" Secara tiba-tiba Anjas menerjang Muklis dengan kecepatan Tubuh manusia petir. Dalam sekejap Anjas sudah berhadapan dengan Muklis tinju kirinya pun dengan cepat menyambar dada Muklis dengan sangat kuat dan telak.


Anjas mengeluarkan setengah kekuatannya. Mengakibatkan Muklis meluncur menyambar beberapa anak buahnya. Dari mulut Muklis memuntahkan darah. Kekuatan yang baru saja dia rasakan kini membuat dia seperti mau mati.


"Sialan kalian! Semuanya serang mereka!" Tanjung yang melihat Muklis sudah dikalahkan. Tanjung langsung mengerahkan semua anak buahnya dan Muklis menyerang secara tiba-tiba.


Justin dan Jordan menanggapi dengan balas. "Hajar mereka!" dua geng yang bersatu itu pun menyerbu.


Bentrok antara dua kelompok itu tidak terhindarkan. Mereka saling menyerang. Seketika halaman parkir gedung itu menjadi arena baku hantam.


Justin dan Jordan ikut menyerang. Sedangkan Anjas dan Beno hanya menonton kekacauan itu.


Saat ini Jordan langsung berhadapan dengan Tanjung. Dia memberikan peluang menyerang balik untuk Tanjung. Sehingga Tanjung terus menghindar.


Hal itu membuat serangan Jordan beberapa kali mengenai anak buah Tanjung. Sedangkan Justin sedang bersenang-senang dengan Dion. Mereka merasakan sensasi semangat untuk bertarung. Mereka berdua dengan cepat mengalahkan beberapa orang dari keluarga Ajisaka.


Muklis yang tidak bisa bangkit langsung dibopong keluar dari kekacauan itu. Tiga orang anak buahnya membawa Muklis ke mobil mereka. Namun saat mereka baru saja masuk ke mobil berwarna hitam metalik. Mereka mendengar suara yang tidak asing. "Cessss! Cessss!" suara ban kempis terdengar jelas dan tidak cuma satu.


"Sialan siapa yang membuat bannya kempis!" gerutu kesal salah seorang anak buah Muklis.


"Kalian mau kabur? Tidak semudah itu." Anjas sudah berada di depan mobil itu.


Lupa kalau Anjas yang membuat bos mereka tidak berdaya. Mereka pun menyerang Anjas. Dengan mudah Anjas membuat mereka tersungkur di lantai cor parkiran gedung.


Setelah itu Anjas menarik Muklis dari dalam mobil. Menyeret Muklis seperti menyeret mayat. Muklis berusaha untuk memberontak walaupun dadanya masih terasa sakit.


Anjas menyeret Muklis sampai ke dalam gedung. Lalu masuk ke lift dan membawa Muklis ke roof top. Sampai di roof top Anjas melempar Muklis ke tembok tepian atap gedung.


"Kau akan terus berada di tempat ini sampai ada yang menemani kau." ujar Anjas sambil meraih kaki Muklis. Lalu "Krreekkk! Aaaarrrgghh!" jeritan Muklis tidak bisa ditahan karena lutut kaki kanannya nya dipatahkan Anjas. "Buak! Berisik sekali!" Anjas menendang tengkuk Muklis hingga pingsan.


Kemudian Anjas turun ke lantai satu. Di sana dia menghampiri Beno. dan menyuruhnya untuk melarang siapapun untuk naik ke Roof top tanpa seizinnya.


Di luar gedung Tanjung sudah dikalahkan Jordan. Juga para anak buahnya. Mereka pun langsung meninggalkan lokasi itu karena mendengar sirine polisi di kejauhan.


Justin dan Dion masih memberi beberapa pukulan mengejek pada beberapa orang. Sekarang mereka merasa di atas angin karena sudah mengalahkan orang-orang dari keluarga Ajisaka.


"Kalian kembalilah ke perumahan. Aku masih ada urusan penting." perintah Anjas langsung dilakukan oleh Justin. Mereka pun pergi.


Beberapa saat ada dua mobil polisi datang menghampiri gedung. Dari mobil itu keluar dua orang satu orang pria dan satu wanita. Di papan nama mereka tertulis "Demian" pada si pria dan "Sarah" pada si wanita. Mereka adalah polisi yang berpatroli.


Di mobil lain dua pria polisi yang bernama Norman dan Abu tidak turun. Mereka mengawasi sekitar dari dalam mobil.


"Menurut laporan di sini terjadi keributan tapi mana? Sepi begini." ujar Abu yang heran.


"Ya saya tidak tahu. Tanya kok tanya saya." balas Norman malas.


"Kamu kenapa sih? Galau?" Abu bertanya lagi kepo.


"Oke." Abu pun diam tidak mau melanjutkan kepo nya.


Sementara Demian dan Sarah masuk ke gedung. Anjas masih ada di sana dengan Beno.


"Selamat siang. Maaf kami tadi menerima laporan bahwa terjadi tawuran di depan gedung ini. Apakah benar?" tanya Demian.


"Benar. Tapi kami sudah mengatasi itu. Mereka langsung dibubarkan." jawab Anjas.


"Siapa yang bertanggungjawab atas gedung ini? Kita ingin meminta keterangan lebih lanjut." sekarang Sarah yang bicara.


"Itu aku. Tapi aku tidak mau ke kantor. Bertanya di sini saja." jawab Anjas.


Beberapa menit Anjas diinterogasi dan memberikan nomor kontak polisi. Demian menganjurkan jika terjadi kekacauan segera menghubungi polisi.


Semenit kemudian para polisi itu pun pergi. Mereka sudah mendapatkan informasi.


Sementara itu Tanjung sedang menghadap pada Herman. Memberitahu bahwa Muklis disandera oleh Anjas. Juga memberi tahu siapa Anjas itu. Juga seberapa kuat dia.



Kemarahannya semakin meningkat. Sehingga Tanjung dihajar hingga habis-habisan tanpa ampun. Tanjung babak belur dan pingsan. Dia dibawa keluar dari kediaman Herman.



Lalu Rinjani masuk untuk mempertemukan Herman dengan salah satu anggota keluarga Wijaya. Hal itu disambut oleh Herman.



Gilang Wijaya pun masuk. Dia adalah ayah Kevin Wijaya. Sebenarnya dia tidak bisa bertemu hari ini karena Kevin anaknya sedang berada di rumah sakit. Karena patah tulang.



"Pak Gilang. Sungguh kehormatan bagiku bisa bertemu dengan anda." ujar Herman.



"Saya tidak punya banyak waktu. Jadi bantuan apa yang kalian inginkan?" Gilang merasa tidak begitu bersahabat dengan Herman.



Mereka memang pernah bekerja sama sebelum ini. Tapi keluarga Wijaya hampir mendapatkan masalah karena kecerobohan Herino tempo lalu.



Herman pun bercerita tentang anaknya Herino yang dilumpuhkan oleh seorang pemuda yang bernama Anjas dan bisnis narkoba mereka yang sudah diketahui oleh polisi. Juga perusahaan mereka diserang oleh hacker yang mereka duga dari luar negeri.



"Aku bisa membantu anda soal bisnis narkoba dan serangan hacker. Tapi untuk kelumpuhan Herino itu adalah kesalahannya sendiri. Juga aku sekarang ingin mencari informasi tentang orang yang sudah membuat kaki dan tangan anakku patah!" jelas Gilang. Dia sangat ingin mematahkan semua tulang orang yang membuat anaknya menderita.



"Kita bisa saling membantu. Pak Gilang tenang saja." sahut Herman meyakinkan bahwa mereka akan saling menguntungkan.


Sementara itu Anjas tidak pulang ke rumah baru. Dia kembali ke apartemen miliknya. Di sana Maryam sedang menyiapkan makanan. Anjas sudah memberitahu bahwa dia akan ke apartemen.


Alasan Maryam tidak pergi bekerja. Karena setiap sehari menjelang tahun baru pak Umar akan menutup toserba. Anjas sudah tahu hal itu karena dia sudah pernah bekerja di toko itu hampir dua tahun.


Anjas di sambut dengan ciuman di bibir oleh Maryam. Dia melakukan itu karena Rahmi sedang keluar untuk kembali ke kost untuk mengambil barang. Jadi dirasa aman.


"Mas mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Maryam seperti seorang istri pada suami.


"Aku mau kau dulu." ujar Anjas langsung membopong Maryam masuk ke kamar. Maka sudah bisa ditebak mereka ingin melakukan apa.